.

His Name's Arthur

.

Chapter 3: Family.

.

"Jaakko kulta,

Jaakko kulta,

Herää jo,

Herää jo.

Kellojasi soita,

Kellojasi soita.

Pium paum poum,

Pium paum poum"

"Mama, aku bukan Jaakko." Suara seorang anak kecil terdengar menggema di dalam sebuah kamar berukuran empat kali lima meter. Segera ia bangun dari tempat tidurnya dan meraih segelas susu putih yang sudah tersedia di meja belajarnya.

"Habiskan susunya ya, lalu mandi dan siapkan peralatan sekolah. Setelah itu—"

"Turun ke bawah untuk sarapan. Aku tahu, Mama." Anak itu memotong omongan seorang lelaki berwajah manis dengan santai, seakan sudah hapal dialog yang akan lelaki itu ucapkan. Lelaki itu— Tino Väinämöinen— hanya bisa memasang senyum dengan pipi bersemu merah.

"Baiklah, Peter. Tapi ingat, jangan lama-lama. Nanti telat sekolah." ujar Tino sembari mengusap-usap dahi anaknya yang telah ia adopsi sejak Peter masih bayi.

"Aku mengerti, Mama."

Dan sebuah kecupan mendarat di dahi.


.

"Pagi, Papa!" Peter berlari menuju seorang lelaki berbadan tegap dan berkacamata yang sedang membaca koran pagi di meja makan, lalu segera mengecup pipi lelaki itu.

"P'gi." balas pria itu dengan wajah datar. Matanya yang terbingkai kaca tak beralih sama sekali dari huruf yang tercetak dalam koran. Berita yang disajikan hanya itu-itu saja. Pembunuhan, penculikan, perampokan; tak ada satu ruang pun untuk berita positif. Berwald melipat koran paginya dan menyeduh kopi di depannya.

Sarapan pagi ini berlangsung seperti biasanya. Menyenangkan, Tino selalu tahu bagaimana cara mencairkan suasana yang Berwald bangun, dan Peter dengan senang hati menimpali gurauan "Mama" dan "Papa"nya.

"Ayo, Papa!" pekik Peter yang berdiri di depan pintu setelah menghabiskan sarapan. "Aku tak mau terlambat masuk sekolah!" Melihat keceriaan putranya, Berwald hanya mengangguk-angguk saja, meski dalam hati tumbuh perasaan hangat yang kental. Ia meraih jaketnya dan menoleh ke arah Tino yang sedang membereskan meja makan.

Kontak mata terjadi beberapa saat antara kedua lelaki dewasa itu, dan pesan "aku mencintaimu" tersampaikan tanpa perlu secuil kata.


.

Rambut pirang Arthur menjadi sedikit acak-acakan karena dibelai angin malam. Stockholm terasa cukup menyenangkan— menurut Arthur. Pertama, suhunya tidaklah terlalu ekstrim, kedua, pemandangannya cukup bagus, ketiga, tata kotanya lumayan rapi, dan keempat, minggu ini ia bebas tugas.

"Mint Bunny, aku bebas tugas!" pekik lelaki beralis tebal itu dengan sangat bahagianya. Mint Bunny menatap tuannya dengan perasaan campur aduk. Sebenarnya, 'bebas tugas' memiliki dua arti. Arti yang pertama, bebas tugas memang berarti 'bebas tugas'. Yang ia takutkan adalah yang kedua, bebas tugas berarti sebentar lagi Arthur tidak akan menjadi malaikat maut. Jika benar begitu, itu artinya Arthur akan mati; lenyap, tidak masuk ke surga maupun neraka.

"Hei, hei. Kenapa kau cemberut begitu?" Kepala makhluk berwarna hijau itu segera menggeleng.

"Tidak apa, Arthur. Ayo menikmati pemandangan Stockholm."


.

Tino membukakan pintu begitu bel tamu dibunyikan. Kini di depannya berdiri seorang Peter dengan senyum mengembang cerah di wajah, sedangkan Berwald di belakangnya hanya geleng-geleng kepala.

"Aku pulang, Mama!" Peter segera memeluk "Mama"nya dengan perasaan senang, dan ia segera mendapat pelukan balasan dari Tino yang kini tertawa geli.

