Kuroko no Basket

Kiseki no Heika

Rated T

Friendship, Romance, Humor

Warning: Shounen ai, misstypo, first timer, gaje.

Disclaimer: Not mine...just the OC..


"Baiklah, penampilan terakhir kita akan segera dimulai! Mari sambut dengan tepukan tangaaaaan!"

Semua yang berada di dalam sana bertepuk tangan.


"Pada zaman dahulu kala, terbentuklah 5 kerajaan besar yang menguasai dunia. Kerajaan Rouge, Jaune, Bleu, Noir, dan Blanc. Kerajaan-kerajaan ini saling bersahabat, dan tak pernah terjadi perselisihan di antara mereka. Kerajaan Rouge dikaruniai 2 anak, yang dinamai Seijuuro dan Shuuzo. Kerajaan Jaune dikaruniai anak laki-laki bernama Ryota. Kerajaan Bleu dianugerahi anak laki-laki dinamai Daiki. Kerajaan Noir dianugerahi putera bernama Tetsuya, dan kerajaan Blanc dianugerahi putri yang bernama Riyuu," sang narator berhenti sejenak. "Hingga akhirnya, sebuah kisah cinta terjadi..."


Layar panggung dibuka. Tampaklah Riyuu sedang duduk di kursi kamarnya, sambil menulis sesuatu. Satsuki memasuki panggung perlahan.

"Riyuu-sama? Anda sedang apa?" tanyanya dengan nada penuh tanya.

Riyuu segera menutupi kertas perkamen yang ia tulisi dan menghadap Momoi. "Bu-bukan apa-apa. Ini hanya...,"

"Aah, surat itu lagi ya?" tanya Momoi dengan tawa kecil.

"Sa-Satsuki! Jangan keras-keras!" serunya setengah berbisik.

Satsuki terus tertawa, dan berusaha merebut surat yang sudah Riyuu buat. Putri yang kalah ukuran tubuh itu pasrah saat Momoi membaca surat itu keras-keras.

"Untuk tuan misterius,

Sudah lama aku tak mendengar kabar darimu. Kelihatannya, anda sibuk ya? Keadaan politik sudah sedikit terguncang di kelima kerajaan. Aku merasa kesepian di sini sendirian. Aku heran saat mendapat surat darimu. Kau tidak memeberi tahu darimana kau berasal, dan siapa dirimu. Kau hanya menyuruhku untuk mengikatnya di kaki burung dara yang kau pelihara. Aku sangat penasaran soal dirimu.

Sepertinya kau tahu siapa aku sebnernya. Tapi aku tak tahu apapun soalmu. Bisakah kau kirim teka-teki untuk menunjukan siapa dirimu? Aku akan menunggu balasannya,

Tertanda, White Rose."

Satsuki tersenyum geli setelah membaca semuanya.

"Satsuki jahat!" ujar Riyuu seraya merbut surat itu dari tangan Satsuki. Ia bergegas menuju jendela kamarnya, dan mengikatkan kertas itu di kaki burung yang bertengger di balkon.

"Tolong bawa ini ke tuanmu, ya?" ucapnya sambil menatap burung dara itu terbang menjauh.

Satsuki terus tersenyum, "Nona masih belum tahu siapa pengirimnya?"

Riyuu menggeleng pelan, "Tidak. Aku bahkan tidak tahu darimana ia mengetahuiku."

"Hihi, nona sangat polos ya?"

"Ke-kejaam!"

"Riyuu, kau masih ada di sini?" seseorang dengan gaun putih yang sangat indah memasuki ruangan.

Perempuan itu sangat cantik, dan terlihat muda.

"Ibunda!" seu Riyuu, memeluk ibunya.

"Gadisku ini. Kau sudah mau beranjak 16 tahun, tapi masih seperti ini?" ia menggelitik Riyuu, membuatnya tertawa-tawa.

"Kerajaan Blanc dipimpin oleh seorang ratu yang bernama Floria La Blanc. Beliau adalah seorang ratu yang baik, dan bijaksana. Kecantikannya diketahui diseluruh penjuru negri. Meski ia sangat terbuka, ia tidak pernah memperkenalkan putrinya kepada kerajaan lain kecuali Kerajaan Noir. Kecantikan putrinya yang masih muda ini, mengalahkan dirinya sendiri. BUkan karena ia ingin lebih cantik dari putrinya, tetapi ia khawatir atas orang-orang yang mengincar gadisnya."-Narator-

Keadaan yang sangat hangat itu mendadak hilang begitu saja saat tanah bergetar. Pemimpin prajurit membanting pintu kamar Riyuu hingga terbuka.

"Kerajaan baru saja diserang. Tuan putri, Nona Satsuki dan Yang Mulia, harap ikut denganku," ujarnya.

"Atsushi? Apa-Siapa yang melakukan penyerangan ini?!" seru sang Ratu.

"Kerajaan Rouge.."


