"ONE MISTAKE"

-=Sherry Dark Jewel Present=-

Disclaimer: Yang pasti bukan Yuki…Yuki Cuma nulis Fic ni doang..

Rate : M

Pairing : akan muncul nanti seiring bertiupnya angin#plakk..

Genre : Adventure/Friendship/Romance(bakal lama)

Warning : OOC, AU, Abal, typos bertebaran di mana-mana, alur bosenin, geje kayak yang nulis, dan entahlah,,

Summary : Apa yang kalian lakukan padaku? Kalian gila, kalian jahat, kalian tak punya perasaan. Kalian.. intukah yang namanya keluarga? Tidak kalian bukan siapa-siapa lagi akan datang lagi pada kalian. Aku akan membalas semuanya, semua yang kalian lakukan padaku. Tak sadarkah kalian? Kalian telah melahirkan seorang monster.

.

Don't Like Don't Read…oke..^^

.

Chapter 1

.

Tsuna berjalan pulang ke rumah, tidak-tidak menurut Tsuna itu bukan rumahnya itu neraka. Ingin rasanya ia pergi dari rumah itu, pergi sejauh-jauhnya. Tidak lagi melihat wajah-wajah mantan keluarganya. Tapi ia masih 8 tahun, ia masih belum bisa hidup sendiri. Selama ia masih bisa sedikit lagi bertahan ia akan menguatkan diri disana. Jika ia sudah lebih besar ia berjanji akan pergi dari sana. Ya.. ia berjanji.

Tsuna yang berjalan ditemani keheningan tak pernah menyadari jika ada seseorang yang sudah lama memperhatikannya.

.

.:: Yuki ::.

.

Suara musik memenuhi kediaman Keluarga Sawada. Musik Rock keras dari kamar sang anak bungsu keluarga Sawada. Siapa lagi kalau bukan Yoshimitsu Sawada. Anak egois yang selalu ingin menang sendiri dan tak pernah mau mengalah, baginya dunia seperti berpusat padanya. Ia tak pernah menghargai seseorang kecuali orang itu berguna untuknya. Bahkan ia tak pernah mau mengakui jika ia salah, ia salalu benar. Itu menurutnya.

Di kamar selebar 8x7 meter itu banyak barang-barang mewah, dari ranjang seukuran Queen size dengan Bed Line Biru tua terbuat dari sutra. meja nakas, meja belajar, rak buku dan almari yang terbuat dari kayu mahogani dicat coklat mengkilat indah. Satu unit komputer di letakkan di sebuah meja kusus komputer yang ada dikiri meja belajar. Bahkan lantai kamar berkarper Biru dongker dengan bahan mahal. Serta AC terpasang juga disana.

Sangat berbeda dengan kamar sang kakak, Tsunayoshi. Yang semua hal yang ada disana hanya benda-benda sederhana atau bekas Yoshi. Ranjang kecil, meja belajar kecil kecil, bahkan kamar Tsuna hanya berukuran 4x5 meter saja.

Yoshi tengah tidur-tiduran di atas ranjangnya. Komputernya adalah sumber kebisingan yang melanda rumah itu. Yoshi tengah berpikir sekarang, ia menyusun rencana kapan waktu yang tepat ia mengerjai Dame-Tsuna.

"Akan Menyenangkan membuat hidup Dame-Tsuna semakin sengsara." Yoshi bergumam lirih, memasang seringai diwajahnya. Ia benar-benar tak sabar melihat raut malu dan tersiksa di wajah menyedihkan kakaknya.

.

.:: Yuki ::.

.

Tsuna memasuki rumah dengan kantong belanja di tangannya, sudah hal biasa ia pergi ke supermarket saat pulang untuk membeli bahan makanan untuk makan malam. Nana benar-benar menyuruhnya memasak semua makanan untuk mereka bertiga Yoshi hanya tertawa dan Imitsu tak pernah perduli. Tsuna saat setahun yang lalu selalu bertanya apakah ia bukan anak kandung keluarga ini, melihat perlakuan mereka padanya.

Tsuna bahkan sudah capek bertanya sekarang, karena tak akan pernah ada yang menjawab pertanyaan itu. Ia berjalan menuju dapur, meletakkan belanjaannya lalu pergi kekamar untuk menganti seragamnya.