"Selamat datang kembali," Tino meraih wajah anaknya dan mencium dahi Peter perlahan. Sesaat matanya mengarah ke luar, menatap Berwald yang sedang melihat ke jalanan. Sekilas perasaan hampa memasuki ruangan kecil dalam hati Tino, namun segera ia enyahkan. "Masuklah, Berwald. Aku sudah menyiapkan sup untuk kalian berdua."

Yang dipanggil segera berbalik dan mengangguk, lalu perlahan ia memasuki rumahnya yang terasa hangat.

Peter tersenyum senang ketika acara makan malam bersama tiba. Ia memang senang sekali jika keluarga kecilnya saling duduk berhadapan dan berbincang akan hal-hal ringan. Ia sangat menyukainya.

Sup buatan mamanya enak, papanya membersihkan kacamata sambil menyeduh kopi, derai tawa terurai di meja makan, papa dan mama yang saling membalas ucapan masing-masing, sedangkan Peter yang kadang kurang mengerti mendapat belaian kasih di kepala atau di pundak.

Menyenangkan. Jika Peter bisa, ia akan mengabadikan detik demi detik yang berlalu di dalam rumahnya.


.

"Selamat malam, Peter. Tidur nyenyak." Tino meraba kepala Peter dan mengecupnya lembut di dahi.

"Malam, Mama." Peter membalas ciuman Tino di pipi. Tino segera merapikan posisi selimut Peter dan kembali memberikan seulas senyum hangat kepada anaknya. Ia berjalan menuju saklar lampu dan mematikannya, lalu dengan perlahan ia keluar dari kamar Peter ketika anaknya itu sudah terlelap.

"Aku t'k m'ngerti." Berwald meraih tangan lelaki Finlandia di depannya, tepat setelah Tino menutup pintu kamar Peter.

"Oh, Berwald. Kau mengangetkanku," Berwald hanya terdiam, tak memberi respon apa pun pada pasangannya. "Ada apa Berwald? Apa yang tak kau mengerti?" ujar Tino sembari berjalan menjauhi kamar anaknya, diikuti Berwald— menuju ke meja makan.

"Sikapmu." Suara bass lelaki Swedia terdengar mengiringi tarikan kursi kayu yang cukup berat. "R'sanya ada yang s'lah d'nganmu." lanjutnya lagi, menatap dalam-dalam mata lelaki Finlandia di hadapannya yang kini bersikap agak canggung.

"Menurutmu... begitu...?" Tino menggaruk bahunya yang tidak terasa gatal, tidak terlalu menyukai suasananya. Berwald menggeleng, tangannya meraih kacamata yang bertengger manis di batang hidungnya, lalu ia lepaskan benda yang membantu pengelihatannya itu dari wajah. Kini matanya yang cemerlang terlihat lebih jernih.

"K'lau kau ada masalah, k'takan s'ja,"

"... Tidak ada."

"Lalu k'napa kau b'rsikap aneh?"

"... Aneh seperti apa, Berwald?"

Lelaki bertubuh tegap di depan Tino menyandarkan tubuhnya pada kursi. Jujur saja, Berwald juga tidak tahu apa yang aneh pada Tino, namun perasaannyalah yang berkata demikian. Tidak ada kata-kata yang dapat menjelasan keanehan pada Tino. Sungguh, kini ia sendiri yang merasa bingung.

"Kau..." Berwald mengingat-ingat. "...sering memandang ke luar jendela sekarang."

Ucapannya barusan ditimpali Tino dengan tawa sopan. "Itu untuk mengecek cuaca di luar, Berwald."

"Tapi k'napa sering sekali?"

"Cuaca gampang berubah sekarang."

Skak mat. Berwald tak dapat menyanggah lebih banyak lagi. Memang cuaca akhir-akhir ini sulit ditebak, namun dia agak ragu jika Tino melakukannya hanya karena mau melihat keadaan cuaca di luar. Sayang, Berwald tak memiliki bukti cukup kuat untuk membuktikan jika apa yang dilakukan Tino bukan hanya mengecek cuaca.

