Roommate

Rate T, for character interaction and cursing words.

Written by Author Friendship—avmr

Chapter 2 :: Allurement

.

.

"Kalian berdua, lari keliling lapangan sepuluh kali!"

Eren mencibir—diam-diam, tentu saja. Padahal kan dia cuma telat sekian menit... ugh, komandannya yang satu ini memang rese, sih. Tapi toh tanpa banyak protes, Eren yang pada dasarnya penurut pun langsung ambil ancang-ancang start jongkok.

"...Idiot."

Setidaknya... sebelum ia mendengar gumaman Rivaille. Eren pun langsung balik kanan, mengurungkan niatnya semula. "Hah? Kau bilang apa tadi?"

"Aku bilang, idiot."

"Apa!? Dasar grumpy cat!" maki Eren balik. Tidak koheren, memang, karena ia meneriakkan kata pertama yang terlintas di kepalanya.

"Derp."

"Tiran!"

"IQ jongkok."

Para anggota Scouting Legion yang hadir di sana memutar mata. Duh, siapa sih yang dulu punya ide menempatkan anjing dan kucing ini dalam satu kandang?

"Titan barbar."

"Liliput!"

"DIAAAAAAAMMMM!"

Akhirnya, 'pertarungan' itu pun dihentikan oleh sang komandan sendiri—Irvin Smith. Membuat kedua bocah itu langsung terkesiap seperti anak kecil dibentak ibunya. "Rivaille, Eren, astaga... kalian ini adalah prajurit Recon Corps! Eksistensi umat manusia berada di tangan kalian, kenapa berdamai saja tidak bisa, hah!?" bentak Irvin dongkol—apa-apaan ini, kenapa dua aset paling berharga milik umat manusia bisa bersikap kekanak-kanakan begini, sih?

"Kalian berdua, lari keliling lapangan sepuluh kali—"

Eren menyahut sigap. "Yes, Sir!"

"—BERGANDENGAN TANGAN!"

"Yes, Si—HAH!?"

Dan yang pertama kali menunjukkan kekagetannya secara verbal, sudah pasti Eren Jaeger. Matanya membulat bak tersambar petir imajiner. Aduh mampus... tahu begitu ia ikuti saja saran Mikasa untuk melakban mulutnya tadi pagi!

Sementara Rivaille belum menunjukkan reaksi signifikan, di belakang Irvin para taruna yang lain sudah jawsdrop massal dengan dramatisnya—dan para anggota senior malah tampak mati-matian saling gebuk menahan tawa.

"Tapi..."

"Hei, Jaeger—"

Yang dipanggil namanya menoleh ke samping dengan muka melas level kolosal, berharap pembelaan dari sang corporal. Mungkin saja kalau dia yang minta, Sir Irvin bisa berubah pikiran... bukankah selama ini dia anak emas komandan?

Tapi tampang datar macam papan gilasan adonan itu, mau tidak mau membuat optimisme Eren anjlok sampai level minus. Ia menjambak rambutnya sendiri secara mental—ah, sudahlah. Tidak ada harapan lagi.

Dan dugaan itu pun terbukti, ketika kemudian Rivaille mengelap kedua telapak tangannya ke baju sambil berkata tanpa dosa:

"—tadi... kau sudah cuci tangan setelah keluar dari kamar kecil, kan?"

Tabahkan hatimu, nak. Hari ini akan jadi hari yang berat...

S

N

K

Ketika Eren memasuki ruangan itu saat jam makan siang tiba, hampir semua meja sudah penuh. Seharian ini latihan para prajurit memang lumayan keras, jadi makanan yang disediakan juga nyaris ludes tak bersisa—meski untungnya, ia bisa menyelamatkan potongan daging terakhir. Apalagi perutnya butuh asupan karbohidrat ekstra gara-gara hukuman ekstra tadi pagi. Dan setelah lumayan lama celingak-celinguk, akhirnya ia bisa menemukan duo Mikasa-Armin yang sudah me-reserve tempat terlebih dahulu di dekat sudut.

