A/N: Aloooo semuanya! Kembali dengan saya Nanami-Kun dengan apdet terbaru! Ayo tebak, sekarang siapa yang jadi tokoh utamanya? :P
Oke, makasih buat yang mau review, ya~ Saya menghargainya, makasih banget, ya. Kayaknya saya gak akan kebanyakan ngomong di sini sekarang, supaya kalian bisa baca :P
Disclaimer: Hidekaz Himaruya (INDONESIANYA BANG!)
Warning: Ya sesuatu yang menyedihkan. Yu no lah :3
.
His Name's Arthur
.
Chapter 2: Remember Me.
.
"Lily, Lily... bangun dulu. Kamu harus minum obat,"
Suara itu membangunkanku. Suara renyah dan lembut yang sering menyapaku setiap pagi. Suara khas seorang ibu.
Aku segera terduduk begitu mendengarnya menuangkan air untukku. Beberapa pil terlihat berserakan di meja tempatku menaruh benda keperluan medis. Obat-obatan itu diharapkan keluargaku dapat memperpanjang hidupku, meski aku sebenarnya sudah tidak yakin lagi akan hal itu. Dari pagi hari, siang, sore, hingga dini hari aku harus menenggaknya satu persatu. Ibu selalu menenangkanku tiap aku merasa muak dan kesal, dan bercerita betapa ia ingin aku untuk kembali sehat dan ceria. Ia memintaku untuk membayangkan reaksi Ayah dan Kak Vash begitu mereka tahu kalau aku sudah sehat.
Aku tersenyum getir mendengarkan ucapan Ibu. Ibu tidak pernah tahu jika penyakitku ini tidak ada penyembuhnya. Obat-obatan itu? Itu hanyalah pengurang rasa sakit. Seharusnya Ibu sadar tentang hal itu, namun sepertinya ia benar-benar menginginkan keluarga 'normal' seperti keluarga yang lain.
Dan seperti biasa, aku hanya dapat tersenyum.
.
"Kota Zurich memang indah," Suara Arthur samar terdengar. Peliharaannya, kelinci berwarna hijau kebiru-biruan yang memiliki dua sayap, Mint Bunny, hanya terdiam di pundak Arthur.
"Hei, hei. Kenapa? Kau marah?" Arthur bertanya dengan intonasi datar, sehingga Mint Bunny tidak dapat membenarkan apakah itu sebuah pertanyaan atau sebuah pernyataan. Ia hanya menggeleng sebagai balasan, menyebabkan telinganya yang panjang mengenai pipi Arthur.
"Mint Bunny, kau tahu tidak? Swiss ini terkenal oleh coklat dan industri jamnya, lho," ujar Arthur sarkastis sembari menunjuk secara asal rumah-rumah yang ada di bawah kakinya. Sekali lagi Mint Bunny hanya menempelkan pipinya pada pipi tuannya.
Arthur meluncur di antara rumah-rumah serta pertokoan di kota Zurich yang cukup ramai. Orang-orang berlalu lalang, berjalan entah ke arah mana. Ada yang saling menyapa, ada yang bersenggolan namun bersikap cuek saja. Aroma sajian dinner terumbar sampai ke awan, membuat beberapa calon pelanggan berjalan ke arah restoran favorit masing-masing. Sungguh petang yang indah dan damai.
'Sayang sekali, kita harus memanggil nyawa seseorang,' bisik Mint Bunny pada Arthur. Lelaki beralis cukup tebal itu terdiam, tak bereaksi sama sekali.
"Dasar tugas tak pandang suasana," gerutu Arthur sembari melesat ke bawah, menembus tubuh banyak orang yang berdesakan.
.
Aku mendengar suara gagang pintu yang berat itu diputar secara lembut. Segera kubenarkan posisi dudukku dan mewanti-wanti siapa yang akan masuk.
Begitu melihat orang itu, aku segera menyunggingkan senyum termanisku. Di hadapanku kini telah berdiri Kak Vash dengan tas kecil di tangan kanannya. Tentu saja itu bukan tas biasa. Di dalamnya pasti terdapat makanan kesukaanku, yaitu cokelat. Kak Vash sering sekali membelikanku cokelat setelah ia tahu aku menyukainya. Aku sama sekali tak pernah memintanya untuk membelikanku cokelat, namun kurasa ia memiliki insting untuk terus membelikannya untukku.
