Author : Vy
Rated : T to M (PG-17 maybe ?)
Genre : Tentuin sendiri lah xDD
Lenght : Chaptered
Cast :
Kim Joon Myeon, Kim Jong In, Byun Baek Hyun, Xi Lu Han, Park Chan Yeol, Huang Zi Tao, Bang Yong Guk, Wu Yi Fan / Kris Wu, Oh Se Hun, Lee Sung Yeol, Kim Myung Soo, Yoo Young Jae, Kim Him Chan, Moon Jong Up, And other
Note :
Habis baca jangan lupa Coment ! Review ! Oyi?
Kritik dan saran sangat dibutuhkan :D
Warning :
Yaoi / Shou-ai, Incest, Typo (s), OOC (maybe?), bahasa aneh, cerita membosankan, dan lain sebagainya.
-inget yaaa.. Ini epep main pair nya KaiHo :D-
Disclaimer :
Suho punya Kai, Kai punya Suho ! *bllettakk*
Cast punya Tuhan, orang tua, keluarga, manajemen, dan Fansnya. Tapi Yoochun, Chen, Yongguk, TOP milik gue! Hahahahagz xDD
Cerita punya gue ! Asli dari otak kurang waras gue !
Yaudah ! Mulai aja lah ! Happy reading :D
.
The Story Begin
.
Author POV
"APAA?!" Ekspresi yang sama ditunjukkan YoungJae saat JongIn bercerita tentang yang dialaminya akhir-akhir ini.
"Ekspresimu sungguh berlebihan Jae!" Ucap JongIn malas.
"Jadi kau berpura-pura pacaran dengan Luhan Hyung dan JoonMyeon Hyung mengetahuinya? Lalu JoonMyeon Hyung dijodohkan dengan anak panda yang hampir kau tonjok itu? Aisssshh,, mengapa kisah cintamu makin rumit begini Jjong? Ckckckck." Ucap YoungJae prihatin akan nasib kawannya ini. Dari semua kawan JongIn, hanya YoungJae lah yang mengetahui bagaimana hubungan dia dengan JoonMyeon yang sebenarnya. Dan YoungJae hanya diam saja, dia beranggapan 'tak ada yang salah dengan cinta kalian. Karna Tuhan yang memberikan perasaan itu dan Tuhan pasti memiliki maksud tersendiri dalam rencananya'. Itulah anggapan YoungJae akan kisah cinta JongIn.
"Hmm. Hyung-ku memergoki kami saat sedang 'berakting' di Cafe saat itu. Dan yaa, ia dijodohkan dengan Huang Zi Tao. Aku pusing Jae, kau tau kan aku sangat membencinya. Sifat percaya dirinya yang berlebihan membuatku muak Jae."
"Bersabarlah Jjong. Aku yakin ada rencana dibalik ini semua." Ucap YoungJae sambil menepuk pundak JongIn, memberi kekuatan untuk sahabatnya ini.
"Hhmm.. Eeh Jae?! Luhan Hyung tak cerita apapun padamu?"
"Tidak. Yang kutahu dia hanya bercerita tentang masalah kalian di Cafe saat itu. Untuk penyebab dia tinggal di tempatku, dia bilang kalau dia bermasalah dengan ChanYeol. Hanya itu."
"Kau tahu Jjong, sampai saat aku tinggal tadi, Luhan Hyung hanya melamun. Wajahnya pucat. Benar-benar mengkhawatirkan." Sambung YoungJae.
"ChanYeol memang keterlaluan. Apakah ia tak bisa melihat ketulusan dari sahabatnya itu. Bodoh." Ucap JongIn pada YoungJae.
"Hmm.. Kisah kalian benar-benar rumit. Cinta kalian tak lagi bersegi, tetapi bercabang-cabang. Seperti dalam drama. Jika aku memiliki banyak uang, maka aku tak segan-segan menjadikan kisahmu ini sebagai serial drama. Hahaha."
"Sialan kau Jae." Jawab JongIn sambil tersenyum. Setidaknya, sahabatnya ini masih bisa menghiburnya disaat kalut seperti ini.
