Hola Minna…
Semoga gak ada bosennya ya dengan fic saya yang gaje, ancur, berantakan, gak beres dan sebagainya ini. Sekali lagi maaf malah bikin fic baru, saya lagi kena WB dadakan. Gak ada imajinasi sama sekali buat nerusin fic yang ada. Kayaknya butuh Spongebob nih!
DISCLAIMER : TITE KUBO
WARNING : OOCness(parah, banget, kelewatan, gak ketolongan), AU, Misstypo(eksis mulu, gak mau absen!), Gaje, Ide pasaran, Mudah ketebak, Membosankan!
Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka, apalagi terdapat kesamaan di dalam fic ini di fic lain atau cerita lain dalam bentuk apapun, itu sama sekali tidak disengaja. Mohon maaf kalau terjadi kekeliruan dalam pembuatan fic ini. Semua yang ada di sini cuma fiksi yang iseng.
.
.
.
"Terlambat datang? Kuchiki, kuperingatkan kalau kau adalah siswa baru di sini, jadi jangan sampai memiliki catatan buruk karena salah bergaul. Dan kau, sudah cukup jadi siswa bermasalah. Kalau kau serius ingin masuk, jangan melakukan kesalahan yang akan membuatmu bermasalah. Kalian paham?"
Rukia dan Grimmjow akhirnya diijinkan masuk setelah diceramahi oleh Kaname Sensei. Memang sih salahnya mereka kenapa bisa terlambat. Tapi untungnya, Grimmjow tidak meninggalkan Rukia sendirian setelah mereka tiba di depan kelas. Grimmjow menurunkan Rukia dari gendongannya dan dia duluan yang mengetuk pintu kelas. Rukia sebenarnya kagum dengan orang seperti Grimmjow. Dia mau melakukan hal yang tidak dia inginkan demi orang lain. Tapi, sepertinya Rukia tidak boleh berbangga hati karena hal ini. Siapa tahu, Grimmjow cuma basa basi dengannya saja. Bisa begitu kan?
Hinamori melirik agak kaget melihat Rukia yang masuk dengan berandalan sekolah itu. Tentu saja Rukia mengerti maksudnya. Tapi dengan tenang, Rukia membalas tatapan kaget Hinamori itu dengan senyum manisnya. Setidaknya jangan sampai membuat orang salah paham dengan kejadian pagi ini.
"Baiklah, keluarkan tugas kalian. Kita akan membahasnya hari ini. Bagi yang tidak membawa, lakukan konsekuensi yang sudah kita sepakati bersama kemarin."
Konsekuensi yang tidak membawa sih katanya disuruh membersihkan berkarung-karung kaleng minuman yang ditumpuk di sekolah. Jumlah kaleng itu memang banyak dan berada di tiap sudut sekolah. Ada yang di kantin, di taman sekolah, ada yang di parkiran ada juga yang di lapangan bola. Saking banyaknya, kadang jumlah karung yang dibutuhkan sangat banyak. Makanya kaleng-kaleng itu harus disusun terlebih dahulu. Yah… kaleng itu akan ditipiskan dengan cara diinjak supaya muatan karungnya bisa lebih banyak. Saking banyaknya kaleng itu, malah dibiarkan bertumpuk begitu saja sampai petugas kebersihan yang datang dua minggu sekali itu yang mengambilnya. Kaname Sensei memanfaatkan itu untuk hukuman siapa yang tidak membawa tugasnya. Biasa memang sensei satu ini senang sekali memberikan hukuman untuk siswanya yang tidak membawa atau membuat tugasnya.
Rukia agak kaget dengan hukuman itu sih. Karena dia tidak pernah mendengar hukuman sangat parah begitu. Biasanya Cuma disuruh berdiri di koridor kelas. Itu pun dia dengar dari teman-temannya dulu.
Para siswa sudah mengeluarkan tugas masing-masing. Kaname Sensei juga sudah berkeliling di sekitar kelas untuk melihat tugas siswanya.
Dan ting tong…
Sepertinya ini adalah hari tersial untuk Rukia.
