"Kise! Akashi memanggilmu!"
Kuroko no Basket
Kiseki no Heika
Rated T
Friendship, Romance, Humor
Warning: Shounen ai, misstypo, first timer, gaje.
Disclaimer: Not mine...
Spontan mereka bertiga langsung menoleh ke arah pintu yang sudah dibanting itu. Kedua orang itu memasuki gedung olahraga dan mengamati Yamiga.
"Kenapa anak SD ada di sini? Ini gedung olahraga untuk orang-orang tertentu saja lho," Kata sang murid berambut biru tua itu sambil berlari melintasi lapangan basket. Murid yang berambut ungu mengekor di belakangnya.
"Namaku Yamiga Ryuu. Saya 11 tahun. Saya sedang mencari seseorang di sini, dan bertemu dengan mereka," kata Yamiga sambil menunjuk ke arah Midorima dan Kise.
"He,... Namaku Aomine Daiki. Umur 13 tahun. Aku anggota first string di sini, dan merupakan Ace di tim-ku," kata murid berambut biru yang menyebut dirinya Aomine.
"Murasakibara Atsushi. Aku Center di tim, *munch* *munch*, dan aku sangat menyukai makanan," kata murid yang tinggi itu sambil mengunyah keripik di tangannya.
"Yoroshku onegaishimasu..." senyum Yamiga menatap mereka berdua.
"Aominecchi, coba 1 on 1 dengan Yamigacchi, deh! Tadi Yamigacchi melakukan three pointer dari ujung lapangan lho!" celutuk Kise sambil menarik lengan Aomine.
"Eh? 1 on 1 dengannya? Mana mungkin! Mungkin ia bisa three pointer, tapi jika dalam permainan 1 on 1, kondisi fisiknya tidak mendukung! Belum lagi, ia masih 11 tahun." Tolak Aomine sekaligus menyindir Yamiga.
Sekarang ada 3 persimpangan di kepala Yamiga. Hanya karena ia masih seumuran dengan anak SD, pendek, dan tidak memiliki otot sama sekali, ia tidak boleh seenaknya menghakimi dia. Ia mengambil bola basket dari tangan Kise dan men-dribblenya ke arah Aomine. Matanya menajam dan menjadi serius.
"Kalau kau berpikiran begitu, coba 1 on 1 denganku!" sergah Yamiga emosi.
"Jangan menangis kalau kalah ya, chibi!" senyum Aomine sambil berjalan ke tengah lapangan dengan santai.
Mereka berdua saling berhadapan. Kise menjadi wasit, sementara Midorima dan Murasakibara menonton di bench. Sambil tersenyum, Kise melemparkan bola ke udara. Aomine tersenyum, yakin ia akan segera mendapatkan bolanya. Ia melompat dan menggapai bola itu, merasa bahwa ia akan menang dengan mudah...
Ternyata salah.
Yamiga melompat lebih tinggi dari Aomine, membuatnya terlihat seperti terbang. Ia meraih bola oranye itu dan membawanya lari. Aomine kaget dan segera mengejar Yamiga. Di bench, terlihatlah wajah-wajah shock menghiasi muka Midorima dan Kise. Murasakibara tetap mengunyah keripiknya. Aomine mencoba untuk merebut bola dari tangan Yamiga. Tapi, entah kenapa, ia tak pernah berhasil untuk menyentuhnya sedikitpun.
Yamiga melakukan three pointer sambil bertolak belakang dengan ring basketnya. Lagi-lagi, bola itu masuk tanpa menyentuh jaring di ring itu. Aomine shock, merasa bahwa ia merendahkan lawan yang menarik sepertinya. Aomine tersenyum dan membawa bola basket itu ke arah ring di ujung lainnya. Ia melakukan dunk, yang membuat mata Yamiga terbelalak. Aomine tersenyum puas melihat ekspresi wajah lawannya. Tanpa disadari, Yamiga sudah melesat di sampingnya sambil men-dribble bola di tangan kirinya. Aomine mengantisipasi gerakan ini dan segera berjaga di daerah three pointer.
Tapi, Yamiga ternyata melakukan dunk. Ia melompat setinggi dua kali ukuran tubuhnya. Aomine tidak dapat bergerak dari tempatnya berdiri. Terlalu kaget untuk mencegah Yamiga. Yamiga mendarat di atas lantai lapangan itu.
