Story About Life and Love
.
.
.
Cast : HaeHyuk, YeWook, KyuMin, Siwon
Other : Kibum, ZhouRy, KangTeuk, HanChul, etc..
.
.
.
Romance, Hurt/Comfort
.
.
.
( dichapter ini, Yoona, Tiffany dan Seohyun hanya menjadi figuran tambahan saja. )
.
.
.
Enjoyed The Stories ^^
*Sungmin POV*
Aku menatap lurus kearah ponselku yang kini memperlihatkan sebuah pesan dari Kyuhyun. Sejenak aku mengulas senyum dibuatnya.
From : Cho Kyuhyun
Messages :
Minnie hyung!
Bogoshipeo..
Padahal, baru beberapa jam kita tak bertemu..
Aku sudah sangat merindukanmu..
Hehehe..
Anak itu.. apa dia memilikki kepribadian yang aneh? Kemarin dan juga tadi pagi sangat dewasa. Lalu sekarang, kenapa seperti anak kecil?
Tapi.. entah kenapa, aku sudah mulai merasa nyaman jika berada didekatnya. Dia sangat menyayangiku. Lebih memperhatikanku daripada dirinya sendiri. Intinya, dia selalu mengutamakan diriku dalam kehidupannya.
Apa mungkin.. aku mulai menerima dan membuka hatiku untukmu Cho Kyuhyun?
" Minnie..! Eomma dan Appa pulang…! " teriak eomma dari lantai bawah yang membuyarkan lamunanku.
Segera kuketik pesan balasan untuk Kyuhyun dan berjalan keluar kamar. Menghampiri eomma dan appa, setelah sebelumnya menaruh ponsel itu diatas meja kecil samping tempat tidurku.
" Eomma, Appa.. sudah pulang rupanya. " ucapku setelah berdiri didekat mereka.
Appa dan Eomma tersenyum padaku. " Ne, kau sudah makan? " tanya appa sambil menaruh sepatu kesayangan yang tadi dipakainya ke atas rak.
Aku menggeleng. " Aku menunggu appa dan eomma pulang. " jawabku.
" Kau itu.. Geurae, eomma ganti baju dulu sebentar lalu akan menyiapkan makan malam untuk kita. Chakkaman ne? " ujar eomma lalu mulai melangkah naik menuju kamarnya bersama appa.
.
.
.
" Minnie-ah.. " panggil appa disela-sela kegiatan makan kami.
Aku menatap appa yang sedang melihatku. " Bagaimana hubunganmu dengan Kyuhyun? Apa kalian sudah sangat dekat sekarang? " tanya appa.
Aku berpikir sejenak. Jika diingat, akhir-akhir ini aku memang sudah banyak berinteraksi dengannya. Tapi kalau dibilang sangat dekat, tidak juga.
" Minnie-ah.. " panggil appa membuyarkan lamunanku.
" Ne? " sahutku.
" Wae? Kenapa kau melamun? Atau jangan-jangan.. kau sedang memikirkan Kyuhyun, eoh? " tanya eomma sedikit menggoda.
Aku menggeleng cepat. " Ani! Aku.. tidak memikirkan tentangnya. " jawabku dan mulai kembali menyuapkan sesendok nasi kedalam mulutku.
" Kalau begitu, kau belum menjawab pertanyaan appa tadi. " kata appa.
" Hm.. jika dibilang sangat dekat, tidak juga. Karena aku dan Kyuhyun mempunyai jadwal sekolah yang terkadang menyita waktu kami. " jelasku.
" Memang kalian tidak berkomunikasi dengan cara berkirim pesan atau saling menghubungi? Itu kan juga baik dalam suatu hubungan. " ujar eomma.
" Hm.. terkadang kami suka berkirim pesan. " jawabku.
" Yah, baguslah kalau begitu. Jadi, kalian bisa menjadi semakin dekat. " ucap appa.
Aku hanya tersenyum menanggapinya.
*Author POV*
Hyuk Jae melenguh pelan saat merasakan tangan seseorang membelai kepalanya lembut. Kedua matanya perlahan terbuka dan mengerjab pelan. Keningnya mengernyit bingung saat menyadari kamar yang ditempati olehnya kini, bukanlah kamarnya. Hingga kedua matanya membulat saat mendapati Donghae sedang duduk ditepi ranjang sambil tersenyum padanya.
" H-hyung.. ini- "
" Ne, ini dikamarku. Kau sedang berada dirumahku sekarang. Apa kau sudah merasa lebih baik? " tanya Donghae menyela ucapan Hyuk Jae.
Hyuk Jae membawa dirinya untuk duduk dan bersandar dikepala ranjang tempat tidur Donghae. " Ne, aku sudah merasa lebih baik. Geundae.. kenapa aku bisa disini? " tanyanya.
" Kau tadi menangis cukup lama, dan akhirnya tertidur karena kelelahan. Jadi aku berinisiatif membawamu kemari. Lagipula, aku kan tak tahu dimana alamat rumahmu. Tapi, jika sekalinya aku tahu'pun, aku tak akan membawamu pulang ketempatmu. Aku takut terjadi sesuatu lagi padamu. " jelas Donghae panjang lebar.