Eren pun—seperti biasa—mesti balap lari dengan Jean untuk mendapat posisi di samping gadis bersyal merah itu. Yeah, hal terakhir yang ingin dia lihat, adalah pemuda brangasan berambut pirang itu menggoda saudarinya di tengah jam makan siang. Yang ada nanti dia malah muntah-muntah seharian.

"Aku duluan!"

"Ah, curang kau, Eren!"

Untuk sesaat, pemuda berambut cokelat itu pura-pura acuh—dan mulai menyantap makan siangnya dengan ganas. Tapi beberapa saat kemudian, Eren jadi merasa aneh. Entah kenapa suasananya agak sepi—kalau tidak bisa dibilang sunyi. Setiap kali dia mengajak bercanda atau ngobrol orang di mejanya, mereka cuma tertawa garing... lalu mengalihkan pandangan dengan kikuk. Sekali, dua kali, ia pikir rekannya memang cuma kecapekan. Tapi ketika sudah berkali-kali diacuhkan, lama-lama dia gondok juga.

"Hei, ada apa, sih?" tanya Eren, "Kalian kenapa diam-diam begitu?" Dia berbisik pada Armin, tapi bocah itu cuma menggeleng sambil terus melahap supnya. Sasha, Christa, Connie dan yang lain, bahkan Jean yang biasanya berisik pun mendadak serempak tutup mulut. Eren garuk-garuk kepala.

"Mikasaaaaaaa...?"

Yap. Bisa ditebak, si gadis berambut hitam itulah yang akhirnya mengalah dengan buka mulut duluan.

"Ehm... begini, Eren," Mikasa menatap mata saudaranya dengan tatapan aneh. "Sebelumnya maaf aku menanyakan ini, tapi... err... anggap saja ini cuma sebuah hipotesa, ya."

"Ya, ya... terserah saja. Memangnya apa, sih?"

"Kau... belum 'belok', kan?"

Semua orang kontan menahan nafas, secara mental memberikan standing ovation atas ke-frontal-an Mikasa. Tapi Eren, yang memang sama sekali tidak peka membaca situasi, malah mengerutkan dahi dan balik bertanya. "Hah? Maksudnya? Belok ke mana?"

Sederetan prajurit yang duduk di meja itu langsung facepalm berjamaah. Duh, ini sih sudah bukan innocent lagi, tapi sudah benar-benar clueless...

"Bukan secara literal, bodoh—maksudku... soal yang tadi pagi itu..."

"Tadi fagi? Kenafha?" Lagi-lagi Eren bicara sambil makan, membuatnya dihadiahi satu jitakan dengan sendok. Tapi sampai di sini, entah kenapa Mikasa tidak tega melanjutkan kalimatnya.

"...Romantis sekali..." sambung Jean, dengan pipi gembung menahan tawa—membuat Eren makin bingung bin geregetan saja.

"Apanya?"

Lalu giliran Connie. "Pffft. Seperti pengantin baru..."

"Hah? Siapa?"

"Kau..."

"Kenapa denganku, Christa? Ah, sudahlah.. kalian ini! Tidak usah sok misterius bisa tidak, sih?"

Dan sekian milidetik sebelum Eren menggebrak meja karena emosi, untungnya, estafet itu segera diakhiri oleh Sasha Brauss. Dengan punchline yang telak sekali. "Kau dan Sir Rivaille... mesra sekali."

Sampai sini, barulah otak Eren konek.

"HEEEEEEEEE!?" teriaknya dengan eksperesi syok komikal sambil jatuh gedubrakan—seakan-akan sebuah meriam baru saja ditembakkan ke kepalanya. Dan kontan saja semua mata di ruangan itu langsung bermanuver ke meja Eren, membuat si pemuda makin salah tingkah. Ia tersedak dan langsung batuk-batuk—untung Mikasa cepat menepuk-nepuk punggungnya.

"Bukan! Ini bukan seperti yang kalian pikirkan!" ujarnya, panik, "Kami tidak ada hubungan apa-apa, yang itu tadi cuma hukuman!"

