Kuroko no Basket
Kiseki no Heika
Rated T
Friendship, Romance, Humor
Warning: Shounen ai, misstypo, first timer, gaje.
Disclaimer: Not mine...just the OC..
"ara? Kau baru saja dari sini, kenapa kembali lagi? Kali ini dengan orang yang berbeda pula..," tanya perawat di UKS sambil bingung.
"Tadi Bu Muniko menghukum Yamigacchi-ssu! Kakinya jadi semakin sakit, dan ia benar-benar hampir tidak bisa berdiri-ssu!" ujar Kise menjelaskan.
Yamiga sedang menutup wajahnya dengan kedua tangannya, menyembunyikan rona merah yang sedang berdansa ria disekitar pipi dan telinganya. Alangkah malunya ia mendapati dirinya sendiri dibopong bridal style oleh 2 orang yang berbeda di pagi hari yang indah nan cerah ini #lebay. Ia dibaringkan di atas kasur, dan lagi-lagi kakinya diperiksa. Murasakibara menawarkan beberapa makanan padanya, tapi ia tidak menjawab. Terlalu shock, dan trauma karena 2 kejadian berturut-turut yang menurutnya sangat memalukan baginya. Kuroko menepuk-nepuk punggungnya...still no reaction.
"Wah, kakimu semakin parah rupanya. Sebisa mungkin kau berbaring saja di sini. Aku akan membuat surat izin untuk 3 jam pelajaranmu selanjutnya. Jangan mencoba untuk banyak bergerak ya," kata perawat itu.
Yamiga mengangguk. Perawat menuliskan surat izin, dan memberikannya pada Akashi. "Tolong sampaikan ini ya."
Akashi menerimanya, dan menundukkan kepalanya sedikit, tanda hormat. Aomine dengan bodohnya sedang ketiduran di salah satu kasur, hingga akhirnya ia dijewer Momoi agar segera bangun, dan melanjutkan pelajaran. Kise meluk-meluk Yamiga, berharap tidak usah pergi. Hingga pada akhirnya, satu gunting melayang, dan Kise segera melepaskan Yamiga. Midorima memberikan Lucky itemnya, dan bergumam tidak jelas. Murasakibara dan Kuroko hanya mengacak rambutnya, dan berjalan pergi. Sekarang hanya Yamiga yang berada di UKS.
"Haaah..., rasanya sepi," gumam Yamiga, padahal baru 2 menit berlalu sejak kepergian mereka.
Ia merebahkan badannya ke atas kasur itu, dan merasakan dirinya mulai mengantuk.
'Sedikit tidur mungkin tidak apa-apa...'
Nijimura sang ketua OSIS lagi-lagi diberi tugas di pagi hari. Ia bergumam kesal karena merasa akan tertinggal pelajaran (I know that feels, bro -_-"). Ruang guru berda di lantai 2, sedangkan ruang OSIS di lantai 3. Ia bulak-balik beberapa kali, hingga ia merasa semakin kesal.
"Nijimura-kaicho, klub tenis kekurangan biaya untuk lomba,"
"Nijimura-kaicho, ada beberapa sugesti dari anak kelas 7,"
"Nijimura-kaicho, ada beberapa murid yang lupa mengembalikan buku dari perpustakaan,"
"nijimura-kaicho,"
"Nijimura-kaicho,"
Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya. Ia sangat lelah menjadi ketua OSIS, dan juga kesal karena mereka terlalu bergantung padanya. Rapat di pagi hari sangat membuatnya sibuk. Tentu saja,selain ketinggalan pelajaran, semangatnya juga hilang ditelan kesibukkan.
"Kaicho, Bu Yamagana meminta anda untuk mengecek persediaan obat-obatan di UKS," ujar salah satu anggotanya.
"Yoriko, bukankah kau yang menjadi seksi kesehatan? aku sedang sibuk saat ini," ujar Nijimura dengan sabar.
"Maaf kaicho, saya baru dipanggil karena tanaman herbal di sekolah kita mengalami kelayuan. Saya harus mengeceknya segera," kata Yoriko sambil berjalan keluar ruangan.
Nijimura menghela napas. Ia mengambil papan beserta kertas berisi data-data di tangan kanannya, dan berjalan pasrah menuju ke lantai bawah. Bunkasai (festival sekolah) membuat seluruh sekolah sibuk. Bunkasai akan diadakan setidaknya 1 minggu lagi. Belum lagi, ia harus mendata semua pertunjukkan yang akan ditampilkan tiap kelas. Mendesah kesal, ia kembali berjalan ke arah UKS.