"Sudah kubilang, jangan merendahkanku, kan?" tawa Yamiga senang mendapat lawan seperti Aomine.
"Hmph, aku akan mulai serius kalau begitu!"
Pertandingan berlangsung kembali dan berakhir setelah 10 menit. Skor mereka adalah 30-30. Aomine dan Yamiga saat itu juga menjadi akrab.
"Yamigacchi sugoi! Aku tidak tahu kalau kau bisa melakukan dunk!" seru Kise sambil melempar tangannya ke udara,... yang ternyata mengenai bungkus keripik Murasaki bara, dan membuat seluruh isinya jatuh.
Setelah diam beberapa detik, Murasaki bara langsung mengucapkan,
"Aku akan membunuhmu, Kise-chin"
"GYAAAAAAAAA!" teriakan Kise menggema hingga satu kota dapat mendengarnya.
"Gawat, kalau seperti ini, Kise akan benar-benar mati, nanodayo"
"Aku juga tahu, tapi kita harus membeli makanan, dan tidak ada toko di sekitar sini!" Aomine dan Midorima mulai khawatir melihat Murasakibara mengejar Kise sambil membawa pisau untuk roti, yang entah dari mana ia dapatkan.
"Ano, Murasakibara-kun?"
Merka semua menoleh pada sumber suara. Tampak di depan mereka, Yamiga yang sedang merogoh sesuatu dari tas-nya dan mengeluarkan suatu kotak.
"Ini, aku punya banyak sekali di rumah. Ayahku yang mengirimkan semuanya padaku. Apa kau mau? Aku tidak bisa memakan sebanyak ini.." usul Yamiga sambil menyodorkan kotak itu kea arah Murasakibara.
Setelah melihat kotak itu, Murasaki bara langsung membelalakkan matanya, yang biasanya terlihat mengantuk itu.
"INI MAIBOU YANG LIMITED EDITION!" teriak Murasaki bara, ia duduk, lalu langsung merobek kotak itu dan memakan isinya.
"ini pertama kalinya aku melihat ia sesenang itu" bisik Midorima, Kise, dan Aomine bersamaan.
Mendadak, tangan Yamiga ditarik oleh Murasakibara. Ia mengangkatnya, dan mendudukan Yamiga di antara kedua kakinya. Yamiga menoleh ke atas menatap wajh Murasakibara yang tepat berada di atasnya. Murasakibara mengunyah 3 maibou sekaligus, membuat pipinya terlihat seperti tupai. Yamiga tertawa dan mengambil saputangan dari kantungnya, dan melap remah-remah di sekitar bibirnya.
3 manusia yang terlupakkan itu memasang wajah yang mengatakan:' JANGAN BERCANDA!', karena, selama ini hanya 2 orang yang pernah diperlakukan seperti itu oleh Murasakibara.
"Dia itu apa? Padahal baru pertama kalinya bertemu, tapi ia sudah langsung dekat dengan Murasakibara.." selidik Midorima, sambil membetulkan kacamatnya.
"Arienai-ssu!" seru Kise histeris.
"Kau,...bercanda" Aomine tidak mau percaya dengan pemandangan di depannya.
Tanpa mereka sadari, pintu kembali terbuka, dan masuklah seseorang dengan rambut berwarna biru langit. Kedua matanya melirik ke arah mereka. Yamiga menyadarinya, dan menoleh ke arah pintu masuk. Kedua mata Ruby-nya terbelalak dan langsung berteriak,
"Tetsu!"
"Eh? Kurokocchi tidak di si-, tunggu, kau mengenal Kurokocchi?!" teriak Kise.
"Tentu saja aku kenal! Dan Tetsu ada di sana tahu!" kata Yamiga menunjuk ke arah Kuroko.
Aomine, Murasakibara, Midorima dan Kise menoleh ke arah yang ditunjukkan jari telujuk Yamiga. Ternyata benar, Kuroko ada di sana. Wajah Kuroko yang biasanya datar, berubah menjadi senang, tidak percaya, dan bersyukur.
"...Ryuu-kun?"
"Oshashiburi! Tetsu!" tawa Yamiga.
