"Jong, bisa kita bicara berdua?" JongIn mengangguk.

"Kenapa hanya Jongin?" Rajuk Joonmyeon.

"Ini hanya pembicaraan khusus orang dewasa yang tampan. Bocah, dilarang mendengar. Hush hush." Usir Yongguk.

"Baik baik. Aku juga mau menengok Luhan dan Chanyeol dulu." Yongguk dan JongIn terkekeh melihat Joonmyeon yang keluar dengan kaki sedikit dihentakkan.

"JongIn." Panggilan Yongguk membuat JongIn menolehkan kepalanya.

"Aku..."

.

.

.

PART 13

.

.

.

"Kau tahu kan aku sangat mencintai Joonmyeon?" JongIn hanya mengangguk. Ia terus menatap Yongguk, yang saat ini hanya memandangi langit-langit kamar.

"Aku tak ingin perasaan ini berubah menjadi obsesi dan malah berakhir menyakitinya."

"Huuufftthhh.."

Yongguk mengalihkan pandangannya. Ia menatap JongIn yang juga sedang menatapnya. Ia menggenggam tangan JongIn dan tersenyum. Senyum yang jarang sekali ia perlihatkan.

"Aku, menyerah." Ucapnya mantap. JongIn yang masih tak mengerti maksud dari Yongguk hanya memandangnya bingung. Membuat Yongguk terkekeh kecil melihat ekspresinya.

"Jaga Joonmyeon. Hanya kau yang bisa membuatnya bahagia." Ucap Yongguk sambil menggenggam tangan JongIn.

"Hyung, kau?"

"Aku serius, dan jangan pernah kau membuatku menyesal dengan keputusan ini. Lagi pula bersahabat dengannya, melihatnya tertawa, mengejeknya, itu sudah cukup untukku. Jadi, bisa kan kau menjaganya? Membuatnya selalu tersenyum dan membuatnya bahagia?"

"Pasti Hyung. Aku akan terus menjaganya." Ucap JongIn mantap.

"Bagus. Aku pegang janjimu Kim Jong In."

"Tentu Bang Yong Guk." Dan mereka pun tertawa bersama sebagai tanda perdamaian mereka.


Joonmyeon berjalan dengan senyum mengembang di wajahnya.

Wajahnya terlihat sumringah setelah menguping pembicaraan antara JongIn dengan Yongguk.

Ia sedikit merasa lega, karna setidaknya, masalahnya dengan Yongguk sudah selesai. Dan Yongguk, kembali menjadi Yongguk yang dulu. Yongguk sahabatnya.

"Huuufftthh..." Jonnmyeon menghela nafasnya berat setelah mengingat bahwa masih banyak masalah yang harus dihadapinya.

Tao, teman-temannya, dan Orang tuanya.

"Haaahh..." Mengingat kedua orang tuanya, membuatnya kembali menghela nafasnya. Mana mungkin orang tuanya mau menerima begitu saja hubungannya dengan JongIn.

"Eh?! Sedang apa dia disitu?" Gumamnya saat melihat seseorang berdiri di depan kamar Luhan.

Joonmyeon pun berjalan mendekatinya. Ia sedikit heran. Mengapa orang itu hanya memandang Luhan. Mengapa ia tak langsung masuk saja.

"Chanyeol?!" Panggil Joonmyeon sambil menepuk pundaknya.

"Eh?! Hyung?"

"Sedang apa kau? Kenapa kau tak masuk saja?"

"Ah! Tidak Hyung. Aku takut mengganggu mereka berdua." Jawabnya sambil memandang Luhan dan Youngjae yang sedang asik bercanda.

"Ah, bagaimana keadaanmu Hyung? Kau tak apa kan?" Tanya Chanyeol.

"Aku tak apa. Luka di wajah dan tubuhku juga sudah diobati kemarin. Kau sendiri?"

"Kau bisa melihatnya kan Hyung. Aku baik-baik saja. Hehehe." Jawab Chanyeol yang diakhiri dengan tawa idiot ciri khas dirinya.

"Tapi kau harus banyak istirahat Chanyeol. Ayo, kuantar kau kembali ke kamarmu." Tawar Joonmyeon. Chanyeol masih diam di tempat. Matanya tak bisa lepas dari sosok Luhan yang terlihat sangat manis dimatanya saat ini.

"Aaaahhh,, atau kau mau ku panggilkan Luhan, lalu aku bilang padanya kalau kau memperhatiknnya sedari tadi?" Goda Joonmyeon.

"Eh?! Tidak tidak. Lebih baik aku kembali ke kamar." Chanyeol pun kembali ke kamarnya dengan tidak ikhlas, diikuti oleh kekehan dari Joonmyeon.


Daehyun menghela nafasnya memandang bangunan yang ada dihadapannya.

