TALI POCONG AKASHI

Disclaimer : Kurobasu belongs to TADATOSHI FUJIMAKI
Story is mine

Summary : Akashi akhirnya kembali! apa yang membuat dia kembali
kepada temen-temennya di TEIKOU?

WARNING : CHAP TERAKHIR, TIDAK MENGHARUKAN, GAJE

.


o_o

Midorima POV :
Akhirnya ketenangan berhasil kami dapatkan, untung saja tidak ada orang yang curiga apa yang terjadi pada kami. Nah bagaimana nasib Akashi ya?

END OF POV


.

.

.

Setelah kepergian Akashi karena tali pocongnya sudah ia dapatkan, sekarang hari-hari yang normal menghampiri Kiseki no sedai yang tengah asik ngejabur es krim Mang Oyot di pertigaan jalan, sudah 2 hari ini kepergian Akashi membuat bocah-bocah Kisedai agak kesepian dan sepertinya masih ada beberapa ganjalan hati(halah) yang membuat wajah-wajah mereka mengerut kayak baju belum dicuci, terutama Aomine. Kenapa mereka begitu menyesal? Sepertinya kepergian Akashi bukan hanya meninggalkan rasa sepi namun juga rasa sebel,ya?

"Akashi kupret, majalah Mai chan gue belom dibalikin, apa maksudnya coba? Terus terang gue ga rela Akashi mati sebelum dia ngembaliin majalah edisi paporit gue sepanjang masa(Aomine alay mode on).

"Halah, jangan ngurusin majalah, utang gue 10 rebu belom lunas tuh" semprot Midorima yang sepertinya juga memendam rasa kesal.

"Katanya udah diikhlasin, Midorimacchi?" tanya Kise sambil ngemut es krim rasa susu kuda liar.

"Haaahh jujur gue masih ga rela aja" sahut si kepala Hijau dengan penuh derita.

"Kalo begini nanti Akacchin bakal jadi hantu gentayangan lagi lho" ujar Murasakibara dengan segepok es krim di tangan kanannya, kayaknya dia berniat membeli semua es krim si tukang jualan itu, untung aja dia ga mau beli sekalgus sama penjualnya, bisa masuk penjara dia.

"Dia bakal menjadi hantu gentanyangan berbentuk kuntilanak gitu? Rambut Akashi direbonding terus jadi kayak model iklan shampoo berkutu yang lalu membuat perubahan besar di rambutnya, en dia pake blush putih panjang motif lope-lope ungu pink?" cerocos Aomine yang membuat semua orang merinding tentang imajinasi Aomine, bisa jadi Author bakal membuat penpik bertemakan; Kuntilanak Akashi si bintang iklan kali yee?

"Ah udah jangan dibahas, dia jadi pocong udah nyusahin mau jadi kuntilanak, bisa masuk rumah sakit jiwa gue" Midorima menepis semua ijaminasi liarnya tentang Akashi yang dateng tiba-tiba sambil bawa gayung en sisir—jadi cerita Nenek Akashi gayung—masalahnya Akashi belom ganti gender en kelamin masa dipanggil nenek, nah lho sekarang siapa yang salah, Imajinasi Aomine kah ato tulisan Authornya?

"Uuuhh Midorimacchi, jangan membayangkan hal yang lebih serem dari kuntilanak, jangan soal nenek gayung ato kakek cangkul ato Om bulldozer ato tante traktor deh…. Aku alergi.." jawab Kise sepenuh hatinya.

"Hari sudah semakin siang, sepertinya kita harus menyudahi percakapan soal arwah Akashi kun, barangkali dia bakalan bangkit lalu menyantet—"

"CUKUP TETSU.." Aomine menutup mulut Kuroko sebelum dia melempar sahabatnya ke bulan.

"Panas sekali, aku mau pulang. Bisa-bisa semua fansku lari karena kulitku jadi coklat…" ujar Kise sambil berlalu dengan melenggak-lenggok kayak orang habis sunatan.

"Iya, sana pergi dan cuci saja kulitmu dengan detergen biar tambah putih" sindir Aomine.

