Hola Minna…
Semoga gak ada bosennya ya dengan fic saya yang gaje, ancur, berantakan, gak beres dan sebagainya ini. Sekali lagi maaf malah bikin fic baru, saya lagi kena WB dadakan. Gak ada imajinasi sama sekali buat nerusin fic yang ada. Kayaknya butuh Spongebob nih!
DISCLAIMER : TITE KUBO
WARNING : OOCness(parah, banget, kelewatan, gak ketolongan), AU, Misstypo(eksis mulu, gak mau absen!), Gaje, Ide pasaran, Mudah ketebak, Membosankan!
Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka, apalagi terdapat kesamaan di dalam fic ini di fic lain atau cerita lain dalam bentuk apapun, itu sama sekali tidak disengaja. Mohon maaf kalau terjadi kekeliruan dalam pembuatan fic ini. Semua yang ada di sini cuma fiksi yang iseng.
.
.
.
Rukia mencengkeram sprei-nya sekuat mungkin. Napasnya sangat sesak kali ini. Entah kenapa bangun tidur hari ini dadanya terasa sakit sekali seperti diremas begitu kuat. Rukia berguling ke sekitar kasurnya berusaha menahan sakit yang menyiksa ini.
Apa yang terjadi padanya? Bukankah dia sudah cukup istirahat di rumah?
Rukia tidak keluar rumah, tidak melakukan pekerjaan berat, tidak berpikir keras. Dia baik-baik saja selama istirahatnya selama ini. Bahkan Rukia cenderung merasa sangat sehat.
Rukia tidak ingin menimbulkan kepanikan. Kalau dia berteriak karena rasa sakitnya, pasti akan terjadi kehebohan. Tidak, tidak boleh begini…
Rukia sudah berjanji… akan datang besok…
PRAANGG!
.
.
*KIN*
.
.
Grimmjow terhenti sejenak dari kegiatannya.
Sejak dua hari lalu kini dirinya mirip seperti kuli bayaran. Dia mengerjakan semua keperluan festival di kelasnya sendiri. Hari pertama memang banyak teman-temannya yang masih sungkan untuk meminta bantuannya. Karena mengerti hal itu, Grimmjow banyak mengambil alih tugas yang kira-kira tak bisa mereka kerjakan tanpa memintanya. Kalau tidak begitu, mungkin mereka tetap tidak akan membuka suara untuk Grimmjow. Padahal Grimmjow sudah bersusah payah berjanji pada bocah kecil itu.
Sampai hari yang dinanti… Grimmjow harus seperti ini.
Tapi entah kenapa hari ini perasaannya tidak enak.
Apapun yang dipegangnya hari ini tiba-tiba saja terselip dari pegangannya dan terjatuh. Perasaannya juga tiba-tiba agak janggal. Biasanya kalau seperti ini bocah gila itu akan berulah. Tapi bukankah dia tidak ada di sini? Bukankah dia sudah berjanji akan istirahat di rumahnya sampai hari festival tiba? Jadi mana mungkin kan…?
"Jeaggerjaques-kun, bisa kau angkat kursi ini sebentar?"
Grimmjow menoleh saat namanya dipanggil, ah gadis bercepol itu yang memanggilnya. Yah bisa dibilang selama ini hanya gadis itulah yang biasa memanggil Grimmjow kalau ada apa-apa. Sekali lagi yang lainnya masih merasa begitu sungkan. Tapi itu bukan masalah sama sekali.
Tanpa banyak bertanya, Grimmjow mengangkat kursi yang diminta oleh gadis bercepol itu. Grimmjow tidak pernah menghapal siapa saja nama teman sekelasnya. Yah sejak dirinya menginjakkan kaki di tempat yang namanya sekolah mana pernah Grimmjow mengingat siapa saja teman sekelasnya. Bahkan yang jelas-jelas duduk di sebelahnya saja Grimmjow tak tahu.
"Hei, boleh aku bertanya sedikit padamu?" tanya gadis bercepol itu. Ya, siapa namanya memang?
"Asal bukan masalah pribadi," jawab Grimmjow singkat. Oh ayolah, memangnya masalah pribadinya menyenangkan untuk dibahas? Grimmjow rasa tidak sama sekali.
"Hm, aku tidak tahu ini masalah pribadi atau bukan, tapi… kenapa belakangan ini kau agak berubah?"
Grimmjow meletakkan kembali kursinya setelah masalah kursi itu selesai.
"Sudah kubilang bukan masalah pribadi kan?" menurut Grimmjow itu memang masalah pribadi.
"Kupikir juga kau tidak ingat siapa namaku. Orang yang sudah dua tahun satu kelas bersamamu."
Hah? Gadis ini? Sejak kapan memang?
"Namaku Hinamori Momo, salam kenal. Kita satu kelas sejak musim semi dua tahun lalu. Apa kau ingat?"
Mau diingatkan berapa kali juga ingatan Grimmjow memang buruk. Dia tidak pernah bisa mengingat dengan baik siapa gadis ini. Tapi kalau dia mengatakan hal itu sepertinya memang benar kalau Grimmjow satu kelas dengannya sudah lama. Hanya saja…
"Aku tidak pernah melihatmu begitu akrab dengan satu orang pun selama ini. Apakah, ada seseorang yang membuatmu sedikit berubah belakangan ini?" lanjut gadis bernama Hinamori itu.
