TALI POCONG AKASHI
Diclaimer : Kuroko no basuke belongs to Tadatoshi Fujimaki
Summary : Akhirnya setelah dicari-cari sampe
nyemplung ke kali, tali itu kembali pada
sang pemilik!
WARNING : Gaje, garing, OOC, de el-el
Kuroko POV :
Teman-temanku lucu lho, mereka berlari ketakutan padahal ga ada apa-apa, dan lagi kita juga ga tau mau kemana…
END OF POV.
.
.
O_O
Masih tetap di dalam Hutan...
.
.
Karena sepertinya hanya Kuroko dan Murasakibara yang lagi santai, jadi Author meminta Kuroko untuk bernarasi sementara Kise dan Aomine melakukan jogging sehat tengah malamnya bersama sosok mengerikan tak kasat mata di tengah utan belantara yang membuat siapapun tidak bersimpati karena semua orang sedang demen pake XL ato Axis, oke itu tidak ada sangkut pautnya.
Sekarang, Aomine dan Kise sedang ketakutan dan berlari hingga mereka ga tau mereka mau kemana, tentunya Kuroko dan Murasakibara Cuma cengo ngeliat kedua pemain basket kece di depan mereka ngibrit kayak kesetanan, emang mereka abis ngeliat setan sih… jadi lebih pertanyaan yang tepat untuk menanyakan situasi adalah; mereka mau kemana,ya?
"Anoo.. kita mau kemana ya?" tanya Kuroko sambil berlari. "Hmm.. kira-kira kemana mereka pergi kita ikutin aja" jawab Murasakibara yang sepertinya Cuma ngikutin keduanya.
"Huaaaaa! Setaaaann!" teriakan Aomine membahana, tapi disela-sela tawanya terdengar cekikikan yang lebih membahana lagi. "Siapa yang ketawa malem-malem begini!?" tanya Kise sambil nangis-nangsi ngeliat bagaimana suara itu terdengar.
Tapi beberapa saat kemudian, Aomine tersandung sesuatu dan nyusruk begitu saja. "Aomine kun. Kau ga apa-apa?" tanya Kuroko, dia melihat ke jalan di belakang dan tidak menemukan apa-apa.
"Kamu kesandung apaan Minecchin?" tanya Murasakibara sekarang. "Ga tau, kayaknya gue kesandung sama sesuatu yang agak gede terus keliatan bersisik…" jawab Aomine sambil ngelus-ngelus jidatnya yang sekarang berwarna merah.
"Coba aku cek" ujar Kuroko mendekati sesuatu yang membuat Aomine terjatuh dengan penuh seni dan keindahan(Author ditabok). "Oh, ini ya?" Kuroko menemukan sesuatu yang panjang, agak tebel dan sepertinya licin.
"Apa itu? belut?" tanya Kise yang ternyata kepo juga, walo sebenernya dia siap-siap lari barangkali yang ada di depannya adalah sesosok mengerikan yang ga ingin dilihatnya.
"Oke, coba diambil ya" Kuroko memungut benda itu dan tiba-tiba ada suara-suara yang terdengar seperti orang marah.
"Heeeii naaak! Ngapain kamu narik-narik badanku, dasar ga sopan ya sama orang tua, lagi enak-enak makan kacang malah ditarik-tarik!" sewot sesuatu yang ternyata adalah kepala seorang manusia, kepalanya sih kayak kakek-kakek dengan rambut pendek beruban dan kumis hitler, tapi bukan itu yang ngebuat Kise, bahkan Murasakibara sampe melotot ngeliatnya adalah kepala sama badan ular yang dipegang oleh Kuroko itu MENYATUU!
"WAAAAAAAAAAAAA!YOUKAAAII!" Kise langsung menyeret Kuroko dan melepaskan youkai aneh itu dan ternyata Youkai itu ga mengejar tapi tetep aja keempat bocah unyu itu lari kalang kabut ampe nabrak batang pohon saking panic sama gelapnya.
"Huh anak muda ya, aneh-aneh, lagi enak makan kacang malah diganggu… ga sopan, siapa yang youkai? Muka ganteng begini… ah balik ah, barangkali dicariin sama bebeb tercinta" sosok berbadan ular itu memperhatikan para bocah Kisedai yang masih lari sambil tereak-tereak lalu kembali ke semak-semak, sepertinya sosok itu mau membuat acara dugem ala Youkai ya?
"Youkaaai aneeehh! Huaaaa! Utan macam apa ini!?" seru Aomine masih ga ngebayangin sosok gaje tersebut. "Sepertinya dia penunggu lama abis udah bangkotan begitu" jelas Kuroko yang masih melambai di tangan Kise.
"Jangan bicara sembarangan ah! Sekarang kita kudu mencari Akashicchi dan Midorimacchi lalu pulang dan mandi kembang sambil nyalain dupa biar ga sial terus!" cerocos Kise dengan nasihat yang baik, seperti yang dikatakan oleh orang bijak; dahulukan keselamatan, sebelum dirimu didatangi sama orang yang namanya 'Selamat-alias selamet' entah apakah perumpamaan itu bener ato ga.
