Hola Minna…

Semoga gak ada bosennya ya dengan fic saya yang gaje, ancur, berantakan, gak beres dan sebagainya ini. Sekali lagi maaf malah bikin fic baru, saya lagi kena WB dadakan. Gak ada imajinasi sama sekali buat nerusin fic yang ada. Kayaknya butuh Spongebob nih!

DISCLAIMER : TITE KUBO

WARNING : OOCness(parah, banget, kelewatan, gak ketolongan), AU, Misstypo(eksis mulu, gak mau absen!), Gaje, Ide pasaran, Mudah ketebak, Membosankan!

Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka, apalagi terdapat kesamaan di dalam fic ini di fic lain atau cerita lain dalam bentuk apapun, itu sama sekali tidak disengaja. Mohon maaf kalau terjadi kekeliruan dalam pembuatan fic ini. Semua yang ada di sini cuma fiksi yang iseng.

.

.

.

Dasar sialan!

Beraninya… beraninya orang itu…

"ARRGGHH!" pekik Rukia di dalam mobilnya sepulangnya dari kejadian tidak mengenakkan itu. Entah kenapa sekarang Rukia bingung dengan dirinya kini.

Sebenarnya dia… benci dengan kejadian itu, tapi entah kenapa juga rasanya dia… tidak begitu benci… apa yang sebenarnya tengah dia rasakan?

Jantungnya… astaga, jantungnya sedari tadi belum juga berdetak dengan benar. Pokoknya kalau terjadi sesuatu dengan jantungnya laki-laki sialan berambut biru itu harus bertanggungjawab! Bila perlu dia harus melakukan sesuatu untuk Rukia supaya jantungnya ini berhenti bertingkah usil begini. Pipinya sampai sekarang masih memanas tanpa alasan.

"Nona? Ada apa dengan Anda? Wajah Anda merah sekali, apa Anda sakit?"

"Tidak!" balas Rukia cepat, suaranya agak meninggi. Rukia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya setelah sadar dengan ucapannya barusan. Astaga… sekarang dia benar-benar terlihat seperti orang gila.

"Ehh, maksudku tidak. Aku tidak sakit. Aku… cuma sedikit lelah saja…" balas Rukia dengan suara pelan pula. Huh, setidaknya dia harus melakukan sesuatu supaya orang lain tidak perlu khawatir melihat keadaannya setiap saat.

"Anda lelah? Apa kita perlu―"

"Tidak perlu ke rumah sakit dan tidak perlu menghubungi Nii-sama. Mengerti?"

Bagaimana pun… itu adalah yang pertama kali untuk Rukia…

Hal pertama yang begitu… mengesankan.

Tak pernah Rukia menyangka dia akan melakukannya pertama kali dengan preman sekolah. Sungguh menggelikan. Lagipula… apa maksudnya…

Jantungnya… jantung…,

.

.

*KIN*

.

.

"Festival? Sungguh?"

Binar ungu kelabunya begitu cerah saat Hinamori mengatakan soal festival dalam memperingati hari jadi sekolah mereka.

"Iya, tapi… apa kau pertama kali ini mendengar festival?"

"Iya! Ini pertama kalinya. Pasti menyenangkan mengadakan festival kan? Semua orang berkumpul… ada banyak hal… pasti menyenangkan sekali!"

Jelas saja ini pertama kalinya Rukia mendengar kata festival. Sebelum ini kan dia sama sekali tidak pernah terlibat langsung dalam acara-acara seperti itu. lagipula… ini akan jadi masa SMA yang paling menyenangkan untuknya. Kalau dia ikut langsung acara ini pasti…

"Semuanya akan ikut kan?" tanya Rukia antusias.

"Tentu saja. Tapi… kelihatannya kita tidak akan berharap pada satu orang," Hinamori terlihat pasrah.

"Eh? Kenapa?" tanya Rukia tak mengerti.

"Kau tahu sendiri kan? Di kelas ini ada seseorang yang… yah tidak pernah mau bersosialisasi sejak awal… jadi mungkin kita tidak akan ikut semuanya…"

"Apa… maksudmu… Grimmjow?"

"Kau sudah tahu. Baiklah, kita mulai merencanakan semuanya. Katanya setelah jam makan siang, anak-anak akan membahas mengenai konsep apa yang akan kita pakai? Katanya sih bakal heboh heheehe…"

Rukia tak mendengarkan kata-kata Hinamori selanjutnya dan menatap bangku paling sudut di kelas ini.