Dibukanya pintu geser yang berwarna putih itu dengan sedikit keras. Yamiga yang tertidur di sana sontak terbangun. Ia mengucek matanya, sambil memperhatikan tirai putih yang mengelilingi kasur tempatnya tertidur. Kepalanya masih pusing, karena tertidur di atas bantal yang tidak bisa dibilang empuk. Tentunya, ia masih mengantuk.
Nijimura melihat sekeliling, dan membuka lemari-lemari yang berisi obat-obatan. Ia mendata semuanya, dan membuang beberapa botol yang sudah kedaluarsa atau hampir habis. Setelah mendata obat-obatan, ia berlanjut ke perlengkapan lainnya, sperti kapas, perban, dan lain-lain. Ia melakukan semuanya dengan kasar, tanpa memedulikan apa-apa.
Yamiga masih setengah tertidur, merasa terganggu dengan suara 'krompyang' dan 'brak' yang terus-terusan terngiang. Dengan suara parau, ia bertanya,
"siapa...?"
Nijimura menghentikan aktivitasnya, dan menoleh ke arah tempat tidur yang ditutupi oleh tirai. Bodohnya ia, tidak menyadari ada orang lain yang berada di sana. Ia berjalan mendekati sumber suara, dan membuka tirainya sedikit. Wajahnya menunjukan raut terkejut saat mendapati Yamiga yang masih setengah tidur di hadapannya.
"Yamiga? Bukankah kau sudah kembali ke kelas tadi? Apa yang terjadi?" tanyanya, sambil mendekati kasur tempat Yamiga terbaring.
Yamiga masih terdiam mengamati Nijimura. Yang sekarang ini ia lihat bukan Nijimura, tetapi bayangan mendiang ibunya. Ia berusaha untuk duduk, yang akhirnya dibantu Nijimura.
"Oi! Jangan bangun dulu! Kau masih terlihat lemah!"
"-sama,"
"Hah?"
"Okaa-sama...,"
Yamiga mendadak memeluk Nijimura, membuatnya terjungkal ke belakang, sambil membawa-bawa Yamiga jatuh juga. Nijimura membelalakan matanya, melirik kohai-nya yang sudah kembali tertidur sambil memeluknya. Nijimura mendadak beku, tidak bisa bergerak selama beberapa saat. Suara lonceng kecil tertangkap telinganya. Ia melihat ke arah gelang biru yang biasanya Yamiga pakai di pergelangan tangan kirinya. Ia akhirnya mendapatkan tenaganya kembali, dan menggendongnya kembali ke tempat tidur, lalu menyelimutinya dengan selimut tipis yang disediakan di sana.
Ia lalu mengambil gelang biru itu, dan memasangkannya kembali ke tangan Yamiga. Saat akan mengikatnya, ia dapat melihat sbuah bekas luka yang cukup panjang melintasi daerah nadinya. Matanya terbelalak, tapi ia tetap tenang dan memasangkan gelangnya kembali. Nijimura membelai kepalanya selama beberapa saat, memastikan ia benar-benar tertidur. Ia kembali mendata dan berjalan ke arah pintu. Mantan kapten basket itu menoleh ke arah Yamiga lagi, lalu menutup pintu dengan perlahan.
'Sepertinya ia memimpikan ibunya,' ia berkata dalam hatinya.'Dan bekas luka itu... apakah ia pernah mencoba untuk bunuh diri?' Nijimura berpikir keras, hingga ia menyerah. 'Apa yang sebenarnya terjadi dengannya ya?'
Akashi dan kawan-kawan melanjutkan pelajaran mereka, yakni kesenian. Pak Harahino menyuruh mereka untuk melukis wajah partner masing-masing. Akashi berpasangan dengan Kuroko, Midorima dengan Murasakibara, dan Ahomine dangan Momoi. Akashi melukis dengan hati-hati, walaupun hatinya sedang gundah karena keadaan Ryuu yang mengkhawatirkan. Kuroko dapat mengetahuinya.
"Akashi-kun, kau khawatir dengan Ryuu-kun ya?" tanyanya, sambil tetap memfokuskan matnya ke arah buku gambar.
"Apa yang membuatmu berpikir seperti itu, Tetsuya?" tanya Akashi, juga tidak menatap Kuroko.
"Tidak. aku hanya mendapat perasaan seperti itu saja," kata Kuroko emotionless.
Akashi terdiam. "Ya, begitulah," ujarnya. "Aku khawatir kalau terjadi sesuatu padanya."
