Title :Brother Complex? No! 4

Author : Vy

Rated : T to M (PG-17 maybe ?)

Genre : Tentuin sendiri lah xDD

Lenght : Chaptered

Cast :
Kim Joon Myeon
Kim Jong In
And other

Note :
Habis baca jangan lupa Coment ! Review ! Oyi?
Kritik dan saran sangat dibutuhkan :D

Warning :
Yaoi / Shou-ai, Incest, Typo (s), OOC (maybe?), bahasa aneh, cerita membosankan, dan lain sebagainya.
-inget yaaa.. Ini epep main pair nya KaiHo :D-

Disclaimer :
Suho punya Kai, Kai punya Suho ! *bllettakk*
Cast punya Tuhan, orang tua, keluarga, manajemen, dan Fansnya. Tapi Yoochun, Chen, Yongguk, TOP milik gue! Hahahahagz xDD
Cerita punya gue ! Asli dari otak kurang waras gue !

.

Yaudah ! Mulai aja lah ! Happy reading :D

.

.

The Story Begin

.

.
Athor POV

Suasana kantin begitu ramai siang hari ini. Mungkin karena sekarang jam makan siang, sehingga banyak mahasiswa yang rela beramai-ramai hanya untuk sekedar mengisi perut mereka.

"Meja di kantin penuh semua Hyung."

"Kau benar Moon. JoonMyeon, SungYeol, bagaimana ini?" Tanya HimcHan pada kedua temannya yang sedari tadi hanya diam saja. Padahal sedari tadi mereka yang merengek karena lapar.

"KRIIISS! SEHUN!" Bukanya menjawab, JoonMyeon malah berteriak memanggil dua orang yang sedang bercengkrama dengan Laptop berada di hadapan mereka.

"Hyung!" Sahut SeHun. JoonMyeon dan kawan-kawannya pun menghampiri SeHun dan Kris.

"Bolehkah kita bergabung. Meja di kantin ini sudah penuh dihuni oleh alien-alien kelaparan." Tanya JoonMyeon memelas

"Of Course!" Jawab Kris sembari mempersilahkan duduk pada mereka.

"Kau ingin mengejekku dengan berbicara bahasa planetmu itu huuhh?!" Sahut JoonMyeon yang sebal karena mendengar Kris berbicara dengan bahasa inggris. Maklum saja, dia sangat lemah dalam pelajaran bahasa inggris. Kris pun hanya bisa tertawa dengan jari membentuk peace sign.

JoonMyeon mengambil tempat disamping kiri SeHun. SungYeol hendak mengambil tempat disamping kiri JoonMyeon tetapi

"Permisi!" YongGuk mendorong SungYeol menjauh hingga kini ia yang ada di samping kiri JoonMyeon. Sedangkan SungYeol berhadapan dengan JoonMyeon. SungYeol yang melihat raut wajah JoonMyeon berubah seketika pun merasa khawatir akan keadaan kawannya itu.

"Sudah! Kalian semua pesanlah yang kalian mau. Kris, SeHun, kalian pesanlah juga. Aku yang traktir kali ini." Tawar HimChan pada pasangan yang memberi mereka tempat duduk itu.

"Jinjaa?! Kalau begitu aku boleh pesan Bubble Tea ya Hyung?" Pinta SeHun dengan mata berbinar lucu yang disambut dengan senyum dan anggukan dari HimChan. Kris yang gemas melihat kelucuan kekasihnya itupun dengan tega mencubit pipinya hingga nampak bekas kemerahan pada pipi SeHun.

"HYUUUNNGG! SAKIIIITTTT!" Teriak SeHun sebal sambil memukul lengan Kris.

"Kau mau minum bubble tea berapa gelas lagi sayang ? Kau sudah habis 5 gelas hari ini. Kau mau sakit perut lagi hmm?"

"Biar! Sakit perut urusan belakangan! Yang penting aku senang! Apalagi sekarang HimChan Hyung yang mentraktir. Kapan lagi aku ditraktir bubble tea oleh Mr. Kim yang terkenal pelit ini. Heheehehe." Cengir SeHun yang dihadiahi tatapan sebal oleh HimChan.

Tak lama pesanan mereka pun datang. Semua menyambutnya dengan gembira dan memakan pesanan mereka dengan lahapnya. Terutama SeHun yang terlihat paling bersemangat. Sedangkan JoonMyeon, ia memakan makanannya dengan tidak nafsu. Mungkin karna ia merasa tak nyaman.