Itu benar. Dia tidak mungkin mau bersosialisasi. Tapi akan menyenangkan bukan kalau bisa melakukannya bersama-sama?

Apalagi setelah insiden―

Ugh! Sialan! Malah ingat lagi! Grr menyebalkan!

Tapi, kemana orang itu sekarang? Apa dia bolos lagi? Hmm, kalaupun iya pasti dia sedang tiduran di taman belakang sekolah. Itu kan keahliannya selain sebagai preman sekolah yang menyeramkan. Juga… sebagai seorang pencuri. Dia lihai sekali!

Usai jam makan siang, rapat mengenai festival sekolah pun dilaksanakan. Sesuai perkiraan Rukia, bukan hanya dirinya saja yang antusias dengan masalah ini. Semua anak begitu gembira menyambutnya.

Banyak konsep yang akan mereka lakukan. Tapi semua anak setuju dengan usul dari salah satu panitia festival yang merupakan ketua kelas mereka.

Katanya kelas Rukia ditunjuk untuk mengisi acara pertunjukkan teater. Setelahnya, sebagian anak yang tidak mengikuti teater itu akan melakukan sesuatu untuk kelas mereka. Salah satu anak memberikan ide untuk membuka coffee shop saja.

Tentu saja semuanya senang sekali. Konsepnya sudah matang dan pasti akan disukai. Tapi kendala tiba-tiba muncul.

Kalau memang konsepnya sudah menarik, tapi jika pengurus kafenya tidak menarik, pasti tidak akan berjalan lancar. Umumnya anak-anak menggunakan siswa siswi mereka yang berkesan untuk menarik pengunjung kafe agar masuk ke tempat mereka. Salah satu anak yang mendengar gosip kalau kelas sebelah juga membuka cake shop memiliki anak laki-laki yang cukup populer. Juga anak perempuan yang merupakan gadis terpopuler. Pasti tempat itu akan ramai dikunjungi.

Lalu bagaimana mereka bisa bersaing nanti?

Karena rapat cukup memakan waktu, akhirnya semua anak sepakat akan mengurus hal itu nanti. Seisi kelas juga ada kok yang menarik.

"Huh… kalau saja kita punya pangeran sekolah pasti kendala mengenai pengurus kafe yang menarik sudah selesai dari tadi!" gerutu Hinamori setelah selesai membereskan mejanya untuk bersiap pulang.

"Hei, kau juga menarik kok, pasti bisa membawa pelanggan yang banyak…" bujuk Rukia.

"Kau benar. Haaa… aku harap rencana kita berjalan lancar. Ah ya, aku duluan ya, sampai nanti Kuchiki-chan…"

Rukia tersenyum sembari melambai pada temannya satu itu.

Kalau dipikir-pikir memang tidak ada seorang pun yang menarik di kelasnya ini. Kalau anak perempuannya sih memang banyak yang menarik. Tapi tidak untuk anak laki-laki. Tidak ada satu pun yang bisa diharapkan.

Rukia keluar dari kelas setelah keadaan sepi. Ahh, salahnya yang memang selalu terlambat. Kira pasti lama menunggunya.

Preman sekolah itu benar-benar tidak mau masuk kelas ya? Bagus sekali… dia benar-benar bolos kali ini. Pasti dia tahu kalau keadaan begini memang kelas jadi diluangkan.

Kira-kira siapa ya yang bisa menolong mereka―

"Hm, kira-kira siapa ya Top Ten siswa teridola tahun ini? Aku berharap pada Kurosaki senpai… dia kan keren sekali ketika bermain basket~"

"Menurutku juga begitu. Apalagi kalau dia sampai berkeringat. Kyaa~! Aku mau sekali mengelap keringatnya!"

Di depan Rukia ada dua siswi yang tampaknya baru akan pulang. Rukia hanya diam tanpa bermaksud mendengarkan dua orang itu bicara. Ini juga baru Rukia dengar. Top Ten?

Lucu sekali. Apakah semua perlombaan diadakan di sekolah ini? Tapi… bagaimana kriteria laki-laki yang bisa masuk dalam jajaran Top Ten itu ya?