"Ah, yang benaaaar?"

"T-tentu saja! Dan kalaupun ada yang tidak normal, itu pasti cuma Rivaille sendiri! A-aku masih di jalan yang lurus, kok!"

Well, para anggota Scouting Legion cuma tertawa ambigu mendengar pengakuan Eren—entah mereka percaya atau tidak. Pemuda itu jadi kesal sendiri. Untung saja, latihan sore harinya juga lebih ke praktek individual dan bukannya kelompok, jadi ia tidak perlu bertatap muka dengan Rivaille sering-sering. Apa kata rekan-rekannya nanti? Bahkan sampai malam pun selepas makan, ia masih belum sudi kembali ke kamar sama sekali.

Kekanak-kanakan... memang.

Maka jadilah seharian itu , Eren mengungsi ke kamar Armin. Maunya sih sekalian menginap, tapi Jean sudah ngamuk-ngamuk duluan. Nambah-nambahin kepadatan penduduk, katanya. Lagipula, ia beropini kalau Eren dan Rivaille tidak ada apa-apa, mestinya mereka bisa sekamar berdua dengan damai. 'Plan B: menumpang di kamar Mikasa' juga terpaksa ia urungkan sedetik sebelum ditanyakan—karena meski gadis itu tidak mungkin keberatan, bisa-bisa besok dia yang menginap di poliklinik gara-gara babak belur dihajar Annie.

Dan demi lobang hidung Titan... terkutuklah Connie dkk, karena mereka sengaja menolak permohonan-hidup-dan-mati Eren dengan alasan absurd "Lho. Nanti bukannya malam pertamamu dengan Corporal Rivaille, ya?"

S

N

K

Masuk, tidak. Masuk... tidak.

Akhirnya, Eren menyerah. Sekali lagi ia menatap putus asa kepada nomor yang terpajang di pintu kamarnya, masih dengan tangan menggenggam kenop. Hah. Astaga, memangnya dia masih kuat melihat wajah Rivaille, setelah semua yang terjadi hari ini? Bahkan dia merasa telapak tangan kanannya mendadak panas—padahal kan tadi ia sudah menggosoknya dengan sabun antiseptik sebelum makan? Apa jangan-jangan... karena orang yang tadi menggenggamnya, sekarang berada di dekat sini?

...Sial. Dari mana datangnya kalimat bodoh ini, sih!?

Cklek.

Dan... gerbang menuju neraka, terbuka.

Sambil melangkah masuk, Eren sengaja memajang wajah paling polos yang ia punya. Berusaha bersikap biasa, pura-pura tidak terjadi apa-apa. Tapi tetap saja; ia bergidik ketika Rivaille yang tengah duduk membaca buku, mendadak mengangkat pandangan ke arahnya. Eren sudah kebat-kebit, tapi untungnya, hanya sebatas itu. Bahkan sampai Eren mencapai garis finish—ranjangnya—saja, tatapan Rivaille masih menusuk-nusuk. Tapi kalau cuma tatapan, rasanya sih tidak masalah...

Pemuda itu membuang nafas lega, lalu membaringkan diri di kasurnya yang nyaman. Mungkin Rivaille memang tidak marah?

"A-aku tidur duluan, ya. Selamat malam."

Tapi belum ada tenang lima detik, mendadak Eren merasakan sebuah tendangan tidak berperikemanusiaan di pinggangnya—membuat ia terguling ke kiri dan menabrak dinding di sisi lain ranjangnya dengan menyakitkan. "Aduh!" erangnya, spontan meringkuk di ranjang sambil memegangi perut. "HEI, AP—"

Tapi Rivaille sudah keburu membaringkan diri di ranjang itu juga, dan dengan seenak jidat mengambil posisi di sebelah Eren. Kedua tangannya bersedekap di depan dada, dan kakinya bersilangan dengan songongnya.