-Saat itu aku sadar, semua ini akan berubah-narator


Lampu-lampu padam, dan para penonton menghentikan napas mereka. Efek guncangan di panggung tersebut seolah-olah sungguhan, dan adegan-adegan tersebut diikuti dengan musik yang benar-benar cocok. Di kegelapan itu, latar diganti. Sekarang suasananya berada di dalam sebuah ruangan dengan singgasana raja di tengah-tengah rusangan tersebut. Seseorang yang sudah terlihat cukup tua (sebenarnya, ini adalah guru sejarah mereka), duduk di sana. Datanglah seorang berambut hitam, dan seorang lagi berambut merah. Penonton yang berjenis kelamin perempuan teriak-teriak histeris melihat penampilan yang mencolok ini.

"Kami baru saja kembali, ayah," ujar Seijuuro sambil menyembah ayahnya, begitu pula Shuuzo.

"Misi kami sudah sukses. Apakah ayah mau memerintah kami lagi?" tanya Shuuzo, tetap menghadap bawah.

"Angkat kepala kalian," mereka melakukan apa yang diperintahkan. "Kalian menjalankan misi kalian dengan baik. Kalian memang anak-anakku yang hebat!" tawa sang raja. "Kita akan mengadakan pesta malam ini. Pakai pakaian terbaik kalian!"

"Baik ayah," mereka berdua berdiri, dan meninggalkan ruangan.

-Latar Diganti menjadi taman-

Seijuuro duduk di sebuah bangku di taman tersebut. Ia mengahadap langit, sambil memainkan bunga mawar berwarna putih di tangannya.

"Apa yang kau lakukan, Seijuuro?"

Akashi melirik ke arah kakaknya, "Aku sedang menunggu.."

"Menunggu apa?" Shuuzo menutup buku di tangannya.

"Ailier,.. Burungku," katanya.

Shuuzo terlihat sedang berpikir. Ia kemudian sadar, "Burung dara milikmu? Aku kira dia hilang entah kemana!"

"...Ia selalu kembali ke sini. Ia tak pernah tersesat," setelah mengatakan itu, burung dara yang bernama Ailier itu mendarat di sandaran bangku yang diduduki mereka.

"Ah.. kau sudah kembali?" Seijuuro mengangkat burung itu ke jarinya, dan mengambil kertas di kaki burung kesayangannya.

Ia membacanya, lalu tersenyum. Si rambut merah itu berdiri, dan berjalan pergi.

"Oi! Kau mau kemana?!" tanya sang kakak, bingung.

"Aku akan kembali ke kamarku. Sebentar lagi, malam akan tiba. Para tamu undangan akan segera datang," ujarnya.

"Baiklah. Jangan kabur dari pesta ini. Ayah tidak akan membiarkanmu lolos lagi," kata Shuuzo memperingatkan.

"Aku tahu,"


"Riyuu, kabur dari sini. Ibu harus mengambil sesuatu yang sangat penting. Atsushi! Jaga Riyuu."

"Tapi ibu-,"

"Tidak ada tapi-tapian! Sekarang pergilah!"

Sang ratu berlari ke kamarnya, mengobrak-abrik laci di sebelah tempat tidurnya. Ia mengambil sebuah Jam Saku dari sana, dan menggenggamnya erat. Mendadak pintu dibuka, dan beberapa prajurit datang, dan menghunuskan pedang ke arah Ratu Floria. Salah satu dari mereka mendekat, dan membunuhnya. Ratu itu terjatuh, dan ia tetap menggenggam Jam itu.

"Pardonne-moi, ma fille,"


"Ke-kehancurannya parah sekali..." Riyu bergumam pelan.

"Kerajaan Rogue bilang, ini hanya awalnya saja. Apa yang kita lakukan terhadap mereka?" Satsuki berusaha menahan airmatanya.

Riyuu berdiri di tengah panggung. Batu-batuan berserakan, dan masih ada beberapa tiang yang utuh. Beberapa orang yang memakai baju orang biasa terlihat luka-luka, dan beberapa sedang menangis

"...Riyuu-sama, ibu anda tidak berhasil melewati semua ini," kata Murasakibara sambil menundukan kepalanya.

Riyuu jatuh terduduk. "Apa? Aku rasa, aku salah mendengarmu, Atsushi," Riyuu menangis pelan, dan Satsuki memeluknya erat. "Ibunda,... meninggal? dibunuh? Kenapa?" Kepala penjaga Atsushi terdiam hingga akhirnya ia membuka mulutnya,

"Ini kesalahan saya. Saya seharusnya siap saat mereka menyerang... maafkan saya," Atsushi langsung menyembah Riyuu.

"A-Atsushi, I-ini bukan salahm-mu. Jan-jangan menanggung se-semuanya sendi-sendirian!" kata Riyuu sambil terisak.

"..."

Suasana hening menyambar panggung itu. Beberapa penonton yang peka menangis sedikit.

"Riyuu!" Suara yang monoton, namun terdengar khawatir menggema di ruangan pentas.

Tetsuya berlari ke arah Riyuu dengan napas yang sedikit terengah-engah, dan segera memeluk putri yang manis itu.