"Bagaimana keadaanmu?" Suara Kak Vash menyelinap dalam telingaku.
"Baik. Kakak dari mana saja?" Aku balas bertanya sambil terus mempertahankan senyumku. Kak Vash melangkah mendekat dan menaruh tas kecil itu. Pada tas tersebut tertera nama toko yang menjadi favoritku dan Kak Vash.
"Sprüngli!" Aku berteriak riang. Kak Vash tersenyum samar melihatku seriang ini.
"Karena kemarin aku sudah membelikanmu Amaretti, sekarang aku membawakanmu truffles. Kau harus suka, karena aku sudah menghabiskan uangku untuk membelikanmu cokelat-cokelat ini!"
Aku hanya tertawa renyah mendengar Kak Vash pura-pura menggerutu(meskipun bagi orang awam terdengar seperti gerutuan asli). Kak Vash memang seorang yang hemat, makanya waktu pertama kali aku melihatnya membawakan bingkisan cokelat untukku, aku agak sangsi.
"Makanlah," ujar Kak Vash sembari duduk di kursi kayu yang ada di dekat ranjangku.
Aku menatap lurus ke Kak Vash, memperhatikan matanya yang hijau dan cemerlang. Rambutnya terlihat sedikit basah, mungkin karena terguyur gerimis. Tadi`kan hujan. Wajah Kak Vash juga terlihat pucat. Sepertinya ia kedinginan.
Aku meraih syal rajutanku dan segera kukenakan padanya. Awalnya Kak Vash terlihat kaget, namun perlahan-lahan ia tersenyum dan aku dapat melihat semburat merah mulai muncul di kedua pipinya.
"Hehe," Aku tertawa kecil. Tangan Kak Vash membelai lembut kepalaku dan mengecup dahiku dengan lembut.
"Aku menginap di sini," ujar Kak Vash pendek. Aku terkejut.
"Tapi Kakak seharusnya di rumah saja dengan Ayah dan Ibu! Kakak mau tidur di mana kalau menungguiku di sini?" kataku bertubi-tubi kepada Kak Vash, dan hanya ia balas dengan memutarkan bola matanya.
"Aku tidur di kursi. Sudah, jangan bicara lagi," jawab Kak Vash ketika melihat mulutku terbuka lagi untuk berbicara. Mau tak mau aku diam.
Aku memperhatikan gerak-gerik Kak Vash dan tersenyum ketika melihatnya menguap. Tentu saja ia lelah. Ia harus bekerja dan membelikanku makanan, lalu kehujanan demi menemuiku. Dan sekarang sudah malam.
Perlahan kulihat kepala Kak Vash mulai lemas dan akhirnya terantuk ke bahunya sendiri. Ia benar-benar tidur sekarang. Aku hanya dapat tersenyum. Andai saja aku dapat meraih selimut dan kukenakan pada Kak Vash seperti dulu. Tapi, ah, aku tidak akan cengeng karena keadaanku. Aku harus kuat menghadapi kehidupanku.
Perlahan kutarik selimut yang mengitari kakiku dan kuangkat sampai ke dada. Aku menatap Kak Vash yang sudah tidur nyenyak dan tersenyum.
"Selamat malam, Kak,"
.
'Menurutmu bagaimana, Arthur?' tanya Mint Bunny yang hinggap di kepala Arthur.
"Hm? Bagaimana apanya?" tanya Arthur balik karena tidak mengerti. Mint Bunny menggaruk-garuk kupingnya yang lancip dengan tangannya yang mungil dan lembut.
'Anak itu,' jawab Mint Bunny pendek. Arthur terdiam dan tiba-tiba beranjak berdiri. Kakinya yang ramping berbalut celana hitam melangkah ke depan, menuntunnya berjalan ke salah satu atap rumah penduduk. Arthur terdiam sejenak dan menatap Mint Bunny sebelum mulai berbicara.
"Ya, kalau memang harus meninggal, mau bagaimana lagi?"
.
"Lily!"
Aku dapat mendengar suara Kak Vash yang samar-samar.
"Tanganmu kenapa?"
Kini terdengar makin jelas dan makin keras. Kak Vash sepertinya cemas.
"Kamu main ke mana tadi? Bagaimana bisa berdarah?"
Entah mengapa aku dapat merasakan sentuhan di tanganku.
"Lily!"
Aku terbangun seketika.