"Sepertinya kita harus menggunakan istilah, 'Alon-alon asal kelakon'(pelan-pelan asal selamat), ya?" ujar Murasakibara. "Darimana kau belajar bahasa macam itu Murasakibaracchi?" tanya Kise kagum.
"Ibuku sering mengatakannya, soalnya dulu waktu kecil aku sering balap sepeda sambil make karung terus suruh ati-ati… apalagi rodanya Cuma satu.. kapan-kapan mau nyoba sepeda yang ga ada rodanya, disuruh ayah begitu" penjelasan Murasakibara langsung ngebuat Kise dan Aomine koprol dan tak lupa melakukan Split berjamaah.
"Ato mungkin make semboyan 'Ing ngarso sung tulodho, in madyo mangun karso, Tut wuri handayani ya?" sahut Kuroko. "Bahasa apa itu Tetsu? bahasa planet ya?" tanya Aomine.
"Semboyan anak sekolahan kata Authornya…" jawab Kuroko.
"Hei, Aominecchi sepertinya kita harus mengembalikan tali pocong itu pada Akashicchi sebelum terlambat.." tutur Kise. "Yah iya, sebelum kita yang menggantikan si bocah merah itu ke liang kubur…" tukas Aomine mengamini.
"Lalu melewati sungai Sanzu.." tambah Murasakibara.
"UDAH DEH…" Kise dan Aomine sweatdrop mendengarkan pendapat Murasakibara yang kadang melebihi kadar yang dibutuhkan. Mereka lalu berlari mencoba mengikuti aliran sungai tanpa diduga sebuah badan tanpa kepala mengikuti mereka semua.
Sementara tim Kise mendapatkan 1 sosok lagi yang mengikuti, sekarang Midorima dan Akashi lagi berlari dan berlari menuju mimpi(plak), maksudnya menuju jalan keluar. Mereka ga menyadari kalau ada sosok kepala tersenyum di belakang mereka.
"Hei Shintarou, turunkan aku! Dia udah ga ada tuh!" pinta Akashi yang masih dibopong sama Midorima. "Kalo lo diturunin nanti ngabisin durasi!" seru Midorima.
"Ngabisin kertas Authornya, iya.." ujar Akashi.
"Harga kertas lagi mahal jadi kita harus irit!" sambar Midorima yang mendadak berhenti dan membuat Akashi kaget karena dijempalikin begitu aja.
"Shintaroouu! Kemana matamu itu, bangunkan aku! Aku ga bisa bangun!" sewot Akashi lagi.
"Napa lo ga bisa bangun sendiri?!" tanya Midorima dengan esmosi tingkat kecamatan. "Tangan ama kaki gue diiket BEGO!" seru Akashi ga kalah sangarnya.
Mereka duduk sebentar di bawah pohon, Midorima memperhatikan hutan yang super gelap itu dan dia berharap mereka ga bertemu koleganya Akashi disaat dirinya ga bisa lari ada suara jangkrik, kodok, nyamuk, dan suara-suara lain yang ga bisa disebutin.
"Akashi, kalo lo dapetin tali itu apa lo bakal pergi selamanya?" tanya Midorima. "Mungkin, soalnya kan udah jadi aturan kalo arwah yang belom pergi ke dunia sana berarti ada kerjaan yang belom dia selesein" jawab Akashi sambil memperhatikan tanah yang agak lembab itu.
mereka diem sejenak, sepertinya Midorima bakal kehilangan sahabatnya, dan kehilangan uang 10 rebunya yang diutangin sama Akashi buat beli nasi.
"Kalo lo mati, gimana caranya lo bayar utang lo ke gue?" tanya Midorima yang langsung ngebuat Akashi jungkir balik. "Ikhlasin aja kenapa sih, biar aku bisa tenang! Sekarang kita nyari Daiki dan keluar dari sini" jawab Akashi agak keki.
"Tapi kita kudu kemana?" tanya Midorima lagi. Mereka berdua diem. "Kalian lurus aja terus ketemu pohon besar lalu belok ke kiri…" jawab suara dari atas pohon, suara bapak-bapak.
"Eh? Sungguh? Makasih ya paak!" ketika Akashi mendongak dia melihat sosok yang memberi tau itu, sosok dengan kepala setengah, dan seluruh badannya CUMA SETENGAH!
" $%^%&*(*^%! WAAAAAAAAAA!" Akashi tereak, Midorima tereak, Inul pun tereak kegirangan karena menang undian(lho?). mereka berdua lari lagi dan ga lupa diikutin sama sosok lain berkepala itu, sementara sosok itu tertawa sambil memperhatikan keduanya, sosok sebelah itu memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya yang juga ga lengkap.
"Hantunya setengaaaahhh!" seru Akashi. "Dia sering kena potongan harga!" cletuk Midorima.
"Hah maksudnya?" tanya Akashi ga ngeh. "Soalnya dia Cuma setengah, kalo beli baju pasti di korting terus…" jawab Midorima bangga.
"Hipotesamu idiot bangett!" Akashi menjedotkan kepalanya pada Midorima karena tangannya diiket. Kedua cowok unyu itu berlari sampe mereka kaget ada sesuatu yang lain berlari kea rah mereka juga.