Eren Jaeger kontan memekik horror, sambil beringsut merepet-repet makin panik ke dinding. "Whoah! Kenapa ke sini? K-kau kan sudah punya kasur sendiri! Minggir sana—"

Tapi... well, Rivaille tetaplah Rivaille, kan?

"Kita perlu bicara empat mata, Jaeger."

Eren menelan ludah. Mati aku. Mati. MATI.

"E-err... maaf, bisa tidak lain kali?" tangkisnya, sambil berusaha berdiri untuk kabur dari situasi terjepit ini. "Permisi, aku baru ingat ada urusan dengan Mikasa—"

Karena posisi yang tidak menguntungkan, mau tidak mau Eren nekat melompati tubuh Rivaille untuk meloloskan diri. Tapi baru setengah jalan, dengan santai pria itu mendadak menggunakan kaki kirinya untuk mentackle Eren—

Bugh.

—sampai jatuh ke atasnya. Dan belum sempat Eren membentuk formasi pertahanan, tahu-tahu saja pinggulnya sudah dikunci oleh kaki kanan Rivaille yang melingkari pinggangnya. Alhasil, pemuda itu pun langsung beku di tempat... ketika otot perutnya bersentuhan dengan sang senior. Terperangkap—dengan wajahnya berada tepat di depan Rivaille.

YA TUHAAAAAAAN! POSISI INI LAGIIIII!

Eren mati-matian membungkam innernya, tapi ketika Rivaille pelan-pelan membuka mata; seluruh pertahanannya serasa runtuh seketika. Untuk sesaat Eren jadi dilema—dia hendak meronta, namun kontak fisik di area-area tertentu membuatnya takut bakal terjadi gaya friksi. Tapi kalau diam saja... kok kesannya dia pasrah sekali, ya?

"Ketika aku bilang 'empat mata', itu berarti kontak mata, Jaeger," ujar sang senior, sambil mengangkat sebelah alis—ketika melihat Eren berada dalam posisi awkward di atasnya... sambil menunduk dalam-dalam.

"I-i-i-iya."

"Aku dengar... tadi namaku disebut di ruang makan. "

Nafas Eren tertahan, was-was dengan apa yang akan dikatakan sang Corporal. Yeah, biarpun ukurannya mini, tapi kalau sampai dia marah... bisa-bisa Armageddon terjadi lebih awal!

"Daripada membicarakanku di belakang seperti itu, Jaeger..." lanjut Rivaille, bahkan tanpa intonasi."...kau bisa mengatakannya langsung di depanku."

Eren mengumpat dalam hati, merutuki teman-temannya yang tadi begitu antusias membicarakan sang prajurit-terbaik-sepanjang-sejarah-manusia itu. MAMPUS! Dia marah betulan! Sekarang siapa yang kena getahnya, coba!?

"Aku juga mendengar suara tawa. Jelaskan padaku. Berikan pembelaan sebelum aku berubah pikiran..."

Pemuda berambut cokelat itu langsung bungkam.

Hell, mau dikemanakan harga dirinya kalau dia mengakui bahwa teman-temannya sudah resmi berubah jadi fujodanshi, berkat adegan lari-larian dramatis tadi pagi? Dan siapa yang berani jamin kalau si bonsai ini tidak akan makin emosi ketika mendengar gosip yang iya-iya tentang dirinya?

"Kau mau menjawab, atau mau begini terus sepanjang malam?" nada suara Rivaille menajam di ujung kalimatnya. Sampai sini, mendadak ia merangkulkan tangan kirinya ke tengkuk Eren, lalu menariknya mendekat—membuat bocah itu, yang tadinya masih menyangga tubuh bagian atasnya dengan kedua lengan, sekarang jadi terpaksa bertumpu pada sepasang sikunya. Si pemuda berambut coklat langsung gelagapan.

Yap. Siku—pertahanan terakhir, yang menjaga sisa-sisa kewarasan Eren tetap tinggal di tempat. Dan belum apa-apa, bau apel sudah membanjiri indra olfaktorinya untuk yang kesekian kali.

...Oh, sial.