Dengan sebuah kaos oranye dan celana coklat panjang ia kembali kedapur untuk memasak makan malam. Nana akan marah jika ia membuat makanan yang tak enak atau Gosong. Dan hukuman untuknya saat ia melakukan hal itu adalah terkurung di kamar tanpa makan sampai besok pagi harinya.

Suara musik yang keras tidak dihiraukannya ia sudah bisa dengan keadaan rumah yang bising gara-gara ulah Yoshi. Telingannya telah kebal dengan kebisingan itu, bahkan cari-maki yang selalu ia dapat dari Nana tak pernah ia perdulikan lagi.

.

.:: Yuki ::.

.

Tsuna hanya dapat makanan sisa saat makan malam, bahkan ia tak diizinkan makan di meja makan, ia akan makan di dapur setelah Yoshi dang keluarganya selesai makan malam. Tsuna tak pernah lagi mengeluh dengan hal itu, jika ia mengeluh tentang makan besok, ia tak akan mendapat jatah sarapan. Dan ia tak mau itu.

'Hemm..kayaknya tugas udah selesai semua' batin Tsuna.

Tsuna melihat jam dinding 'pukul 8 malam' lalu ia segera pergi ke kamarnya. Kamarnya tak seperti Yoshi yang terletak di lantai dua. Kamar Tsuna terletak di lantai satu dekat dapur dan pintu belakang. Jadi maklum saja kamar Tsuna yang kecil, kan itu kamar memang dibuat untuk pembantu.

Tsuna membaca buku-bukunya. Karena PR sudah selesai, jadi ia santai-santai saja. tapi untuk membuat PRnya selamat dari Yoshi, ia menyelipkan buku tugasnya dibelakang meja belajar. Jika tidak seperti ini, bisa-bisa Yoshi akan membuatnya dihukum guru.

Tsuna menunggu jam menunjukkan pukul 9. Ia akan pergi sebentar ketaman. Itu sudah rutinitasnya untuk menenangkan diri, duduk di kursi taman sambil memadang langit malam. 'Semoga saja malam ini tak mendung' batinnya.

Saat pukul 9, Tsuna mengendap-endap ke pintu belajang lalu mengambil kunci cadangnya yang ia punya. Lalu meloncati pagar belakang rumah, ia akan bertemu jalan setapak kecil mungkin hanya selebar setengah meter. Lalu ia berjalan menuju Taman.

Ia akan tenang jika sudah ditaman, disini ia bisa melupakan semuanya. Semua nasib buruknya.

.

.:: Yuki ::.

.

1 minggu selanjutnya

Tsuna berangkat ke sekolah seperti biasa, ia sedikit ganjal dengan Yoshi beberapa hari ini. Yoshi tak menganggunya. Itu aneh, biasanya ia kan mengangu Tsuna. tapi beberapa hari ini ia tidak menganggunya. Perasaannya tak enak dengan hal ini. ia merasa Yoshi akan membuat rencana yang lebih mengerikan dari biasanya. Dan yang Tsuna bisa hanya bersiap menghadapi serangan itu jika ia bisa.

Saat berjalan tak sengaja Tsuna menabrak seorang pria yang bejalan berlawanan arah dengan nya. Pria dewasa mungkin sekitar 25 tahunan, mengunakan kemeja merah tua di lapisi jaket dari bahan jeans biru. Dan celana jeans hitam. Pria itu juga mengunakan topi menutupi rambut hitamnya. "maaf..maaf saya tak melihat" pinta Tsuna sambil membungkukkan bandannya.

Pria itu tersenyum "Oh tak apa mungkin aku juga tak melihat" ujar sang pria yang ditabrak Tsuna.

"Baiklah.. maaf sekali lagi" setelah membukukkan badan pada pria itu ia lalu kembali berjalan menuju sekolah. Tsuna tak menyadari seringai yang terpasang di wajah Pria itu.

.

.:: Yuki ::.

.

Semua telah siap, Yoshi tak menyangka kalau hal ini harus disiapkan hampir seminggu. 'hahaha.. jika ini berhasil minimal Tsuna akan babak belur dan maksimal Tsuna akan diusir dari rumah' batin Yoshi.

"Moshi-moshi" Yoshi menelpon seseorang dengan smartphone hitamnya.

"…"

"Apa semua siap?"

"…"

"Hemm oke… pokoknya harus sempurna"

"…"

"Aku juga tak ingin terjadi kesalahan Oke.. ingat itu"

"…"

"dan jangan sampai ada yang tau aku yang merencanakan hal ini"

"…"

"Baiklah.. senang berbisnis denganmu"

Yoshi menutup telephonnya. "hahah ini akan seru"

.