"Baru beberapa hari dan aku sudah kembali ke tempat ini? Sungguh bukan gayaku." Gumamnya. Ia kembali menghela nafasnya. Sungguh, ia tak ingin menginjakkan kaki ke tampat ini. Ia tak ingin bertemu dengan sang diktator, atau ia biasa memanggilnya 'Appa'. Namun,

"Demi Luhan. Ya! Demi Luhan." Ucapnya mantap sebelum ia akhirnya melangka masuk ke rumahnya. Rumahnya bersama ayah dan ibunya.

"Aku pulang!" Teriaknya

"ASTAGA?! DAEHYUN?!" Pekik seorang wanita paruh baya yang masih nampak cantik di usianya.

"Iya mama. Ini Daehyun." Jawabnya sambil tersenyum manis. Ia berjalan kearah mama-nya dan memeluk sang ibu dengan sayang.

"Kau kemana saja sayang? Tak tahukah kau mama dan appa khawatir padamu nak."

"Appa? Khawatir? Mana mungkin mama." Sang ibu hanya tersenyum maklum. Karna memang ia sudah tahu bagaimana hubungan ayah dan anak ini.

"Yasudah. Mama masak makanan kesukaanmu. Ayo makan."

"Benarkah? Waaaahh, mama-ku memang yang terbaik!" Ucap Daehyun sambil mencium pipi ibunya. Ibunya hanya tertawa melihat kelakuan anaknya yang selalu berubah image-nya jika diberi iming-iming 'makanan kesukaan'.

"Oh iya ma, aku juga ingin bertanya sesuatu padamu." Daehyun yang melihat ibunya memandangnya heran, langsung memeluk pundak sang ibu, mengajaknya duduk di ruang makan.

.

.

.

"Dulu, jauh sebelum ia mengenal Jung Il Woo, Wen Xia Yu adalah seorang mahasiswi salah satu universitas di Beijing yang kepandaiannya tak usah diragukan lagi."

"Ia hanya seorang anak dari keluarga yang bisa dibilang dari golongan ekonomi rendah. Ayahnya hanya pekerja serabutan, sedangkan ibunya hanyalah pembantu rumah tangga."

"Ia bisa diterima di universitas elite itu juga karna hasil kerja kerasnya. Ia mendapat beasiswa full hingga akhirnya ia menjadi seorang sarjana."

"Cantik, pandai, berbakat, baik hati. Itulah Wenxia. Siapa pun yang melihatnya, pasti terpesona padanya. Sama seperti lelaki itu."

"Vannes Wu. Lelaki tampan blasteran Taiwan-Amerika, cerdas, dan pandai menyanyi serta menari. Lelaki itu jatuh cinta pada kecantikan dan kebaikan hati Wenxia."

"Singkat cerita, mereka bertemu, saling mengenal, dan mereka pun menjadi sepasang kekasih."

"Hubungan mereka pun terlihat romantis. Banyak yang cemburu melihat Vaness si tampan yang bisa berdampingan dengan princess Wenxia."

"Kebahagiaan mereka pun bertambah saat Wenxia dinyatakan hamil, buah cinta mereka. Aku tak bisa menggambarkan bagaimana ekspresi Vaness saat itu. Ia nampak seperti orang bodoh yang terus tertawa sepanjang hari."

"Namun, nyatanya kebahagiaan tak selalu memihak mereka. Dimulai saat Vanness mendatangi rumah kedua orang tuanya. Meminta restu untuk dapat segera menikahi Wenxia. Namun yang mereka dapat, hanyalah bentakan dan hinaan. Bahkan, mereka menuduh Wenxia sebagai wanita murahan yang menggoda anaknya."

"Alasan mengpa orang tua Vanness tidak merestui, klise, karna Wenxia bukan anak dari konglomerat, pejabat, atau petinggi-petinggi lainnya. Ia hanya anak orang miskin yang beruntung."

"Seperti dalam drama. Vanness dengan berani, menentang kedua orang tuanya. Ia pergi bersama dengan Wenxia dan juga kedua orang tua Wenxia."

"Salahkan jabatan kedua orang tua mereka yang terbilang tinggi. Salahkan juga mereka yang kaya raya, hingga dengan mudah mereka melacak keberadaan anak mereka yang kabur itu."

"Dengan tidak berperasaan, para bodyguard itu membunuh kedua orang tua Wenxia yang berusaha melindungi Wenxia dan Vanness. "

"Vanness yang merasa keadaan tak lagi berpihak pada mereka, berusaha melindungi Wenxia dan anak yang dikandungnya. Ia membereskan semua barang dan pakaian Wenxia dan menyuruhnya pergi dari tempat itu."

