Author : Vy
Rated : T+++++++++++++
Genre : Tentuin sendiri lah
Lenght : Chaptered
Cast :
Kim Joon Myeon, Kim Jong In, Byun Baek Hyun, Lu Han, Park Chan Yeol, Huang Zi Tao, Bang Yong Guk, Wu Yi Fan / Kris Wu, Oh Se Hun, Lee Sung Yeol, Kim Myung Soo, Yoo Young Jae, Kim Him Chan, Moon Jong Up, Jung Dae Hyun, And other
Note :
Habis baca jangan lupa Coment ! Review ! Oyi?
Kritik dan saran sangat dibutuhkan :D
Warning :
Yaoi / Shou-ai, Incest, Typo (s), OOC (maybe?), bahasa aneh, cerita membosankan, dan lain sebagainya.
-inget yaaa.. Ini epep main pair nya KaiHo :D-
Disclaimer :
Suho punya Kai, Kai punya Suho ! *bllettakk*
Cast punya Tuhan, orang tua, keluarga, manajemen, dan Fansnya. Tapi Yoochun, Chen, Yongguk, TOP milik gue! Hahahahagz xDD
Cerita punya gue ! Asli dari otak kurang waras gue !
Yaudah ! Mulai aja lah ! Happy reading :D
.
The Story Begin
.
Author POV
"Bibi Jang, tolong panggilkan anak-anak untuk sarapan bersama."
"Baik Nyoya." Wanita paruh baya yang dipanggil Bibi Jang itu pun menuju ke kamar Kim bersaudara, sesuai perintah yang diberikan oleh nyonya Kim.
Sementara ayah dan ibu mereka menunggu dengan tenang di ruang makan, anak-anak mereka, masih bergelut di dunia mimpi. Di kamar bernuansa biru laut itu, dua namja berbeda warna kulit ini terlihat damai dalam tidur mereka. JongIn, yang tidur dengan posisi memeluk kakaknya possesif. Sedangkan JoonMyeon, sang kakak, menenggelamkan kepalanya di dada sang adik.
'tok tok tok'
"Eeeuunnggghhhh..." Lenguh JongIn saat merasa tidurnya terganggu.
'tok tok tok'
"Ada apa?" Ketus JongIn dengan suara seraknya. Ia terlihat tidak ikhlas untuk membuka matanya. Terlihat jelas bahwa dia benar-benar mengantuk saat ini.
"Ini saya, Bibi Jang. Tuan muda JongIn dan Tuan muda JoonMyeon ditunggu oleh Nyonya dan Tuan besar di ruang makan." Ucap Bibi Jang, salah satu maid mereka, dari luar kamar mereka.
"Nanti kami akan segera turun Bi." Ucap JongIn malas dengan mata masih tertutup. Ia melepaskan pelukannya pada JoonMyeon dan meregangkan badannya. Ia mengerjapkan matanya, merasa kesadarannya sudah penuh, ia menoleh kesamping. Wajah kakaknya yang terlihat damai saat tertidur adalah pemandangan yang paling ia sukai. Ia pandangi wajah malaikat itu, sungguh, JongIn sangat mencintai pemilik wajah malaikat ini. Ia kecup kening JoonMyeon, kedua matanya, hidung, hingga berhenti tepat di bibir plum itu. Ia kecup bibir itu, menyalurkan rasa cintanya pada Hyung-nya ini.
"Euuuunngghhh..." JoonMyeon melenguh. Ia mengerjapkan matanya, mengumpulkan kesadarannya.
"Pagi JongIn." Sapa JoonMyeon pada adiknya.
"Pagi Baby. Maaf aku mengganggu tidurmu."
"Tumben kau bangun lebih dulu dariku?" Heran JoonMyeon saat menyadari JongIn bangun lebih pagi darinya. Karna biasanya, JongIn tak akan bangun jika tak dibangunkan olehnya.
"Bibi Jang tadi mengatakan kita sedang ditunggu oleh Umma dan Appa di ruang makan Hyung."
"Umma dan Appa? Kapan mereka tiba?" Tanya JoonMyeon, JongIn hanya mengangkat bahu, tanda tak tahu dan tak mau tahu.
