Chapter Four

Heating Up

Shocking Mambo… Street Bomber…Eternal Blaze… Dattebayo…

Naruto asik membaca daftar peserta Konoha no Honō. Hari ini sudah keempat kalinya ia mengecek di internet dan ia masih tak mempercayai penglihatannya. Dattebayo lolos audisi!

Kehadiran mereka dalam kancah musik Konoha memang belum mendapat sambutan manis. Tapi yang terpenting, tidak ada yang melempari mereka dengan gulungan tisu toilet saat manggung di babak penyisihan. Itu saja sudah cukup.

Sepuluh band dengan genre berbeda yang telah lolos audisi pada hari-hari sebelumnya akan berkompetisi di atrium Konoha hari ini. Ada band metal, hiphop, punk, ska, sampai band yang memainkan alat-alat musik tradisional. Mereka akan tampil bergantian dan memperebutkan gelar juara Konoha Battle of the Bands.

Tentu tidak sampai disitu saja. Tiga pemenang perlombaan ini akan mewakili Konoha dalam kompetisi band kelas dunia yang akan menggaet jawara dalam sebuah label ternama.

Major label. Itulah tujuan Naruto serta kawan-kawannya. Yang lebih menarik, mereka punya saingan besar untuk memperebutkan hal tersebut.

"Oi Naruto, kita akan berangkat sekarang!" panggil Shikamaru, melongok ke dalam garasi.

"Ohke!" Naruto akhirnya mematikan laptopnya.

Shikamaru memandang leader-nya. Sebelah alisnya naik.

"Naruto… Suaramu…"

"Eetho… Khurasha akhu khebanyakhan lathihan, dhattebayo…"

"Begitu ya…"

"Thidak apha-apha…" Naruto melambai asal-asalan. "Khita akhan thetap thampil!"

Setelah menutup garasinya, Naruto mengikuti ketiga sahabatnya berjalan menuju atrium Konoha.

Mereka baru saja sampai di atrium yang mulai ramai oleh pengunjung (dan tentunya Eternity, fans Eternal Blaze) ketika Naruto dihampiri oleh seseorang.

"Naruto no nii-chan!"

"Yho! Khonohamaru."

"Lihat penampilan Chibi nanti, ya?"

"Err… bhaiklah…"

Konohamaru rupanya tidak memperhatikan perubahan suara Naruto, dan terus mengoceh.

"Kali ini, Chibi akan tampil lebih dahsyat dari kemarin, da kore!"

"Be-begitu ya, dhattebayo…"

Konohamaru menghela napas puas. "Hehe! Suatu saat aku akan benar-benar bertanding dengan nii-chan!" Konohamaru berlari pergi. "Sampai ketemu!"

Naruto ditinggal bengong sampai Kiba menegurnya.

"Hei Naruto," panggil cowok itu. "Kau sedang apa? Acara sebentar lagi dimulai…" ia menunjuk dengan ibu jarinya ke arah backstage. Naruto yang tersadar lalu mengangguk dan mengikuti Kiba.

"Selamat datang kembali di Konohaaa… Battle of the Bands!." Ebisu menyambut penonton seperti pembawa acara tinju. "Kita langsung mulai saja perlombaan ini, tak perlu ditunda lagi seperti keputusan hukum bagi orang-orang yang terlibat kasus Hambalang! Kita sambut… Shocking Mambo!"

Penonton ternganga saat para personil Shocking Mambo naik ke atas panggung.

Mereka adalah band dengan penampilan yang mungkin paling absurd sepanjang sejarah pemusikan di Konoha. Kakashi, Asuma dan Kurenai langsung berebut membaca formulir pendaftaran band tersebut. Nama 'Shocking Mambo' memang ada di daftar peserta yang lolos audisi, tapi…

"Kog beda ama yang kemaren?" tanya Asuma, menggaruk kepalanya.

(bagian Shocking Mambo manggung terpaksa disensor karena teruji dapat menurunkan kemampuan membaca)

Ebisu, yang cukup lega karena bisa berhenti menyumpal telinganya dengan batang seledri, memanggil sebuah band hiphop. Setelah itu, tiga band lainnya pun tampil, hingga giliran Dattebayo akhirnya tiba.

"Yosh, semuanya, kerahkan semangat masa mudamu!" Lee mengepalkan tangannya keatas, diikuti Kiba dan Naruto. Mereka bertiga langsung menatap tajam Shikamaru. Cowok berkuncir itu menguap dan ikut mengangkat tangannya malas-malasan.

