Part 12

.

.

.

Chanyeol Side

.

.

'Luhan? Aku? Tak peka? Apa maksudnya?'

.

Chanyeol POV

"Bukankah Luhan itu kekasih JongIn? Tapi mengapa...?" Gumamku seorang diri.

Aku tak mengerti, apa yang aku rasakan saat ini.

Aku marah pada Luhan? Tentu!

Aku marah dan kecewa padanya. Dia jelas tahu kalau Baekhyun, orang yang aku cintai itu menyukai JongIn. Tapi kenapa ia malah merebut JongIn darinya.

Tapi, entahlah.

Kalau aku boleh jujur, ada perasaan sakit tersendiri saat tahu Luhan dan JongIn berpacaran. Juga saat melihat Luhan bersama mahasiswa baru itu bercengkrama.

Heyy! Aku tidak cemburu. Tidak! Tidak!

Luhan sahabatku dari kecil. Kami hidup bersama lebih dari 15 tahun. Sejak kami masih hidup di panti asuhan. Jadi tak mungkin aku cemburu. Tidak mungkin!

Lagi pula yang aku cintai itu Baekhyun. Byun Baek Hyun.

Aku hanya heran. Mungkin juga curiga. Siapa yang tak curiga. JongIn mengijinkan pria lain untuk menghabiskan waktu bersama kekasihnya.

Mungkinkah mereka hanya berpura-pura? Tapi untuk apa?

"Nah! Disini ruang kuliah kita, Dae." Sayup-sayup aku mendengar suara yang sangat familiar di telingaku.

Luhan dan si mahasiswa baru itu. Entah siapa namanya, tapi sedari tadi Luhan memanggilnya dengan sebutan Dae.

Sejak kuliah usai, Luhan menemani mahasiswa baru itu berkeliling.

Aku tak heran, mahasiswa baru itu terus memandangi wajah Luhan. Kuakui, wajahnya begitu manis. Senyumnya juga menawan. Terlebih, Luhan adalah pemuda yang baik, easy going, dan tulus.

Luhan juga orang yang sangat pintar dan pekerja keras. Terbukti dengan ia yang mendapatkan beasiswa full dan juga Index Prestasi yang selalu diatas rata-rata.

Aku mendapat beasiswa di kampus ini pun juga berkat bantuannya. Ia yang membantuku untuk belajar. Dengan sabar ia mengajariku, hingga aku bisa diterima di tes penerimaan beasiswa bersama dengannya.

Luhan memang mengagumkan.

Heyy! Apakah aku tadi memujinya?

Aaahh! Lupakan!

Lagipula, itu adalah kenyatannya. Jadi, tidak termasuk dalam kategori pujian.

"Lu, aku lapar. Kau tau tempat makan yang enak tidak?"

"Kita ke cafe dekat sini saja. Aku dan yang lainnya sering makan di cafe itu."

"Baiklah. Ayo!" Kulihat mahasiswa baru itu menggandeng tangan Luhan.

Hei! Kenapa kau tak menolaknya Lu?! Mengapa kau tak marah?

Kulihat mereka berdua menuju tempat parkir.

Cih, sok manis sekali dia! Untuk apa ia memakaikan helm pada Luhan.

Membuatku muak melihatnya. Sok tampan sekali dia!


Dan disinilah aku sekarang. Berada di meja pojok sebuah cafe. Memandangi Luhan bersama mahasiswa baru yang cukup, oke oke! Sangat tampan.

Entah apa yang mereka bicarakan. Yang jelas, mereka sangat menikmati obrolannya.

Aku menajamkan pendengaranku. Berharap aku dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.

Kenapa aku merasa, aku seperti seorang stalker?

Ah! Bukan. Aku hanya ingin tahu. Bukan stalker.

"Bwahahaha, wajahmu lucu sekali Lu. Huahahaha." Entah apa yang mereka bicarakan, tiba-tiba saja mahasiswa baru si Dae Dae itu tertawa dengan kencangnya.

Oh, lihatlah. Betapa imutnya wajah itu. Wajah sebal yang terlihat sangat imut dimataku.

Dengan bibir yang dikerucutkan. Sungguh ingin rasanya ku kecup bibir plum itu.

Apa yang kau pikirkan Park Chan Yeol?!

Apa kau sudah gila?!

Hey jantung! Bisakah kau berdetak normal? Mengapa kau berdetak cepat saat ini?!

"Kau ini. Aku serius. Aku takut kau marah. Tapi kau malah seperti itu. Isssssshhh..." Dengusnya dengan nada manja.

"OUWH, Luhanku lucu sekali."

WHAT?!

Dia bilang,

LUHANKU?

Hei hei hei! Jauhkan tanganmu dari pipi Luhanku!

Aku semakin mengeratkan genggmanku pada majalah yang aku gunakan untuk menutupi wajahku.

Sial! Ada apa denganku?!

Pelahan tawa dari mahasiswa baru itu mereda. Luhan yang terlihat masih sebal, mengalihkan pandangannya ke arah jendela.

Sepertinya ada sesuatu di luar sana yang membuatnya tertarik. Raut wajahnya terlihat benar-benar serius.

"Lu? Apa yang kau lihat?" Panggilaan dari si Dae Dae menyebalkan itu menyadarkan Luhan. Kulihat Luhan tersenyum sangat manis padanya.

"Aaahh, tidak. Aku lupa kalau hari ini aku ada janji. Aku pergi dulu ya. Tak apa kan?"

"Perlu kuantar?" Cih! Sok perhatian sekali dia.

"Tak usah. Aku bisa sendiri. Kau pulanglah, lalu istirahatlah. Aku pergi dulu ya. Bye!" Bagus. Tolak saja dia Lu. Itu baru Luhanku!

Eh?! Luhanku?

"Lu!" Kudengar ia memanggil Luhan. Dan saat Luhan menoleh ke arahnya, ia langsung mencium bibir plum Luhan.

WHAT?!

MENCIUM?

BIBIR?

TIDAK MUNGKIN!