"Entahlah, aku sama sekali tidak tertarik itu," jawab Grimmjow.
"Kuchiki Rukia kah?"
Grimmjow berhenti melangkah saat ingin meninggalkan Hinamori dan bermaksud untuk melanjutkan pekerjaan yang lain. Kenapa nama bocah itu dibawa-bawa dalam hal ini?
Apakah begitu kelihatan jelas?
"Kau sering terlihat bersama dengannya, kemarin kau mau membawanya ke klinik sekolah. Dan sejak dua hari ini kau membantu kami―satu-satunya hal yang tidak pernah kau lakukan selama ini. Jadi, apakah kesimpulan ku salah?"
"Kau tidak salah," ujar Grimmjow.
Hinamori sedikit kaget mendengar jawaban itu. Entah itu jawaban jujur ataukah hanya kesan biasa saja darinya. Hinamori yang sudah lama mengenal laki-laki ini, baru sekarang menjawab begitu jujur apa yang ditanyakan orang padanya.
"Jadi… benar? Kuchiki Rukia lah yang membuatmu berubah?"
"Aku tidak mengatakan kalau bocah itu membuatku berubah. Aku hanya menyetujui apa yang kau katakan sebelum ini. Lagipula…"
Lagipula, kenapa Grimmjow harus menyetujui kata-kata gadis itu yang akhirnya dia simpan dalam hatinya. Benarkah ini tidak apa-apa?
"Huh, sudah kuduga. Seorang Grimmjow Jeaggerjaques mana mungkin sejujur itu. Baiklah, terima kasih karena sudah menjawab pertanyaan konyolku. Mohon bantuannya untuk besok ya, Jeaggerjaques-san."
Benarkah gadis itu berhasil membuatnya berubah?
Tapi, perubahan apa yang terjadi pada Grimmjow?
.
.
*KIN*
.
.
"Jantungnya sudah mulai stabil. Hanya mendadak saja. Yang bisa saya katakan adalah, mulai sekarang sepertinya Nona Rukia perlu menjalani perawatan intensif. Ini dilakukan untuk mengantisipasi saja."
Salah satu pelayan yang masuk ke kamar Rukia untuk membawakan sarapan pada gadis mungil itu tiba-tiba berteriak panik karena kamar Rukia berantakan dengan pecahan gelas di sebelah tempat tidurnya dan Nona bangsawan itu tergeletak di atas kasurnya yang kusut karena tak sadarkan diri. Tidak peduli berapa kali pun pelayan itu membangunkannya, Rukia tak kunjung sadar dan wajahnya memucat.
Byakuya yang belum sempat keluar dari rumah untuk bekerja, langsung secepat kilat membawa adiknya itu ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatannya. Begitu tiba di rumah sakit, Rukia langsung kesulitan bernafas karena sesak. Dokter sampai harus memasangkan alat bantu oksigen padanya.
Bukankah itu sudah parah?
Kalau sampai Rukia begitu kesulitan bernafas, bukankah kondisinya… parah?
"Jadi… Rukia…"
"Ya. Kami masih menanti donor jantung itu. Agar Nona Rukia bisa menjalankan operasi secepatnya."
"Kalau begitu… kondisi Rukia, sudah semakin mengkhawatirkan?" tentu Byakuya tak sanggup mengatakan kalau kondisi adiknya itu parah.
"Ya. Tapi kami akan berusaha memberikan yang terbaik untuk Nona Rukia. karena itu, mohon bersabar. Semoga Nona Rukia secepatnya pulih kembali."
Hanya segelintir pasien jantung di muka bumi ini yang bisa langsung sehat setelah menjalani operasi. Ada yang langsung meninggal, ada yang beberapa waktu bisa pulih dan akhirnya tetap meninggal, ada juga yang akhirnya menjadi penyakit terparah yang hanya menghitung hari, ada juga yang… bisa benar-benar pulih. Dan itu kasus yang sedikit dengan pengorbanan yang besar.
Byakuya tak bisa membayangkan bagaimana sedihnya Rukia jika dia tahu kenyataan ini. bagaimana mungkin di usianya yang masih terbilang sangat muda ini Rukia harus menerima kenyataan bahwa kemungkinannya tak berumur panjang sangat besar.
Untuk seusia Rukia, pasti dia memiliki banyak impian yang ingin dia wujudkan. Pasti banyak hal yang ingin dia jalankan layaknya remaja normal lainnya.
"Nii… samah…"
Byakuya menyadari Rukia yang sudah terbangun itu. Tatapan matanya masih sayu meski alat bantu oksigen itu terpasang di hidungnya. Wajahnya masih pucat.
"Ya?" jawab Byakuya. Pria berambut panjang ini memilih duduk di sisi tempat tidur adiknya supaya bisa mendengarkan suara lemah Rukia dengan lebih jelas.
"Rumah… sakit lagi?" lirihnya dengan senyum tipisnya.
"Kau sudah lebih baik. Sebaiknya kembali istirahat saja."
"Nii-sama…"
"Ya?"
"Apa aku… bisa ke sekolah besok?"
"Bukankah kau sakit? Sekolah juga akan mengerti kalau kau tidak bisa datang besok. Istirahat saja."