Kuroko mengangguk sedikit, masih memfokuskan dirinya pada sketsa yang dibuatnya.
"Mido-chin, aku tidak bisa gambar,"
"Aku tak peduli. Kau kan yang mendapat nilai atas gambarmu, bukan aku, nanodayo,"
"Gambarku selesai~" Murasakibara menunjukan gambarnya pada Midorima.
"ke-KENAPA KAU MALAH MENGGAMBAR WORTEL NANODAYO?!"
"Ini Mido-chin, kok. Lihat, ada kacamatanya, kan?"
"AKU BUKAN WORTEL! MAU KAU TAMBAHI KACAMATA ATAU TELINGA KELINCI(?) AKU MANUSIAAAAAA!"
Semua yang ada di kelas itu sweat-drop. Mendadak, pintu dibuka.
"Sumimasen, sensei. Saya perwakilan dari OSIS. Saya ingin tahu, kalian akan melakukan apa di Bunkasai?" tanya murid itu.
Sang seksi lomba langsung mengacungkan tangan. "Kami akan membuat pentas drama!"
Oi, oi... anda belum mendapat persetujuan dari kela-
"SETUJUUUUUUUUUU!"
Lupakan saja...
Istirahat
Bunyi bell istirahat membangunkan Yamiga dari tidurnya yang nyenyak. Ia sedikit bingung saat mendapati selimut yang menyelimutinya.
'Bukannya tadi aku tidur tanpa selimut, ya?'
Ia segera melupakannya, dan melipat selimut itu menjadi rapi, dan membereskan tempat tidurnya sehingga seolah-olah belum pernah ditiduri. Kakinya sudah tidak sesakit sebelumnya. Ia berjalan perlahan, sambil bersandar ke tembok untuk membantu dirinya berjalan. Setelah sampai di kelasnya, ia menyadari pintu kelas tertutup, tidak seperti biasanya. Ia membuka pintu kelasnya, dan dapat melihat semua murid kelasnya sedang duduk seolah-olah sedang mengikuti pelajaran.
"A-ada apa ini?" tanya Yamiga mengundang perhatian yang lain.
"Yamigacchi!"
"ara, Yamiga-kun. Duduk di tempatmu, kami akan menjelaskan rencana kami di festival mendatang," ujar Yaana, salah satu siswi dari 3 siswi di depan dengan riang padanya.
Yamiga mengangguk, Akashi mendatanginya, dan membantunya berjalan hingga ke tempat duduknya.
"Baiklah minna, kita sudah sepakat kalau kita akan melakukan drama untuk nanti," ujar Kakuri. "Kita akan memakai undian untuk menentukan peran masing masing."
Najina yang berdiri di sana sudah memegang kotak yang berisi kertas di kedua tangannya. Satu per satu maju ke depan, dan mengambil undian mereka. Lalu dengan serentak, mereka membuka lembaran kertas yang sebelumnya dilipat.
"Baiklah, siapa yang menjadi pangeran?" tanya Yaana dengan antusias.
Kuroko, Aomine, Kise, Akashi, dan Gou mengangkat tangan. Najina mencatatnya.
"Kalau Pengawal utama?"
Murasakibara mengangkat tangannya.
"Penyihir?"
Midorima (tentu saja) mengangkat tangan.
Mereka meneruskan daftar pemain-pemain lainnya yang cukup panjang. Yamiga dan Momoi belum mengangkat tangan sama sekali.
"Yang terakhir. Putri dan pembantunya?"
Yamiga dan Momoi angkat tangan.
Yang lain kaget setengah idup. Ayayay~
"Ba-baiklah. Siapa yang menjadi Pembantu putri?"
Yamiga menurunkan tangan.
Mendadak suasana sunyi...
"APAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA?!" "KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Kita data dulu. Yang berteriak 'APA?!' adalah murid cowok. Sedangkan yang 'KYAA!"... kau mengerti maksudku.
"Hai, hai. Sekarang kita diberi waktu untuk mempersiapkan semuanya. Kami sudah menyusun naskah drama, dan desain baju sudah dibuat. Anggota bahan, tolong sediakan bahan-bahan yang kami catat di sini. Anggota panggung, persiapkan latar dan jahit baju. Dan para tokoh drama, hafalkan naskahnya~"
"...Naskahnya keterlaluan-ssu," ujar Kise.
"Jangan mengeluh Kise-kun. Bukannya kau itu model? Seharusnya naskah seperti ini dapat kau hafalkan dalam sekejap," kata Kuroko.
"Model dan aktor itu berbeda-ssu!"
