Title: Roommate
Genre: Romance/Humor
Rate: T
Written by: Author Friendship─CS05
Nothing to bashing chara here. So, calm down.
.
Chapter 3:: Mission Impossible
Enjoy it.
.
"Apa itu, Sir?"
"Misi dua hari lagi, untuk kitabertiga."
"Bertiga?"
"Bersama Hanji,"
"..."
Eren menghela napas panjang dan berat. Tangannya menimang-nimang kertas berisi mission schedule yang diberi Rivaille atas perintah Irvin. Dan hari ini adalah hari H pelaksanaan misi tersebut. Eren lebih suka menyebutnya MISSION IMPOSSIBLE. Bukan tanpa alasan, karena dia sendiri tidak tahu misi macam apa yang akan melibatkan dirinya, Rivaille, dan Hanji. Misterius.
Eren meletakkan kertas jadwalnya di atas meja dan berjalan masuk kamar mandi. Eren siap melaksanakan aktivitas mandinya setelah menanggalkan seluruh pakaiannya dan memasukkannya ke dalam keranjang cucian. Diputarnya keran air panas sembari mengusap-usap sekujur tubuhnya dengan sabun. Pikirannya masih berkutat dengan topik sebelumnya, seperti apa misi yang melibatkan mereka bertiga. Well, kalau ada Hanji diantaranya, bisa ditebak kalau konsepnya tidak jauh-jauh dari yang namanya Titan, eksperimen, dan kelinci percobaan. Eren mendengus keras. Memangnya ada clue yang lain, huh?
Eren memejamkan mata menikmati semprotan shower menghujani wajahnya dan mengaliri kulitnya yang telanjang. Ah, mendadak ia teringat akan perlakuan Rivaille yang selalu menjebaknya dalam momen ambigu. Gemetar tubuh Eren saat mengingat hembusan nafas hangat si pemilik tinggi 160cm itu sering menerpa wajahnya disaat keduanya kembali terjebak─dengan sengaja─dalam momen ambigu sebelumnya. Tangannya mengepal, kepalanya menggeleng gemas. Mencoba menepis bayangan maskulin Rivaille. Eren merinding sendiri seolah nafas hangat Rivaille kembali dirasakannya meski hanya angan-angan belaka.
Eh? Tunggu sebentar.
Eren mengusap tengkuknya perlahan. Sekilas ia berpikir dirinya sedang berhalusinasi. Betulan merinding ini! pikir Eren takut. Sekali lagi Eren mengusap tengkuknya─kali ini lebih kuat. Terasa nyata─iya, nyata. Ia ingat betul sensasi ini. Perlahan, Eren memberanikan diri menoleh─slow motion.
"..."
Rivaille berdiri sangat dekat di belakangnya─cukup dekat untuk sekedar mengendus─dengan expressionless khas-nya sembari menyilangkan tangan dengan gestur tidak sabaran.
Cukup lama keheningan tercipta saat iris emerald dan iris gelap itu bertemu. Sampai akhirnya dengan tidak tahu diri, Rivaille berkata, "Mandimu lama sekali. Kau ingin kita telat dan kena hukum Irvin lagi, eh?"
"..." Eren refleks menutupi tubuhnya dengan tangan walaupun itu─sia-sia.
"Apa?" dengan watados, Rivaille memindahkan fokus matanya ke arah tubuh Eren dan sukses membuat Eren menjerit ala titan kolosal.
"─TIDAAAAAAAAAAAK!"
.
.
.
Rivaille kebetulan berpapasan dengan Hanji saat melewati koridor. Baru saja Hanji akan membuka mulut, Rivaille melempar tatapan dingin.
"Jangan tanya apapun,"
Akhirnya Hanji batal menanyakan mengapa di wajah Rivaille terdapat bekas telapak tangan merah yang masih baru.
