Tadaaaaa...^^
Aku kembali setelah sekian lama tidak update.. hehe..
Mian ne? Pulsa modemku habis, jadi baru bisa update sekarang..
Yasudahlah, daripada menunggu, silahkan dibaca^^
.
.
.
Story About Life and Love
.
.
.
Cast : HaeHyuk, YeWook, KyuMin, Siwon
Other : Kibum, ZhouRy, KangTeuk, HanChul, etc..
.
.
.
Romance, Hurt/Comfort
.
.
.
Happy Reading^^
*Sungmin POV*
" Minnie-ah..! Chakkaman..! "
Kuhentikan langkahku yang hendak menuju taman restaurant tempatku berada, dan berbalik menatap tajam seseorang yang kini sedang berlari menghampiriku.
" Minnie?! Siapa yang menyuruhmu memanggilku dengan sebutan itu Cho Kyuhyun?! " tanyaku sedikit membentak.
Kulihat dia yang sudah berdiri tak jauh dariku, terkekeh pelan. Memang siapa dia beraninya memanggilku dengan sebutan akrab begitu?
" Eopso. Tapi bukankah kau calon pasangan hidupku? Wajar bukan jika aku memanggilmu dengan sebutan itu? "
" Ck! Meskipun begitu kau tak boleh mamanggilku dengan sebutan seperti itu! Yang boleh memanggilkku dengan sebutan itu hanya orang-orang terdekatku saja! " kesalku.
Kulihat dia terkekeh pelan. " Wae?! Kau pikir ada yang lucu? " sungutku.
" Haahh~ .. Meskipun aku ini bukanlah orang yang dekat denganmu, tapi bukankah sebaiknya aku memanggilmu dengan sebutan itu dari sekarang? Yah, agar aku terbiasa nantinya. Begitu juga denganmu. " jelasnya tenang.
Oke, sepertinya berdebat dengan anak ini tak ada ujungnya.
" Terserah kau saja! " ucapku lalu kembali membalikkan badan dan berjalan menjauhinya.
Kenapa harus dia yang dijodohkan denganku sih? Aigo~ .. Jinjja!
*Ryeowook POV*
Aku melangkah menuju toko buku langgananku yang letaknya tak jauh dari toko roti milik Kibum hyung –kakak sepupuku- . Hari ini, aku harus membeli buku tentang kesenian musik.
" Selamat datang ditoko buku kami. " ucap seorang pegawai yeoja menyambutku. Aku tersenyum membalasnya.
Setelahnya, aku kembali melangkah menuju rak buku khusus musik. Jika bukan karena tugas dari Kim saenim, aku tak ingin bersusah payah kesini. Asal kalian tahu saja, Shin saenim itu, sangat galak. Aku saja sampai tak berani menatap wajahnya jika sudah berbicara dengannya.
" Ah! Ketemu! " seruku dan segera mengambil salah satu buku dengan cover berwarna biru.
" Hm.. mian, tapi apa boleh aku pinjam buku itu? " tanya seseorang tepat dibelakangku.
Aku menoleh dan.. hei! Itu kan Yesung hyung.
" Eoh? Ryeowook. Hyung kira siapa. " ujar Yesung hyung sambil tersenyum padaku.
" Ne. Ng~ .. hyung tadi ingin meminjam buku ini? Apa hyung membutuhkannya juga? " tanyaku.
Kulihat dia menggaruk tengkuknya. " Hm.. sebenarnya bukan hyung yang membutuhkannya. Tapi, sepupu hyung. Ah! Geundae, kalau kau lebih membutuhkannya, ambil saja. " jelasnya.
" Lalu, sepupu hyung bagaimana? " tanyaku –lagi- .
" Biar hyung cari yang lain. Tapi… " Yesung hyung terdiam sejenak.
Aku mengernyitkan dahi bingung. " Tapi apa hyung? "
" Mau tidak kau membantu hyung untuk mencarinya? " tanyanya.
Aku tersenyum. Kukira apa. Aku mengangguk cepat. " Ne! Aku akan membantu hyung. " jawabku.
" Jinjja? " tanyanya meyakinkan yang hanya kujawab dengan anggukkan lagi.
" Ah! Jeongmal gomawoyo Ryeowook-ah! " ucapnya.
.
.
.
" Gomawo Ryeowook-ah, sudah membantu hyung mencari buku ini sampai ketemu. Mian jika sudah merepotkanmu. Padahal kita baru saja kenal. " ujar Yesung hyung membuka percakapan.