"Joon! Kau kenapa?" Tanya HimChan yang melihat temannya sedari kecil itu nampak seperti tak nafsu makan.

"Tidak. Aku tak ap..."

"JOONMYEON HYUUUUNNGG!" Teriak seorang namja pada JoonMyeon. Ia nampak tergesa-gesa, sepertinya ia berlari mencari JoonMyeon, itu nampak dari keringat yang terlihat diwajahnya.

"YoungJae?! Ada apa?"

"Ii...itu... Hoosshh.. JongIn! Sebaiknya kau menemuinya di taman belakang kampus Hyung! Hosh hosh hosh." Ucap YoungJae dengan susah payah. JoonMyeon yang penasaran pun langsung bergegas pergi ke tempat yang dimaksud YoungJae itu.

"Terima kasih Jae. Aku pergi dulu. Hime, terima kasih traktirannya."

"Makananmu boleh kumakan kan Hyung ? Sayang makananmu belum habis ?" Tanya SeHun yang dibalas anggukan oleh JoonMyeon.

"Yeeeaaayy!" pekik SeHun. Sedangkan Kris, ia hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan kekasihnya ini.

"Aku ke kamar mandi dulu. Aku sudah tak tahan." Pamit YongGuk yang sepertinya tak tahan.

Sementara itu, JoonMyeon berlari ke taman belakang kampus. Hingga Ia melihat siluet seseorang yang ia yakini sebagai adiknya itu.

"JongIn !" Pangil JoonMyeon pada adiknya. Ia berlari menghampiri adiknya ini saat melihat tangan adiknya terkepal yang sepertinya kepalan tangan itu akan dihadiahkan pada namja tampan yang ada di depannya.

"Hyung! Kau sudah selesai? Tak ada kuliah lagi?" Tanya JongIn kaget karena JoonMyeon tiba-tiba saja datang.

"He'eemhh. Tadi ms. Han mengirim pesan pada komting kelas kalau mata kuliah tambahan sore ini tak ada. Kau sedang apa disini bersama dia?"

"Anyyeong Hyung! Aku tadi tak sengaja bertemu JongIn disini lalu kami mengobrol tentang game-game terbaru Hyung." Jelas namja tampan itu seolah tak terjadi apa-apa.

"Kau sudah selesai kan? Ayo kita pulang?" JongIn menarik lengan JoonMyeon untuk segera pergi.

"Hati-hati Hyung !"

"Kau juga! Hati-hati ya! Sampai jumpa lagi!" Pamit JoonMyeon sambil melambaikan tangannya.

"Saranghae Hyung. Aku akan mendapatkanmu." gumam namja tampan itu dengan smirk dibibirnya.

Tak ada yang mengetahui bahwa ada beberapa namja yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka di taman ini.

'Mengapa JongIn begitu possesif terhadap Hyung-nya ya?' Batin salah seorang namja itu.

'JongIn dan JoonMyeon Hyung mengapa seperti sepasang kekasih?' Batin namja lain

'Semakin menarik' batin namja lainnya dengan smirk menawannya.

Sedangkan namja yang lain hanya memandang dengan pandangan heran dengan rasa penasaran yang amat besar.

.

.

.
"Jjoooonnggg! Aku bisa jalan sendiri! Tanganku sakit pintaaarrr!" Teriak JoonMyeon pada adiknya tak mau melepaskan cengkramannya pada lengan kakaknya.

JongIn pun melepaskan cengkramannya ketika mereka sudah berada di tempat parkir, seketika itu juga JongIn memutar tubuh JoonMyeon agar menghadapnya dan

Chu~~

'Pleetttaakkk'

"Kau kenapa menciumku JongIn pintar? Ini tempat umum!" Kesal JoonMyeon setelah menjitak manis kepala adik tersayangnya itu.

JongIn bukannya takut malah ia mencengkram bahu Hyung-nya itu dan menatap tajam Hyung-nya.

"Kau milikku Hyung! Kau milikku! Milik Kim JongIn! Kim JoonMyeon hanya milik Kim JongIn!" Kata JongIn penuh penekanan.

'Glek'

'Mengapa ia bersikap seperti ini?' Batin JoonMyeon.

"Iya sayang. Aku milikmu. Kim JoonMyeon hanya milik Kim JongIn." Jawab JoonMyeon akhirnya sambil tersenyum.

"Bisakah kita sekarang pulang Jjong ? Aku lapar. Makananku tadi belum ku habiskan karna khawatir denganmu. Dan sekarang perutku sudah lapar lagi." Pinta JoonMyeon pada adiknya itu.