.
.
.
.
.
"Joon, kami duluan ya." Pamit SungYeol dan HimChan bersamaan.
"Ya ya ya, bersenang-senanglah dengan kekasih kalian." Jawab JoonMyeon pura-pura sebal dengan kawannya ini.
"Bukankah kau juga memiliki kekasih. Oh! Calon tunangan malah." Ejek HimChan pada JoonMyeon.
"Benar! Jadi cobalah bersenang-senang juga dengan Zi Tao-mu itu wahai JoonMaHao. Sepertinya dia orang yang cukup romantis." Sambung SungYeol.
"Berhenti bicara atau sepatuku akan mencium bibir kalian yang seksi itu." Ucap JoonMyeon sambil mengancam mereka.
"Hahaha. Iya iya. Yasudah. Kami pergi. Bye." Pamit Himchan. Mereka pun meninggalkan JoonMyeon sendirian di kelasnya.
'Huufftthh'
JoonMyeon mendesah malas. Setelah selesai membereskan barangnya, ia tidak langsung meninggalkan kelasnya, ia malah duduk bersandar sambil memejamkan matanya.
"Apa kabar Kim JoonMyeon?" Suara berat itu mengagetkan JoonMyeon.
"Yong..YongGuk?" Jawab JoonMyeon. Matanya membelalak lebar setelah tahu suara siapa yang menyadarkannya.
"Kau semakin manis saja JoonMyeon." Ucap Yongguk sambil mendekati JoonMyeon.
"Ya ya, terima kasih. Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya JoonMyeon santai. Tapi wajahnya menunnjukkan kalau dia sedang gugup saat ini.
"Aku tadi melihatmu sendirian. Tak bolehkah aku menemani sahabatku ini, hm?" Jawab Yongguk sambil membelai pipi JoonMyeon. JoonMyeon hanya bisa menelan ludahnya kasar.
"Tak usah takut Joon. Aku hanya ingin menemanimu. Apa hanya adikmu saja yang boleh menemanimu? Eh?! Aku salah. Kekasih. Tetapi dia adikmu? Lalu mana yang benar? Kekasih? Adik? Atau keduanya?" Ucap Yongguk sambil menyeringai lebar.
"Jangan ikut campur masalahku tuan Bang. Itu urusanku." Jawab JoonMyeon ketus. Ia membuang muka, takut akan tatapan tajam Yongguk.
"Ow... JoonMyeon-ku yang manis ini sudah belajar ketus rupanya. Tenanglah, aku masih menyimpan rahasia ini rapat-rapat."
"Tetapi, jika saatnya tiba, maka aku akan membeberkan semua rahasia kalian. Dan Kau! Akan menjadi milikku sayang." Yongguk menyambung perkataannya. JoonMyeon yang sedari tadi membuang muka, kini menatap tajam mata Yongguk. Ia sungguh tak menyangka kalau -mantan- sahabatnya ini benar-benar berubah.
"Apa maumu sebenarnya?!"
"Kau tanya apa mauku? Sejak dulu mauku hanya Kau Kim JoonMyeon. Tapi kau menolakku dan lebih menyakitkan lagi, kau berpacaran dengan adikmu sendiri. Sungguh diluar dugaanku."
"Kau tau aku menyayangimu, kau sahabatku Yongguk."
"Tapi aku ingin lebih Joon!" Bentak Yongguk. Ia mencengkram pipi JoonMyeon hingga membuat JoonMyeon meringis.
"Lepaskan aku Bang Yongguk!"
"Dengar! Hentikan semua permainanmu tuan Bang. Lupakan semua masalah kita, dan mulai semua dari awal. Sebelum semua menjadi semakin rumit." Kata JoonMyeon tegas. Sungguh, kepalanya mau pecah memikirkan kisah hidupnya ini. Mulai dari kisah cintanya dengan sang adik, perjodohannya yang tiba-tiba dengan adik kelasnya sendiri, belum lagi masalah lamanya dengan Yongguk yang tak kunjung usai.