.:: Yuki ::.

.

Hari ini Tsuna benar-benar dikerjai habis-habisan oleh teman-temannya-ah bukan teman-temannya. Dari wabakinya yang dibuang ke kubangan-mengingat kemaren hujan- buku-bukunya yang disobek dan dicoret-coret, bangkunya pun di coret-coret oleh mereka. Sampai baju olah raganya sobek sana sini, jadi ia tadi tak bisa ikut pelajaran olahraga.

Ia selalu bertanya tak adakan seseorang yang peduli padanya, dan mau menjadi temannya. Tapi sampai sekarang tak ada yang pernah peduli lagi padanya. Sungguh menyedihkannya dirinya.

Saat Tsuna berjalan tak sadar ada sebuah mobil berhenti didekatnya. Saat menengok kea rah mobil itu, yang Tsuna rasakan hanya aroma obat bius dan matanya gelap. Lalu Tsuna di bawa oleh orang-orang yang ada dalam mobil itu

.

.:: Yuki ::.

.

Yoshi melihat tubuh Tsuna yang di bawa masuk kedalam mension. Yoshi sekarang ada di mension orang yang berbisnis dengannya. "Teru-san, sepertinya kakakku sudah datang"

"hemm ya… uangnya akan ku berikan besok" jelas seorang pria berusia 40an. Pria itu berambut coklat madu, matanya hitam kulitnya putih. Teru Eiichi adalah seorang duda kaya tampan, ia seorang direktur di sebuah perusahaan yang lumayan terkenal. Istrinya sedah meninggal 5 tahun yang lalu. Dan dua anaknya semua tinggal di luar kota. Yang satu menetap dirumah suaminya. Dan yang satu tengah kuliah di Kyoto.

Jadi kalian bisa tahukan apa yang Yoshi lakukan? Ya.. Yoshi telah menjual Tsuna menjadi budak sex duda kesepian itu. menurut perjanjian Tsuna akan melayani Teru apapun yang diminta oleh Teru. Ia sudah membeli Tsuna dengan harga 100.000.000 juta yen. Jadi sekarang Tsuna telah menjadi Pelayan Teru. Tsuna masih bisa pulang kerumahnya. Tapi ia tak bisa kabur darinya.

"Baiklah Teru-san aku pamit dahulu dan bersenang-senanglah"

.

.:: Yuki ::.

.

Yoshi telah ada dirumah sekarang ia berbaring dengan senyum jahat diwajahnya. "Haha.. cara ini bisa membuat semakin Dame-Tsuna menderita, dan berdoa saja ayah dan ibu tak pernah mengtahuinya. Mungkin Tsuna benar-benar akan ditendang dari rumah… hahaha… akan menyenangkan melihat Tsuna yang perlahan-lahan jatuh dalam penderitaannya.

.

.:: Yuki ::.

.

(Lemon buat yang gak baca skip ja sampai akhir..xixi..)

Tsuna terbangun disebuah kamar mewah. Ia diatas ranjang berukuran king yang berbalur bed line putih, semua yang ada disini putih. Dari dinding, meja, lantai, almari, tirainya pun juga putih. "dimana aku" gumam Tsuna sambil memegang kepalanya yang sedikit pusing, sepertinya efek obat bius masih belum hilang sepenuhnya.

Tsuna mendudukkan dirinya,ia mulai takut saat ia tahu ia di bawa oleh orang asing. Apakah ia diculik? Ia tak tahu. Ia mencoba turun dari ranjang dan mencoba lari, tapi apa yang di lihat membuatnya terperangah. Ia telanjang sekarang, dan ada rantai yang membelenggu kaki kirinya. Ia tak bisa pergi dari sana. Tsuna mencoba menarik-narik rantai itu, tapi kunci yang terdapat di gembok rantai itu terlalu sulit untuk dibuka.

Saat Tsuna masih terlalu asik mencoba menbuka rantai yang mengikat kaki kirinya. Pintu putih yang tadi Tsuna lihat terbuka. Dan yang bisa Tsuna lakukan sekarang hanya meringkuk ketakutan, Tsuna bergeser mundur sampai punggungnya mencapai kepala ranjang, ia lalu memeluk lututnya. "Si-siapa kau?"