"Baik. Ayo kita pulang." Kata JongIn sambil memakaikan Helm JoonMyeon. JoonMyeon pun hanya bisa memerah lagi katena perhatian sang adik yang sangat ia cintai ini.

Mereka pun pulang menuju rumah mereka. Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang melihat kegiatan mereka sedari tadi.

"Jadii...?" Gumam namja itu

"Hyuunngg! Kau melihat apa?"

"Aaa..akuu? Tidak! Tidak ada! Kajja kita pergi!" Elak namja tersebut. Wajahnya masih tersirat rasa penasaran pada apa yang ia lihat tadi.

'Sebaiknya aku tanyakan langsung padanya' batinnya
'Kalau yang kulihat itu benar, berarti...' Namja itupun tersenyum akan pikirannya sendiri.

.

.

.
"Padahal sudah kubilang padanya, jangan menggunakan emosi. Tapi mengapa ia tetap saja tak bisa mengontrol emosinya? Andai JoonMyeon tak segera datang saat itu, mungkin JongIn sudah menghabisi anak itu." Kata Namja tinggi blasteran China-Kanada itu saat mengingat kejadian yang dilakukan sahabat kekasihnya itu.

"Memangnya kejadian apa Hyung? Sepertinya aku ketinggalan berita." Tanya namja tampan berdimple yang baru saja bergabung.

"Jjong dan Joon. Kau tau Myung, JongIn hampir memukul orang lagi." Jawab namja bernama SungYeol pada orang yang ternyata adalah kekasihnya itu.

"Mwoo? Siapa lagi yang hampir jadi korban Jjong? Apa sebabnya " Tanya MyungSoo pada ketiga orang yang sedang bersamanya ini.

"Adik kelas Hyung-nya, MyungSoo Hyung. Kalau sebabnya, kau jangan tanya, apalagi kalau bukan karena namja itu mendekati JoonMyeon Hyung. Aku sendiri sampai heran, dari kecil JongIn selalu bersikap posesif terhadap Hyung-nya sendiri. Jika ada yang berani mendekati Hyung-nya, maka ia tak segan akan memukul orang tersebut. Bahkan saat sekolah menengah pertama dulu, HimChan Hyung dan aku pernah hampir menjadi korbannya karena kami berdua dekat dengan JoonMyeon Hyung." Jelas SeHun.

"Akupun juga begitu Hun. Beruntung aku sudah memiliki MyungSoo sehingga ia tak sampai salah paham kemudian mencelakaiku." SungYeol pun menimpali. Kris dan MyungSoo hanya bisa saling pandang dengan tatapan 'apakah itu semua benar' pada SungYeol dan SeHun.

"Apakah itu semua benar Hun? Sampai seperti itu?" Tanya Kris yang benar-benar penasaran dan dijawab anggukan oleh SeHun dan SungYeol.

"Aaahh! Aku ingat! JongDae teman sekelasku saat kelas manajemen bisnis kalau tak salah juga pernah menjadi korban JongIn. Padahal JongDae saat itu hanya meminta agar JoonMyeon mendekatkannya pada KyungSoo. Tapi JongIn mengira JongDae mendekati kakaknya." Terang MyungSoo yang membuat ketiga orang didepannya ini menghela nafas kasar.

"Hyungdeul! Apakah kalian tak punya kenalan seorang psikolog hebat yang bisa menyembuhkannya? Rasanya 'Brother Complex Syndrome' yang dialami JongIn itu sudah keterlaluan. Aku takut sahabatku yang paling putih itu kenapa-kenapa. Akupun juga kasihan pada Joon Hyung yang hidupnya dikekang oleh adiknya sendiri." SeHun berkata dengan nada penuh kecemasan akan keadaan sahabat tersayangnya itu.

"Bukankah Hime sudah pernah melakukannya Hun? Dan hasilnya JongIn malah mengamuk pada psikolog itu. Ia tak akan suka karena ia pasti merasa dianggap gila oleh kita. Padahal itu untuk kebaikannya sendiri." Terang SungYeol yang hanya dijawab dengam helaan nafas berat oleh SeHun.

"Sebaiknya kita berdoa dan menjaga mereka supaya tak terjadi hal yang tidak kita inginkan. Everything is gonna be okay! Believe it!" Ucap Kris menenangkan tiga orang yang sedang kalut akan masalah kakak-beradik itu.

'Kuharap demikian' batin SeHun dan SungYeol bersamaan.

