(Kalau sekarang Eren Jaeger ditanya siapa pria paling manis se-Scouting Legion, sudah pasti dia akan jawab 'Corporal Rivaille'.)

.

.

ROOMMATE

Written by Author Friendship—avmr

Chapter 4 :: Sigma

.

.

Argh, sial.

Eren mengacak rambutnya, frustrasi. Dia sudah mencoba berguling ke kanan, kiri, telentang, tengkurap—tapi tetap saja matanya masih bandel, tidak mau lepas dari sesosok makhluk yang terbaring di bawah selimut ranjang sebelah.

Terkutuklahobat malpraktek Hanji Zoe. Bagaimana ramuan-belum-bersertifikat-halal yang sekuat itu bisa sampai diujicobakan ke anak di bawah umur seperti dirinya? Karena bahkan setelah sekian ronde sekian jam sekian galon air putih yang dia minum sampai kembung, sensasi aneh yang menggelitik bagian dalam perutnya belum hilang-hilang juga. Padahal sekarang sudah hampir menjelang pagi.

Ah, entahlah—rasanya Eren seperti ditarik medan magnet kasat mata, yang gawatnya, membuat hasrat pangeran-mencium-putri-tidur semakin membara. Apalagi suasana juga mendukung. Dan setelah sekian lama perang batin antara nafsu dan insting bertahan hidup... akhirnya Eren menyerah.

Ah, toh satu kecupan saja tidak akan membunuh, kan?

Yah. Otak Eren mungkin sudah terlanjur miring sekian derajat, karena sejurus kemudian ia sudah berlutut di samping ranjang Rivaille. Dan di detik berikutnya, Eren Jaeger pun memejamkan mata... ambil ancang-ancang untuk melakukan tindakan bunuh diri paling nekat sepanjang sejarah Scouting Legion.

Tapi belum sempat bergerak jauh, wajahnya sudah keburu tertahan sesuatu—

"Ada tiga kesalahan dalam teknikmu, Jaeger..."

—dan sebuah suara ngebass basah yang familiar langsung mengacaukan semua fantasi Eren tentang tujuh manusia cebol, burung berkicau dan putri tidur.

"Kesalahan pertama: jangan mengganggu saat aku tidur. Aku masih atasanmu, dan semua yang terjadi kemarin sama sekali tidak merubah posisimu dalam rantai makanan."

Entah sejak kapan, Corporal Rivaille yang tadinya tidur telentang dalam damai tahu-tahu saja sudah berubah posisi. Sekarang ia duduk bersedekap dengan punggung bersandar ke tembok—sambil memajang ekspresi sedatar papan talenan plus deathglare yang intensitasnya hampir setara radiasi Gamma.

Dan satu kaki yang menempel dengan epiknya ke muka Eren.

"Kedua, jangan mencium orang dengan mata tertutup. Kau beruntung aku tidak langsung menyodok hidungmu dengan sapu."

Eren kontan beringsut mundur. "Ah, S-Sir... i-ini tidak seperti yang anda kira—"

Namun tanpa memberi Eren kesempatan untuk membela diri, Rivaille tetap melanjutkan kalimatnya. "Dan yang terakhir, Jaeger..."

Sampai sini, ia menarik kaki kanannya kembali dari wajah si bocah titan. Tapi entah kenapa, Eren merasa gerakan itu jauh lebih mirip ancang- ancang tendangan maigeri-jodan daripada gestur pengampunan. OH. SINA. SELAMATKAN AKU.

"...Kecuali kau punya sembilan nyawa cadangan, jangan pernah berani menciumku sebelum kau gosok gigi. Menjijikkan."

S

N

K

Pagi itu, Scouting Legion ada jadwal latihan di hutan dalam wilayah Dinding Maria. Sebenarnya bukan event yang terlalu istimewa, sih—mereka memang mengadakan training semacam ini setiap satu minggu sekali. Lagipula karena lawannya hanya titan-titan palsu yang terbuat dari kayu, latihan targeting seperti ini jelas masih jauh kalah seru daripada berburu aslinya.

Tapi toh, para anggota junior tetap antusias mengikutinya. Apa lagi kalau bukan karena nilai yang mereka dapat mungkin bisa dijadikan pertimbangan untuk kenaikan pangkat di tahun-tahun mendatang.