"Aominecchi yang harusnya direndem sama byclean biar luntur…" setelah Kise membela dengan ketus, mereka berdua kembali bertempur dengan riang gembira(apanya).

"Gue mau pulang.." Midorima berlalu tanpa menghiraukan kedua kutu yang lagi berantem itu.

"Mereka gimana?" tanya Murasakibara. "Biarin aja mereka berantem ampe mati juga ga apa-apa" jawab Midorima yang lalu pergi tanpa bercincong lagi.

Lalu di Kediaman Midorima...

Kepergian Akashi memang tidak meninggalkan air mata, melainkan meninggalkan struk utang bagi Midorima dan pertanggung jawabannya belom terlunasi, tetapi karena sudah tidak mau lagi berurusan dengan hal-hal goib bin astral, Midorima mau ga mau harus merelakan dirinya kehilangan uang 10 ribu untuk sebuah nasi uduk di kantin.

"Akashi, Akashi… kapan lo mau bayar utang gue.. tapi ga ah cukup dengan masalah lo, kita udah beda dunia" kata Midorima sambil melihat fotonya dan foto Akashi yang sedang memegang piala ketika mereka menang di pertandingan basket.

"Shintarou, kemana guling lucumu itu? butuh dicuci ga?" tanya ibu Midorima yang masuk tanpa permisi dan mengambil beberapa pakaian anaknya yang tercinta dan ternajong di dunia.

"Hah guling lucu? Oh itu, udah Shintarou kembaliin ke 'tempat' asalnya" jawab Midorima ngaco.

"Wah sayang ya soalnya guling itu keliatan kayak sesuatu tapi ibu lupa apa namanya" tukas Ibunya kemudian.

"Mending ga usah diinget-inget bu, ga ada gunanya.." Midorima berlalu dan kemudian menuju ke ruang makan untuk mengambil beberapa minuman. Midorima membuka kulkas dan berjongkok untuk mencari sesuatu sampai dia mendapatkan sebuah kaleng minuman di pojok kanan kulkasnya.

"Ga baik minum coca cola sore-sore.." sahut sebuah suara dari balik pintu kulkas Midorima.

"Bodo ah, biarin emangnya kenapa? Toh ga akan mati ini…" jawab Midorima yang membuka dan langsung meminum coca cola itu tanpa tahu siapa suara yang menyapanya.

"Nanti lambungmu kumat lagi, lho Shintarou" peringat suara itu sekali lagi. Midorima berhenti sejenak, dia ingat suara bawel yang merdu itu.

"AKASHIIII!?"

PRUUUUUUUUUUTTT!

Coca cola Midorima sukses mampir ke wajah Akashi. "Wah, Shintarou eh ada Akashi kun ya, sejak kapan datang? Wah harus cepat siapkan makan malam nih.. Shintarou temani Akashi kun dulu ya, ibu mau beli ampas tahu di depan" ujar Ibu Midorima yang kelihatan kaget pake banget ngeliat ada Akashi yang udah ngedeplok sekaligus udah basah kuyup sama coca cola bekas mulutnya Midorima.

"I..iya" jawab Midorima seadanya, dia masih shock.

"Sebentar-sebentar… darimana lo dateng, lo ga berniat menyeret gue ke situasi gaje kayak dulu kan, ato lo ke sini mau ngembaliin utang gue—kalo itu ga apa-apa.. dan satu hal, kenapa kaki lo ga napak?" Midorima mencengkram kerah seragam Akashi.

"Ceritanya panjang Shintarou, untuk sementara gue nginep di sini dulu ya" jawab Akashi polos. "JAWAB PERTANYAAN GUE, BEGOOO!" Midorima menyembur kata-kata yang luar biasa ke Akashi.

"Itu nanti aku jelasin, yang jelas aku ke sini sebagai manusia dan mau makan… dan numpang tidur sampe besok kita ke sekolah" terang Akashi. "Oke, gue terima itu" jawab Midorima.

"Ngomong-ngomong kapan terakir kau sikat gigi, bau jigongmu hampir membunuhku…" geram Akashi.

"Itu bukan yang kita bahas disini tao…" potong Midorima.