.

.

.
"Berhenti mengikutiku Park ChanYeol!" Kata seorang namja manis bermata sipit pada seorang namja tinggi yang berjalan di belakangnya.

"Aku hanya khawatir padamu ByunBaek. Aku lihat kau sedikit kacau, aku takut terjadi apa-apa denganmu. Aku hanya ingin melindungimu." Jawab ChanYeol pada BaekHyun sambil tersenyum idiot ciri khas dirinya.

"Aku muak denganmu ChanYeol! Sudah ku katakan aku tak akan pernah bisa menerimamu. Yang aku sukai, aah, anni, yang aku cintai dari dulu hingga sekarang itu JongIn. Apa kau tak mengerti?" jawab BaekHyun penuh penekanan pada ChanYeol.

"Tapi aku mencintaimu Byun BaekHyun! Tak bisakah kau melihatku barang sedetik saja?" Tanya ChanYeol pada BaekHyun lirih.

"Aku tau kau mencintaiku Yeol. Tapi aku ingin kau mendapatkan seseorang yang bisa dengan tulus mencintaimu juga. Dan orang itu bukanlah aku Yeol. Mengertilah. Cobalah membuka hatimu untuk orang lain." Kata baekHyun sambil menepuk pundak ChanYeol yang tertunduk. Setelah mengatakan hal tersebut, BaekHyun pun pergi meninggalkan ChanYeol tanpa rasa bersalah sedikitpun.

ChanYeol hanya bisa menghela nafasnya. Ia berjalan gontai kearah Luhan yang sedang bermain dengan ponsel. Luhan yang merasa ChanYeol didekatnya langsung berhenti memainkan ponselnya dan mengisyaratkan pada ChanYeol untuk duduk disebelahnya.

"Kenapa selalu JongIn Lu? Kenapa ia tak pernah memandangku? Apa kurangku Lu? Apa karna aku sama denganmu Lu? Sama-sama tak mempunyai orang tua?" Tanya ChanYeol pilu sembari menidurkan kepalanya di pangkuan Luhan.

"Hei! Aku tak sama denganmu bodoh! Kau mengenal jelas siapa kedua orang tuamu. Sedangkan aku? Wajanya pun aku tak tahu, karna sejak bayi aku sudah tinggal di panti. Jadi beda kan? Hehehe."

"Luu?"

"Bersabarlah Yeol. Tak ada yang kurang dari dirimu. Mungkin dia belum menyadari bahwa hanya Kau yang mencintainya dengan tulus, menjaganya dengan segenap hatimu, menyayanginya melebihi menyayagi dirimu sendiri. Mungkin ia masih silau akan pesona JongIn yang seperti emas hingga ia tak sadar bahwa didekatnya ada batu Kristal yang jauh lebih indah dan berkilau daripada emas." Kata Luhan sambil mengusap kepala ChanYeol lembut berharap sentuhan itu dapat menenangkan hati ChanYeol.

"Kau memang selalu bisa menenangkanku Lu. Kau memang sahabat terbaikku. Aku menyayangimu Lu." Kata ChanYeol sambil menutup matanya menikmati sentuhan LuHan.

'Tapi Aku mencintaimu sahabatku' batin Luhan sambil tersenyum. Matanya memandang kosong kedepan, tak mau memandang sahabat yang ia cintai ini.

"Aku menyayangimu juga. Bersabarlah, sebentar lagi BakHyun akan segera menjadi milikmu." Jawab luhan akhirnya. ChanYeol pun tersenyum mendengarnya.

.

.

.
'Drrtttt'

From : 08xxxxxxxxxxx
To : JongIn Kim
Message :
Bisakah kita bertemu? Ada yang ingin aku bicarakan padamu.

'Nomor siapa ini?' Batin JongIn setelah membaca pesan singkat itu.

To : 08xxxxxxxxxxx
Message :
Siapa kau? Apa maumu? Kalau ada yang ingin kau katakan, katakan sekarang!

Send

JongIn menunggu balasan dari pengirim pesan itu dengan perasaan tak menentu. Ia mempunyai firasat buruk dengan si pengirim pesan ini.

'Drrrtt'

From : 08xxxxxxxxxxx
To : JongIn Kim
Message :
Kau akan tahu setelah kita bertemu. Aku berjanji aku tak akan mencari masalah denganmu.

To : 08xxxxxxxxxxx
Message :
Baiklah, besok di Mato Cafe kita bertemu. Jamnya, akan ku beritahu kau besok!

