Hola Minna…
Semoga gak ada bosennya ya dengan fic saya yang gaje, ancur, berantakan, gak beres dan sebagainya ini. Sekali lagi maaf malah bikin fic baru, saya lagi kena WB dadakan. Gak ada imajinasi sama sekali buat nerusin fic yang ada. Kayaknya butuh Spongebob nih!
.
DISCLAIMER : TITE KUBO
.
WARNING : OOCness(parah, banget, kelewatan, gak ketolongan), AU, Misstypo(eksis mulu, gak mau absen!), Gaje, Ide pasaran, Mudah ketebak, Membosankan!
.
Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka, apalagi terdapat kesamaan di dalam fic ini di fic lain atau cerita lain dalam bentuk apapun, itu sama sekali tidak disengaja. Mohon maaf kalau terjadi kekeliruan dalam pembuatan fic ini. Semua yang ada di sini cuma fiksi yang iseng.
.
.
.
Rukia berdoa setengah mati hari ini.
Pagi ini dia kembali harus masuk ke sekolah. Tapi jantungnya mulai tidak terkendali lagi. Selalu berdebar begitu keras.
Bukan karena dia sedang jatuh cinta atau apa, tapi jujur… Rukia benar-benar takut kali ini. Dia takut jika dia sampai membuat masalah di sekolah barunya. Kalau sampai dia membuat masalah, dia bisa bermasalah pula dengan kakaknya. Rukia tidak mau kakaknya berpikir yang tidak-tidak mengenai sekolah yang sudah susah payah diperjuangkan oleh Rukia.
Apalagi hanya karena preman tidak jelas itu.
Yang benar saja!
"Nii-sama, selamat pagi," sapa Rukia ketika gadis manis ini sudah turun ke lantai bawah untuk bergabung dengan kakak tercintanya untuk sarapan.
Byakuya hanya memandangi Rukia sejenak dan tersenyum yang sangat tipis, terlalu tipis malah. Rukia bahkan tak yakin apakah kakaknya tersenyum atau tidak. Lalu Byakuya kembali melanjutkan acara membaca koran paginya.
Rukia kembali memasang wajah cemberut.
"Huh… Nii-sama selalu saja memasang wajah menyebalkan begitu. Aku jadi kecewa…" rajuk Rukia.
Byakuya terkekeh geli dibalik koran paginya. Adiknya satu ini selalu tahu cara membuat Byakuya menyerah.
"Baiklah. Selamat pagi, semangat sekali hari ini," ujar Byakuya setelah melihat Rukia duduk manis di sisinya untuk sarapan pagi.
"Mm… tentu saja harus semangat. Sekolahku menyenangkan sekali Nii-sama. Oh ya, Nii-sama pulang jam berapa semalam? Tidak membangunkanku?"
Byakuya tidak menggubris pertanyaan adiknya itu. Dia hanya mengelus kepala Rukia dan meminta adiknya itu segera makan kalau tidak ingin terlambat masuk sekolah. Maklum saja, selama ini Rukia tak pernah tahu apa saja yang Byakuya lakukan padanya ketika Rukia sudah tertidur lelap. Menurut Byakuya itu sama sekali tidak perlu.
Rukia masih berceloteh riang soal sekolah barunya itu. Tapi, demi keamanan, Rukia terpaksa tidak mengatakan soal dia berlari kemarin karena terdesak dan termasuk soal Rukia bertemu anak aneh yang mirip preman sekolah itu. Kakaknya itu bisa khawatir dan mulai berpikiran buruk soal sekolah itu lagi.
Setelah sampai di sekolah, Byakuya memesankan padanya sekali lagi untuk berhati-hati. Rukia hanya mengangguk mengerti. Dan ketika mobilnya mulai berjalan lagi, Rukia melambaikan tangannya pada mobil itu. Meski dia tahu Byakuya mana mungkin membalas lambaian tangan Rukia.
"Selamat pagi Kuchiki-san."
"Selamat pagi, Hinamori!" sahut Rukia riang.
