Author : Vy

Rated : T to M (PG-17 maybe ?)

Genre : Tentuin sendiri lah xDD

Lenght : Chaptered

Cast :
Kim Joon Myeon, Kim Jong In, Byun Baek Hyun, Xi Lu Han, Park Chan Yeol, Huang Zi Tao, Bang Yong Guk, Wu Yi Fan / Kris Wu, Oh Se Hun, Lee Sung Yeol, Kim Myung Soo, Yoo Young Jae, Kim Him Chan, Moon Jong Up, And other

Note :
Habis baca jangan lupa Coment ! Review ! Oyi?
Kritik dan saran sangat dibutuhkan :D

Warning :
Yaoi / Shou-ai, Incest, Typo (s), OOC (maybe?), bahasa aneh, cerita membosankan, dan lain sebagainya.
-inget yaaa.. Ini epep main pair nya KaiHo :D-

Disclaimer :
Suho punya Kai, Kai punya Suho ! *bllettakk*
Cast punya Tuhan, orang tua, keluarga, manajemen, dan Fansnya. Tapi Yoochun, Chen, Yongguk, TOP milik gue! Hahahahagz xDD
Cerita punya gue ! Asli dari otak kurang waras gue !

Yaudah ! Mulai aja lah ! Happy reading :D

.

The Story Begin

.

Author POV

'Ceklek'

"CHANYEOL?!" Kaget Luhan setelah pintu apartemennya terbuka.

"Kau darimana saja? Semalam kau tidur dimana? Kau sudah makan?" Luhan menanyai ChanYeol. Sejak kejadian di cafe sore itu, ChanYeol sama sekali tak bertemu dengan Luhan. Bahkan ia tak pulang ke apartementnya bersama Luhan.

"Bukan urusanmu!" Desis ChanYeol membuat Luhan membisu.

"Kau? Marah padaku?" Tanya Luhan lirih.

"Setelah apa yang kau lakukan, kau masih bertanya seperti itu? Apakah otakmu sudah tak berfungsi XI LUHAN?!" Tutur ChanYeol penuh penekanan.

"Aaa..akuu bisa menjelaskan semuanya Yeol. Aku..."

"Kau apa? Kau tak bermaksud menyakiti BaekHyun? Kau dan JongIn sudah lama berhubungan, tetapi kau tak mengatakan pada BaekHyun karna kau takut menyakitinya?! ITU ALASAN KUNO LU !"

"Dengarkan aku dulu Yeol?"

"DENGARKAN APA?! KAU TAK TAHU KAN BETAPA HANCURNYA BAEKHYUN SAAT ITU?" Bentak ChanYeol pada Luhan. Luhan hanya diam menunduk, hatinya sakit! Tapi ChanYeol tak tahu dan memang tak pernah mau tahu. Di otak ChanYeol, hanya BaekHyun lah yang terpenting. Tak peduli bagaimana sikap BaekHyun kepadanya.

"Kau tahu Lu? Hatiku sakit melihatnya terluka seperti itu. Hatiku hancur melihatnya hancur Lu."

"Maafkan aku." Ucap Luhan.

"Setelah kau membuat orang yang ku cintai hancur seperti itu? Aku tak bisa Lu."

"Yeol?"

"Tak usah menyebut namaku lagi! Anggap kita tak pernah bertemu apalagi berteman Lu."

'Huufftthh...' Luhan hanya bisa menghela nafas, berharap bisa melepaskan segala sesak yang ada di dadanya. Pelahan ia mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunuduk, ia beranikan dirinya menatap ChanYeol, senyum terbaik ia berikan pada ChanYeol.

"Baiklah kalau begitu. Aku mengerti. Aku harap kau bisa menjaga BaekHyun dengan baik."

"Tak usah kau suruh, aku tak akan pergi dari sisi BaekHyun dan akan selalu menjaganya."

"Hee'eemh" gumam Luhan sambil mengangguk.

"Hari ini aku menginap disini, sekaligus membereskan barang-barangku. Aku akan pergi dan mencari tempat tinggal lain. Aku tak bisa tinggal bersama penghianat sepertimu!" Setelah mengatakan hal tersebut, ChanYeol masuk ke kamarnya. Membanting pintu kamarnya dengan sangat keras.