"Lebih baik segera mandi, dan segera turun Hyung. Sekalian kita bersiap berangkat kuliah." JoonMyeon hanya menganggukkan kepalanya. Mereka pun segera turun dari ranjang dan memasuki kamar mandi bersama.
'Blaamm'
"HEEEEEEEEEEE... APA YANG KAU LAKUKAN?! KELUAR‼"
"Tidak Mau. Biar lebih cepat kita mandi bersama saja."
"DASAR‼ KERBAU HITAM PREVERT‼"
.
.
.
.
"Hyung, cepatlah... Aku hampir terlambat Hyung..." Panggil namja berkulit albino ini manja, pada namja berperawakan bule yang sedang asik berkaca ria di kamarnya.
"Sebentar sayang... 5 menit lagi..." Sahut Kris, namja berperawakan bule itu pada kekasihnya.
"Ck.. Sejak 45 menit yang lalu kau bilang 'sebentar sayang, 5 menit lagi'. Sebenarnya apa yang kau lakukan di depan kaca keramatmu itu Hyung? Bertanya pada kaca itu 'wahai kaca ajaib, siapa yang paling jelek di dunia ini?', begitu? Lalu kau menunggu kaca itu menjawab 'kau lah tuanku', begitu? Haiiisssshhhh..." Cerocos Sehun, panjang lebar kali tinggi pada kekasihnya. Sehun sendiri heran, bagaimana bisa lelaki itu berdandan hingga menghabiskan waktu lebih dari 30 ia tak menggunakan blush on, eye shadow, dan sebagainya.
Chu~~~
Kris membungkam bibir mungil kekasihnya itu dengan ciuman lembutnya. Sehun pun tak sungkan mengalungkan tangannya di leher sang kekasih. Lama mereka berciuman, menikmati hangatsuasana romantis yang mereka ciptakan sendiri. Hingga kebutuhan pasokan udara membuat mereka melepaskan tautan bibir mereka.
"Sudah selesai acara mengomelmu sayang?" Sehun mengangguk menjawab pertanyaan kekasihnya ini.
"Kau lama.." Manjanya, bibirnya membentuk pout yang membuatnya terlihat semakin menggemaskan dimata sang kekasih, Kris.
"Iya iya... maafkan aku sayang... Kita berangkat sekarang?" Sehun pun mengangguk dan langsung bergegas membuka pintu apartment mereka.
'Ceklek'
'Tuukkk tukk'
"AAwww.. Yoo Young Jae!"
"Ehh... Maaf Hun, kukira tadi pintu.. hehehe..." Cengir YoungJae tanpa dosa. Ia tadi hendak mengetuk pintu apartment Sehun. Namun, disaat yang bersamaan, Sehun membuka pintunya. YoungJae yang tak sadar, karna pandangannya fokus pada ponsel yang ia pengang, malah mengetuk kening Sehun. Membuat kening Sehun berbekas merah, karna ketukan YoungJae cukup keras di keningnya.
"Apa maumu?" Ucap Sehun seraya mengusap keningnya yang terasa sakit.
"Hehehe... Maafkan aku Hun... Pagi Kris Hyung?!"
"Hun, Hyung, bolehkah aku dan Luhan Hyung menumpang mobil kalian hari ini? Mobilku sedang di bengkel, gara-gara sabtu kemarin tiba-tiba mogok. Bolehkan?" Mohon YoungJae dengan puppy eyes-nya. Sehun yang masih ngambek, ingin menolak. Tapi bagaimanapun juga, YoungJae adalah sahabatnya juga. Apalagi, saat Sehun melihat Luhan yang baru saja keluar dari apartment YoungJae, membuat Sehun semakin tak tega. Ia pun akhirnya mengangguk.
"Bolehkan Hyung?" Tanya Sehun pada Kris.
"Tentu sayang... Ayo Jae, Lu... kita berangkat sekarang..."
"Lhoo Jae? Jadi kau tadi buru-buru keluar untuk meminta tumpangan pada Sehun dan Kris?" Heran Luhan. YoungJae hanya nyengir menjawab pertanyaan Luhan. Luhan pun tertawa melihat tingkah YoungJae, Adik barunya ini.