Dia bahkan sudah membongkar isi tasnya dengan panik karena tak menemukan benda yang dia cari. Padahal tasnya tidak begitu besar. Dimana benda itu menyelinap?
"Ada apa Kuchiki?" tanya Kaname Sensei saat melihat meja Rukia yang begitu berisik.
"Anoo… Sensei, aku sudah membuat tugasnya. Sungguh! Tapi… sepertinya tugas itu… hilang di tasku…" lirih Rukia sambil menunduk dalam.
Pasti karena dia bangun kesiangan tadi! Dia lupa tugas itu untuk dimasukkan ke dalam tasnya. Bagaimana ini? Menelpon kakaknya atau Kira sudah percuma.
"Dengan kata lain tugas itu tidak ada padamu kan?" tanya Kaname Sensei sambil bersedekap dada.
Rukia yang berdiri di depan mejanya sambil mencengkeram ujung roknya dengan gelisah hanya bisa mengangguk saja. Sepertinya dia harus pasrah hari ini ya?
"Kau terlambat dan lupa tugasmu. Sepertinya mulai sekarang kau harus memperbaiki pergaulanmu. Perjanjian tetap perjanjian. Siapa lagi yang tidak membawanya?"
Haruskah Rukia sendirian hari ini? Benar-benar malang sekali nasibnya.
Seisi kelas menoleh serentak ketika mendengar bunyi kursi yang didorong cukup keras dari arah belakang. Rukia masih tidak berani melihat siapa yang berdiri itu. Bisa saja seseorang yang ingin permisi kan?
"Kau juga? Kalian ini janjian ya?" sindir Kaname Sensei dengan sinis.
Suara godaan dan siulan bermunculan di dalam kelas. Rukia semakin berkeringat dingin dan panik. Siapa maksudnya? Apa…
"Aku memang tidak membuatnya. Mengerjakan tugas begitu membuang waktu saja," jawabnya malas.
Sudah tidak perlu dilihat lagi siapa.
Kenapa orang itu juga tidak membuatnya? Mana lagi jawabannya seperti itu!
"Baiklah. Terserah saja. Silahkan laksanakan tugas kalian berdua. Tapi jangan kencan diam-diam di lingkungan sekolah."
Begitu mereka berdua keluar masih terdengar sorakan heboh dari seisi kelas. Ini benar-benar memalukan!
Tapi entah kenapa Rukia senang. Setidaknya dia punya teman yang bisa dia repotkan kali ini…
.
.
*KIN*
.
.
"Kau serius tidak membuatnya?" tanya Rukia ketika mereka sudah mengenakan sarung tangan dan mulai memilah kaleng-kaleng minuman ringan itu di kotak sampah kantin.
"Kau tidak tuli kan?" katanya cuek.
Rukia mendengus kesal. Benar-benar orang ini!
Rukia menyeret satu karung yang berisi kaleng yang sangat penuh itu. tangan mungilnya tentu tidak sanggup membawa karung ini. Tapi dia harus berusaha. Ini kan hukuman untuknya.
"Kau ini tidak pernah kerja berat ya?"
Grimmjow langsung mengambil alih karung yang diseret Rukia dari tangannya. Setelah menumpuknya di satu tempat, karung-karung itu mulai dikeluarkan isinya. Beratus kaleng berceceran di lapangan yang sengaja dijadikan kumpulan sampah ini.
"Nii-sama melarangku melakukan pekerjaan berat. Tapi kadang aku selalu membantu pelayanku di dapur. Mengangkat karung bukan pekerjaan berat kan?"
"Kalau begitu bawa ini!" Grimmjow melemparkan sebuah karung yang hanya diisi setengah bagian. Orang itu…
Mereka sudah berhasil mengumpulkan semua kaleng. Rukia tidak mengerti kenapa ada orang yang harus melakukan hal ini. Dan ini malah pertama kalinya dia melakukan hal seperti ini. Kelihatannya memang menyenangkan. Yah… sangat menyenangkan memang.
Melihat Grimmjow yang menginjak-injak kaleng-kaleng itu jadi tipis, Rukia jadi penasaran bagaimana melakukannya. Karena itu, dia mengambil satu kaleng dan menginjaknya kuat-kuat.