Aku mengeratkan genggamanku saat merasakan sesak saat melihat pemandangan terkutuk itu.

Setelah mengecup bibir Luhan, ia mencium kening Luhan. Matanya terpejam. Aku merasa, mahasiswa baru itu benar-benar tulus menyayangi Luhan. Dan pemandangan itu membuatku merasakan nyeri yang teramat sangat di dadaku.

Entahlah, apa yang aku rasakan saat ini. Sakit. Tapi untuk apa aku merasa sakit? Aku tak punya alasan kan untuk merasa sakit?

"Hati-hati..." Ucapnya setelah ia melepaskan bibirnya dari kening Luhan.

"N-ne... A-ak pergi dulu. Kau juga hati-hati ya.." Jawab Luhan. Sepertinya ia gugup. Terlihat dari cara menjawabnya yang terbata.

"Daehyun!" Oh, jadi namanya Daehyun.

Dan apalagi ini?

Aku melihat Luhan mencium pipi Daehyun itu?!

Kurasakan pandanganku mengabur. Nyeri di dadaku juga semakin terasa.

Tidak tidak! Kukatakan sekali lagi aku tidak cemburu!

TIDAK CEMBURU

AKU TIDAK-

Oke oke! baiklah! Aku akui! AKU CEMBURU!

Sesak! Rasanya benar-benar sesak, melebihi saat Baekhyun menolakku mentah mentah.

Sakit. Sungguh aku tak menyangka bahwa sesakit ini rasanya saat melihat Luhan bersama dengan pria lain.

Dan mengapa?

Mengapa aku baru merasakan sakit itu sekarang?

Saat aku benar-benar jauh darinya.

Ah, yang benar setelah aku menjauhinya.

Menjauhinya dengan alasan, demi orang yang aku cintai. Padahal jelas-jelas orang yang aku harapkan itu tak pernah melihatku. Jangankan melihatku, melirik pun mungkin ia enggan.

Apakah aku bodoh?

Sepertinya memang iya.

Bahkan SANGAT BODOH!

Kulihat sekarang ia berlari dan memasuki sebuah taxi.

Mau pergi kemana dia?

Ahh! Sebaiknya, aku mengikutinya saja.


Gudang kosong? Untuk apa ia kemari?

Kulihat setelah keluar dari taxi itu, ia berjalan terburu-buru memasuki area gudang tua itu.

Aku memarkirkan motorku dan memutuskan mengikutinya.

Ia berjalan mengendap-endap menuju satu-satunya bangunan disana. Ia mengintip dibalik jendela gudang tua itu.

Entah apa yang ia lihat. Ia menutup mulutnya dengan mata terbuka lebar. Aku merasakan tatapan tak percaya dan takut dibalik sorot matanya.

Aku terus mendekat kearahnya. Sepertinya ia menyadari ada yang mendekat, dan saat ia hendak kabur, dengan tergesa ku bungkam mulutnya dengan tanganku.

"Psssttt… Lu, ini aku."

"Chanyeol!" Kagetnya saat menyadari keberadaanku.

"Pssssttt! Apa yang kau lakukan?" Ia tak menjawabku. Dengan tatapan sendu, ia mengalihkan pandangannya ke dalam gudang tua itu. Aku mengikuti arah pandangannya. Dan,

Itu? Byun Baek Hyun?

Orang yang selalu kuanggap malaikat, sedang menyiksa Hyung dari JongIn?

Aku bahkan nyaris berteriak saat melihat pemandangan di depanku. Dimana Baekhyun dengan tidak berperasaan, memukuli Joonmyeon hyung.

Ingin rasanya aku tak percaya. Tapi, ini terlalu nyata.

"Bagaimana bisa kau tahu aku disini?" Tanya Luhan padaku. Membuatku mengalihkan pandanganku kearahnya.

"Aku mengikutimu sejak di café tadi."

'BUGH'

ASTAGA!

APA YANG BAEKHYUN LAKUKAN?!

Tuhan, Lindungi Joonmyeon hyung.

Aku tak habis pikir, padahal saat itu, mereka terlihat akur. Dan kulihat, baik Joonmyeon hyung dan Baekhyun tak memiliki masalah apapun.

Dan lagi, Joonmyeon hyung, adalah hyung dari JongIn kan? Hyung dari orang yang dicintainya. Tapi mengapa?

"Baterai ponselku habis. Kau tolong hubungi seseorang. Cepat!" Pinta Luhan padaku. Menyadarkanku dari lamunan sesaatku.

"Aku akan mengirim pesan pada Kris." Aku pun dengan tergesa mengetik pesan pada Kris untuk datang kemari. Ku harap mereka semua dapat cepat datang dan menolong Joonmyeon hyung.

"Terkirim. Sekarang tinggal menung- LU!"

Chanyeol POV end

.

.

Author POV

'BRAKKKKK'

"HENTIKAN PERBUATANMU BYUN BAEK HYUN!"

Luhan yang tak tega melihat Joonmyeon disiksa sedemikian kejam, dengan nekatnya mendobrak pintu gudang itu. Membuat Baekhyun yang sedang asik dengan acara 'mari menyiksa Joonmyeon'-nya jadi terganggu.

"Wowowowo... Lihatlah! Ada yang mencoba menjadi pahlawan disini?" Ejek Baekhyun setelah ia membanting kepala Joonmyeon yang ia jambak itu, ke lantai.

"LU!" Dengan tergesa, Chanyeol menyusul Luhan. Mencoba melindungi Luhan, agar tak terjadi sesuatu padanya.

"Wah wah, aku ketahuan ya?" Tanya Baekhyun santai. Pelahan, ia mendekat kearah Luhan dan Chanyeol.

Smirk terpatri di wajah manis seorang Byun Baek Hyun. Tak dipungkiri, membuat Luhan dan Chanyeol sedikit bergidik.

"Apa yang kau lakukan Baekhyun?" Tanya Luhan ketus. Image Luhan si lembut, hilang entah kemana.

"Apa yang aku lakukan? Kau melihatnya kan? Dan kedatangan kalian MENGGANGGU!"

