EXONUMIA
Pairing(s): Various Pairings, mostly Baekyeol.
Genre: Romance, Drama, AU.
A/N: Hello, chapter 2 is here~ Please enjoy and mind to RnR? Thanks *bows*
Baekhyun punya mimpi. Baekhyun tumbuh di keluarga sederhana, dengan ibu, ayah, dan kakak laki-laki yang lebih tua 7 tahun, hidupnya bisa dikatakan bahagia. Baekhyun memang hidup berkecukupan, tapi tidak jarang barang-barang yang ia inginkan tidak bisa ia dapatkan. Baekhyun tidak punya mainan canggih seperti teman-temannya, yang ia miliki hanyalah mainan usang bekas kakak laki-lakinya, tapi Baekhyun tidak pernah mengeluh, menurutnya hidup bahagia dengan keluarganya sudah lebih dari cukup.
Namun suatu hari semua itu berubah, Baekhyun kehilangan kedua orang tua dan kakaknya dalam sebuah kecelakaan mobil, hanya Baekhyun yang selamat. Baekhyun memang mendapatkan semua yang ia inginkan dari uang asuransi kedua orang tuanya, tapi Baekhyun tidak pernah sebahagia dulu. Baekhyun hanya hidup berdua dengan Chorong, anjing kesayangannya. Baekhyun tidak butuh sanak keluarganya yang lain, mereka hanya ingin hartanya, Baekhyun juga tidak butuh teman, mereka hanya kasihan padanya, Baekhyun merasa tidak perlu dikasihani.
Tidak ada yang tahu, Baekhyun sebenarnya takut orang yang ia sayangi meninggalkannya.
Sejak kepergian keluarganya Baekhyun menghidupkan kembali impian masa kecilnya dengan mengoleksi benda-benda yang dianggapnya menarik. Pada awalnya Baekhyun mencoba filateli, atau mengoleksi perangko, namun hal itu segera Baekhyun tinggalkan, mengingat perangko mudah didapat dan Baekhyun sendiri tidak memiliki sanak saudara ataupun teman yang ingin ia kirimi surat.
Baekhyun menemukan kecintaannya pada benda exonumia, yaitu benda sejenis koin, bisa berbentuk medali, lencana, token berbentuk koin, koin timezone, koin telepon, koin souvenir, kancing, ataupun dekorasi berbentuk koin. bahannyapun bermacam-macam, bisa terbuat dari logam ataupun kayu. Di zaman modern bahkan kartu kredit, wasel, dan cek juga dapat dikategorikan dalam exonumia, meskipun sampai sekarang masih diperdebatkan. Semakin kuno dan bersejarah semakin Baekhyun menyukainya.
Maka dari itu saat Baekhyun mendengar desas-desus dari sesama kolektor exonumia bahwa salah satu token terlangka di dunia dimiliki oleh keluarga Park secara turun-temurun, tentu saja ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk melengkapi koleksinya.
Mimpi Baekhyun sendiri adalah hidup bahagia bersama Chorong, dengan koleksi-koleksinya. Jika beruntung mungkin dia akan menemukan seseorang yang baik sebagai pendamping hidupnya dan mungkin memiliki beberapa orang anak, tapi jika tidak pun, Baekhyun merasa cukup dengan adanya Chorong yang mengisi hari-harinya.
Baekhyun merasa semua mimpi itu tidak akan terwujud, karena ia baru saja tertangkap basah menyusup ke rumah keluarga Park, Baekhyun hanya berharap semoga sisa hidupnya tidak dihabiskan dengan dirinya mendekam di penjara— siapa yang akan merawat Chorong apabila dia dipenjara?
.
Chanyeol membalikkan tubuh mungil 'penyusup' yang telah lancang masuk ke kamarnya, menatap lekat-lekat wajah 'penyusup' tersebut. Masih muda, ekspresi wajahnya merupakan campuran antara takut dan bingung. Menarik.
"Heh bocah, apa yang kau lakukan di kamarku? Kuberitahu ya, ini bukan tempat bermain—"
Bocah? Rasa takut Baekhyun berubah menjadi rasa kesal, Baekhyun mendelik, lalu berusaha melepaskan diri, "aku bukan bocah."
Chanyeol mengangkat sebelah alisnya, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Baekhyun, berbisik, "terserah, dengar, aku tidak tahu kamu masuk darimana, tapi kamu—"
"Permisi, tuan muda, tapi saya dengar ada ribut-ribut, apa tuan—" Jongin membuka pintu tiba-tiba lalu terdiam melihat tuannya dalam posisi yang, err, mencurigakan? Chanyeol dan Baekhyun menoleh dengan kompak, menatap Jongin.