"Wenxia tak mau. Namun Vanness terus memaksanya dan Ia berjanji akan menemuinya setelah berhasil mengalahkan bodyguard-bodyguard orang tuanya itu. Namun naas, Vanness tertembak. Saat bodyguard itu membidik Wenxia, dengan sigap ia mendorong Wenxia dan ia pun meninggal dihadapan Wenxia."

.

.

.

Wenxia menangis sesenggukan saat mengingat masa-masa suramnya. Daehyun yang melihat sang ibu menangis, merasakan hatinya perih. Ia memeluk sang ibu, menenggelamkan kepala sang ibu di dada bidangnya. Membiarkan sang ibu melampiaskan semua kesedihannya.

"Maafkan Daehyun mama. Daehyun tak bermaksud membuat mama menangis. Ku mohon jangan menangis. Hati Daehyun sakit melihatnya ma~" Wenxia menggeleng mendengar ucapan anaknya. Pelahan ia mengangkat kepalanya, kemudian ia menghapus air mata yang mengotori wajah tampan anaknya.

"Tak apa nak. Sudah seharusnya kan mengetahui hal ini. Maafkan mama yang menyembunyikan ini semua darimu."

"Tak apa ma. Aku mengerti. Ini semua pasti berat untuk mama. Dan kumohon, jangan menangis." Ucap Daehyun sambil menghapus air mata dari wajah cantik ibunya.

"Lalu? Tentang aku memiliki kakak? Apakah itu benar?" Tanya Daehyun lagi. Mata Wenxia menerawang jauh. Tersirat perasaan sedih dan bersalah di dalamnya.

"Tentang kakakmu..."

.

.

.

.

"Kepandaian, nilai yang tinggi, lulus dengan predikat Cumlaud, seakan tiada artinya. Wenxia di blacklist di seluruh perusahaan yang ada di China, Taiwan, Jepang, dan sekitarnya. Penyebabnya? Kau pasti bisa menebaknya kan?"

"Wenxia sudah tak memiliki siapa pun. Ia juga tak memiliki apa pun. Kandungannya semakin membesar. Hingga tiba saatnya ia melahirkan."

"Ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat manis. Kulit yang bersih dan halus. Sungguh ia sangat bahagia ketika melihat bayinya. Hasil buah cintanya bersama orang yang paling ia cintai."

"Namun disatu sisi, ia sadar, bahwa ia tak memiliki apapun untuk menghidupi anaknya. Jangankan untuk anaknya, untuk menghidupi dirinya sendiri pun ia tak mampu."

"Dengan sangat terpaksa, ia menitipkan anak itu di sebuah panti asuhan. Ia bermaksud hanya menitipkannya dan akan mengambilnya kembali setelah ekonominya terbilang cukup untuk menghidupi dirinya dan anaknya."

"Ia berusaha mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang cukup besar agar ia bisa cepat-cepat memiliki banyak uang dan segera mengambil kembali anaknya yang ia titipkan di panti asuhan itu."

"Ia pun bekerja di sebuah club malam. Ia menjadi yaaah, you know what lah. Hingga ia bertemu dengan ayahmu, Jung Il Woo."

"Ia tersentuh mendengar kisah hidup Wenxia yang ia dengar dari beberapa orang. Dan saat ia melihat sosoknya untuk pertama kali, Ia langsung jatuh hati pada Wenxia. Bukan karna paras ayunya atau lekuk tubuhnya yang sempurna. Tapi ia jatuh cinta pada kekuatan dan ketegaran hati seorang Wen Xia Yu."

"Wenxia pun menerima pinangan Jung Il Woo. Dan saat mereka hendak menjemput putra Wenxia di panti asuhan itu, ternyata panti asuhan itu sudah pindah ke tempat lain."

"Wenxia sedih? Jelas. Ia merasa sangat terpukul. Mereka terus berusaha mencari lokasi panti asuhan itu. Warga di sekitar panti itu pun tak ada yang tahu kemana mereka semua pindah. Mereka terus mencari dan mencari. Namun, karna kondisi sudah tidak memungkinkan, dan suaminya harus segera kembali ke Seoul maka mereka menghentikan pencarian mereka."

"Wenxia terus berdoa dan berharap, ia dapat dipertemukan kembali dengan sang anak. Apapun keadaannya."

"Dan sepertinya doanya terkabul. Saat ia bertemu sosok itu. Sosok yang ia yakini adalah anaknya. Dan anak itu adalah-"

.

.

.

.

"Luhan?" Dan Wenxia mengangguk.

"Saat mama pertama kali bertemu dengannya di supermarket, mama yakin dia anak mama. Anak mama yang hilang Dae." Ucap Wenxia. Air mata terus membasahi pipi tirusnya. Pandangan matanya kosong.

Dan inilah jawaban dari semua pertanyaan di hati Daehyun tentang mama-nya.