Teman pertamanya di sekolah ini kebetulan sudah datang dan langsung mengajak Rukia masuk ke kelas. Rukia beruntung bertemu dengan Hinamori di saat seperti ini.
"Kau diantar siapa tadi?" tanya Hinamori.
"Mm… kakakku. Kenapa?"
"Benarkah dia kakakmu? Sekilas kulihat dia… sangat tampan," bisik Hinamori di kalimat terakhirnya.
Kontan saja wajah Rukia memerah. Sebenarnya bukan satu dua orang yang mengatakan soal kakaknya ini. Tapi entah kenapa Rukia jadi malu sendiri begitu Hinamori mengatakan hal itu. Rukia saja bahkan terkagum-kagum dengan wajah milik kakaknya itu.
Astaga!
Tidak boleh Rukia! Dia kakakmu!
"Ahahah benarkah? Banyak orang yang bilang begitu," lanjut Rukia.
"Hmm, kurasa itu adil. Kau juga cantik. Pasti semua keluargamu punya wajah yang menarik ya?"
"Tidak begitu kok…" sahut Rukia.
"Ahh ya Kuchiki-san, apa kau kalau hari ini ada pelajaran olahraga?"
Hah?
"P-pelajaran… olahraga?" ulang Rukia.
"Iya, kudengar katanya hari ini marathon. Kau pasti bisa kok, ayo masuk ke kelas."
Gawat…
.
.
*KIN*
.
.
Rukia tahu kalau hari ini ada pelajaran olahraga. Tapi Rukia tidak tahu kalau ternyata hari ini marathon. Mungkin kalau Cuma atletik saja Rukia masih bisa ikut. Tapi kalau marathon…
Rukia tidak tahu apakah kakaknya memberitahukan kondisi Rukia sebenarnya pada pihak sekolah. Tapi… sepertinya pasti diberitahukan oleh kakaknya pada pihak sekolah sih. Tapi… Rukia tidak mau teman-teman yang lain melihatnya seperti gadis lemah yang tidak bisa apa-apa. Dia masuk sekolah ini, karena dia ingin punya banyak teman dan tidak dipandang seperti orang yang tidak bisa apa-apa karena lemah dan punya kekurangan.
"Kuchiki-san, ayo turun…" ajak Hinamori.
"Ahh ya, aku akan menyusul setelah membereskan mejaku."
Yang lain sudah pada turun. Tinggal Rukia seorang saja.
"Kau mau ikut olahraga?"
Dan seorang lagi yang sebenarnya tidak mau diingat Rukia. Begitu Rukia menoleh, ternyata orang ini masih mengenakan seragam biasa. Dia tampak begitu cuek dan tidak peduli dengan sekeliling. Apalagi dia bersandar di dinding dekat jendela dengan pose yang begitu santai.
"Memangnya kenapa? Kau keberatan?"
"Kenapa aku harus keberatan? Kalau aku jadi kau, aku pasti akan duduk manis di dalam kelas daripada membahayakan diriku sendiri. Jangan jadi orang naif kalau kau memang tidak bisa apa-apa."
Grr… apa-apaan orang ini!
"Hei, bukankah kau sudah bilang kalau aku tidak boleh dekat-dekat denganmu lagi. Kau juga bilang aku tidak boleh berurusan lagi denganmu. Kenapa kau malah bilang begitu padaku?"
"Jelas kan? Karena kau pasti membuat masalah bukan hanya denganku. Aku kasihan dengan orang-orang yang kau repotkan itu. Sudahlah, apa sih enaknya ikut pelajaran membosankan itu? Orang penyakitan sepertimu―"
BRAAK!
Rukia dengan emosi menggebrak mejanya sendiri. Tangannya langsung memerah otomatis. Tapi dia tidak merasakan sakit apapun di tangannya. Yang dia rasakan sakit saat ini adalah hatinya. Dengan wajah garang menahan emosi, Rukia mendelik sinis pada orang itu.
"Dengar ya, tolong jangan katakan apapun soal penyakit denganku. Kau tidak tahu apapun soal diriku. Jadi jangan sok tahu. Lagipula… kalau kau tidak mau repot, tidak usah sok peduli denganku. Anggap saja kau tidak tahu apapun!"