"JoonMyeon! Kau belum pulang juga?" Panggil SungYeol yang sedang berdiri bersama MyungSoo di depan pintu kelasnya. JonnMyeon sungguh berterima kasih pada sahabatnya yang datang tepat waktu ini.
"JongIn masih ada kuliah. Zi Tao juga ada kegiatan dengan teman-teman wushu-nya. Tunggu aku Yeol." JoonMyeon hendak menyusul kedua temannya itu. Namun Yongguk menggenggam pergelangan tangan JoonMyeon.
"Ingat Joon. Aku tak akan berhenti sampai apa yang aku inginkan terpenuhi." Bisik Yongguk, ia pun langsung pergi setelah mengancam JoonMyeon.
"Kau tak apa? Dia tak berbuat apapun kan?" Tanya SungYeol khawatir. Dari semua kawan JoonMyeon, hanya SungYeol yang tahu, setakut apa JoonMyeon pada YongGuk. Ia juga pernah memergoki YongGuk menyeret paksa JoonMyeon seperti penculik. SungYeol yang melihatnya, langsung saja memanggil mereka dan langsung membawa JoonMyeon pergi dari YongGuk. Sejak saat itu, SungYeol selalu melindungi JoonMyeon dari YongGuk, walaupun ia tak tahu akar permasalahan yang sebenarnya antara JoonMyeon dengan YongGuk.
"Tak apa. Kalian datang disaat yang tepat. Terima kasih." Ucap JoonMyeon berterima kasih pada sepasang kekasih ini.
"Sambil menunggu JongIn, kita ke cafe saja. Sepertinya kau butuh sesuatu untuk menenangkan pikiranmu." Tawar SungYeol pada JoonMyeon.
"Asal kau mentraktirku, maka hati dan pikiranku ini akan tenang Myung." Jawab JoonMyeon sambil tersenyum. Setidaknya dia harus tersenyum supaya kedua temannya ini tak semakin khawatir padanya.
"Dasar kau! Manusia gratisan!" Ejek Sungyeol pada JoonMyeon.
"Dalam hidup, kita harus selalu mencari keuntungan Yeol. Lagipula kekasihmu saja tak keberatan." Jawab JoonMyeon cuek.
"Dasar." Cibir SungYeol. MyungSoo hanya menanggapinya dengan tertawa kecil. Pemandangan seperti ini sudah biasa ia lihat.
Mereka bertiga pun pergi ke cafe tempat mereka biasa menghabiskan waktu. Setidaknya, berada didekat teman-temannya, JoonMyeon merasa aman dan tenang.
.
.
.
.
.
Di apartment sederhana itu, seorang namja manis nampak duduk bersandar di sofa. Tangannya memegang sebuah pigura kecil dimana ada foto 2 bocah kecil dengan tinggi berbeda didalamnya.
"Andai kita tak pernah keluar dari panti, apakah kisah kita bisa berakhir bahagia?" Luhan, namja manis itu bergumam lirih.
Pikirannya melayang saat pertama kali ia bertemu ChanYeol di panti asuhan mereka dulu, di China.
Flashback
"Huaaaaaaaaaaa, Mama.. Baba.. ChanYeol merindukan kalian. Mengapa kalian tak mengajak ChanYeol sampai sekarang. ChanYeol ingin ikut Mama dan Baba. Huaaaaaaaaaa." Nampak seorang bocah kecil berumur sekitar 6 tahun menangis di sebuah taman. Tubuhnya masih terbalut perban. Ia baru saja mengalami kecelaaan yang menewaskan kedua orang tuanya. Sehingga sekarang, ia dirawat di sebuah panti asuhan, karna memang ia tak memiliki keluarga lain selain orang tuanya.
Ia terus menangis merindukan kedua orang tuanya. Tangisnya tiba-tiba berhenti saat ada seorang bocah kecil menyodorkan sebuah lollipop raksasa dihadapannya.
"Kalau LuHan sedih, biasanya LuHan akan memakan permen ini. Makanlah." Ucap bocah bernama Luhan itu sambil menyodorkan lollipop besar yang berwarna-warni itu dihadapan ChanYeol.
"Ini untukku?" Tanya ChanYeol. LuHan menanggukkan kepalanya imut dan tersenyum manis.