"Tapi… aku sudah berjanji dengan seseorang. Kalau besok aku… akan datang. Nii-sama tenang saja, aku sudah lebih baik. Ijinkan aku pergi besok. Dan setelahnya, aku janji akan mematuhi apa kata Nii-sama. Kalau Nii-sama bilang ke rumah sakit, aku akan mematuhinya. Boleh?"
Byakuya tak bisa mengabaikan permintaan adiknya kali ini. Entah kenapa sepertinya Rukia begitu menginginkan permintaan ini. Apakah itu alasannya dia beristirahat di rumah selama ini?
Jangan-jangan dia sudah tahu kondisinya?
"Rukia, apa kau… yakin?"
"Kira bisa menemaniku besok kalau Nii-sama tidak percaya."
"Memangnya besok ada apa?"
"Festival. Aku ingin datang satu kali saja… boleh kan, Nii-sama?"
Byakuya mengelus sekilas dahi Rukia. Festival… yah tentu saja.
"Lakukan yang kau inginkan…"
"Terima kasih, Nii-sama…"
Apapun keinginan Rukia, sebisa mungkin ingin Byakuya kabulkan. Selagi bisa dia menjadi sinterklas untuk Rukia, itu bukan masalah untuknya.
.
.
*KIN*
.
.
"Selamat datang," ujarnya kikuk. Entahlah, sepertinya wajahnya sudah memerah karena malu sekarang. Mau dibatalkan percuma, semua orang akan memandangnya sebagai pengecut dan pecundang kalau menarik kata-katanya. Tapi ini benar-benar kejadian memalukan dalam hidupnya.
Tiga gadis yang masuk ke dalam kafe kelasnya itu langsung terbelalak tak percaya dengan wajah memerah dengan ala fansgirling seperti itu. Mereka lama memperhatikan Grimmjow karena entah kenapa! Sepertinya mereka tidak bisa berkata banyak saat melihat Grimmjow menyapa mereka dengan nada sopan, pakaian Grimmjow yang rapi, dasi kupu-kupu hitam, kemeja putih lengan panjang yang digulungnya sampai ke siku, celana hitam juga sepatu hitam. Benar-benar rapi dan terlalu beda dengan penampilannya biasa hari-hari yang berantakan itu.
Teriakan 'kya-kya' tidak penting itu memenuhi ruang kelas. Kepala Grimmjow bisa pecah kalau begini jadinya. Dia tidak menyangka respon siswa lain akan seheboh ini. mendadak kelasnya jadi begini ramai karena banyak tamu yang datang. Bagaimana mungkin…
"Jeaggerjaques-kun, apa kau sudah punya pacar?"
"Apa kau mau berkencan denganku Sabtu nanti?"
"Nee boleh minta alamat email-mu?"
"Boleh aku menelponmu malam ini?"
Apa Grimmjow boleh membunuh seseorang di sini?!
Kenapa semua gadis ini terlihat menyebalkan? Bukankah mereka biasanya memandang rendah pada Grimmjow yang berandalan ini? Kenapa mereka berubah begini seakan-akan Grimmjow adalah idola sekolah nomor satu?
"Bertahanlah sebentar nee Jeaggerjaques-san," bisik Hinamori yang tak enak hati saat Grimmjow terpaksa tersenyum melayani tamu yang datang. Dan perlu digarisbawahi itu senyum terpaksa! Jadi pasti wajahnya jelek sekali!
Awas saja bocah sialan itu! Kalau dia datang akan Grimmjow cabik-cabik!
.
.
*KIN*
.
.
"Nona, Anda benar-benar tidak apa-apa? Bukankah Anda baru saja keluar dari rumah sakit?" tanya Kira khawatir saat mereka sudah tiba di depan gerbang sekolah yang dibuka lebar-lebar itu.
Suasana festival di sana benar-benar menarik. Banyak stan yang buka dan semua orang bebas masuk ke dalam sana untuk menikmati festival.
"Aku baik-baik saja kok. Nii-sama juga tidak melarangku," kata Rukia cuek.
"Tapi Nona, wajah Anda masih pucat!" kata Kira takut-takut.
"Eh? Pucat? Kau serius?!"
Rukia buru-buru mengambil kaca kecil yang ada di tasnya. Begitu melihat ke kaca itu, Rukia terkejut. Padahal dia sudah berusaha memakai bedak supaya tidak terlihat. Apa perlu dia pakai make up tebal supaya tidak terlihat? Jangan begitu! Nanti semua orang melihat aneh ke arahnya. Kenapa juga di saat seperti ini…
"Nona, bagaimana kalau kita pulang saja?" bujuk Kira.
"Tidak bisa! Sudahlah, aku keluar saja. Kau benar-benar merepotkan!" rajuk Rukia.
"Tapi Nona, Tuan Muda bilang aku harus ikut kemana pun kau pergi."
"Tidak mungkin! Aku kan sudah bilang akan menelponmu, jangan mengikutiku. Aku tidak mau orang berpikir yang tidak-tidak. Sudah ya, sampai nanti Kira!"
Rukia segera kabur secepat mungkin agar Kira tidak sempat menyusulnya kalau pria pirang itu keras kepala.
Dan bingo! Karena berlari tadi napasnya jadi sesak lagi. Astaga… tidak bisakah jantungnya hari ini bersahabat dengannya?