Ia memang sering melihat mama-nya melamun dan menangis tanpa sebab. Inilah jawabannya. Sang mama, merindukan anaknya yang hilang, yang berarti juga kakaknya.

Jujur, Daehyun senang saat mengetahui bahwa ia memiliki seorang kakak. Tapi? Kenapa harus Luhan orangnya? Pemuda yang sukses mencuri hatinya saat pandangan pertama.

"Mama..."

"Iya sayang?"

"Aku dan bibi Hwang sudah melakukan tes DNA terhadap Luhan. Sampel rambut mama, yang mama berikan beberapa hari yang lalu, sedang di analisa saat ini."

"Kau sudah bertemu dengannya?" Kaget sang ibu. Daehyun mengangguk mendengar pertanyaan ibunya.

"Ceritanya panjang ma. Yang jelas, sekarang aku tahu kenapa aku begitu tertarik padanya saat pandangan pertama. Ternyata, karna ia adalah kakakku. Kakak dari ibu yang sama denganku." Hatinya perih saat mengakui bahwa Luhan adalah kakaknya. Tak ingin ia mengakui hal itu.

"Daehyun menyukainya ma. Daehyun terlanjur menyukainya." Ucapnya dengan menangis. Wenxia langsung membawa anaknya itu kedalam dekapannya.

"Maafkan mama Dae. Maaf. Harusnya mama memberitahumu sejak awal. Maafkan mama." Sungguh, Wenxia benar-benar merasa bersalah pada anak keduanya ini. Ia merasa, ia adalah penyebab patah hati Daehyun.

"Mama tak salah. Mama tak usah khawatir. Beberapa hari lagi, tes DNA-nya keluar. Dan semoga, Luhan memang benar anak kandung mama. Mama jangan menangis lagi ya? Jangan khawatirkan Daehyun. Arraseo?" Ucap Daehyun sambil tersenyum. Senyum perih.

Wenxia hanya mengangguk dan memeluk anaknya kembali dengan sayang.

"Terima kasih anakku. Terima kasih."

Daehyun memang menyukai Luhan. Tapi ia tak ingin egois. Daehyun tahu, kebahagiaan Luhan adalah bertemu kembali dengan ibunya. Dan kebahagiaan ibunya, adalah dapat bertemu kembali dengan anaknya yang hilang itu. Dan baginya, kebahagiaan dua orang yang sangat disayanginya, adalah hal terpenting yang harus diwujudkan.

Dan sebelum perasannya pada Luhan semakin menjadi, maka ia akan berusaha menguburnya dalam-dalam. Mengganti perasaan 'suka' itu menjadi perasaan 'sayang'. Perasaan sayang adik, untuk kakaknya.

'Tuhan, kumohon, buatlah akhir bahagia untuk keluarga kami.'


"Seminggu berlalu. Dan acara pertunangaan itu semakin dekat. Huuuffftthhh..." Keluh Joonmyeon.

Dua minggu lagi pertungannya dengan Tao. Tapi ia sama sekali belum siap.

"Apa yang harus aku lakukan Tuhan?" Gumamnya. Ia memejamkan matanya erat. Menikmati semilir angin yang berhembus di balkon kamarnya.

'Ceklek'

Pemuda berkulit tan itu mengeryitkan alisnya saat melihat pemuda mungil itu melamun di balkon kamarnya.

Ia berjalan mendekat. Entah Joonmyeon yang terlalu fokus dengan lamunannya, atau langkah kaki JongIn yang terlalu pelan hingga Joonmyeon tak mendengrnya.

'Greb'

Chu~

"Sedang memikirkan apa hm?" Tanya JongIn setelah mencium pipi gembil Joonmyeon.

"Eh?! JongIn? Aku sedang tak memikirkan apapun." Jawabnya. Joonmyeon menyandarkan kepalanya di dada JongIn, tangannya menggenggam tangan JongIn yng sedang memeluknya dari belakang.

"Jangan berbohong Kim Joon Myeon-ku yang manis. Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu."

"Kalau memang aku sedang memikirkan sesuatu, kau pasti tahu kan apa yang sedang aku pikirkan?"

Keaadaan hening untuk beberapa saat. Joonmyeon memejamkan matanya, menikmati pelukan hangat JongIn. Dan JongIn, meletakkan dagunya diatas kepala sang kakak. Sesekali, menciumi puncak kepalanya, menghirup aroma shampoo kakaknya.

"Haaahh..." Desah mereka berdua bersamaan.

"Hyung." JongIn memutar tubuh mungil kakaknya dan menatap matanya dalam.

"Ya?" Jawab Joonmyeon. Tangannya ia kalungkan di leher JongIn.

"Aku mencintaimu."

