Kuroko no Basket
Kiseki no Heika
Rated T
Friendship, Romance, Humor
Warning: Shounen ai, misstypo, first timer, gaje.
Disclaimer: Not mine...just the OC..
"Jelaskan," kata Midorima tanpa basa-basi.
Mereka sekarang sudah berada di rumah sakit. Seluruh luka mereka telah diobati, dan tampaknya mereka masih bisa bertanding setelah 2 minggu. Berarti, mereka akan melewati satu pertandingan. Tulang rusuk Kise ternyata tidak separah yang mereka duga. Aomine sudah bisa berjalan tanpa rasa sakit lagi, walau ia masih merasa perih apabila ia berlari. Kuroko sudah tidak masalah lagi.
"...Baiklah. Lagipula, aku sudah berjanji," kata Yamiga. "Tapi, tolong rahasiakan dari Sei, ya!"
"Memangnya kenapa-ssu?"
"Ini menyangkut masa depan kami,"
"?"
Yamiga menarik napas, "Aku akan menjelaskan semuanya," Yamiga melirik ke arah Kuroko.
Kuroko menatap Yamiga sebentar, lalu melebarkan kedua matanya.
"Ryuu-kun,... jangan-jangan kau-"
Yamiga tersenyum tipis, sementara anggota lainnya menatap mereka heran.
"Aku akan memulai cerita dari saat aku bertemu Tetsu,..."
Flashback
Seorang anak berambut silver berlari, sambil mendekap yukata yang dikenakannya. Yamiga berlari kencang ke luar rumahnya. Ia pergi tak tentu arah, dan tidak mendengarkan sahutan yang memanggil namanya. Matanya yang heteromatic dipejamkan rapat-rapat. Napasnya sudah tersenggal-senggal, dan rasa sakit di punggungnya sudah tak bisa ia tahan. Yamiga terjatuh di tengah lapangan basket di sisi jalanan. Ia sudah tidak kuat berlari lagi. Ia membalikkan tubuhnya, hingga mengahadap atas. Kesadarannya mulai menipis.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Suara monoton dapat ditangkap pendengarannya. Ia membuka matanya yang sudah kembali merah itu, menatap seseorang berambut biru di hadapannya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Ia mengulang kembali pertanyaannya.
"Aku... kabur dari rumah..," kata Yamiga pelan.
"Kenapa?"
"Otou-san Marah karena aku salah menjawab pertanyaannya. Aku dipukul dengan tongkat olehnya," jawab Yamiga menutup kedua matanya.
Si bluenette masih menatapnya. Ia lalu angkat bicara,
"Kau ini... perempuan?"
Wajah Yamiga memerah, "Bu-BUKAN! Aku memakai baju ini karena ayah menyuruhku untuk memakainya!"
"Habis, kau memakai yukata. Bukankah itu hanya dipakai anak perempuan?"
"Kau pernah dengar, kalau ada anak laki-laki yang harus mengenakan baju perempuan, dan berlaku seperti perempuan hingga mereka berumur 15 tahun?"
Kuroko menganggukan kepalanya.
"Aku salah satu dari mereka..,"
Kuroko memiringkan kepalanya. " Walaupun kau tidak mengenakan yukata, aku tetap akan mengira kau perempuan,"
"Ke-kenapa?"
"Rambutmu panjang, dan wajahmu manis. Pasti semua orang mengira kau perempuan,"
"..."
Anak berambut biru itu menatapnya. Ia lalu membuka mulutnya lagi.
"Kau..., bisa melihatku?" pertanyaan aneh itu keluar dari bibirnya.
"Tentu saja. Kenapa tidak?"
"Orang lain tidak bisa melihatku. Aku sering sendirian," ujarnya.
Yamiga merubah posisinya menjadi duduk. Langit sudah berubah menjadi kehitaman. Yamiga tertawa kecil, dan menundukkan kepalanya.
"Berarti, kita sama...,"
Sunyi meliputi mereka dengan cukup lama. Mendadak, rasa sakit menyerang punggung Yamiga lagi. Yamiga terbatuk keras, saat menyadari bahwa perutnya juga terasa perih. Anak berambut biru langsung terloncat kaget, dan mengusap punggungnya. Kesadarannya benar-benar menghilang.
Flashback stops
"...Tunggu,... Yamigacchi...MEMAKAI BAJU PEREMPUAN?! AKU INGIN MELIHATNYA-SSU!"