"Aww!" malah kakinya yang terasa kram.
"Hei bodoh! Jangan injak badannya. Tapi injak dari atas tutupnya. Kalau begitu mana bisa dimasukkan!" tegur Grimmjow.
"Aku sedang berusaha! Kenapa kau marah-marah terus sih!"
"Karena kau tidak bisa! Duduk saja sana! Aku pusing melihatmu kalau sudah melakukan hal bodoh!"
Orang ini! Mau bikin naik darah hah?!
KLETAAK!
"Aww! Hei Pendek! Apa-apaan kau ini hah?!" pekik Grimmjow.
KLETAAK!
"Hei!"
"Kau sudah mengataiku bodoh dua kali! Mau mengataiku lagi?!"
Rukia geram sekali. Dia sudah mengambil ancang-ancang untuk melempar satu kaleng lagi pada laki-laki berambut biru itu.
"Hei! Kalau kau berani melempar itu aku akan―"
KLETAAK!
Rukia tertawa terbahak-bahak ketika Grimmjow akan melangkah ke depan. Kakinya langsung terinjak kaleng bekas itu dan dia terpeleset jatuh. Rukia bahkan memegangi perutnya karena terbahak tertawa kencang. Tawanya lepas begitu saja melihat berandalan sekolah ini jatuh mengenaskan hanya karena sebuah kaleng bekas! Ini pertama kalinya setelah Rukia mengalami nasib mengerikan itu. pertama kali dirinya bisa tertawa sekeras dan sesenang ini. Dia tak menyangka bahwa di sisa hidupnya dia masih bisa tertawa sekencang ini. Apakah nanti… ada waktu dimana Rukia bisa tertawa seperti ini lagi?
"Sialan! Hei Pendek! Kau benar-benar cari mati denganku!" pekik Grimmjow setelah dia memulihkan tubuhnya pasca terpeleset itu. laki-laki berambut biru terang itu berdiri dari aspal itu.
Rukia mulai berkeringat dingin. Gawat, sepertinya dia serius!
"He-hei, a-aku Cuma bercanda," sangkal Rukia yang mulai gemetar melihat preman sekolah ini sudah berjalan mendekatinya dengan tampang mengerikan.
"Bercanda ya? Ayo kita bercanda lagi! Jangan kabur hei!"
Rukia sudah mengambil langkah seribu dan berlari sekencangnya menghindari amukan sang berandalan sekolah itu. Kenapa kakinya begitu panjang? Bahkan dua langkah Rukia sama dengan satu langkah kakinya. Benar-benar laki-laki sadis!
Grimmjow sebenarnya tidak serius dengan apa yang dikatakannya. Mana mungkin dia menghabisi gadis mungil yang bahkan berpenyakitan itu. Tapi dia melakukan ini supaya gadis itu jera untuk berbuat usil padanya. Padahal pertama kali bertemu Grimmjow sudah merasa dia adalah pembawa petaka untuknya. Pasti gadis itu akan terus menyusahkannya bahkan tanpa Grimmjow sadari. Dan sekarang, dia sudah terjebak dalam kehidupan yang mulai dimasuki oleh gadis asing yang bahkan tak ingin Grimmjow kenal seumur hidupnya. Mengenal satu gadis sudah cukup untuk Grimmjow memukulratakan semua gadis sama.
Menyeringai, Grimmjow tersenyum puas saat melihat gadis mungil itu sudah memperlambat larinya. Tentu saja Grimmjow langsung mempercepat langkahnya untuk menyusulnya kemudian membuat perhitungan dengan bocah sialan itu.
"Hei kau! Kalau kau―"
Astaga. Grimmjow lupa. Gadis itu tidak bisa berlari terlalu lama.
Panik. Tentu saja panik. Grimmjow langsung buru-buru menghampiri Rukia yang sudah memegangi dadanya. Begitu tiba di sana, Rukia menunduk dalam seraya meremas seragam depannya sendiri.
"Hei, kau kenapa? Ada apa denganmu?!" kata Grimmjow panik.