"Ah ya, tapi Jeaggerjaques dari kelas sebelah juga keren loh. Apa kau pernah memperhatikan bagaimana wajahnya ketika dia… ah, dia juga laki-laki menarik kok…"

Jeaggerjaques? Nama yang agak janggal. Bukan karena aneh… tapi…

"Kudengar dia itu preman sekolah. Bolos saja sering kok. Apanya yang menarik?"

"Dia itu menarik loh. Tipe laki-laki pemberontak yang sangat keren. Kau tidak pernah membaca komik tentang laki-laki nakal hah? Mereka semua itu punya ciri khas tersendiri. Apalagi kalau sampai dia menyukai seorang gadis. Pasti gadis itu akan jadi gadis paling bahagia, karena umumnya mereka itu setia!"

"Kau terlalu banyak membaca komik. Tapi… mungkin kau benar. Dia memiliki wajah campuran yang khas. Dia pasti bisa menggeser posisi Kurosaki senpai. Itu kalau dia bisa mengubah image-nya yang menakutkan itu."

"Hm, kau benar. Kalau saja dia bisa tersenyum walau sekali dalam seumur hidupnya. Pasti sangat menyenangkan melihatnya. Kalau dia mengisi salah satu event, pasti aku akan datang melihatnya."

"Yah, itu kalau memang dia ikut. Memang kau pernah melihatnya mengikuti salah satu acara sekolah? Itu namanya keajaiban. Paling dia membolos seperti biasa. Atau yah, paling-paling terlibat tawuran seperti biasa…"

Dua siswi itu kemudian melenggang pergi setelah membicarakan hal yang hampir didengar Rukia sampai habis itu.

Sepertinya, ada salah satu kunci…

.

.

*KIN*

.

.

Pagi ini Rukia begitu bersemangat memulai hari barunya.

Dia sudah siap di dalam mobil bersama Kira untuk kembali ke sekolah. Semalam dia begitu antusias menceritakan mengenai festival itu pada kakaknya, Byakuya. Meski Byakuya tidak menunjukkan ekspresi apapun, yang jelas Rukia senang kalau kakaknya ikut mendukungnya untuk mengikuti acara tersebut. Lagipula ini pertama kalinya.

Ugh!

Rukia mendadak terkejut saat dadanya terasa sangat sakit. Seperti ditusuk-tusuk dengan ganas.

Rukia mencengkeram seragam depannya dengan kuat karena tiba-tiba dirinya merasa berkeringat dingin.

"Nona? Ada apa dengan Anda?" tanya Kira panik. Sepertinya Kira melihat kondisi aneh yang terjadi pada Rukia. Gawat…

"T-tidak apa-apa. Sepertinya aku lupa… minum obat. Tolong, jangan beritahukan kepada Nii-sama ya… nanti… dia cemas…" lirih Rukia seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Dadanya masih terasa sakit. Karena itu cepat-cepat Rukia meminum obatnya. Gawat… kenapa kumat di saat seperti ini.

"Tapi Nona, Anda terlihat pucat. Bagaimana kalau sampai Anda―"

"Jangan khawatir. Aku baik-baik saja. Aku sudah minum obatnya. Aku janji padamu, kalau aku merasa sakit, aku pasti akan menelponmu."

"Baik, Nona…"

Rukia tahu jawaban Kira itu tidak sepenuhnya setuju. Pasti dia akan melakukan sesuatu karena sudah tahu kondisi Rukia yang tiba-tiba aneh ini.

Ada apa lagi dengan jantungnya ini?

Bukankah keadaan Rukia sudah lebih baik? Dia kan sudah rutin meminum obat dan cek ke dokter. Kenapa lagi dengan dirinya sekarang? Kenapa selalu tidak berjalan lancar di saat seperti ini?

Rukia berhenti sejenak di depan gerbang sekolahnya. Masih ada waktu sepuluh menit lagi.

Tapi dada Rukia masih terasa sesak. Kalau dia ke kelas dalam keadaan begini, pasti membuat teman-temannya panik dan memaksanya untuk pulang lebih cepat. Padahal Rukia ingin ikut teman-temannya menghias kelas untuk festival nanti.

Rukia kemudian memutar haluannya. Dia memilih pergi ke belakang gedung sekolah dan duduk di bawah pohon tempatnya pertama kali datang ke sekolah ini. Suasana masih sepi karena mungkin ini masih pagi. Jadi Rukia tak perlu khawatir ada yang akan datang. Tempat ini sepi kan?