Pria 30an itu melangkah mendekati Tsuna dengan sebuah botol ditangannya. "Aku Teru.. aku mastermu mulai sekarang"

"m-ma-master? tapi" ujar Tsuna takut.

Teru sedah ada di dekat ranjang. Ia menaiki ranjang dan berhadapan dengan wajah Tsuna. "Ya..Tsuna…aku mastermu" ujar nya sambil membelai pipi Tsuna. Tsuna semakin takut dengan pria itu. "Dan kau pelayanku sekarang"

"TIDAK..A-AKU..AKU BUKAN PELAYANMU.." teriak Tsuna tak terima jika ia di jadikan pelayan. Ia saja tak mengenal pria didepannya ini. lalu tamparan bersinggah di pipi kanan Tsuna.

"Diam kau… aku sudah membelimu.. jadi kau harus menuruti semua permintaanku" ujar teru kasar.

'Membeliku? Ta-tapi..?'

Teru menarik kaki Tsuna membuat Tsuna terbaring di ranjang, lalau Teru menindi tubuh kecil itu. "A-apa y-yang ma-mau ka-u la-ku-kan?" Tanya Tsuna takut. Ia benar-benar sangat takut sekarang. Tsuna tahu apa yang akan Pria di atasnya lakukan, ia tahu orang yeng bernama Teru ini seorang pedo. Ia pintar ingat.

"aku akan membuatmu nikmat Tsuna-chan" jelas Teru lalu menjilat pipi Tsuna yang tadi di tamparnya. "kau tau Tsuna-chan.. kau sangat manis" lanjutnya sambil menjilat bibirnya sendiri. Pandangan Teru seperti seekor predator yang sudah menangkap mangsanya.

"To-to-lon-g jan-gan" pinta Tsuna. Ia menangis sekarang, ia takut. Ia masih 8 tahun, dan sekarang ada seorang pria yang akan mengambil keperjakaannya.

"Tenang saja Tsuna-chan aku akan mebuatmu nikmat… kau akan suka." Teru mencium Tsuna ganas, ia melimat bibir mungil Tsuna membuat bibir itu bengkak. Lidah Teru memaksa untuk masuk kedalam mulut Tsuna, tapi Tsuna tak mengizinkannya, Tsuna menutup bibirnya rapat. Tapi Teru adalah seorang yang berpengalaman. Teru mengigit bibir mungil itu, membuat belahan bibir itu terbuka, tak mau menyia-yiakan kesempatan Teru memasukkan lidahnya ke gua hangat milik boca manis itu.

"Ughh.." erangan Tsuna terdengar membuat Teru semakin bersemangat, siliva mereka bercampur menjadi satu. Dan mengalir dari sela-sela bibir Tsuna.

"kau sangat manis..pet" ujar Teru saat sudah melepas ciumanya, tangannya mulai menjelajahi tubuh Tsuna.

"LEPAS.. LEPASKAN AKU.." teriak Tsuna. Ia mencoba mengerak-gerakkan tubuhnya ingin lepas dari apitan Teru. "ang.."

"Hemm.. tidak bisa pet..kau pelayanku sekarang.. hewan peliharaanku" bisik Teru di dekar telinga kirinya, membuat tsuna tanpa sadar mengerang pelan "dan bukankah kau mulai menyukainya" Tanya Teru sambil meremas junior Tsuna yang mungil.

"Aghhh.." desah Tsuna.. "TI-TIDAK LE-LEP-AS" teriak Tsuna. Teru kembali menampar Tsuna tapi sekarang di pipi kirinya.

"Diam kau slut.. kau akan menurutiku.. karena aku tuanmu sekarang" teru mengambil botol yang tadi di bawa dari meja nakas di samping ranjang. Meminumnya lalu membagi setengah yang ada di dalam mulutnya untuk Tsuna. Teru mencium Tsuna, tangannya meremas junior Tsuna sekali lagi. Membuat mulut Tsuna terbuka lalu Teru menciumnya ganas dan memasukkan cairan yang ia minum ke malut mungil itu. memaksa Tsuna menelannya.

"kau akan suka..my little pet" tanpa menunggu lama Tsuna merasa badannya mulai panas, ia tak tahu apa yang Teru masukkan ke mulutnya. Tapi itu membuatnya panas, ia ingin merasa menyentuh tubuhnya.

"Ahh"

"Hemm.. sepertinya kau juga mulai panas Pet..?" Teru kembali menjelajahi tubuh Tsuna. Membuat Tsuna mendesah karena itu.