"Tch, aku kan mengatakan yang seharusnya. Kau harusnya berterima kasih padaku kenapa malah―"
Rukia langsung meninggalkan laki-laki aneh berambut biru itu tanpa mendengarkan semua omong kosongnya. Rukia hanya berharap orang itu sama sekali tidak akan pernah peduli dengannya. Kenapa juga dia harus bicara yang menyakitkan begitu! Memangnya dia tahu apa yang diinginkan oleh Rukia?!
"Dasar gadis naif," gumamnya dengan seringaian misterius.
.
.
*KIN*
.
.
Rukia sudah cukup akrab dengan beberapa teman sekelasnya yang dikenalkan oleh Hinamori padanya. Ternyata kelasnya memang menyenangkan. Rukia juga tipikal orang yang cepat akrab. Menyenangkan ternyata punya teman-teman seperti ini. Bahkan mereka semua jujur menyukai Rukia.
Semuanya sudah bersiap di garis start.
"Kuchiki Rukia?"
Seorang pelatih yang memakai pakaian olahraga dengan jaket, celana panjang dan sepatu keds itu memanggil Rukia. Tentu saja teman-temannya bertanya-tanya. Rukia sudah menduga soal ini.
"Ya, Aramaki Sensei?"
Pria berambut hitam dan kurus itu meneliti sebuah kertas yang dijepit oleh alas map. Apa yang ingin dia katakan ya?
"Kau siswa baru ya? Menurut catatan akademikmu, prestasimu di bidang atletik tidak begitu bagus. Apa ada sesuatu yang terjadi padamu?"
Berarti, kakaknya tidak begitu bicara banyak soal Rukia pada pihak sekolah.
"Oh, saya baik-baik saja. Saya akan berusaha lebih baik lagi."
"Begitu? Kembali ke tempatmu."
Rukia menghela nafas lega. Sepertinya dia bisa aman kali ini.
Aramaki Sensei memberitahu kalau mereka akan melakukan marathon dengan cara mengelilingi lapangan sebanyak tiga kali. Langsung saja Rukia meneguk ludahnya susah payah sambil membelalakkan matanya. Tiga kali? Lapangan ini?
Apa benar Rukia sanggup?
Tidak!
Dia sanggup! Dia harus buktikan pada orang sakit jiwa itu kalau Rukia bisa. Masa dia rela saja diolok oleh orang stress yang selalu membuat masalah dengannya? Jelas bukan Rukia kan yang mencari masalah dengannya?
Begitu tanda marathon dimulai, Rukia mulai berlari pelan mengikuti Hinamori dan beberapa temannya yang mulai berlari kecil. Mereka tidak begitu buas berlari. Mungkin karena ini marathon dan memang butuh tenaga yang lumayan. Separuh perjalanan, Rukia masih bisa bertahan. Tapi nafasnya mulai terasa terputus-putus dan sesak. Rukia bisa merasakan darah mengalir ke wajahnya begitu deras. Begitu menyelesaikan satu putaran, Rukia berhenti sejenak dan memegang dadanya yang berdebar begitu kencang. Gawat… ini gawat…
"Ada apa Kuchiki?"
Aramaki Sensei menghampiri Rukia yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan itu. Gawat… kalau ketahuan Rukia bisa bermasalah. Dan kakaknya bisa tahu kalau Rukia seenaknya lagi!
"T-tidak ap-apa-apa Sensei. B-boleh aku ijin sebentar ke… toilet?" ujar Rukia susah payah.
"Oh, ya silahkan saja. Lima menit untukmu."
Setelah mengucapkan terima kasih, Rukia segera menuju gedung sekolahnya. Obatnya ada di dalam kelas. Semoga saja tidak ada orang di sana. Terutama laki-laki menyebalkan itu. Rukia tidak mau mendengar ejekan orang stress itu. semoga saja dia sudah minggat seperti biasa!