Tetsu berlari sekencang mungkin dan segera memeluk Yamiga. Karena kecepatan yang tinggi, Yamiga langsung terjatuh. Tapi, Murasakibara sdah menghindar terlebih dahulu. Ketiga orang yang lain hanya terdiam melihat Kuroko yang, 'Oh, sangat OOC' di hadapan mereka.
"Kapan kamu datang? Kenapa kamu bisa datang? Kau makan teratur kan? Bagaimana dengan-" pertanyaan Kuroko langsung dihentikan oleh jari telunjuk Yamiga yang menyentuh bibirnya.
"Tenang saja, aku baik-baik saja kok! Aku akan bersekolah di sini mulai besok!" jawab Yamiga sambil menahan berat tubuh Kuroko yang menindihnya.
"Hountou? Syukurlah kalau begitu.." kata Kuroko sambil merubah posisinya menjadi berdiri. Ia mengulurkan tangannya pada Yamiga yang disambut oleh tangan Yamiga sendiri.
"EEEEH! Kenapa Kurokocchi bisa kenal dengan Yamigacchi?!" sahut Kise, disambut dengan anggukan dari Midorima dan Aomine.
"Kami teman masa kecil, tapi Yamiga pindah ketika ia berumur 4 tahun," jawab Kuroko.
"Betul sekali! Lalu, aku kembali lagi ke sini, dan mencari sekolah di mana Tetsu berada!" sambung Yamiga dengan riang, dan membuat anggota Kisei nge-blush (kecuali Kuroko dan Murasakibara).
"Kenapa kalian tidak datang saat kalian kupanggil?"
mendadak suhu ruangan turun beberapa derajat. Aura pembunuhan tersebar ke mana-mana, membuat Kise hampir menangis karenanya. Suara gunting yang dibuka-tutup menambah perasaan mencekam. Mereka semua perlahan-lahan memberanikan diri untu menengok ke arah sumber suara.
"A...akashi,"
"Akashi-kun,"
"Akashicchi,"
"Akashi,"
"Aka-chin,"
Satu nama,... hanya dengan satu nama ini, bulu kuduk mereka semua langsung berdiri,... kecuali Yamiga.
"Akashi? Siapa dia?" tanya Yamiga dengan blak-blakkan tanpa membaca situasi sama sekali.
"Aku kapten di tim ini..," Kata Akashi mendekati Yamiga. "Kau sendiri siapa? Orang luar dilarang masuk ke sini," jelas Akashi mengeluarkan aura suram, tetapi tidak Yamiga pedulikan.
"Namaku Yamiga Ryuu. Saya 11 tahun, dan saya di sini untuk menemui Tetsu, teman masa kecil saya. Saya akan bersekolah di sini, jadi saya tidak perlu izin untuk mengelilingi sekolah ini" ujar Yamiga dengan sopan dan jelas. Matanya terlihat tidak ada keraguan sama sekali.
"Seijurou Akashi. 13 tahun, dan kapten di sini. Sepertinya, kau membuat 'anak buahku' menjadi 'sedikit' terlambat dari biasanya," senyum Akashi membuat anggota Kisei makin merinding.
"Maafkan aku Akashi-san. Saya tidak bermaksud untuk melakukan itu,"kata Yamiga sambil membungkuk 90 derajat di hadapan Akashi.
"Hmmm,... Kau cukup menarik. Kalau begitu, aku akan melanjutkan latihan kami dulu." Senyum Akashi sambil membalikkan badannya, langsung menyuruh 'anak buah'nya untuk berlari 100 kali keliling lapangan, yang tentu saja dijawab dengan protes dari Kise.
"Kise, dua kali lipat," Kise langsung diam.
"Aku boleh ikut latihan kalian tidak?" tanya Yamiga sambil menarik lengan Kuroko.
"Tapi latihannya berat lho, kalau kau sampai kecapekan bagaimana?" tanya kuroko dengan wajah datar.
"Percayalah, Tetsu. Aku sudah menjalani hal yang lebih berat dari ini" bisik Yamiga dengan wajah sedih. Kuroko menghela napas dan mengajaknya mendekati Akashi.
"Akashi-kun, Ryuu ingin ikut latihan dengan kami. Boleh tidak?"
