EXONUMIA
Pairing(s): Various Pairings, mostly Baekyeol.
Genre: Romance, Drama, AU.
A/N: Hello, chapter 3 is here~ Please enjoy and mind to RnR? :) Thanks *bows*
Chanyeol punya mimpi. Mimpinya sejak kecil adalah melihat dan merasakan cahaya matahari. Sedari dulu Chanyeol hanya bisa melihat gambarnya di internet dan di televisi ataupun membaca deskripsinya di buku-buku. Chanyeol ingin normal seperti anak lainnya, bermain sepak bola ataupun basket di lapangan, berlibur ke pantai dan berjemur, ataupun piknik ke taman. Bagi Chanyeol semua itu hanya sebatas mimpi.
Setiap harinya Chanyeol menghabiskan waktu berdiam diri di kamarnya, dia jarang keluar dari kamar dan tidak mengizinkan sembarang orang masuk ke dalam kamarnya. Orang tua dan kakak perempuan Chanyeol sendiri sibuk bekerja, mereka memaklumi kondisi Chanyeol yang tidak seperti anak-anak lain, meninggalkan Chanyeol hanya dengan pelayan-pelayannya di rumah. Mereka tidak pernah melupakan Chanyeol, mereka terkadang mengunjungi anak laki-laki satu-satunya itu, namun itu pun sangat jarang.
Segala kebutuhan Chanyeol selalu terpenuhi, dia dapat dengan mudah memiliki apapun yang ia mau. Sama seperti Baekhyun, Chanyeol juga suka mengoleksi benda-benda artistik— yang sepertinya memang sudah diwarisi turun temurun oleh keluarga Park mengingat hampir seluruh anggota keluarganya juga memiliki hobi yang sama.
Tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya Chanyeol takut, ia takut sinar matahari— ia terlalu takut mencoba.
Chanyeol merasa kesepian, tidak apa-apa jika dia tidak bisa merasakan sinar matahari, tapi Chanyeol ingin memiliki seseorang yang mencintainya dan menerimanya apa adanya, seseorang yang hangat dan bersinar— melebihi sinar matahari.
Maka dari itu Chanyeol merasa sepertinya mimpinya akan terwujud— mungkin, dia sendiri juga tidak yakin, tapi Chanyeol punya firasat, ada sesuatu yang spesial dari bocah bernama Baekhyun itu.
Yah, setidaknya Chanyeol tidak pernah diteriaki sebelumnya, dia juga tidak pernah diomeli oleh— yah orang asing. Tidak setiap hari kan kau terbangun mendapati orang asing yang ingin mencuri di kamarmu? Bagi Chanyeol, Baekhyun adalah yang pertama.
Chanyeol tidak tidur di malam hari, dia tidur di siang hari. Chanyeol tahu ada penyusup di rumahnya malam itu. Chanyeol sudah terbiasa berdiam diri di kamarnya, tidak biasanya ada suara gonggongan anjing. Chanyeol ingin tahu apa yang diinginkan penyusup tersebut, Satu-satunya hal yang melintas adalah pura-pura tidur.
Chanyeol mengintip sosok penyusup itu melalui pantulan sinar bulan dari tempat tidurnya— tidak terlalu jelas sebenarnya, tapi Chanyeol sudah terbiasa. Sosok itu sibuk mencari-cari sesuatu dari koleksi benda-benda artistik Chanyeol. Chanyeol tidak pernah melihat pencuri sebelumnya, tapi dia pernah menontonnya di televisi. Ia tahu sosok itu bukanlah pencuri professional.
Saat sosok tersebut mendekatinya, Chanyeol merasa panik. Chanyeol tidak tahu kenapa, ia tidak ingin sosok tersebut kabur begitu saja. Chanyeol memejamkan matanya lalu menahan nafasnya.
Chanyeol merasa Baekhyun bukanlah sebuah ancaman.
Chanyeol tidak yakin apakah keputusannya saat itu benar atau salah—
Chanyeol tidak yakin darimana Baekhyun mendapatkan fantasi tentang dirinya adalah mayat hidup ataupun vampir—
Chanyeol sendiri juga tidak yakin mengapa ia mencium Baekhyun, tapi, Demi Tuhan, itu pertama kalinya Chanyeol pernah sedekat itu dengan orang lain— terlebih lagi dengan orang asing. Ciuman itu terjadi begitu saja tanpa Chanyeol sadari, tapi Chanyeol tidak menyesalinya, bisa dibilang ia sedikit menyukainya—
Sedikit. Tolong garis bawahi itu.