Bibir Teru kembali melumat bibir Tsuna.. Tsuna yang sekarang 100% telah terangsang membuka mulutnya dengan rela. Bahkan kedua pahanya pun ikut ia buka saat merasakan tangan Teru mulai mendekati juniornya.

Teru menjelajahi rongan hangat Tsuna dan tangannya pun ikut mengocok junior Tsuna yang sekarang sudah mengeras. "Aghh..eghh" desah Tsuna saat bibir pria di atasnya sudah menjauh dari wajahnya.

"kau suka pet..?"

"y-ya..Aghh" Teru masih mengocok junior Tsuna dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya membuka resleting celananya dan kancing kancing bajunya mengespos dadanya yang lumayan bidang untuk orang seusianya.

"Agh,,ah..ug…" desah Tsuna semakin keras saat ia juniorny berkedut ingin cum. Tapi Teru langsung melepaskan tangannya. Membuat Tsuna tak bisa cum dan merengek tak senang.

"memohonlah pet" kata Teru dengan seringai diwajahnya. Tangannya membelai pipi Tsuna. "dan panggil aku Master..My Little Pet.."

"Master.." panggil Tsuna lirih "Mas-ter aku ingin"

"kau ingin apa Pet?" goda Teru, bibirnya mencium kecil leher dan bahu Tsuna.

"Pet ingin Master mengocok junior Pet seperti tadi.." mohon Tsuna. Sepertinya obat perangsang yang diminumkan Teru sangat kuat, hingga membuat Tsuna benar-benar terangsang berat.

"Bailkah My Little Pet" Teru mengocok kembali junior Tsuna. Tsuna mendesah gembira dengan hal itu. lalu Teru kembali melepas tangannya dari junior mungil milit Petnya. Tsuna merengek dan Teru tertawa mendengarnya. "Tenang Pet kau akan suka ini"

Teru lalu melahap junior mungil itu menjilatinya dan menghisap kepala junior kecil itu. Teru juga sedikit mengigiti junior itu "AGHh..Uhh Mas-te-r.." lalu kemudian Junior kecil itupun mengeluarkan air mani meski tak banyak. Dan Teru menelannya dengan senang hati.

"Pet..kau manis.." Ujar Teru. Dan Tsuna yang masih bernafas berat karena h orgasem itu sekarang mulai membuka matanya. "tapi kita belum selesai Pet.."

Tsuna sedikit terkejut saat tubuhnya diangkat dan diarahkan di depan selangkangan milik sang master. "M-Ma-ster.." Tsuna dapat melihat Junior besar milik Teru telah tegak dan sangat keras celana dan bajunya pun sudah di buang entah kemana Teru sekarang sama telanjangnya dengan Tsuna.

"Hisap Pet.." perintah Teru. Lalu Tsuna pun mulai menghisab junior besar itu, meski tak bisa masuk sepenuhnya hanya setengah saja yang bisa masuk. Tsuna meniru apa yang Masternya lakukan padanya tadi, menghisap, mengigit kecil dan menjilat. Teru mengelus rambut Tsuna "Bagus..Bagus.. Pet..Egghh… ya seperti itu.." ujar Teru senang. "gunakan agh.. kedu-a tangan mu unt-uk ugg.. mengocok yang tak bis-sa k-au lahap Pet.."

Tsuna menurutinya . ia benar-benar sudah terangsang oleh obat perangsang yang Teru berikan. Ia tak sadar apa yang ia lakukan tubuhnya hanya melakukan apa yang teru perintahkan saja. sebelum Teru cum. Teru sudah menarik juniornya yang dihisap oleh Tsuna. Tsuna menrengak kembali, sepertinya Tsuna mulai menyukai rasa yang dia dapat dari apa yang ia lakukan tadi.

"Ma-s-ter.."

"berbaliklah pet.. lalu menungging dihadapanku" Tsuna melakukannya ia membelakangi sang Master lalu tapi kepalanya berbalik sedikit hingga bisa melihat sang master. Teru mengambil lube dari dalam laci nakas. Ia mengolesi jarinya dengan lube itu. dan mulai memasukkan satu jarinya kedalam hole Tsuna.

"Agh.. Ma-st-er..sa-kit.." Tsuna merasa sedikit tak nyama dengan jari yang ada di dalam tubuhnya.

"Tenang My Little Pet.." Teru memaju mundurkan jarinya dengan perlahan, merasa sedikit longar Teru kembali memasukkan jari keduanya.