Yak. Di lokasi tersebut, mereka berkumpul di dataran kosong dekat hutan sambil mendengarkan instruksi dari Komandan Irvin. Kemudian Nanaba dengan sabar menjelaskan aturan penilaian, sementara Petra membagi-bagikan jam saku dan kompas portabel yang bisa dipasang di pergelangan tangan. Berikutnya, Rivaille dapat tugas mengumumkan pembagian tim—tapi dengan seenak jidat ia memberikan kertasnya pada Armin, dan menyuruh mereka baca sendiri.

Tim A: Connie Springer. Ymir. Bertholdt Fubar. Annie Leonhardt.

Tim B: Mikasa Ackerman. Jean Kirschtein. Eren Jaeger. Armin Arlert.

Tim C: Reiner Braun. Marco Bodt. Christa Lenz. Sasha Braus.

"Wah Marco, kita bersama lagi nih. Bosan deh lama-lama." Respon Sasha terdengar paling awal. Dia tertawa sambil menyikut lengan Marco, sementara pemuda itu hanya tersenyum simpul.

"WUAAAHHH! AKU TERPISAH DENGAN CHRISTAAAAA!"

"Ah... sudahlah, Ymir. Cuma satu jam setengah saja kok..."

"Hei—Sasha! Tidak usah bawa kentang!"

"Aaah, ini cadangan makananku! Kalau aku mati kelaparan di tengah jalan bagaimana?"

"CIEEE BERTHOLDT SATU REGU SAMA ANNIE! Eaaaaa~"

"Yeah, aku satu tim dengan Mikasa! Hahahaha, jodoh memang nggak kemana..."

JDUAK—

"Oi, Jean! Aku juga sekelompok denganmu tahu! Awas kalau sampai berani macam-macam!"

Untuk beberapa saat suasana pun jadi ricuh. Tapi ketika kemudian Komandan Irvin berdehem-dehem ganteng, seluruh keributan langsung sirna seketika—dan para prajurit kontan lari kalang kabut membentuk barisan berbanjar. Mereka serentak berpose hormat khas prajurit, sambil berteriak "SIAP, SIR!" lantang-lantang.

"Eh?" Pria berambut pirang yang bersangkutan terdiam bingung. Lho—padahal tadi kan dia cuma batuk karena gatal tenggorokan. Ya sudahlah.

Berikutnya, masing-masing tim diberi satu peta yang menunjukkan garis besar pembagian wilayah. Beberapa menit persiapan digunakan Armin untuk menyusun strategi dan menjelaskannya pada rekan-rekan setimnya.

"Baiklah, begini rencananya..." ujar pemuda berambut pirang itu, sambil membuat skema di tanah dengan ranting. "Ini bukan Titan sungguhan, jadi probabilitas terbaik kita untuk meraih nilai maksimum adalah dengan cara berpencar. Lihat, kita akan membuat checkpoint di sini, lalu masing-masing bergerak nol derajat, 60, 120 dan 180."

Mikasa, Eren dan Jean mengangguk-angguk bersamaan.

"Kemudian ketika pistol suara ditembakkan, langsung saja gerak menuju ke koordinat pos 2 untuk menerima tugas selanjutnya. Usahakan cepat, karena petunjuk baru akan diberikan kalau tiga dari empat orang sudah berkumpul," jelas Armin singkat. Ia kemudian tersenyum lebar, sebelum berdiri sambil menepuk-nepuk celananya. "Sudah, itu saja. Berusahalah, teman-teman!"

Ketika peluit panjang ditiup, keempat prajurit itu pun langsung saling berjabat cepat dan lari menuju titik start yang sudah ditentukan.

"Mikasa, Armin, Muka Kuda, TATAKAEEEEEEE!"

.

.

.

Awalnya ketika mereka masih bertiga, Eren baik-baik saja. Tapi entah kenapa, sejak timnya berpencar ia justru jadi tidak bisa fokus.

"He-heichou..." Eren mencoba melepaskan diri. Namun pelukan erat Rivaille yang mengunci gerakannya membuat ia tak bisa berkutik. Rivaille mencium dahi Eren dengan lembut.

"Panggil aku dengan namaku, Jaeger."

"Tunggu, aku tidak mau—"

ARGH!

Eren menggeleng keras-keras. Aduh, kenapa lagi-lagi kepikiran hal itu di saat tidak tepat seperti ini, sih?