"Ayo Hyung... Jauh-jauhlah kau dari makhluk berpipi apel ini, agar kau tak tertular penyakit gilanya." Sehun langsung menarik tangan Luhan dan menjulurkan lidahnya ke arah YoungJae, YoungJae pun tak mau kalah, ia juga balas menjulurkan lidahnya kearah Sehun. Kris dan Luhan yang merasa dirinya waras pun hanya tertawa kecil melihat tingkah kekanakan Sehun dan YoungJae.
Mereka pun berjalan beriringan meninggalkan apartment mereka menuju ke tempat parkir. Namun tiba-tiba Sehun menghentikan langkahnya saat melihat seorang penghuni apartment di dekatnya keluar.
"DAEHYUN HYUNG‼!"
"OH SEHUN?" Sehun pun berlari menghampiri namja tersebut. Kris dan yang lain mengikuti dibelakangnya. Sehun dan namja yang dipanggil Daehyun itu berpelukan erat seperti lama tak bertemu.
"Hei Kris Hyung..." Sapa Daehyun pada Kris. Yang dibalas Kris sambil memeluk Daehyun.
"Kau tinggal disini sekarang? Apa bibi dan paman Jung mengetahuinya? Jangan bilang kau kabur lagi?" Tanya Sehun terus menerus.
"Kau ini, satu satu kalau bertanya. Kris Hyung? Apakah kau tahan dengan si cerewet ini?" Ejek Daehyun, membuat Sehun mengembungkan pipinya kesal.
"Justru Sehun yang cerewet ini yang membuatku selalu merindukannya..." Ucap Kris sedikit menggombal. Namun itu sukses membuat pipi Serun merona merah seperti semangka matang.
"Jawab pertanyaanku Jung Dae Hyun!"
"Hahahaha.. Baik baik sepupuku yang cerewet.. Aku memang tinggal disini. Dan yaaaa... aku kabur lagi. Mama dan Appa ku tak mengetahuinya. Dan jangan sampai mereka mengetahuinya." Jawab Daehyun pada Sehun. Sehun hanya ber-oh ria mendengar jawaban dari sepupunya itu.
"Pasti kau kabur karna masalah itu. Ah! Aku tak mau ikut memikirkannya. Oh iya,, Jae, Lu Hyung, kenalkan, ini sepupuku, namanya Jung Dae Hyun."
"KAU?" YoungJae, Luhan, dan Daehyun kaget, hingga kompak mengeluarkan satu kata yang sama dari bibir mereka.
"Luhan? Astaga... kita bertemu lagi..."
"Kau yang menolong kami itu kan?" Tanya Luhan memastikan. Sehun dan Kris yang tak tahu menahu
tentang masalah mereka hanya diam dan memandang mereka secara bergantian.
"Aahh, itu hanya kebetulan saja. Ah! Aku belum memperkenalkan diri padamu kan? Kenalkan Aku DaeHyun. Jung DaeHyun, Sepupu dari makhluk albino berwajah datar ini." Ucap DaeHyun yang langsung dihadiahi pukulan manis dikepalanya.
"Sakit Oh Sehun‼" Aduh DaeHyun sambil mengusap kepalanya.
"Salah siapa kau mengataiku! Dan juga, Luhan Hyung itu seumuran dengan Kris Hyung. Jadi kau harus memangginya HYUNG!"
"Ohya? Benar kau seumuran dengan Dragon Bird Hyung ini Luhan?" Tanya Daehyun tak percaya. Luhan hanya mengangguk menjawab pertanyaan Daehyun.
"ASTAGA... Aku tak percaya. Wajahmu bahkan terlihat jauh lebih muda daripada si AlbiHun ini."
"Sekali lagi kau mengejekku Albino, kubakar bulu ketiakmu Hyung!"
"Sudahlah, kenapa kalian jadi bertengkar? Kau tak perlu memanggilku Hyung, DaeHyun. Tak apa. Dan Kau Sehun, kau jangan marah-marah begitu. Wajahmu terlihat menyeramkan, kau tahu?" Lerai Luhan. Sehun hanya mendengus kesal, sedangkan Daehyun, ia hanya tersenyum dan menjulurkan lidahnya mengejek Sehun.
