Chapter Two
Balada Liga Champion
Naruto memetik senar gitarnya satu-satu. Gibson Les Paul Classic Plus Top Sunburst. Sebuah gitar dengan bodi dari kayu mahogany yang suaranya tetap kental meski telah tergores disana-sini. Gitar tersebut telah dimilikinya sejauh ia bisa mengingatnya. Hanya itulah satu-satunya warisan dari orangtua yang tak bisa diingatnya.
Kenangan Naruto melayang ke hari pertama kalinya ia menerima gitar tersebut dari Umino Iruka-sensei, orang yang dengan senang hati mengasuhnya selama ini. Meski guru itu sama sekali tak bisa memainkannya, ia telah menyimpan gitar tersebut dan mewariskannya ke Naruto saat ia berusia 7 tahun.
"Kau akan membentuk band yang hebat!"
Itulah kata-kata Iruka yang memotivasi Naruto untuk menciptakan sebuah band. Sejak itu, entah sudah berapa lama, ia berlatih dengan sepenuh hati untuk memahami berbagai kort dan nada. Persahabatannya dengan Shikamaru, Kiba, dan Lee pun bertambah erat seiring waktu mereka berbagi canda di balik alat-alat musik.
Ia ingat saat-saat pertama mereka tampil di muka umum. Suara yang fals, nada yang salah, tempo yang kacau, semua mampu mereka lewati dengan tawa maupun tangis tanpa air mata. Naruto seolah-olah melupakan kenyataan bahwa selain Iruka dan ketiga sahabatnya, tak pernah ada orang yang mengakui keberadaan dirinya. Bagaimana bisa, jika ia bertahan hidup hanya dari bernyanyi dan bermain musik. Pandangan dingin menusuk serta hinaan selalu menyertai kehadiran dirinya, serta cercaan bahwa anak laki-laki itu tak memiliki keinginan untuk bekerja.
Padahal, tanpa penduduk Konoha sadari, Naruto adalah seorang pekerja keras yang tak pernah pelit berbagi ilmu. Setiap anak yang datang kepadanya untuk belajar bernyanyi atau sekadar bermain gitar, diterimanya dengan senang hati. Gratis. Semua dilakukan agar penduduk Konoha mengakui keberadaan dirinya sebagai seorang musisi, bukan pengamen, apalagi pengemis.
Tiba-tiba, sebuah ingatan lain melayang ke benak Naruto. Untuk sesaat hatinya seperti ditusuk. Ia buru-buru mengalihkan pikirannya, dan memandang ke sekitarnya. Anggota bandnya tampak terkapar, tidur karena lelah dan kekenyangan.
Dua jam sebelumnya…
"Malam, semuanya!"
Lee merangsek masuk ke markas Dattebayo sambil membawa setumpuk kotak berbau harum.
"Lee!" seru Naruto dan Kiba berbarengan. Mereka lantas menghambur ke arah Lee seolah-olah Lee adalah malaikat pembawa berkah… dari restoran Cina.
"Ini hadiah dari Gai-sensei karena aku telah berhasil memasak ayam kungpou dengan sempurna!" serunya penuh semangat. Lagaknya kelewat excited, sudah memenangkan Master Chef plus mendapat ciuman dari chef Juna. Ia membiarkan Naruto dan Kiba berebut makanan seperti korban banjir baru dapet ransum.
Lee duduk di sofa, di sebelah Shikamaru, dan menyodorkan bungkusan berisi fish cake ke arah cowok berkuncir satu itu. Shikamaru yang baru bangun tidur sedang menggonta-ganti channel di televisi.
"Ah, hiamawu!" seru Kiba tak jelas, mulutnya penuh lapchiong, daging chasaw dan irisan bakut. Dia memang karnivora sejati. Bungkusan plastik berisi cah kangkung di depannya sama sekali tak disentuh.
"Ganti ke Konoha Sports!"
"Iya, iya, nyusahin aja…" kata Shikamaru dengan suara sengau karena mengantuk. Ia lalu memencet nomor 8 di remote.
Selamat malam, pemirsa! Kembali bersama kami dalam Konoha Super Soccer! Saya, Namiashi Raidou, beserta komentator sekaligus mantan pemain Konoha United, Morino Ibiki, akan menemani Anda malam ini dalam siaran final Liga Champions…
"Wah, hampir saja ketinggalan!" seru Naruto, sibuk melahap fuyunghai. "Tim favorit kita maen, nih! Calon juara!"
"Tim favorit-mu, maksudnya." ralat Shikamaru.
"Eh? Memang kau pendukung siapa?"
"El Barca."
Naruto yang memang sudah bawaan orok mengira semua sahabatnya satu selera dengannya lantas shock. Yah, Shikamaru memang berbeda dengan ketiga cowok berisik anggota Dattebayo lainnya. Satu-satunya cowok kalem boongan di band tersebut memang terkesan hidup segan mati tak mau. Tentu saja, kehadirannya di band ini hanya sekedar solidaritas. Shikamaru adalah contoh nyata cowok yang tak punya minat pada setiap aspek kehidupan.
"Ssst, mulai nih… mulai!"