Rasanya tidak kuat lagi. Rukia sudah terduduk di tangga gedung. Padahal kelasnya hampir sampai. Keringat dingin sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Dadanya semakin berdebar kencang. Kepala Rukia juga pusing bukan main. Rukia berusaha merangkak ke lantai atas untuk mencapai kelasnya sambil mencengkeram erat kaos depannya.
"Hei! Ada apa denganmu?"
Pandangan Rukia mulai kabur. Yang dia lihat sekarang hanyalah seseorang yang berdiri di atas tangga sambil mensejajarkan tingginya dengan Rukia. Sialan…
"Oi! Ada apa?! Kau kenapa?" suara terdengar panik. Aneh.
"O-obat… ku… o-obat…"
"Dimana obatmu?!"
"Di… tas…"
Rukia sudah tak kuat lagi. Kepalanya sangat pusing sekarang. Yang dia ingat hanyalah laki-laki berambut biru yang menggapai tangan mungilnya sebelum Rukia benar-benar jatuh dari tangga.
.
.
*KIN*
.
.
Grimmjow hanya memperhatikan kumpulan anak-anak sekelasnya dari jendela kelasnya. Dia juga melihat si mungil keras kepala itu ada di kerumunan. Awalnya, si mungil itu dipanggil oleh Aikawa Sensei, tapi kemudian dia kembali masuk ke dalam kerumunan itu. Apa guru nyentrik itu tidak diberitahu kondisi gadis bebal itu?
Grimmjow yakin gadis itu pasti akan membuat masalah.
Lihat saja, dia malah nekat ikut marathon padahal kondisinya saja payah. Grimmjow masih ingat saat gadis bodoh itu nyaris mati karena kehabisan nafas saat dibawa berlari oleh Grimmjow. Kalau saja Grimmjow tahu kondisi gadis payah itu, mungkin Grimmjow memilih meninggalkannya untuk ditangkap hidup-hidup oleh Aramaki sialan itu.
Baru separuh perjalanan saja gadis ngotot itu sudah kelihatan sebentar lagi ambruk di tempat. Grimmjow mulai malas memandanginya dan memilih untuk tidur di saja di kelas. Setelah menguap lebar, Grimmjow benar-benar memilih tidur. Tapi akhirnya, dia malah tidak bisa tidur karena gadis itu.
Sekarang kenapa Grimmjow yang jadi orang bodoh? Buat apa dia mengkhawatirkan orang keras kepala begitu. Sok hebat memaksakan diri? Tch!
Grimmjow bosan.
Lebih baik dia keluar saja. Mungkin tiduran di bawah pohon di belakang gedung adalah pilihan bagus.
Tapi mata biru langitnya langsung membelalak ketika melihat seseorang nyaris terkapar di tangga gedung itu.
Dan bingo. Dia adalah gadis keras kepala itu!
Benar kan dia buat masalah!
.
.
*KIN*
.
.
Grimmjow bingung ketika menggendong gadis tak sadarkan diri ini di punggungnya, klinik sekolah sedang tidak ada yang menjaga. Padahal kondisi gadis ini sudah mengkhawatirkan. Tubuhnya dingin dengan nafas yang terputus, bahkan nyaris tidak bisa bernafas. Apalagi dia menggigil.
Tapi begitu akan membawa Rukia keluar dari sekolah, ternyata ada seseorang yang mengaku sebagai supir pribadi gadis ini yang ternyata masih menunggu di luar sekolah. Pria pirang itu tampak ketakutan setengah mati melihat kondisi si mungil ini.
Begitu mengantarkan gadis mungil ini, ternyata dia harus masuk ruang gawat darurat sementara. Grimmjow bahkan tidak percaya hanya karena seperti itu saja sampai berlebihan begitu. Memangnya apa sih yang bermasalah? Heboh sekali.
Termasuk supir pribadi gadis aneh ini. Dia tampak menelpon seseorang.
Sebenarnya seheboh apa sih?
.
.
*KIN*
.
.
Rukia mengerjap pelan.
Dia mengira kalau dia nyaris mati. Yang tadi… benar-benar di luar dugaan.
"Sudah bangun Bodoh?"