Segera kuraih tangan kananku dan mengatur napas yang sejak tadi menderu. Beberapa detik kemudian aku segera menengadah dan menemukan Ibu terlihat sungguh cemas.
"Ibu, aku...," Sebelum aku berhasil melanjutkan kata-kataku, Ibu sudah memelukku dengan sangat erat. Kedua tangannya seakan tak ingin melepaskanku dari dia. Tiba-tiba aku merasakan cairan menembus pakaianku. Awalnya hanya setitik dan tak terlalu terasa, namun lama-lama makin jelas dan makin deras, aku dapat merasakan pundakku basah. Ibu menangis.
"Ibu, kenapa? Kenapa menangis?" Aku bertanya dengan khawatir karena baru kali ini aku melihat Ibu menangis seperti ini. Tanganku yang kecil mengusap-usap punggung Ibu, mengisyaratkan supaya Ibu menjadi lebih tenang.
"Kenapa? Apa yang terjadi?" Pertanyaanku sepertinya menusuk Ibu karena tangisannya justru makin kencang. Aku tak tahu harus bagaimana, aku kalut dalam kebingungan yang luar biasa.
"Ibu—"
"Lily!" Aku kaget. Tak kusangka Ibu akan membentakku seperti sekarang. Tanganku menjadi kaku dan tak dapat kugerakkan sama sekali. Bentakan itu seperti listrik yang menyengatku dengan kekuatan dahsyat. Aku berusaha tegar. Kubelai pipi Ibu dan memohon jawaban. Ibu hanya menunduk, tak berani melihat mataku.
"Lily...," Ibu membuka mulutnya.
"Vash kecelakaan,"
.
"Dan kabar yang menyedihkan akhirnya datang," Arthur mengoceh sembari mengintip ke dalam jendela tempat Lily dirawat. Ia menatap gadis itu dengan tatapan datar dan segera menoleh ke arah yang lain. Mint Bunny terduduk di depan jendela itu dan menatap majikannya.
'Ada apa?' tanya peliharaan yang menggemaskan itu. Sang empunya hanya terdiam dan menggeleng.
"Kau tidak melihat mata anak itu? Bukannya mengeluarkan air mata, ia justru menatap kosong ke segala arah," ujar Arthur ketus diikuti anggukan kecil dari Mint Bunny. Malaikat maut itu segera berbalik arah dan menatap ruangan itu kembali.
"Hm," Arthur mendengus.
'Ternyata masih ada sisi manusia dalam kamu,' ujar Mint Bunny dengan suaranya yang kecil dan renyah. Yang disindir hanya terpaku sambil menatap lurus ke dalam.
"Tapi kau tahu kalau bukan si kakak`kan yang akan mati?" balas Arthur yang beranjak dari jendela itu dan menuju ke atap rumah sakit.
Mint Bunny hanya terdiam dan mengikuti Arthur.
'Siapa yang tahu?'
.
Beberapa jam setelah Ibu memberi tahu kabar mengejutkan itu, aku hanya terdiam membisu di kamar tempat aku dirawat. Bayang-bayang wajah Kak Vash yang biasanya menemuiku muncul, timbul tenggelam dalam pikiranku. Lama-lama aku tak dapat mengontrol emosiku seiring bayangan tentang hal terburuk mungkin bisa terjadi pada Kak Vash. Kelumpuhan, lupa ingatan, koma, kematian...
Tidak. Aku segera menggelengkan kepalaku keras-keras. Aku sebagai adiknya harus berpikir hal positif, seperi Kak Vash menjadi sehat, kembali ke sini membawakanku kue dan cemilan lainnya, terkadang mengomel jika melihat bibirku belepotan cokelat atau krim, dan yang paling jarang kutemui; ketika dia tertawa lepas.
Entah mengapa air mataku jatuh.
Aku benar-benar rindu Kak Vash.
.
Sepasang mata menatap Lily lekat-lekat dari jarak yang cukup dekat.
'Kenapa kau sampai masuk kamar gadis ini, Arthur?' Suara itu menyelinap di kuping malaikat maut berambut pirang yang kini sedang berdiri di depan tempat tidur Lily.
"Lebih dramatis jika dilihat lebih dekat," jawab Arthur pendek. Ia segera menekuk lengannya tanpa mengalihkan mata sedikitpun dari gadis itu.