"Aku mendengar kabar,... sial! Aku terlambat. Maafkan aku, sepertinya Kerajaan Rogue melanggar sumpah setia kita. Aku seharusnya datang lebih cep-," kata-katanya terhenti.

(Penonton heboh melihat Kuroko menunjukan banyak ekspresi di sini)

"Te-Tetsuya,... Ibunda sudah.."

Tetsuya membelalakan matanya, "Yang Mulia Floria,..." Kuroko menutup matanya rapat-rapat, "Kami, Kerajaan Noir turut berduka cita atas kehilangan Ratu yang Dicintai, Floria La Blanc. Maafkan aku, Riyuu."

Isak tangis Riyuu semakin keras, dan ia memeluk Tetsuya dengan erat. Satsuki ikut memeluk Putri yang sudah dirawatnya sejak kecil, dan Atsushi berdiri mendampingi Riyuu. Suasana dukacitanya sangat memilukan..


-Semuanya hilang bagaikan angin-


Suasana pesta menghiasi panggung yang tadinya sebuah kehancuran. Banyak yang tertawa, dan musik elegan dimainkan. Seijuuro bersandar di dinding Hall dansa sambil menghela napas. Ia berusaha untuk menghindari semua gadis yang hadir di sana, tidak berniat untuk berdansa. Ia mengambil surat di sakunya, dan membaca surat yang ia terima tadi, berulang kali. Ia tersenyum tiap kali matanya membaca isi surat itu.

"Pa-pangeran, maukah anda berdansa dengan saya?"

Seijuuro melepaskan matanya dari surat itu, dan menatap gadis di hadapannya. Perempuan ini memakai gaun yang sungguh memperilhatkan bentuk tubuhnya, dan menampilkan bagian-bagian yang seharusnya tidak diperlihatkan. Ia merasakan matanya seolah terbakar, dan ia melirik ke tempat lain,

"Tidak. Aku tidak sedang dalam keadaan ingin berdansa."

"Tapi,.. aku sangat memerlukan seseorang untuk berdansa denganku," ujarnya memelas. Ia memeluk tangan Seijuuro dengan manja, "Satu kali saja, ya~?"

Seijuuro sebenarnya sangat membenci tipe wanita yang seperti ini, tapi ia mengangguk. Mereka berdansa perlahan di lantai tersebut, mengikuti musik yang dialunkan. Lagu pun, akhirnya selesai.

"Aku sudah mendampingimu. Aku akan kembali sekarang,"

"Tu-tunggu! Kau tidak mau terus bersamaku? Aku cantik, dan kaya! Apa yang kurang dariku?!" sahut wanita itu, menhentikan langkah Seijuuro.

"...yang kurang darimu? Aku tidak menyukaimu," katanya tegas, jelas, padat.

Sang gadis kabur sambil menangis. Seijuuro menghela napas,

"Kau mengecewakan gadis lain, lagi?" tanya Shuuzo, mendekati adiknya.

"Aku tak pernah menemukan orang yang kucari selama ini..,"

"...Kau tahu? Aku juga begitu.."

Mereka terdiam sesaat.

"Aku punya ide!"

"Apa?"

"Bagaimana kalau kau menyamar menjadi orang awam, dan mencari orang yang kau suka?" usul Shuuzo.

"Kau kira, ayah akan memperbolehkanku mencintai rakyat biasa?"

"Tentu saja tidak."

"Kak,..."

"Tidak ada salahnya mencoba," ujarnya dengan santai.

"Kalau begitu, aku butuh bantuanmu,"

"Eh?"

"Aku akan menjalankan misi ke Kerajaan Noir. Aku akan mencoba mencari dari sana," kata Seijuuro.

"Aku akan membantumu untuk kali ini saja. Jangan lupa, kau berhutang padaku soal ini," ujar Shuuzo.

"Aku tahu,..,"


Kerajaan Noir, beberapa hari kemudian


"Riyuu, aku tahu kalau kau sedih. Tapi kau harus makan," rayu Tetsuya, seraya meberikan semangkuk sup untuk sahabt masa kecilnya.

"Aku tidak lapar. Sudah tidak apa-apa, kok," senyum sang putri tulus.

Tetsuya terdiam sebentar. "Bagaimana kalau kau berjalan-jalan di kota? Aku yakin, itu akan membuatmu tenang."

Mata Riyuu bergelinting. "Hontou?!" "Tentu saja"

Ia segera berlari dan memeluk sahabatnya. "Arigatou~"

Tetsuya merasakan wajahnya memerah, dan para penonton pada teriak-teriak.


RayhanFF: Arigato! Maaf lama banget updatenyaa... (OSIS! I HATE YOU!)

Nisa Piko: ah, selamat menuaikan ibadah puasa! #telatbangetsumpah. Maaf lama updatenya.

Maya Christina: SAYA BAHAGIAAAAAAAAAA! Makasih sudah mau baca fic ini!

saruma tetsuya: saya masih teringat oleh Saruma-san... fuwaaa~