Sekarang, aku dan Yesung hyung sedang jalan bersama untuk kembali pulang. Tadinya, aku menolak untuk diantarkan. Tapi dia memaksa. Ya sudah, akhirnya kuterima saja.
" Gwaenchana hyung. Lagipula aku juga senang menolong orang. " jawabku.
" Tapi kau jadi pulang telat. Aku takut kau dimarahi orang tuamu. " ucapnya.
Aku tersenyum tipis dan menatap pada tanah. " Mereka tak akan memarahiku hyung. "
" Eh? Wae? Bukankah biasanya orang tua itu pasti marah mengetahui anaknya pulang telat dari jam yang sudah ditentukan? "
" Mereka berbeda hyung. Mereka jarang ada dirumah. Selalu bekerja setiap harinya. Meninggalkanku dirumah sendirian bersama dengan supir dan beberapa maid. Jika pulang'pun, hanya beberapa jam, lalu kembali lagi ke kantor. Menanyakan keadaanku sangat jarang. Sebenarnya, aku juga ingin mendengar mereka menasihatiku. Memakan masakkan buatan eomma. Bermain musik bersama appa. Tapi, apa yang bisa kulakukan? Tak ada. Hanya menunggu. Itu saja yang bisa kulakukan. " jelasku panjang lebar sambil menahan tangis.
" Hm.. Mianhae Ryeowook-ah. Hyung tak bermaksud membuatmu jadi sedih begini. "
Aku mendongak sambil tersenyum menatapnya. " Hyung kenapa meminta maaf terus? Aku tak apa. Lagipula ini kan bukan salah hyung. Mereka yang tak berusaha meluangkan waktu untukku. "
Yesung hyung menghentikan langkahnya, yang mau tak mau membuatku juga mengikutinya untuk berhenti. Aku menatapnya yang juga sedang menatapku.
" Hyung, waeyo? " tanyaku.
" Ng~ .. Ryeowook-ah.. " panggilnya.
" Ne? "
" Mulai sekarang.. jika kau mau, kau boleh memanggilku kalau kau sedang merasa kesepian. Aku pasti akan menemanimu. "
" Mwo? Jeongmal? " tanyaku.
Kulihat Yesung hyung mengangguk mantap.
" Waahh.. gomawo hyung….! " seruku senang lalu memeluknya erat.
" N-ne. " sahur Yesung hyung.
Kulepas pelukkanku lalu menunduk malu. " Mian hyung. Aku terlalu senang, jadi tak refleks langsung memelukmu. "
" G-gwaenchana Ryeowook-ah.. "
" Hyung, kalau begitu mulai sekarang tak usah panggil aku Ryeowook. Panggil saja aku dengan sebutan Wookkie. Seperti yang lain. " ucapku setelah kembali mendongakkan kepala.
Kulihat Yesung hyung tersenyum padaku. " Ne, Wookkie.. " balasnya.
DEG
Omona~ ..
Kenapa jantungku berdebar begini?
Oh.. jangan bilang kalau kau menyukai Yesung hyung Kim Ryeowook!
*Donghae POV*
Aku tersenyum menatap namja yang sedang duduk didepanku dengan tatapan tajamnya. Ah, lihatlah, meskipun dia menatapku seperti itu, wajahnya yang manis sama sekali tak hilang. Bahkan menurutku, semakin manis.
" Wae? " tanyanya memecah keheningan yang menyelimuti kami.
Saat ini, aku sedang berada ditempat Hyukkie bekerja. Hm.. lebih tepatnya, berada didalam ruangan kerja atasannya. Dan kenapa kami hanya berdua disini? Itu karena Kim Kibum –atasannya yang bahkan bisa dibilang lebih muda dariku- sedang pergi keluar.
" Hum? Wae? Apanya yang kenapa? " aku balik bertanya.
" Ck! Kenapa hyung bilang jika kau itu namjachingu'ku? " tanyanya –sedikit kesal- .
Aku terkekeh pelan mendengarnya. Wajahnya yang sedang kesal semakin menambah kesan manisnya saja.
Aigo~ ..
Sepertinya aku mulai menyukaimu Lee Hyuk Jae!
" Itu.. mungkin sebentar lagi aku memang akan menjadi namjachingu'mu Hyukkie.. " jawabku.
" Wae? Kita bahkan baru kenal. Kita juga tidak dekat. Jangan terlalu percaya diri kau Hae hyung. " jawabnya.