Tapi Rukia malah tertawa geli sampa air matanya keluar dengan sendirinya di sudut mata cantiknya itu.
"Hahahah! Kau ini kenapa panik begitu? Bukannya kau mau balas dendam padaku?" goda Rukia.
Grimmjow mulai menggertakkan giginya dan mencengkeram kerah belakang Rukia hingga gadis mungil itu terangkat dari aspal itu. Kaki mungilnya mulai meronta dan tangannya mencengkeram tangan besar Grimmjow yang kelihatannya sudah sangat marah ini. Yah, jangan salahkan Grimmjow kalau dia tidak bisa menahan diri lagi.
"Ampun! Aku minta maaf! Tolong jangan lempar aku!" mohon Rukia sambil berwajah memelas. Dia tidak menyangka candaannya bisa membuat laki-laki ini marah besar. Rukia sudah pasrah. Dia mungkin bisa saja dilempar ke tong sampah karena ulahnya menggoda preman sekolah.
Grimmjow mulai menyeretnya dengan tetap menarik kerah belakang Rukia. sebisa mungkin dirinya meronta dan memohon ampun supaya jangan sampai dimasukkan ke dalam tong sampah. Entah kenapa di dalam kepalanya malah terpikir tong sampah saat Grimmjow membawanya begini.
Tapi kemudian, laki-laki biru ini malah meletakkan Rukia di bangku taman sekolah. Rukia sendiri tidak mengerti dan bingung.
"Dadamu masih sakit?" tanyanya datar dan dingin.
"Ehh? Ya… tadi sakit sedikit. Tapi sekarang tidak lagi. Maafkan aku… aku janji tidak akan mengulanginya lagi," sesal Rukia seperti tengah meminta maaf karena dia mengambil buah apel di kebun orang lain.
"Aku tidak suka bercandamu tadi. Kau paham kan kalau kau memang sedang sakit? Apa yang akan orang lain pikirkan kalau kau bertingkah seperti tadi?!" bentak Grimmjow dengan suara rendah.
Rukia jadi merasa bersalah. Maksudnya tadi memang ingin bercanda. Tapi dia malah kebablasan dan membuat orang lain khawatir. Rukia hanya bisa menunduk dalam tanpa berani mengatakan apapun.
"Maafkan aku, sungguh aku… tidak bermaksud buruk. Maafkan aku," ulang Rukia dengan suara bergetar. Kini dia benar-benar merasa sangat bersalah. Belum pernah Rukia merasa sebersalah ini dengan seseorang. Padahal… Rukia pikir tadi dia tidak apa-apa. Dia hanya ingin… merasakan sesuatu saja.
"Sudahlah. Kau sudah lebih baik. Kau istirahat saja di sini sementara aku menyelesaikan pekerjaan terakhir."
"Aku ikut. Kita kan dihukum berdua, jadi kita harus menyelesaikannya―"
"Aku tidak mau melihatmu bercanda seperti tadi. Mengerti? Kalau kau masih keras kepala kali ini aku akan melemparmu ke tong sampah!"
Rukia terdiam.
Benar-benar mau dilempar ke tong sampah ya?
.
.
*KIN*
.
.
"Jantungnya sudah sangat lemah. Perlu diadakan cangkok secepatnya. Tapi… Nona Rukia memiliki darah langka yang sulit dicari. Akan sulit menemukan jantung yang sesuai untuknya."
Byakuya terdiam mendengar kata-kata dokter pribadi keluarga Kuchiki ini. Begitu tahu adiknya mengalami masalah ini, Byakuya sudah tidak bisa berpikir apapun lagi. Sekarang prioritasnya hanya menyelamatkan sang adik. Tidak ada pilihan lain.
Awalnya, jantung Rukia sejak lahir adalah normal. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan kalau dia bermasalah dengan jantungnya. Sampai… ketika Rukia menginjak usia enam tahun, secara perlahan, jantungnya mulai melemah. Ini diketahui ketika Rukia tiba-tiba pingsan setelah berlari di sekeliling rumahnya tanpa henti. Saat itu, dokter memvonis Rukia tidak akan bisa bertahan sampai berumur 20 tahun karena kondisi jantungnya yang akan terus melemah tanpa bisa dicegah. Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan adiknya dengan pasti. Hanya ada obat yang bisa memperlambat kelemahan jantung itu dengan membantu kinerja jantung agar tetap berfungsi sebagaimana mestinya.