"EHEEEMMMM‼! Sampai kapan kita akan terus mengobrol disini wahai para alien aneh..." ucap YoungJae pada empat orang yang sedang asik berbincang ini. Sungguh menyebalkan baginya melihat ia tak dihiraukan. Tapi ia lebih sebal saat melihat DaeHyun yang sok akrab terhadap Luhan. Terlebih pandangan mata DaeHyun saat menatap Luhan. Sungguh, demi Flying Dutchman yang wajahnya imut seperti Rektornya, Lee Sooman, YoungJae ingin sekali mencongkel kedua mata DaeHyun itu.
"Aaahh iya. Hun, Aku baru saja pindah kampus. Sekarang Aku kuliah di KyungHee University sama sepertimu. Aku jurusan Ekonomi Pembangunan. Bisakah kau membantuku? Aku harus menyelesaikan beberapa berkas lagi." Pinta DaeHyun pada Sehun. Ia baru minggu lalu mendaftarkan kepindahannya. Dan sekarang, ia harus menyelesaikan semua urusannya agar ia dapat mengikuti perkuliahan di kampus barunya itu.
"Kau pindah kampus juga Hyung? Bukannya Kampusmu SNU itu sangat bagus?"
"Kalau aku tak pindah kampus, maka Mama dan Appa akan mudah menemukanku. Bisakan?" Jelas DaeHyun pada sepupu kesayangannya itu.
"Kau jurusan Ekonomi Pembangunan? Kebetulan sama denganku dan YoungJae. Mau kubantu? Jadwal kuliahku baru dimulai nanti siang." Tawar Luhan pada DaeHyun. DaeHyun yang mendengarnya langsung sumringah. 'Kesempatan..' Batinnya dalam hati.
"Eeehhh... Tidak bisa! Kita kan akan berangkat bersama Sehun dan Kris Hyung, Hyung. Kalau bersamanya kau mau berangkat dengan apa?"
"Aku bawa Motor kok. Tenang saja." DaeHyun memotong kekhawatiran YoungJae.
"Apa?! Tidak bisa! Luhan Hyung baru aja sembuh. Kalau naik motor, ia nanti bisa masuk angin." Ucap YoungJae.
"Tak apa.. Aku berangkat dengan DaeHyun saja. Kau tak usah terlalu khawatir begitu Jae. Aku tak sakit waktu itu, aku kan hanya kelelahan saja. Lagipula, anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih karna kau menolong kami saat itu." Ucap Luhan panjang lebar yang membuat kedua ujung bibir DaeHyun terangkat.
"Hyuuuunngg..." Luhan men-death glare YoungJae yang hendak mengeluarkan protesnya. Luhan sungguh merasa tak enak dengan DaeHyun dan Sehun. Begitupun YoungJae. Tapi YoungJae mempunyai alasan mengapa ia begitu protektif kepada Luhan. Ia hanya tak ingin Luhan disakiti karna sifatnya yang terlalu baik itu.
"Baik-baik... Kau! Awas jika terjadi sesuatu terhadap Hyung-ku! Kuhabisi kau! Ancam YoungJae pada akhirnya. DaeHyun dan Luhan pun tanpa membuang waktu, langsung pamit meninggalkan kawan-kawannya itu.
"Kalian saling kenal? Kenapa aku tak tahu?" Tanya Sehun Heran. Mereka bertiga akhirnya berjalan menyusul Luhan dan DaeHyun.
"Kemarin saat mobilku mogok, dia yang membantu memperbaiki." Ucap YoungJae heran.
"Lalu, kenapa kau bersikap seperti itu padanya Jae?" Kali ini Kris yang angkat bicara.
"Aku tak menyukainya… Lihatlah sikapnya pada Luhan Hyung… Aku takut dia berbuat macam-macam pada Hyung-ku itu…"
"Aku juga berpendapat yang sama. Sepertinya DaeHyun Hyung tertarik pada Luhan Hyung. Tapi tenang, aku berani menjamin bahwa sepupuku itu adalah orang baik. Tak mungkin dia berbuat yang tidak-tidak. Lagipula, Luhan Hyung sudah punya JongIn kan?"
"Haaaahh? JongIn? Kau bercanda… Mana mungk… upps!" Sepertinya YoungJae melupakan sesuatu. Sehun dan Kris memandang YoungJae curiga. Terutama Sehun. Ia yakin sekali bahwa ada yang disembunyikan oleh YoungJae mengenai JongIn dan Luhan.