Sekarang Eren bukan cuma tidak tahu apa yang harus dikatakan, tapi dia bahkan mendadak lupa bagaimana caranya menyusun sebuah kalimat koheren. Belum lagi kesucian wajahnya yang terancam ternodai...

"Baiklah, kalau itu maumu..." ujar Rivaille santai, mengacuhkan Eren yang sudah basah kuyup berkeringat dingin; plus kram gara-gara ia tertahan dalam posisi mirip push-up yang tidak sempurna itu. "Tapi kalau kau lelah... lemaskan saja tanganmu. Rileks, Jaeger."

"HEH—"

Dan inner Eren pun resmi bertransformasi jadi Titan. GODVERDAMMIT! Bisa beneran 'belok' dia, kalau si kurcaci kamfret itu mempertahankan pose ambigu ini lebih lama lagi! Entah bagaimana sekarang Eren positif yakin, kalau sebenarnya Rivaille tahu apa sebenarnya yang terjadi di ruang makan—si pendek ini cuma ingin mengerjainya saja!

"Sir, tolong..."

"Hmm?"

"K-kalau kita s-seperti ini dan terlihat orang... b-b-bagaimana?"

Tapi sayang, tampaknya statement keputus-asaan Eren lebih kedengaran seperti rayuan di telinga Rivaille. "Oh, jadi kau cuma takut dilihat orang?" tanyanya dengan seringai aneh—yang langsung membuat bulu kuduk Eren berdiri dengan sikap sempurna. "Kita kan cuma berdua. Tidak ada yang tahu. Tidak perlu malu."

WHAT—astaga, apanya sih yang salah dengan otak orang ini!? Kenapa dia selalu saja salah paham!? "Bu-bukan begitu! Maksudku... maksudku—"

.

.

.

TOK TOK TOK

Sebuah ketukan pelan di pintu, cukup membuat sang junior menghela nafas lega karena tidak perlu melanjutkan kalimat canggungnya. Mereka berdua langsung terdiam. Barulah sejurus kemudian, terdengar salam "Permisi, selamat malam" yang lembut sekali... dan dari suaranya saja sudah bisa ditebak itu Armin Arlelt.

Eren bersumpah dalam hati akan memeluk sahabatnya itu besok pagi. Sementara itu, wajah Rivaille tidak banyak berubah, meski keningnya sedikit berkerut—kentara sekali tidak suka dengan interupsi barusan. Lagipula... tamu macam apa sih yang datang berkunjung malam-malam begini?

"Jawab, Jaeger."

Eren tidak punya pilihan kecuali patuh, jadi ia menarik nafas panjang untuk menenangkan diri sejenak. Tapi tetap saja, suara yang keluar dari tenggorokannya berkhianat dengan kejamnya. "I-i-iya? A-ada apa... Ar-min?"

Jeda sejenak.

"Bisa keluar sebentar, Eren? Ini ada Sir Irvin dan Miss Hanji... Katanya mau ada perlu dengannmu dan... Sir Rivaille."

Pemuda itu akhirnya melirik ke arah Rivaille takut-takut, tapi si poni belah tengah itu sama sekali tidak menunjukkan gelagat ia bakal dilepaskan dalam waktu dekat. Aduh, bagaimana ini? Tidak mungkin kan dia mengatakan kalau dia sedang di—ehem—'interogasi'—oleh Rivaille? Bisa habislah dia jadi bahan ejekan seisi Scouting Legion!

"Sir..."

Tapi untunglah, di detik-detik terakhir sebelum bisep Eren menyerah, Rivaille sudah duluan menyingkirkan tubuh pemuda itu dari atasnya. Kasar sih, tapi tetap saja... wajib disyukuri. Apalagi ketika sang corporal bertampang stoic itu bangkit berdiri dari ranjang Eren—dan memutuskan untuk menemui kedua rekannya, sendiri.

.

.

.