Rukia sudah susah payah berusaha terlihat segar bugar di depan kakaknya. Mana mungkin kan karena kebodohannya dia jadi masuk rumah sakit?
Festival baru saja dimulai…
Rukia lalu memandang sedih pada lapangan yang ramai oleh stan-stan makanan dan beraneka macam barang itu.
Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja. Semuanya…
Rukia memejamkan matanya sejenak, dan kembali tersenyum. Dia tidak apa-apa. Tidak akan terjadi hal gawat apapun.
Ya. Tidak akan.
Rukia mengeratkan syal yang melingkar di lehernya dan mulai memasuki gedung sekolahnya. Seperti apa kelasnya kali ini?
"Jeaggerjaques-kun, apa kau sudah punya pacar?"
"Apa kau mau berkencan denganku Sabtu nanti?"
"Nee boleh minta alamat email-mu?"
"Boleh aku menelponmu malam ini?"
Rukia terkejut saat pertama kali memasuki kelasnya. Ternyata ini…
Beberapa gadis tampak berkerumun di sekitar Grimmjow. Rukia ingin tertawa terbahak-bahak melihat wajah laki-laki seram itu. kelihatan sekali kalau dia sebenarnya terganggu dan risih, tapi wajahnya mati-matian bertahan dengan senyum terpaksa itu. Lucu sekali melihatnya terdesak seperti itu.
Tapi, kenapa dia… benar-benar di sini?
Kenapa Grimmjow, benar-benar… membantu kelasnya?
"Kuchiki… kau sudah datang?"
Hinamori menyambut Rukia yang masih berdiri di depan pintu kelasnya. Hinamori hari ini berpakaian ala maid. Cantik sekali…
"Hinamori… apa kabarmu?"
"Tentu saja aku baik, kenapa kau tidak pernah masuk? Katanya kau beristirahat. Apa kau sakit?" tanya Hinamori khawatir.
"Aku hanya kelelahan. Makanya kakakku menyuruhku istirahat. Sekarang aku sudah lebih baik kok. Hinamori… bajumu manis sekali…"
"Benarkah? Terima kasih, kami mendesain-nya susah payah loh. Ah ya, kau mau pakai? Masih ada sisa satu!" kata Hinamori bersemangat.
"Ehh? Tidak usah, tidak apa-apa kok. Aku―"
"Kau ini bicara apa? Kau juga harus berpartisipasi dengan kelas kan? Ayo ikut aku!" Hinamori tak mendengarkan penolakan Rukia dan tetap memaksa gadis bangsawan ini untuk menariknya mengikuti Hinamori.
Sekilas tadi Rukia melihat Grimmjow menoleh, tapi mungkin laki-laki itu tidak melihatnya karena Hinamori begitu cepat menariknya.
Mereka tiba di ruang ganti pakaian wanita. Rukia sudah berusaha untuk menolaknya, dia jadi tidak enak karena tiba-tiba memakai baju lucu itu. padahal Rukia tidak ikut membantu sama sekali. Walau begitu, Hinamori tetap memaksa memakai baju ala maid itu.
Akhirnya dengan terpaksa juga Rukia memakai baju itu. Dia juga tak enak hati kalau sampai menolaknya terus menerus.
Saat bercermin, Rukia terkejut melihat dirinya sendiri di sana. Ini… Rukia?
"Kyaa?! Apa kubilang, kau pasti manis sekali kan? Kuchiki… kau benar-benar lucu!" peluk Hinamori saat melihat Rukia selesai memakai pakaian ala maid itu.
Sebenarnya Rukia malu, tapi dirinya juga senang karena baju lucu ini begitu pas di tubuhnya. Rukia tak menyangka…
Hinamori kembali mengajak Rukia untuk masuk ke dalam kelas. Baru saja sampai beberapa laki-laki yang mengunjungi kafe mereka jadi terpaku dan terpesona melihat Rukia yang baru masuk.
"Hai, kau anak baru kah? Sepertinya gadis manis sepertimu baru pertama kali kulihat."
"Hei, boleh berkenalan? Aku sedang senggang loh."
"Bagaimana kalau kita berkencan setelah ini? Aku tahu toko kue yang enak."
Rukia bertambah terkejut melihat laki-laki itu memandang begitu… padanya. Sepertinya Rukia mengerti apa yang dialami Grimmjow barusan. Rukia tetap berusaha tersenyum seadanya. Hinamori baru saja pergi karena dipanggil mendadak dan meninggalkan Rukia di kelas mereka.
"Anoo aku…" Rukia bingung harus mengatakan apa.
"Jangan malu-malu, ayolah…" bujuk mereka.
Tiba-tiba Rukia menjerit kecil saat salah satu laki-laki tak dikenal itu menarik tangan Rukia dengan niat usil. Tapi kemudian, kawanan beberapa laki-laki itu langsung bergidik ngeri dengan wajah memucat.
"Maaf, kami tidak melayani laki-laki sialan seperti kalian, cepat pergi selagi aku berbaik hati, Tuan!"
Tatapan mata kebiruan itu terkesan marah dan nyalang. Tapi dia masih bisa mengendalikan emosinya untuk tidak terlihat berlebihan. Rahangnya saja mengeras begitu saja. Bahkan tangannya sengaja memegang nampan untuk tidak bergerak liar seperti instingnya.