'Matilah aku… YoungJae bodoh…' Batin YoungJae saat ia sadar, ia hampir saja membocorkan rahasia JongIn.
"Ti-tidak.. tidak… Iya, kau benar ada JongIn.. kenapa aku bisa lupa ya.. hehehe.. Heii! Jangan menatapku seperti itu… Ayo kita berangkat… Sebelum terlambat." YoungJae pun langsung memasuki kursi penumpang dibelakang. Kris hanya mengangkat bahu, lalu membukakan pintu mobilnya untuk Sehun, sebelum ia sendiri duduk di kursi kemudinya.
'Sepertinya ada yang mereka sembunyikan… tapi apa?' Dan mobil mereka pun segera melaju menuju kampus mereka.
.
.
.
.
.
"Bagaimana hubunganmu dengan Zi Tao, JoonMyeon?" Tanya lelaki paruh baya yang sedang menikmati sarapan bersama istri dan kedua anaknya.
"Baik Appa. Hari Sabtu kemarin, kami bertiga makan di luar bersama." Jawab JoonMyeon jujur. Terlihat Appa-nya langsung mengembangkan senyum sumringah mendengar jawaban dari putra sulungnya itu.
"Kalian bertiga? JongIn juga?" Tanya Appa-nya sambil menolehkan kepalanya menghadap si putra bungsu.
"Ne Appa. Aku juga ikut dengan mereka. Tao yang mengajakku." Jawab JongIn malas. Tapi sang ayah nampaknya tak peduli dengan nada malas dari jawaban putranya. Yang ada dipikirannya adalah, ia senang karna si bungsu juga mulai dekat dengan calon tunangan kakaknya.
"Umma senang kalian bisa cepat akrab seperti itu. Terutama kau, JongIn. Umma tau kau akan suka dengan calon tunangan JoonMyeon." Sang ibu kini yang berbicara mengungkapkan isi hatinya dan juga sang ayah.
'Menyukai siluman panda itu? Cuiihhh…. Tak sudi!' Batin JongIn. JoonMyeon tau apa yang dipikirkan JongIn. Ia terkekeh geli saat melihat ekspresi adiknya yang nyengir tak jelas saat menjawab pertanyaan orang tua mereka.
'Ting Tong'
"Tuan muda JoonMyeon, tuan Huang Zi Tao datang menjemput anda." Lapor salah satu maid setelah ia membukakan pintu.
"Ba…."
"Ahh, ajak dia kemari, kita sarapan bersama." Perintah nyonya Kim, memotong ucapan JoonMyeon. Tadinya JoonMyeon ingin langsung berangkat kuliah, karna ia tahu pasti Umma dan Appa akan membicarakan perjodohan mereka. Dan hal itu adalah yang paling dihindari oleh JoonMyeon dan JongIn.
Tak lama setelah itu, maid tersebut kembali bersama seorang lelaki yang Nampak gagah dengan balutan kemeja hitam, jeans hitam, juga sepatu kets berwarna biru.
'memang dia mau ke pemakaman siapa, menggunakan baju serba hitam seperti itu?' Batin JongIn mengejek penampilan Tao saat ini.
"Ahh! Kemarilah, kita sarapan bersama Tao!" Ajak Tuan Kim semangat. Tao pun duduk di sebelah Nyonya Kim, berhadapan dengan Suho.
"Makanlah Tao."
"Terima kasih ahjumma, tapi Tao sudah sarapan sebelum berangkat." Tolaknya halus. Mereka, orang tua JoonMyeon berbincang basa-basi bersama Tao. Sedangkan Kim bersaudara ini memilih untuk diam dan meikmati makanannya.
"Orang tuamu, sudah membicarakan rencana pertunangan kalian denganmu kan?" Tuan Kim kini besuara.
"Sudah Ahjussi, hari Sabtu ini Mama dan Baba tiba dari China. Dan pertunangannya diadakan dua minggu setelahnya." Jelas Tao yang diangguki oleh kedua orang tua JoonMyeon. JoonMyeon dan JongIn? Mereka tak peduli. Yang ada di otak mereka saat ini adalah, bagaimana cara menggagalkan acara pertunangan yang akan diadakan 3 minggu lagi itu.