"Mengapa kau menyakitinya Baek? Kalau ini masalah JongIn, harusnya aku! Bukan Joonmyeon!" Ucap Luhan penuh penekanan. Chanyeol yang melihat kedua orang dihadapannya ini berdebat, berinisiatif untuk menolong Joonmyeon, membuka ikatannya.

"Berani kau mendekat, maka peluru ini akan menembus kepalanya!" Ucap Baekhyun tegas. Matanya masih menatap Luhan tajam, sedangkan tangannya yang memegang pistol, mengarah pada kepala Joonmyeon.

"Kau ini kenapa Baek? Apa salah Joonmyeon hyung?!" Tanya Chanyeol. Ia masih tak percaya jika yang di depannya ini adalah Baekhyun.

"Kau tanya apa salah Joonmyeon? Tentu saja karna dia telah merebut JongIn dariku!"

"Kau gila! Dia hyungnya! Kau harusnya melampiaskannya padaku! Bukan pada Joonmyeon, hyung dari JongIn!" Bentak Luhan. Baekhyun hanya tertawa meremehkan omongan Luhan.

"Cih! Kau pikir aku percaya? Akting kalian sangat buruk!"

"Apa maksudmu?!" Tanya Luhan lagi.

"Tak usah pura-pura Luhan! Kau pikir aku tak tahu kalau kau dan JongIn hanya berpura-pura pacaran, agar aku bisa dekat dengan Chanyeol!" Chanyeol yang sedari tadi diam, kini terkaget dengan pernyataan Baekhyun.

"Kau pikir aku tak tahu kalau kau mencintai Chanyeol?" Kini tak hanya mata Chanyeol yang melebar. Ekspresi Luhan juga serupa dengan Chanyeol. Ia tak menyangka kalau ternyata Baekhyun sudah mengetahui semuanya.

"Dan kalian pikir, aku tak tahu kalau JongIn dan Joonmyeon, adalah sepasang kekasih? Cih, sayangnya aku tak sebodoh itu." Dengus Baekhyun. Tiga orang yang mendengar pernyataan Baekhyun barusan pun, hanya tercengang.

"Berpacaran dengan saudara kandung. Adakah hal yang lebih gila dari ini?" Ejek Baekhyun.

"Kau sudah tahu semuanya. Kalau begitu, biarkan mereka pergi. Urusanmu hanya denganku kan?" Ucap Joonmyeon lemah.

"See? Joonmyeon menyuruh kalian pergi. Jadi, pergilah! Kalian mengganggu acaraku!"

"Tidak sebelum kau lepaskan Joonmyeon!" Ucap Luhan tegas.

"Keras kepala juga kau?!" Dan disaat Baekhyun hendak mengarahkan pistolnya kearah Luhan, dengan sigap Chanyeol merebutnya dan melemparnya.

Luhan tak menyiakan kesempatan. Ia berlari kearah Joonmyeon dan melepaskan ikatannya.

"Bertahanlah Joon. Kau kuat kan?" Joonmyeon hanya memberikan senyumannya pada Luhan. Seolah berkata bahwa ia baik-baik saja.

Sementara Luhan melepaskan ikatan Joonmyeon. Chanyeol menahan pergerakan Baekhyun. Chanyeol mengunci pergelangan tangan Baekhyun. Baekhyun terus memberontak. Ia tak ingin rencananya gagal kali ini.

'Brukk'

Dalam sekejap, Baekhyun berhasil membanting tubuh Chanyeol yang notabene jauh lebih besar daripada tubuhnya.

Aaaahh, perlu diketahui bahwa, Bekhyun adalah atlit bela diri 'hapkido'. Jadi tak heran, ia bisa mengalahkan Chanyeol dengan sekali serangan.

Chanyeol dengan menahan rasa sakitnya, berjalan tertatih berusaha menghentikan Baekhyun, yang saat ini berlari menuju Luhan dan Joonmyeon.

"Hentikan Byun Baek Hyun! Berhenti berbuat gila!" Ucap Chanyeol saat berhasil menahan pergerakan Baekhyun.

"SHUT UP!" Dengan tidak berperasaan, Baekhyun menendang perut Chanyeol, hingga Chanyeol jatuh tersungkur dengaan mulut yang mengeluarkan darah.

Baekhyun kembali berlari, ia mengambil balok kayu yang tergeletak di dekatnya. Luhan tak peduli dengan keadaan Chanyeol dan Baekhyun. Ia hanya fokus dengan keadaan Joonmyeon.

"LUHAN! AWAS!"


Myungsoo dan Sungyeol langsung berlari menuju mobilnya setelah mendapat telepon dari Sehun.

'Brukk'

"Ah! Ma- Tao?"

"Sungyeol Hyung?"

"Sungyeol! Cepat! Yang lain sudah menuju lokasi!" Teriak Myungsoo dari depan mobilnya.

"Ada apa hyung? Sepertinya terburu-buru sekali?" Tanya Tao.

"Kau tak tahu? Ah! Kami belum memberitahumu ya. Joonmyeon dalam bahaya. Ia disekap di sebuah gudang tak terpakai. Kami dan yang lainnya akan menuju tempat itu."

"APA?! Aku ikut!"

"Sungyeol! Cepat!" Teriak Myungsoo lagi dari dalam mobilnya.

"Sebaiknya kau berangkat bersama kami. Ayo!" Sungyeol dan Tao pun memasuki mobil Myungsoo yang langsung melaju dengan sangat cepat.


'CIIIITTTTT'

"LUHAN! AWAS!"

Teriakan Chanyeol membuat Daehyun dan JongIn yang baru saja tiba, langsung berlari menuju sumber suara itu.

Yongguk dan Youngjae pun tak kalah panik. Mereka langsung menyusul JongIn dan Daehyun. Bahkan, karna panik, Youngjae masih membawa helm di tangannya.

'DUKKK'

'BRAKKK'

"LUHAAANN!" Teriak Daehyun saat melihat Luhan yang sudah tersungkur dengan kepala yang berlumur darah.