Akhirnya dengan 'terpaksa' Midorima menerima 'Akashi' yang saat itu dia percayai sebagai 'MANUSIA', soalnya dari penampilan dia udah ga sepucet waktu ketemu terakir kali, dan kakinya napak ke tanah. Mereka berdua akhirnya menyelesaikan makan malam mereka dan beranjak ke kamar Midorima.

"Gue masih penasaran kenapa lo bisa sampe ke rumah gue" tukas Midorima dari tempat tidurnya.

"Hmm.. entah ya, aku baru sadar tiba-tiba sudah sampe ke rumahmu" jawab Akashi.

"Siapa yang nganterin lo sampe ke sini?" tanya Midorima mulai kepo.

"Malaikat penjaga gerbang akerat, yaah dia bilang untuk sementara aku di sini dulu" jawab Akashi polos.

"Andai gue tau siapa malaikat sialan yang nganterin lo, gue bakal ngeshoot dia ampe ke ujung menara Tokyo" rutuk Midorima. Malam mereka lewati dengan hening, Cuma ada suara jangkrik yang lagi paduan suara dan beberapa Kecoa yang sedang dinas malam keliling mencari makanan di sela-sela lemari Midorima.

.

.

.

Pagi harinya, Midorima dan Akashi berangkat bersama dan tiba di sekolah. Mereka tidak menemukan kejanggalan yang besar, soalnya semua murid terlihat biasa-biasa aja ngeliat Akashi udah mondar-mandir di Teikou.

"Apa berita kematian lo ga nyampe sampe semua murid di sini?" tanya Midorima.

"Aku ga bisa yakin ngejawab kalo mereka emang ga tau ato emang mereka bener-bener lupa salah satu anak basket telah tiada ditabrak sama odong-odong" jawab Akashi agak sakit hati merepiuw bagaimana cara dia mati, sungguh tidak elit sekali, dan sungguh sangat ironis didengar.

"Kemana anak-anak itu pergi?" Midorima mencari-cari keberadaan Kuroko cs. "Sepertinya ada di kantin" sahut Akashi.

Akhirnya mereka beruda melesat ke kantin dan terang saja, Midorima menemukan sosok-sosok yang mencolok sedang duduk di pojokan sambil ngemil makanan.

"Hei kalian, darimana saja?" sapa Midorima yang berjalan mendekat, sedangkan Akashi mengikuti dari belakang.

"Oh Midorima, lo tau sendiri kemana kita kalo ga ada di kelas kan?" sahut Aomine tetep dengan makanan di mulutnya.

"Kau harusnya sadar sedikit Daiki" sahut Akashi dari balik badan Midorima. Hening. Aomine langsung mangap, snack Murasakibara langsung terjun bebas, Kise yang lagi minum jus langsung tumpeh-tumpeh, Kuroko menjatuhkan wafernya.

"Reaksi kalian semua kok begitu banget?" tanya Akashi agak takut melihat reaksi kawan-kawannya.

"Tuuhh kan bener, Akashicchi bangkit lagiii! Tapi dia kok ga keliatan kayak kuntilanak!?" seru Kise heboh banget.

"Hah?" Akashi cengo.

"Tiiidaaaakk, Akashi mau menyantet kita semua dengan Emperor Eye yang udah dia upgrade di alam kubur!" Aomine teriak goar-goar kayak singa ngeliat gajah pake daster.

"Anu… maaf… kalian—" .

"Akashi kun kenapa kau hidup lagi, jangan bilang kau kehilangan semua amal kebaikanmu? Apa amalmu belom mencukupi?" tanya Kuroko kayak mengintrogasi bencong yang ketauan nyolong kutang.

"Hei apa maksudmu itu?" tanya Akashi mulai sewot.

"Akacchin, kau salah jalan ya? Bukan masuk ke akerat malah ke sini lagi?" sekarang Murasakibara yang nanya.

"WOIIII! DENGERIN ORANG NGOMONG KEEK! AKU BUKAN KEKURANGAN AMAL TAPI WAKTUKU UNTUK MATI UDAH HABIS!" seru Akashi sambil ngebanting meja.