Setelah memejamkan mata sejenak, Rukia berusaha mengatur nafasnya dengan susah payah. Namun leganya perlahan-lahan jantungnya sudah mulai kembali membaik. Nafasnya juga sudah teratur. Mungkin benar perlu istirahat.

Sebaiknya Rukia segera masuk kelas kalau tidak ingin tertangkap―

"Sedang apa kau?"

Rukia langsung terbelalak menyadari suara rendah yang khas itu. astaga…

"G-Grimmjow… sedang apa kau… di sini?" tanya Rukia gugup. Apa dia sudah lama berdiri di depan Rukia?

"Harusnya aku yang tanya kan? Sedang apa kau di sini? Wajahmu… aneh," katanya kemudian setelah menyadari raut wajah gadis kecil ini.

"Aku tidak apa-apa. Aku masuk ke kelas dulu, ah ya, kau mau bolos ya?" kata Rukia seraya berdiri dari tempatnya duduk bersandar tadi. Dan laki-laki itu sama sekali tidak menawarkan bantuan kepada Rukia. bagus sekali.

"Bukannya sudah jelas?" katanya cuek.

"Kalau kau berniat bolos, harusnya kau jangan datang ke sekolah. Langsung saja minggat," sindir Rukia.

"Nah sekarang kenapa kau begitu cerewet?"

Rukia mendelik sinis kemudian berjalan lebih dulu untuk meninggalkan Grimmjow-sialan itu.

Namun baru beberapa langkah, Rukia berhenti sejenak.

Grimmjow memang tidak pernah keluar dari sekolah meski dia bolos. Dia juga tidak pernah minggat tanpa ke sekolah terlebih dahulu. Jadi artinya, menemukan laki-laki ini bukan hal sulit kan?

Kalau dia memang tidak suka belajar, bukan berarti tidak suka festival kan?

"Hei," panggil Rukia setelah berbalik dengan buru-buru ke arah Grimmjow.

"Apa?" kata Grimmjow ketus.

"Aku memiliki permohonan untuk seumur hidupku. Apa kau mau mengabulkannya?"

"Aku bukan sinterklas, jadi tidak punya alasan untuk mengabulkan apapun permohonan konyolmu!"

"Aku ingin kau berpartisipasi dalam festival kali ini, kelas kita mau membuka café, kurasa akan menyenangkan kalau kau ikut. Kau juga bisa membawakan tamu untuk kafe kita. Pasti akan menyenangkan," jelas Rukia tanpa mendengarkan kata-kata Grimmjow sebelumnya.

"Hei, kau tuli eh? Aku bilang aku tidak punya alasan untuk mengabulkan apapun permohonanmu. Dan aku tidak tertarik ikut festival bodoh yang merepotkan itu! kau paham?"

Rukia menundukkan kepalanya dan mengerucutkan bibirnya. Sudah Rukia duga memang tidak semudah ini. Kalau terlalu mudah namanya bukan Grimmjow! Dia kan memang makhluk paling rumit di muka bumi ini.

"Baiklah kalau kau tidak mau. Aku akan ikut. Dan kau bertanggungjawab kalau terjadi apapun padaku!" ancam Rukia.

Grimmjow terbelalak mendengar ancaman gadis mungil itu. berani sekali…

"Apa? kenapa aku yang bertanggungjawab? Itu kan maumu sendiri!"

"Karena cuma kau yang tahu tentang penyakitku! Sudahlah kalau kau tidak mau, aku pergi!"

Rukia tak tahu apakah itu berhasil atau tidak. Rukia juga sendiri sangsi Grimmjow mau mendengarkannya meski dia ancam seperti itu. Pasti tidak ada efeknya sama sekali. Dia kan memang laki-laki berhati baja. Mana ada lembut-lembutnya sedikit pun. Kecuali saat dia mencium―

Graaaahhh! Apa-apaan kenangan menyebalkan ituuuuu!

Hufff tenang Rukia. Tenang… jangan sampai jantungmu kembali bermasalah karena kenangan sialan itu!

.

.

*KIN*

.

.

"Selamat pagi Rukia-chan, kau sudah siap hari ini?"

Rukia hanya mengangguk seadanya setelah sampai di kelas. Setelah menaruh tasnya ke dalam loker, Rukia secepat mungkin menaiki tangga menuju kelasnya. Walau ini beresiko sekali dengan jantungnya. Tapi sepertinya tadi tidak apa-apa sih.