"Kau keterlaluan Baek!" Joonmyeon dengan sisa tenaganya berusaha menolong Luhan. Namun,

'Bruk'

Dengan cepat Baekhyun menjatuhkan Joonmyeon, hingga tengkurap. Dengan cepat ia menginjak punggung Joonmyeon, dan mengunci kedua tangan Joonmyeon.

"HYUNG!" Pekik JongIn frustasi. JongIn hendak berlari menolong Joonmyeon.

"Berani kalian mendekat, aku tak segan-segan membunuhnya!" Ucap Baekhyun sinis. Tangan kirinya merogoh saku celananya, mengeluarkan sebilah pisau, dan mengarahkannya pada leher Joonmyeon.

Ucapan Baekhyun menghentikan langkahnya.

'DRAP DRAP DRAP'

"HENTIKAN PEBUATANMU BAEK!" Ucap Tao lantang. Dibelakangnya, ada Himchan, JongUp, Kris, Sehun, Sungyeol, dan Myungsoo yang tercengang melihat pemandangan di depan mata mereka.

Chanyeol yang tersungkur, darah terus keluar dari mulutnya akibat tendangan Baekhyun. Luhan yang nyaris tak sadarkan diri dengan kepala yang terus mengeluarkan darah. Dan Joonmyeon yang pergerakaannya terkunci.

Yongguk yang tak tahan melihat keadaan Joonmyeon, memikirkan cara untuk menyelamatkannya. Saat ia melihat Youngjae yang masih menenteng Helmnya, dengan sigap ia merebut helm itu dan,

'Duukk'

Melempar helm tersebut, tepat mengenai kepala Baekhyun.

"ARRRSSHHH..." Ringis Baekhyun saat helm itu mengenai keningnya.

Dengan cepat Tao berlari dan mengunci pergerakan Baekhyun. Daehyun dan JongIn berlari kearah Luhan dan Joonmyeon. Sedangkan Kris dan Himchan, dengan sigap menolong Chanyeol yang terus batuk darah.

"Luhan, Luhan." Panggil Daehyun sambil menepuk pipi Luhan.

"Hyung! Bertahanlah!" Youngjae menangis sambil menggenggam tangan Luhan. Ia mengikuti Daehyun untuk melihat kondisi Hyung kesayangannya ini.

"YoungJae..." Sahut Luhan lemah sebelum kesadrannya hilang.

"Lu... Lu, sadarlah Lu!" Panik Daehyun saat melihat Luhan pingsan.

Berbeda dengan JongIn. Ia langsung menggendong Joonmyeon, menjauh dari Baekhyun dan Tao. Mencium setiap inci wajah hyung yang dicintainyaa ini.

"Kau tak apa?" Joonmyeon mengangguk dan memeluk JongIn erat. JongIn menciumi puncak kepala Joonmyeon sayang.

Sementara Daehyun dan Youngjae menolong Luhan. JongIn dan Joonmyeon yang sedang berpelukan. Tao dibantu dengan Yongguk berusaha menahan Baekhyun yang terus memberontak.

"LEPAS!"

"Hentikan Baek! Hentikan! Bukan seperti ini caranya Baek!" Bentak Tao.

"AARGGH! Kenapa kalian menggagalkan rencanaku?!"

"Rencanamu terlalu gila! Kau bisa membunuhnya Tuan Byun!" Ucap Yongguk sambil terus menahan Baekhyun.

"Memang itu yang aku harapkan! Hahahaha.."

"Kau gila!" Desis Tao.

"Aku? MEREKA YANG GILA! BERPACARAN DENGAN SAUDARA KANDUNG SENDIRI!" Ucapan Baekhyun sontak membuat semua yang ada diruangan itu terdiam. Kecuali Luhan dan Chanyeol yang sedang tak sadarkan diri.

Baekhyun yang melihat Tao dan Yongguk yang sedikit lengah, dengan cepat ia melepaskan diri. Ia memungut kembali pisau yang tadi terjatuh, dan

"MATI KAU KIM JOON MYEON!"

"AWAAASSS!"


Para pemuda ini berlari tergesa di sebuah rumah sakit.

"Chanyeol! Chanyeol! Bertahanlah Yeol!"

"Luhan... Kumohon bertahanlah.."

"Lu Hyuuunngg..."

Kris yang masih mencoba menyadarkan Chanyeol. Sehun yang hanya diam dan menangis melihat dua temannya yang tak sadarkan diri. Daehyun yang khawatir melihat keadaan Luhan. Youngjae yang terus menangis melihat Luhan, Hyung yang sangat disayanginya.

Dibelakang mereka, ada Himchan dan Tao yang juga sibuk menolong teman mereka.

"Yongguk... Maafkan aku... Kumohon, bertahanlah..." Joonmyeon terus menangis melihat sahabatnya terbujur dengan luka di bagian perutnya.

Yongguk yang melihat Baekhyun hendak mengarahkan pisaunya kearah Joonmyeon, langsung berlari mencegah Baekhyun, hingga pisau itu langsung menusuk ke perutnya sendiri.

Baekhyun saat ini sedang ditangani oleh Myungsoo, Sungyeol, dan JongUp. Mereka bertiga membawa Baekhyun ke pihak berwajib karena ulahnya yang melukai teman-teman mereka.

"Maaf! Kalian semua tunggu di luar!" Ucap salah satu perawat sebelum menutup pintu ruang operasi.

'Tuhan, selamatkan mereka semua.' Seperti itulah doa mereka untuk ketiga teman mereka.

Joonmyeon hanya terus menangis di pelukan JongIn.

"Tenang Hyung. Yongguk, Luhan, dan Chanyeol akan baik-baik saja." Bisiknya, bermaksud menenangkan Joonmyeon.

"Youngjae, bisa kau jelaskan? Apa yang dikatakan Baekhyun tadi benar? Tentang..." Tanya Kris pelan, agar dua orang yang mereka bicarakan tak mendengar.

Mereka kecuali JongIn dan Joonmyeon sedang terduduk lemas di lantai. Sedangkan dua orang yang menjadi topik duduk menjauh dari teman-temannya.