"Oh maaf," Jongin berdeham, kemudian menutup pintu, "silahkan dilanjutkan, permisi."
"Tu-tunggu," Baekhyun berusaha meminta pertolongan, tapi pintu kamar sudah tertutup.
Sekarang Baekhyun kembali hanya berdua dengan Chanyeol, Baekhyun yang tersadar kembali meronta, "lepaskan aku!"
"Tidak sebelum kamu katakan siapa kamu dan apa maumu."
Baekhyun tidak menjawab, Chanyeol mencengkram tangannya lebih kuat "a-ah, baiklah, akan aku katakan."
Baekhyun meringis kesakitan, "Aku Baekhyun, aku kesini ingin melengkapi koleksiku."
Chanyeol berdiri lalu menawarkan tangannya, membantu Baekhyun untuk bangun, "Jadi kamu kesini mau mencuri?"
"Tidak ada salahnya kan? Koleksimu banyak sekali, kuambil satu apa bedanya? Hartamu juga tidak akan habis." Baekhyun membela diri.
"Tetap saja itu namanya mencuri, heh, bocah, memangnya kau tidak pernah diajari oleh orangtuamu kalau mencuri itu dosa?"
"Aku bukan bocah—" Baekhyun memang agak sensitif apabila masalah orang tuanya disinggung-singgung.
"Sudahlah, karena kau masih bocah kali ini kumaafkan, sana pulang, harusnya jam segini kau tidur, pantas saja tubuhmu kecil."
Kecil? Oh—
Baekhyun sangat kesal, bukan hanya karena gagal mendapatkan token yang ia cari-cari tapi juga disebut bocah oleh laki-laki di depannya ini. Tubuh tinggi dan suara beratnya membuat Baekhyun merasa makin mungil.
Baekhyun mengacak-acak rambutnya frustrasi, "Harus berapa kali kukatakan aku bukan bocah? aku ini sudah dewasa dan aku tidak kecil!"
Chanyeol menutup telinganya, bocah ini berisik sekali. Chanyeol membuka pintu kamarnya lalu menendang Baekhyun keluar, "jangan balik lagi, bocah."
Baekhyun hendak berteriak lagi ketika pintu itu dibanting tepat di depan wajahnya. Kurang ajar. Baekhyun menendang pintu itu keras-keras, dan kemudian segera menyesalinya.
"A-ah, kakiku," Baekhyun melompat-lompat kesakitan, memegangi kakinya yang berdenyut. Sialan, lihat saja nanti.
Chorong menatap kelakuan bodoh majikannya. Heran, kenapa manusia suka melukai dirinya sendiri? Chorong lalu menghampiri majikannya.
"Ah, chorong." Baekhyun segera memeluk anjing kesayangannya itu, "ayo kita pulang."
"Jadi anjing itu milik anda?" sebuah suara mengagetkan Baekhyun. Baekhyun menoleh, mendapati Jongin sedang menatapnya.
"Err, iya." Baekhyun tersenyum gugup lalu merapikan rambutnya yang berantakan karena tadi diacak-acak sendiri, hampir saja dia lupa bahwa dia sedang menyusup ke rumah orang.
"Nama saya Jongin," Jongin membungkukkan badannya lalu menjulurkan tangannya, Baekhyun menjabat tangannya ragu, "saya adalah pelayan di rumah ini."
"Baekhyun."
"Maafkan saya masalah yang tadi, saya kaget sekali tuan muda Chanyeol membawa kekasihnya."
Eh? Kekasih?
Baekhyun buru-buru mengorek telinganya dengan jari lentiknya, mungkin dia salah dengar, "Maaf?"
"Anda kekasih tuan muda Chanyeol kan? Tuan muda Chanyeol tidak pernah mengizinkan siapapun masuk ke kamarnya sebelumnya, pasti anda adalah orang yang spesial."
Baekhyun memutar bola matanya, kekasih? Dia dan Chanyeol? Amit-amit.
Eh, tunggu dulu, kalau Baekhyun adalah kekasih Chanyeol itu artinya dia bebas keluar masuk rumah keluarga Park, cepat atau lambat token itu akan menjadi miliknya. Yes—
Baekhyun berdeham, "benar, aku adalah kekasihnya."
"Syukurlah," Jongin tersenyum senang, "kupikir tuan muda kesepian, tapi ternyata tuan muda memiliki seorang kekasih, sekarang kami para pelayan tidak perlu khawatir, tolong jaga dia ya."
"Hahaha." Baekhyun tertawa canggung, "tenang saja, aku pasti akan menjaganya dengan baik."
Baekhyun membawa Chorong dalam pelukannya, "baiklah, kalau begitu aku permisi dulu."