Teman-temannya yang lain sudah bersiap untuk menghias kelasnya. Semuanya sibuk pada pekerjaan masing-masing. Rukia dan beberapa murid perempuan tengah menggunting kain besar untuk disulap menjadi taplap meja kafe mereka nanti. Anak laki-laki memasang hiasan langit-langit. Ada juga yang tengah menyiapkan meja kafe nanti. Semuanya sudah disusun sesuai dengan rencana.

Setelah membantu agak lama, ternyata Rukia tidak kuat. Dia tidak pernah bekerja selama ini. Jantungnya kembali bertingkah tidak wajar. Kadang keringat dingin muncul begitu saja sampai membuat rambut di sekitar dahi dan belakang leher Rukia basah.

"Kuchiki, kau tidak apa-apa kan?" tegur Hinamori saat Rukia tengah mengelap gelas-gelas persiapan kafe itu.

"Eh? Tentu saja, aku baik-baik saja," balas Rukia kikuk.

"Kau terlihat… basah sekali. Kenapa keringatmu begitu banyak?"

"Oh ini, aku gampang berkeringat, makanya basah begini. Hari ini panas juga ya?"

"Karena kau bilang begitu, aku juga merasa panas. Hei, bisa bantu kami memasang hiasan di langit-langit kelas? Badanmu kan kecil pasti tidak berat kalau naik ke atas meja yang kami susun itu kan?"

Rukia melirik ke belakang Hinamori saat melihat susunan meja itu. Ada dua susun.

"Kenapa harus aku?" tanya Rukia ragu.

"Kan sudah kubilang kalau badanmu kecil. Anak laki-laki yang lain sedang sibuk mengangkut meja dan kursi, yang lain takut ketinggian, cuma kau yang bisa. Bagaimana? Bisa membantu kami?" mohon Hinamori.

Rukia tidak enak hati kalau harus menolak. Bukannya dia takut ketinggian atau apa. Tapi sekarang badannya…

Ah sudahlah, cuma memanjat saja apa susahnya sih?

Agak ragu, Rukia mengiyakan permohonan Hinamori dan mengikuti gadis bercepol itu untuk menaiki meja yang disusun itu. Rukia cukup memasang hiasan itu di atas plafon kan?

Kaki kecilnya mulai beraksi. Rukia sudah mencapai meja teratas dan bersiap memasang hiasan itu. Tapi kemudian kepalanya terasa pusing bukan main. Dasar bodoh, kenapa harus di saat seperti ini.

Setelah memasangnya, Rukia bersiap turun karena kepalanya sudah sangat pusing. Namun, sayang beribu sayang, karena pusing itulah kakinya tidak awas saat menapak meja pertama.

"Kuchiki-san! Awas!" pekik Hinamori.

BRUUKKK!

.

.

*KIN*

.

.

Grimmjow sebenarnya tidak tega mendengar kata-kata gadis itu soal dirinyalah satu-satunya di dalam sekolah ini yang tahu mengenai penyakit gadis bodoh itu. Tapi apa yang bisa dia lakukan?

Masa dia harus mengikuti semua permintaan gadis itu? Memangnya Grimmjow pernah ikut acara yang begituan? Seumur hidup Grimmjow paling menghindari hal merepotkan seperti itu. Jadi buat apa dia susah-susah ikut?

Sekian lama berpikir, Grimmjow jadi tidak tenang. Walau dia melakukan kebiasaannya seperti tidur di belakang gedung sekolah, tetap tak membuatnya nyaman. Setiap kali Grimmjow meninggalkan gadis itu ketika dia terlihat aneh, pasti ada saja ulahnya yang membuat Grimmjow seperti perampok yang sedang buron dengan barang bukti di tangan.

Akhirnya mau tak mau Grimmjow mengalah juga.

Semua kelas sibuk untuk persiapan festival nanti. Seperti biasa memang saat-saat seperti ini menyenangkan untuk masa sekolah. Tapi tidak untuk Grimmjow.

Dengan langkah enggan dan gontai serta acuh tak acuh, entah apalagi yang bisa melukiskan perasaan Grimmjow saat ini, kaki panjangnya melangkah perlahan-lahan menuju kelasnya sendiri.

Dari jendela luar, Grimmjow berusaha memasang jarak agar tidak ada satu pun yang menyadari kehadirannya. Dan akhirnya, dia melihat si bodoh itu sedang bekerja seperti orang bodoh. Dia melakukan semua yang dilakukan teman sekelasnya.