'Kau sepertinya tertarik sekali pada anak ini...,' celetuk Mint Bunny sembari melayang dan duduk di atas selimut yang menutupi kaki Lily. Mendengar omongan peliharaannya, Arthur hanya tersenyum singkat.
"Aku hanya penasaran bagaimana cara ia menghadapi masalahnya,"
.
"Kak Vash butuh donor jantung?" Aku memecah keheningan yang terasa mengekang.
Ya, setelah aku berdiam di kamar, akhirnya Ibu mengantarku menggunakan kursi roda untuk berbicara dengan dokter. Dokter sendiri tidak mau berbasa-basi. Ia langsung bicara di hadapanku dan Ibu,
"Vash membutuhkan donor jantung karena jantungnya nyaris lumpuh akibat kecelakaan yang ia alami Mungkin ia menerima benturan keras di bagian dada. Bahkan keadaan kritisnya pun bisa disebut keajaiban, karena ia sebenarnya bisa terbunuh di tempat kejadian,"
"IBU!" Aku segera meraih tangan Ibu yang ada di sampingku, membuatnya kaget dan menjadi tegang.
"Ya, Lily?" tanya Ibu yang berusaha bersikap tegar di hadapanku, meskipun aku dapat merasakan betapa gelisah dan putus asanya dia. Segera kupegangi erat tangan yang sudah mulai keriput itu dan kucium perlahan, membuat Ibu agaknya kebingungan. Kutatap mata zamrud milik wanita yang sangat kusayangi ini, mata yang menyiratkan kepedihan dan keputus asaan yang mendalam. Segera kutarik napas untuk membuatku lebih tenang dan tegar.
"Biarkan aku yang mendonorkan jantung, Bu."
Dan seketika itu juga aku merasakan tubuh Ibu bergetar hebat, seakan ruangan ini ditimpa gempa yang luar biasa dahsyat. Ya, aku tahu aku pasti mendapat ganjaran atas omonganku barusan. Tapi... melihat Ibu tak berkomentar apapun dan hanya berdiri dengan tubuh gemetaran begini... bukan itu yang kumau!
"Ibu, mengertilah!" Kupaksakan diri untuk berteriak. Ibu segera menggeleng keras-keras.
"Lily, kamu yang harus mengerti! Kamu anak Ibu, Ibu tidak akan menyetujuinya! Ibu tidak mau mengorbankan anak!" Ibu membalas tak kalah keras, membuatku terhentak.
"Tapi, Ibu—"
"Dialmlah, Lily! Ibu tidak mau mengorbankan anak Ibu! Kau dengar apa yang Ibu katakan`kan?! Ibu tidak mau merasakan rasa sakit ketika harus kehilangan anak—"
"Kak Vash juga anak Ibu!"
Teriakan itu terlontar begitu saja dari mulutku, dan segera setelahnya, seluruh ruangan menjadi sunyi senyap. Semua argumen antara aku dan Ibu seakan hilang ditelan bumi. Koridor itu menjadi sangat hening. Namun, aku dapat menangkap raut wajah Ibu yang seakan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Seakan teriakanku barusan menyadarkannya tentang Kak Vash.
Anak yang dia kandung ketika ia bersama suami pertamanya.
Anak lelakinya yang menuruni warna mata dan beberapa sifatnya.
Anak yang telah merubah hidupnya menjadi lebih berwarna.
Anak yang telah membantunya dalam beberapa masalah finansial, seperti ketika aku harus masuk rumah sakit karena penyakitan.
Anak yang telah menerima bebannya sebagai tulang punggung keluarga.
Anaknya yang kini sedang menderita menanti seseorang mendonorkan jantung padanya.
Anak lelakinya yang sangat ia sayangi.
Vash Zwingli.
"Ibu, dengarkan dulu, ya...," Aku meraih tangan Ibu dan mengelusnya dengan lembut.
"Aku tahu ini berat, namun aku tetap akan mendonorkan jantungku untuk Kak Vash. Aku tahu Ibu pasti menolak, tapi kumohon, Bu. Menurutku lebih baik aku saja yang meninggal,"
Ibu menunduk dan menatapku dengan tatapan nanar. Matanya seakan bertanya,'Mengapa?'