"Aku tahu. Dan aku juga mencintaimu Kim Jong In." Ucap mereka sebelum kedua belah bibir itu bertaut dalam sebuah Ciuman. Ciuman yang sarat akan rasa cinta dan frustasi di dalamnya.

Entah mereka terbawa suasana atau bagaimana, hingga mereka sudah berada diatas ranjang mereka. Tubuh kekar JongIn kini sudah menindihi tubuh kecil Joonmyeon. Mereka terus berciuman hingga kebutuhan oksigen memaksa mereka menghentikan ciuman mereka.

"Baby, why you look so sexy hm?" Tanya JongIn dengan suara beratnya.

"Prevert!"

"I know, thanks." Kini bibir JongIn bekerja di leher mulus Joonmyeon. Memberi tanda di setiap inci kulit lehernya, tanda bahwa Joonmyeon hanya miliknya. Milik Kim Jong In.

"Eenngghhh..."

"Aaaahhh... Joonngghh..hhh... Yeeessshh..hhh...Aahh..."

'BRAKKK'

"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!"


Di taman sebuah tempat pemulihan mental. Seorang pemuda sedang memperhatikan pemuda lainnya yang sedang terduduk diam memandangi bunga-bunga yang ada dihadapannya.

"Haaaaahhh.. Disitu rupanya..." Pemuda rupawan itu mendekat kearah pemuda yang sedang melamun itu.

"Hyuuunngg~"

"Kau disini ternyata. Sedang apa?"

"..." Tak ada jawaban.

"Apa kau sudah makan? Kau tahu, seminggu kau berada disini, tubuhmu jadi semakin kurus." Ucap pemuda tampan itu lagi.

"..." Lagi-lagi, diam.

"Heeii! Apa kau tak lelah hanya diam sepanjang hari? Kumohon bicaralah."

"Baiklah kalau begitu. Aku hanya ingin berpamitan padamu. Waktu praktekku di tempat ini telah berakhir hari ini. Besok, aku tak akan mengganggumu lagi." Seakan tak kenal lelah, ia terus mengajak pemuda manis itu berbicara. Meski, yang diajak bicara hanya diam.

"Aku harap kau dapat keluar dari masalahmu dan menghadapinya dengan hati dan pikiran yang lebih baik."

"Aku juga berharap kau dapat mengingatku. Meskipun, itu mustahil. Memangnya siapa aku. Hehehe."

"Jika kau butuh bantuanku, aku akan dengan senang hati membantumu." Pemuda ini menatap intens pemuda manis yang hanya diam membisu ini.

"Baik-baiklah. Selamat tinggal..." Dan pemuda ini beranjak pergi, meninggalkan pemuda manis.

"Haahh.." Ia menghelaa nafasnya sejenak, sebelum beranjak pergi meninggalkan taman indah itu.

"Baekhyun." Suara itu menghentikan langkah pemuda tampan ini.

"Ada yang berbicara ya?"

"Byun Baek Hyun."

"Sepertinya tempat ini berhantu. Hiii." Ujarnya sambil bergidik.

"Aku berbicara padamu Choi Jun Hong!"

"Eh?! Kau berbicara? Padaku?" Pemuda yang dipanggil Choi Jun Hong itupun menoleh dan mendapati pemuda yang sedari tadi diajaknya berbicara itu, menatap kearahnya.

"Namaku Byun Baek Hyun, Junhong." Ujarnya lagi.

"Aaaahh.. Ternyata kau benar-benar berbicara padaku. Dan kau hafal namaku? Memang, tak akan ada yang bisa menolak pesona seorang Choi Jun Hong. Hahaha." Ujarnya dengan rasa percaya diri yang kelewat tinggi.

"Kau ini..." Ucap Baekhyun, terkekeh kecil.

"Eh?! Kau tersenyum. Waaahhh! Kau terlihat sangat manis." Entah itu hanya gombalan atau memang pujian, tapi itu sukses membuat pipi seorang Baekhyun, merona.

Malam dimana ia hendak mencelakai Suho, ia memang dibawa ke pihak berwajib. Namun, para polisi itu mengatakan bahwa mental Baekhyun sedikit terganggu dan perlu penanganan khusus dari ahlinya.

Dan, disinilah ia. Di sebuah tempat pemulihan mental. Sejak dibawa ke tempat ini, yang ia lakukan hanya diam dan melamun. Para perawat lain, sudah menyerah mengajaknya berbicara. Hanya Junhong, mahasiswa jurusan psikologi yang sedang magang ini yang tak kenal lelah mengajaknya berbicara. Walaupun, Baekhyun hanya terus diam tak menaggapi.

Entah karana kasihan atau jengah karna Junhong yang terus menerus mengajaknya berbicara. Atau karena Junhong akan meninggalkannya setelah semingguu ia menemaninya. Ia pun luluh.