"Iya! Baekhyun benar." Jawab Youngjae lirih.

"Awalnya aku juga tak percaya. Bagaimana mungkin mereka berpacaran, padahal mereka saudara kandung. Tapi saat melihat besarnya cinta mereka berdua, bagaimana mereka saling melindungi satu sama lain. Aku rasa tak ada yang salah dengan perasaan mereka." Sambung Youngjae.

"Kau benar. Saat bersama Joonmyeon hyung, JongIn menjadi pribadi yang hangat. Ia terlihat sangat bahagia. Begitupun dengan Joonmyeon hyung." Kali ini Sehun yang angkat bicara.

"Ya,, aku sebagai teman Joonmyeon, hanya ingin ia bahagia. Dan sepertinya, yang ia butuhkan hanya JongIn. Dan aku sependapat dengan Youngjae, tak ada yang salah dengan perasaan mereka. Tuhan pasti memiliki maksud dan rencananya sendiri."

"Lalu, bagaimana denganmu Tao? Kau sudah tahu kan bagaimana perasaan Joonmyeon?" Sambung Himchan. Tao yang disebut namanya menoleh, kemudian kembali memandang Joonmyeon dan JongIn.

"Aku sudah mengetahuinya sejak lama." Tao menjeda kalimatnya. Menarik nafas dalam, menghilangkan sesak di dadanya melihat Joonmyeon yang masih menangis dipelukan JongIn.

"Andai aku bisa merelakannya. Tapi aku tak bisa." Sambung Tao. Ia menggenggam tangannya erat, hingga buku jarinya memutih.

"Jika kau ada diposisi JongIn, bagaimana perasaanmu saat kau harus dipisahkan dengan orang yang paling kau cintai? Dan jika kau ada di posisi Joonmyeon Hyung, bagaimana perasaanmu jika kau harus dipaksa untuk hidup bersama orang yang tidak kau cintai?" Ucap Youngjae yang geram dengan keegoisan Tao.

"Aku mencintai Joonmyeon Hyung. Dan kalian tau itu."

"Dua dibanding satu. Jika kau memaksakan perasaanmu, kau menghancurkan perasaan dua orang sekaligus. Apa salahnya mengorbankan perasaan satu orang demi kebahagiaan dua orang yang saling mencintai. Terlebih demi kebahagiaan orang yang kau cintai." Ucap Kris. Tao? Dia hanya diam tak menjawab.

Keadaan hening untuk beberapa saat. Sehun yang sepertinya kelelahan, tertidur dipelukan Kris. Daehyun yang gelisah menunggu pintu ruang operasi terbuka. Youngjae yang terus berdoa agar tiga orang temannya bisa selamat. Tao yang berdiri menyandarkan punggungnya, pandangannya tak lepas dari Joonmyeon yang sudah mulai tenang dipelukan JongIn.

'Ceklek'

Pintu terbuka, tampak seorang dokter yang keluar dari ruangan tersebut. Para pemuda yang sedari tadi cemas langsung mengerubungi dokter yang masih nampak cantik itu, menanyakan keadaan teman-temannya. Termasuk juga Joonmyeon dan JongIn.

"Dokter Hwang?"

"Daehyun?" Sahut dokter itu. Sepertinya dokter tersebut terkejut melihat Daehyun.

"Bagaimana keadaan teman-temanku dok? Juga, Luhan? Bagaimana kondisinya?" Daehyun langsung memberondong dokter cantik itu dengan berbagai pertanyaan.

"Luhan?" Tanya dokter itu.

"Salah satu teman kami bernama Luhan. Bagaimana keadaan mereka dok?" Himchan menjelaskan pada dokter tersebut.

"Keadaan mereka baik. Tak ada luka serius. Mungkin besok pagi, mereka akan sadar. Hanya butuh istirahat beberapa hari untuk memulihkan keadaan mereka. Hanya-"

"Ada apa dok?" Sahut Joonmyeon. Ia terlihat sangat khawatir dan merasa bersalah. Ia merasa ini semua salahnya. Karna menyelamatkannya, teman-temannya jadi terluka.

"Teman kalian yang tertusuk. Luka tusukannya sangat dalam dan hampir melukai organ dalamnya. Berdoalah agar ia dapat melewati masa kritisnya." Ucapan dokter tersebut membuat kaki Joonmyeon lemas seketika. Ia merasa bersalah pada sahabat semasa SMA-nya itu. Beruntung JongIn langsung menangkap tubuh rapuh Hyung-nya itu dan membawanya dalam pelukannya.

"Mereka akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Sebaiknya kalian beristirahat dulu. Anak muda, sebaiknya kau juga obati dulu lukamu, aku akan memanggil perawat untuk membersihkan lukamu. Daehyun, bisa kita bicara?" Daehyun meninggalkan teman-temannya menuju ke ruangan dokter tersebut.

Seorang perawat menghampiri Joonmyeon dan membawanya untuk membersihkan luka-lukanya.

"Aku akan menyelesaikan administrasinya. Kris, sebaiknya kau pulang. Kasihan Sehun. Dia nampak sangat lelah."

"Aku tunggu disini hyung. Aku akan menemani Luhan hyung. Sekalian menunggu kabar dari Sungyeol hyung, Myungsoo hyung, dan Jongup." Ucap Youngjae.

"Aku juga menunggu disini." Ucap JongIn.

"Baiklah. Tao, kau kuantar bagaimana? Mobilmu kau tinggalkan di kampus kan?" Ucap Kris. Tao ingin menolak, tapi,

"Pualnglah Tao, paman dan bibi Huang akan cemas menunggumu. Aku akan menjaga Joonmyeon hyung. Terima kasih sudah membantu." Ucap JongIn pada Tao.

"Baiklah. Aku pulang dulu. Tolong jaga Joonmyeon hyung. Kalau ada apa-apa, hubungi aku." JongIn mengangguk. Dan Tao pun pergi bersama Kris dan Sehun meninggalkan rumah sakit.