"AGH..S-aki-t" erang Tsuna kesakitan. Teru masih mengerakkan tangannya maju mundur lalu mengunting, merengangkan otot hole Tsuna agar nanti bisa ia masuki. Semakin dalam Teru menyodok Hole Tsuna.

"Ahhh" desah Tsuna nikmat. Sepertinya Teru sudah menemukan titik kenikmatan milik Pet kecilnya itu. Seringai tertanam di wajah Teru.

"Kau..Suka Pet..?" Teru menyodok prostatnya berkali-kali. Membuat Tsuna mendesah nikmat. Di tengah desahan Tsuna, Teru kembali menambahkan jarinya. Tapi Tsuna tak lagi merasa kesakitan. Mungkin rasa sakitnya sudah teralihkan dengan rasa nikmat yang ia terima.

Teru sudah tak sabar sekarang lalu ia menarik jari-jari itu dari lubang Tsuna. Tsuna merengek kecewa. "tenanglah My Little Pet..kau akan mendapat yang lebih nikmat" lalu Teru secara kasar langsung memasukkan juniornya yang dua kali lebih besar dari tida jarinya.

"AGH..SAKIT.." Tapi Teru tak perduli dengan jeritan kesakitan Tsuna ia mulai mengerakkan Juniornya. Itu nikmat menurut Teru. Tapi tidak untuk Tsuna. Itu sakit.

"Agh,..Sa-k-it"

Tapi tak lama kesakitan itu hilang saat Teru kembali menghantam Prostatnya. "AHH..Ah..ughh.. ah..ah.." desahan menggalun memenuhi ruangan itu. mata Tsuna tertutup menikmati rasa nikmat yang menghantam tubuhnya.

"Pet..buka matamu.." perintah Teru. Da Tsuna pun membuka matanya. Masih dengan desahan yang keliar dari mulutnya. "Kau indah Pet.."

Tak lama Tsuna pun kembali cum untuk keduakalinya. "AHHHHH…." Teru pun menyusul setelah 4 sodokan lagi.

"AHHH…"

Dan Tsuna pun tertidur setelah itu. Teru melepas juniornya. "Pet..Yang manis.. hahaha.. tak sia-sia aku membelimu"

.

.:: Yuki ::.

.

TBC..?

Author Note :

Oke ini dia chapter satunya

Gimana?

Jelek ya

Apa lagi lemonnya…

Entah napa Yuki bener-bener pingin bikin Lemon

So… ini dia gak asem ya…

Maklum ni lemon pertama yuki

Dan buat Typo(s0 harap maklum ya ni cerita gak bisa di edit

Cz ada mata di belakangku… hahaha….

Ditambah kuota yuki mau habis.. jadi.. mau gak mau aku harus update..T.T

Buat semua pembaca…

Yuki harap kalian Review…

Oke..^.~… Yuki Tunggu…

Balas Review yuk:

LalaNur Aprilia : maaf ya LalaNur-san yuki malah bikin LalaNur-san pusing ma sterrssss.. ditambah typo(s) juga masih banyak… hahh…. Makasih reviewnya ^^

Yuki tunggu reviewnya lagi…^^

Urara : Makasih reviewnya Urara-san.. ni udah update..

Moga suka… review lagi ya..^^

Hikari Vongola : Buat Hikari Vongola-san ni udah lanjut… dan yuki masih tega nyiksa orang#palkkk

Hahaha… terima kasih reviewnya.. Review lagi ya..

Yuki Amano : Kyaaa.. nama kita sama… jadi Yuki panggil Yuki Amano-san itu Amano-san aja ya..kalau boleh…

Dan Seratus buat Amano-san ni Fic Dark!Tsuna…

Yuki suka Dark!Tsuna..#smirk…

.79 : Buat Meilina-san makasih reviewnya.. dan maaf yang nulis Fic EXO itu bukan Yuki.. Tapi Shee…

Di Pen name ni ada tiga orang soalnya..

Dan aku yang tertua#abaikan yang terakhir

Buat Tsuna jadi Mavioso…lihat aja nanti…

Ntar yuki moodnya gimana#digorok…

Ni udah lanjut.. Review lagi ya…

Guest : Ni udah lanjut…^^ makasih Reviewnya..

Oke.. ni dia moga gak ngecewain ya..

Review ne…#kedip-kedip

Oke ini dia moga gak ngecewain ya.. Review please…