"Karena jika Kak Vash hidup, dia dapat membantu Ibu. Tidak seperti aku yang hanya menanti kesembuhan yang bahkan mustahil di tempat tidur. Kak Vash dapat beraktivitas. Kak Vash sudah dapat pekerjaan dan dia dapat mencari uang untuk menghidupi diri sendiri dan untuk membantu masalah finansial Ibu dan Ayah, tidak seperti aku yang justru membuat tagihan kalian membengkak. Ibu pikir, aku tidak mendengar ketika Ibu dan Ayah bertengkar akibat masalah itu?"
"Kak Vash bisa memberikan Ibu cucu ketika ia menikah nanti. Ia akan mengenalkan pada Ibu tentang calon istrinya, lalu menikah, lalu Ibu akan melihat cucu-cucu Ibu yang menggemaskan berlarian ke mana-mana, menimbulkan tawa di ruang keluarga, memanggil Ibu sebagai 'Nenek' dan Ayah sebagai 'Kakek'.
Mereka akan minta dipangku oleh Ayah dan Ibu ketika hendak membuka bingkisan natal dari Kak Vash dan istrinya. Ketika hendak tidur, mereka akan meminta Kak Vash mendongeng, dan Kak Vash akan menceritakan dongeng yang sama yang ia ceritakan padaku saat aku masih kecil,"
Sejenak kutarik napas untuk memberi jeda ucapanku, dan betapa trenyuhnya hatiku membayangkan semua itu. Semua kebahagiaan yang akan datang ketika aku tidak ada karena mendonorkan jantungku pada Kak Vash. Kulirik Ibu sejenak dan aku menemukan Ibu yang terlihat sungguh rapuh karena air matanya mulai mengucur, membentuk air terjun kecil di pipinya.
"Indah`kan? Semua itu lebih baik dari pada Ibu mempertahankanku dan membiarkan Kak Vash pergi. Apa yang Ibu bisa dapat dariku? Hanya tagihan yang membengkak. Hanya anak perempuan yang menanti Ibu dalam sebuah kamar di rumah sakit, yang bahkan tidak ada kejelasan kapan bisa sembuhnya. Hanya membuat Ibu stress, membuat Ibu kehilangan banyak kebahagiaan yang seharusnya Ibu bisa dapatkan. Hanya membuat Ibu menyesal karena memilihku dari pada Kak Vash...,"
Mataku kini mulai berair juga, mengingat betapa tidak bergunanya aku. Bayangkan, seberapa banyak kehilangan yang harus Ibu tanggung jika ia lebih memilih mengiklhaskan Kak Vash dari pada aku?
Tiba-tiba Ibu meraih pundakku dan memelukku dengan erat. Tangannya yang sudah keriput membelai rambutku. Aroma tubuhnya menyebar ke seluruh ruangan, aroma tubuh yang kusukai, yang ketika aku masih sehat menyambutku setiap pulang dari sekolah. Aroma khas seorang Ibu.
"Lily... sebenarnya Ibu menyayangi kalian berdua. Ibu tidak mau kehilangan kalian berdua! Kalian anak Ibu! Kalian memberikan Ibu kebahagiaan yang tidak bisa Ibu dapatkan dari orang lain!"
Air mataku semakin deras, dan segera terpintas di pikiranku jika Kak Vash kini dalam keadaan yang membahayakan nyawanya. Seharusnya aku dan Ibu tidak begini, tidak menangis bersama, menangisi hal yang bahkan belum menjadi kenyataan. Menangisi sebuah kehampaan. Menangisi kelemahan kami terhadap situasi.
Menangisi diri kami.
.
Kulirik Ibu yang kini tertidur di sampingku karena kelelahan. Sudah tiga puluh menit berlalu sejak kejadian tadi dan belum ada tanda-tanda jika donor jantung sudah tersedia. Lalu kami harus apa? Menanti berita duka untuk datang? Melepaskan seseorang yang sungguh kami sayangi dan kami butuhkan begitu saja?
Segera kuputar kursi rodaku dan kucoba untuk menjauhi Ibu. Aku tidak ingin membuat Ibu sedih, namun aku harus segera mengambil keputusan. Dan aku sudah melakukannya sekarang. Keputusan yang berat kurasa, karena ini mengorbankan diriku. Namun tetap akan kulakukan.
Aku tetap akan mendonorkan jantungku untuk Kak Vash.
.
Arthur melangkah mendekat begitu melihat Lily meraih pisau makan yang ada di kamar rawatnya.