"WAAAAAAAAAAAAAAA!".
"GYAAAAAAAA!"
kedua belah pihak saling meneriaki kayak ketahuan nyolong mangga dan tabrakan tak dielakkan pemirsa, lalu Midorima mengoper pada Lionel Messy, lalu diambil oleh Akashi, dan kemudian dioper pada Aomine dan GOOOL!(Author digiles).
Kembali ke cerita, ternyata yang ditabrak Midorima dan Akashi bukanlah hantu berkaki yang punya badan tapi beberapa sosok manusia yang lagi tengkurep di tanah karena tabrakan beruntun yang bakal masuk tipi kalo para paparazzi tau soal ini(halah). "Adududuhh, kepalakuu" rintih Midorima yang sepertinya menubruk sesuatu yang amat keras.
"Midorimaaaa! Sialan lo, itu kepala ato batuu!?" seru Aomine.
"Huh, Aomine? Kuroko.. Kise dan Murasakibara…" Midorima baru menyadari bahwa mereka semua berkumpul kembali. "Syukur deh, ketemu.. kalian ga apa-apa?" tanya Kise.
"Hmmm iya, Cuma ketemu beberapa hal" jawab Akashi. "Oh.. sama. Eh iya Akashi, ini talimu!" ujar Aomine menyerahkan tali itu.
"Wah saatnya aku harus pergi nih.." terang Akashi. "Aku ikat ya" Kise mengikatkan tali itu lalu Akashi mulai menjadi pudar. "Hei, Akashi. Utangmu aku lunasi, jaga diri ya" sahut Midorima.
"Iyaaaa hati-hati ya! Yang video game relain aja deh, selamat tinggal!" seru Kise. "sayonara Akashi kun" Kuroko melambaikan tangannya. "Ati-ati" sahut Murasakibara. "Jangan liat bokep lho" ejek Aomine.
"Iyaaaa, oh ya arigatou untuk semuanya!" Akashi pun menghilang dan suasana kembali hening. Akashi udah pergi dan menuju kea lam baka, dan mungkin pergi untuk melewati Sungai Sanzu
"Iyah dengan begini kita bisa kembali dengan tenang" jawab Kise. "Setuju" tukas Aomine mengamini.
"Anak-anak.. kalian mau kemana?" suara yang dingin itu membuat semuanya bergidik, mereka menengok dan menemukan beberapa mahkluk mengerikan yang mengikuti mereka bermunculan. "Sudah tau kita harus apa kan?" tanya Aomine.
"Yep" jawab Midorima dan semuanya ikutan mengangguk. "Satu, dua, tiga… AAAAAAAAAAAAAAA….!" Seruan Aomine membuat suasana mencekam, mereka marathon lagi dari hutan sampai ke rumah mereka masing-masing, suasana ditutup dengan auman serigala dan suara tawa yang mengerikan..
"Hihihihihihiiiiii…hahahahahhaaaa…"
Sedangkan itu Akashi yang berada di alam kematian, sepertinya tidak menemukan apapun kecuali tempat yang putih dan kosong. "Hmm.. dimana ini?" gumamnya. Tak lama berjalan dia menemukan sebuah gerbang yang besar yang dikelilingi oleh sebuah sungai dan ada sebuah jembatan yang ditutupi oleh pagar besi.
Akashi yang hendak melangkah ke sana dihentikan oleh sosok berbadan ramping dengan sepasang sayap di punggungnya.
"Anu, anda malaikat ya, seperti yang kau tahu aku sudah mati dan—".
"Namamu Akashi Seijuuro kan, cowok yang mati ketabrak odong-odong…?" tanya Malaikat cowok tersebut sambil tersenyum.
"Uh.. benar. Lalu kenapa, aku sudah selesai dengan tugasku" jawab Akashi.
"Nah itu yang ingin kubicarakan dengan anda Seijuro san, seperti yang kau lihat di samping jembatan tersebut ada box, itu tempat antrean orang yang hendak masuk kea lam lain, tapi sayang sekali… anda tidak dapat memasukinya.." jelas sang malaikat.
"Hah? Emangnya kenapa om malaikat?" tanya Akashi.
"Hmmm… itu karena anda…..".
"APAAA?!" Akashi Cuma cengo mendengarkan penjelasan yang dikatakan oleh sang malaikat, dia sepertinya mendapatkan ilham untuk pergi ke jalan yang lain. Sebenernya apa yang dikatakan oleh Malaikat di dunia kematian tersebut? Kenapa Akashi ga diperbolehkan masuk ke dalam gerbang alam kematian? Next chapter adalah Ending dari petualangan Akashi yang beraneka ragam bentuknya!
.
.
.
Kepo? Kepo? mari setelah anda semua merasa Kepo langsung ke
TO BE KONTINYUU~
Haii minna! sebelumnya Yuzu mau mengatakan arigatou
karena sudah mau mendukung fic abal ini dari awal sampe sekarang
dan mungkin ini juga final untuk Akashi sama yang malang...
Ahahahha oke minna san! jangan lupa untuk
R^R okaaayy! :D