"BERISIK KISE!"
"Yami-chin pernah menjadi seperti perempuan?"
"Kalau begini, ceritanya tidak akan berlanjut, nanodayo,"
"A-aku lanjutkan ya...,"
Flashback on
Setelah ia sadar, ia mendapati tubuhnya di atas kasur yang lembut, yang berbeda dari kamarnya. Rasanya hangat, dan tidak dingin bagaikan es seperti kamar yang dapat disebut penjara miliknya. Ia mengerjapkan matanya, dan menatap diding yang berwarna biru langit. Biru langit... seperti rambut anak itu.
"Ohayo gozaimasu,"
Yamiga mendapati anak yang baru saja ia pikirkan di sebelahnya. Ia duduk sambil mengusap matanya. Yamiga hampir tertawa saat melihat rambutnya yang berdiri.
"Ohayo. Ini ada di mana?"
"Ini di rumahku. Kemarin kau pingsan, dan aku membawamu ke rumahku. Ibu membantuku untuk merawat lukamu," Jawabnya.
"Eh? Maaf merepotkan. Sebaikanya, aku segera kembali ke rumah,"
"Ara? Kalian berdua sudah bangun?"
Suara asing dapat didengar dari arah pintu kamar. Di ambang pintu, berdirilah seseorang berambut biru langit, yang senada dengan matanya. Rambutnya diikat satu, dan ia menganakan celemek.
"Oka-sama,"
"Tetsuya, ayo ajak temanmu makan. Sarapan sudah siap," katanya lembut.
"Wakarimashita. Kami akan turun secepatnya," kata Tetsuya sambil turun dari tempat tidurnya.
Ibunya tersenyum, dan mengangguk. Ia kembali turun ke lantai bawah.
"Ayo. Sebelum pulang, lebih baik kau makan dulu,"
"Maaf mengganggu,...,"
"Oh, iya. Namamu siapa?"
"Ah! Maaf atas ketidaksopanannya! Namaku Yamiga Ryuu,"
"Kuroko Tetsuya. Salam kenal,"
Setelah perkenalan itu, Mereka berdua turun ke bawah. Mereka disambut oleh ibu dan ayah Kuroko. Keberadaan Ayah Kuroko sangat tipis, sama seperti Tetsuya sendiri. Setelah selesai sarapan, Yamiga pamit pulang. Ia berjalan, mencari halte bus. Dari sana, ia pasti dapat menemukan peta. Setelah menemukannya, ia mencari jalan, dan pulang ke arah rumahnya. Banyak yang menatapnya heran. Jarang dapat mereka lihat anak umur 3 tahun jalan tanpa orang tua.
Yamiga sampai di depan rumahnya. Ia mengetuk pintu besar di hadapannya dengan pelan. Sekejap, pintu itu terbuka. Ia disambut dengan pelayan wanita yang biasanyaa bekerja di rumahnya itu. Pelayan itu langsung berteriak memanggil pelayan lainnya, dan mengantar Yamiga memasuki rumah. Yamiga segera disuruh mandi dan mengganti bajunya, dan dirawat luka-lukanya yang sudah cukup diobati itu. Setelah selesai, Yamiga menuju kamar ayahnya.
Di depan pintu kamar itu, Yamiga berlutut dan membungkukkan badannya.
"Aku telah kembali, otou-sama,"
"...masuklah,"
Yamiga membuka pintu itu, dan masuk ke dalam.
"Kau tahu, seberapa khawatirnya aku saat mendengar kau keluar rumah?" pemilik suara berat itu mendekati Yamiga. "Kau pemilik Empress eye. Kau harus menjadi sempurna untuk bisa menjadi pasangan pemilik Emperor eye. Harus kupasang dimana wajahku apabila keluarga Akashi mendapati kau memiliki suatu kecacatan?"
Yamiga tetap diam.
"Hah, tidak dapat disangka. Kali ini pemilik Empress Eye adalah laki-laki. Apa jadinya nanti ya?" bisik salah satu pelayan di luar.
"Pemilik Emperor Eye pasti kasihan sekali ya...,"
"Aku tidak akan tahu apa yang akan terjadi bila mereka tidak saling mencintai,"
"Yamiga-sama, makanan telah siap,"
Yamiga kembali meakukan apa yang ia lakukan setiap hari.