S
N
K
Eren celingak-celinguk memperhatikan ruang laboratorium bawah tanah. Baru pertama kali ia masuk ke sini. Kesan seram sangat mendominasi aura yang dirasakan Eren saat pertama melangkahkan kaki di lantainya. Apalagi Hanji yang sedari tadi mencuri-curi pandang ke arahnya sembari menyeringai misterius.
"Baiklah, inilah misi kita," Hanji memasang ekspresi bahagia khas-nya.
Eren merasa jengah dan curiga. "Maaf?"
"Ini misi kita," ulang Hanji lagi sambil mengangkat kotak berisi peralatan kimia. "Mempelajari ramuan yang berguna dalam perburuan titan."
"Bagaimana caranya?" tanya Rivaille sambil mengutak-atik cairan keunguan di gelas beker.
Hanji pun sibuk berkutat membuat rumus-rumus alkimia aneh dan rumit. "Sederhana saja. Aku akan membuat ramuan dengan campuran tertentu dan Eren harus mengujinya karena dia setengah titan. Reaksinya tergantung ketepatan campuran dan perbandingan yang kumasukkan ke dalam komposisi utama─"
Rivaille mengangkat tangan kanannya. "Lalu apa gunanya aku berada di sini?"
Hanji nyengir. "Menghentikan Eren, tentu saja. Kalau-kalau efek ramuan yang kubuat membuatnya hilang kendali," Eren tak sadar menatap Rivaille terharu─intens. Saat pandangan mereka bertemu, rona merah di wajah Eren menjalar sampai ke ubun-ubun.
"A-anu, sampai taraf mana tahap percobaan ini dikatakan berhasil?" Eren cemas juga kalau uji coba mengharuskannya meminum ramuan asing yang bahkan ia tak mengerti terbuat dari apa. Memangnya dia harus minta kompensasi pada siapa kalau dirinya mendadak over dosis? Hanji, 'kan, orangnya inosen.
"Sampai efek yang kau tunjukkan sesuai dengan yang kuinginkan, dengan kata lain─mission success."
Gulp. Eren menelan ludah. Mau sampai berapa gelas yang harus dia minum? Bagaimana kalau dia keracunan? Efek terparah─mati. Mati. Peluh mengalir di pelipis Eren. Harusnya dia ikut vaksinasi dan program asuransi dulu─tidak ada hubungannya.
"Kau siap, 'kan, Jaeger?" Rivaille menatap datar Eren dengan sorot mata minta penjelasan.
Dengan berat hati─namun juga merasa tenang karena Rivaille turut serta─Eren mengangguk lemah.
.
.
.
"..."
Eren melirik Hanji yang sedang sibuk mencoret-coret buku catatannya, mencampur cairan kental beragam warna, kemudian mencoret-coret lagi, mencampur lagi, begitu seterusnya. Eren berpaling ke arah Rivaille. Rivaille tengah sibuk membersihkan sarang laba-laba di sudut ruangan yang sulit dijangkau. Sekali-kali Rivaille terbatuk-batuk tak sengaja menghirup setitik debu di udara.
Ah. Eren menghela nafas panjang. Ada gunanya juga dia bisa berubah menjadi titan. Menjadi bahan eksperimen.
"SELESAAAAAAAAAAI!" Hanji berteriak bahagia, sembari menari-nari balet keliling ruangan. "Minumlah, Eren," Eren agak ragu, namun saat melihat mata Hanji yang berbinar, Eren mengangguk mantap.
Eren memejamkan mata, menguatkan mentalnya. Perlahan diteguknya ramuan Hanji. Sensasi asam sedikit pahit mewarnai indera pengecap Eren. Cairan kental tersebut memasuki kerongkongan Eren, membuat perutnya agak mual.
"Bagaimana?" tanya Hanji siap dengan pensil dan buku catatan─hendak mencatat respon yang diberikan Eren terhadap ramuannya.
"..."