Hyuk Jae tersenyum mendengarnya. Sedikit senang juga melihat Donghae sangat perhatian padanya. Yah, walaupun terkesan possesive.
" Gomawo hyung. " ucap Hyuk Jae.
Donghae tersenyum dan mengangguk pelan. "Ah, ne! Sudah waktunya kau makan malam. Tadi Kim ahjumma sudah mengartkannya kemari untukmu. " ujar Donghae seraya mengambil sepiring nasi yang sedari tadi diletakkan diatas meja kecil samping tempat tidurnya.
" Makan malam? " tanya Hyuk Jae bingung.
" Ne. Kau sudah tertidur kurang lebih dua jam. Tadinya aku ingin membangunkanmu. Tapi tak jadi. Melihatmu yang tertidur sangat pulas, aku jadi tak tega. " jelas Donghae.
Hyuk Jae hanya mengangguk-angukkan kepalanya pelan.
" Cha! Mokko! Aaa… " titah Donghae sambil menyodorkan sesendok nasi pada Hyuk Jae.
Hyuk Jae membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari kekasihnya itu dengan malu-malu. Terbukti dari semburat merah yang muncul dikedua pipinya.
Sesaat, seperti teringat akan sesuatu, Hyuk Jae menghentikan kunyahannya dan menatap Donghae. " Hyung.. " panggilnya.
" Ne? " sahut Donghae.
" Tadi.. kenapa kau bisa berada disekolah? Bukankah.. saat aku menolak untuk ditemani olehmu, kau langsung pulang? " tanya Hyuk Jae hati-hati. Takut menyinggung perasaannya.
Donghae meletakkan piring yang masih terisi banyak nasi itu kembali ketempatnya tadi. " Hm.. tadi entah kenapa perasaanku tidak enak saat hampir sampai dirumah. Lalu, saat itu juga pikiranku langsung tertuju padamu. Dan yah, aku kembali saja ke sekolah, takut terjadi sesuatu padamu. Ternyata benar dugaanku. "
Hyuk Jae menunduk sambil tersenyum lirih. " Gomawo hyung. Kalau tadi kau tidak ada, aku- "
" Ssstt! Hyukie, dengarkan aku. " ucap Donghae sambil menangkup kedua pipi Hyuk Jae dan menatap kedua matanya lembut.
" Aku, akan selalu ada disampingmu. Apapun yang terjadi. Jadi, kau tak perlu takut. Ara? " kata Donghae seraya tersenyum.
Hyuk Jae menatap kedua mata teduh milik Donghae intens, dan tak lama membalas senyuman itu lalu mengangguk pelan.
Dan entah kenapa, suasana tiba-tiba berubah menjadi hening. Mereka saling bertatap-tatapan dalam diam. Dan tak lama Donghae mendekatkan wajahnya pada wajah Hyuk Jae. Donghae menempelkan bibirnya pada bibir namja manis itu lalu mulai melumatnya dengan lembut. Hyuk Jae hanya bisa menutup matanya merasakan belaian lembut Donghae di bibirnya. Donghae melepaskan ciumannya lalu mengecup kedua pipi Hyuk Jae bergantian.
Hyuk Jae yang menerima perlakuan itu, menunduk untuk menyembunyikan semburat merah dikedua pipinya. Ini merupakan ciuman pertamanya dengan Donghae. Donghae tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu, lalu membawa Hyuk Jae kedalam pelukkannya.
" Saranghae.. " bisiknya lembut.
Perlahan, Hyuk Jae mengangkat kedua tangannya untuk membalas pelukkan Donghae.
" Nado.. " balasnya.
.
.
.
Pagi ini, seperti biasa, Seuta High School terlihat begitu ramai. Tapi kali ini, lebih ramai dari yang biasanya. Itu semua dikarenakan oleh tiga orang yeoja yang kini tengan berdiri ditengah lapangan dengan satu kaki dan kedua tangan mereka yang memegang papan.
Bukan papan biasa, melainkan papan yang bertuliskan 'LEE HYUK JAE SUNBAENIM.. JEONGMAL JOESONGHAMNIDA..! ' . Belum lagi ditambah empat orang namja tampan yang kini sedang berdiri mengawasi setiap pergerakkan ketiga yeoja itu dari ambang pintu masuk utama.
Donghae –salah satu dari keempat namja itu- berjalan mendekati ketiga orang yeoja tersebut dengan wajah dinginnya. Kedua matanya menatap bergantian para yeoja itu yang kini sedang menunduk. Antara menahan takut, dan malu.
" Cih! Im Yonna, Tiffany Hwang, Seo Joo Hyun. Tiga orang yeoja cantik dari keluarga yang cukup terpandang. Tapi, sayang memilikki hati yang tak secantik wajahnya. "
Tiga orang itu semakin menunduk dalam.
" Orang tua kalian, adalah orang-orang yang juga bekerja dibawah naungan perusahaan keluargaku. Kalian tahu itu kan? " tanya Donghae.
" N-ne, o-oppa. " jawab salah satu dari ketiganya gugup.