'Brak'

Sakit!

Hati Luhan sangat sakit mendengarnya. Namun, ia hanya bisa tersenyum menerima segalanya.

"AAARRGGGHHH!"

Perih!

Air mata pun tak dapat Luhan bendung lagi. Seiring dengan teriakan ChanYeol, air mata itu pun mengalir dengan deras.

Tersenyum.

Yaa! Luhan hanya mampu tersenyum. Mencoba tegar dengan semua ini.

Pelahan, ia langkahkan kakinya menuju kamarnya yang berada di sebelah kamar ChanYeol. Kakinya berhenti di depan kamar ChanYeol. Ia usap pintu kamar itu sejenak.

'Kuharap kau bisa mendapatkan kebahagiaanmu setelah ini Yeol.' Batin Luhan sambil tersenyum.

.

.

.

Malam ini terasa begitu canggung bagi sepasang namja yang sedang berbaring di tempat tidur mereka. JoonMyen sang kakak tidur telentang memandang langit-langit kamarnya. Sedangkan JongIn, ia tidur membelakangi JoonMyeon.

Sejak pertemuan dengan keluarga Mr. Huang selesai, keduanya sama sekali tak bertegur sapa. Bahkan, saling memandang pun tidak.

"Eemm,, Hyung? Kau sudah tidur?" Tanya JongIn memecah keheningan.

"Belum. Kenapa?"

"Soal yang kemarin..." JongIn menggantungkan kalimatnya.

"Tak usah dibahas Jjong. Aku tak apa." Jawab JongIn.

JongIn segera berbalik menghadap JoonMyeon, membelai pipi JoonMyeon, membuat JoonMyeon menoleh ke arahnya.

"Percayalah padaku Hyung. Aku dan Luhan tak saling mencintai. Ia yang memintaku untuk berpura-pura menjadi kekasihnya, ia melakukannya untuk mengelabui kedua temannya. Aku mencintaimu Hyung. Sungguh." Jelas JongIn menatap JoonMyeon. JoonMyeon tau adiknya ini tak mungkin berbohong. Tapi, hatinya masih sakit bila mengingat kejadian itu.

"Sudahlah Jjong. Tak usah membahasnya. Aku percaya padamu. Tetapi, jika memang kau dan dia benar saling mencintai pun aku tak apa. Aku siap jika kau meninggalkanku. Karna memang begitulah yang seharusnya terjadi."

JongIn segera mendekap JoonMyeon. Membawa JoonMyeon dalam pelukan hangatnya. JongIn tahu, JoonMyeonnya ini merasakan sakit yang luar biasa. Walaupun ia tak pernah menangis, tetapi sorot matanya terlihat jelas bahwa ia tengah terluka.

"Hyung. Kumohon, percayalah. Aku tak akan meninggalkanmu. Aku milikmu dan Kau milikku ! Tak ada yang bisa merubahnya Hyung." JongIn melepaskan pelukannya sebentar untuk memandang JoonMyeon.

"Aku percaya padamu Jjong. Namun aku tak yakin kita bisa terus seperti ini Jjong. Aku...akuu..." JoonMyeon tak sanggup lagi mengatakannya. Dadanya terlalu sesak.

Chu~

"Jangan katakan hal apapun tentang perpisahan Hyung. Kita sudah berjanji kan, akan menghadapi semuanya bersama?" Ucap JongIn setelah mengecup bibir JoonMyeon.

"Hee'eem." JoonMyeon mengangguk. Lidahnya sungguh kelu, otaknya beku, ia benar-benar tak bisa berpikir sekarang.

JongIn segera memutar tubuhnya telentang, masih dengan sang kakak yang ada dalam pelukannya, hingga tubuhnya berada diatas tubuh JongIn. JongIn mendekap erat JoonMyeon, sedangkan yang didekap hanya menyamankan kepalanya diatas dada JongIn. Terdengar jelas detak jantung JongIn yang amat cepat, seperti detak jantungnya saat ini.

"Tidurlah Hyung. Aku akan memelukmu. Jaljayo." Ucap JongIn lalu mencium puncak kepala sang kakak.