Untuk saat ini, ia menyerah.

"Sudah malam, aku tidur dulu." Tino berdiri perlahan dan meluncurkan sebuah senyuman, diikuti ciuman sayang pada pipi Berwald, dan ia segera beranjak pergi ke kamar tidur.

Meninggalkan Berwald dalam labirin yang ia buat sendiri, kebingungan.


.

"Ya... baiklah. Aku mengerti. Kapan tenggat waktunya? Besok Rabu? Baiklah," Tino berbicara dengan volume suara yang sungguh kecil, berusaha supaya tak didengar oleh Peter dan Berwald yang kini sedang menonton acara sepak bola bersama.

"Jadi... siapa targetnya?" Terdengar teriakan girang Peter dari ruang keluarga begitu mengetahui Swedia lebih unggul dibanding Inggris. Telunjuk Tino menyumpal telinga kirinya, sedangkan tubuhnya menjauhi kegaduhan di ruang keluarga.

Lelaki Finlandia itu menatap ke luar jendela, tepat menuju ke rumah salah satu tetangganya yang merupakan seorang pedagang besar. "Bowen? Baiklah, kuusahakan tidak sampai lusa. Mungkin besok sudah tidak ada," ujarnya lagi menimpali perkataan orang di telepon.

"Sebenarnya Berwald sedikit curiga, tapi tak masalah. Aku bisa menutupinya," lanjut Tino dengan kepala mengangguk-angguk. Tak ada gejolak sama sekali dalam dirinya, meski ia tahu ia nyaris tertangkap oleh pasangannya itu.

"Benar? Terima kasih."

Telepon dimatikan, meninggalkan Tino dalam kegelapan, jauh dari hingar bingar Peter dan Berwald ketika mengetahui Swedia memenangkan pertandingan.


.

"Kau tak boleh menguping omongan orang, lho."

Arthur mengernyitkan dahi dan segera menengok ke arah Mint Bunny dengan tatapan kesal. "Apa? Apa salahku?" Suara cicitan geli keluar dari kelinci menggemaskan itu, gemas pada tuannya.

"Aku hanya penasaran. Terkadang bebas tugas menyebalkan juga." ujar Arthur sambil menaikkan bahu, bosan, padahal ia bebas tugas selama tujuh hari, dan ini baru hari ketiga. "Bagaimana aku akan menjalani empat hari lainnya, Mint Bunny? Aku tidak tidur dan tidak makan minum, hanya melihat orang-orang saja."

"Ya, itu penderitaanmu, Arthur."

"Tapi..." Arthur melirik ke dalam rumah, di mana ia dapati Tino sekarang menyusul Berwald dan Peter yang sedang merayakan kemenangan Swedia atas Inggris. "... lelaki satu itu sepertinya merencanakaan sesuatu."

Mint Bunny mengangguk dan hinggap pada pundak Arthur. "Pembunuhan?"

"Tepat seperti yang sedang kupikirkan."


.

Malam itu sungguh ramai. Raung sirine terdengar berkali-kali dan membuat telinga penat. Cahaya senter menyoroti TKP dan sesekali mengenai wajah orang-orang yang ingin melihat langsung. Garis polisi dengan tegas menunjukkan batas untuk aparat hukum dan warga biasa. Sebuah pembunuhan terencana baru saja terjadi.

Korbannya adalah Simon Bowen. Sebuah peluru bersarang manis di tengkorak kepalanya dan berada di sela-sela otak, membuatnya mati seketika. Tidak ditemukan sidik jari sama sekali, begitu pula jejak kaki sang pelaku. Atas kejadian ini, seluruh warga yang tinggal di sekitar lokasi kejadian dihimbau untuk berhati-hati dan lebih was-was, terutama jika jam malam sudah tiba.

"Papa," Peter mendekap sang ayah dengan erat dan beberapa kali meminta supaya Berwald mendekapnya lebih erat lagi, seakan berusaha membungkam bunyi sirine malam itu.

"Sst. S'mua akan baik-baik s'ja. Jangan m'nangis."

"Tapi..."

"Sekarang, ayo masuk rumah dan tidur."

