EXONUMIA
Pairing(s): Various Pairings, mostly Baekyeol.
Genre: Romance, Drama, AU.
A/N: Hello, chapter 4 is here~ Please enjoy and mind to RnR? :) Thanks *bows*
Tidak pernah sekalipun dalam hidupnya Baekhyun merasa benci pada seseorang. Tapi ia yakin dengan pasti bahwa ia, Byun Baekhyun, 21 tahun—bukan bocah, untuk pertama kalinya dalam hidupnya membenci seseorang—
Park Chanyeol.
Grrr.. untuk menyebut namanya saja ia sangat benci.
Pada awalnya Baekhyun merasa takut pada Chanyeol— siapa yang tidak? Memangnya kalian tidak takut bila harus tinggal bersama vampir?
Tapi nyatanya,
PARK CHANYEOL SAMA SEKALI BUKAN VAMPIR!
Dan kalian tahu apa yang dikatakan Chanyeol saat Baekhyun membangunkannya sambil marah-marah?
"Memangnya aku pernah bilang kalau aku vampir? Kan kamu sendiri yang seenaknya menyimpulkan begitu, sudahlah bocah pergi main sana, aku mau tidur lagi."
Baekhyun benci mengakuinya, tapi Chanyeol benar.
Dia kan memang tidak pernah kalau dia itu vampir.
Bodoh! Bodoh! Bodoh!
Baekhyun memukulkan kepalanya ke pilar terdekat— mendapat tatapan aneh dari Luhan dan Sehun yang sedang lewat.
VAMPIR APANYA? ORANG SEPERTI CHANYEOL LEBIH COCOK JADI NYAMUK!
Seandainya saja reinkarnasi itu benar-benar ada dan di kehidupan mendatang Chanyeol terahir menjadi nyamuk, Baekhyun dengan senang hati akan menjadi obat pembasmi serangga—
Eh, tunggu sebentar, obat pembasmi serangga kan bukan makhluk hidup.
BODOH! BODOH! BODOH!
Baekhyun kembali memukulkan kepalanya ke pilar tersebut— Membuat Jongin dan Kyungsoo mendekat karena mendengar suaranya yang keras.
Baekhyun mencoba menenangkan diri.
Sudahlah Baekhyun, memangnya memukulkan kepalamu bisa membuatmu pintar?
Benar, Baekhyun tidak seharusnya marah-marah sendiri. Harusnya dia senang, jika Chanyeol bukan vampir bukankan Baekhyun tidak perlu takut lagi padanya? Bukankah akan lebih mudah bagi Baekhyun untuk mendapatkan token itu?
Baekhyun tertawa sambil memeluk pilar tersebut—
Tanpa Baekhyun sadari keempat pasang mata menatapnya prihatin.
.
"Kalian lihat itu?" Sehun menatap ketiga orang rekan kerjanya.
Ketiganya mengangguk.
"Baekhyun-ssi terlihat kesepian," Kyungsoo kembali mengalihkan kedua matanya yang bulat pada Baekhyun— yang masih memeluk pilar.
Sehun mengangguk lalu melirik Luhan, untung saja dia punya Luhan selalu ada di sampingnya, sehingga dia tidak pernah kesepian.
"Kenapa tidak kita hibur saja dia?" Jongin memberi saran.
"Ah, aku tahu!" Luhan tersenyum senang, "kita ajak saja Baekhyun-ssi menonton film bersama-sama."
"Ide bagus, aku akan segera buatkan camilan," Kyungsoo bergegas kearah dapur.
"Jongin, tolong bersihkan ruang tamu, kita akan menonton bersama disana," Luhan mulai membagi tugas.
Jongin dengan sigap berjalan kearah ruang tamu.
"Dan, Sehun, er.." Luhan terlihat bingung.
Sehun menatapnya, menunggu tugas yang akan diberikan oleh Luhan.
"Kau ikut aku, kita akan memilih film," Luhan kemudian berjalan ke kamarnya diikuti oleh Sehun.
.
Sehun dan Luhan memilah-milah tumpukan DVD milik Luhan—
"Hei, jangan sentuh yang itu," Luhan merebut tumpukan DVD yang digenggam oleh Sehun, padahal sudah disendirikan oleh Luhan.
Sehun menatap Luhan sambil menyeringai, "itu film dewasa ya?"
Luhan menggeleng polos, "bukan, yang ini koleksi DVD Donald Duck favoritku."
GUBRAK—
Sehun memasang kembali ke wajah poker face-nya lalu memilah-milah tumpukan DVD lainnya, "Luhan-hyung tidak seru ah."