Irvin mengerutkan dahi, ketika melihat Rivaille hanya membukakan daun pintunya kecil sekali—celahnya hanya pas untuk menampakkan separo badan sang pemilik kamar. Mencurigakan. Apalagi ditambah ekspresi Rivaille yang sudah tidak terdefinisi, plus rambut acak-acakan, dan alis yang berkerut lebih dari biasanya. Bahkan Hanji saja, yang pada dasarnya tidak gampang curiga, sampai ikut-ikutan menyipitkan mata.

Rivaille tampaknya berusaha menghalangi pandangan ke dalam, tapi tetap saja—tubuh Hanji yang jangkung membuatnya bisa dengan mudah melihat ke dalam ruangan, melewati kepala sang rekan.

"Hei...itu... Jaeger kenapa?" celetuknya, ketika melihat sepintas Eren yang tepar di kasur dengan mulut berbusa, plus sebelah kaki menggantung dari bibir ranjang seperti orang mati. Entah bagaimana aura horor yang menguar dari Rivaille makin memekat saja, membuat Armin yang tadinya bertugas sebagai penunjuk jalan langsung buru-buru pamit.

"Maksudmu kenapa dia terlihat bodoh? Jangan tanya aku," tukas Rivaille, sarkastis. Ia pun langsung keluar dari kamar dan bergegas membanting-tutup pintu di belakangnya. "Sudahlah, langsung saja... Ada apa kalian kemari?"

Hanji langsung tutup mulut, dan sebagai gantinya Irvin Smith yang berbicara. Tanpa basa-basi ia mengangsurkan gulungan kertas pada Rivaille, sambil berkata kalem, "Bukan bermaksud mengganggumu, Rivaille. Aku hanya perlu menyampaikan ini padamu."

"Hmm."

"Itu surat tugas untukmu, Eren dan Hanji—kalian bertiga akan diikutkan dalam misi kecil dua hari lagi. Kupikir lebih cepat kalian tahu, maka akan lebih baik... supaya kalian punya lebih banyak waktu untuk bersiap-siap."

Pria itu menghela nafas. Dilipatnya lengan dengan defensif di depan dada. Hmm... sebuah misi kecil, ya? Pikirnya. Memangnya tugas macam apa yang mesti melibatkan seorang Rivaille, Eren Jaeger dan si eksentrik Hanji Zoe?

Sementara itu di belakang Irvin, Hanji tersenyum sambil membuat simbol peace dengan tangan kanannya. Rivaille mengernyit. Uh... tampaknya ia mendapat firasat tidak enak dengan orang ini...

.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

.

Reply Review:

Ledpanda. Hahaha, makasih. Tenang aja... itu-itunya ada kok... chapter kemaren kan udah, haha xD Oke, makasih udah review dan fave. Eh, kalau ArminJeanMikasa aja mau nggak? NiendaZaoldyeck. Selamat datang di fandom SnK! *bukain gerbang*Ah, begitu ya? Tapi kalau semua pakai kata baku, takutnya nanti bahasanya jadi frigid U_U Anyway, makasih banyak sarannya, ya :D ayakLein24. Wooozaaahh iya dong, orang tsundere itu imut! *digebuk titan Eren*

Endou. Iyaaa Eren mah gitu... kalo gak mau, sini Ripai-nya buat saya aja *A* Jean, awas! Ada bodyguard-nya Armin nih disini! Fabian B Shanks. Haha, makasih jejaknya xD Baka Mamarthy. Saya aja juga mikir yang iya-iya xP Motif boxernya warna apa? Waduh, tanya aja author yang satunya, dia yang liat tuh... saya mah masih polos fufufufu :3 (padahal jangan-jangan kapter ini lebih parah -_-).Enggak banyak kok, cuma dua orang. kirana4219. Oke, ini udah lanjuuuut! :D

A/N: Fic pertama saya di SnK, dan BL pertama! Ampuuuun susah banget ngedeskrip pose yang di kamar itu ;A; Btw pas Connie bilang 'malam pertama', maksudnya dihitung dari pagi itu—pas Irvin udah 'resmi' mendukung RiRen xD (Irvin: *siul-siul inosen*)

Yap. Chapter 3 forecoming! *summon CS05*