Tanpa disuruh dua kali, laki-laki nakal itu langsung bergidik takut dan melarikan diri ke segala arah. Tamu-tamu di kafe kelas ini beragam tanggapan. Banyak gadis yang semakin tergila-gila dengan sikapnya, dan beberapa orang lagi setuju dengan sikapnya pada laki-laki tidak sopan itu.
Apa… dia mau jadi pahlawan kesiangan?
"Yamada, aku selesai di sini, sisanya kau yang urus."
Kaki panjanganya bersiap melangkah, tapi kemudian dia tepat berhenti di depan Rukia.
"Dan kau, ikut aku," lanjutnya kemudian.
Astaga…
.
.
*KIN*
.
.
Grimmjow hanya melepas dasi kupu-kupu hitamnya dan dua kancing kemejanya. Dia berjalan angkuh di depan Rukia yang mengekorinya. Sekarang Rukia tak mengerti kenapa mereka berjalan menuju taman belakang sekolah seperti ini.
Tunggu, sepertinya orang ini sedang senewen. Tapi karena apa?
Rukia tak mengerti kenapa orang ini cepat sekali berubah mood. Apa ada yang salah dengannya? Jelas ada yang salah. Kalau tidak mana mungkin dia berubah menjadi konslet seperti itu. Benar-benar tidak bisa dipercaya sama sekali!
"Kau baik-baik saja?"
Entah bagaimana caranya mereka tiba-tiba sudah berhenti berjalan. Kini mereka berhadapan, meski jarak masih memisahkan. Walau hanya dua meter saja.
"Huh? Aku? Yaa… aku baik-baik saja. Tenang saja, aku tidak akan kenapa-kenapa karena laki-laki sialan itu kok―"
"Bukan yang tadi. Penyakitmu… kau benar-benar sudah lebih baik?"
Rukia diam. Oh… begitu.
"Ah itu. Kau lihat sendiri kan? Aku baik-baik saja. Aku sudah banyak istirahat, tidak ada alasan bagiku untuk kumat lagi. Kau jangan khawatir begitu."
"Kau pikir kau bisa berbohong padaku?"
Rukia mengangkat wajahnya lebih tinggi supaya bisa melihat sosok pria berambut langit cerah ini. Tatapannya jauh lebih serius dari biasanya. Tidak, ini bahkan sangat serius. Kenapa dengannya?
"Apa maksudmu?"
"Kau memang bisa berbohong pada orang-orang di sekitarmu. Tapi aku tidak bisa kau bohongi. Jangan mengatakan kalau kau baik-baik saja kalau wajahmu saja tidak baik-baik," katanya dengan nada yang sedikit lebih naik dari yang tadi.
"Sepertinya… kau sudah tahu kalau wajahku… pucat."
"Bukankah itu sangat jelas?"
"Tapi walaupun begitu, kau tidak bisa melarangku untuk pulang sekarang," kata Rukia tajam.
"Apa? Apa maksudmu kau tidak mau pulang dengan kondisi mengerikan seperti itu?"
"Karena kau sudah berjanji padaku untuk membiarkan mengikuti festival hari ini apapun yang terjadi. Aku sudah menepati janjiku untuk tidak datang ke sekolah sampai festival tiba. Dan kau juga sudah berjanji untuk tidak melarangku ikut hari ini. Kau juga harus menepati janjimu."
"Hei, masalahnya itu beda! Bagaimana kalau tiba-tiba kau pingsan seperti waktu itu dan tidak ada orang yang tahu―"
"Kalau begitu kau bisa mengikutiku kalau kau tidak percaya!"
"Apa? Yang benar saja!"
"Kalau begitu jangan melarangku!"
"Hei, kau ini… kenapa kau begitu keras kepala?"
"Bukankah kau sudah tahu alasannya kenapa aku begini?"
Grimmjow menyerah. Dia lelah untuk melarang gadis ini. Suatu waktu Kuchiki Rukia bisa menjadi gadis manis yang penurut, tapi kemudian dia bisa menjadi gadis menyebalkan yang keras kepala. Di antara keramaian festival seperti ini, tidak menutup kemungkinan kalau dia bisa saja kelelahan dan tiba-tiba pingsan. Belum lagi kalau Rukia kembali bertemu dengan laki-laki seperti tadi. Dia sendiri saja tidak bisa melawan, apa yang akan dilakukannya kalau ada yang iseng padanya?
Grimmjow juga tidak mau mengikutinya sepanjang festival ini. Tapi…
Astaga, pasti Grimmjow sudah gila. Kenapa dia jadi begini khawatir melihat Rukia.
"Sekarang aku janji padamu, aku akan baik-baik saja. Karena itu, biarkan aku mengikuti festival kali ini. Kalau aku merasa tidak enak badan, aku akan mencarimu segera supaya kau bisa menolongku. Bagaimana?"
"Kenapa kau mau mencariku kalau badanmu tidak enak?"
"Bukankah itu yang kau khawatirkan? Lagipula… aku lebih nyaman kalau kau yang menolongku," canda Rukia dengan senyum manisnya.
Tiba-tiba saja, entah kenapa lagi ini, jantung Grimmjow mendadak berdetak keras seperti bom waktu. Grimmjow bahkan bisa mendengar detaknya sendiri―astaga dia berlebihan!
Kenapa begitu gadis ini tersenyum tadi… apalagi dengan pakaian seperti itu… membuat Grimmjow…
"Bagaimana? Kenapa kau malah diam seperti patung?"