Mata Berwald melirik ke kanan dan ke kiri, mencari sosok Tino yang entah mengapa seakan tenggelam ke dasar laut begitu saja. Kekasihnya itu telah pergi sejak pukul tiga sore dan hingga sekarang, pukul sebelas malam, belum juga menampakkan batang hidungnya. Seketika muncul perasaan khawatir dalam hati Berwald. Tanpa sadar ia memeluk Peter makin erat; ia merasa butuh pelukan yang lebih erat juga.

Ia mengantar Peter ke kamarnya dan merapikan selimut untuk anaknya. Berwald memberikan kecupan kecil di dahi Peter dan ucapan selamat malam, serta sebuah senyum hangat yang sebenarnya sungguh jarang ia perlihatkan.

"Jangan pergi, Papa." Peter merengek. Ketakutan jelas terpancar dari ucapan dan raut wajahnya.

"Papa tidak akan pergi. Papa ak'n berada di b'wah dan k'tika kau bangun besok, Mama dan Papa ak'n duduk di m'ja makan dan semua akan baik-baik saja." Berwald berujar dengan suara rendah yang hangat, dan setelah mendengar omongannya, Peter segera tersenyum enggan dan meraih bantal, bergegas untuk tidur.

Lelaki tinggi itu menutup pintu kamar puteranya dan bersender di tembok untuk sementara waktu. Menyeimbangkan detak jantungnya dan mengendurkan napas yang dari tadi ia rasa sungguh berat.

Berwald bersumpah jika ia akan mencari Tino dan menemukannya malam ini.


.

"Kau sudah mendapatkan uangmu, kan?" Sosok gelap yang tengah berdiri di dalam gang berbicara pada lelaki Finlandia yang terlihat manis.

"Sudah, terima kasih. Mungkin aku tidak akan menerima job setelah kejadian ini. Berwald merasa curiga," Tino membalas dengan suara lembut dan seulas senyum. Di tangannya bertengger pistol yang masih berisi empat peluru dan segera ia kantongi di saku celananya.

"Habisi saja jika begitu. Tikus harus dienyahkan, kan?" Gelak tawa tertahan terdengar dari sosok yang bersembunyi dibalik malam. Tino sendiri hanya menimpali dengan tawa sopan, dan tanpa basa-basi, ia menarik pistol dari saku celananya dan segera menembak kepala orang itu.

Lalu hening yang sungguh lama. Ia masukkan pistolnya lagi dan mulai melangkah mendekati mayat tak bernama tersebut. Tanpa suara, Tino merogoh setiap celah dan saku di tubuh mayat itu dan mengambil setiap lembaran uang yang tersimpan di sana.

"Bayaranku masih kurang, dan sebenarnya, kaulah tikus yang harus kuenyahkan."

Ia melangkah mundur dan segera berbalik. Berjalan dengan tenang sambil mengenyahkan bukti-bukti yang ada.


.

Arthur dan Mint Bunny melayang mengikuti Berwald dengan jantung yang berdebar, meskipun mereka bukan makhluk hidup lagi.

"Masalah ini lebih pelik dari yang kita duga." Arthur berujar sambil beberapa kali memberikan bantuan kecil yang tak terlihat bagi Berwald yang sedang berlari kencang. Sesekali Arthur hilangkan kerikil dan sampah yang ada di jalanan untuk membuka jalan bagi lelaki Swedia yang ia ikuti.

"Sangat pelik. Aku khawatir pada anaknya," balas Mint Bunny dengan suara tertahan. Arthur mengangguk setuju pada peliharaannya, sedangkan bulir-bulir peluh membasahi wajahnya.

"Ia belum siap atas segala hal dan apa yang akan dia dapati di depan sana adalah hal yang sungguh berat."

"Ibunya..."

"Aku tahu." Arthur menggelengkan kepala dengan resah. "Aku tahu, Mint Bunny. Kita harus menolong pria ini dan anaknya," lanjutnya sambil menatap lekat-lekat pada Berwald yang saat ini sedang berlari menembus keheningan malam dengan gusar.