Tanpa disadari oleh teman-temannya, gadis mungil itu diam-diam menyeka dahinya yang basah karena keringat dan menyembunyikan mimik kesakitannya sambil memegangi dadanya. Jelas dia sedang tidak beres. Mau apalagi dia? Membuat masalah lagi?

Grimmjow bosan memperhatikan gadis itu sampai salah satu gadis di kelasnya, gadis bercepol aneh itu menghampirinya dan mengatakan sesuatu. Tapi yang jelas, Rukia tanpa serba salah menanggapinya. Hingga akhirnya si bodoh itu mengikuti Hinamori memanjat meja!

Astaga! Memangnya tidak ada kerjaan lain?!

Grimmjow hampir saja berteriak saat melihat Rukia memanjat meja untuk menggantungkan sesuatu yang aneh itu. Tapi kemudian dia terlihat baik-baik saja. Mungkin Grimmjow saja yang terlalu―

Tidak, insting Grimmjow memang tak pernah salah dari apapun.

Kaki gadis itu terselip.

BRUUUUK!

"Kuchiki-san! Awas!"

Tidak adakah kata-kata lain selain hal tidak berguna itu?

"Astaga! Bagaimana ini? Apa yang terjadi dengannya?" kata anak-anak lain dengan nada histeris.

Baiklah, Grimmjow sudah sangat bodoh hari ini. Berlagak seperti pahlawan kesiangan saja!

Sebelum Rukia jatuh, gadis itu sudah lebih dulu ditangkap Grimmjow. Tapi sialnya, dia malah langsung pingsan.

Diam-diam Grimmjow mengecek suhu tubuhnya. Agak panas. Kalau diberitakan kepada yang lain, pasti Rukia marah karena mengatakan hal seperti itu.

"Dia mungkin hanya kaget saja. Kurasa aku akan membawanya ke klinik sekolah. Kalau kalian perlu sesuatu, kerjakan sendiri!"

Dan dengan demikian, pahlawan Grimmjow membawa gadis pendek nan bodoh itu keluar dari kelas dengan tatapan horor penghuni kelas itu. Sepertinya image Grimmjow hancur total untuk kali ini!

.

.

*KIN*

.

.

Karena pusing itu, Rukia tak sempat berpikir lagi apa yang akan terjadi kalau dia terhantam ke bawah karena kakinya tidak sampai menyentuh meja dan malah limbung ke bawah. Mungkin saat Rukia bangun nanti, dia sudah mendapat beberapa jahitan di kepalanya, tulangnya retak, mungkin juga mukanya sudah rata dengan lantai.

Daripada itu, sebaiknya Rukia bangun sekarang untuk memastikan―

Begitu membuka mata, entah kenapa Rukia merasa baik-baik saja dan…

Kenapa dia sudah di sini? bukankah ini klinik sekolah? Baguslah setidaknya Rukia tidak kehilangan ingatannya karena jatuh dari meja bersusun itu. Tapi siapa yang membawanya kemari? Apakah anak-anak sekelas? Apa mereka tahu mengenai kondisi Rukia?

Kalau mereka tahu… apakah saat ini… kakaknya akan datang?

Kalau itu terjadi, dan kakaknya tahu mengenai Rukia saat ini… pasti dia tidak akan ikut―

GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!

"Suaramu berisik sekali? Kupikir kau tidak akan sadar sampai besok pagi! Tidak tahunya baru setengah jam kau sudah sadar!"

"Kau…"

Entah ekspresi apa yang sebaiknya diberikan Rukia melihat preman berambut biru ini sudah masuk ke dalam klinik dan membawa serta tasnya.

Tas bermotif Chappy itu langsung dilemparkan Grimmjow ke pangkuan Rukia yang masih duduk di atas kasur klinik itu.

"Aku tidak tahu obatnya yang mana, tapi kau pasti butuh obatmu. Jadi kubawa saja sekalian tasmu!" katanya acuh tak acuh.

"Kau…"

"Dari tahu kau hanya bilang 'kau-kau' saja. Astaga, bisakah sehari saja kau tidak membuat rusuh di dalam hidupku?"

"Aku tidak membuat rusuh tahu! Aku cuma…"

"Orang dengan penyakit sepertimu itu pasti tidak tahan lelah kan? Kenapa kau masih nekat? Bagaimana kalau yang lain tahu mengenai kondisimu hah? Kau bilang kau tidak mau merepotkan orang lain, tapi apa yang terjadi denganku?"