Rukia yang sudah mengetahui ini hanya bisa pasrah dan menerima semuanya. Dia tidak mengeluh apalagi putus asa. Rukia tetap menjalani hari-harinya sebagaimana mestinya meski dia tahu umurnya mungkin tidak bertahan lama.
Sejak Rukia memiliki penyakit itu, akhirnya Byakuya memutuskan untuk merawat Rukia di rumah dan tidak memperbolehkannya ikut sekolah umum. Jadilah Rukia selama ini hanya homeschooling. Awalnya Rukia merasa berat karena tidak memiliki teman sebayanya. Tapi setelah dijelaskan kondisinya, akhirnya Rukia mengerti.
Sampai… Rukia menginginkan hal yang katanya adalah permintaannya yang pertama dan terakhir.
Rukia ingin merasakan sekolah umum sebagaimana mestinya. Dia selalu penasaran ingin tahu seperti apa sekolah itu.
Mendengar Rukia mengatakan hal itu membuat Byakuya tak punya pilihan lain selain mengijinkannya. Rasanya tak tega juga membiarkan adik semata wayangnya itu hanya mendekam di dalam rumah seperti menunggu detik hidupnya.
"Apakah… ada cara lain untuk bisa menyembuhkannya?" tanya Byakuya akhirnya.
"Untuk penyakit ini, jujur saya katakan tidak ada obat yang pasti bisa menyembuhkannya. Semua obat yang dikonsumsi oleh Nona Rukia hanya bisa memperlambat. Bukan menyembuhkan. Jalan satu-satunya hanyalah operasi transplantasi jantung. Tapi operasi itu bukan operasi yang mudah. Jika tidak ada donor jantung yang sesuai, maka operasi juga tidak bisa menyelamatkan nyawanya."
Apa yang harus… Byakuya lakukan?
.
.
*KIN*
.
.
Grimmjow menyelesaikan karung terakhir. Semuanya sudah diselesaikan dengan secepat yang dia bisa. Sekarang dia malah merasa seperti tukang sampah sungguhan. Gara-gara bocah sial itu!
Ngomong-ngomong dimana―
TUUK!
Grimmjow kaget dengan sensasi dingin yang menjalar di pipinya. Begitu menoleh ternyata makhluk mungil itu sudah menyeringai di depannya seraya membawa sekaleng soda dingin.
"Untukmu," katanya sambil memberikan kaleng itu pada Grimmjow.
"Aku sudah muak melihat kaleng hari ini. Tidak bisakah kau berpikir lebih pintar lagi?" geram Grimmjow.
"Ehh? Maaf, aku tidak tahu kau suka minum apa. Ya sudah, kalau begitu aku buang saja―"
Dengan kasar Grimmjow menarik kaleng itu dari tangan mungil Rukia.
"Kau berhasil membuatku jadi persis tukang sampah!"
Rukia mengerucutkan bibirnya dan menggembungkan pipinya. Sepertinya dia benar-benar membuat orang ini marah luar biasa ya?
PUSSSHH…
Rukia kaget ketika mendapati pipi yang dia gembungkan tadi tiba-tiba meletus. Begitu menoleh ternyata laki-laki bertampang sangar itu menusuk pipinya dengan ujung jarinya.
"Kau terlihat seperti ikan buntal," sindirnya.
"Karena aku sebal pada orang yang tidak berterima kasih padaku!" rajuk Rukia.
"Baiklah, terima kasih atas kalengnya Nona Cerewet!"
Rukia tersenyum lebar seraya mengikuti laki-laki berambut biru ini yang sudah menyelesaikan tugas terakhirnya. Mungkin mereka bisa kembali ke kelas sekarang. Apalagi pelajaran Kaname Sensei sudah hampir selesai. Rukia tak mau melewatkan pelajaran berikutnya.