Grimmjow membalikkan badannya menghindari tatapan gadis polos itu.
"Terserah kau saja! Yang penting aku sudah memperingatkanmu ya!"
"Terima kasih, Grimm!"
Wajah Grimmjow langsung memanas. Kenapa gadis itu memanggilnya dengan nada manja seperti itu. Wajahnya benar-benar panas dan mendidih! Astaga… ini pertama kalinya dalam hidup Grimmjow dia salah tingkah seperti ini.
"Hei, awas saja kalau kau pingsan di tengah―"
Grimmjow terkejut karena tak menemukan gadis pendek itu lagi saat berbalik.
Dia benar-benar hebat dalam hal melarikan diri!
.
.
*KIN*
.
.
Grimmjow akhirnya memilih mengikuti gadis itu dari jarak aman. Dia tidak mau terlihat tapi tetap berusaha memperhatikannya. Si bocah itu mengunjungi hampir semua stan yang ada dan ditemani oleh gadis bercepol bernama Hinamori itu. Mereka berdua benar-benar menikmati acara berkeliling stan itu. Bahkan mencicipi yang dijajakan stan itu.
Yah, mereka tentu saja gadis remaja biasa bukan?
Hari ini Kuchiki Rukia banyak tersenyum.
Meskipun wajahnya memang terlihat pucat, tapi dia tetap tersenyum riang seolah tidak terjadi apapun. Seolah dia tak merasakan apapun di tubuhnya. Seolah dia melupakan penyakitnya.
Itu memang baik, tapi menyakitkan di saat bersamaan.
"Jeaggerjaques! Rupanya kau di sini. Mana Kuchiki?"
Yamada, orang yang akhir-akhir ini akrab dengannya karena mengurus kelas. Sekarang Grimmjow berada di depan aula pertemuan karena ada kelas yang melakukan pertunjukkan di dalam sana. Yah, dua gadis polos dengan dandanan maid itu masuk ke sana dengan wajah penasaran.
"Memang kenapa aku harus tahu dimana dia?"
"Tadi kau bersamanya kan?"
"Sekarang tidak."
"Oh… ah ya, aku tidak tahu kalau kau sangat perhatian dengannya. Sepertinya rumor itu benar ya?" tanya Yamada.
"Rumor?" Grimmjow tak pernah tahu ada rumor.
"Ya, katanya kalian berkencan diam-diam, benarkah begitu? Makanya tadi kau sangat marah melihat laki-laki yang menggoda Kuchiki tadi?"
"Apa? Sepertinya kalian memang benar-benar bodoh. Dan aku tidak marah, aku tidak suka mereka memperlakukan gadis seperti itu!"
"Tidak suka sama dengan marah. Yah apa boleh buat, Kuchiki manis sih. Jadi banyak yang ingin mendekatinya. Apa kau tahu, anak kelas sebelah banyak yang diam-diam mengincar Kuchiki. Kalau kau terlambat melangkah, bisa-bisa Kuchiki diambil orang loh."
"Aku tidak mengerti apa maksudnya ini."
"Kau harus mengerti. Apa kau mau kuberi saran untuk―"
Sebelum Yamada berhenti mengoceh, Grimmjow lebih dulu pergi meninggalkan si bodoh itu. Memangnya Grimmjow peduli?
Dasar.
.
.
*KIN*
.
.
Sakit…
Sakit sekali…
Rukia sudah berdiam diri di dalam toilet selama setengah jam. Tapi sakitnya tak kunjung hilang.
Tadi sewaktu menonton pertunjukkan teater, tiba-tiba jantungnya terasa sakit sekali. Karena suasana gelap, untungnya dia bisa berkilah untuk kabur dari sana tanpa diketahui oleh Hinamori yang bersamanya tadi. Sekarang mungkin Hinamori tengah mencari-carinya karena Rukia tiba-tiba menghilang.
Dia tidak bisa keluar seperti ini. keringat dingin benar-benar mengucur deras dari dahinya.
Sepertinya Rukia tidak benar-benar bisa mengikuti festival sampai selesai.
Dengan tenaga seadanya, Rukia berusaha berjalan keluar dari toilet. Tapi kakinya saja masih gemetar karena rasa sesak tadi. Alhasil, Rukia akhirnya hanya menambah masalah dengan terjatuh di depan pintu toilet.
Tidak, jangan begini… orang-orang akan menemukan Rukia yang seperti ini dan membuat kegemparan… jangan…
"Kau bisa berdiri?"
Di sisa-sisa kesadarannya karena rasa sakit dan gemetarnya, Rukia melihat seseorang berlutut di dekatnya seraya membantunya berdiri. Tapi tentu saja Rukia belum kuat untuk berdiri sekarang.
"Astaga, kakimu berubah menjadi jelly hah?"
Percaya atau tidak, Rukia malah tertawa mendengar kata-kata itu. Entah mengapa sekarang dia merasa… lega.
"Hei, aku tidak sedang melawak! Jangan tertawa. Kau bahkan lebih buruk dari mayat!"