Rukia hanya diam menundukkan kepalanya. Sebenarnya dia ingin marah, tapi apa yang dikatakan oleh laki-laki ini benar adanya. Rukia terlalu egois.

"Maafkan aku… aku bukannya mau menyusahkanmu. Tapi… aku ingin melakukan apa yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya… sebelum aku tidak bisa melakukannya lagi, aku tidak mau menyesal dan―"

"Kurasa kau harus berhenti melakukan hal itu. Kalau kau masih sayang dengan waktumu!"

"Eh? Kenapa? Kau memberitahu seseorang mengenai keadaanku sekarang?" kata Rukia panik.

Grimmjow berjalan ke arahnya dan mengambil jarak. Lalu duduk di sebuah kursi yang memang disediakan di sana.

"Aku bahkan tidak tahu harus memberitahu siapa. Maksudku… kau harus berhenti berpartisipasi dalam acara itu kalau kau tidak ingin kejadian hari ini terulang lagi."

"Lalu… apa yang akan terjadi dengan kelas kita? Mereka butuh bantuan dan―"

"Kalau soal bantuan, aku bisa memberikannya. Tapi dengan syarat kau tidak boleh muncul di sana sampai festival datang. Setidaknya kau harus memulihkan keadaanmu dulu."

Astaga, Rukia kesulitan berpikir. Apakah yang dikatakan oleh orang ini… terdengar masuk akal? Dia sungguh…

"Kalau kau diam berarti kau setuju. Perjanjian kita berakhir kalau aku melihatmu di sekolah ini sebelum festival!"

Tidak, sebenarnya Rukia tidak melakukan banyak hal selain membantu saja. Sebenarnya, Grimmjow-lah yang paling berguna saat ini! Kalau dia mau membantu… bukankah itu… bisa…

"Baiklah! Aku setuju! Aku janji tidak akan muncul di sekolah sampai festival datang!" kata Rukia dengan semangat membara.

Sebenarnya Grimmjow agak ragu dengan sikap Rukia yang terlalu penurut untuk saat ini. Dia pasti… masalah setiap kali Grimmjow mengatakan sesuatu, pasti langsung dibantah tanpa ampun. Dan kali ini…

Benarkah keputusan Grimmjow saat ini tidak akan mendapat efek samping apapun?

.

.

*KIN*

.

.

"Aku di sini… menggantikan si bodoh itu. Kalau kalian butuh sesuatu, katakan padaku, atau… apa yang harus kulakukan…" kata Grimmjow kikuk.

Suasana kelas mendadak hening begitu lama seperti tengah mengheningkan cipta.

Bahkan beberapa anak tampak melotot seakan bola mata mereka mau keluar begitu saja. Ditambah lagi… ini adalah preman paling ditakuti di sekolah!

Grimmjow merasa seperti orang bodoh berdiri di depan kelas saat ini dan mengatakan hal seperti itu. Dia jadi merasa seperti perampok yang mengakui perbuatannya dan menyerahkan diri ke kantor polisi setelah buron bertahun-tahun!

Sepertinya image Grimmjow masih mengerikan. Bagus!

"Sepertinya tidak ada yang butuh bantuanku, baiklah aku akan―"

"KAMI SANGAT BUTUH BANTUANMU! MOHON BANTUANNYA!"

Serentak satu kelas itu memohon begitu formal. Dengan membungkukkan badan sebanyak 90 derajat.

Astaga, kenapa Grimmjow seperti sesuatu saat ini?

.

.

*KIN*

.

.

Rukia mengirimkan pesan pendek kepada Hinamori mengenai hari ini. Rukia mengatakan kalau dia sudah mengirimkan pengganti untuknya. Rukia beralasan kalau dia harus keluar kota sampai festival dimulai karena ada urusan mendadak.

Untungnya alasan ini sangat ampuh.

Rukia tersenyum geli sendiri. Sepertinya dia merasa bersalah sekali pada Grimmjow karena membuatnya harus menggantikan tugas Rukia membantu mereka di kelas. Tapi tanpa diduga, rencananya benar-benar berjalan lancar sekarang ini. Rukia tak menyangka bahwa membuat laki-laki itu menurut sangat mudah padanya.

Menurut padanya…

Sedetik kemudian, Rukia diam mencermati kata-katanya sendiri itu.