"Jangan banyak bicara, dan hafalkan naskahnya, Ryota," ancam Akashi.
"Kenapa aku harus menjadi penyihir, nanodayo?"
"Karena Mido-chin seperti wortel,"
"JANGAN UNGKAPKAN WORTEL LAGI!"
"Cih, naskahnya panjang sekali," kata Aomine sambil tidur-tiduran di meja.
"Dai-chan! Jangan malas-malasaaan!"
Anggota tokoh drama sedang dalam keadaan kacau sekarang. Apalagi yang merupakan anggota Kisei. Gou (OC sementara) sedang berlatih dengan alaynya di dekat mereka. Yamiga ber-sweat drop ria memperhatikiannya.
Yamiga terus membaca naskah yang cukup tebal itu dari awal sampai akhir. Setelah membolak-balik halaman, ia mendapati adegan yang membingungkan baginya.
"Ano,... adegan ke-13 paragraf ke-4 itu, maksudnya apa?"
"He?! Yamigacchi sudah sampai sana?!"
"Coba kulihat," Kakuri meminjam naskahnya, dan membaca adegan yang ditunjukkan Yamiga. "Ahh,... ini, ya."
Yang lain ikut membuka halaman tersebut, dan membacanya.
tsugo yoku utsu sareteta sakkaku
imi wo ushinatta kotoba to jikaku
pokkari aita kono ana wa nidoto
kaeshite to naki mayotta rotou
mou iranai kara iru to jama dakara
ii wa shinai kedo kikoeteru
kono kimochi ga rikai deki masuka
mou iya da.
"Adegan ini, Yamiga-kun harus bernyanyi," katanya santai.
"Ini lagu 'One of Repetiton', kan?" tanya Momoi.
"Betul sekali," senyum Kakuri.
"Aku tak pernah mendengarnya...," kata Yamiga.
Kakuri mengedipkan kedua matanya, lalu merogoh Handphone-nya. Ia membuka Music Player, dan memainkan lagunya. Yang lain terdiam. Lagunya cepat sekali! Tapi di beberapa waktu kemudian, tempo melambat. Yamiga tersikma dengan lagunya yang memiliki arti patah hati yang mendalam.
"A-arienai-ssu! Lagunya terlalu cepat, dan pasti sulit menghapalnya dalam satu minggu!"
"...Aishiteta sou tsutaeta no wa
Tsuriageru tame no esa desu ka
Omocha bako no naka tsume rarete
Akitara suterarerun desu ka," Yamiga mengikuti lirik yang sudah di 'copy' ke dalam otaknya.
"Ryuu-kun sudah hapal, ternyata," kata Kuroko seolah-olah itu adalah hal yang wajar.
Claudi: Waaaaaah,...saya beri adegan Akashi yang dikit ya *sweatdrop*
akashi: authoress, kemana saja kau ini?
Claudi: menikmati indahnya kelelahan yang dialami sebagai anggota OSIS yang haru mempersiapkan MOS para adik-adiknya.
Aomine: seminggu lebih tau.
Claudi: Padahal cuman 4 hari. Tapi belum lagi rapat OSIS untuk persiapan adanya Ekstrakulikuler. Jadi Spesial untuk Nijimura, saya buat dia kecapekan karena OSIS!
Kuroko: Anda jahat sekali..
Claudi: Aku bukan jahat! Aku itu kejam!
Kise: ...
Midorima: Saya ingin kabur dari sini.
Murasakibara: *nomnomnom*
Kacchanwriter: XD Arigatoooooo.
Alenta93: Hehehe,... memang sengaja. Biar si Akashi ada Rivalnya gituuu #guntingmenancap. Aah, saya akan berusaha untuk tidak membentuk suatu typo lagi#?
MiyazawaAkane: Caranya gampang kok. Klik account-mu di sudut kanan atas. Sesudah itu, klik 'Publish' dan submit dulu dokumennya di 'Doc Manager'. Sesudah itu, pilih 'Manage story'. Klik story yang ingin kamu update, lalu pilih 'Content/Chapters'. Pilih 'Post New Chapter', dan klik 'Select Document'. Pilih dokumen yang kamu buat untuk chapter selanjutnya, sesudah itu klik 'Post New Chapter'. Selesai~
Erga-kun: Begitulah. Lomba bawa Yamiga ke UKS XD
Nisa Piko: Chapter-nya cukup banyak kok. Nanti juga bakal dibikin sekuel-nya~ Arigato, mau me-riview panjang-panjang yang bikin Authoress bahagia setengah idup!