Pemuda itu pun melompat ke dahan sebuah pohon, dan berhenti sejenak untuk menghela nafas. Oke, sesuatu di dalam kepalanya pasti sedang korslet. Belum pulih betul akal sehatnya dari drama putri tidur tadi pagi, sekarang ditambah lagi pikirannya terus saja melayang-layang menuju insiden kemarin. Bayangan tentang Rivaille benar-benar menempel di otaknya seperti permen karet. Tidak mau hilang.

Jadi siapa yang salah, coba?

Berita baiknya, sekarang Eren punya jawaban untuk semua spekulasi yang beredar di Scouting Legion. Sebut saja pertanyaan terpendam seorang gadis berinisial P.R. ("Pinggang Corporal itu kelihatannya ramping sekali, muat tidak dipeluk dengan satu lengan?"), Squad Leader M.Z. ("Benarkah Rivaille itu pria tertinggi di Scouting Legion... secara horizontal?") dan Chief I.S.—komandan yang berwajah kalem, tapi pola pikirnya rada absurd ("Apa titik lemah Rivaille juga berada di tengkuk seperti Titan pada umumnya?"). Bahkan mungkin sampai hal-hal kelewat detail, yang sudah pasti bakal diterima dengan senang hati oleh Mayor H.Z. sebagai materi survei.

Eren mengerang. Oke, stop, STOP.

Pemuda itu menarik nafas panjang. Apapun yang terjadi, tidak boleh ada orang lain yang tahu tentang ini... atau kiamatlah sudah. Rahasia harus tetap jadi rahasia—kecuali kalau besok pagi dia bersedia dikeroyok oleh satu kompi pasukan infanteri yang menamakan dirinya RVLL FNSCLB...

DOR!

Bunyi tembakan pistol suara membuat Eren tersentak kembali dari dunia antah berantah. Ia jadi teringat tujuannya semula—ah iya, dia kan sedang bertugas. Pemuda itu pun segera berhenti di pohon terdekat untuk mengecek jamn. Dan benar saja, sudah 45 menit berlalu... berarti sesuai petunjuk Armin, sekarang ia harus segera menuju ke pos 2.

"Ah, baiklah. Kalau begitu aku harus bergegas!"

Eren pun menembakkan kait bajanya ke arah pohon terdekat dan berayun ke depan. Untuk menentukan koordinat suatu tempat dengan kompas, dia harus berada cukup tinggi supaya bisa melihat Dinding Maria—titik acuan navigasi yang sudah ditentukan. Tapi belum sampai Eren mendarat, mendadak sebuah sosok berjubah hijau melesat cepat di depannya.

Mata Eren mungkin cukup cepat untuk bisa menangkap sebuah kilatan logam, tapi dia jelas tidak cukup tangkas untuk menghindarinya. Dan hanya sepersekian detik, sebelum kemudian suara kabel putus membuat ia tersentak.

Hah—orang itu memotong kabelnya!

"WHOAAAAAAAA!"

Eren panik ketika tubuhnya kehilangan keseimbangan, dan jatuh searah gravitasi. Kalau dalam pelatihan 3DMG, hal semacam ini memang sering terjadi. Tapi sekarang jelas beda kasus—ah, yang benar saja! Tidak ada pengawas maupun peralatan keamanan, dan ia berada pada jarak mematikan dari tanah!

"Hegh—"

Sejurus kemudian yang Eren tahu, tenggorokannya mendadak tercekik sesuatu. Arah gerak tubuhnya pun tiba-tiba berubah, yang tadinya jatuh bebas jadi searah sumbu horizontal. Eren refleks meraba-raba lehernya—dan merasakan sebuah lengan melingkar di sana.

"Hei! L-lepaskan aku!" teriaknya sambil meronta. Apa-apaan ini? Siapa orang yang tadi mau membunuhnya? Apa ini masih bagian dari latihan?

Dan lebih penting lagi, SIAPA ORANG IDIOT YANG MELAKUKAN AKSI PENYELAMATAN SUPER HEROIK TAPI TIDAK INTELIGEN INI!?

Entah berapa lama Eren berada dalam posisi seperti itu. Mungkin menyeberangi hutan, atau menuju ke suatu tempat, entahlah. Yang jelas di akhir perjalanan, dia sudah megap-megap sekarat kehabisan nafas dan mengamini doanya sendiri supaya masuk surga.

BRUAGH—

Untunglah, tidak lama kemudian Eren terlempar ke tanah. Ia pun langsung elus dada sambil batuk-batuk heboh, bersiap berubah jadi titan dan menjilat sampai mati siapapun yang wajahnya muncul pertama kali. Dan benar saja, sejurus kemudian seorang pria berambut hitam mendarat dengan manis beberapa meter di depannya.