"Haahhh..." Terdengar helaan nafas lelah dari seorang Kim Jong In. Youngjae yang melihat kawannya sedikit frustasi ini, menepuk pundaknya. Memberi kekuatan.

"Setidaknya, masalah antara kau dengan Baekhyun, sudah beres kan? Untuk selanjutnya, kami tetap akan membantumu." Ucap Youngjae.

"Terima kasih." Ya, setidaknya dengan kehadiran kawan-kawannya dapat menghibur hati JongIn.


"Jika bibi memintaku untuk kembali ke rumah, maka lupakanlah!" Ucap Daehyun saat sudah berada di ruangan dokter Hwang.

"Kau ini! Benar-benar tak sopan! Duduklah dulu! Ada yang ingin aku tanyakan." Ucap dokter Hwang.

"Ada apa bi?" Tanya Daehyun malas.

"Diantara mereka, mana yang bernama Luhan?" Tanya dokter Hwang tegas.

"Yang berwajah manis. Yang terluka dibagian kepala. Ada apa dengannya bi?" Tanya Daehyun penasaran.

"Apa yang kau ketahui tentangnya?" Bukannya menjawab, dokter Hwang malah bertanya lagi. Membuat Daehyun bingung dengan sikap dokter cantik dihadapannya ini.

"Setahuku, ia lahir di China, ia tinggal di salah satu panti asuhan di China. Kemudian saat lulus SMA, ia bersama temannya memutuskan kuliah di korea. Itu yang ia ceritakan padaku."

"Sepertinya firasat Wenxia eonnie benar?" Ucap dokter Hwang sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Wenxia? Mama? Apa maksudnya?" Daehyun semakin heran saat nama ibunya disebut.

Dokter Hwang membenarkan duduknya kemudian menatap Daehyun dengaan serius.

"Aku akan menceritakan sesuatu padamu. Tapi berjanjilah, kau akan membantuku. Dan jangan membenci. Mama-mu. Mengerti!" Daehyun mengangguk dan menajamkan pendengarannya baik-baik.

"Jadi begini-"


Di sebuah ruang rawat rumah sakit, terlihat tiga orang pemuda sedang tertidur pulas. Seorang pemuda tertidur di atas kasur, dengan selang infus yang menancap di tangannya. Seorang lagi sedng tidur menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan tangannya yang memeluk seorang pemuda mungil berwajah manis yang kini terlihat nyaman tidur dipelukannya. Satu tangan pemuda manis ini, menggenggam tangan si pasien yang terbebas dari infus.

Pelahan, Yongguk, pasien rumah sakit itu membuka matanya. Mengerjapkan berkali-kali. Ia menolehkan kepalanya kesamping saat merasakan sesuatu yang lembut menggenggam tangannya.

"Joonmyeon..." Lirihnya. Ia tersenyum saat melihat Joonmyeon yang tertidur sambil menggenggam tangannya.

Pelahan ia melepaskan tangannya dari genggaman Joonmyeon. Dengan hati-hati, ia membelai wajah damai Joonmyeon.

Joonmyeon mengernyitkan alisnya, merasa tidurnya terganggu. Ia membuka matanya pelahan.

"Kau sudah bangun Joon?" Suara lemah Yongguk membuat mata sipit Joonmyeon terbuka lebar.

"YONGGUK?! KAU SUDAH SADAR?!" Tanyanya kelewat semangat. JongIn yang mendengar pekikan Joonmyeon, terbangun karna kaget. Ia memegangi kepalanya yang sedikit pusing.

"Hyung, ini masih pagi, jangan teriak-teriak." Ucap JongIn dengan suara seraknya.

Yongguk hanya terkekeh kecil melihat JongIn yang protes akibat keantusiasan Joonmyeon.

"Arrsshh..." Ringis Yongguk, saat merasakan perih di perutnya.

"EEHH?! Kau tak apa? Jjong! Panggilkan dokter!" JongIn pun langsung melesat pergi memanggil dokter.

Tak lama, ia kembali bersama seorang dokter. Dokter tersebut langsung memeriksa Yongguk.

"Bersyukurlah ia cepat sadar. Masa kritisnya sudah lewat. Jangan banyak bergerak, karna lukanya belum kering. Saya permisi dulu." Ucap dokter itu sebelum pergi meninggalkan para pemuda rupawan itu.

Keadaan seketika hening sepeninggal dokter itu. Hanya suara detik jam dan helaan nafas yang 'meramaikan' suasana di kamar itu. Kecanggungan terlihat jelas diantara mereka bertiga.

"Kalian/Kau tak apa?" Tanya Joonmyeon dan Yongguk bersamaan. Dan mereka terkekeh setelahnya.

"Harusnya aku yang bertanya, bagaimana keadaanmu? Aku tak apa kalau kau ingin tahu!" Ucap Joonmyeon. Bibirnya mengerucut, entah apa penyebabnya.

"Kau ini, aku belum menanyakan keadaanmu bodoh! Percaya diri sekali kau." Ejek Yongguk yang membuat bibir Joonmyeon semakin mengerucut membuatnya nampak seperti anak kecil yang kehilngn robot gundamnya.

"Kau mengataiku bodoh?! Dasar tiger gadungan!" Rajuk Joonmyeon.

"Dan kau? Bocah pendek kekurangan kalsium. Hahahhahaha...aaaarrrssshhh.."

"Rasakan itu! For your information mr. Bang, Aku bukan pendek! Tapi hanya tinggi yang tertunda! Bweeekk.." Ejek Joonmyeon sambil menjulurkan lidahnya saat melihat Yongguk meringis karna tertawa.

Melihat Joonmyeon yang dapat tertawa, tersenyum, dan bercanda lagi dengannya, membuat hati Yongguk menghangat. Sungguh ia sangat merindukan masa-masa seperti ini. Dimana Yongguk bisa mengejek Joonmyeon sesuka hatinya. Joonmyeon yang terkadang merajuk padanya. Sungguh ia merindukan 'sahabat pendeknya' ini.