Penampilan Dattebayo nyaris tak berubah, masih dengan celana dan kaos oblong seperti hari mereka di audisi. Naruto mengenakan kaos hitam dan celana training jingga cerah, Kiba memakai kaos hitam dan celana pendek abu-abu, Shikamaru memakai kaos warna khaki dan celana selutut hitam, sementara Lee yang emang fashion disaster memakai kaos pink dan legging hijau plus leg warmer warna oranye.

"Shikhamaru…" bisik Naruto sepelan mungkin agar Kiba dan Lee tak mendengarnya. Shikamaru menoleh.

"Hari ihni… khuserahkhan phadamu!"

"Eh?"

"Akhu tahu… Kau bhisa menyanyikhan lhagu ini! Khau selalu menyanyi dhiam-dhiam… Thapi khau sethiap khali berkhata jhadi vokhalis ithu menyushahkan…"

"Naruto…"

Naruto berjalan mendahului Shikamaru, mengangkat sebelah tangannya dan mengacungkan jempol ke arah bassist-nya.

"Kuserahkhan padhamu, dhattebayo!"

Shikamaru tersenyum tipis dan menggaruk kepalanya.

"Nyusahin aja… Tapi akan kulakukan…"

Keempat personil band punk itu naik ke atas panggung, memandang seluruh isi tempat tersebut. Bagian depan stage sudah padat oleh penonton. Sementara di bagian tribun, para fans menggelar berbagai spanduk untuk menyemangati band pujaan mereka masing-masing.

Naruto mendadak nyengir lebar saat memandang ke arah tribun. Ia menoleh ke arah anggota band-nya. Wajah-wajah mereka memancarkan ekspresi tidak percaya sekaligus terpesona.

Sebuah spanduk ditulisi huruf-huruf jingga menyala, merangkai satu sama lain menjadi sebuah kata yang ditujukan untuk mereka…

GANBATTEBAYO!

Naruto mengangguk ke arah Shikamaru, dan anak laki-laki itu lantas maju ke bagian tengah panggung, mengecek mic.

"Hoi…" bisik Kiba. Ia mendekati Shikamaru. "Apa yang kau lakukan?"

"Suara Naruto hilang." Shikamaru balas berbisik.

Kiba mengangkat kedua alis sejenak, tapi ia lalu tersenyum.

"Hehe! Begitu rupanya… Jangan mengacau, Shika!" Kiba menggenjreng Stratocasternya. Gitar Fender itu menggaung di atrium tersebut. Penonton pun bersorak riuh.

"Berisik kau" Shikamaru balas membetot senar Fernandez-nya. Ia menarik napas dalam-dalam. Naruto memberi isyarat ke Lee untuk menabuh drumnya. Meski agak heran, Lee mengetukkan stick drumnya empat kali. Naruto mengeksekusi nada dengan sedikit menahan senar memakai sisi telapak tangan kanannya sembari menyapukan pick.

Kakinarase sonzai wo koko ni iru to

Aratana tabi ga ima hajimaru

Sepuluh menit kemudian…

"Baiklah, sebelum kita menuntut kesejahteraan bagi semua lapisan masyarakat dan err… menonton pertandingan band-band selanjutnya, kita saksikan penampilan Chibi!"

Para twiby dan twiboy (lho?) yang telah berkumpul untuk menyaksikan Konohamaru, Udon dan Moegi hari ini berseragam kaus pink. Mereka semua membawa balon berbentuk hati plus permen untuk disawer ke arah anak-anak SD tersebut. Maklum, dimana-mana anak SD selalu dekat dengan produk gula dan hal-hal yang mengambang. Nggak, gak termasuk yang sering mengambang di sungai Ciliwung maupun Cikapundung.

Tiga siswa SD Konoha Gakuen itu pun naik ke atas panggung. Ketiganya memakai kostum warna-warni. Intro piano mulai dimainkan, dan Chibi pun mulai beraksi. Moegi berdiri di tengah-tengah dan memasang muka sedih. Konohamaru mendekatinya dan bernyanyi.

Don't cry… Don't be shy… Kamu cantik apa adanya

Nyanyian tersebut dilanjutkan oleh Udon.

Sadari… Syukuri… Dirimu sempurna…

Moegi pun bernyanyi.

Jangan dengarkan kata mereka...

Dirimu indah, pancarkan sinarmu… wooohooo…

Ketiganya lantas bernyanyi kembali.

You are beautiful, beautiful, beautiful

Kamu cantik, cantik dari hatimu…

Neji, yang berada di backstage dan mendengar nyanyian Chibi langsung manyun. Pasalnya Sasuke, Gaara dan Sai langsung lypsinc sambil joget-joget kesurupan, meledek gitaris malang tersebut. Ya, mau gimana lagi, cowok itu lebih cocok dibilang cantik dibanding cakep! Untungnya gak ada yang melihat, karena backstage tersebut sedang sepi. Yang lain sedang ada di tenda konsumsi, ngantri minum teh. Coba mereka kembali semenit lebih cepat. Reputasi ganteng Eternal Blaze bakalan langsung amblas!

