EXONUMIA

Pairing(s): Various Pairings, mostly Baekyeol.

Genre: Romance, Drama, AU.

A/N: Hello~ Chapter 5 is here~ Maaf banget karena update yang lama (banget) T_T makasih udah nungguin aku terharu, ini hanya update singkat, maafkan ketidakbertanggung jawabanku yang seenaknya menelantarkan FF ini. Please Enjoy and mind to RnR? *bows*


.

.

.

Baekhyun berada di tempat ramai dan tidak asing— Mall?

Ada dua orang yang mencolok, yang satu sangat tinggi dan berambut pirang dengan alis yang tajam, sedangkan yang satunya lagi agak sedikit lebih pendek dengan rambut hitam dan mata berwarna senada. Keduanya menatap Baekhyun dengan pandangan menyeramkan.

Baekhyun berlari, hingga nafasnya terputus-putus, hingga kakinya lelah—

Tapi dia tidak sendiri, ada Chanyeol bersamanya, dan mereka masih berpegangan tangan—

Dan entah mengapa Baekhyun membalas senyuman di wajah Chanyeol.

.

Baekhyun terbangun di pagi hari, terduduk dengan keringatnya yang mengucur dengan deras. Itu bukan kali pertama Baekhyun bermimpi tentang Chanyeol sejak ia tinggal bersama Chanyeol—

Kenapa Baekhyun harus selalu bermimpi buruk seperti ini? Ini bahkan lebih buruk dari film 'Dokter Ngesot' ataupun tawanya Luhan.

Baekhyun menggigiti bantalnya— yah sebenarnya itu bantal Chanyeol, tapi karena ia tidur disana Baekhyun memutuskan itu menjadi bantalnya.

Baekhyun lalu menoleh kearah Chanyeol yang tertidur pulas di sebelahnya,

Ini semua gara-gara kamu.

Baekhyun menendang Chanyeol— dan menyeringai puas saat mendengar erangan yang terlepas dari bibir Chanyeol.

"Kenapa kamu melakukan itu?" Chanyeol terlihat kesal.

Ha, suara Chanyeol saat bangun tidur terdengar seksi—

Tidak! Tidak! Otak Baekhyun pasti belum bekerja dengan baik.

Baekhyun menggelengkan kepalanya.

"Maaf, aku tidak sengaja," Baekhyun berbohong sambil melemparkan senyum palsu yang memuakkan "selamat pagi,"

Chanyeol mendengus kesal lalu kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidur.

Berani sekali dia mengabaikan Baekhyun? Baekhyun bergegas ke kamar mandi sengaja membanting pintunya dengan keras— cukup keras untuk membangunkan Chanyeol.

.

Baekhyun melangkahkan kakinya kearah dapur mendapati Kyungsoo sedang membersihkan dapur sambil bernyanyi.

"Suaramu bagus," Baekhyun tersenyum sambil menikmati nyanyian Kyungsoo.

Kyungsoo terlihat terkejut, untung saja mata bulatnya tidak sampai keluar dari kedua kelopak matanya, "Ah, Selamat pagi Baekhyun-ssi! anda membuatku terkejut,"

"Selamat pagi dan maafkan aku."

"Tidak apa-apa, apa Baekhyun-ssi ingin sarapan?" Kyungsoo segera memakai celemeknya.

Baekhyun mengangguk.

Tidak lama kemudian Kyungsoo menyajikan sepiring telur mata sapi dan Bacon— menu kesukaan Chanyeol.

Baekhyun memandangi telur mata sapi di piringnya— Baekhyun baru menyadari sesuatu,

Entah mengapa telur mata sapi itu mengingatkannya pada Chanyeol.

Di saat bersamaan munculah Jongin dan Chorong, "Ah, Baekhyun-ssi, baru saja aku mengajak Chorong jalan-jalan pagi."

Baekhyun tidak mendengar, otaknya berkonsentrasi penuh pada telur mata sapi di hadapannya.

Jongin menoleh pada Kyungsoo, yang hanya menggeleng tidak mengerti, lalu keduanya menoleh kembali pada Baekhyun, "Baekhyun-ssi—?"

"Mati kau! Mati!" Baekhyun berseru sambil menusuk-nusuk telur malang itu dengan pisau—

Membuat Kyungsoo dan Jongin membeku di tempat.

.

HAHAHA— MATILAH! MATI! MATI!

.