Chorong menggonggong kesal, sebenarnya Chorong belum mau pulang. Tapi Baekhyun menghiraukannya.
Baekhyun berjalan pulang dari rumah itu dengan senyum kemenangan. Token itu sebentar lagi akan ada dalam genggamannya.
Park Chanyeol, bersiaplah, hidupmu yang bergelimangan harta tidak akan tenang lagi.
.
Baekhyun kembali ke rumah Park Chanyeol keesokan harinya bersama Chorong. Chorong menggonggong semangat, sudah tidak sabar bertemu teman barunya, Monggu, King, dan Jongin. Baekhyun juga berjalan dengan semangat, namun dengan alasan lain tentunya.
"Baekhyun-ssi, selamat datang," Jongin membungkukkan badannya lalu segera menggendong Chorong yang menghampirinya dengan semangat, melupakan majikannya.
Baekhyun mendengus kesal melihat adegan itu. Baru sebentar saja mereka sudah dekat, terus majikannya sendiri ditinggalin.
"Ah, sampai lupa, silahkan masuk." Kai menuntun Baekhyun dan Chorong dalam gendongannya ke dalam rumah.
Baekhyun melihat kesekitarnya, dindingnya berwarna putih begitu juga dengan interiornya. Rumah ini terlihat jauh lebih cantik disiang hari, kontras dengan kamar gelap milik raksaksa bernama Chanyeol itu.
Baekhyun sedang mengagumi keindahan rumah itu ketika beberapa orang pelayan menghampirinya.
"Astaga, Jongin, apa itu kekasih tuan muda yang kamu sebut-sebut itu?" seorang pelayan bermata bulat menarik-narik ujung kemeja Jongin.
"Aish, Kyungsoo-hyung, berhenti menarik bajuku," Jongin merapikan ujung kemejanya, "iya, ini Baekhyun-ssi yang aku ceritakan kemarin."
"Manis sekali ya, Sehunnie, aku tidak menyangka selera tuan muda begitu manis," seorang pelayan berwajah cantik menepuk pundak laki-laki muda berwajah datar di sebelahnya, "mungil seperti anak anjing."
"Luhan-hyung, menurutku Kyungsoo-hyung lebih mungil." Jongin melirik kearah Kyungsoo, yang kemudian menghadiahi Jongin sebuah pukulan dipunggung.
Baekhyun berdeham— sedikit kesal karena mendengar dirinya lagi-lagi disebut-sebut mungil.
"Ah, Baekhyun-sii, perkenalkan ini para pelayan dirumah kami."
"Saya Kyungsoo, koki di rumah ini." Kyungsoo menatap Baekhyun dengan mata bulatnya antusias.
"Saya Luhan," Laki-laki berwajah cantik itu tersenyum, "saya kepala pelayan di rumah ini."
"Sehun, tukang kebun." Sehun memasang wajah poker face-nya, berusaha menyembunyikan cadelnya.
Baekhyun tersenyum memperlihatkan eye smile andalannya, "Baekhyun."
"Baekhyun-ssi," Kyungsoo bertanya, "apakah anda sudah makan siang?"
Baekhyun menggeleng.
"Kalau begitu kami minta tolong padamu," Kyungsoo segera menyodorkan senampan makanan— entah muncul darimana, "tolong makanlah dengan tuan muda, tuan muda ada di kamarnya."
Kyungsoo dan Luhan mendorong Baekhyun yang sedang memegang nampan ke depan kamar Chanyeol. Sebelum Baekhyun sempat protes, semua pelayan sudah meninggalkannya sendirian. Baekhyun kemudian menatap pintu kamar di hadapannya, tersenyum licik, kita bertemu lagi Park Chanyeol.
.
Baekhyun membuka pintunya perlahan, gelap sekali. Baekhyun menaruh nampan berisi makanan itu di meja terdekat lalu mendekati sosok yang sedang tertidur pulas di atas tempat tidurnya. Baekhyun berdecak.
Ckck, sudah siang begini masih tidur?
Baekhyun mencolek tubuh Chanyeol, "bangun."
Chanyeol tidak merespon.
Baekhyun melepaskan sepatunya, naik keatas kasur lalu melompat-lompat diatasnya, "bangun!"
Chanyeol terlihat terganggu, lalu membalikkan badannya, membelakangi Baekhyun, kemudian tidur lagi.
Baekhyun memandang Chanyeol kesal, susah sekali raksaksa ini dibangunkan.
Baekhyun menyerah, melepaskan jaket yang menutupi wife-beater yang ia kenakan melemparkannya sembarangan, lalu membuka tirai jendela tepat di atas tempat tidur membiarkan sinar matahari masuk menyinari ruangan.