Rukia kaget sekaget-kagetnya begitu mendapati laki-laki sialan berambut biru itu berdiri di dekat jendela kamar rawatnya dengan cuek sambil bersedekap dada.
"K-kau?!" pekik Rukia tertahan.
"Berterima kasihlah padaku. Kalau kau terlambat tadi, nyawamu benar-benar di ujung tanduk! Supirmu sedang ke sekolah untuk mengambilkan tasmu sekaligus memberitahukan kalau kau harus masuk rumah sakit."
"Hah? Kenapa begitu?"
"Tanyakan itu pada dirimu bodoh!"
Rukia terdiam sejenak. Ini memang salahnya. Yang jelas kakaknya pasti―
"Kau punya kakaknya?" tanya Grimmjow.
"Dari mana kau tahu?"
"Tadi dia sempat ke sini. Dia meninggalkan rapatnya untuk melihat kondisimu. Tapi karena rapatnya juga mendesak, dia harus pergi setelah memastikan kondisimu."
"Pasti Nii-sama khawatir…"
"Itu jelas."
Grimmjow terdiam sejenak.
Dia malah mengingat hal tidak penting itu.
"Apa… Nii-sama bilang sesuatu padamu?" tanya Rukia ragu.
"Kau mau tahu kakakmu bilang apa padaku?"
Rukia berubah takut. Rukia tahu benar kalau kakaknya tidak pernah suka melihat laki-laki seperti Grimmjow. Yang dari luar terlihat menakutkan dan mirip preman sekolah. Pasti Byakuya akan mengira kalau Rukia dijahati oleh Grimmjow makanya Rukia berakhir di rumah sakit. Bagaimana kalau Byakuya mengatakan sesuatu yang membuat Grimmjow tersinggung dan… laki-laki ini akan marah padanya?
"Err… sebenarnya aku tidak yakin kakakku bilang apa…" lirih Rukia.
"Kakakmu memintaku menjagamu."
Hah?
HAAAAHHH?!
"Nii… Nii-sama… bilang begitu?" kata Rukia ragu.
"Kau pikir aku berbohong? Yah aku tidak peduli kau percaya atau tidak. Tapi yang jelas, aku tidak mau melakukan hal bodoh begitu. Memangnya aku pembantumu apa?"
Kenapa tiba-tiba kakaknya bilang begitu pada orang asing? Pada orang seram begini lagi? Memangnya Byakuya tidak takut kalau nanti laki-laki seram ini akan macam-macam pada Rukia? Seperti… menguncinya dalam gudang kalau Rukia membuatnya kesal?
"A-aku juga tidak mau kau melakukan itu!" sangkal Rukia.
"Aku juga tidak akan mau! Kau bisa pulang sendiri kan? Tugasku sudah selesai di sini!"
Grimmjow langsung keluar dari kamar rawat Rukia.
Sekarang Rukia yang serba salah. Dia belum berterima kasih pada Grimmjow tadi. Entah kebetulan atau apa, yang jelas nyawa Rukia lagi-lagi diselamatkan oleh laki-laki menyeramkan itu. sekarang dia benar-benar kapok mengambil tindakan di luar batas lagi.
.
.
*KIN*
.
.
Setelah merasa baikan, Kira mengantar Rukia kembali pulang ke rumahnya. Tapi untuk saat ini, rasanya agak takut menghadapi kakaknya. Pasti Byakuya marah besar karena Rukia seenaknya lagi.
"Nona sudah pulang?" sapa Nanao.
"Oh ya, apa… Nii-sama sudah pulang?" tanya Rukia ragu.
"Tuan Muda baru akan pulang. Beliau masih dalam perjalanan."
Rukia mendesah lega. Kakaknya belum pulang ternyata.
Tapi Rukia semakin penasaran dengan apa yang dibicarakan kakaknya pada Grimmjow. Benarkah cuma itu?
Rasanya ada yang mencurigakan di sini.
Huh… kenapa Rukia jadi mengkhawatirkan kakaknya begitu? Pokoknya apapun yang Nii-sama lakukan pasti untuk kebaikan Rukia kok!