Baekhyun menyeka keringatnya dengan perasaan puas, tidak pernah ia sangka menusuk telur mata sapi akan begitu menyenangkan—

Baekhyun juga tidak menyangka tindakannya tersebut disaksikan oleh Kyungsoo, Jongin, Sehun, dan Luhan— yang entah sejak kapan berada disana,

Dan tentu saja Chorong yang seakan-akan memutar bola matanya,

Kenapa Chorong punya majikan seperti Baekhyun?

Baekhyun berdeham, membuat seluruh pelayan bergegas melanjutkan aktivitasnya.

"Kyungsoo?"

"Ya?"

"Bisakah aku tambah telur mata sapinya? Yang setengah matang yah."

Kyungsoo menelan ludahnya, "baiklah, saya permisi dulu."

Sepeninggal Kyungsoo, Baekhyun kembali ke seringaiannya.

Oh, Baekhyun sangat bahagia apabila setiap hari Kyungsoo memasakkannya telur mata sapi.

.

Baekhyun memegangi piring berisi telur mata sapinya yang baru, dia harus menemukan tempat yang cocok untuk melakukan aksinya.

Sebuah bohlam lampu muncul di dekat kepalanya ala di film-film kartun.

Baekhyun tahu tempat yang cocok.

.

Chanyeol terbangun dari tidurnya saat mendengar suara tidak lazim dari dalam lemari pakaiannya.

Apakah kata-kata noona tentang keberadaan monster di lemari pakaian itu nyata?

Chanyeol mendengus pada pikirannya sendiri, lalu melangkahkan kakinya kearah lemari pakaiannya sambil mengusap matanya, Chanyeol membuka lemari pakaiannya—

"Baekhyun?" Chanyeol memutuskan untuk memanggil Baekhyun demikian karena yah, Baekhyun nyatanya bukanlah bocah.

Baekhyun memandangnya dengan tatapan polos, "Hai."

"Apa yang kamu lakukan di dalam lemariku?"

"Er.. makan?" Baekhyun mengangkat piringnya, menunjukkan sesuatu yang sudah tidak berbentuk— apa itu telur?

"Di dalam lemari?" Chanyeol menaikkan sebelah alisnya.

"Er.. yah, aku pernah membaca sebuah artikel tentang kesehatan, dari kesimpulan yang aku dapatkan jika kita makan di dalam lemari pada hari-hari dan jam-jam tertentu secara teratur akan mengurangi resiko penyerapan lemak jenuh secara berlebihan oleh tubuh, blablabla—" Baekhyun mulai mengarang bebas, membuat alasan yang terdengar seilmiah mungkin.

Chanyeol terlihat bingung, Baekhyun hanya berharap Chanyeol bisa menerima alasannya— konyol, ini sangat konyol— bahkan Baekhyun sendiri tidak mengerti apa yang keluar dari mulutnya.

Chanyeol hanya mengangguk-angguk lalu menutup kembali pintu lemari itu.

Baekhyun bernafas lega, Baekhyun sungguh menyukai Chanyeol, maksudnya, dia menyukai Chanyeol hanya jika dia bersikap seperti ini—

Tiba-tiba saja Chanyeol membuka lagi lemarinya dengan ekspresi aneh, membuat Baekhyun yang sedang duduk tanpa dosa di antara tumpukan pakaian dalam milik Chanyeol terkejut. Chanyeol segera menarik Baekhyun keluar dari lemarinya.

"Bukankah aku sudah pernah bilang jangan sentuh-sentuh lemariku?" wajah Chanyeol memerah.

"Hehe, maaf sepertinya aku lupa soal itu," Baekhyun pura-pura menggaruk kepalanya.

"Kenapa kamu tidak melakukan hal lain saja? Mandi misalnya?"

"Aku sudah mandi, hanya saja aku tidak punya baju yang lainnya," Baekhyun menunjukkan piyama pinjaman yang ia kenakan.

Mendengar pernyataan Baekhyun Chanyeol segera mendorong sebuah kotak berisi pakaian pada Baekhyun.

"Er.. Chanyeol, ini pakaian yang kembaran dengan noona-mu itu kan?"

"iya, lalu?"

"Aku tidak mau pakai baju berenda," Baekhyun mendorong kembali kotak itu kearah Chanyeol.

"Memangnya kamu punya pilihan lain?" salah satu tangan Chanyeol mencengkram pundak Baekhyun—

Baekhyun berteriak histeris ketika Chanyeol mulai melucuti piyama yang ia kenakan—

Ya Tuhan, lindungilah jiwa Baekhyun.