"Uhuk uhuk—eh? C-Corporal?"

Oke. Coret saja kalimat yang tadi.

"Kita bertemu lagi, Jaeger." Rivaille mendengus singkat. "Selamat datang... di misi kedua."

"Hah? Misi... kedua?"

"Ya." Rivaille mengkonfirmasi, "Satu anggota dari setiap tim akan disembunyikan, sementara yang lain harus mencarinya sesuai dengan petunjuk. Berterimakasihlah padaku, karena kau dapat bagian yang mudah."

Eren cuma merespon dengan 'oh' panjang. Tapi untuk berterimakasih... pikir lagi. Entah kenapa, feelingnya mengatakan kalau dia malah kebagian peran yang sial. Berada di tengah hutan dengan 3DMG tidak berfungsi, plus Rivaille yang tampaknya tidak sedang dalam mode ibu peri baik hati. Di buku dongeng mana semua itu bisa jadi pertanda baik?

Dan lagi-lagi, Eren cuma mengamati dari jarak aman ketika Rivaille menembakkan kabelnya ke atas pohon. Kait logam pun meluncur ke atas, lalu menghilang di balik dedaunan—tapi tidak jatuh kembali ke bawah. Sejurus kemudian Rivaille merentangkan kedua tangannya sambil menatap Eren.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Sampai sepuluh detik penuh pun, mereka berdua cuma saling pandang-pandangan dengan awkwardnya.

Rivaille mulai mengetuk-ngetuk sepatu botnya ke tanah, kelihatan tidak sabar. Sementara yang ditatap cuma bisa berkedip bingung sambil garuk-garuk kepala.

"Apa maksudnya tampang bodoh itu, Jaeger? Kenapa begini saja kau tidak mengerti? Apa kau mata rantai yang hilang dari teori evolusi Darwin?" sentak Rivaille kemudian—seakan apa yang dilakukannya barusan adalah hal paling normal di dunia. "Ya sudah, kalau kau lebih suka memanjat pohon sendiri, terserah. Clue yang ditulis Hanji menyatakan kau harus berada setidaknya sepuluh meter di atas permukaan tanah."

Sampai sini, Eren baru ngeh.

"A-ah, iya— tunggu, Sir!"

Diiringi teriakan yang sebenarnya tidak perlu, pemuda itu langsung menghambur ke pelukan Rivaille. Jangan berpikiran yang aneh-aneh... ini kan cuma gara-gara 3DMG Eren sudah tidak bisa digunakan, dan Rivaille sedang bermurah hati memberi ia tumpangan untuk naik ke atas pohon...

"Pegangan. Kalau kau jatuh aku tidak tanggung."

Eren pun melingkarkan lengannya ke leher Rivaille kuat-kuat, sementara ia merasakan sebuah lengan yang kokoh menahan pinggangnya dari bawah. Dan ketika posisi mereka sudah mantap, baling-baling mesin 3D mulai berputar menggulung kabel. Perlahan Eren bisa merasakan kakinya tidak lagi memijak tanah.

Awalnya biasa saja. Tapi makin lama, wajah Eren makin memanas. Berani sumpah, adegan Tarzan-Tarzanan ini bisa dibilang terlalu slowmotion untuk ukuran orang yang sekedar mau manjat pohon. Tapi toh akhirnya dia tetap tidak protes.

"Kau terluka?" tanya Rivaille, setelah mereka sama-sama berdiri di atas dahan besar. "Bukannya aku mengkhawatirkanmu, hanya saja akan terlalu merepotkan kalau kau tiba-tiba berubah jadi setengah titan di tengah latihan."

Eren menggeleng cepat. "Tidak, Sir. Tapi... bagaimana dengan Armin, Mikasa dan Jean? Waktu sudah hampir menipis, apa mereka sudah mulai mencari? Dan dalam keadaan hutan yang luas dan lebat begini, apa mungkin mereka bisa..."

"Aku tidak tahu, tapi Gunter sudah menunggu mereka di pos. Soal petunjuknya terpecahkan atau tidak, itu tergantung mereka. Dan kau sendiri... apa kau percaya pada teman-temanmu?"

"Oh. I-itu.. tentu saja."