" Ne. Itulah diriku. Namja yang sangat percaya diri. Dan.. seharusnya kau senang kan mempunyai namjachingu sepertiku. Tampan, baik hati, tidak sombong juga.. kaya. " ucapku.
" Mwo?! Ya~ hyung! Yang ada, aku akan mati dikejar oleh semua penggemar yeoja'mu jika aku menjadi namjachingu'mu. Dan lagi, kau memang tampan, tapi kau bukan tipeku. Juga, yang kaya itu orang tuamu, bukan dirimu! Lagipula, aku saja tak pernah mendengar pernyataan cintamu, bagaimana aku bisa berstatus sebagai namjachingumu?! " sungutnya.
Aku menyeringai mendengarnya. Mendengar ucapan terakhirnya. Dengan dia berbicra seperti itu, itu artinya dia memintaku untuk menyatakan cinta padanya bukan? Yah, walaupun secara tak langsung.
Kudekatkan wajahku padanya. " Kau.. memintaku untuk menyatakan cinta padamu? " tanyaku.
" Y-ya! Bu-bukan seperti itu maksudku. D-dan jauhkan wajahmu itu dariku hyung! Juga berhenti tersenyum seperti itu. Kau mengerikan! " ucapnya sambil menjauhkan wajahnya dariku.
Hm? Asik juga menggodanya. Lihatlah, wajahnya memerah. Aigo~ ..
" Wae? Aku kan hanya ingin melihat seberapa manisnya wajahmu. Dan hei.. kau belum menjawab pertanyaanku, kau ingin aku menyatakan cinta padamu, Hyukkie? " tanyaku semakin menggodanya.
" K-kan sudah kubilang bukan begitu maksudku hyung..! Aissh~ jauhkan wajahmu itu hyung! " ucapnya semakin kesal.
Haha..
Lucu sekali dia ini. Baiklah, kasihan juga dia jika kugoda terus. Kujauhkan wajahku darinya dan kembali duduk dengan benar. Kutatap wajahnya yang masih juga terlihat kesal.
Aku kembali menyeringai saat sebuah ide terlintas diotakku. Kumajukan sedikit badanku dan meraih kedua tangannya yang sedari tadi ia lipat didepan dadanya.
Kuliat ia menatapku bingung. " A-apa yang kau la-lakukan hyung? " tanyanya –gugup-.
Aku tersenyum. " Hyukkie-ah, aku menyukai- ah ani! Saranghae. Jadilah namjachinguku. " pintaku, dan jangan lupakan wajahku yang kubuat memelas.
Dia terdiam, sama sekali tak berniat menjawab ucapanku barusan. Terkejut mungkin?
" Oke! Diam berarti kuanggap iya. Dan mulai sekarang, kau menjadi namjachingu seorang Lee Donghae! " ucapku final.
" Y-YA! Aku saja belum menjawab apapun. Jangan- "
" Tak ada alasan Hyukkie chagi~ .. Pokoknya, mulai sekarang kau jadi namjachingu'ku. Dan ingat! Tak boleh berdekatan dengan namja manapun. Kecuali diriku, teman satu kelompokku, dan kedua sahabatmu. Selebihnya, NO! Sudah ya, aku pulang dulu chagi.. annyeong… " pamitku dan berjalan menuju pintu.
" Y-YA! HYUNG! Aissh~ ! "
Aku terkekeh mendengarnya. Sepertinya dia marah karena aku mengambil keputusan sendiri dan juga menghiraukannya. Besok, akan menjadi hari yang sangat menyenangkan untukku, dan hari yang paling buruk bagi semua penggemar-penggemarku. Juga, aku ingin tahu bagaimana reaksi satu sekolahan tentang hal ini. Ah~ .. jadi tak sabar.
*Author POV*
Hyuk Jae melangkahkan kedua kakinya melewati pagar sekolahnya. Kepalanya sedari tadi menunduk, kedua tangannya juga memegang tali tasnya dengan erat. Sesekali menghela nafas berat saat semua mata para yeoja dilingkungan sekolah itu menatapnya tajam. Bahkan, ada yang sengaja mencibirnya.
" Cih! Apa bagusnya dia? Lihatlah, bahkan lebih menarik aku daripada dia! Kenapa Hae oppa lebih memilih namja seperti dia? " ejek salah seorang yeoja yang sedang berdiri didekat dinding penyangga sekolah, bersama dengan kedua temannya.