Tapi yang Chanyeol yakini adalah, dia tidak akan menyesal pada akhirnya.
Chanyeol kebingungan saat melihat Baekhyun, bocah di depannya, tak sadarkan diri. Yang benar saja, memangnya ciuman bisa bikin pingsan? Chanyeol segera memanggil para pelayannya meminta bantuan.
"Astaga, tuan muda Chanyeol, apa yang terjadi pada Baekhyun-ssi?" mata Kyungsoo yang memang bulat— bertambah bulat ketika melihat Baekhyun.
Chanyeol hanya menggaruk bagian belakang kepalanya— yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.
Kyungsoo langsung berlari kearah Baekhyun, dibantu oleh Kai dan Sehun untuk melepaskan ikatan Baekhyun.
Mata Luhan melebar melihat kondisi Baekhyun yang terikat, Luhan mendapati jaket Baekhyun tergeletak tak jauh dari tempat tidur tuannya, lalu berbisik "umm, tuan, apa tuan melakukan 'itu'?"
Chanyeol menatap kepala pelayannya, "apa yang kau maksud dengan 'itu'?"
Luhan terlihat bingung menjelaskannya, "itu, hal yang dilakukan pasangan."
Chanyeol membuat ekspresi wajah 'o'
Ciuman maksudnya. Chanyeol menebak.
Chanyeol mengangguk, "iya, aku melakukannya, tapi aku tidak menyangka dia akan pingsan."
Luhan menepuk punggung Chanyeol perlahan, sedikit merasa kasihan pada Baekhyun, "lain kali tuan muda harus meperlakukan Baekhyun-ssi dengan lebih lembut—"
Kyungsoo, Jongin, dan Sehun berjalan kearah Luhan dan Chanyeol, memotong acara bisik-berbisik Luhan dan tuan mudanya.
"Tidak ada masalah dengan Baekhyun-ssi, biarkan saja dia istirahat, nanti juga akan bangun sendiri." Kyungsoo meyakinkan Chanyeol.
"Terimakasih, maaf mengganggu pekerjaan kalian."
Kyungsoo, Luhan, Jongin, dan Sehun segera mohon diri, menutup pintu kamar Chanyeol, meninggalkan tuan mudanya berduaan dengan kekasihnya—
"Hey, dengar, tadi tuan muda melakukan 'itu' dengan Baekhyun-ssi." Luhan berbisik pada ketiga rekan kerjanya.
"Aish, tuan muda kita 'main'-nya kasar, Baekhyun-ssi diikat segala, sampai pingsan lagi." Kyungsoo ikut berbisik.
"Eh, tuan muda kita 'tidur' dengan Baekhyun-ssi?" Sehun yang biasanya memasang wajah poker face-nya terlihat terkejut.
"Memangnya apa lagi yang sekiranya dilakukan pasangan berduaan saja di kamar tidur?" Jongin menatap Sehun.
Mereka berempat kemudian kembali bekerja setelah puas ber-gossip.
Chanyeol menatap Baekhyun yang sekarang terbaring di tempat tidurnya, merasa sedikit menyesal. Chanyeol mengalihkan pandangannya pada nampan yang ada di atas meja, lalu memakannya sambil melirik Baekhyun. Bodoh sekali bocah ini, dikiranya Chanyeol benar-benar vampir. Chanyeol menyisakan setengah dari makanannya lalu membaringkan tubuhnya di samping Baekhyun.
Bocah ini jauh lebih baik saat diam.
Chanyeol mengamati wajah Baekhyun yang sedang terbaring. Tubuhnya mungil, kulitnya sedikit pucat, rambutnya yang berwarna coklat jatuh menutupi matanya. Tangan Chanyeol merapikan rambut Baekhyun agar tidak menutupi wajahnya.
"Sadarlah bocah, aku merindukan suaramu."
Suara Baekhyun yang serak dan khas—
Yang benar saja. Chanyeol baru sadar akan apa yang baru saja ia katakan.