Lebih baik sekarang Baekhyun mencari ulang token itu—
"Aish, bocah, apa yang kau lakukan? Cepat tutup tirainya!" Chanyeol yang terbangun menyelimuti tubuhnya dengan selimut seperti kepompong, ekspresi wajahnya terkejut.
Akhirnya bangun juga, Baekhyun memutar bola matanya melihat kelakuan Chanyeol, lalu menutup tirainya, ruangan kamar Chanyeol kembali gelap.
Chanyeol menendang selimutnya bernafas lega, "kurang ajar kau bocah, siapa yang memberi izin kau boleh masuk ke kamarku dan membuka tirai itu?"
"Aish, cerewet sekali, apa salahnya membuka tirai? Biarkan cahaya matahari masuk, kamarmu gelap sekali, sama sekali tidak ada lampu," Baekhyun berkacak pinggang, "selain itu siang-siang begini masih tidur, memangnya kamu vampir? Takut sinar matahari?"
Chanyeol diam menatap Baekhyun, tidak membantah. Baekhyun mengamati Chanyeol, tubuhnya tinggi, kulitnya pucat, wajahnya tampan, suaranya yang berat, tidak jauh berbeda seperti penggambaran tokoh vampir di film-film. Baekhyun menggelengkan kepalanya, menyesal karena terlalu sering menonton film horror, sampai-sampai otaknya mulai rusak.
Chanyeol mendekati Baekhyun. Baekhyun menelan ludahnya, jangan-jangan Chanyeol—
Baekhyun yang panik buru-buru membuka tirai jendela, membuat Chanyeol kembali bersembunyi dibawah selimutnya, "Yah! Tutup tirainya!"
Wajah Baekhyun memucat. Dia takut sinar matahari, Park Chanyeol benar-benar seorang vampir—
Chanyeol tidak menyia-nyiakan kesempatan kesempatan itu untuk menarik kaki Baekhyun yang sedang terdiam, membuat Baekhyun terjatuh di atas tempat tidur. Chanyeol segera menutup tirai jendela lalu menatap Baekhyun. Baekhyun lagi-lagi hanya bisa menelan ludah. Chanyeol mencengkram kedua pergelangan tangannya lalu mengikatnya ke kerangka tempat tidurnya dengan selimut, membuat Baekhyun tidak bisa bergerak.
Baekhyun tidak berani menatap Chanyeol, Chanyeol terlihat marah.
"Bocah, bukankah sudah kubilang ini bukan tempat bermain? Kenapa kau kembali lagi kesini?" Chanyeol mengangkat wajah Baekhyun dengan sebelah tangannya, membuat mereka saling bertatapan.
"A-aku bukan bocah." Baekhyun menjawab gemetaran.
Chanyeol tersenyum sebuah pemikiran melintas di otaknya, "benarkah? Kebetulan sekali, aku sedang lapar, dan kau—"
"Eh, sebenarnya aku memang bocah, sungguh," Baekhyun buru-buru mengoreksi.
Chanyeol berbisik di dekat telinganya, "bukankah bocah rasanya lebih nikmat? Manis seperti permen."
Chanyeol membuat suara mengecap, membuat Baekhyun bergidik ngeri, "ja-jangan minum darahku, aku bukan bocah, aku tidak manis—"
Chanyeol mendekatkan wajahnya, Baekhyun memejamkan matanya pasrah. Tamat sudah, sayang sekali Baekhyun tidak bisa melengkapi koleksinya—
Baekhyun menantikan taring tajam mengoyak lehernya dan menghisap darahnya, tapi yang ia rasakan justru sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya— Baekhyun membelalakkan matanya.
.
Park Chanyeol menciumnya—
.
Chanyeol melepaskan ciumannya, menjilat bibirnya kemudian tertawa, "pembohong, kau bilang kau tidak manis."
Baekhyun berusaha memproses kejadian beberapa waktu yang lalu.
Ya Tuhan, ini tidak nyata kan?
Ciuman pertama Byun Baekhyun direbut oleh seorang laki-laki— seorang vampir bernama Park Chanyeol—
Baekhyun tak sadarkan diri dengan sukses.
-tbc-
A/N: Thank you udah baca sampai sini :) aku coba bikin agak panjangan, maaf kalo masih kurang panjang.
thanks ya yang udh review :) mungkin masih pada bingung soal exonumia, kali ini aku nyoba buat jelasin lagi, moga-moga dengan penjelasan aku kali ini kalian ngerti haha :D
Sekali lagi kritik dan saran sangat dibutuhkan.
Have a nice day~ *bows*