Rivaille melangkah mendekat ke arah Eren, memperpendek jarak. "Baiklah, Jaeger. Aturannya sederhana. Kau tidak boleh berubah jadi titan, dan kalau kau berpindah posisi yang lain akan semakin sulit menemukanmu. " jelasnya, sambil menggerakkan jari-jarinya melingkari ikat pinggang Eren dari belakang ke depan—membuat pemuda itu terlonjak kaget. "Jadi... tugasmu di sini hanya menunggu. Ada pertanyaan?"

Kemudian dengan gerakan yang terampil Rivaille melepas kepala sabuk Eren, lalu menariknya dalam satu sentakan.

Eren bengong. Ada. Kenapa... itu harus dilepas?

"Err... tidak ada, Sir."

Rivaille bergumam 'bagus', sebelum kemudian ia memutar tubuh Eren supaya berbalik. Ditariknya kedua pergelangan tangan Eren ke belakang punggungnya, untuk kemudian disatukan dan diikat dengan sabuk yang tadi. Butuh beberapa kali simpul untuk memastikannya terikat dengan erat. Baru setelah ia setelah puas dengan hasil kerjanya, Rivaille mundur beberapa langkah.

"Sekarang berbalik."

Eren berpikir itu masih bagian dari skenario Komandan Irvin, jadi dia menurut saja.

Anak baik.

"Hmm. Aku sudah mengawasimu dari awal, Jaeger." Sambil berbicara, Rivaille mengusap ujung dagunya—gestur yang sering tampak kalau dia sedang bermaksud menginterogasi orang. "Kau kelihatan tidak fokus hari ini. Potongan tidak sesuai standar. Menabrak pohon. Tersangkut dahan. Salah baca kompas dan melenceng ke jalur Ackerman. Sebenarnya apa yang korslet di kepalamu, hah?"

Eren terkesiap. Jelas sekali dia kaget. "Hah? I-itu..."

Rivaille menyipitkan mata, menyelidiki ekspresi pemuda bermata hijau itu. Ia masih menunduk, tapi percuma saja—bahkan bayang-bayang gelap pepohonan tidak bisa menutupi wajahnya yang mendadak bersemu merah muda.

"Hmm. Biar kutebak. Masih soal yang tadi pagi?"

"H-hah? Bagaimana anda tahu?"

Rivaille memutar mata.Well, pada dasarnya Eren Jaeger memang tidak pernah susah ditebak, sih.

"Tadinya... tidak kukira kau akan menyerah dalam percobaan pertama."

Ada sesuatu dalam nada bicara Rivaille yang membuat jantung Eren membunyikan alarm tanda bahaya. Tanpa basa-basi ia pun langsung melayangkan statement pembelaan diri (dengan menyeret-nyeret nama Mayor Hanji Zoe, tentu saja), tapi Rivaille tidak kelihatan terlalu peduli. Justru kemudian ia menarik kerah jaket pemuda itu—sampai wajah mereka sejajar.

Dan kalimat-kalimat yang tadinya mengalir seperti keran bocor pun perlahan menghilang di udara. Kelihatannya sepasang mata abu-abu tajam itu benar-benar bisa mengosongkan seluruh isi kepala orang dalam sekali pandang.

"Kurasa... imajinasimu sudah mulai melampaui batas..." bisik Rivaille, suaranya yang turun satu oktaf membuat lawan bicaranya bergidik. Entah sengaja atau tidak, bibirnya hampir menyentuh sisi leher Eren ketika dia berbisik. "...Kali ini kumaafkan. Ingatkan aku untuk berterimakasih pada Hanji setelah kita kembali ke markas."

HAH.

Kalau ini adalah tes ketahanan jantung, Eren pasti sudah angkat tangan dan melambai-lambai panik ke kamera.

"Corporal—"

Rivaille memberinya isyarat untuk diam, lalu menangkup dagu Eren dengan satu tangan yang bebas. Ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap bibir bawah pemuda itu—sambil dengan seksama mengamati perubahan warnanya. Peach. Merah muda. Merah apel.

Eren pun menelan ludah dengan gugup, ketika mendadak ia merasakan sesuatu menelusup ke bagian belakang jaketnya. Menarik tubuhnya merapat ke dada Rivaille seperti sepasang magnet beda kutub.

"Katakan, Jaeger. Apa yang terlintas di pikiranmu? Kecupan ringan? Pipi, bibir, leher? Tongue Tango? Chaste? Galocher?"