"Tapi kau bebas tugas. Kau hanya dapat melihat dari dekat tanpa melakukan apa pun,dan jika melanggar kau akan kena hukuman. Kau bahkan juga tidak tahu apa yang akan terjadi." Mint Bunny berujar panjang lebar dan menunjukkan kekhawatiran yang besar.

"Tapi, Mint Bunny... keluarga ini memiliki sesuatu yang aku ingin rasakan sejak dulu. Kita harus menolong mereka, bagaimana pun caranya."

"Arthur,"

"Tolong jangan hentikan aku..."

"Tolong,"

Berwald berlari menembus angin dengan kecepatan di luar bayangannya. Hanya satu namanya yang terpatri kuat dalam pikirannya; hanya lelaki itu seorang. Ia harus menemukan Tino, seperti apa pun keadaannya. Berwald tak lagi peduli pada beberapa pengendara mobil yang sempat mengumpat karena ia berlari di tengah jalan. Ia harus melindungi dan mempertahankan keluarganya, itulah yang paling penting bagi dia.

"Tino," Suaranya tersendat-sendat dan napasnya tidak beraturan. Jantungnya berdebar dengan cepat dan mulutnya mengeluarkan uap. Kedua kaki Berwald terasa mulai pegal, namun ia tak mau berhenti. Keluarganya adalah yang pertana.

Keluarga kecilnya—

Kedua mata jernih Berwald menangkap sosok yang lebih mungil darinya.

Di sana, di dekat gang, terlihat Tino sedang membuang sesuatu. Sungguh, Berwald ingin menyapa dan menghampiri cintanya itu, namun ia segera sadar dan rasanya semua berputar dengan cepat.

"Tuhan, itu pistol..." Berwald berujar pada diri sendiri dan menatap Tino lekat-lekat dengan tidak percaya. Tubuhnya seperti kehilangan keseimbangan dan kakinya menjadi kram. Pikirannya dengan otomatis memulai lembaran lama ketika ia sayup-sayup mendengar percakapan di telepon yang cukup mencurigakan.

"Bowen? Baiklah, kuusahakan tidak sampai lusa. Mungkin besok sudah tidak ada,"

Lama ia mengulang ucapan Tino, dan semua menjadi jelas bagi Berwald. Jadi selama ini—

Berwald menunduk dan berusaha menjauh secara perlahan. Otaknya memberi sugesti supaya tak menimbulkan suara sepelan apa pun. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah. Ia dongkakkan kepalanya dan mendapati Tino masih sibuk membuang sesuatu.

Satu langkah ke belakang lagi, dan kini menjadi dua. Berwald kembali menengadah.

Ia mendapati Tino menatapnya sambil tersenyum manis.


.

"Papa? Di mana kau?" Peter berteriak memanggil ayahnya dengan air mata berjatuhan di pipi. Sedari tadi ia keluar masuk kamar orang tuanya, dapur, ruang keluarga, toilet, dan dia hanya menemukan kehampaan.

Peter ketakutan. Ia rindu ayahnya. Ia rindu ibunya. Ia rindu keluarga lamanya. Apa yang telah terjadi pada keluarga kecilnya? Apa yang membuat ibunya belum pulang dan kenapa ayahnya meninggalkan dia sendiri?

Seribu pertanyaan menyerbu pikiran, dan ia bahkan tak menemukan satu pun jawaban untuk membungkam mereka.

Tiba-tiba terdengar pintu yang dibuka secara paksa, membuat Peter terkaget-kaget dan segera melangkah mundur untuk mencari tempat sembunyi. Ia segera berlari menuju ke bawah meja makan dan menutupi diri dengan kursi dan selimut tipis.

"Peter! Kita pergi sekarang! Tinggalkan rumah ini!" Berwald berteriak dengan nyaring. Wajahnya penuh akan peluh dan detak jantungnya tak beraturan. Lelaki Swedia itu dilanda ketakutan yang sungguh dalam, dan ia hanya mengikuti instingnya untuk terus lari dan menyelamatkan anaknya.

"Papa!" Peter segera menengadah dan berusaha menatap ayahnya, sebelum sosok ibunya memasuki rumah dengan sebuah pistol berada dalam genggamannya.