"Hahahaha, sudah sudah. Perutku masih sakit, lukanya belum kering. Dan aku tak ingin ada luka tambahan dari orang yang sedang cemburu. Kau tahu? Orang yang cemburu itu, kekuatannya bisa bertambah jadi berpuluh kali lipat." Canda Yongguk. Ia memandang JongIn yang amat sangat terlihat jika ia sedang menahan cemburu. Lihat saja wajahnya, seperti beruang yang sedang sembelit.

Joonmyeon yang baru sadar kalau dia melupakan JongIn, memutar kepalanya. Memandaang JongIn dengan pandangan 'jangan cemburu'. Seolah mengerti, JongIn pun berjalan mendekat kearah sepasang sahabat yang baru berbaikan ini.

"Bagaimana keadaanmu oppa? Eh?! Hyung?" Ucap JongIn gugup. Saking gugupnya ia. Hampir melupkan gender-nya sendiri.

"HAHAHAHA..." Seketika tawa meledak dari bibir Joonmyen dan Yongguk. Membuat wajah JongIn menjadi sangat merah karna menahan malu.

"Kalau kau tak terbiasa memanggilku Hyung, panggil saja aku oppa. Yongguk oppa." Ejek Yongguk. Membuat JongIn sedikit sebal. Namun, setidaknya, Yongguk tak lagi bersikap dingin padanya.

"Issshh.. Aku hanya gugup! Aku gugup berbicara dengan sainganku sendiri!"

"Hahaha. Arraseo Arraseo. Jadi, kau tak terluka kan?" Tanya Yongguk pada JongIn.

"Tidak. Harusnya kau mengkhawatirkan keadanmu sendiri. Apa itu sakit?" JongIn menunjuk luka di perut Yongguk.

"Mau mencobanya?"

"ANIYA!" Teriak JongIn. Persis seperti teriakan salah satu member boyband di lagu mereka yang berjudul MAMA.

"Aku hanya bertanya. Kenapa jadi disuruh mencoba?" Sambung JongIn dengan nada yang terdengar sedikit merajuk.

"Hentikan! Suara dan wajahmu sama sekali tak cocok jika kau merajuk seperti itu!" Ucap Joonmyeon sambil memutar bola matanya, malas.

"Hahaha. Kau benar dwarf."

'Plakk'

Satu jitakan mendarat mulus di kepala Yongguk.

"Aku bukan kurcaci, tiger jelek! Aku tak pendek."

"Arshh, iya iya. Kau tega Joon." Ucap Yongguk sambil mengusap kepalanya yang terkena jitakan dan hanya dijawab dengan juluran lidah oleh Joonmyeon.

"Jong, bisa kita bicara berdua?" JongIn mengangguk.

"Kenapa hanya Jongin?" Rajuk Joonmyeon.

"Ini hanya pembicaraan khusus orang dewasa yang tampan. Bocah, dilarang mendengar. Hush hush." Usir Yongguk.

"Baik baik. Aku juga mau menengok Luhan dan Chanyeol dulu." Yongguk dan JongIn terkekeh melihat Joonmyeon yang keluar dengan kaki sedikit dihentakkan.

"JongIn." Panggilan Yongguk membuat JongIn menolehkan kepalanya.

"Aku..."


"Euunngghh..." Lenguh pemuda manis ini. Ia memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.

"Kau sudah bangun hyung?" Tanya Youngjae yang sedang duduk di kursi samping Luhan.

"Youngjae? Ini dimana?"

"Ini di Rumah Sakit Hyung. Kemarin kau terluka saat menyelamatkan Joonmyeon hyung. Bagaimana keadaanmu? Aku panggilkan dokter dulu ya?" Ucap Youngjae penuh kelembutan.

"Tak usah. Nanti juga mereka pasti kemari." Tolak Luhan. Ia sungguh malas jika harus menjawab pertanyaan para dokter. Kepalanya masih terlalu pusing kalau harus mendengar ocehan dokter.

"Baiklah."

"Oia, Chanyeol dan Joonmyeon? Bagaimana keadaan mereka?"

"Joonmyeon baik-baik saja Hyung. Chanyeol juga masih dirawat di ruangaan sebelah. Sedangkan Yongguk, aku tak tahu. Aku belum sempat menengoknya." Jelas Youngjae.

"Yongguk? Kenapa dia?" Tanyanya heran. Jelas saja ia tak tahu, karna ia sudah pingsan sebelum kejadian penusukan itu terjadi.

"Ia tertusuk. Ia bermaksud menyelamatkan Joonmyeon, tapi malah tertusuk."

"Astaga! Aku tak menyangka akan jadi seperti ini."

"Yaa, sepertinya Baekhyun benar-benar terobsesi dengan JongIn. Beruntung ia sudah ditangani oleh pihak berwajib Hyung." Ucap Youngjaae. Baik Youngjae maupun Luhan, tak ada yang menyangka kalau Baekhyun akan senekat kemarin.

"Oia, bukankah kemarin kalian datang bersama Daehyun? Bagaimana dia?" Tanya Luhan. Entahlah, ia hanya merasa sedikit khawatir padanya.

"Ia tak apa. Setelah ia dipanggil oleh dokter, ia langsung pergi dan tak terlihat. Eh?! Mengapa kau menanyakan keadaaannya?" Tanya Youngjae dengan raut wajah tak suka.

"Entahlah. Aku hanya merasa khawatir padanya." Ingatannya berputar kembali saat mereka di cafe. Sat Daehyun mencium Luhan, lembut.

Luhan menggelengkan kepalnya. Wajahnya memerah. Sungguh, membuat Luhan malu saat mengingat kejadian itu. Terlebih, saat Luhaan dengan berani, mencium pipi Daehyun. Dia benar-benar merasa sangat agresif.

"Hyung? Kau demam? Kenapa wajahmu merah?" Heran Youngae. Tangannya terulur untuk mengecek suhu tubuh Luhan.

"Tak panas." Gumamnya lagi. Sedangkan Luhan, ia terlalu lemas untuk menyingkirkan tangan Youngjae dari dahinya.