Rivaille mendekat. "Cepat beritahu kami, Jaeger,"
"...tidak terasa apa-apa," ujar Eren pelan─mensyukuri bahwa dia belum mati─belum, sih.
Hanji menopang dagunya. "Ah, ada yang ketinggalan rupanya," kemudian dia berkutat sebentar dengan rak tabung reaksi, mengambil beberapa cairan, mencampurkannya ke dalam labu ukur, mengaduk, kemudian kembali disodorkan pada Eren.
"...b-badanku terasa─gatal-gatal," Eren menggaruk lengan, kemudian lehernya. "...dan panas," mulai timbul bentol-bentol merah pada kulit Eren.
"Minum ini, cepat!" Hanji menyodorkan segelas cairan berwarna kehijauan. Dengan cepat Eren menyambarnya.
Ah.
Eren menarik napas lega. Efek samping ramuan tadi telah hilang.
Hanji mengambil tabung reaksi lain berisi bubuk putih dan mencampurkannya lagi. "Minum."
Kali ini Eren benar-benar ragu. Sangat ragu. Pasalnya tampilan ramuan tersebut sudah tak jelas lagi. Berwarna hitam pekat nan kental dengan letupan-letupan menyeramkan─only god knows what's that.
Setelah meminumnya, Eren langsung pingsan.
"Waduh!"
"HANJI." Rivaille melempar lirikan maut tanpa kedip pada makhluk berkacamata tersebut.
"Tunggu, tunggu. Tahan dulu, heichou. Aku cuma salah membuat perbandingannya, kok." Hanji gelagapan mengambil sebuah botol di lemari. "Ini bisa menghilangkan efeknya. Tapi juga punya akibat yang─ah, sudahlah. Ini darurat. Lagipula aku lupa apa efek yang timbul dari obat ini," Hanji meminumkan Eren obat. Namun, Eren selalu memuntahkan obat itu.
"Bagaimana ini, Eren tidak bisa meminumnya!" Hanji tambah panik.
"Berikan padaku," Rivaille mengambil alih. Dia meminum obat tersebut dan meminumkannya pada Eren dari mulut ke mulut.
"..."
"Rivaille?"
"..."
"Heichou?"
"..."
"WOI, JANGAN KEASYIKAN!" hardik Hanji sebal. Berani-beraninya si chibi Corporal ini bercumbu mesra di hadapan seorang jomblo. Memanfaatkan kesempitan.
"Fuaaah..." akhirnya Eren membuka mata. Efek ramuan sebelumnya juga telah hilang. Tapi Rivaille merasa ada yang janggal pada dirinya. Begitu pula Eren yang merasa sekujur tubuhnya mengalami panas tinggi.
"Hanji," Rivaille menoleh sedikit. "Sebenarnya apa efek samping obat ini?"
"Eh? Itu..." Hanji membaca label botol obat di tangannya. "OH, YA AMPUN! AKU LUPA! INI, 'KAN─" Hanji menutup mulutnya. "Erm, heichou?"
"APA?" nada suara Rivaille terdengar tidak sabaran.
"Eh... efek obat ini sama dengan, erm, obat penambah... gairah," Hanji sudah mundur beberapa langkah ke belakang, mengambil apapun yang bisa dipakainya sebagai tameng jika Rivaille mengamuk.
"Cih, begitu," Rivaille berusaha mengontrol napasnya yang tidak beraturan.
"Ha-hanji-san! Cepat, cari penawarnya─" ucapan Eren terputus saat Rivaille membungkam mulutnya dengan telapak tangan.
"Biar saja begini," bisik Rivaille seduktive di telinga Eren. Jantung Eren berdebar kencang mendengarnya. "Hanji, kau keluar! Dan jangan coba-coba mengintip!"
"S-sir?"
"Rileks, Jaeger. Rileks," Rivaille membawa wajahnya mempersempit jarak antara dirinya dan Eren.