"Hah? Waktu matimu udah habis?" tanya Kise. "Apa maksudmu Akashi kun?" tanya Kuroko juga.

"Uhuk, sebenarnya… ".

.

.

.

Mari kita lihat apa yang dikatakan oleh sang malaikat oleh Akashi di dunia akerat.

"Karena waktu matimu sudah habis, Akashi san" ujar sang Malaikat.

"Maksud anda? Emangnya tiap orang ada waktu matinya sendiri?" tanya Akashi.

"Iya benar. Kau sepertinya sudah kebablasan mengurusi apa yang belom kau urusi di dunia, ketika kau mencari tali itu harusnya kau segera menemukannya tapi gara-gara terlalu lama akhirnya kau yang sebelumnya dicap SUDAH MATI, akhirnya dibatalkan" terang si malaikat sambil membuka berkas di tangannya.

"Jadi? Aku masih hidup?" tanya Akashi. "Singkatnya sih begitu" jawab Malaikat.

"Emangnya kenapa aku kehabisan waktu?" tanya Akashi lagi.

"Kereta menuju alam selanjutnya sudah penuh dan kau tidak mendapat nomor antrian jadi sepertinya kau harus menunggu giliran untuk mati tapi entah kapan itu aku juga tidak tahu, yang jelas kau harus kembali ke dunia dan HIDUP lagi" jawab Malaikat dengan bijak. Akashi Cuma mingkem, dia akhirnya menuruti apa yang dikatakan oleh sang malaikat.

.

.

.

"Itu yang membuat lo balik lagi ke dunia?" tutur Aomine. "Begitulah, jadi intinya aku tidak mati lagi…" jawab Akashi.

"Kelamaan mencari tali pocongmu malah membuatmu ga jadi mati ya, Akashi kun" sahut Kuroko.

"Seenggaknya aku agak bersukur…" jawab Akashi.

"Dan lo ampe ke rumah Midorima juga dianterin sama tu malaikat?" tebak Aomine. "Tentu" Akashi mengangguk.

"Hahahaha… untungnya kau kembali Akashi, oh ya, karena kau sudah ada di sini… bagaimana kalau kau bayar U-TANG-MU.. AKASHI?" Midorima dengan wajah horror mendekat kea rah Akashi.

"Eh.. eh.. apa?" tanya Akashi.

"Kebetulan… gue juga mau tanya.. KEMBALIIN MAJALAH MAI-CHAN GUE, DONG" Senyum evil Aomine juga mengarah ke Akashi.

"Dimana VIDEO GAME-KU AKASHICCHI?" kini giliran Kise.

"Kau juga berutang pada kami berdua…" sambung Kuroko dan Murasakibara.

"KALO BEGINI CARANYA AKU LEBIH MEMILIH UNTUK MATI LAGIIII! TIDAAAK! SIAPAPUN TOLONG AKU!"

seru Akashi yang lari ngacir kabur dari kawan-kawannya yang sudah memendam hasrat untuk membalas dan menagih kekesalan mereka dari awal, dan di pagi hari yang indah itu terjadilah kejar-kejaran massal di perguruan Teikou antara Kapten dan anak buahnya yang menuntut keadilan. Dan acara kejar-kejaran itu menjadi penutup untuk fanfict perjalanan Akashi dan kawan-kawannya kali ini.

Akhirnya tirai para dagelan Kisedai ditutup dengan kesimpulan bahwa jadwal MATI Akashi sudah habis dan dia nyatakan TETAP HIDUP dengan tanggungan masalah dengan kawan-kawannya... sungguh mulia sekali dirimu Akashi, memecahkan masalah dengan masalah...

.

.

.

FINISH!

Yaaahh akhirnya selsai! maap yaa chapter yang sungguh
tidak menyentuh karena akhir Akashi yang tidak
bahagia sebahagia orang yang sedang mengetik ini
okee minna, sankyuu ya sudah mendukung FIC ini sampai
sekarang, semoga menjadi ending yang
diinginkan oleh para readers!

SALAM HANGAT YUZU

Stay tune in my fic!