"Jangan-jangan kau jatuh cinta pada Daehyun ya?!" Hardik Youngjae.

"TIDAK!" Teriak Luhan dengan wajah yang sangat merah.

"Yakin?" Selidik Youngjae lagi. Dan bisa ditebak, wajah Luhan semakin memerah.

"Eee-eenng..."

"Pokoknya aku tak setuju kau dengannya?"

"Eh?! Kenapa begitu?" Protes Luhan.

"Karna aku tak suka padanya. Wajahnya seperti om-om mesum. Tak cocok dengan wajahmu yang imut."

"Kau ini ada-ada saja. Jangan-jangan kau suka dengannya ya?" Goda Luhan. Youngjae hanya memutar bola matanya.

"Itu tak mungkin. Dan aku juga sudah menyukai orang lain Hyung." Bantahnya.

"Eh?! Siapa siapa?" Tanya Luhan antusias.

"Kau!"

"MWO?!" Luhan merasa perlu memeriksakan telinganya sekarang. Matanya membulat, tak percaya dengan penuturan Youngjae.

Youngjae yang melihat ekspresi Luhan yang terkejut, pelahan mendekatkan wajahnya.

"Aku menyukaimu Hyung!"

.

.

.

"BUAHAHAHAHA... Wajahmu aneh Hyung. HUAHAHAHAHA."

Luhan mengerjapkan matanya berkali-kali melihat Youngjae yang tertawa terbahak-bahak.

"HUAHAHAHAHA..." Tawanya terus menggema melihat ekspresi Luhan yang nampak benar-benar seperti bocah yang tersesat.

"Aku bercanda hyung. Aku memang menyayangimu. Sangat menyayangimu. Karna kau hyungku. Maka dari itu aku ingin hyungku yang manis ini mendapatkan orang yang terbaik." Ucap Youngjae saat tawanya mereda. Luhan hanya tersenyum melihat Youngjae. Senyum tulus yang terlihat sangat manis di mata semua orang. Youngjae pun membalas senyum Luhan tak kalah manisnya.

"Kau memang adikku Jae. Aku juga menyayangimu." Ucap Luhan. Air mata keluar dari pelupuk matanya. Air mata bahagia. Ia benar-benar bahagia saat ini. Ia merasa memiliki keluarga. Ia tak lagi merasa sendiri. Sungguh Luhan sangat bersyukur pada Tuhan saat ini.

Yongjae yang melihat Luhan menangis, pelahan memeluknya. Mengusap punggung Luhan.

"Kau kuat Hyung. Kau hebat. Aku yakin suatu saat, dia akan menyesal telah menyiakan orang baik sepertimu. Tersenyumlah. Aku, JongIn, Sehun dan yang lainnya akan terus mendukungmu."

"Terima kasih Jae. Terima kasih."

"Sama-sama."

"Eh?! Tapi kau belum menjawab pertanyaanku hyung! Kau menyukai si anak baru itu? Sepupu Sehun itu?" Tanya Youngjae lagi. Ia melepaskan pelukannya dan memandang Luhan dengan pandangan menyelidik.

"Eemmhh.. Entahlah. Hanya-"

"Hanya?"

"Aku merasa nyaman di dekatnya."

"Sungguh? Kau sudah melupakan si Park tiang itu?"

"Aku tak tahu Jae. Jauh di lubuk hatiku, aku masih mencintainya. Sangat. Tapi, ketika di dekat Daehyun, aku merasa nyaman." Jelas Luhan. Ia tak berbohong. Ia memang baru mengenal Daehyu. Tapi entahlah, ia merasa nyaman jika sedang bersama Daehyun.

"Lalu kau?! Siapa seseorang yang kau suka itu? Apa aku mengenalnya?" Tanya Luhan penasaran.

"Kau jangan bilang siapa-siapa ya hyung. Rahasiakan ini terutama dari Sehun dan JongIn. Kau tahu kan, mereka itu seperti apa?"

"Hahaha. Arra arra.. Siapa siapa?"

"Dia itu..."

Mereka terlalu asik mengobrol. Bahkan sekarang mereka tertawa setelah Youngjae membisikkan nama orang yang ia suka itu. Hingga mereka tak menyadari, ada seseorang yang memperhatikan interaksi mereka. Menatap mereka dengan pandangan sendu. Tangannya meremas dada kirinya.

'Apa yang harus aku lakukan Tuhan?'

.

.

The end ajja yaa? *dicekek Sooman*

.

Ada yang tanya, "author line berapa? Jadi k-popers sejak kapan?"
Aku se-Line sama Lay. Bulan+tahunnya sama persis. Jadi k-popers sejak kapan, aku sendiri lupa. Hehehe. Pokoknya sejak aku kelas 3 sd, aku sudah diracuni virus k-pop sama kaKak sepupuku. Bias pertama kali, si Toni An sm si kangta itu. Eugene juga. Tablo juga. Tapi jadi k-popers akut ya sejak tvxq semakin menggila sejak kehadiran Super Junior dan Big Bang.. *Ahhhh,, HANGENG…. NEOMU SARANGHAE*

*Blettaaakkk*

.

Aku terharu baca review dari kalian semua. Ciyus. Enelan..
Makasii buat dukungannya. Mulai sekarang, kalo ada yang nge-bash lagi, gag akan t ladenin. Biar mereka yang capek. Hahaha

.

Oia, ada yang nagih-nagih epep BaekHo.
Bentar yaa, ntar kalo tugas perancangan water tratment ini selese, pasti t bikinin. Sementara, post epep yang udah jadi ajja dulu. Hehehe

.
Minta doanya yaaa readers-nim,, biar tugas perancangan ini bisa cepet selese. Biar aku cepet skripsi. Terus cepet di wisuda. Habis itu nerusin S2 ke Tokyo university biar bisa ketemu kenshin sm naruto *plettaaakkk*

.

Makasi yang uda baca, review, favorite, follow. I love u all *kecup satu satu*

Minta reviewnya lagi yaa *puppy eyes bareng yongguk* ^.^