"Rukia?"
"Oh, Nii-sama? Sudah pulang?" sambut Rukia begitu Byakuya masuk ke dalam kamarnya.
"Bagaimana? Masih ada yang sakit?"
Rukia tersenyum lebar dan menggeleng riang.
"Tidak kok. Nii-sama terlalu khawatir. Aku baik-baik saja," kata Rukia.
"Apanya yang baik-baik kalau kau nyaris… sebaiknya setelah ini kau kabarkan mengenai kondisimu pada sekolah. Aku tidak ingin mendengar berita seperti ini lagi."
Tadinya Rukia riang menyambut Byakuya kini berubah cemberut. Rukia tahu apa yang dilakukan kakaknya ini hanyalah untuk melindungi Rukia, tapi rasanya… benar-benar tidak menyenangkan kalau Byakuya berkata begitu. Rukia tidak selemah itu kan?
"Rukia?" panggil Byakuya saat menyadari adiknya ini berubah aneh. Sepertinya si kecil Kuchiki ini sudah merajuk karena sikap protektif-nya lagi. Bahkan Rukia melarang kakaknya memberitahu pihak sekolah mengenai kondisinya. Rukia berjanji akan melakukannya dengan sebaik mungkin dan bertindak sehati-hati mungkin. Tapi kejadian hari ini membuat Byakuya berpikir dua kali lagi.
"Aku… mengerti Nii-sama," lirih Rukia.
Byakuya mengelus kepala Rukia.
"Satu kali," ujar Byakuya.
Rukia mendadak mengangkat kepalanya dengan wajah berbinar menatap Byakuya.
"Satu kali lagi kalau aku mendengar kau masuk rumah sakit lagi, tidak ada pilihan lain. Kau mengerti?"
Sudah Byakuya duga, setelah mengatakan hal itu, Rukia terlonjak girang dan memeluk Byakuya seerat mungkin sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali.
"Oh ya Nii-sama, apa… Nii-sama mengatakan sesuatu pada laki-laki berambut biru itu?" tanya Rukia sambil tetap memeluk Nii-samanya.
"Laki-laki berambut biru?" ulang Byakuya.
"Ahh, bukan apa-apa…" hmm… mungkin kakaknya lupa soal Grimmjow. Baguslah!
Rukia tidak menyadari wajah sang kakak yang melihatnya dengan tatapan lain itu.
.
.
*KIN*
.
.
"KYAAAAAAAAA!" pekik Rukia pagi buta itu.
Tanpa babibu lagi, Rukia segera menyambar apa saja yang ada di dekatnya.
Dia bangun kesiangan! Bagaimana bisa ini terjadi? Padahal statusnya masih jadi anak baru tapi malah terlambat!
Semalam sepertinya dia keenakan tidur, jadi pagi ini tidak sadar dengan suara alarm pagi yang distel sekencang mungkin itu. tanpa mempedulikan Byakuya yang ada di meja makan itu, Rukia pamit sekenanya dan langsung buru-buru meminta Kira mengantarkannya sesegera mungkin ke sekolah.
Begitu tiba di sekolah, Kira sudah memperingatkannya untuk tidak berlari, tapi bagaimana caranya ketika gerbang hampir ditutup Rukia bisa berjalan santai? Dasar sial hari ini!
Baru Rukia akan mengabaikan teriakan supirnya itu, dirinya tertegun melihat sosok yang berjalan santai menuju halaman belakang gedung sekolah ini. Ehh? Itu kan?
"HEI! LAKI-LAKI SANGAR!" pekik Rukia.
Yang dipanggil dengan suara tinggi itu kontan saja terkejut bukan main. Begitu menoleh dia sudah melihat gadis mungil itu berlari pelan ke arahnya. Ck! Mau apalagi gadis ini?
"Hei, kenapa kau tidak masuk ke kelas?" tanya Rukia polos.
"Tentu saja karena aku malas. Kau masuk ke sana saja! Jangan ikuti aku tahu!" balasnya sarkastik.