Apa Chanyeol mulai menyukai Baekhyun— bocah sepertinya? Bukankah Chanyeol akan jadi— apa namanya orang yang suka pada anak di bawah umur?
Pedophile?
Nah itu dia.
"Arrrgghh.." Chanyeol mengacak-acak rambutnya frustasi.
Lebih baik aku tidur saja. Chanyeol memejamkan matanya lalu perlahan terlelap ke dunia mimpi.
Baekhyun terbangun saat senja. Dingin. Tangannya memeluk benda disebelahnya erat-erat. Empuk dan hangat—
Eh? Hangat?
Baekhyun membuka matanya, mendapati dirinya memeluk seseorang— Park Chanyeol.
Baekhyun berteriak histeris dan buru-buru melepaskan pelukannya, membuat ia terjatuh dari tempat tidur dengan suara heboh— sukses membuat Chanyeol terbangun.
"Bocah?" Chanyeol mengucek matanya, "sedang apa tiduran di lantai?"
Baekhyun tidak menjawab, buru-buru memeriksa lehernya, tidak ada bekas gigitan—
"Bocah?" Chanyeol turun dari tempat tidurnya.
"Ja-jangan dekat-dekat," Baekhyun melangkah mundur, terlihat panik, "a-apa yang terjadi? Apa kau meminum darahku? Kenapa aku tidak mati? A-apa aku juga berubah jadi vampir?"
Chanyeol memutar bola matanya. Astaga, bocah ini.
"Aku tidak meminum darahmu," Chanyeol menjilat bibirnya, "aku menciummu."
Astaga, bagaimana bisa dia lupa? Park Chanyeol kan menciumnya.
Adegan itu terulang kembali di dalam ingatannya.
Wajah Baekhyun memerah.
Chanyeol mencoba mendekati Baekhyun, Baekhyun buru-buru mundur ke belakang— hingga punggungnya menyentuh dinding. Sial—
Baekhyun merogoh saku celananya lalu mengeluarkan sebuah handphone—
Ya Tuhan, berapa nomor telepon polisi—kenapa aku tidak ingat?
"Apa yang kau lakukan?" Chanyeol menatapnya heran.
"Er.. menelpon polisi?" Baekhyun berkata polos.
Chanyeol memutar bola matanya, "apakah kau sadar kalau ini rumahku dan seharusnya aku yang menelpon polisi?"
Eh, iya benar—
Baekhyun memasukkan kembali handphone-nya ke dalam sakunya.
"A-apa maumu?" Baekhyun menutupi bibirnya sekarang— Chanyeol tidak bisa menciumnya lagi.
"Kau, bocah," Chanyeol mengucapkan kata perkata dengan penekanan, "kau milikku, mulai sekarang kau tinggal di sini bersamaku."
"A-apa?" Baekhyun membelalakkan matanya, "kenapa? Aku tidak mau!"
"Kenapa? Karena aku memberikan ciumanku padamu, bocah," Chanyeol berbisik, "ciuman pertamaku."
"Aku kan tidak pernah minta!" Wajah Baekhyun berubah merah padam, "pokoknya aku tidak mau!"
"Oh sayang sekali."
Baekhyun mulai was-was, "a-apa yang akan terjadi kalau aku menolak?"
"Hmm, aku tidak yakin kau mau tahu, kau pasti akan takut hanya dengan membayangkannya."
Baekhyun menelan ludahnya, "a-aku—"
"Begini saja, kalau kau bersedia tinggal disini bersamaku, aku akan memberikan seluruh koleksiku padamu, termasuk token yang kau inginkan." Chanyeol memberi tawaran— Bocah ini pasti tidak akan menolaknya.
Mata Baekhyun mendadak bercahaya, token?
"Aku bersedia," Jawab Baekhyun lantang— kemudian kembali menutupi bibirnya dengan kedua tangannya.
Bingo—
"Baiklah, mulai sekarang token itu akan jadi milikmu," Chanyeol tersenyum penuh kemenangan, menjulurkan tangannya—
Baekhyun memandangi tangan Chanyeol seolah tangan itu adalah sebuah ancaman baginya.
"Kau harusnya menjabat tanganku, bocah."