S

N

K

Pada akhirnya, waktu 45 menit yang diberikan Irvin tidak cukup lama untuk menemukan Eren. Jean, Mikasa dan Armin terpaksa menyerah di task terakhir—karena semakin banyak anggota tim yang tidak kembali tepat waktu, poin mereka akan semakin minus. Alhasil meski ketiga prajurit itu bisa melempar diri melewati garis batas tepat ketika Erd meniup peluit timeout, mereka hanya mendapat skor standar.

"Curang, ah!" umpat Jean, ketika siangnya para junior berkumpul saat istirahat makan. Pemuda berambut cokelat itu mengeluarkan selembar kertas kusut dari dalam saku, lalu membantingnya ke meja kayu. "Masa petunjuk di timku pakai hitung-hitungan aljabar level kolosal! Apa-apaan ini, memangnya kita terpikir untuk bawa sempoa!?"

Yap. Entah bagaimana, ada anggota senior Recon Corps yang iseng memberikan clue berupa persamaan trigonometri ke tim B—yang sebenarnya kalau dihitung dengan benar, bisa menunjukkan sudut posisi keberadaan Eren dalam derajat dari TKP. Tapi tentu saja bagi Jean, semua itu tidak lebih dari angka-angka acak.

Memutuskan untuk bergabung dalam topik, Connie pun ikut mengeluarkan benda serupa yang terselip di antara sabuk 3DMG-nya. "Yeee... masih mending punyamu terbaca. Petunjuk kami malah pakai bahasa Rune kuno. Lihat nih!" ujarnya, sambil menunjukkan tulisan ceker ayam yang tertera di sana. Yah, agak menjengkelkan memang—entah bagaimana para senior Scouting Legion selalu saja punya cara untuk membuat mereka susah. Kena azab baru tahu rasa, deh.

"Untung Ymir bisa baca. Tapi sial, ternyata kami masih harus menyeberangi semak-semak aneh untuk menemukan Annie. Duh, badanku sampai gatal-gatal semua!" ujar pemuda berkepala botak itu sambil nyengir. "Eh, tapi kasih selamat dulu ke Bertholdt gih, dia baru dapat durian runtuh. Gara-gara tabung gas punya Annie diambil, dia jadi harus menggendong tuan putri sampai garis finish. Hahaha."

Jeda setengah detik sebelum Connie Springer terkapar berkat pukulan jab tepat di wajah.

"Err—kalau kau bagaimana, Reiner?" celetuk Eren pada pria berambut pirang yang duduk di seberang, mencoba membuka kembali pembicaraan. Yah... setengah berharap bukan cuma timnya saja yang gagal. Sirik banget sih.

Reiner meletakkan rotinya,lalu tertawa. "Aaa... kami mendapat satu halaman penuh sajak teka-teki tentang matahari dan pohon. Tapi daripada memecahkan petunjuk, kami malah lebih lama menghabiskan waktu untuk menebak siapa yang menulis puisi itu. Kalau menurut kami sih Komandan Irvin... hahaha."

"Hah? Lalu bagaimana?"

"Petunjuknya sama sekali tidak tertebak. Tapi terima kasih untuk Sasha yang jenius..." timpal Marco, seraya menepuk bahu gadis yang bersangkutan dengan bangga, "Dia memberi sinyal asap, jadi kami bisa tahu di mana dia berada."

"Ahahaha... tidak perlu berterima kasih. Jadi malu... Padahal tadinya aku cuma mau bakar kentang sambil menunggu diselamatkan kok... hehehe."

Mendengar itu, Jean yang dari tadi sudah bad mood pun jadi makin jengkel. Tanpa babibu dia menjitak kepala terdekat yang ada dalam jangkauannya. "Tuh, Eren!" rutuknya, "Mestinya kau juga pakai otakmu sedikit!"

"Aduh—oi, salahkan Corporal Rivaille sana! Kabel 3DMGku dipotong di udara, lalu dicekik sampai sekarat dan ditaruh di atas pohon dengan tangan terikat!" protes Eren sambil gebrak meja, tidak terima dijadikan kambing hitam. "Jangankan mau buat kode-kodean, tidak ditendang sampai pingsan saja sudah syukur! Lagipula aku percaya pada kalian, kan ada Armin—"

"Cih, alasan! Harusnya kau jangan cuma bergantung pada orang lain!"

"M-maafkan aku, teman-teman..."

Tiba-tiba saja seorang pemuda berambut pirang yang tadinya makan dengan hening di sebelah Jean, mencicit dengan suara pelan. Sepasang rival abadi yang tadinya sudah bersiap adu bacok pun langsung beku di tempat—saling bertukar pelototan 'gara-gara kau, sih' sebelum akhirnya kembali duduk lagi di kursi masing-masing.