Seorang Byun Baek Hyun, yang terkenal dingin dan terobsesi pada seorang Kim Jong In, kini berubah hanya karna seorang,

"Junhong!"

"Ya?"

"Boleh aku memelukmu?"

"Tentu Hyung."

"Terima Kasih."

"Sama-sama Hyung..."


"Youngjae, aku pinjam mobilmu dulu ya."

"Biar kuantar Hyung." Ucap Youngjae sambil berlari dari kamar mandi.

"Tak usah Jae. Nanti kau lama menunggu." Tolak Luhan halus.

"Tidak tidak tidak! Kau baru keluar dari rumah sakit Hyung. Jadi kali ini, aku akan mengantarmu. Aku memaksa!" Paksa Youngjae.

"Terserah kau lah Jae. Kalau begitu cepatlah. Interviewnya 1 jam lagi."

"Iya Hyung. Aku sudah siap." Youngjae berjalan tergesa, kemudian memakai sepatunya dengan tergesa.

"Kenapa harus sekarang sih interviewnya Hyung? Kau kan masih sakit. Lagi pula, untuk apa kau bekerja? Kan masih ada aku Hyung. Orang tuaku juga mengirimiku uang setiap bulannya." Cerocos Youngjae yang hanya dijawab kekehan oleh Luhan.

"Aku serius Hyung!" Sebal Youngjae sambil mengembungkan pipinya.

"Aaahhh, dongsaengku ini lucu sekali..." Ucap Luhan gemas sambil mencubit pipinya gemas.

"Iiissshhh... Selalu."

"Aku tak mungkin setiap hari bergantung padamu Youngjae. Lagipula, aku kan juga ingin mentraktir adikku yang tampan ini, menggunakan uang hasil kerjaku sendiri." Ucapnya sambil mengacak rambut Youngjae.

"Yayaya. Kalau begitu, setelah kau gajian, kau harus mentraktirku." Rajuknya.

"Iya iya Youngjae sayang. Ayo berangkat."

"Ne ne. Ayo berangkat."

'Ceklek'

"Halo Luhan..."

"HUWAAAAA..."

"Aiiissshhh... Kenapa kalian berteriak?"

"Hei Park Tiang! Kau membuat kami kaget. Kau kan bisa memencet bel atau mengetuk pintu dulu. Bukannya mengagetkan kami dengan suara 'security'-mu itu!"

"Haaiihh... Jangan marah-marah tuan Yoo. Kau ini galak sekali. Pantas saja kau belum punya kekasih sampai saat ini." Ejek Chanyeol setelah Youngjae menyelesaikan acara mengomelnya.

"APA KAU BILANG?!" Youngjae sudah menggulung lengannya bersiap menghajar Chanyeol.

"Youngjae. Hentikan." Lerai Luhan.

"Tapi Hyung~"

"Sudahlah Jae. Kau ini." Ujar Luhan sambil menggelengkan kepalanya, geli. Sedangkan Chanyeol dan Youngje hanya saling mengejek dan menjulurkan lidah.

"Kalian ini. Ada apa kau kemari Chanyeol?" Tanya Luhan lembut yang langsung membuat Chanyeol sumringah.

"Mencari Princess-ku."Jawab Chanyeol yang membuat Youngjae dan Luhan sweetdroped seketika.

"Tapi aku harus pergi sekarang Yeol." Ucap Luhan setelah tersadar dari acara Sweetdroped-nya

"Aku ikut!" Potong Chanyeol.

"Tap-"

"Hyuuunngg~"

"Sehun?" Sehun berlari kearah Luhan dan langsung memeluknya. Di belakagnya ada Kris, Daehyun dan

"BIBI..." Pekik Youngjae dan Luhan bersamaan.

Yang dipanggil bibi pun berjalan mendekati Luhan. Sehun yang mengerti keadaan, langsung melepaskan pelukannya.

"Hyung, kenalkan, ini Bibi Wenxia dan ini paman Il Woo. Mereka paman dan bibiku. Mereka adalah orang tua dari Jung Dae Hyun jelek ini."

'Plettakk'

"Aku mendengarnya Oh Se Hun. Dasar Albino!"

"Bisakah kalian berdua akur untuk saat ini? Setiap bertemu selalu bertengkar." Ucap pria paruh baya yang sedang bersama mereka, yang gemas melihat tingkah anak dan keponakannya ini.

"Bisakah kami semua masuk nak Luhan? Ada yang ingin kami bicarakan."

"Tapi paman-"

"Bibi mohon Luhan." Mohon bibi itu. Luhan dan Youngjae pun saling berpandangan, sebelum akhirnya mempersilahkan mereka masuk.

"Apa yang akan kalian bicarakan dengan kami?" Tanya Youngjae sopan.