Rukia menggembungkan pipinya dan menatap tidak suka pada Grimmjow.
"Apa?" Grimmjow sadar dengan tatapan di anak baru ini.
"Selama aku masuk ke sekolah ini kau sering sekali bolos ya?" tuduhnya.
"Memang benar. Kau mau apa?"
"Kalau kau begitu terus kau bisa bodoh dan tidak naik kelas."
Grimmjow memutar bola matanya bosan. Kalau diladeni sepertinya akan makan waktu.
"Hei, bell sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu, daripada merecokiku, masuk saja sana," kata Grimmjow gerah.
"Hah? Sepuluh menit?! Astaga! Kenapa kau baru bilang?! Ayo masuk!" gerutunya kesal sambil menarik lengan Grimmjow.
Rukia berlarian sambil menarik lengan besar Grimmjow kuat-kuat. Apa-apaan gadis mungil ini!
Begitu masuk ke dalam gedung itu, Rukia berhenti sejenak sambil mengatur nafasnya. Celaka, dia sudah keterlaluan kali ini. Sadar akan hal itu, Grimmjow menyentakkan tangannya dengan kuat. Rukia menatap Grimmjow dengan kaget sambil mengatur nafasnya yang tercekat itu. Wajah Rukia sudah memerah karena nafasnya.
"Kau itu dilarang berlari. Kau juga dilarang buru-buru naik tangga. Kau mau masuk rumah sakit lagi hah?!" bentak Grimmjow.
"H-habis… kalau tidak buru-buru… nanti kita kena marah…"
"Makanya bolos saja!" usul Grimmjow.
"Tidak boleh! Aku masih anak baru di sini. dan kau sudah terlalu banyak bolos! Kita bisa kena marah tahu!" bantah Rukia.
"Ck! Kau ini perempuan paling merepotkan! Kau saja yang masuk! Aku tidak mau!" Grimmjow bergerak akan pergi meninggalkan gadis itu.
"Ya sudah! Sesukamu saja!" pekik Rukia kesal.
Tch, keras sekali teriakan gadis itu! Gumam Grimmjow.
Baru akan meninggalkan gedung, Grimmjow tertegun sejenak. Kenapa perasaannya tidak enak meninggalkan gadis itu sendirian? Apalagi tadi nafasnya sudah terdengar aneh.
Begitu Grimmjow berbalik melihat Rukia, gadis itu masih di ujung tangga sambil berpegangan pada pegangan tangga itu. Benarkan…
Terserah dia sajalah. Sampai dimana dia sanggup!
Rukia memegang dadanya sejenak. Nafasnya masih belum stabil. Dia terlalu berlebihan tadi. Makanya jadi begini. Untuk apa dia repot-repot pada laki-laki sialan itu!
"Dasar laki-laki kurang ajar! Awas saja kau!" geram Rukia jengkel.
"Siapa yang kurang ajar hah?!" balas Grimmjow.
Kontan saja Rukia terkejut dan berbalik ke belakang. Di ujung tangga itu Grimmjow sudah berdiri sambil bersedekap dada. Bukankah pria ini sudah pergi tadi?
"K-kau?"
Grimmjow mengulurkan tasnya pada Rukia. Tapi karena tak kunjung bereaksi, Grimmjow melemparkan tas itu padanya. Untungnya Rukia punya reflek yang bagus. Bahkan tasnya saja begitu ringan. Orang ini niat sekolah tidak sih?!
Tiba-tiba Grimmjow berjalan mendekati Rukia lalu berbalik dan berjongkok. Entah bagaimana… sepertinya laki-laki seram ini tengah… menyodorkan punggungnya untuk… Rukia?
Hah?!
"Cepatlah naik, jangan buat aku seperti orang bodoh! Aku tidak mau kau pingsan lagi di tangga dan menyusahkan orang!" gerutu Grimmjow.
Lama Rukia baru merespon. Orang ini…
"Kalau kau tidak mau aku akan pergi!" balas Grimmjow.
Ehh? Kalau dia pergi, Grimmjow akan bolos kan? Tidak! Tidak boleh. Kalau Rukia naik ke punggung Grimmjow, laki-laki ini pasti akan masuk kelas juga sama seperti dirinya!