"Jangan. Latihan seperti ini tidak cocok dengan tubuhnya. Nanti berbahaya," jawab Akashi sambil menatap Yamiga.
"Kumohon! Sebentar lagi aku juga akan mengikuti klub basket! Aku janji tidak akan memberikan beban untuk kalian!" sergah Yamiga, memohon. Anggota Kisei malah cengo melihatnya. Mereka sebisa mungkin ingin menghindari latihan 'dari neraka buatan Akashi'. Tapi anak ini malah memohon untuk ikut?!
"Baiklah, kau boleh ikut. Tapi kalau capek, jangan dipaksakan ya,"hela Akashi sambil mengajak anggotanya berlari.
Yamiga ikut berlari dengan mereka. Sudah 10 menit, tapi mereka bahkan belum menyelesaikan setengah dari perintah Akashi. Tampaklah, mereka berkeringat seperti baru disiram air, dan dengan wajah seperti zombie. Murasakibara masih berlari dengan kotak maibou dari Yamiga di tangannya. Midorima sudah hampir menyeret kakinya, dan lucky item-nya ia simpan di bench. Aomine sudah berwajah zombie, tetapi masih ber'arwah'. Kise mengeluh, bahwa ia takut bila jerawat muncul di wajahnya, dan wajahnya tidak akan cool lagi bila ia berlari sebanyak itu. Akashi masih berwajah seperti biasanya. Kuroko berada di belakang mereka mencoba untuk terus dapat berlari bersama mereka.
Yang mengherankan adalah Yamiga. Ia hampir tidak berkeringat, dan napasnya masih memimpin di depan mereka, bersama dengan Akashi. Hal ini membuat mereka heran, bagaimana bisa anak berumur 11 tahun memiliki stamina sehebat itu?!
Setelah beberapa menit, mereka selesai. Dilanjutkan dengan skot-jump, push-up, sit-up, dan mini game. Mereka hampir tidak bernyawa saat melakukan mini game. Mereka membagi tim menjadi 2. Tim Akashi, Murasakibara, dan Midorima, vs Tim Aomine, Kuroko dan Kise. Yamiga diletakkan di bench. Setelah latihan selesai, seseorang bersurai merah jambu datang membawa minum.
"Otsukaresama! Minna~" Seru perempuan itu, memberikan air mineral pada mereka semua.
"Thank you! Satsuki!" kata Aomine sambil tersungkur di lantai, mencoba untuk membuka botol minumnya.
"Ahaha! Tidak apa-apa, kalian kan, yang berusaha keras!... Are? Kau siapa?" tanya manajer mereka menunjuk ke arah Yamiga.
"Yamiga Ryuu. 11 tahun. Salam kenal," senyum Yamiga dengan manis, membuat Momoi menjadi;
"KAWAIIII!" teriak Momoi sambil memeluk Yamiga, yang langsung K.O.
"Gawat! Aku hanya membeli 6 minuman! Bagaimana ini?!" Momoi langsung histeris mengingat ia hanya membeli untuk anggota Kiseki no Sedai saja.
"Daijoubu. Aku bisa membelinya di perjalanan pulang nanti," kataYamiga menenangkan Momoi, sambil sweatdrop.
"Tapi, nanti kau bisa dehidrasi!" kata Momoi lagi.
"Kau bisa mengambil air minumku," kata Midorima mengulurkan botol minumnya.
"Tidak, aku saja," kata Kuroko.
"Kalian minum saja punya kalian sendiri! Terutama kau Kuroko! Kau kan sudah meminumnya sedikit!" kata Aomine sedikit cemburu, tidak terima bila Kuroko indirect kiss dengan orang lain.
"Kalian sudah capek. Sudah pasti haus. Ryuu, tubuhmu harus mendapatkan air setelah olahraga berat. Minum saja punyaku," tanpa disangka, Akashi mau membagi air minumnya pada Yamiga. Yang lainnya langsung mundur.
"Tapi Akashi-san bagaimana?" tanya Yamiga ragu-ragu.
"Aku sudah meminumnya sedikit. Jadi tidak apa-apa,"Jawab Akashi meyakinkan.