"Hei, kau mau kemana?" tanya Grimmjow ketika kaki mungil Rukia mulai berjalan cepat menuju gedung kelas.
"Kelas. Kita sudah menyelesaikan tugas kan?"
"Hari ini aku mengangkut tujuh karung penuh berisi kaleng. Kau pikir aku masih ada tenaga untuk masuk ke kelas? Duduk di sana," katanya, sepertinya itu terdengar seperti perintah untuk Rukia.
"Tapi kan pelajarannya―"
"Mungil. Cepat. Duduk!" tekannya seraya berdekap dada dengan tampang mirip preman sungguhan.
Rukia menelan ludah dengan susah payah. Gawat…
"B-baiklah…"
Angin kali ini berhembus cukup pelan. Rasanya udara sejuk ada di musim seperti ini sungguh hebat. Rukia duduk di ujung bangku taman sekolah ini sementara di ujung lainnya Grimmjow ikut duduk di sana. Mereka sama-sama diam menikmati angin yang berhembus dengan bersahabat ini. Rasanya tidak menyesal juga jika harus melewati pelajaran Kaname Sensei.
"Kupikir, orang dengan penyakit sepertimu sudah tidak ingin sekolah lagi. Kenapa kau bisa ada di sini?" buka Grimmjow tanpa memalingkan wajahnya ke Rukia. laki-laki itu hanya menatap langit sewarna dengan rambutnya yang cerah itu. awalnya Rukia terkejut ditanyai seperti itu. tapi mungkin ini adalah saat dimana dia harus mengungkapkan semuanya. Meski sebenarnya Rukia tak yakin akan bicara jujur dengan orang ini. Tapi kenapa juga Rukia merasa nyaman kalau harus bicara dengannya dengan jujur begini.
"Sebenarnya kondisiku sejak lahir hingga usia enam tahun aku lahir dengan normal tanpa penyakit apapun. Tapi, sejak aku berusia enam tahun, tiba-tiba kinerja jantungku jadi menurun drastis. Dokter bilang, aku mungkin tidak akan hidup untuk 20 tahun. Bisakah kau membayangkan, seorang anak kecil yang baru berusia enam tahun divonis penyakit yang begitu mengerikan itu?
"Awalnya aku tidak terima. Nii-sama juga mulai membatasi gerakanku dan melarangku untuk keluar dari rumah. Katanya kalau aku ada di luar, bisa ada bahaya yang mengancamku karena kondisiku. Jadilah aku homeschooling selama ini. Hidupku selama sepuluh tahun ini… benar-benar membosankan. Aku hanya bisa melihat dari layar televisi acara kartun saja. Melihat dari balik jendela anak-anak seusiaku yang begitu bahagia bisa bermain sepuasnya. Sungguh, saat seperti itu benar-benar menyakitkan buatku.
"Makanya, ketika aku memutuskan masuk ke sekolah ini, setidaknya aku ingin selama hidupku akan ada kenangan yang berharga yang bisa kuukir nantinya jika aku memang tidak bisa bertahan sampai usiaku 20 tahun. Aku ingin ada kenangan yang bisa kubanggakan. Bahwa aku… pernah memiliki sebuah kenangan yang tak akan bisa kulupakan. Apakah aku terdengar melankolis?"
Rukia tak mendapat respon. Grimmjow masih memandang langit di atas kepalanya tanpa ekspresi. Entahlah, ini pertama kalinya Rukia menceritakan dirinya pada orang lain. Bahkan orang yang belum dikenalnya selama satu bulan.
"Itu artinya, kalau nanti kau sudah mendapatkan kenangan itu, kau sudah rela mati segera?"
Rukia terkejut Grimmjow menanyakan hal itu padanya.
"K-kenapa kau bilang begitu?" mata Rukia terasa panas. Rasanya sakit sekali.
"Kalau kau hanya ingin kenangan supaya kau tidak menyesal mati, untuk apa kau dapat kenangan? Bukankah lebih mudah kau mati saja sekarang daripada kau harus menunggu kenangan yang tidak jelas itu?"