Rukia akhirnya dipapahnya untuk berdiri, tapi ya semuanya sia-sia kalau Rukia sendiri tidak kuat berjalan. Biasanya kalau dia kumat seperti ini, Rukia masih sanggup berjalan, tapi kali ini berdiri pun rasanya hal tersulit dalam hidupnya sekarang. Tampaknya kali ini dia benar-benar parah…
Dalam hitungan detik, Rukia kini sudah terangkat ke atas. Dirinya bersandar dengan nyaman di punggung lebarnya yang… hangat.
Kedua tangan Rukia diperintahnya untuk melingkar di sekitar lehernya supaya Rukia tidak terjatuh nanti.
"Aku tahu akan begini makanya―"
"Grimm… jangan… ke klinik sekolah…" bisik Rukia dengan suara pelan. Sangat pelan malah.
"Hah? Apa maksudmu jangan ke klinik? Kau itu sudah hampir mau mati."
"Ada… banyak orang… mereka… mereka bisa… melihatku… jangan ke sana…"
Grimmjow tak mengerti apa yang dipikirkan oleh gadis bodoh ini.
Tapi akhirnya, dia malah membawa Rukia diam-diam pergi ke tempat dimana jalanannya cukup sepi. Sekarang mereka berakhir di taman belakang sekolah yang sepi ini.
Rukia bersandar di bawah pohon yang rindang itu. Berusaha untuk mengatur kembali napasnya yang hampir hilang itu.
"Hei, aku belum… pingsan kan?" canda Rukia di sela-sela sesaknya. Memang sesak, tapi setidaknya dia masih kuat untuk bicara perlahan seperti ini.
"Sudahlah jangan banyak bicara. Kau bisa benar-benar kehilangan napasmu nanti."
Rukia tersenyum lembut. Grimmjow memang pria yang tidak bisa berkata-kata manis. Dia juga pria kasar dengan tatapan mengerikan. Siapa yang tidak kenal Grimmjow? Preman sekolah.
Tapi setelah Rukia lebih mengenalnya, rasanya itu bukan julukan yang pas untuk Grimmjow. Yah, laki-laki ini hanya kesepian dan berusaha untuk tidak terlihat kesepian.
Setelah merasa lebih baik, Rukia akhirnya bisa mengendalikan napasnya. Jantungnya juga sudah lebih baik. Tadi sebelum benar-benar kumat dia sudah meminum obat yang sengaja disimpannya di saku bajunya. Dan ternyata obat itu benar berguna.
"Maaf merepotkanmu…" lirih Rukia.
"Aku sudah bosan mendengarnya."
Satu-satunya orang yang… menyadari Rukia.
"Nee Grimm, kau mendengar ceritaku?"
Grimmjow tetap acuh tak acuh dengan duduk di sebelah dengan jarak satu meter. Grimmjow juga tidak memandang ke arah Rukia. entah kenapa sekarang memandang gadis itu adalah hal terberat dalam hidupnya.
"Mungkin… waktuku sudah tidak lama lagi…"
Grimmjow tertegun mendengarnya. Tidak… bukan, kenapa dia harus mengatakan hal itu?
"Aku sudah tahu. Sekeras apapun aku berusaha, kesempatan itu tetap tidak akan aku dapatkan. Waktuku terus berkurang dan berkurang. Dan kini… tidak lama lagi."
Grimmjow tidak tertarik mendengarkan lanjutan cerita ini.
"Aku akan pergi mencari supirmu. Kau tunggu di sini. Si pirang kikuk itu ada di dekat sekolah kan?"
'Tidak, dengarkan aku dulu," Rukia segera beranjak sebisanya dan meraih tangan Grimmjow.
Rukia hanya mampu meraih jari-jari Grimmjow untuk menghentikan pemuda bermata seindah sapphire ini untuk berhenti bergerak.
"Dengarkan aku dulu, Grimm," pinta Rukia.
Grimmjow langsung menyentakkan tangannya dari Rukia, kemudian berdiri dan memandang tajam ke arah gadis mungil itu.
"Sudah cukup kau melibatkan diriku ke dalam cerita konyolmu!"
"Grimm…"
"Selama ini… aku menolongmu bukan karena aku ingin melihatmu meregang nyawa setiap hari! Aku berada di dekatmu, bukan karena aku ingin tahu kapan kau mati! Dan aku ada untukmu… bukan untuk membiarkanmu berhenti berharap pada hidupmu sendiri. Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu? Kalau aku tidak tertarik."
Rukia berusaha untuk tidak terlihat sedih meski perasaannya seperti ditusuk-tusuk pedang bermata tajam. Dia sudah berusaha sekeras mungkin. Tapi…
"Aku hanya…"
"Apakah kau begitu putus asa sampai kau sendiri pasrah pada kematianmu? Apakah seputus asa itu sampai kau tidak percaya lagi pada keajaiban?"
"Maafkan aku… aku hanya―"
Rukia terkejut saat Grimmjow berlutut di depannya dan menarik seluruh tubuh kecilnya masuk ke dalam dekapannya. Ungu kelabunya terbelalak tak percaya. Ini…
"Satu-satunya yang kuinginkan darimu… tetaplah berusaha dan berharap meski kematianmu sudah dipastikan. Kau tidak akan tahu keajaiban seperti apa yang bisa merubah hidupmu nanti."
"Grimm… jow…"
"Dan aku… salah satu orang yang berharap pada hidupmu."