Luhan tertawa melihat tingkah maknae itu, Kalau film dewasa sih Luhan juga punya, disimpan di bawah tempat tidurnya—
Tapi biarkanlah itu menjadi rahasia.
Sehun mengeluarkan sebuah DVD, "Hyung, ini saja ini!"
Luhan melirik cover DVD-nya 'Titanic'.
"Jangan yang itu, kita sudah lihat film itu berulang-ulang kali—"
"Baru juga 365 kali, hyung," Sehun memotong.
Luhan menghela nafas, "—benar, 365 kali, kamu masih ingat kan kalau Kyungsoo dan Jongin selalu berpelukan sambil menangis setiap kali kita melihat film itu? Kita mau menghibur Baekhyun-ssi bukan membuatnya menangis, sekarang taruh lagi DVD itu."
Sehun menaruh DVD itu ke tempatnya semula dengan wajah cemberut.
"Bagaimana kalau yang ini?" Luhan menunjukkan Sehun sebuah DVD dengan wajah berbinar.
Sehun menelan ludahnya saat melihat cover film action favorit Luhan, Sehun sudah pernah melihatnya bersama-sama sebelumnya—
Ya Tuhan—
Sehun, Kyungsoo, dan jongin bahkan harus memegangi Luhan agar jauh-jauh dari layar televisi setiap kali adegan action-nya dimulai— terakhir kali mereka menonton film tersebut Luhan nyaris saja menghancurkan televisi di ruang tamu.
Sehun buru-buru mengambil DVD terdekat lalu menunjukkannya pada Luhan.
"Yang ini saja hyung! Yang ini!" Sehun berpura-pura terlihat antusias.
Luhan melirik cover-nya—
'Dokter Ngesot'— diadaptasi dari film horror Indonesia— Cast: Kim Joonmyun, Zhang Yixing—
Luhan bertanya-tanya, Film horror? Sejak kapan dia punya DVD itu?
"Boleh deh, kita belum pernah nonton yang ini," Luhan mengangguk.
Sehun menghela nafas lega, lalu pucat sendiri waktu melihat cover DVD yang digenggamnya—
Film horror?
Sehun benci mengakuinya— tapi Sehun takut hantu.
.
Baekhyun masih memeluk pilar saat Sehun mendekatinya, mengajaknya menonton film bersama, "Baekhyun-ssi, kalau anda tidak keberatan maukah menonton film bersama kami?"
Baekhyun mengangguk antusias, tidak ada yang bisa dilakukannya selain— yah, memeluk pilar.
Baekhyun memiringkan kepalanya saat melihat wajah Sehun yang tidak seperti biasanya, "Sehun, kau terlihat pucat, apa kau baik-baik saja?"
Sehun mengangguk.
.
Sehun duduk dipinggir bersama Luhan, Baekhyun di tengah-tengah, Kyungsoo dan Jongin berada di sisi lain.
Mereka berlima duduk di lantai beralaskan karpet dan selimut, seluruh lampu di ruang tamu dimatikan demi menambahkan efek seram sesuai dengan usul Jongin. Lengkap dengan selimut dan popcorn ditangan masing-masing.
Sehun menahan nafasnya saat Luhan menekan tombol 'Play'
Ya Tuhan, semoga saja film ini cepat-cepat selesai.
.
Itu adalah pertama kalinya Baekhyun menonton film bersama Luhan.
Awalnya, mereka menonton dengan tegang, sekali-kali tangan mereka menggenggam popcorn lalu buru-buru memasukkannya ke dalam mulut masing-masing—
Lalu musik latar khas film horror saat setannya muncul mulai terdengar—
Jongin memeluk Kyungsoo yang sok berani,
Muka Sehun yang memang sudah pucat tambah pucat,
Luhan menonton dengan serius,
Baekhyun memegang selimutnya was-was— siap-siap menutupi wajahnya kalau-kalau setannya beneran nongol,
'Careless, careless. Shoot anonymous, anonymous.
Heartless, mindless. No one, who care about me?'
—Lalu Lay— sang dokter ngesot, muncul dan mulai ngesot mengejar dokter magang bernama Suho yang lari ketakutan—
Jongin dan Kyungsoo pelukan sambil teriak-teriak histeris,
Sehun mematung— sepertinya jiwanya sudah keluar dari tubuhnya,
Luhan ketawa ngakak—
Eh?
Baekhyun menoleh kearah Luhan dengan tampang kaget,
"BUAKAKAKAKA— Ya ampun, setannya ngesot—" Mulut Luhan terbuka lebar, Luhan memegangi perutnya.
Ya iyalah setannya ngesot, Han, judulnya aja 'Dokter Ngesot'.
"—HAHAHAHA— Setannya punya lesung pipi, ya ampun manis banget setannya."