"Kami, mau memberikan ini padamu Luhan Hyung." Ucap Daehyun sambil menyerahkan amplop putih berlabel rumah sakit itu.

"Apa ini?" Tanya Luhan bingung.

"Bacalah, dan kau akan mengerti nak." Ucap paman itu pada Luhan.

Luhan pun membaca surat itu dengan seksama. Dan matanya melebar saat membaca kalimat,

'99,99% cocok'

"A-ap-apa m-maksud semua ini?" Tanya Luhan tergagap.

Daehyun yang melihat sang mama hanya menangis dan tak bisa berkata apapun, mulai menceritakan semua. Termasuk kisah hidup mama-nya sebelum bertemu dengan Appanya.

"J-jadi? Ak-aku?"

"Iya Lu. Kau adalah anakku. Darah dagingku." Ucap Wenxia dengan berlinang air mata.

"Ma-mama..."

"Iya nak. Ini mamamu."

"Mama..." Luhan dan Wenxia pun berpelukan erat, seakan takut terpisah lagi.

Semua terharu menyaksikan pemandangan dihadapan mereka. Kris, Sehun, Chanyeol, Youngjae mereka menangis bahagia melihat kawan mereka, akhirnya dapat bertemu kembali dengan ibu kandungnya.

Daehyun mendekati Chanyeol yang intens menatap Luhan. Ia menepuk pundak Chanyeol. Membuat Chanyeol menoleh kearahnya.

"Kau pasti Chanyeol?" Chanyeol mengangguk.

"Tolong kau jaga Luhan. Sayangi dia dan jangan kau sia-siakan lagi perasaannya."

"Pasti. Terima kasih." Jawab Chanyeol. Daehyun pun memeluk Chanyeol. Pertanda ia merestui Chanyeol dengan Luhan, kakaknya.

"Jadi-" Sehun berkata kencang sambil menghapus air matanya. Membuat suasana haru yang terasa, hilang seketika.

"Selagi ada Paman dan Bibi, apa kau tak sekalian meminta ijin untuk menikahi anaknya, Chanyeol Hyung?" Tanya Sehun sambil tersenyum Jahil.

"MWO?!" Pekik Chanyeol dan Luhan bersamaan. Mata keduanya melebar. Wajah mereka pun memerah.

"Sehun benar. Dan ku tak usah mengelak lagi Park Chan Yeol. Atau Luhan akan direbut oleh Seungri. Kudengar ia menyukai Luhan sejak lama." Timpal Kris.

"Benarkah Hyung? Kalau begitu, aku akan membantu Seungri Sunbae untuk mendekati Luhan Hyung. Muehehehe." Youngjae pun tak mau kalah.

Chanyeol yang takut dengan perkataan Kris dan Youngjae, langsung berjalan kearah Luhan, menggenggam tangannya, dan berlutut dihadapan Luhan dan kedua orang tua Luhan.

"Luhan. Kau tahu kan aku bodoh? Aku tak bisa merangkai kata-kata romantis. Jadi, jangan tolak aku ya. Kumohon, jadilah kekasihku."

'Plaakk'

Sehun, Daehyun, Kris dan Youngjae serempak menepuk jidat mereka masing-masing. Takjub dengan tingkah absurd kawan mereka ini.

"Park Chan Yeol..." Geram mereka berempat. Membuat Wenxia dan Jung Il Woo terkikik geli melihatnya.

"Apa?" Jawabnya sambil memandang teman-temanya.

" Paman, Bibi. Bolehkan aku jadi kekasih Luhan?" Mohon Chanyeol dengan wajah yang dibuat semelas mungkin. Membuat Wenxia dan Il Woo terbahak melihatnya.

"Kami serahkan semua pada Luhan. Bagaimana Lu?" Ucap Il Woo bijak.

Luhan yang disebut namanya hanya diam dengan wajah yang sangat merah.

"Bodoh!" Ucap Luhan.

"Kau sudah tahu perasaanku, kenapa kau masih menanyakannya?" Ucap Luhan. Chanyeol yang semula kaget karna dikatai bodoh, kini malah tersenyum dengan amat sagat lebar.

"Jadi? Kita sepasang kekasih?" Tanya Chanyeol memastikan. Luhan pun mengangguk.

"YES!" Pekik Chanyeol girang. Ia langsung memeluk Luhan erat dan menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri. Persis seperti anak kecil yang memeluk boneka beruang.

Mereka pun tertawa bahagia melihat Luhan dan Chanyeol yang akhirnya bersatu. Daehyun yang melihatnya hanya tersenyum lega. Walaupun sebagian dari hatinya merasa sakit.

Youngjae, Kris, dan Sehun pun ikut tersenyum lega melihat kebahagiaan mereka semua.