'Kau tidak akan mencabut nyawanya sekarang`kan, Arthur?' Mint Bunny berbisik di telinga tuannya. Arthur segera menggeleng.
"Makhluk hina macam apa aku, jika aku tidak bisa menghargai pengorbanan anak ini?" jawab sang malaikat maut dengan tatapan datar. Matanya menatap Lily dengan tajam.
Gadis itu menatap pisau makan yang ia pegangi selama beberapa menit, mungkin mengingat-ingat seluruh kenangannya ketika ia bersama keluarganya, seluruh kebahagiaannya, kesedihannya, perasaan gusar, kesepiannya di rumah sakit, segalanya.
Lily meraih telepon yang disediakan di kamar rawatnya dan menekan tombol-tombol, menanti sejenak dan tersenyum begitu mendengar ada yang menjawab panggilannya.
"Ibu...," Bibir pucatnya bergetar ketika mengucapkan nama panggilan orang yang ia sayangi itu.
"Jantungku hanya bertahan beberapa menit lagi, cepatlah ke kamarku, ya?"
Lily mengepalkan tangan kirinya dengan kuat-kuat, menonjolkan pembuluh darah utamanya dan beberapa urat di kulit putih pucatnya. Gadis itu tersenyum sambil menitikkan air matanya, dan seakan tak mau melihat suatu kejadian mengerikan, ia menutup matanya.
Pisau itu terangkat cukup tinggi, memotong pembuluh darah utamanya, menimbulkan suatu pendarahan yang mengancam jiwanya.
.
Mata berwarna hijau itu terbuka.
Vash melihat beberapa orang telah mengelilinginya. Dokter, suster, Ayahnya, Ibunya...
"Di mana Lily?"
Sebuah kalimat yang tidak dapat diantisipasi oleh semua yang ada di ruangan itu. Seketika mereka terlihat pucat pasi. Semuanya terlihat gugup dan kaku. Suasana menjadi canggung, seakan ada sesuatu yang ditutupi oleh mereka dari Vash.
"Ibu? Ayah? Di mana Lily? Kenapa aku di sini? Di mana dia? Apakah dia di kamarnya? Dia tidak apa-apa`kan?" Pertanyaan demi pertanyaan Vash ucapkan, namun respon yang ia dapatkan sama saja.
Hanya diam. Diam yang mengekang.
"Ibu, di mana dia? Apa yang terjadi? Kenapa... kenapa kalian semua diam saja?" Vash terlihat cemas, sesuatu yang jarang atau bahkan tidak pernah Ibu dan Ayahnya temui selama ini.
"Lily? Aku harus segera ke kamarnya,"
"Vash," Ibunya menyela dengan suara pelan, namun tidak Vash indahkan sama sekali.
"Dia memerlukanku, Bu. Dan kenapa kalian semua tidak mengatakan apa yang terjadi? Kenapa aku ada di kamar rawat begini? Apa, apa yang telah terjadi? Bisakah seseorang katakan padaku? Aku benar-benar tidak mengerti? Ada apa—"
"Vash," Ibu kembali menyela dengan suara keras, membuat Vash segera menutup mulutnya. Wanita yang ia panggil Ibu segera menatap mata Vash dengan tatapan yang sungguh dalam.
"Kau mengalami sebuah kecelakaan yang membahayakan nyawamu...," ujar wanita bermata sayu itu tanpa berkedip sama sekali. Sebuah perasaan aneh menyelinap dalam hati kakak Lily itu.
"Lalu?" Ia memberanikan bertanya dan balas menatap ibunya dengan tatapan penuh tanya.
"Kau butuh donor jantung...," lanjut ibunya dengan suara semakin pelan dan tertahan, seakan ia akan menangis setelah bicara begitu. Tangan ayah tiri Vash segera meraih pundak ibunya dan mengelusnya perlahan, berusaha menabahkan wanita yang sudah mulai menua itu.
"Lalu...," Ibunya menarik napas perlahan, berusaha menutupi tangisannya dengan tegar.
"Lalu?" Vash mengulang omongan ibunya dengan perasaan canggung, seakan ia sudah tahu akhirnya, namun ia tetap ingin tahu kebenarannya.