Karena masih berumur 11 tahun dan belum mengerti soal romance, Yamiga langsung saja meminum air dari botol milik Akashi, tidak sadar bahwa ia baru saja melakukan indirect kiss dengan kapten kiseki no sedai yang ditakuti. Yang lainnya syok, speechless, bahkan Murasakibara berhenti mengunyah maibou-nya.
"Terima kasih, Akashi-san!" kata Yamiga dengan wajah yang membuat semuanya blushing.
"Aa...," jawab Akashi sambil melangkah meninggalkan gedung olahraga.
Ditengah-tengah langkahnya, senyumnya makin mengembang. Ia mebalikkan badannya menghadap gedung ang baru ia tinggalkan.
"Yamiga Ryuu, kau akan kujadikan milikku," senyumnya, lalu berjalan ke arah limousine yang menunggunya.
Esok harinya...
"Oi, Tetsu! Nanti mau ke SD Teiko tidak? Aku ingin bertemu dengan Ryuu!" sahut Aomine pada shadow-nya.
"Boleh saja," jawab Kuroko.
"Aku juga ikut!" teriak Momoi.
"Aku juga –ssu!" Sambung Kise.
"Hmph,...apa boleh buat, nanodayo," Ikut Midorima dengan penuh tsundere.
"Aku ingin bertemu Yami-chin," Bahkan, Murasakibara setuju.
"Baiklah, kalau begitu sepulang sekolah ya!" Teriak Aomine, membuat banyak mata tertuju padanya.
"Tapi aneh, aku mencari namanya di SD Teiko, tapi tidak ada,"mendadak Akashi datang sambil mebolak-balik berkas di tangannya.
"EEEEEH!" semuanya langsung shock. Mungkin, kemarin Yamiga hanya bercanda?
Mereka semua memasuki sekolah dan duduk di tempat duduk mereka dengan aura suram. Tidak percaya bahwa Yamiga tidak jadi memasuki sekolah Teiko. Bahkan, Akashi ikut –ikutan menjadi seperti mereka. Murid yang lain menjadi takut.
Bel sudah berbunyi. Guru memasuki kelas, tetapi Akashi hampir lupa untuk menyiapkan kelasnya untuk memberi salam. Murasakibara tidak makan seperti biasanya. Midorima mengelus lucky item-nya, sementara matanya kosong. Kise yang biasanya ngerocos sana-sini menjadi pendiam. Aomine tidak tidur, tapi menghadap jedela, seperti cewek lagi jatuh cinta. Kuroko bisa terlihat, karena mengekuarkan aura suram. Momoi yang biasanya terlihat ceria, memasang wajah suram. Guru sweatdrop melihat ke-7 muridnya yang suram ini.
"Hari ini akan ada murid baru. Mungkin kalian kaget melihatnya, tetapi kepintaran intelektualnya setinggi dengan perguruan tinggi. Ia sudah menjadi sarjana S3, tetapi ia memutuskan untuk bersekolah. Selama ini, ia belajar di rumah tanpa bantuan guru, dan orang tua. Kuharap, kalian bisa berteman dengannya," senyum guru itu.
Tak lama, pintu diketuk, dan guru itu mempersilahkannya masuk. Saat murid itu masuk, semua menatapnya tidak percaya. Ke-7 murid suram itu tidak mengangkat kepala mereka dari meja. Mereka tidak peduli lagi.
"Nama saya Yamiga Ryuu. Saya masih 11 tahun, tapi saya telah mendapat gelar Profesor. Saya kembali ke SMP untuk mencoba sekolah normal seperti anak-anak biasa. Minna de Yoroshku!" senyum Yamiga dengan wajah manisnya, membuat entah laki-laki atau perempuan nge-blush.
Anggota Kiseki no Sedai, yang mendengar suara itu, langsung mengangkat kepala mereka dan berteriak,
"Ryuu-kun!"-Momoi
"Ryuu!" -Aomine
"Yamiga!"-Midorima
"Yamigacchi!" -Kise
"Yami-chin!" -Murasakibara
"Ryuu..."-Kuroko
.
.
"Ryuu,"-Akashi
Tbc
Mwahahahaaa...
Akhirnya, selesai dengan cara yang menggantung.
Terima kasih, atas riview-nya...
kali ini mencoba untuk membuat chapter yang panjang..
RnR~