"Gedung pertunangan dan lainnya, biar aku dan Mama-mu yang urus. Kalian siapkan saja baju dan juga undangan untuk teman-teman kalian." Ucap nyonya Kim.
"Baik. Terima kasih ahjumma, ahjussi. Hyung, kita berangkat sekarang?" Tanya Tao pada JoonMyeon.
"Hm. Ayo. Umma, Appa, Aku berangkat dulu." Pamit JoonMyeon.
"Tunggu! Aku ikut dengan kalian. Motorku mogok. Bolehkan Calon kakak ipar?" Ucap JongIn setengah mengejek dengan nada yang dibuat-buat. Tao ingin menolak, tapi karna dia sedang bersama kedua orang tua Kim bersaudara ini, jadi
"Baiklah." Putus Tao setangah tidak ikhlas. Setelah berpamitan, mereka pun meninggalkan kedua orang tua mereka yang sedang tersenyum, mengira si bungsu bisa akur dengan calon iparnya.
Mereka bertiga pun menuju ke mobil milik Tao yang terparkir di depan rumah keluarga Kim ini. Tao dengan sikap gentle-nya, bermaksud membukakan pintu mobil depan untuk JoonMyeon. Tetapi,
"Terima Kasih kakak ipar." Ucap JongIn yang dengan percaya dirinya langsung masuk dan menutup pintunya.
"Heyy.." Pekik Tao tak terima. Sedangkan JoonMyeon, ia hanya terkikik melihat aksi adik kandung sekaligus kekasihnya itu.
"Sudah Tao, aku kan bisa duduk dibelakang." Ucap JoonMyeon. Tao pun akhirnya mengalah, dan langsung memasuki kursi kemudinya.
'Blam'
'BRUUUUUUUUUTTTTTTT'
"Hoeeeeeekkk…"
"Haahh, LEGAAAAA…. Ups! Maaf kakak ipar." Ucap JongIn tanpa dosa sambil menepuk-nepuk perutnya. JoonMyeon ingin tertawa terbahak sebenarnya, melihat JongIn yang buang angin tepat saat Tao memasuki mobil. Tapi dia tak tega. Ia hanya menutup hidung sambil menahan tawanya.
.
.
.
.
.
"Nah! Disini ruang administrasinya. Kau bisa kan mengurusnya sendiri?" Tanya Luhan pada DaeHyun saat akan memasuki ruang administrasi kampusnya.
"Yap! Terima kasih sudah mengantarku sampai disini Luhan." Jawab DaeHyun pada Luhan.'
"Sama-sama. Aku kuliah dulu ya. Bye DaeHyun." Pamit Luhan sopan. Baru saja Luhan membalikkan badannya, DaeHyun menggenggam tangan Luhan, menahannya.
'Halus…' Batin DaeHyun. Luhan menatapnya heran.
"Setelah kau kuliah, bisakah kau bisakah kau menemaniku berjalan-jalan keliling kampus ini Lu?" Tanya DaeHyun penuh harap.
"Baiklah." Setuju Luhan. DaeHyun pun tersenyum lebar. Luhan pun pergi meninggalkan DaeHyun yang sedang tersenyum penuh kemenangan sebelum akhirnya dia memasuki ruang administrasi kampus barunya itu.
'Siapa itu? Ada hubungan apa dia dengan Luhan?' Batin seorang lelaki dengan tinggi menjulang yang sedari tadi memperhatikan Luhan dan DaeHyun.
"Apa lelaki itu penyebab JongIn tiba-tiba marah kemarin?" Gumamnya lagi sambil menatap Luhan yang sedang asik bercakap-cakap dengan salah satu temannya. Tanpa Chanyeol, lelaki yang sedari tadi memperhatikan Luhan, itu sadari, ia ikkut tersenyum saat melihat Luhan tertawa lepas bersama temannya. Merasa diperhatikan, Luhan pun menolehkan kepalanya dan mendapati Chanyeol sedang menatapnya juga. Luhan pun tersenyum manis padanya. Sadar akan senyuman Luhan, Chanyeol segera membuang muka.
'Begitu bencinya kau padaku Chan? Hingga kau tak mau menatapku?' Batin Luhan sambil tersenyum miris.
'Kenapa, aku…?' Batin Chanyeol sambil memegang dada kirinya.