"Xie Xie." Ucap ChanYeol riang. Ia melupakan kesedihannya seketika. Sungguh, mood seorang bocah memang cepat sekali berubah.
"Namaku LuHan. Xi LuHan. Kau siapa?"
"Aku Park ChanYeol. Panggil saja ChanYeol." Jawab ChanYeol sambil terus memakan permennya.
"ChanYeol? Namamu tak seperti nama orang China?" Tanya Luhan yang bingung dengan nama ChanYeol.
"Babaku orang Korea, Mamaku orang China Lu."
"Ooh, begitu."
"He'em" ChanYeol menganggukkan kepalanya masih dengan mulut yang sibuk dengan lollipopnya.
"ChanYeol jangan bersedih lagi ya. Mulai sekarang, Luhan adalah teman Chanyeol. Dan Luhan akan selalu bersama ChanYeol, melindungi ChanYeol." Ucap Luhan kecil sambil tersenyum manis.
"ChanYeol juga janji akan terus bersama LuHan. Best Friend Forever?" Jawab ChanYeol sambil mengulurkan tangannya.
"Best Friend Forever." Jawab Luhan sambil membalas uluran tangan ChanYeol.
Mereka pun menghabiskan hari itu dengan bermain dan tertawa bersama.
Flashback end
Luhan tersenyum manis saat mengingat kenangan mereka. Jari lentiknya masih setia mengusap pigura tersebut. Senyumnya mengembang sempurna, tetapi tidak dengan air matanya yang terus menerus mengalir.
"Semuanya berbeda. Berubah. Kau dan aku, sudah sama-sama dewasa sekarang." Gumamnya lirih. Sangat lirih. Dadanya teramat sesak.
"Aku hanya ingin kau bahagia. Walaupun dengan kau membenciku. Karna aku, mencintaimu." Gumamnya lagi.
Ia tertawa miris mengingat 'rencana' yang dilakukannya bersama JongIn. Ia sadar, rencananya itu akan membuat ChanYeol membencinya. Namun baginya, 'apapun asal ChanYeol mendapatkan keinginannya'. Walaupun itu mengorbankan dirinya sendiri.
"Semoga apa yang aku lakukan bersama JongIn, membuat si cantik itu sadar dan menerima cintamu."
.
.
.
.
.
"Jadi? Kau sudah bertunangan?" Tanya seorang namja bermata sipit itu dengan kencangnya, membuat pengunjung di kantin menoleh kearahnya.
"Jangan keras-keras BaekHyun! Aku belum bertunangan, tapi akan!." Ucap namja tampan berwajah seram ini pada temannya, BaekHyun.
"Tak kusangka, kemajuanmu cepat sekali. Aku jadi iri padamu Tao. Huuuffftthh..." Keluh BaekHyun pada Tao.
"Itu juga karna Baba-ku adalah Kolega bisnis Appa JoonMyeon. Yasudah, aku manfaatkan saja hubungan kerja mereka. Kau sendiri? Bagaimana?"
"Huuuffftthh... Aku tak tahu. Dia seperti semakin menghindariku. Bahkan dia bilang kalau dia sudah berpacaran dengan Luhan. Aneh bukan? Padahal kau bilang...?" Jawab BaekHyun pada Tao.
"Sepertinya ia dan Luhan hanya berpra-pura. Lalu, apa rencanamu?"
"Aku tak tahu. Kau bantulah aku Tao. Aku benar-benar masih tak percaya dengan apa yang kulihat kemarin." Keluh BaekHyun lagi. Ia memasang wajah memelasnya, berharap Tao mau membantunya.
"Aaaahhh.. Aku sudah menduga itu Baek. Kau mudah sekali menyerah. Huuuuffftthh..." Ejek Tao saat melihat wajah memelas BaekHyun.
"Tak usah mengejekku. Kau mau membantuku tidak?!" Ketus BaekHyun sambil memutar bola matanya.
"Tenang... Aku bahkan sudah memiliki rencana BaekHyun." Ucap Tao dengan smirk menghiasi bibirnya.