"E-eh, kenapa minta maaf? Bukan salahmu kok, Armin..." hibur Jean, sambil menginjak kaki Eren di bawah meja, "Para senior saja yang memang kelewatan... harusnya kan semua jenis latihan disesuaikan dengan kemampuan kita. Kalau kau saja tidak bisa memecahkannya , berarti mestinya sembilan puluh persen Scouting Legion juga tidak bisa... iya kan?"

"Iya sih, tapi kan tetap saja..."

Pada akhirnya, mereka beramai-ramai menghibur tim yang kalah, dan meneruskan makan sambil ngobrol. Dari percakapan itu Eren tahu, rupanya 'korban penculikan' di tim lain notabene hanya diminta mengikuti seseorang untuk diajak bersembunyi. Bukannya diseret-seret seperti dirinya. Dan alih-alih diikat supaya tidak bisa kabur, Annie dan Sasha cuma kehilangan dua tabung gas.

Eren langsung merengut ketika menyadari ini. Meskipun sudah mulai bisa menerima kenyataan, tapi tetap saja dia masih kecewa dengan skor hasil latihan yang tadi. Sayang sekali kan, padahal tim mereka sudah punya pemimpin, ahli strategi dan bahkan kartu As Scouting Legion.

Kampret sekali memang. Dasar hobbit.

S

N

K

Setelah makan siang selesai, Armin, Eren dan beberapa prajurit dapat giliran piket beres-beres. Sementara yang lain bisa kembali untuk kegiatan selanjutnya, mereka harus mencuci piring bekas makan dan membersihkan ruangan.

"Sudahlah Armin, jangan murung terus begitu. Santai saja, kita kan masih punya banyak kesempatan," hibur Eren, tidak tahan terus-terusan melihat sahabatnya mondar-mandir mengumpulkan piring kotor dengan muka merana.

"M-maaf, Eren..." Lagi-lagi, Armin cuma tertunduk.

"Ah... kami tidak sedang menyalahkanmu kok, Armin. Barangkali memang Komandan Irvin saja yang terlalu optimis mengukur kemampuan kita..."

Ucapan Eren mendadak terhenti, ketika Armin mendadak menaruh kembali mangkuk-mangkuk yang hendak ia bawa di meja makan. Setelah beberapa saat tengok kanan-kiri, ia pun menggandeng lengan Eren—lalu menariknya menjauh dari ruang makan. Mereka lalu berhenti di dapur dekat lemari penyimpanan, di mana tidak banyak orang lalu-lalang.

"E-eren, sebenarnya..." Pemuda berambut pirang itu bahkan masih saja menunduk ketika Eren menatapnya dengan bingung. Entah kenapa kelihatan agak mencurigakan, karena kedua tangan Armin mengepal kuat sembari berbicara. "S-sebenarnya tadi aku... sudah bisa memecahkan petunjuknya."

"Eh—benarkah?"

"K-karena itu, kemudian kami bagi tugas. Aku meminta Jean dan Mikasa untuk meneruskan mencari target, sementara aku mencarimu. Kami lalu menyamakan jam dan sepakat untuk bertemu di checkpoint lima menit sebelum timeout."

"Oh, begitu ya... hahaha. Kau memang hebat, kalau begitu, " puji Eren, "Tapi sayangnya aku diikat di atas pohon lebat, jadi memang agak susah untuk dilihat dari bawah... hehehe."

"A-aku... sudah menemukanmu, kok. Di petunjuknya juga ada perhitungan elevasi, itu berarti kau memang mestinya berada jauh dari permukaan tanah."

Oh, iya. Minimal sepuluh meter, tepatnya.

"M-maafkan aku, Eren! Aku benar-benar minta maaf! Harusnya kita bisa mendapat nilai sempurna, tapi... kemudian aku memutuskan untuk kembali di tengah jalan," Armin mulai kedengaran hampir depresi, "Aku mundur lagi karena... karena... a-aku lihat kau dan Corporal Rivaille sedang... sedang..."

Sampai sini Armin tidak bisa melanjutkan kata-katanya, tapi itu sudah cukup membuat Eren syok. Untuk yang ketiga kalinya dalam sehari. Ah, kalau tidak ingat mereka sedang berada di tempat umum, rasanya dia mau pingsan saja—dan bangun lagi satu dekade ke depan.