"..." kali ini Eren tak bisa menolak karena dirinya tengah berada dalam pengaruh obat. Karena dirinya yang sekarang ini juga─ingin. Eren tak mampu melawan.
"Eren..." panggil Rivaille lirih. Menciumi seluruh bagian wajah Eren. Eren gemetar─antara merinding dan geli.
"He-heichou..." Eren mencoba melepaskan diri. Namun pelukan erat Rivaille yang mengunci gerakannya membuat dirinya tak bisa berkutik. Rivaille mencium dahi Eren dengan lembut.
"Panggil aku dengan namaku, Jaeger," Rivaille menyeringai nakal, menghembus sedikit telinga Eren dengan napasnya.
"Tunggu, aku tidak mau─"
"Ssh," jari telunjuk Rivaille menyentuh bibir Eren. "Nikmati saja, ya?"
Eren menutup mata pasrah.
Dan membiarkan segalanya mengalir begitu saja.
S
N
K
Esoknya.
"HANJI. AKU. MENCARIMU." Terdengar tekanan nada suara Rivaille memanggil Hanji yang tengah menyeruput kopi paginya dengan syahdu. Sangat merdu─kalau di dengar pada malam Jum'at. Mendadak Hanji membayangkan Rivaille yang bertubuh kecil punya dua taring di gigi dan dua tanduk di kepala. Huwaa! Toloooong!
Hanji berusaha menekan rasa takutnya. "Heichou! Ma-maaf, maaf, aku─"
"Berikan aku obat yang kemarin sejumlah sepuluh botol. Jangan banyak tanya. Anggap saja ini sebagai ganti rugi dan permintaan maafmu," Rivaille menengadahkan tangannya enteng. Hanji melongo.
"Siapa yang─" ups, Hanji menutup mulut spontan kemudian berpikir sebentar. "Baiklah~" cengiran manis terukir di lengkung bibirnya. Rivaille mendecih pelan dan berlalu pergi meninggalkan Hanji sendirian.
Hanji menatap kepergian Rivaille dengan sumringah.
Ah.
Ada hikmah juga di balik keteledorannya melupakan efek samping sebuah obat.
Hanya untuk kali ini saja.
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N: Hadeeehhh, misi chap 3 selesaaaaiii! /terbangbaling2bambu
Sekarang saya jawab reviewnya ya~
Cherry Blossom Clash Iyaa, makasih~ ini chap 3, udah, 'kan? /peace Silahkan, silahkan, tapi sogok Isayama-sensei dulu kalo mau tukeran, ufufufu~ Iya, unik? Wah, rekan saya pasti tersanjung :3 Geregetan? Wow, makasih~ /SetelLaguSherina Nama kita sama, kembar yang hilang kah? /ditampol ayakLein24 Ohohoho~ pastinya, MODUS banget. Ya, 'kan, pai? /ditebasRipai eh sungkeman dulu yak /balassungkem Iye, tenang aje, RivaEren jadi begini, 'kan, karena om Irvin juga /sikutIrvin Roya Chan Gak apa-apa, santai aja, rileks... wah, tau aja deh kamu, fufufu~ /malu2najis Iya nih, si Ripai kepo amat, ke-geer-an lagi! /dijewer Baka Mamarthy Eren emang udah ditakdirkan jadi uke U.U Iya saya juga sebel tuh ada interupsinya segala XDDD Erelly Eren malu gara-gara diusik sama teman-temannya XP Nah, di chap ini udah terjawab, 'kan? /senyumpromo Sachi EreRi Ini udah update ^^ semoga menikmati Pasti di update terus, dong! XD Android5Family Ide yang bagus! Ntar deh, pas mereka jadi pasutri beneran XDDD mager Otak semua anggota Al-Sekoting udah saya racuni, fufufu~ Yooo! Semangat dukung Eren, biar Eren pede jadi-seorang-maho /DijadiinKesetKakiTitan semoga menikmati! /tebarconfetti
*tarik avmr*
Review, please?