Suasana segera menjadi hening dan Peter berusaha membungkam dirinya sendiri. Bagi anak seusianya, tentu saja ia dapat mencerna apa yang sedang terjadi saat ini. Dalam hati ia hanya dapat berteriak meminta bantuan dan keajaiban, jangan sampai keluarga kecilnya direnggut dalam sekejap mata.

"Tino," Berwald mengatakan nama lelaki di depannya dengan nada bergetar, bahkan ia tak dapat menyembunyikan ketakutannya.

"Berwald, apa yang sedang kau lakukan tadi? Apakah tadi aku mengganggu lari malammu?" balas Tino dengan seulas senyum yang tak dapat dibaca sama sekali. Jemarinya makin erat mencengkeram pistol, dan kakinya membawa Tino berjalan maju mendekati Berwald.

"Apa y'ng kau lakukan? Menghabisi orang unt'k uang?"

Tak ada jawaban untuk sementara. Deru napas saling memburu di antara kedua lelaki dewasa tersebut. Tak ada yang mengucapkan sepatah kata, dan Peter menjadi semakin takut untuk mendengar dan melihat kejadian selanjutnya.

Untuk pertama kali, Peter berharap ia cacat saja. Tak perlu bicara dan mendengar, begitu pula melihat. Atau mati? Ah, saat ini, mati sepertinya merupakan pilihan yang menggiurkan.

Tapi tidak. Ini adalah keluarga kecilnya. Ini adalah tentang Papa dan Mama. Ini adalah tentang Peter sendiri.

"Tino, kumohon..."

Tiba-tiba jemari yang penuh akan peluh itu segera mengarahkan pistol ke arah Berwald, menarik pelatuknya dan segera melukai pria itu tepat di dadanya. Teriakan terdengar dan Berwald segera ambruk di tempat. Darah mengucur dari dadanya dan tembus ke pakaiannya. Entah ia mati atau sekarat, saat ini tak ada bedanya.

Peter membatu. Ia tak dapat melakukan apa pun kecuali menutup mulut dengan tangan. Bulir air mata semakin deras di pipinya dan ia merasa ingin tak sadarkan diri saja. Inikah mamanya yang dulu menyambut dia dan Papa dengan senyum manis? Inikah mamanya yang dengan sabar mengajarinya untuk mandiri?

Inikah sosok asli dari ibunya?

Terdengar kursi ditarik secara paksa dan Peter segera berhadapan dengan Tino. Kejadiannya terlalu cepat hingga Peter sendiri nyaris kehilangan keseimbangan. Wajah ibunya terlihat menyeramkan, dengan kilatan aneh di matanya yang belum pernah Peter lihat. Semuanya seakan hanyalah mimpi. Realita yang Peter hadapi membunuh mentalnya.

"Mama tidak perlu jadi begini," Peter meraung kencang dan air matanya mengenai pakaian Tino. Ia enggan membuka mata karena ia tahu hanya akan melihat tragedi keluarga saja. "Aku dan Papa peduli pada Mama, tapi kenapa Mama tidak peduli pada kami?"

Tino terdiam sedari tadi dan membiarkan Peter untuk menumpahkan seluruh perasaannya.

"Menangis saja, Peter. Aku sudah berbeda,"

"Tapi, Mama..."

Terdengar bunyi senjata api yang diarahkan ke depan. Jelas-jelas moncong pistol yang Tino bawa mengarah pada Peter. Adrenalin semakin terasa, dan teror seakan tak kunjung reda.

"Akhiri saja, Mama. Biar aku dan Papa pergi dan kau di sini sendiri," Peter berujar dengan wajah mendongkak dan untuk sekali saja ia menatap langsung wajah Tino. Sekilas, wajahnya menampakkan kedukaan yang besar dan naluri sebagai orang tua yang tidak mau kehilangan anak mulai mendominasi.

Tino menjadi kacau. Di sisi lain, ia adalah pembunuh berdarah dingin yang sudah disewa untuk membunuh selama delapan tahun. Pikirannya meminta supaya ia akhiri permainan 'keluarga kecil'nya, namun hati nuraninya menolak ide itu mentah-mentah.

"Mama..."