"Ne. Jalja."

.

.

.

"Hoooaaaammhhh." Seorang namja manis berkulit seputih susu menguap dengan lebarnya. Ia mengerjapkan matanya imut, mengembalikan kesadarannya.

"Kau sudah bangun sayang?" Tanya seorang namja tinggi yang memasuki kamarnya, sambil membawa nampan berisi sepiring roti dan segelas susu coklat.

"Eh? Kris Hyung? Aku kesiangan ya? Kenapa kau tak membangunkanku kalau kau ingin sarapan?" Tanya Sehun dengan suara seraknya.

Kris meletakkan makanan yang ia bawa di atas nakas. Kemudian mengambil duduk disebelah Sehun, membantu Sehun untuk duduk.

"Aarrssshhh" Ringis Sehun saat merasakan nyeri di bagian bawahnya. Setelah duduk, ia menyandarkan kepalanya di dada sang kekasih. Sedangkan Kris, mengusap kepala Sehun Lembut, sesekali mengecup puncak kepalanya.

"Apakah masih sakit sayang?" Tanya Kris. SeHun hanya mengangguk sebagai jawabannya. Ia malah menyamankan kepalanya di dada sang kekasih.

"Maafkan aku sayang."

"Aku tak apa Hyung. Sebentar lagi juga hilang sakitnya." Ucap Sehun sambil tersenyum manis.

"Hyuuunngg.." Panggil SeHun manja sambil memainkan jari-jarinya di dada bidang Kris.

"Hmm?"

Chu~

"Morning kiss. Hehehe." Ucap Sehun setelah mengecup bibir Kris kilat.

"Kau mulai pintar menggodaku Sehun Wu." Ucap Kris dengan smirk menawan di bibirnya.

"Hey! Margaku 'Oh' bukan 'Wu' tuan Angry Bird!"

"Tetapi margamu akan berubah menjadi 'Wu' sebentar lagi sayang."

"Dasar!" Umpat Sehun sambil memukul lengan Kris manja.

"Hun."

"Hmm?"

"I Love You."

"I Love You too Mr. Angry Bird."

Chu~

"Aaarrgghh.. Hyuuuunngghhh.." Erang Sehun saat Kris menurunkan ciumannya, menggigit kecil kulit lehernya. Menambah hasil karyanya semalam di tubuh Sehun tercintanya itu.

"Euuunngghhh..."

"Kriii...ssssshhhh..."

Kegiatan panas itupun terus berlanjut. Suara derit kasur pun menjadi backsound kegiatan mereka. Kris semakin menggila saat mendengar Sehun mendesahkan namanya. Tubuh mereka pun sudah sama-sama polos sekarang.

'Ting Tong'

"Eeuunngghh.."

"Aahh.. Kriisshh... Hyuunngg.."

'Ting Tong'

"Aahhh.. Aahhh.. Aaahhhh.. Hyuunngg..."

"Huuunn... Oouuhhssshhh.."

'Ting Tong'

"Aaaaaahhh... Theeerrreeee Hyuunngghhh.. Deepeerrhhh Eeeuunngghh..."

"Yyeeesshhh... Eeeuuunngghhh.."

'Ting Tong'

"AAAHHH... KRIIII...SSSHH.."

"OOHH.. SeHuuunn.."

'Ting Tong'

Bel apartment mereka terus berbunyi. Namun, mereka malah sibuk menstabilkan nafas mereka.

'Ting Tong'

"Hyung! Sebaiknya kau bukakan pintu sekarang. Dia datang pagi sekali, pasti ada hal penting." Pinta Sehun dengan susah payah.

"Oke sayang. Kau pakai bajumu sekarang."

"Hyung?"

"Ada apa sayang?"

"Kau yakin mau menemui tamu kita dengan keadaan naked?" Tanya Sehun dengan wajah poker face setelah melihat Kris yang langsung berjalan ke depan tanpa berpakaian terlebih dahulu.

"Hehehe. Aku lupa." Sehun pun memutar bola matanya malas. Setelah keduanya berpakaian, Kris langsung membukakan pintu.

'Ceklek'

"Annyeong Kris."