Keluar deh jiwa fanboy Luhan yang selama ini terpendam—
"Manisan juga aku," bisik Sehun— yang syukurlah jiwanya sudah kembali dengan selamat dan tidak tahu kenapa cadelnya hilang.
"—Suho, ngapain kamu lari? Itu setannya manis banget," Luhan mulai memukul-mukul kesal— tentu saja, Sehun dan Baekhyun yang jadi korbannya, "Kalau aku jadi kamu, aku bakal minta nomor telponnya terus aku jadiin pacar—"
Sehun tidak protes saat dipukuli oleh Luhan— malahan dai terlihat senang,
Baekhyun berusaha membuat perisai dari selimut tapi tidak mempan—
Skip—
Jongin mengelap keringatnya lega saat film tersebut selesai, "kurang seru deh film-nya, masa ending-nya setannya jadian sama dokter magang itu."
Kyungsoo mengangguk— padahal tadi dia dan kan pelukan sambil teriak-teriak histeris gitu.
Sehun kembali ke wajah poker face-nya yang biasa,
Luhan kelihatan puas banget sama film yang baru saja dia tonton,
Baekhyun memegangi badannya yang sakit semua karena dipukuli Luhan.
Baekhyun memastikan, itu adalah pertama dan terakhir kalinya Baekhyun menonton film horror bersama Luhan.
"Kita nonton ulang film ini yuk?" Luhan tersenyum polos.
"Jangan!" Jongin, Kyungsoo, Baekhyun, dan Sehun berteriak serempak saat Luhan hampir saja menekan tombol 'play'.
BRUK—
"Su-suara apa itu?" Sehun buru-buru memeluk Luhan.
BRUAK—
Suara itu malah tambah keras—
Jongin dan Kyungsoo kembali berpelukan dan berseru secara bersamaan, "Setan!"
Sehun mulai nangis dipelukan Luhan,
Luhan berjalan— mau tidak mau menyeret Sehun yang menempel seperti parasit kearah saklar lampu untuk menyalakan lampu,
Baekhyun ngumpet dibawah selimut,
Luhan menyalakan lampu dan munculah sesosok—
Makhluk manis berekor—
"Chorong?" Luhan mendekati Chorong yang tampak kebingungan.
Jongin dan Kyungsoo bernafas lega,
Baekhyun keluar dari selimut untuk memeluk Chorong,
Sehun? Dia tetap menempel di punggung Luhan.
.
Baekhyun kembali ke kamar Chanyeol dengan langkah lunglai. Chanyeol sudah bangun dan sekarang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Siang," Chanyeol menyapa Baekhyun saat melihatnya.
Baekhyun mendengus.
"Aku lelah, aku mau mandi, apa ada handuk ataupun pakaian yang bisa kupakai?"
Chanyeol terlihat berpikir sebentar, "mungkin ada, cari saja di lemari pakaianku,"
Baekhyun tersenyum, ini adalah kesempatan yang bagus untuk memeriksa lemari itu, bukankah token itu ada di dalam lemari?
Baekhyun membuka lemari itu dengan semangat—
Sejauh mata memandang yang ada hanya baju, celana, sepatu— Baekhyun menemukan beberapa kotak.
Mungkin tidak ya token itu berada di salah satu kotak ini?
Baekhyun membuka kotak pertama, mendapati—
Baju-baju berenda? Warnanya pink— ada pitanya lagi.
"Pft," Baekhyun menahan tawanya, membuat Chanyeol melirik kearahnya.
Chanyeol segera merebut pakaian-pakaian tersebut, Baekhyun masih menahan tawanya.
"Jangan tertawa," Chanyeol tersipu, "noona-ku selalu memaksa agar kami memakai pakaian kembar."
Baekhyun sekarang tertawa berguling-guling di lantai— Membayangkan ada dua tiang kembar yang memakai pakaian berenda dan berpita.
Chanyeol terlihat kesal, dia membuka salah satu kotak lalu melemparkan sebuah piyama ke wajah Baekhyun, "pakai saja itu!"
Baekhyun melirik piyama yang dilemparkan Chanyeol—
"Warnanya ungu—" Baekhyun memulai.
"Diam," Chanyeol berjalan kembali ke meja kerjanya.
"Motifnya rilakkuma—" Baekhyun bergegas masuk ke kamar mandi sebelum Chanyeol sempat melemparnya dengan salah satu koleksi artistik-nya.
.
Baekhyun merasa lebih segar setelah mandi, piyama yang diberikan Chanyeol sedikit kebesaran di tubuhnya, tapi rasanya nyaman.
"Apa piyamanya pas?" Tanya Chanyeol.