"Yamiga-sama, jadwal hari ini adalah belajar, bertemu dengan guru deri kesenian tari adat jepang, latian seni merangkai bunga, belajar lagi, lalu,..."
Daftar pekerjaan yang harus ia lakukan masih saja terus dibacakan oleh pelayannya. Yamiga mengangguk pelan dan memulai kegiatan sehari-harinya. Setelah ia selesai, di malam harinya, ayahnya akan menilai semuanya, dan memberikannya hukuman.
Ssekarang adalah seni merangkai bunga. Sebelum memasuki ruangan untuk menemui gurunya, Yamiga memasang senyum dan wajah riang. Ia membuka pintu geser itu, dan menyambut gurunya,
"Ohayo gozaimasu, sensei," Suaranya terdengar riang tapi lembut. Tidak ada yang tahu apa yang ada di balik semua itu.
Semua guru yang mengajarnya pasti merasa kalau ia tidak mendapat masalah apapun, dengan adanya wajah ceria seperti itu. Tapi setiap malam, Pasti ayahnya akan menghukumnya. Tidak peduli apabila ia berbuat salah atau tidak.
Sudah setengah tahun sejak Kuroko bertemu Yamiga. Tapi, ia tak pernah bertemu dengannya lagi. Kuroko menjadi bayangan tpis di TK tempatnya ia bersekolah. Musim semi telah datang, dan Kuroko memasuki SD. Tidak ada yang berubah. Kuroko masih tidak memiliki teman sama sekali. Kuroko berjalan pulang ke arah rumahnya. Ia berhenti saat melihat lapangan basket tempatnya bertemu Yamiga. Kuroko pergi ke sana, dan berdiri di tengah lapangan itu.
"Yamiga-kun... Kau ada di mana?"tanyanya pada angin.
Kuroko memejamkan matanya, menikmati udara hangat musim semi. Ia berjalan ke bawah pohon sakura yang kebetulan berada di dekat lapangan itu. Tanpa ia sadari, ia tertidur.
Setelah tertidur cukup lama, ia terbangun saat mendengar suara lonceng. Kuroko terduduk, dan mengusap matanya.
"Konbawa, Kuroko-san,"
Suara yang pernah ia dengar dapat terdengar. Kuroko melihat ke sampingnya, dan terkaget saat melihat Yamiga duduk di sebelahnya. Yamiga tersenyum dan berkata,
"Rambutmu masih bisa berdiri seperti itu ya,"
"Yamiga-kun,..,"
"Gomene, aku tidak bisa bertemu denganmu. Akhirnya aku diperbolehkan keluar rumah oleh aya-,"
Perkataan Yamiga diputus oleh pelukan dari Kuroko. Yamiga kaget, dan terjjungkal ke belakang. Meski sudah terjatuh, Kuroko mesih mendekapnya.
"Kuroko-san?"
"Gomen. Badanku bergerak sendiri,"
Kuroko melepaskan kedua tangannya.
"Osahashiburi, Yamiga-kun,"
"Aa, Kuroko-san,"
Mereka berdua mengobrol ringan hingga waktu menjelang malam. Kuroko berkata kalau ia harus pulang sekarang, dan Yamiga memberi pesan padanya,
"Aku akan berada di sini jam 3 sore, hingga ulang tahunku yang ke 4,"
Kuroko bertemu dengan Yamiga lagi keesokan harinya. Kali ini, Yamiga yang tertidur di lapangan itu. Kuroko tertawa kecil dan duduk di sebelahnya. Mendadak, Yamiga berteriak keras, sambil meremas rambutnya, dan menangis. Kuroko sangat kaget, dan mengguncang badan Yamiga. Tapi ia tetap saja menangis seperti tu. Karena tidak tahu harus berbuat apa lagi, Kuroko lagi Kuroko langsung memeluk Yamiga.
Yamiga Masih menangis dan menceritakan semua yang dilakukan oleh ayahnya. Ketika ayahnya memukulnya saat ia salah menjawab, mengurungnya di kamarnya, tidak memberinya makan selama 3 hari, memaksanya belajar, dan melakukan apa yang tidak ia mau. Kuroko mengelus rambutnya yang panjang dan menenangkannya.
Setiap pulang sekolah, Kuroko selalu menunggu di lapangan itu, dan bertemu dengan Yamiga. Waktu berjalan dengan cepat, hingga liburan musim panas tiba. Yamiga sudah memanggil Kuroko dengan 'Tetsu' dan Kuroko memanggilnya dengan 'Ryuu-kun'. Sekarang adalah tanggal 24 Agustus.