"Luhan? Silahkan masuk." Kris mempersilahkan Luhan, sang tamu untuk masuk dan duduk di kursi tamu mereka.

"Siapa... Oohh! Luhan Hyung! Annyeong."

"Annyeong Sehun. Apakah aku mengganggu kalian?" Tanya Luhan pada Sehun.

"Tidak Hyung. Hyung, mau minum apa? Aku buatkan ya?" Tawar Sehun.

"Air putih saja Sehun."

"Baiklah."

Sehun pergi meninggalkan Kris dan Luhan berdua. Keadaan menjadi hening. Luhan terus menundukkan kepalanya membuat Kris heran akan keadaan temannya ini.

"Ini minuman mu Hyung." Bahkan suara Sehun pun tak membuatnya bergeming. Ia terus menunduk dengan pandangan mata kosong.

"Luhan Hyung?" Panggil Sehun sekali lagi.

"Aahh! Ne?" Sahut Luhan.

"Minumlah dulu. Sepertinya kau kurang sehat. Aku akan membuatkan sarapan dulu untukmu. Kris Hyung, temani Luhan Hyung ne?"

"Tak usah repot Sehun. Aku hanya ingin minta tolong pada kalian." Perkataan Luhan membuat Sehun duduk kembali.

"Kau kenapa Lu? Apa ada masalah?" Tanya Kris.

"Bolehkah aku menginap disini untuk sementara? Sampai aku mendapatkan pekerjaan dan tempat tinggal yang baru."

"Memangnya pekerjaan dan apartment lamamu kenapa Lu?" Tanya Kris. Luhan tak menjawab, ia hanya terus menunduk. Membuat Kris dan Sehun heran dan khawatir terhadap keadaannya.

"Apartment kami cuma 2 kamar Lu. 1 kamar untukku dan Sehun, kamar satunya milik sepupuku MinSeok Hyung yang sekarang sedang dinas ke Taipei.. Bagaimana kalau kau menginap di apartment teman Sehun saja?"

"Iya Hyung. Kalau kau disini, kau akan tidur dimana? Lebih baik menginap di apartment YoungJae saja bagaimana? Apartment YoungJae bersebelahan dengan kami kok Hyung."

"Apakah tak merepotkan Sehun?"

"Sebentar, aku tanyakan dulu padanya." Sehun berlari mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan pada YoungJae.

'Ting Tong'

"Pasti YoungJae. Aku mengiriminya sms, menyuruhnya datang kemari."

Sehun berlari menuju pintu depan.

"Ada apa kau menyuruhku datang kemari pagi-pagi Sehun?! Tak tahukah kau aku masih mengantuk?!" Tanya YoungJae sebal. Ia datang masih dengan menggunakan piyama tidurnya yang bergambar babi dan sandal tidur berhiaskan kepala monyet. Menandakan dia masih tidur saat Sehun mengirimkan sms padanya.

"Aku ingin kau menolong kami. Kau masuklah dulu."

YoungJae berjalan gontai dengan mata setengah terpejam menuju ruang tamu.

"Lho? Luhan Hyung?" Kaget YoungJae melihat Luhan ada disana.

"Duduklah Jae." Kris menyuruh YongJae duduk terlebih dahulu.

"To the point Jae. Bisakah kau membantu Luhan Hyung? Bisakah Luhan Hyung tinggal denganmu untuk sementara waktu?" Ucap Sehun.

"Luhan Hyung mau menginap di apartmentku? Apa itu benar Hyung."

"Benar Jae. Bisakah kau membantuku? Untuk sementara waktu saja." Pinta Luhan.

"Benarkah? Yessss.. Akhirnya aku mempunyai teman yang tinggal denganku. Hahahaha." Pekik YoungJae kegirangan. Maklum saja, dia bosan harus tinggal sendiri.

"Tak masalah kau mau menginap berapa lama Hyung. Tinggalah bersamaku selama yang kau inginkan."

"Terima kasih Jae. Maafkan aku telah merepotkanmu."

"Tak apa Hyung. Aku senang bisa membantumu. Kalau begitu, kita pergi sekarang. Hyung pasti butuh istirahat, terlihat sekali wajahmu pucat."