"Oh," Baekhyun memindahkan tangan yang menutupi bibirnya, lalu menjabat tangan Chanyeol kaku.
Baekhyun tidak bisa berhenti tersenyum.
Lihat saja Park Chanyeol, begitu mendapatkan token itu Baekhyun akan segera kabur.
Otak Baekhyun dipenuhi dengan bayang-bayang bahagia, sebentar lagi mimpinya akan segera terwujud—
Krucuk krucuk—
Sial.
"Apa itu suara perutmu?" Chanyeol tidak bisa menyembunyikan tawanya.
Wajah Baekhyun kembali memerah.
Chanyeol menyodorkan nampan berisi makanan yang tadi sudah ia makan setengah kearah Baekhyun. Baekhyun tentu saja tidak menolak, dia kan belum makan sejak tadi siang.
Tidak masalah, rencana Baekhyun akan tetap berjalan— sekarang yang penting mengisi perutnya terlebih dahulu.
Baekhyun menatap Chanyeol setelah makanannya habis, sedikit merasa risih karena daritadi diperhatikan oleh Chanyeol, "er.. terimakasih makanannya."
Chanyeol mengangguk.
"Jadi karena mulai sekarang aku tinggal disini, aku tidur dimana?"
"Oh, kau bisa tidur di tempat tidurku bersamaku," Jawab Chanyeol santai.
Mulut Baekhyun sedikit terbuka—
Baekhyun harus tidur dengan dia?
Tidak! Tidak!
"Er.. Kau tidak punya sofa ya?"
Chanyeol menggeleng.
"Er.. Boleh tidak aku tidur di lantai saja?"
"Terserah sih, tapi kalau malam lantainya dingin."
Benar juga, jangankan malam hari, sekarang saja Baekhyun sudah kedinginan, bukankah kalau malam hari dia bisa menggigil.
Baekhyun melirik lemari pakaian Chanyeol, cukup besar untuk memuat tubuhnya dan Baekhyun sudah pernah memeriksa isinya sekilas, penuh pakaian— pasti hangat.
"Boleh tidak aku tidur di lemarimu?" Baekhyun menunjuk lemari pakaian Chanyeol.
Chanyeol terlihat kaget. Bukannya Chanyeol pelit, tapi itu kan lemari pakaian. Disana ada pakaian dan sepatu Chanyeol— termasuk pakaian dalam.
"Tidak," Chanyeol terbatuk, "pokoknya jangan sentuh-sentuh lemariku."
Baekhyun curiga melihat reaksi Chanyeol—
Jangan-jangan tokennya disimpan di lemari itu.
Baekhyun tersenyum, tidak apa-apa dia tidur satu tempat tidur dengan Chanyeol malam ini, toh cuma semalam, Baekhyun yakin besok token itu akan berada dalam genggamannya.
Baekhyun berada di sebuah taman, matahari bersinar terik, dia sedang bermain sepak bola dengan beberapa anak kecil dan sesosok tubuh yang tinggi dan tampan— eh, tunggu sebentar, itu Park Chanyeol.
Baekhyun berbagi sebuah es krim dengan Chanyeol.
Mereka terlihat bahagia, tangannya menggenggam tangan Chanyeol sepanjang perjalanan.
.
Baekhyun terbangun dengan nafas memburu, dia baru saja bermimpi tentang Chanyeol.
Ya Tuhan, itu bukan mimpi biasa— itu mimpi buruk!
Baekhyun bergegas ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, meninggalkan Chanyeol yang masih tertidur.
Air dingin menerpa wajah Baekhyun— Baekhyun sepenuhnya sadar sekarang.
Nah, sudah lebih baik.
Baekhyun berjalan keluar dari kamar, tidak tahan apabila berada dalam satu ruangan dengan Chanyeol, lalu berjalan kearah ruang tamu. Baekhyun mendapati Kyungsoo sedang membersihkan ruang tamu dan Jongin sedang mengamati Kyungsoo.
"Selamat pagi Jongin, Kyungsoo."
Jongin dan Kyungsoo terlihat terkejut mendengar suara Baekhyun, mereka segera membalas salam Baekhyun,
"Baekhyun-ssi, anda sudah sadar," Kyungsoo terlihat lega, "kemarin kami kaget sekali saat tuan muda memanggil kami, ternyata anda pingsan."