"Tetsu, kau suka basket?"
"Hn? Aku tidak pernah memainkannya,"
"Eh? Sayang sekali. Aku sangat suka memainkannya..,"
"Apa yang menyenangkan darinya?"
"Bagaimana ya..., Kau bisa merasa bebas untuk melakukan apa yang kau mau berdasarkan kekuatanmu. Apalagi bila kau bermain bersama tim. Pasti akan menyenangkan!"
"Kau tahu dari mana?"
Yamiga tersenyum, "Aku punya perasaan baik kalau kita akan mengalaminya nanti," Yamiga memberikan bola basket itu pada Kuroko.
"Tetsu, jaga bola itu baik-baik, ya! Aku tidak peduli apabila kau ingat tentangku atau tidak. Tapi, Aku yakin bola itu akan menyimpan kenangan soal diriku!"
Setelah Yamiga menyerahkan bola itu, ia pergi dan menghilang dari kota itu.
Flashback End
"...setelah itu, aku bertemu lagi dengan Tetsu, dan kalian semua,"
"Jadi, kau di-,..."
"Ya, ayahku memang melakukan semua itu padaku," ujar Yamiga.
"Tapi, bagaimana kau bisa mendapat mata itu-ssu?"
"Ah iya, aku lupa menjelaskan soal mata ini," Yamiga tertawa kecil. "Setiap 100 tahun, pasti akan ada yang mendapat Emperor eye dan Empress Eye. Kabarnya, kedua pemilik mata ini ditakdirkan untuk saling...,"
"...saling?" mereka bertanya bersamaan.
"..mencintai...,"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"APAAAAAAAAAA?!"
"ini rumah sakit, tolong jangan berteriak," suster yang berada di dekat situ memperingati mereka.
"Ta-tapi, bagaimana kalau mereka tidak saling mencintai?!" tanya Momoi, maksudku, sahut Momoi.
"Dari buku yang kubaca, mereka akan mati,"
Momoi langsung pingsan.
"hal itu terjadi berkali-kali. Tapi, tidak ada yang pernah tahu selain pemilik mata masing-masing. Biasanya, keluarga yang tadinya miskin, saat mendapat anak dengan mata seperti ini angsung menjadi kaya. Maka, mereka langsung menikahkan pemilik Emperor Eye dan Empress Eye. Setelah mereka menikah, mereka akan mati setelah 7 hari,"
"Apakah Akashi tahu soal in?" tanya Aomine
"Aku tidak tahu. Sepertinya tidak. Kuharap tidak,"
"Tapi, kalau Akashicchi tidak mencintai Yamigacchi, berarti kalian bisa mati!"
Mereka menahan napas.
"Kalian membicarakan apa?"
Mereka memblikkan badan, dan mendapati Akashi yang terbangun.
Tbc
Claudi: Saya kembali Saudara-saudara!
Kise: Claudicchi lama banget updatenyaaa!
Aomine: Perlu di tabok dulu supaya apdet ya?
Akashi: kenapa aku tidak dapat Appearance di sini?!
Claudi: *mengabaikanaominedanakashi* Saya baru ke Bali! Jadi nggak bisa update! maaf ya!
Kuroko: Claudi-san, Akashi-kun sudah siap untuk membunuhmu
Akashi: *snip* *snip*
Claudi: *ngeluarin pocket knife*
Perang dimulai.
Pocket Knife dan Gunting terlempar ke arah patung kodok milik seseorang
Midorima: KEROSUKEEEEEEE!
Murasakibara: Mido-chin, minta jajan.
Yamiga:*sweatdrop*
Murasaki no Onna: hehehe,... double personality memang kereen.
Nisa Piko: Saya tak akan naikin rate... Sebisa mungkin #plak. Tapi nggak akan dinaikkin kok. Cuman sedikit abuse, dan nggak ada rated M. SAYA TAK SANGGUP!
Erga-kun: arigatou! mereka munculnya masih sangat amat teramat lama..
Alenta93: Pertanyaan dijawab di chapter selanjutnya
Miyazawa Akane: Kya! akane-chan! JANGAN MATI! #pakai sihir hitam untuk membangkitkan kembali.
saruma tetsuya: You will know about it soon~
arslsh: Update! saya update!