"Baiklah. Sehun, Kris, terima kasih. Maaf pagi-pagi sudah mengganggu kalian." Ucap Luhan sembari tersenyum. Sehun datang menghampirinya dan memeluk Luhan.

"Tak apa Hyung. Jika kau ada masalah, atau kau butuh bantuan kami, kami bertiga siap membantu Hyung." Ucap Sehun yang membuat Luhan tersenyum.

"Terima kasih." Ucap Luhan.

"Baiklah. Kami pergi sekarang. Ayo Hyung, aku bantu membawa barang-barangmu." Ajak YoungJae. Mereka berdua pun pergi meninggalkan Kris dan Sehun.

"Sepertinya ini ada hubungannya dengan JongIn, ChanYeol, serta BaekHyun." Ucap Sehun sambil memandang pintu depan apartmentnya.

"Sok tahu sekali kau sayang." Ucap Kris sambil mencubit hidung mancung Sehun gemas.

"Auuww! Kau tahu kalau aku tak pernah salah dengan feelingku tuan Wu!"

"Iya iya sayang. Semoga ketakutanmu itu tak terjadi. Semoga semua baik-baik saja."

"Semoga." Jawab Sehun.

.

.

.

"Hooaaaammhh"

ChanYeol menguap dengan lebarnya. Matanya mengerjap berulang kali agar kesadarannya cepat kembali. Matanya melirik kearah jam weker di sebelahnya.

"Masih jam 7 pagi." Gumamnya.

Ia berjalan malas keluar kamarnya. Ie menoleh ke kamar yang berada di sebelahnya.

"Tumben belum bangun?" Gumamnya. Ia berjalan kembali menuju ruang makan untuk mengambil minum. Ternyata di meja makan sudah tersedia nasi dan bermacam lauk pauk.

"Hmm, mungkin ia sudah berangkat ke kampus. Tapi, pagi sekali?" Gumamnya heran. Luhan memang paling susah untuk bangun pagi. Tapi sekarang? Bahkan ia sudah menyiapkan sarapan dalam jumlah banyak untunya.

"Sudahlah, lebih baik aku siap-siap. Pulang kerja, aku akan langsung berpamitan dengannya." Ia pun mandi dan bersiap-siap tanpa memakan sarapannya. Gengsi mungkin?

.

.

.

"BlackJjooonnggg! Cepatlah! 45 menit lagi kuliahku segera dimulai." Pekik JoonMyeon sambil memakai sepatunya.

"Kau ribut sekali Hyung! Sudah tau ada kuliah pagi, kau malah tak tidur semalaman. Padahal kuliahku masih dimulai 2 jam lagi. Hooaammhh." Cerocos JongIn sambil menguap. Gara-gara obrolan semalam, keduanya tak bisa tidur sama sekali.

"Aiissshh... Memangnya gara-gara siapa aku tak bisa tidur begini Kim Jong Black?!"

'Ting Tong'

"Hhhaaahhh.. Siapa lagi pagi-pagi begini datang kerumah orang! Menyebalkan!"

'Ceklek'

"Pagi JunMaHao"

"Zi Tao? Pagi.. Mengapa kau pagi-pagi sekali datang kemari?" Tanya JoonMyeon setelah membukakan pintu.

"Menjemputmu." Jawab Tao sambil tersenyum manis.

"Siapa yang... Oohh, kau." Ucap JongIn malas setelah mengetahui siapa yang datang.

JoonMyeon bingung harus bagaimana sekarang. Terlihat jelas di raut wajahnya yang terlihat sangat gugup. Ia akhirnya menarik JongIn masuk ke kamarnya, sebelumnya ia menyuruh Tao untuk duduk di ruang tamu terlebih dahulu.

"Kenapa tak kau usir saja dia Hyung?" Tanya JongIn.

"Mana mungkin aku mengusirnya bodoh. Kau mau Umma dan Appa marah padaku?"

"Tapi Hyuuunnggg..."

Chu~

"Aku milikmu, Kau milikku. Ingat? Kau percaya padaku kan? Sekarang lanjutkan saja tidurmu, kau bilang kuliahmu masih 2 jam lagi kan? Nanti pulang kuliah aku akan menunggumu. Kita pulang bersama."