'Akhirnya, kau mendapatkan kebahagiaanmu Hyung. Terima kasih Tuhan.' Batin Youngjae lega.


"Aaaahhh... Joonngghh..hhh... Yeeessshh..hhh...Aahh..."

'BRAKKK'

"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!"

"APPA?" Joonmyeon dan JongIn yang kaget melihat ayahnya tiba-tiba masuk ke kamar mereka, sontak menghentikan kegiatan mereka. Sekarang, mereka hanya bisa diam mematung saat ditatap oleh tuan Kim dengan pandangan mengintimidasi.

"Yeobo, ada apa? Kenapa kau berteriak?" Nyonya Kim yang baru datang, heran melihat suaminya yang sedang memandang kedua anaknya dengan menahan emosi.

"Bisa kalian jelaskan? Apa yang sudah kalian perbuat?" Geram Tuan Kim pada kedua anaknya. Membuat Kim bersaudara ini meneguk ludahnya kasar.

"K-ka-kami…"

"Kami saling mencintai Appa, Umma." Potong JongIn. Membuat Joonmyeon menunduk takut, melihat ekspresi wajah kedua orang tuanya.

"Bisa Kau ulangi Kim Jong In?" Pinta Tuan Kim.

"Aku dan Joonmyeon hyung saling mencintai. Kami mohon, Appa dan Umma mengerti dan merestui kami." Ucapnya mantap, walaupun sejujurnya ia sedikit takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tuan dan Nyonya Kim hanya diam terpaku. Mereka terlalu shock dengan kenyataan yang baru saja mereka dengar. Kenyataan bahwa kedua anak mereka menjalin hubungan yang tak semestinya.

"Kalian…" Tuan Kim berjalan mendekati JongIn dan Joonmyeon.

'PLAKKK'

"APPA…" Teriak Joonmyeon saat melihat sosok yang ia panggil Appa itu menampar JongIn dengan keras.

"Pukul aku Appa. Pukul sampai kau puas. Asal kau merestui kami." Tantang JongIn

"Memukulmu? Dengan senang hati! Dasar anak tak tahu diuntung!"

'BUGH'

"Merestui kalian? Jangan Harap!"

'BUGH'

"APPA… HENTIKAN…." Teriak Joonmyeon frustasi. Ibunya pun hanya bisa diam memandang kecewa, anak bungsunya yang dipukuli secara brutal oleh suaminya.

'BUGH'

"APPA… Joonmyeon mohon Appa…"

"Diam Kau!"

'PLAKK'

Joonmyeon pun tak luput dari tamparan ayahnya.

"HYUNG!" Pekik JongIn yang melihat Hyungnya ditampar oleh ayah mereka.

"Appa, Kumohon jangan sakiti Joonmyeon Hyung…"

"Banyak bicara kau!"

'BUGH'

"JongIn…" Lirih Joonmyeon. Hatinya sungguh sakit melihat adik yang sangat dicintainya itu meringkuk melindungi diri dari pukulan ayahnya.

Nyonya Kim berjalan mendekati si sulung. Berdiri di hadapannya, dan menatapnya tajam.

"Umma…"

'PLAKK'

"Umma kecewa padamu…" Desis Nyonya Kim setelah menampar pipi anak sulung kesayangannya itu.

"Umma, jangan tampar Joonmyeon Hyung, Umma…" Mohon JongIn pada ibunya.

"Kau jangan banyak bicara anak nakal!" Lagi-lagi tuan Kim hendak memukul anak bungsunya itu.

"JANGAN SAKITI MEREKA!" Sebuah suara menghentikan gerakan Tuan Kim yang hendak memukul JongIn.

Mereka semua menolehkan kepalanya kearah pintu.

"TAO?!"

.

.

.

.

SKIP DULU YAAAAA xDDD

.

.

Zelo dapet peran gag? DaeLu pacaran gag? Ada kemungkinan DaeLu kakak-adek? Kapan ChanLu bersatu? Yongguk, Daehyun ntar sama siapa? Terus, nasib Tao gimana? Yang disuka Youngjae siapa? KaiHo tetep bersatu kan?

Sebagian uda terjawab kan pertanyaannya? Wkkkk~

.

.

.

Sebenernya rada ngakak pas baca ulang..

Vanness Wu+Wenxia Yu = Luhan, Wenxia Yu+Jung il Woo = Daehyun. darimane miripnya cobaaa?

Entahlah, mikir apa aku waktu ngetik part ini dulu.. ckckckckck

.

.

.

.

Makasih buat yang Baca, Review, Favorite, Follow.. Makasiiihhhh banget…. *Cipok Satu-satu*

.

.

Minta Reviewnya lagi boleh kaaann? *Puppy Eyes Bareng Sooman* ^.^