Rukia menyeringai senang dan akhirnya langsung naik ke atas punggung tegap laki-laki ini. Heee… ini pertama kalinya Rukia naik ke punggung laki-laki selain kakaknya.
Wangi khas Grimmjow tercium begitu kuat.
"Kau ringan sekali seperti anak SD, tidak diberi makan ya?" sindir Grimmjow.
Rukia memukul kepala biru itu dengan tas Grimmjow.
"Aww! Apa-apaan kau ini!" balas Grimmjow.
"Aku bukannya anak SD! Aku juga bukannya tidak diberi makan! Tapi tubuhku memang seperti ini!" balas Rukia.
"Lihat… tadi kau kelihatan nyaris pingsan lagi, tapi sekarang sudah bisa memukul kepala orang!" sindirnya.
"Itu karena kau yang mulai duluan!"
Entahlah…
Kenapa tiba-tiba jantung Rukia berdebar keras sekali? Padahal dia yakin tadi nafasnya sudah terkendali setelah Grimmjow menggendongnya. Tidak mungkin kan kalau dia…
Tidak! Tidak! Tidak!
Mungkin… Rukia hanya panik saja. Ya… mungkin begitu.
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Holaa minna… makasih yaa yang udah nyempetin baca apalagi sampe review… gak nyangka banget fic ini masih ada yang mau baca hikss… terharu berat…
Ok deh saya balas review…
Dani Reykinawa : makasih udah review Dani… ehehe iyaa udah lama pengen bikin, mungkin mau ngerambah ke rate m? *plaak* eheeh ya boleh deh mau beli dua ribu hihii endingnya? Bahkan saya belum tahu endingnya gimana hihiihii
Mora : makasih udah review senpai… ehheheheh kenapa gak asing? Jelek ya? Iyaa sih saya emang suka nambah fic gak jelas gitu sekarang ihihi, kalo wish, ya ditunggu ya, kan fic collab jadi agak makan waktu hehehehe
Hendrik widyawati : makasih udah review senpai… saya belum tahu apa Ichigo perlu masuk atau nggak ke fic ini. Takutnya kalo Ichi ikut masuk, Ichi-nya dominan terus Grimm-nya ketinggalan ehehehe nih udah lanjut.
Kken RukIno : makasih udah review senpai… jangan senpai ke saya, panggil Kin aja gak papa kok eheheh makasih yaa udah sempet review sampe bilang keren sama fic hancur ini hihhii nih udah update
Voidy : makasih udah review neechan… golden retiever apaan nee? *plak* yaa makanya masih agak bingung apa karakter Ichi penting gak di fic ini eheheh ya soalnya buru-buu tulis karena rencananya chapnya Cuma dikit sih hihihi soal twist ya masih dipikirin eheheh kalo saran nee kayaknya bisa dipertimbangkan hihihihi
Kiki RyuEunTeuk : makasih udah review senpai… yaa ini udah update…
Beby-chan : makasih udah review beby… eeh? Masa sih baru pertama kali baca fic pair ini? Kalo endingnya saya jujur belum pikirin sih eheheh makasih sarannya, kayaknya sih udah semua saya lakuin tapi tetep aja belum selesai wb-nya hehehehe tapi saya lagi berusaha update tepat waktu kok eheheh
Ray Kousen7 : makasih udah review Ray… eheheh iya saya sih gak mau monoton pair-nya jadi diusahain fic saya itu pelangi, jadi banyak pair eheheh saya juga sih sebenernya mau chara lain buat kakak Ruki, tapi tergantung sitkon juga sebenernya. Kebetulan sitkon kali ini emang lagi cocok sama Byaku eheheh
Makasih yang udah baca apalagi sampe review… jadi… apa masih ada yang minat nih fic dilanjutin? Emang agak gak jelas dan ngebosenin sih, tapi yah… untuk kali ini saya mau konflik yang gak berat-berat aja ehehhe
Boleh reviewnya?
Jaa Nee!