.

Baekhyun menghambur keluar dari kamar Chanyeol dengan suara pintu dibanting keras.

"Chanyeol, dia asdfghjkl—" Baekhyun mulai meracau tidak karuan.

Jongin yang sedang berada tidak jauh dari sana berbisik di telinga Kyungsoo, "pertengkaran suami istri," lalu keduanya cekikikan.

"—Chanyeol brengsek!" Baekhyun mengakhiri racauannya dengan dramatis.

Luhan yang baru saja datang memicingkan matanya lalu mengitari Baekhyun dengan cermat, "Baekhyun-ssi anda terlihat er.. manis dengan pakaian itu," Luhan mengacungkan ibu jarinya— entah tulus atau tidak.

Baekhyun menyembunyikan wajah malunya dengan kedua tangannya—

Baekhyun akan membunuh Park Chanyeol, lihat saja.

.

Baekhyun menyandang sebuah ransel, lalu mengeluarkan sebuah kamera yang dirampas— maksud Baekhyun, dipinjamnya— dari Sehun. Baekhyun bahkan tidak tahu jika Sehun yang memiliki wajah poker face ternyata sering ber-selca-ria. Baekhyun berusaha untuk tidak menyinggung Sehun yang sudah berbaik hati (atau mungkin terpaksa) meminjamkan kamera kesayangannya, benar, Baekhyun daritadi sudah berusaha keras untuk tidak memukulkan kepalanya ke pilar yang keras dan dingin itu (Baekhyun sudah memutuskan pilar itu adalah hal kedua yang dia benci setelah Chanyeol, karena mereka sama-sama tinggi) saat dia tidak sengaja melihat foto-foto mesra Sehun dan Luhan di dalam kamera itu.

Mata Baekhyun! Kedua mata polos Baekhyun! Pasta gigi! Dimana pasta gigi? Dia butuh menggosok dan mencuci mata polosnya yang sudah terkontaminasi!

Sabarlah mata, sabar… Baekhyun berhenti mengucek matanya yang malang— dia punya sesuatu yang lebih penting daripada matanya sekarang— dia akan memberi pelajaran kepada Chanyeol.

Chanyeol terlihat sibuk dengan laptop. Baekhyun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengabadikannya. Kedipan flashlight dari kamera tersebut mengejutkan Chanyeol.

Chanyeol melenguh, terlihat seperti ikan mas yang kehabisan napas, "Ba-baekhyun? Apa yang kau lakukan? Apakah kau tidak tahu kalau menurut kepercayaan orang Indian saat gambar kita diambil dalam bentuk foto dengan sebuah kamera itu berarti foto tersebut sudah mencuri sebagian dari jiwa kita?"

Baekhyun tidak berhenti mengambil gambar, dia memencet tombol kamera yang malang itu berulang-ulang kali dengan penuh nafsu, "Chanyeol, itu hanya mitos."

Chanyeol mengernyit, tidak terbiasa dengan sinar menyilaukan dari kamera tersebut, "tapi—"

"Tidak ada tapi-tapian, kalau hanya dengan flashlight kamera saja kamu takut bagaimana dengan sinar matahari? Kau mau menghilangkan ketakutanmu kan?" Baekhyun berbicara dengan nada sok baik seolah-olah ia tulus hendak membantu Chanyeol—

Padahal dalam hatinya Baekhyun bersorak bahagia— Rasakan Park chanyeol! Kau juga harus merasakan penderitaan seperti yang kedua mataku yang rasakan!

Chanyeol hanya bisa melindungi kedua matanya dari serangan flashlight yang brutal itu dengan pasrah, dalam hatinya dia berdoa, semoga saja keputusannya membiarkan Baekhyun tinggal bersamanya itu tidak salah— semoga saja.

.

Chanyeol terbangun dengan kondisi menggenaskan, salah satu kelopak matanya dipaksa terbuka dan segalanya kelihatan putih dan menyilaukan—

"GYAAAA!" Chanyeol mendorong sesuatu yang menindihnya hingga sesuatu itu jatuh dan terlepaslah bunyi 'aw' pelan, perlahan-lahan matanya kembali bisa melihat walaupun masih sedikit kabur.

"Apa yang kau lakukan?" Chanyeol menatap Baekhyun yang terduduk di lantai dengan wajah tanpa dosa.