Oh Sina, ampuni aku. Pemuda berambut cokelat itu menjambak rambutnya sendiri. DARI SEKIAN BANYAK ANGGOTA SCOUTING LEGION, KENAPA MESTI ARMIN ARLERT!? Padahal bisa jadi pemuda itu adalah satu-satunya generasi terakhir manusia inosen yang bertahan dalam dinding asrama—ARGH, KENAPA SIH MESTI DIA YANG MERENGGUT KEPOLOSAN SAHABATNYA SENDIRI?

—well, meski secara teknis ini salah Rivaille, sih...

"E-Eren... aku minta maaf! Tapi tolong jangan beritahu Corporal, ya? Aku janji... akan mengganti poin yang hilang itu suatu saat nanti!"

Tunggu. Subspesies manusia macam apa coba yang minta maaf karena melihat orang lain berciuman?

Eren pun menarik nafas panjang berkali-kali untuk menenangkan diri. Well, oke... setidaknya keadaan selalu bisa jadi lebih buruk, kan? Masih untung yang menemukannya Armin—coba kalau Jean, pasti sekarang ia sudah setengah mati menutup mulut ember itu sebelum gosipnya menyebar bak kebakaran hutan. Dan sumpah, ia tidak berani membayangkan bagaimana kalau Mikasa... Ah, kalau itu terjadi, kali saja sekarang Scouting Legion sudah berubah jadi arena duel King Kong versus Godzilla.

"Armin, kalau begitu... i-ini rahasia kita berdua saja, ya."

Pemuda berambut cokelai itu pun lalu mengulurkan tangan kanannya ke depan, dan tanpa ragu-ragu Armin Arlert pun langsung menyambutnya.

"Deal."

.

.

.

TBC


A/N: Ffffuuuuuu maaf Cherry saya lama banget apdetnya... *sobs* Dan nggak tau kenapa, episode ini jadi panjang banget ... syok saya pas ngetik draftnya doang udah hampir tembus 2k :O Aissssss kebanyakan detail kayaknya ya orz orz orz T.T

Btw, judul kapter ini—Sigma—itu adalah satu dari beberapa tipe laki-laki. Silakan tebak sendiri siapa yang dimaksud B)

Reply Review:

Nacchan Sakura. Rivaille: bukan, bukan modus! Ini namanya oportunis! /samaajawoi Roya Chan. Ufufu, jangan-jangan sebenarnya ini adalah konspirasi rahasia Scouting Legion? xD xD .haru. Ya jelas dong, sampe kebayang-bayang malah HAHAHAHA. Yo Hanji, kau dapat satu penggemar lagi, nih! maiTIRAMISU. Yang tabah ya. Heheu makasih.*tebar-tebar bunga* Android5Family. Itu sih... hanya Hanji dan Tuhan yang tahu (/w\) Btw, awas ntar anemia lho XD Yami-chan Kagami. Hubungan khusus, ya? *lirik-lirik RiRen* Ufufufu ada kok, tunggu saja tanggal mainnya ;) mager. Gomenne, rating nggak bakal naik. Belum kuat saya bikin ratem. Hehehe. *senyuminosen* Makasih koreksinya! Baka Mamarthy. Hshshs. Maaf, rating belum bisa naik, authornya belum cukup umur xD Audreylia. Diusahain enggak, kok :)

Zefanya Elric. AAAAAHHHHH(?) Oke, ini udah apdet. Fujoshi Ren. Iyaaa Eren nih malu-malu kucing xD Yap makasih *cium balik* luffy niar. Halo jugaa (._.)/ Iya,ini tentang Scouting Legion. Aduh, dipanggil Thor saya jadi berasa kayak anggota the Avengers /bukanwoy minami. Khukhukhu, penjabaran lebih lanjut silakan bayangin sendiri :3 TitanMilikHeichou. Salam kenal juga :D Betewe pennemnya nggak nahan banget deh hahaha Dira andriani. RivaEren di chapter ini implisit aja deh ya... heheu *troll* Iya, ini udah apdet. Hasegawa Nanaho. Aduh, makasih banyak yaaa udah ripiu 3 kapter sekaligus. Hihihi, ini udah panjangan, tapi saya ngga bisa kasih anuanu, silakan ber-anu sendiri :))) Azure'czar. Sekarang udah banyak kok RivaEren yang ratem, coba cari lagi deh, pasti nemu. Oke, ini udah apdet :D