Wajah Baekhyun memerah, merasa malu.
"Tuan muda terlihat sangat panik."
Eh? Chanyeol panik?
"Iya, dia terlihat khawatir," Jongin menambahkan.
Chanyeol khawatir padanya? Tidak mungkin.
Baekhyun berusaha mengalihkan pembicaraan, "Kyungsoo, bukankah kamu koki? Kenapa kamu yang bersih-bersih? Bukannya itu tugas Jongin?"
"Sebenarnya itu memang tugasku, tapi Kyungsoo-hyung merebutnya, katanya kerjaku tidak rapi, masih kotor, dan blablabla.." Jongin mengangguk, "bahkan ibuku saja tidak secerewet itu."
Kyungsoo menutupi kedua wajahnya, entah menahan marah atau menahan malu.
Baekhyun menahan tawanya.
"Baekhyun-ssi apakah anda tidak lapar?" Kyungsoo menurunkan tangannya dari wajahnya, memperlihatkan mata bulatnya.
"Sedikit."
"Baiklah akan aku buatkan sarapan," Kyungsoo berjalan kearah dapur sambil berbisik kearah Jongin—
'Aku tidak akan membantumu bersih-bersih lagi, bodoh, jangan dekat-dekat aku lagi'
Jongin mengikuti Kyungsoo dengan panik, "maafkan aku hyung,kau tahu kan aku tidak bisa tidur tanpamu."
Baekhyun tertawa terbahak-bahak.
Mungkin tinggal di rumah ini tidak seburuk yang dia kira.
Baekhyun duduk di ruang makan, bayangannya tentang meja makan keluar Park adalah meja yang panjang nan mewah seperti yang biasa ia lihat di drama, namun suasananya sungguh berbeda dengan bayangannya.
Mejanya berbentuk bundar dan tidak begitu besar, suasananya hangat, nyaman, desainnya sederhana namun penuh dengan rasa kekeluargaan.
Baekhyun memandangi telur mata sapi, bacon, dan segelas jus di depannya— terlihat enak.
"Terimakasih Kyungsoo," Baekhyun tersenyum saat mencicipi bacon buatan Kyungsoo, "ini enak sekali."
"Ah, sama-sama," Kyungsoo tersipu malu, "itu merupakan makanan kesukaan tuan muda."
Makanan kesukaan Chanyeol? Di film ataupun di buku, vampir kan tidak perlu makan.
"Bicara soal Chanyeol, tidak apa-apa dia belum bangun? Apa dia memang selalu bangun siang?" Baekhyun bertanya.
"Iya, tuan muda memiliki pola tidur yang berbeda dengan kita, dia tidur di pagi hari dan aktif di malam hari."
Baekhyun membuat ekspresi wajah 'o'
Tentu saja, Chanyeol kan vampir—
"Jadi kapan Chanyeol akan keluar dari rumah?"
Baekhyun tidak bisa mencari token ataupun kabur dari rumah ini apabila Chanyeol tetap berdiam diri di kamarnya.
Kyungsoo terlihat bingung—
"Mungkin anda tidak tahu, tapi tuan muda menderita photodermatitis kronis, kulitnya sangat sensitif dengan sinar matahari, maka dari itu tuan muda tidak pernah keluar rumah."
Bacon yang baru saja akan dimakan oleh Baekhyun jatuh kembali ke piring—
Yang benar saja— Jadi Chanyeol bukan vampir?
Jadi selama ini Baekhyun ditipu oleh Chanyeol?
-tbc-
A/N: Thank you udah baca sampai sini :) sorry kalau agak berantakan, belum sempet di edit *plakk*
Thanks ya yang udah review, kebanyakan udah bisa nebak jalan ceritanya, maaf kalo pasaran, aku emang ngga kreatif hehe :D
Dan maaf banget buat yang kira Chanyeol itu vampir, bukan, dia manusia biasa.
Soal penyakitnya Chanyeol bakal aku ceritain lagi di chapter selanjutnya, mohon ditunggu yah :)
Sekali lagi kritik dan saran sangat dibutuhkan.
Have a nice day~ *bows*