"Agak kebesaran,"
"Yang benar? Padahal itu piyamaku waktu kecil, harusnya pas di tubuhmu,"
"Jangan samakan aku dengan raksasa sepertimu," Baekhyun mendengus kesal.
"Jangan khawatir, kamu kan masih bocah, kamu masih bisa bertambah tinggi,"
"Kupikir dengan usiaku saat ini, aku hanya akan bertambah tinggi beberapa senti lagi sebelum berhenti tumbuh,"
"Memangnya berapa usiamu? 15 tahun?"
Baekhyun memutar bola matanya, "tahun ini usiaku 21 tahun."
Chanyeol memandangnya dengan tatapan aneh, "jangan bercanda—"
"Aku tidak sedang bercanda, dan tolong berhenti memandangiku seolah-olah aku adalah alien."
"Aku tidak percaya kita seumuran."
"Aku tidak percaya aku terjebak di rumah ini bersamamu."
"Aku tidak menjebakmu, kamu sendiri yang datang kemari."
Benar, kenapa sih Chanyeol selalu saja benar?
Baekhyun menatap Chanyeol dengan pandangan mengancam, "pokoknya aku tidak mau tinggal disini,"
"Terserah sih, tapi kita kan sudah membuat perjanjian, kalau kamu melanggarnya berarti kamu bukan pria sejati, kamu memang benar-benar bocah."
Baekhyun sama sekali tidak suka disebut bocah.
Baekhyun menghela nafasnya, "begini saja, perjanjiannya tetap berlangsung, tapi isinya kuganti, kamu kan punya penyakit— apa itu namanya?"
"Photodermatitis." Chanyeol menjawab.
"Nah itu dia, coba jelaskan padaku tentang penyakitmu itu."
"Aku terlahir dengan kulit sensitif, apabila terkena sinar ultraviolet akan muncul ruam dan bintik-bintik kemerahan dikulitku, rasanya gatal dan panas seperti terbakar, dan terkadang disertai rasa mual."
"Apa penyakit itu berbahaya? Maksudku bisa menyebabkan kematian?"
"Setahuku tidak," Chanyeol menggeleng.
"Lantas kenapa kamu tidak pernah keluar rumah? Tinggal pakai jaket tebal dan sunblock kan beres."
"Aku takut," Tubuh Chanyeol bergetar, "Mudah saja buatmu bicara begitu, kamu kan bebas keluar dan menikmati sinar matahari, aku tidak bisa merasakan hal semacam itu, aku tidak bisa berjemur atau keluar tanpa pakaian serba tebal, dan ya tuhan—"
Chanyeol terisak, "Pandangan orang-orang, mereka memandangiku seolah-olah aku adalah teroris, seolah-olah aku terserang penyakit menular—tidak ada yang mau bermain denganku— hanya noona-ku."
Baekhyun terdiam— Baekhyun tidak tahu kenapa, tapi Baekhyun merasa Chanyeol sama sepertinya.
Baekhyun menepuk bahu Chanyeol, mencoba menenangkan Chanyeol.
"Aku akan membantumu."
Chanyeol menoleh menatap Baekhyun.
"Aku akan menghilangkan rasa takutmu, dan sebagai imbalannya, kamu memberikan token yang aku cari-cari."
Chanyeol membuka mulutnya—
"Dengan begitu kita sama-sama diuntungkan kan? Anggap saja simbiosis mutualisme, perjanjian tidak dilanggar, habis perkara."
Baekhyun tersenyum puas, lalu pergi meninggalkan Chanyeol untuk makan siang.
"Aku kan belum setuju, seenaknya saja dia memutuskan," Chanyeol meneruskan pekerjaannya dengan wajah cemberut.
-tbc-
A/N: Thank you udah baca sampai sini :) sorry kalau agak berantakan, lagi-lagi ngga aku edit hehe :D
Thanks ya yang udah review, review kalian bikin aku senyum-senyum sendiri kayak orang gila(?)
Ini buat yang minta moment kaisoo dan hunhan-nya ditambah, sulay-nya nyelip dikit, moga-moga bisa diterima.
Sebenernya aku punya temen yang sama kayak Luhan, kalo nonton film horror malah ketawa, jadi lebih serem daripada setannya(?)
Soal penyakitnya Chanyeol udah coba aku jelasin, maaf kalo kurang jelas :D
Ah, ya kemungkinan besar aku bakal jarang update, liburan udah selesai soalnya, siap-siap balik ke sekolah.
Maaf kalo aku kebanyakan curcol disini :3 *ditimpuk*
Sekali lagi kritik dan saran sangat dibutuhkan.
Have a nice day~ *bows*