"Diamlah, Peter," Tino meraih kepalanya yang terasa berdenyut-denyut. Nurani dan pikirannya sedang berkelahi, dan tangannya enggan menurunkan moncong senjata api dari wajah Peter.

Anak lelaki itu menatap mamanya dengan wajah nanar. Dari jarak sedekat ini, ia dapat merasakan penderitaan Tino yang semakin menjadi-jadi. Bukan rasa takut yang timbul, melainkan iba. Ia iba melihat ibunya seperti ini, dan ia ingin mengakhirinya sesegera mungkin.

Kedua tangan mungilnya meraih pistol yang Tino bawa, membawa sengatan elektrik bagi lelaki Finlandia itu. Sebelum ia sadari, jemari Peter sudah menarik pelatuk ke arah kepalanya sendiri.

Bunyi letusan senjata api membuat Tino kaget, begitu juga dengan apa yang ia lihat di depannya sekarang. Tubuh Peter sudah terkulai tak berdaya dan ia sudah kehilangan nyawa.

Tino segera sadar dan ia segera mendekap Peter dengan erat. Semua memori kembali muncul di benaknya dan ia tak dapat membendung lagi setiap rasa. Dengan mata bergelimang air mata ia menengok ke arah Berwald. Tino mencari denyut nadi dari pria yang sudah ia cintai sejak lama dan yang ia dapatkan hanyalah hampa.

Berwald dan Peter sudah tidak ada, dan kini hanya Tino yang berpijak dengan lunglai.

Keluarga kecilnya sudah hancur, dan itu karena dirinya sendiri.

Kini yang ada hanyalah tangisan dari sang ibu yang meraung dan meminta supaya keluarganya dikembalikan lagi. Berharap supaya waktu dapat ia kembalikan dan ia dapat meluruskan semuanya dari awal.

Namun semuanya sudah terlambat.

Keluarganya tamat.


.

Arthur bersender di pintu sambil menutupi kedua matanya. Ia sama sekali tak menyangka atas kejadian yang baru saja ia saksikan. Entah mengapa kakinya menjadi lemas dan dia dapat merasakan atmosfer duka yang sungguh jelas.

"Dia anak yang baik," Mint Bunny berucap sambil menatap nanar ke arah Tino yang kini hanya dapat menangis kencang.

"Kenapa hal seperti ini dapat terjadi pada keluarga ini?" Arthur menunduk dan menatap Berwald yang kini sudah tak bernyawa lagi. Tatapannya penuh akan duka dan entah mengapa hatinya menjadi sakit sekali. Ia sudah cukup terluka atas masa lalunya, dan kini ia harus menyaksikan salah satu kejadian paling menyakitkan yang pernah ia lihat.

"Karena memang inilah takdir mereka,"

Satu kalimat dari Mint Bunny berhasil membuat Arthur bungkam seketika. Jawaban yang mutlak dan sama sekali tak dapat disanggah olehnya membuat Arthur merasa hatinya semakin sakit. Keluarga ini memiliki apa yang Arthur inginkan sejak ia masih kecil.

Kehangatan. Semua hal yang telah keluarga Peter lakukan memberikan rasa hangat pada hati kecil Arthur yang diam-diam menatap dari balik jendela.

Dan kini semuanya lenyap dalam sekali peristiwa.

"Mint Bunny, kita pergi." Arthur berbalik dan segera melangkahkan kaki ke luar rumah.

"Secepat itu?"

"Aku tak mau melihat hal seperti ini lagi."

.

.

Chapter 3: End


Jaakko kulta: Lagu anak-anak dari Finlandia, lupa judul aslinya hehe


Sissi Maria: Pertama-tama terima kasih untuk mereview :) Lalu soal penulisan kepemilikan, setelah saya coba cek, yang benar disambung. Sekali lagi saya sampaikan terima kasih ya!

A/N: Aish, tema yang saya angkat ternyata lebih gelap dan lebih 'sad' daripada yang sebelumnya, ya? :) Maaf karena saya telat banget update, doakan semoga cerita ini jalan terus, begitu juga dengan Infierno. Kalau ada saran/ kritik/ pujian, lebih baik disampaikan lewat review ya?

Thanks~