"HYUNG!" Teriak dua lelaki itu kompak dari kejauhan. Luhan yang mendengarnya, melambaikan tangan kepada mereka.
"Eh! Chanyeol Hyung." Sapa Sehun sopan pada Chanyeol. Sedangkan YoungJae, hanya mendengus melihat Chanyeol dan langsung menghampiri Luhan.
"Chanyeol!" Sapa Kris pada teman sesama tiangnya ini.
"Hyung, aku ke masuk kelas dulu ya." Pamit Sehun pada Kris dan Chanyeol. Seperti biasa, sebelum berpisah, Kris tak lupa mencium kening Sehun, dan Sehun mencium pipi Kris. Membuat siapa saja yang melihatnya berdecak iri.
"Apa yang kau lihat? Mengapa serius sekali?" Tanya Kris penasaran.
" Tidak. Bukan apa-apa. Bagaimana kalau kita ke kantin dulu? Kelas baru dimulai setengah jam lagi. " Jawab Chanyeol ketus. Ia tak ingin Kris tau bahwa sedari tadi ia memperhatikan Luhan. Mereka pun meninggalkan tempat itu, menuju kantin.
.
.
.
.
.
"Aaaahhh.. Akhirnya sampai. Terima kasih Tao. Aku ke kelas dulu ya, kelasku di mulai sebentar lagi. Bye Tao, JongI,." Pamit JoonMyeon setelah turun dari mobil Tao. Sepertinya ia hampir terlambat, hingga langsung berlari meninggalkan dua sosok tampan yang setia memandanginya. JongIn dan Tao masih setia berdiri di depan mobil sambil memandang sosok kecil itu berlari.
"Kau tahu Tao…" Tao menoleh kearah JongIn yang sekarang sedang memandangnya tajam.
"Sekeras apapun usahamu, aku tak akan menyerahkan Hyung-ku padamu." Ucap JongIn tajam. Tao hanya mendengus dan memandangnya remeh.
"Kau pikir aku takut dengan ancamanmu? Jangan harap. Lagipula, kau hanya adiknya JongIn. ADIK!" Tao langsung melenggang pergi setelah mengucapkan kata-kata itu. Meninggalkan JongIn yang sedang terbakar emosi dan mengepalkan tangannya erat.
'Kita lihat saja nanti Huang Zi Tao!'
.
.
.
.
.
'Namaku Xi Luhan. Bibi bisa memanggilku Luhan.'
'Aku dan YoungJae tinggal di Apartment tak jauh dari sini.'
'Kami kuliah di Kyunghee bi. Tapi Luhan Hyung itu seniorku.'
"Luhan…" Gumam seorang wanita paruh baya yang sedang duduk bersandar di sofa di sebuah kamar mewah disalah satu rumah. Pandangan matanya kosong. Sedari tadi yang dilakukannya hanyalah melamun. Tak jarang, ada cairan bening yang menetes dari kedua pelupuk matanya.
"Mungkinkah?" Gumamnya lagi.
'TOKK TOKK TOKK'
"Masuk!
"Nyonya, dr. Hwang sudah tiba." Salah satu maid berbicara sopan pada wanita paruh baya tersebut.
"Suruh dia langsung ke kamar." Pintanya pada maid tersebut. Maid tersebut dengan segera mematuhi perintah majikannya dan membawa sesosok dokter cantik itu ke dalam kamar majikannya.
"Ahh.. dr. Hwang, masuklah."
"Ada apa eonnie memanggilku?" Tanya dr. Hwang.
"Aku ingin kau membantuku…"
.
.
.
.
.
Part 10? Taun depan.. HUAHAHHAHAHA
.
.
.
Maap kelamaan updetnya.. saya lagi sibuk ngurusin praktikum akhir saya menjelang skripsi… jadi semua fic terbengkalai.. huahahaha…
Maapp maapp… :D
.
.
Tapi aku terkejuutt.. pas liat status niihh fic, ternyata yang baca uda 8 ribu lebihh... huaaaa,, makasiii yaa yang uda mau bbacaaa.. tapi sekali-sekali, review dikit gag papa kan? wuehhehehhee
.
.
.
Makasi buat yang nyempetin baca..
Makasi yang uda review…
Review lagi yayayayaya?
.
.
.
Byeee xD Wassalam xD