Orang yang berharap pada… hidup Rukia…
Dengan tatapan sendu, Grimmjow melepaskan pelukannya sebentar. Menatap ungu kelabu Rukia yang masih terbelalak bingung. Sesaat kemudian, sentuhan lembut… sangat lembut… terasa di bibirnya.
Ini kali kedua.
Grimmjow menutup matanya setelah yakin bibirnya sudah merengkuh dengan penuh kelembutan bibir mungil itu. Bibir Rukia terasa dingin dan lembut. Gerakan pelan dua bibir yang saling menempel itu menimbulkan sensasi tersendiri di antara keduanya. Ini bukan sentuhan seperti yang pertama kali. Bukan yang mendadak dan tanpa perasaan. Sentuhan ini…
"Jangan pernah menyerah… dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian merasakan sakit."
.
.
*KIN*
.
.
Rukia sudah menghubungi Kira kalau dia ingin pulang. Setelah istirahat cukup lama di taman belakang itu, Rukia memutuskan untuk pulang kalau tidak ingin dirinya terkapar lagi. Setidaknya, istirahatnya hari ini sudah sangat baik. Bersandar di bahu Grimmjow sampai akhirnya Rukia tertidur beberapa saat.
Sekarang dua insan ini berjalan berdampingan dengan jarak setengah meter. Wajah memerah karena malu masih kentara jelas di keduanya.
Festival memang belum berakhir.
Katanya ada acara malam. Sayang Rukia tidak diijinkan untuk sampai malam.
"Aku tidak menyangka kau bisa berkata-kata seperti itu," sindir Rukia saat mereka berdua bersiap untuk menuju gerbang sekolah.
"Berisik," balas Grimmjow singkat.
"Kalau kau marah berarti kau malu," tambah Rukia.
"Aku tidak marah dan aku tidak malu," kata Grimmjow lagi.
Rukia tersenyum geli karena menyadari kalau Grimmjow memang seperti itu. Tapi dia memang lebih menjaga image-nya yang sangar dan menakutkan itu.
"Pokoknya… terima kasih untuk hari ini. Terima kasih… untuk semuanya, Grimm."
Grimmjow hanya diam sambil memandang ke arah yang lain. Bagaimana dia bisa memandang gadis di sisinya ini kalau wajahnya sendiri masih memanas. Kalau dia melihat Rukia dengan keadaan seperti ini dia pasti akan salah tingkah!
"Oh ya, memangnya malam itu ada acara apa?" tanya Rukia.
"Dansa api unggun, kembang api… biasanya seperti itu."
"Benarkah? Sayang sekali ya… aku tidak bisa ikut."
"Kalau kau mau kita bisa melakukannya lain kali."
"Melakukan apa?" tanya Rukia yang kini berputar ke depan Grimmjow.
Tentu saja Grimmjow terkejut bukan main saat melihat Rukia tepat berada di depannya. Wajah Rukia masih bersemu merah. Tapi perlahan-lahan mulai menghilang karena dia pucat lagi.
"Kau mau lihat kembang api kan?"
"Kukira kau bicara soal dansanya…"
Tak terasa mereka kini sudah tiba di depan gerbang sekolah. Akhirnya tiba juga…
Rukia melambaikan tangannya karena Kira sudah berdiri di depan gerbang dengan mobilnya.
Tapi entah kenapa sekali lagi perasaan melayang itu muncul. Sampai akhirnya Rukia benar-benar tidak sadarkan diri.
.
.
*KIN*
.
.
"Kondisinya tiba-tiba tidak stabil dan kritis. Kami akan melakukan pertolongan pertama secepatnya."
Grimmjow bersandar di dinding koridor rumah sakit saat beberapa tim dokter membawa Rukia masuk ke Instalansi Gawat Darurat.
Kenapa tiba-tiba pingsan seperti itu? Apakah kondisinya benar-benar…
Dia tidak boleh seperti ini…
Tidak boleh.
Mungkin, sebenarnya Grimmjow-lah yang tidak ingin menyerah pada hidup Rukia.
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Hola minna, apakah scene yang di taman itu agak dipaksakan?
Saya sih sebenernya juga kurang puas. Cuman, saya pengen bikin yang seperti itu… hhikss…
Yap sesuai janji, chap depan adalah chapter terakhir hehehehe…
Saatnya balas review…
KeyKeiko : makasih udah review senpai… maaf kalo lama, tapi saya udah update hehehe
Otachaan : makasih udah review senpai… jangan senpai dong, Kin aja hehehe iyaa ini udah update.
Ryuzaki kuchiki 5 : makasih udah review senpai… maaf gak kilat, ini udah saya update kok hehehe
Kiki RyuEuTeuk : makasih udah review senpai… maaf gak kilat, ini udah saya update hehehe
Peachy Berry : makasih udah review senpai… maaf gak kilat, ini udah saya update kok hehehe
Ray Kousen7 : makasih udah review senpai… iya tetep panggil Kin aja hehehe, ah masa? Jadi malu banget nih hihihih hm jadi pengen nonton hihihi…ah ya suka lupa, makasih ya Ray…
Voidy : makasih udah review senpai… hehehe kucing liar yang dipaksa jadi kucing rumahan. Keren juga yaa… nee kapan balik sih? Bikin rate m lagi dong *plak
Makasih yang udah nyempetin baca apalagi ampe review… makasih banyak yaa…
Gimana chap ini? boleh review?
Jaa Nee!