"Sepertinya pesaing kita terlambat," kata Gaara dengan suara rendah mirip suara L di anime Death Note. Ia kembali ke mode cool setelah barusan bertingkah seperti sapi gila. "Peserta nomor tujuh harusnya tampil setelah kita, kan… Tapi aku tidak melihat mereka."

"Hmp," Sasuke mendengus menghina.

Sai tampak berpikir. "Sepertinya aku pernah mendengar soal mereka…"

"Paling-paling mereka menyerah…" Neji tersenyum angkuh.

"Konohana? Nama yang konyol…" Sasuke berbalik. Ia bermaksud pergi ke tenda konsumsi, tapi seseorang mendadak menghalangi jalannya dan Sasuke nyaris bertabrakan dengan orang yang hendak masuk backstage itu.

"Ups… Maafkan aku!" terdengar suara penyesalan seorang gadis. Ia memasang kertas bulat dengan nomor tujuh di pinggangnya.

Mata Sasuke terbelalak.

"Kau…" katanya.

Si gadis, tak seperti Sasuke, pulih dengan cepat dari rasa kagetnya. Kedua alisnya naik.

"Uchiha?"

Sasuke mengernyit mendengar panggilan tersebut.

"Hinata?" kata Neji, kaget melihat sepupunya.

"Neji nii-san…" Hinata berbisik lirih, menyentuhkan ujung-ujung telunjuknya.

"Yahoo, Sai." Gadis lain yang berambut pirang panjang menyapa drummer band tersebut. Sai membalasnya dengan senyum.

"Sasuke-kuuun!" seorang gadis berambut merah menyeruak diantara kedua gadis tersebut, dan memeluk lengan Sasuke. Meski bau parfumnya menusuk hidung anak laki-laki tersebut, pandangan Sasuke masih terpaku pada gadis yang hampir ditabraknya tadi.

"Karin, kita harus mengecek peralatan band." kata si gadis, menghindari pandangan Sasuke.

"Eeeh? Tapi kita baru sampai disini… Lagipula…" ia tersenyum menggoda ke arah Sasuke.

"Sudahlah Karin…" kata seorang gadis dengan rambut model kue onde di belakangnya. "Jangan menimbulkan masalah…"

"Baiklah, aku toh tak mau kalah, meskipun lawannya Sasuke-kun." Karin melepaskan lengan Sasuke.

Ketika gadis itu menjauh, Sasuke baru dapat membisikkan namanya.

"Sakura…"

Tahukah dirimu berbeda, istimewa…

Kau bisa membuat mereka jatuh cinta…

You are beautiful, beautiful, beautiful

Kamu cantik, cantik dari hatimu…

Dengan berakhirnya penampilan Chibi yang tentu saja disawer penuh penghayatan oleh para twiby dan twiboy, Konohana pun naik ke panggung menggantikan mereka. Band yang beranggotakan cewek-cewek manis itu memainkan lagu bahasa Inggris berjudul 'Note to Self'.

I rise to greet the day

despite the monsters underneath my bed

I grap a pen and count to ten

and spill the contents of my head

Sakura menggenjreng sebuah gitar berbentuk kupu-kupu, Ino mencabik senar gitar berbodi transparan dan Karin membetot bass berwarna fuchsia. Di bagian headstock ketiga gitar itu tercetak tulisan 'Candy Rock'. Jemari Hinata menari-nari diatas keyboard Roland, sementara Tenten menggebuk drum Sonor dengan semangat.

This is the here, this is the now

I gotta make it somehow

Sometimes it feels as if my brain is bursting

Gotta write it down

Ino dan Karin ikut mem-backing vokal Sakura.

Note to self

Feed the dog, call the mom, write a song

and rules the worlds by noon

Note to self

Make the grade, make your mark, break a leg

And don't forget to always work the room

'cause everything is going by so fast

I just wanna make something that last

But I'm gonna leave the keys up on the shelf

Note to self

"Wah, mereka hebat juga…" komentar Sai yang mendengar permainan band cewek itu. Tiga personel Eternal Blaze lainnya hanya diam, tapi tidak ada yang lebih diam dari Sasuke. Ia tiba-tiba bisu sejak pertemuan di backstage dengan Sakura. Keheningan itu berlanjut hingga Konohana selesai bermain dan nama band mereka dipanggil oleh Ebisu.