'Drrrttt'

From : 08xxxxxxxxxxx
To : JongIn Kim
Message :
Baiklah. Terima kasih JongIn

'Huufftthh' JongIn menghela nafas sejenak. Sungguh hari ini ia benar-benar kehilangan moodnya.

'Ceklek'

Seorang namja manis dengan rambut yang masih basah baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengusap-usap kepalanya dengan handuk. Ia heran melihat wajah adik semata wayangnya itu nampak sangat kusut. Ia menghampiri adiknya itu bermaksud untuk menenangkannya.

Chu~~

Ia kecup bibir tebal itu kemudian mengusap pipi sang adik agar sang adik mau memandangnya.

"Kau kenapa? Apakah ada masalah? Atau aku memiliki salah?" Tanya JoonMyeon Khawatir. JongIn hanya menggeleng, sedetik kemudian ia memeluk kakaknya erat dan menciumi puncak kepalanya, menghirup wangi shampoo yang memenuhi indra penciumannya.

"Aku takut Hyung. Aku takut. Aku tak mau kehilanganmu Hyung." Jawab JongIn sambil memandang kakaknya intens. Air mata pun sepertinya sudah menggenang di kedua pelupuk mata JongIn. Sang kakak yang melihatnya merasa tak tega, ia pun mencium JongIn melumatnya pelahan agar JongIn merasa tenang. Sungguh, ia pun sebenarnya juga merasa takut jika harus berpisah dan kehilangan JongIn. Ia tak pernah bisa membayangkan dirinya akan dipisahkan dari orang yang dicintainya ini. Walaupun ia tahu kemungkinan itu pasti besar adanya mengingat mereka adalah saudara sedarah.

"Eeeuunngghh"

"Eemmpphh..Eeuunnggh"

Ciuman mereka pun semakin panas. Desahan dan lenguhan pun mengalun indah dari bibir mereka.

'Dokk Dokk Dokk'

"Euummpphh..Aaaaaaahh..." Desah mereka setelah ciuman mereka terlepas.

"Siapa?" Teriak JoonMyeon dari dalam kamar.

"Saya tuan muda. Hanya ingin menyampaikan kalau Tuan dan Nyonya ingin berbicara dengan tuan muda JoonMyeon dan Tuan muda JongIn sekarang. Beliau sudah menunggu di ruang kerjanya." Jelas wanita yang sedang berada di depan pintu kamar mereka itu.

"Baiklah bi, kami akan segera kesana." Sahut JoonMyeon.

"Tumben mereka sudah pulang? Ini bahkan belum jam 5 sore?" Tanya JongIn heran sedangkan kakaknya hanya mengangkat bahu.

"Sebaiknya kita segera turun. Ayo!"

.
Merek berdua kini sudah berada di ruang kerja ayahnya bersama ibunya. Suasana dalam ruangan ini terasa sangat canggung.

'Ehheem' yang ayah pun berdehem terlebih dahulu sebelum memulai pembicaraan.

"Begini JoonMyeon, mengenai Kolega ayah, ia ingin mempercepat pertemuan keluarga yang harusnya dilakukan 3 minggu lagi. Ia ingin pertemuan itu dipercepat menjadi dua hari lagi. Jadi, kosongkan jadwal kalian 2 hari lagi agar kita bisa menjamu mereka dengan baik. Termasuk kau JongIn."

JongIn dan JoonMyeon yang terlalu kaget hanya bisa terdiam. Mereka terlalu lelah untuk sekedar berdebat dengan sang ayah. Mereka hanya mampu saling menggenggam dan memandang dengan pandangan pilu. Sedangkan sang ibu hanya diam tersenyum memandang kedua anaknya. Tak ada seorang pun yang mengerti perasaan mereka.

'Huufftthhh'

'Can We life together after this' batin mereka meratapi nasib cinta mereka

.
.
.
.
.
.
lanjut di part 5
.
.
.
.
.
.

saya kali ini bawa Chapter 4 nya si KaiHo ini.. makasi buat siapapun yang baca baik dengan review ataupun tanpa review.

Part 5 sudah jadi, kalo responnya bagus siihh, bakal saya update kilat.. wehehehehe. bercanda.. xD

Saya nulis FF ini karna saya suka, bukan karna apapun.. jadi saya gag maksa untuk Review kok.. Tapi saya butuh Kritik dan saran kalian semua..

.

.

.

.
so, Please, Coment ! Review ! :)
Ini cuma fic, jangan diambil hati :)
Makasi makasi :)