Kedua temannya yang mendengar itu hanya tertawa meremehkan sambil menatap Hyuk Jae.
Lagi, Hyuk Jae hanya menghela nafasnya berat dan semakin mempercepat langkahnya untuk segera sampai dikelas.
Saat sampai didalam kelas, suasananya sama saja seperti diluar. Semua menatap Hyuk Jae dengan tampang meremehkan. Tak sedikit juga yang berbisik-bisik aneh. Namun Hyuk Jae hanya bisa diam sambil terus melangkah menuju bangkunya.
Diletakkannya tas miliknya lalu segera duduk. Sepertinya, hari ini akan terasa sangat menyebalkan untuknya.
" Hyukkie…! " teriak seseorang yang kini menjadi pusat perhatian semua teman kelasnya.
Hyuk Jae mendongak menatap namja yang kini tengah berjalan sambil tersenyum kearahnya.
" M-mwo? " sahut Hyuk Jae pelan, namun dapat terdengar oleh namja yang sekarang berdiri disampingnya.
Namja itu menarik tangan kanan Hyuk Jae pelan. " Temani aku sarapan diruanganku. Kajja! " ajaknya dan menarik Hyuk Jae untuk berdiri.
" Geundae, kenapa harus aku? Kau kan punya teman. " jawab Hyuk Jae sembari menahan lengannya yang ditarik oleh namja tampan tersebut –Donghae- .
" Hyukkie chagi, aku tak ingin ada penolakkan. Lagipula, teman-temanku itu tak tahu kemana. Juga, kau itu kekasihku, jadi sudah seharusnya kau menemaniku untuk sarapan. Kajja! " ucap Donghae yang kali ini berhasil menarik Hyuk Jae dari tempatnya.
.
.
.
Leeteuk menatap sebuah foto yang kini berada ditangannya. Didalam foto itu terdapat seorang namja yang tengah tersenyum pada seseorang didepannya. Kembali terngiang ditelinganya tentang percakapannya dengan seorang detektif yang tengah membantunya untuk menemukan sang anak kandung.
" Dia sekarang tinggal seorang diri. Menurut seorang ahjumma yang memberitahu saya informasi mengenai anak itu, dia baru saja pindah sekitar satu minggu. Untuk memenuhi kebutuhannya, dia bekerja Part Time. "
" Lalu.. mengenai sekolahnya? "
" Ahjumma tersebut bilang, jika ia bersekolah di Seuta High School. Sekolah yang sama dengan anak anda nyonya. "
" Teukkie-ah.. " panggil Kangin membuyarkan lamunan sang istri.
Leeteuk menoleh, menatap Kangin dengan mata sendunya. " Yeobo.. " sahut Leeteuk.
Kangin tersenyum dan mengusap kedua bahu Leeteuk lembut. " Wae? " tanya Kangin.
" Aniya.. hanya saja, aku merasa.. gagal menjadi seorang eomma untuknya. Kau dengar kan apa kata tuan Park tadi? Dia bilang anak kita bekerja Part Time untuk memenuhi kebutuhannya. Hidup sangat susah. Sementara kita disini, makan dan tidur enak. Aku.. "
Perkataannya terpotong saat Kangin memeluknya.
" Ssst..! Aku lebih gagal Teukkie-ah. Seharusnya aku menjaganya dengan baik. Aku ini seorang kepala keluarga. " jelas Kangin seraya mengelus punggung Leeteuk. Berusaha menenanglan Leeteuk yang kini sudah menangis.
" Uljima.. besok, kita pergi untuk melihatnya. Ne? " ajak Kangin yang diberi jawab anggukkan oleh Leeteuk.
" Geundae… jangan beritahu dulu Sungmin tentang hal ini. Jika waktunya sudah tepat, aku yang akan memberitahunya. " ujar Kangin seraya mengusap air mata Leeteuk.
Leeteuk hanya mengangguk sambil tersenyum. Sedikit lebih tenang saat mendengar ucapan Kangin tadi.
" Hm.. siapa namanya sekarang? Tadi yang kudengar, namanya bukanlah nama pemberian kita. "
" Namanya… Lee Hyuk Jae. " jawab Leeteuk pelan.
TBC..
RnR Please^^
Thanks buat yang udah stia membaca FF'ku dan me'review..
Aku gk bisa baca satu-satu, kalian banyak banget..
Hehehe...
Sampai jumpa dichapter depan^^