"Lalu... adikmu, Lily...,"
Tangisan ibunya pecah setelah mengucapkan nama adik tersayangnya itu. Tubuh wanita yang dulunya cantik itu bergetar-getar, seakan ada badai bergemuruh dalam hatinya. Ayahnya segera mendekap ibunya dengan erat, matanya juga berkaca-kaca, namun ia berusaha menutupinya. Ia menciumi dahi istrinya berkali-kali, berusaha menenangkannya. Dokter dan suster di ruangan itu juga terdiam. Berusaha supaya tidak membuat kontak mata dengan Vash. Seketika itu juga ia tersadar.
Lily sudah meninggal. Ia mendonorkan jantungnya pada kakaknya yang sangat ia sayangi. Jantungnya—jantung sehat yang saat ini berdetak dengan cepat— adalah jantung adiknya. Jantung adik perempuannya yang sangat ia sayangi.
Jantung milik Lily Zwingli.
Perlahan Vash menyentuh dada kirinya. Merasakan jantung itu berdetak, dag dug dag dug, jantungnya sehat. Namun kini mentalnya yang tak kuat. Vash ambruk di tempat tidurnya, tak kuat menghadapi kenyataan yang sebenarnya.
Sebelum ia menutup matanya, Vash masih bisa melihat Lily berdiri di hadapan tempat tidurnya dengan tubuh tegap dan senyum yang mengembang. Bibirnya yang dulu pucat berubah warna menjadi seperti buah cherry itu bergerak seakan mengucapkan pesan terakhir pada Vash,
"Sampai jumpa, Kak. Aku sayang Kakak."
.
"Halo," Arthur menyapa gadis di hadapannya dengan senyum mengembang, yang segera dibalas gadis itu dengan senyuman pula.
"Kisah Anda membuat saya terharu," lanjut malaikat maut itu seraya mengulurkan sebuket bunga ke arah Lily. Gadis itu terkesiap karena itu pertama kalinya ia mendapat buket bunga dari seseorang yang bukan kerabatnya. Pipinya bersemu merah karena menahan malu.
"Terima kasih,"
Arthur tersenyum hangat dan mengangguk.
"Anda anak perempuan hebat, anggap saja buket bunga itu sebagai ucapan selamat karena bisa menyelesaikan kehidupan Anda dengan dramatis dan mengharukan,"
Lily tersenyum malu. Tangannya meraih tangan Arthur, membuat malaikat maut itu terkaget-kaget dan segera menengok.
"Biasanya aku menggenggam tangan Kak Vash setiap kami akan pergi ke suatu tempat," ujar Lily malu-malu. Jemarinya yang kecil dan lentik itu menggenggam erat tangan Arthur, dan Arthur sendiri balas menggenggam telapak tangan gadis muda itu.
"Jadi, apa Anda siap di bawa ke alam sana?" tanya Arthur lembut seraya menunjuk langit kota Zurich yang cerah dengan sedikit awan. Lily terdiam ketika melihat hamparan warna biru yang indah di atas kepalanya. Belum pernah ia melihat langit sedekat ini.
"Kak Vash...," Ia berujar dengan suara pelan dan segera menengok ke bawah. Arthur terdiam dan segera tersenyum lembut.
"Anggap saja saya kakakmu. Lagipula saya yakin kakakmu akan baik-baik saja. Dia tidak akan menyia-nyiakan kematian adiknya untuk menyelamatkan dirinya," Arthur berbicara dengan suara tegas dengan mata menatap lurus ke arah Lily.
Lily terdiam sejenak dengan mata sayu ketika ia melihat ke bawah, mengingat kehidupannya dulu, dan segera beralih ke Arthur dengan senyum yang mengembang. Arthur membalas senyumnya dengan senyum yang hangat pula.
"Kalau begitu, saya anggap itu sebagai 'ya',"
Mereka terbang menembus awan dan lenyap.
.
.
Chapter 2: End
Sprungli: Toko cokelat di Zurich, mampir aja ke websitenya. Di sana kamu bakal menemukan cokelat-cokelat yang keliatannya enak#ngiler
A/N: Halo, kembali ke saya. Iya sad, hehe :P Ini ff kan memang dirancang 'sedih'. Maaf ya kalau ada typo, karena saya ngetiknya kayak orang kerasukan apa gitu XD ngebuuut~Saya juga mau minta maaf kalo feelnya gak mengena, ya, saya juga agak kesulitan dalam mendeskripsikan perasaan ._.
Siapa yang bakal keluar di chapter selanjutnya? Jengjengjeng! Mohon reviewnya, ya :)