"A-aku…"
"Kau… bukan begitu caranya kalau kau ingin sebuah kenangan. Kalau kau ingin sebuah kenangan, buatlah kenangan yang bisa menguatkanmu untuk berusaha terus hidup. Karena nantinya, jika kau mati, kenanganmu juga akan mati. Jadi buat apa membuat kenangan? Bukankah… kalau kau ingin membuat kenangan, supaya apa yang kau kenang, bisa terus kau ingat selamanya?"
Tiba-tiba lelehan bening itu turun dari celah mata cantik Rukia. langsung saja Rukia buru-buru menunduk. Ini pertama kalinya ada seseorang yang mengatakan hal seperti itu padanya. Mengatakan hal… yang sudah lama ingin didengarnya.
"Terima kasih… terima kasih. Sepertinya, aku senang sekali bisa mengenalmu…"
"Hei, kenapa kau menangis?" kata Grimmjow panik.
"Tidak, aku… hanya merasa senang saja. Apa kau mau mengabulkan satu permintaanku?"
Grimmjow diam. Gadis ini aneh. Dia menangis, tapi kenapa dia terlihat bahagia?
"Asal jangan yang aneh-aneh saj―"
BRUUK!
Rukia langsung mendekatkan tubuhnya dan menubruk tubuh bidang di sampingnya ini. Tangan mungilnya melingkar di sekitar pinggang Grimmjow.
"Hei! Kau ini―"
"Aku senang sekali… aku senang bisa mengenalmu. Terima kasih. Kata-katamu sangat menyentuhku!"
Grimmjow mengerut tak mengerti. Apa yang dikatakannya tadi sepertinya cukup kasar. Tapi kenapa gadis ini malah berterima kasih padanya? Bukankah ini sangat aneh? Yah! Benar-benar aneh!
.
.
*KIN*
.
.
Setelah menangis tadi, Rukia memang merasa lebih baik. Sayang karena tadi sempat hampir dia kambuh, Rukia jadi merasa mengantuk dengan sangat. Dia tidak ingat bagaimana, tapi matanya tiba-tiba saja menutup dan langsung tidur dengan sangat nyenyak. Rasanya memang sangat hangat dan nyenyak.
Hmm, bukankah dia tadi sedang dihukum?
Ahh~ dia sudah harus masuk ke kelas kan?
Rukia mengerjapkan matanya berulang kali. Kenapa suasananya jadi orange begini? Burung gagak pun mulai berkoak-koak di sana sini. bukankah ini suasana matahari terbenam?
Terbenam?
Ungu kelabu Rukia terbelalak saking kagetnya. Dia masih ada di bangku taman tadi siang. Dan ini sudah sore!
Dirinya agak kaget ketika mendapati kepalanya bersandar di bahu seseorang. Kepalanya juga terasa berat seperti ada beban di sana.
Grimmjow… menyandarkan kepalanya di atas kepala Rukia. Bahkan tangan Rukia malah menggandeng lengan besar itu. Apa-apaan ini?!
"Kyaaaa!"
JDUGG!
"Hei! Aww! Kau ini kenapa sih?!" pekiknya tak terima.
Grimmjow benar-benar sedang nyenyak tadi. Tapi tiba-tiba saja gadis ini malah bangun tiba-tiba dan kepalanya menyundul pipi Grimmjow yang sialnya bersandar di kepala hitam gadis aneh ini. Sekarang rasanya kepalanya jadi pusing karena bangun mendadak.
"Kau ini! Kenapa kau tidak membangunkanku tadi! Kita sudah kemalaman! Kita bahkan bolos seharian! Argh! Apa-apaan kau ini sih?! Nii-sama?! Argh! Pasti Kira sedang mencariku saat ini!" racaunya tidak jelas sambil mondar mandir di depan Grimmjow dengan sangat berlebihan paniknya.
"Kau bilang itu salahku? Kau sendiri tidur begitu lelap! Kenapa aku yang disalahkan! Tahu begitu bolos saja dari awal, dengan begitu aku tidak perlu jadi tukang sampah!" rutuk Grimmjow.