Setengah jam kemudian…
Goooooolll! Skor satu sama untuk Manchester United!
Naruto, Kiba dan Lee ikut berselebrasi dengan para pemain Inggris itu. Kiba menggenjreng gitar, Lee memainkan sebuah kecrekan, dan Naruto joget perpaduan Waka Waka dan Tori Tori Cheese Cracker. Mereka bertiga lantas menyanyikan Mars Red Devil dengan penuh semangat.
Glory, glory, Man United…
Glory, glory, Man United…
Glory, glory, Man United,
and The Man will march go on! On! On!
Hebatnya, Shikamaru hanya diam saja, serius menikmati pertandingan tersebut sambil mengunyah fish cake. Sama sekali tak terlihat pendarahan pada telinganya. Padahal, kaca-kaca jendela tetangga udah pada pecah saking indahnya suara tiga cowok edan itu.
Satu jam berikutnya…
…dan bola membentur tiang gawang! Sayang sekali saudara-saudara! Kedua tim masih seimbang dengan skor 2-2…
Keringat dingin mulai mengucur di pelipis ketiga cowok pendukung Red Devil.
"Ugh!" Kiba menggigit jempolnya ala L di anime Death Note. "Gawat, bisa adu pinalti, nih!"
"Tenang!" kata Lee dengan sikap optimisnya yang selalu berlebihan. "Red Devil pasti menang! Kalau tidak…" dia mengepalkan tangannya. "Aku akan membuat 200 porsi dimsum angsio kaki ayam tanpa mencicipi satu potong pun! Inilah aturan semangat masa muda!"
"Bagus!" Kiba menatap Lee, separo kesal, separo frustasi. "Aku akan menghabiskannya untukmu!"
Naruto melirik ke arah Shikamaru yang masih mengunyah fish cake dengan tenang bak pemamah biak.
"Oi, Shikamaru," panggilnya. "Menurutmu, siapa yang akan menang?"
"Pemenang pertandingan bola tak bisa diduga…" jawab cowok itu diplomatis.
Babak tambahan, menit ke 95…
Gooooool! Dan yak… wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan selesai! Sungguh permainan yang cantik dari Lionel Messi, yang telah mencetak skor pada detik-detik terakhir… Seluruh pemain Barcelona kini melakukan selebrasi diiringi seruan para pendukung El Barca…
Saat ketiga cowok pendukung MU masih diam antara kaget dan tak percaya, Shikamaru berdiri untuk mengambil kopi. Ia bersenandung separo nyindir,
WE are the champions, my friends…
Tak lama setelah itu, Kiba, Lee dan Shikamaru langsung pulas. Hanya Naruto yang masih terjaga, memainkan gitarnya perlahan.
.
Sementara itu, di kediaman klan Uchiha…
Gaara menggigit bibirnya dengan geram, berusaha keras meredam kekesalannya. Ia berdiri, meraih remote dan mematikan televisi. Lantas ia beringsut di kursi sambil memeluk sebuah boneka berbentuk kaktus, ngambek.
"Gak nyangka yah Red Devil kalah…" kata Sai sambil menyeruput teh akar ginsengnya. "Padahal di babak pertama udah mimpin 2-1…"
"Ssst, lihat Gaara tuh." Kata Neji.
Keempat personel Eternal Blaze itu sedang berkumpul di kediaman klan Uchiha, menonton final liga Champion. Meski keempatnya juga hobi menonton bola (kayaknya cowok yang gak demen bola termasuk spesies langka) tidak ada satupun dari mereka mendukung tim yang sama.
Gaara merupakan fans berat tim Manchester United. Sasuke menyukai Chelsea. Sai sendiri lebih suka klub Juventus dari Itali. Sementara Neji adalah penggemar klub Real Madrid punya negara Spanyol. Karena tim-tim selain MU dan Barcelona telah tersisih pada pertandingan-pertandingan sebelumnya, malam itu mereka tidak seheboh Gaara waktu nonton bareng.
Yah, seheboh-hebohnya Gaara sih. Paling-paling mata pandanya itu bakal melotot semakin besar dan besar, lalu berbagai sumpah serapah akan terlontar dari mulutnya kalau tim lawan berhasil mencetak skor. Anehnya, kalau MU yang memasukkan bola ke kandang lawan, Gaara tidak pernah berteriak "GOOOOOLLL!" dengan binal lalu berlari di sekitar ruangan sambil membalik kaus menutupi muka. Dia paling senyum-senyum misterius kayak abege lagi jatuh cinta, pemandangan yang jarang ia tunjukkan di muka umum.
Gaara adalah anggota Eternal Blaze yang paling baru dan paling muda. Meski baru-baru saja ia pindah ke sekolah yang sama dengan Sasuke, cowok Suna itu sudah satu tahun ngeband bareng Eternal Blaze, sampai akhirnya mereka terkenal seperti sekarang. Dulunya ia siswa Konoha International Academy, tapi tahun ini ia pindah ke Konoha Gakuen agar bisa lebih sering bersama anggota Eternal Blaze yang lain. Gaara sifatnya childish, mudah kesal jika keinginannya tidak dipenuhi. Meski kemana-mana ia selalu membawa boneka Togeman, karakter favoritnya di anime Digimon, skill-nya bermain bass termasuk paling baik di Konoha.