"Membangunkanmu," Baekhyun sedikit memiringkan kepalanya dengan ekspresi aneh, seakan-akan hal yang dilakukan itu adalah hal yang wajar.

"Apa itu tadi? Aku pikir mataku buta— ya Tuhan, bagaimana jika mataku akan benar-benar buta?" Chanyeol menatapnya horror.

"Jangan berlebihan, bocah," Baekhyun memutar kedua matanya melihat reaksi Chanyeol yang mendramatisir.

Chanyeol mengernyit— kenapa sepertinya sekarang posisi mereka terbalik?

"Kenapa kau memanggilku bocah?"

"Karena bukan aku yang menangis hanya karena flashlight kamera, bocah," Baekhyun sengaja menekankan kata 'bocah'.

"Kau juga akan menangis jika kau tiba-tiba saja diserang oleh sinar menyilaukan secara brutal, dan seingatku kau pernah melakukan hal yang lebih memalukan daripada menangis, ingat sewaktu kau pingsan waktu itu?"

Blush— wajah Baekhyun bersemu merah, tentu saja ia masih ingat dengan kejadian memalukan itu. Baekhyun tidak bisa berkata apa-apa, tangannya segera mengarahkan lampu senter yang tadi dipakainya untuk membangunkan Chanyeol kearah mata Chanyeol. Untuk yang kesekian kalinya, Chanyeol kembali mengerang.

"Jangan main-main denganku," Baekhyun mengancam, mendekati Chanyeol dengan senter di tangannya.

Chanyeol memalingkan wajahnya dari serangan menyilaukan itu, dia terlihat tak berdaya. Saat Baekhyun mendekatinya dan menangkupkan tangannya untuk mengangkat wajah Chanyeol agar ia tidak bisa menghindari serangan lampu senternya— tiba-tiba saja dunia berputar dan gelap.

Eh, tunggu, bukan dunia yang berputar tapi dia memang sekarang sedang dalam posisi terbaring, kedua pergelangan tangannya dicengkram erat-erat. Baekhyun segera mengalihkan pandangannya untuk mencari senternya— benda yang ia cari-cari itu jatuh menggelinding ke pojok ruangan.

Sial! Baekhyun mengutuk dalam hati, mengingat posisi mereka saat ini tidak jauh berbeda dengan kondisi saat mereka pertama kali bertemu dulu.

"Seharusnya aku yang bilang begitu," suara berat Chanyeol menggelitik telinganya, "jangan main-main denganku."

Baekhyun merasa terhipnotis oleh mata Chanyeol atau suara beratnya— entahlah Baekhyun sendiri tidak yakin— Baekhyun hanya sanggup memejamkan matanya. Entah apa yang terjadi padanya, tapi jantungnya berdebar sangat kencang, semakin kencang saat ia merasakan hembusan napas Chanyeol makin dekat, Baekhyun memejamkan matanya erat-erat, jelas ia menunggu sesuatu.

Tapi Chanyeol melepaskan cengkramannya, membuat Baekhyun membuka matanya— kecewa.

"Camkan itu baik-baik," Chanyeol berjalan kearah kamar mandi, meninggalkan Baekhyun yang terpaku.

Sebenarnya apa yang baru saja terjadi?

.

.

.


-tbc-

A/N: Pendek kan? T_T maaf ya, kalo mengecewakan. Aku tahu ini terkesan maksain dan absurd/? Sedikit pemberitahuan, aku nggak akan update sesering dulu meskipun udah musim liburan (aku nambah jam kerja sambilanku) dan chap berikutnya mungkin udah nggak ada haha hihi lagi (humor maksudnya) dan bakal lebih serius. Maaf kalo malah membosankan, tapi aku bisa jamin ini nggak ada death chara seperti FF aku yang lainnya. Makasih yang udah mau baca FF aku, yang udah review, fav, dan follow juga, kata 'terima kasih' aja nggak cukup buat ngungkapin apa yang aku rasain. Tanpa masukan dari kalian mungkin FF ini nggak akan jadi seperti ini, aku juga nggak nyangka nulis FF itu sangat menyenangkan. Aku senang banget kalo kalian suka FF aku, maaf kalo aku nggak bisa bales review kalian satu-satu seperti author-author kebanyakan, itu karena aku nggak tahu mesti bilang apa xD hehe tapi review kalian selalu aku baca kok. Aku selalu menghargai kalian (termasuk silent reader) See you next chapter! :D