"Kenapa kau tidak membangunkanku! Yang ingin bolos itu kan kau, bukan aku!"
"Jadi maksudmu ini semua salahku?!"
"Ya! Salahmu kepala Biru! Ini semua salahmu!"
"Hei! Kau ini seorang gadis tapi mulutmu itu―"
"Apa? Kau mau apa dengan mulutku hah?!"
"Diamlah! Kalau kau masih cerewet begitu aku bisa nekat tahu!"
"Nekat? Silahkan saja! Memang aku takut?! Dasar Kepala Biru tidak tahu―"
Ungu kelabu Rukia terbelalak lebar.
Seluruh tubuhnya terasa kaku dan tidak bisa bergerak. Apa-apaan sensasi ini?
Rasanya Rukia bahkan tidak tahu dia masih bernafas atau tidak. Gawat, jantungnya! Ini tidak baik untuk jantungnya!
Grimmjow menahan kepala Rukia dengan kedua tangannya dan langsung menyambar bibir mungilnya. Entahlah, ini sebenarnya sensasi apa. Basah… dan aneh. Bibir Grimmjow begitu lembut menyentuh bibir Rukia.
"Sudah kubilang aku nekat kan?" bisik Grimmjow setelah mengakhiri ciuman tanpa ekspresi itu.
Rukia masih tidak bisa menemukan dirinya. Semua ini terlalu kaku dan…
"Hei? Kau kenapa?" panggil Grimmjow cuek. Seolah tak ada yang benar-benar dia lakukan tadi.
"Tadi… itu… ciuman… pertama… ku…" gumam Rukia dengan suara lambat dan pelan.
"Hah?"
DUAAKK!
"Aww! Sialan! Kau ini―"
Rukia menendang tulang kering Grimmjow dengan kencang sambil berwajah malu dan rona merah yang hampir menyamai suasana jingga sore ini.
"Dasar Kepala Biru sialan! Itu ciuman pertamaku!" pekik Rukia histeris.
Rukia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan berlari menghindari preman sekolah yang sudah kurang ajar ini!
Tapi, tapi kenapa Rukia malah… merasa aneh. Kenapa… ada perasaan aneh karena ciuman sinting itu?
Argh!
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
holaa minna ehehhe
yap akhirnya yang ini bisa diupdate juga eheheh, yah ini perkembangan interaksi grimmruki karena chap depan mungkin... udah masuk konflik dan kemudian the end ehehehe ya ini emang chapternya dikit kok eheheh
bales review dulu ehehhee...
Voidy : makasih udah review senpai... oalaahh ehehe ternyata jenis anjing toh. saya emang gak begitu banyak tahu soal anjing sih eheheh ya interaksi byagrimm emang saya gak buat giman gitu, soalnya ada alasannya sih ehehehe, hm saya doain nee cepetan dapet anjing itu yaa eheheh
Ray Kousen7 : makasih udah review Ray... saya juga suka sih sama sifat beginian ehehehe nyebelin memang, tapi kalo dia udah perhatian... ehehehe
beby-chan : makasih udah review beby... makasih semangatnya eheheh wah, ini juga kali pertama saya bikin pair ini eheheh saya emang suka sih sama sifat Grimm yang begini ehehehe
Ichi54n : makasih udah review senpai... iyaa ini udah update lagi ehehehe
Kiki RyuEunTeuk : makasih udah review senpai... iyaa ini udah update eheheh maaf gak kilat yaaa
Dani Reykinawa : makasih udah review Dani... eheheh emang gemesin kucing satu ini. ehm nanti dibahas kok hubungan ByaGrimm eheheh nggak itu benernya Aramaki tapi ketulis jadi Aikawa ehehehe maaf yaa ini udah lanjut...
mora : makasih udah review senpai... ahahah makasih yaa, iyaa soalnya saya lagi wb parah banget, jadi untuk update tuh rasanya gak bisa cepet lagi maaf yaa eheheh ini udah update...
makasi yang udah berpartisipasi sama fic ini yaa makasih banyak...
jadi masih ada yang mau lanjutannya? bolee review?
Jaa Nee!