Neji menyalakan TV kembali, lalu memindahkan channel ke saluran Konoha Movie. Ia lalu asyik menonton siaran ulang film Hachiko. Meski terkesan rocker abis saat memainkan solo-solo metalnya, Neji sebenarnya adalah cowok yang paling 'metal' (mellow total) sedunia. Tak lama setelah film itu diputar, ia sudah menitikkan air mata saking terharunya melihat kesetiaan seekor anjing menunggu tuannya yang telah meninggal. Belum lagi kalo film drama kayak Titanic, air matanya bisa terkumpul sampai satu botol akuwa… ukuran galon.
Sai yang nganggur mengambil sketchbook-nya dan mulai menggambar. Dia termasuk yang paling nyeni diantara keempat cowok itu, walau anaknya kuper dan sempet salah pergaulan. Dulu, biar gak culun lagi, dia sempet baca-baca buku "Friendship for Dummies" lalu mempraktekkan tips-tips pertemanan di dalamnya – dan berakhir dapet gelar homo. Hidup Sai lantas berubah seperti Cinderella saat diajak Sasuke masuk Eternal Blaze. Cowok yang senyumnya manis dan diklaim mirip Sasuke ini ternyata jago menggebuk drum double-pedal.
Sasuke sibuk menelepon pacarnya yang entah nomor berapa. Leader Eternal Blaze ini adalah cowok yang merasa dirinya anugerah Tuhan buat kaum waria… eh wanita. Doi tuh narsis banget, dan setiap hari selalu menata rambutnya pake gel biar tetep ngejegrik mirip rumput gagal disabit. Tapi usahanya memang tidak sia-sia, karena dia berhasil jadi playboy kelas Kage (kalau playboy kelas genin paling berani carmuk di FB doang).
Yah, tak bisa dipungkiri kalo cowok ini selain ganteng juga multi-talent. Sudah pintar bernyanyi, scream, gape ngegitar, urusan cewek dia jagonya. Padahal rayuannya basi semua, kayak "Kalo kamu jadi ular, aku jadi pawangnya". Mungkin menurut elo, cuma cewek bego yang bakal tekuk lutut sama Uchiha Sasuke.
Tapi coba deh bayangin, cowok bermata kelam itu menatap lo dengan tajam, senyuman tipis muncul di bibirnya… lalu dia ngebuka kancing kemejanya satu-persatu… dan tau-tau ada efek rintik-rintik hujan… berani taruhan, sedetik kemudian lo bakal langsung dikirim ke rumah sakit karena kekurangan darah akibat mimisan dari pantat.
Setelah mengucapkan "selamat bobo" dan "mimpiin aku ya" serta kalimat norak lainnya, Sasuke akhirnya meletakkan hpnya. Sementara cowok lain masih sibuk dengan kegiatan masing-masing, cowok itu mengambil sebuah gitar nganggur dan memainkannya.
Aaa… zutto kurikaeshiteta
Zutto kanashimasete bakari datta
Aaa… kitto anata sae mo kizutsukete
Boku ga ugokenai mama
Sasuke memejamkan matanya. Ia menyanyikan lagu itu lagi. Sudah lama ia mencoba melupakannya, beserta ingatan yang menyertainya. Tapi memori itu tetap bercokol di kepalanya seolah akan menetap disana selamanya.
Sementara itu, Naruto menggenjreng Gibson Les Paulnya dan menyanyikan sebuah lagu bernada sendu.
Kata orang diatas bumi kita semua sama
Kata orang di mata Tuhan tidak ada miskin dan kaya
Katanya… Katanya…
...
Sasuke semakin menghayati lagu yang dinyanyikannya itu.
Aaa… anata ni fureru koto ga
naze konna ni kurushii no desuka?
Kitto onaji koto wo kurikaeshita anata wo
ushinatte shimau no ga kowakatta kara
Yorisou koto de nuguou to shita
Wasure kirenakatta hi wo
Anata wo nanimo kikazuni
Kono te wo nigitte kureta ne
...
Naruto menghela napas dan menyanyikan bait selanjutnya.
Kalau memang benar begitu
Kenapa nasibku jadi babu
Kerja apapun ku tak malu
Tapi hidup kog gak maju-maju
Naruto menatap miris setelan olahraga berwarna hitam dan oranye yang ia sedang pakai.
Celana… Cuma punya satu…
...
Sasuke membawakan lagu itu dengan irama semakin grande saat masuk reff.
Ashita anata no kimochi ga hanaretemo
Kitto kawarazu aishiteiru
Ashita anata ni boku ga mienakutemo
Kitto kawarazu aishiteru
...
Demikian halnya Naruto, yang bernyanyi dengan sepenuh hati.
Meski banyak padi di sawah hatiku selalu resah
Meski t'lah ganti pemerintah hidupku tetap susah
…
I will walk together the future not promised
It keeps walking together, to the future in which you are…
…
Oh nasib… pembantu…
selalu… disuruh-suruh…
…To Be Continued…