"Kau memang teman yang bisa diandalkan Tao."
"Tentu! Toh jika JongIn menjadi milikmu, maka aku bisa dengan leluasa bersama JoonMyeon Hyung." Ucap Tao. Mereka pun ber-high five sebelum menjalankan misi mereka. Entah apa yang mereka pikirkan. Namun sepertinya, smirk di bibir mereka bukanlah pertanda baik.
.
.
.
.
.
"Jjong, aku duluan. Sepupuku dan tunangannya menungguku." Pamit YoungJae pada JongIn.
"Adik sepupumu akan segera bertunangan. Kau kapan?" Tanya JongIn setengah mengejek.
"Jangan mengejekku Dark Chocolate! Tutup mulutmu itu, atau akan kuadukan kau ke Hyung-mu dengan tuduhan pengejekan!." Sungut YoungJae.
"Hahaha. Baik baik. Yasudah, aku juga mau menyusul Hyung-ku. Berhati-hatilah."
"Oke!" YoungJae pun pergi meninggalkan kelasnya dengan terburu-buru.
JongIn berjalan malas menuju cafe dimana Hyung-nya berada sekarang. Mata kuliah hari ini semakin merusak moodnya yang memang sudah buruk dari kemarin.
"Halo Kim JongIn." Sapa seseorang dengan suara beratnya, membuat JongIn menghentikan langkahnya.
Terlihat lelaki tersebut bersandar di dinding dengan gayanya yang santai, tetapi matanya menatap tajam JongIn.
"Bang YongGuk?" Tanyanya pada lelaki tersebut.
"Oh! Ternyata kau masih mengingatku. Bagaimana kabarmu JongIn?" Jawab lelaki tersebut dengan nada dingin.
"Apa maumu? Tak puaskah kau mengganggu kami?" Tanya JongIn dengam nada tak kalah dingin.
"Wowowo! Sabar adik manis. Aku hanya ingin mengingatkan agar kau selalu waspada. Karena rupanya, sainganmu bertambah satu orang lagi."
"Diamlah! Jangan campuri kehidupan kami lagi."
"Aku tak berniat mencampuri hidup kalian. Aku hanya ingin merebut JoonMyeonku kembali."
"Jangan harap!" Ketus JongIn. Ia geram akan sifat kakak kelas semasa SMA-nya ini yang sangat terobsesi dengan kakaknya itu.
"Tenang. Aku akan membantumu, menyingkirkan tunangan kakakmu itu." Ucap Yongguk. JongIn diam. Ia merasakan ini bukan pertanda baik baginya. Ia bahkan merasakan hal yang lebih buruk akan segera terjadi.
"Setelah pertunangan itu batal, maka bersiaplah. Rahasia kalian akan segera terbongkar, dan Hyung-mu, akan menjadi milikku." Sambungnya dengan smirk yang merekah dibibirnya.
JongIn yang geram hanya bisa diam mengepalkan kedua tangannya. Ia tak mungkin melawannya. Jika melawannya, maka sama saja JongIn ingin rahasianya tersebar luaskan. Tidak.
"Jangan terlalu percaya diri tuang Bang Yongguk. Apapun yang akan kau lakukan, Hyung-ku akan terus bersamaku. Dan kau, akan mendapatkan balasannya. Ingat itu." Ucap JongIn kemudian melangkah pergi dengan emosi yang menyelimuti dirinya.
"Hah! Dasar!" Cibir Yongguk. Ia hanya memandang kepergian Yongguk dengan tatapan meremehkan.
.
.
.
.
.
.
part 8 nya kapan-kapan aja di sharenya.. hauhahahahaa
.
.
.
kalo praktek buat tuga akhir ini selese, pasti aku share.. huehehehe
.
.
.
special thank buat mbak DEPO.. aaaahh,, akhirmya aku uda gag galau lagi.. makasii buat ide dan sarannya.. *hug*
buat SomeOne98Line juga,, makasi sarannya :)
.
.
.
males ngetik note.. pokoknya makasi buat yang baca, baik dengan atau tanpa review..
.
.
.
wassalam xDD