Kalau dipikir-pikir selama ini laki-laki itu selalu ada di saat timing yang tepat. Seperti ketika Rukia benar-benar membutuhkan orang yang tidak merepotkannya.

Kenapa…

.

.

*KIN*

.

.

"Rukia tidak ke sekolah? Ada apa?" tanya Byakuya begitu melihat Kira masih mondar-mandir di sekitar halaman mansion.

Padahal Rukia orangnya tepat waktu dan ini sudah lewat dari jam masuk sekolahnya.

"Oh, Tuan, Nona Rukia mengatakan kalau dia hari ini ingin istirahat di rumah saja."

"Istirahat? Apa penyakitnya kambuh?"

"Saya tidak tahu Tuan. Nona hanya mengatakan dia ingin istirahat saja beberapa hari. Nona juga tidak ingin dipanggilkan dokter karena kondisinya masih sehat. Nona hanya ingin istirahat saja."

Byakuya diam sejenak.

Rukia bukanlah orang yang begitu mudah untuk diam di rumah walau hanya istirahat saja. Saat kondisinya nyaris turun saja dia masih berusaha untuk melakukan sesuatu.

Ada kejadian langka apa ini?

Apakah mungkin Rukia menyembunyikan sesuatu?

"Oh Nii-sama? Nii-sama belum pergi?"

Akhirnya mau tak mau Byakuya mendatangi kamar adik bungsunya itu. Rukia tidak terlihat sedang sakit. Dia terlihat baik-baik saja.

"Kau… tidak pergi ke sekolah?"

"Hm… aku ingin istirahat saja dulu. Soalnya di sekolah juga tidak belajar kok. Makanya aku ingin istirahat saja di rumah. Ada apa?"

"Kau… yakin tidak apa-apa?"

"Yakin sekali."

Belum pernah Byakuya melihat wajah secerah ini dari adiknya sejak divonis penyakit ini.

"Kau bahagia sekarang?"

"Hm, sangat bahagia Nii-sama. Seandainya aku bisa selamanya merasakan ini… pasti menyenangkan sekali. Dunia yang sangat… menyenangkan…"

Haruskah Byakuya membuat dunia itu dengan tangannya sendiri?

Dunia milik Kuchiki Rukia.

.

.

*KIN*

.

.

TBC

.

.

Oke minna, akhirnya kita sudah sampai di puncak acara heheheh, dua atau tiga chap lagi ini udah selesai hiksss…

Saatnya sesi balas review hehehe…

Kiki RyuEunTeuk : makasih udah review senpai… hhehe kalo gak ganas jadinya bukan Grimm dong ya hehehhe

Sakura-Yuki15 : makasih udah review senpai… wah cewek yang dimaksud Grimm ya? Hmmm saya belum kepikiran sih hehehe ini udah update hehehe

Dani Reykinawa : makasih udah review senpai… hehehe iyaa ini udah diupdate makasih udah ditunggu yaa hhehe

Ray Kousen7 : makasih udah review senpai… wah makasih banyak yaa hehehe saya juga ngerasa percaya diri pas bagian dialog. Kalo udah ke diksi yaa bawaan minder dah hehehe

Silent Reader : makasih udah review senpai… jangan senpai, Kin aja gak papa hehehe…

Voidy : makasih udah review senpai… hehehe saya kan dah bilang saya juga gak yakin ada jantung yang seperti itu. kan konsepnya emang gitu nee, kalo sama Ruki aja sangar, terus gimana mereka deket? Hihihihi

Plovercrest : makasih udah review senpai… jangan senpai, Kin aja hehehe saya juga suka pair ini hehehehe tipe cowok yang mirip di komik ya? Hehehe

Narutoromantis : makasih udah review senpai… makasih heheh jangan senpai, Kin aja. Wah sebentar lagi udah tamat kok heheheh

Affxtion : makasih udah review senpai… iyaa makasih banyak yaa hehehe ini udah lanjut hehehe

Makasih banyak yang udah suka sama fic saya yaa…

Makasih banyak yang udah review, fave, follow, pokoknya yang berpartisipasi sama fic saya, ah ya, silent reader juga hehehe… tanpa dukungan sebanyak ini saya rasa saya masih gak mau ngelanjutin semua fic saya. Oke makasih banyak yaa… saya bakal berusaha lebih keras lagi supaya layak diterima…

Ada yang mau lanjut? Boleh review?

Jaa Nee!