"Baiklah. Tapi malam ini, kau harus membayar semuanya Hyung." Ucap JongIn yang dihadiahi pukulan manis dikepalanya.

"Baik baik. Terserah kau. Sekarang aku berangkat ya."

"Hati-hati Hyung. Jangan terlalu dekat dengannya!"

"Ne." Setelah berpamitan dengan JongIn, JoonMyeon menemui Tao yang ada di ruang tamu.

"Ayo Tao. Kita berangkat sekarang."

"Aahh! Ne Hyung."

.

.

.

"ChanYeol!"

"Aahh! ShinDong Hyung. Wae?"

"Apa kau tadi bertemu dengan Luhan di kampus?" Tanya pemuda sedikit tambun itu pada ChanYeol.

"Aku tak ada jadwal kuliah hari ini Hyung. Di apartement pun aku tak bertemu dengannya. Ada apa?" Tanya ChanYeol pada pemuda yang diketahui adalah atasannya ini.

"Tidak. Tadi pagi-pagi sekali dia datang dan menyerahkan surat pengunduran dirinya padaku. Dia juga menitipkan surat ini untukmu." ShinDong menyerahkan amplop yang berisi surat untuk ChanYeol.

"Dia bilang, ia tak lagi tinggal bersamamu, makanya dia menitipkan surat itu padaku. Aku khawatir padanya. Wajahnya terlihat sangat pucat saat datang kemari tadi." Lanjut ShinDong, ChanYeol hanya diam membisu, hanya memandangi surat dari Luhan.

"Yeol!"

"Ne Hyung?"

"Apapun masalah kalian, selesaikanlah baik-baik. Jangan sampai masalah kalian merusak hubungan baik kalian. Kalian berdua sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Aku ingin yang terbaik untuk kalian berdua." Ucap ShinDong sambil menepuk pundak ChanYeol.

"Ne Hyung. Aku akan membaca suratnya nanti dan akan meminta penjelasannya saat bertemu dengannya. Terima kasih Hyung." Jawab ChanYeol sebelum akhirnya ia kembali bekerja dan ShinDong kembali ke ruangannya.

.

.

.

"APAAAA?!" Teriak 2 orang itu heboh di kelas mereka yang menyebabkan mahasiswa lainnya mendelik kearah mereka.

"Haaiiissshh.. Ekspresi kalian benar-benar berlebihan." Ucap JoonMyeon pada dua orang yang tadi berteriak itu.

"Jadi kau dijodohkan dengan Tao? Anak panda itu? Apa itu benar?" Tanya SungYeol tak percaya. JoonMyeon hanya mengangguk.

"Lalu, JongIn bagaimana? Bukankah dia tak suka dengannya?" Kali ini HimChan yang bertanya.

"Jelas ia tak terima. Tapi kalian tahu sendiri kan bagaimana Appaku itu. Siapa yang bisa melawannya." Jawab JoonMyeon dengan nada pasrah.

"Aku masih tak percaya." Ucap SungYeol sambil menggelengkan kepalanya. Sungguh, berita yang dibawa JoonMyeon pagi ini benar-benar mengejutkan kedua sahabatnya ini.

"Sepertinya keputusan ayahmu akan membawa masalah besar setelah ini." HimChan berucap dengan gaya sok tahunya.

"Kau semakin membuatku pusing Him." Ucap JoonMyeon sembari menenggelamkan kepalanya pada lipatan tangannya diatas meja.

"Tenanglah Joon, aku dan SungYeol akan selalu disampingmu."

"Hmm, aku tahu kalian memang sahabat terbaikku." Ucap JoonMyeon sambil tersenyum pada HimChan dan SungYeol.

.

.

.

.

.

.

part 6 update...

.

.

.

maap kaihonya dikit, gag tau napa pas bikin part 6 ini yang ada di otakku malah Krishun.. wekekekekekk...

.

.

makasi buat yang mau baca... part 7nya uda jadi kok, kalo nganggur baru update... wehehehe

.

.

yawess,, review jangan lupa yaaa...

.

.

wassalam xDD