Kerumunan bersorak riuh ketika Eternal Blaze menaiki panggung. Saat itu, mereka berpapasan dengan Konohana. Sasuke melempar senyum ke arah Sakura, tapi gadis itu berjalan begitu saja melewati Sasuke, tanpa menunjukkan tanda-tanda pernah mengenalnya.

Sai memandangi Sasuke agak kuatir.

"Kau tak apa-apa?" tanyanya sebelum duduk di belakang set drum.

Sasuke hanya menggeleng, menyampirkan strap gitar di bahunya. Ia mengecek sound tanpa semangat. Neji dan Gaara bertukar pandang kuatir.

Sasuke memandang orang-orang di depannya, yang mendukungnya penuh semangat. Semua orang, kecuali… Sasuke berdiri gamang, membeku di depan mic. Segalanya terasa berjalan begitu lambat. Gaara akhirnya berinisiatif angkat bicara.

"Eternal Blaze!" ia mengangkat tangannya. Penonton berteriak semakin heboh. Ia mengangguk ke arah Neji, yang menggenjreng gitarnya.

"Chizuru." bisik Sasuke ke arah mic.

Gaara langsung protes. "Tapi Sasuke… lagu untuk lomba ini…"

"Sudahlah!"

Neji mengangguk ke arah Gaara. Ia lalu memetik senar gitarnya. Gaara, keningnya berkerut tanda tak setuju, menggeber bass-nya. Sai yang langsung menyadari perubahan lagu, menggebuk drumnya di ketukan selanjutnya. Tak lama permainan mereka bersatu menjadi sebuah lagu dengan nada merana.

Anata no tegami ni wa yomenai ji dake

Anata sonokuchi kara kikasete hoshii

Sasuke, Neji, Gaara dan Sai memainkan instrumennya masing-masing tanpa kesulitan. Tapi ketiganya merasa bahwa Sasuke bernyanyi tanpa semangat seperti biasanya. Tidak ada tatapan sombong, tidak ada suara yang lantang.

Narenai shiro wa nigate to ikisae hibiku

Sora no iro sae shiretara sukuwareru no ni

Gaara mem-backing vokal Sasuke, masih merasa kesal atas keputusan egois leader-nya. Tapi emosinya langsung menguap ketika menyadari suara Sasuke bergetar.

Umaku dekinu kokyuu mo itsuka wasuretai

Sou negaeru tsuyosa mo hikarabisou de

Neji pun turut mem-backing vokal Sasuke. Permainan musik dan cara bernyanyi itu mengundang reaksi yang luar biasa dari penonton. Mereka bergantian menjeritkan nama-nama personil Eternal Blaze yang saat itu memainkan lagu dengan nuansa emo yang kental.

Utsubuse no asu utaeba toge wo tsutau suimin

Karada ni karamase rareta restraint

Event the mind seems to sleep

Hooni fureta netsu wa totemo natsukashiku yasashii

Mourou no hagumare mita kage

Danshoku no yume

Sasuke memejamkan matanya saat menyanyikan bridge.

Anata ni utsuru watashi no me ga

Anata wo miushinau higakitemo

Kono me ni yakitsuite kureteru

Komorebino hibito anata wa tsurete ikanai de

Gaara membetot bass-nya di bagian interlude, yang diiringi permainan gitar Neji yang suaranya seolah menyayat udara. Suara drum Sai menambah kesan grunge di lagu itu.

Nijimu shiro ga yureru

Kotoba mo wasuresou

Namida wa nagaerete doko e yuku no

Watashi no namae wo yonde

Kudakeru kurai daitai

Kore ijou ushinau no wa kowai

Sasuke, Neji dan Gaara kembali bernyanyi bergantian.

Anata wa dokode?

Watashi no koto uttateiru no mimi wo sumashitemo

Hibiku no wa fuanteina kodou

Event the mind seems to sleep

Hooni nokotteta hazu no netsu ga omoidasenai

Mourou no hazamade mita no wa

Kanshoku no ima

Sasuke melihat gadis berambut pink itu berdiri di belakang penonton. Harapannya melambung sedikit, tapi gadis itu sama sekali tak menggubris permainan gitar Sasuke di depannya. Sakura sibuk tertawa dan berbicara pada teman-temannya. Dengan sendu, Sasuke menyanyikan bait terakhir.

Senbano totemo chiisana anata no negai ni yorisotte

Egao mo kaesezu ni tada toiki wo kazoeteita kioku no saigo ni?

Anata no koe ga kikoete subete wo nakushita asa

'Hitotsu ni nareru futari'

Berakhirnya lagu itu lantas disambut jeritan histeris. Tentu saja, karena di mata para penggemarnya, penghayatan kali ini luar biasa. Tapi mereka tak pernah tahu kalau saat itu Sasuke betul-betul menderita.


…To Be Continued…