" Tapi tenang saja, aku tak akan membuat orang tua kalian terseret dalam masalah ini. Hanya.. besok kalian tidak usah kembali lagi kesekolah ini. Silahkan kalina mencari sekolahan baru, yang mau menampung yeoja seperti kalian untuk diberi pendidikan. " ucap Donghae tajam.
Ketiga yeoja itu langsung mendongakkan kepalanya dan menatap Donghae tak percaya.
" Mwo? Aku punya berhak untuk melakukan apapun disekolah ini. Kalian lupa siapa aku, eoh? Beruntung aku tidak meminta orang tuaku untuk memecat orang tua kalian masing-masing. Biarpun begini, aku juga masih punya perasaan. " jelas Donghae.
" Geundae o-oppa, a-apa yang harus kami katakan pada orang tua kami nanti? Oppa, kami mohon jangan keluarkan kami. " mohon yeoja dengan rambut panjang bergelombang sambil menangkupkan kedua tangannya.
Donghae membuang muka sejenak lalu kembali menatap yeoja itu sambil menyeringai. " Apa itu urusanku? Kurasa bukan. Kalian yang berbuat hal tersebut, kalian juga yang harus menerima konsekuensinya. Ara? Annyeong.. " jawab Donghae kemudian berlalu dari hadapan para yeoja itu yang kini tengah meratapi nasib mereka masing-masing.
*Yesung POV*
Aku menatap wajah Donghae yang sedari tadi terus tersenyum. Yah, aku merasa maklum saja. Hari ini dia sudah berhasil membuat tiga orang siswa disekolah ini dipermalukan didepan umum. Belum lagi mereka juga harus dikeluarkan.
Tapi kurasa, itu memang ganjaran yang pantas untuk mereka. Perbuatan mereka pada Hyuk Jae memang sudah sangat keterlaluan.
" Kalian masuklah duluan, aku ingin ke toilet. " ucapku lalu berbalik dan berjalan menuju toilet.
Namun secara tak sengaja, kedua mataku melihat Ryeowook yang sedang duduk sendirian dikursi panjang dan berada tepat dibawah pohon maple. Aku menoleh kebelakang, takut jika Donghae, Kyuhyun juga Zhou Mi masih berada didekat sini.
Setelah kupastikan aman, aku berjalan mndekatinya yang masih saja asik fokus membaca.
" Wookie. " panggilku saat sudah berdiri disampingnya.
Ia mendongak dan tak lama tersenyum menatapku. " Yesung hyung. Annyeong.. anjja. " ucapnya seraya menepuk sisi kanannya yang kosong.
Aku mengangguk dan duduk disampingnya. " Hyung tumben tidak bersama yang lain. " ucapnya.
" Aku.. yah, aku hanya ingin berjalan sendirian saja. Hehe.. " bohongku.
Ia mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda mengerti. Aku menatap kearah kedua matanya intens. Bukan, bukan tepat pada matanya. Melainkan pada kacamata yang dipakainya.
" Wookie, itu kacamata yang dibelikan oleh eomma'mu? " tanyaku.
" Eoh? Ne hyung. Bagus kan? Aku sangat menyukainya. " jawabnya sambil tersenyum.
" Ne. Geundae.. eomma'mu membelinya dimana? "sepertinya aku merasa familiar dengan model kacamata itu.
" Hm.. eomma tidak membelinya hyung. Bisa dibilang, ahjumma yang mempunyai toko kacamata ini memberikannya pada eomma secara gratis. Dia bilang, karena aku anak eomma, teman dekatnya. "
" Apakah toko kacamatanya terletak di daerah Myeongdong? " tanyaku lagi.
Ia mengangguk cepat. " Wae? " tanyanya bingung.
Aku terkekeh pelan. Pantas saja aku mengenalnya. " Kau tahu nama dari toko kacamata itu? " tanyaku. Ia menggeleng pelan.
" Namanya Why Style. " ucapku.
" Kenapa hyung bisa tahu? " tanyanya bingung.
Aku tersenyum. " Karena aku adalah anak dari pemilik toko kacamata itu Wookie. "
" MWO?! " pekiknya.
Kedua matanya mengerjap lucu. Aku bahkan sampai terkikik geli melihatnya.
" Mian jika membuatmu terkejut Wookie-ah. Hehe.. " ucapku.
Dia mengalihkan wajahnya. Masih dengan raut wajah yang sedikit terkejut. " Wookie-ah, gwaenchana? " tanyaku sambil memegang bahunya.
" G-gwaenchana hyung. A-aku.. hanya sedikit terkejut saja. " jawabnya pelan.
" Mian, ne? " kataku.
" Gwaenchana hyung. Aku saja yang berlebihan. Hehehe.. " jawabnya sambil memperlihatkan sederetan gigi putihnya.
Tak lama, bel pertanda jam pelajaran pertama terdengar. Kulihat dia menutup buku yang tadi dibacanya.
" Hyung, sudah masuk. Aku masuk ke kelas duluan ya. Sampai nanti hyung. Annyeong.. " pamitnya dan segera menuju kelasnya.
Aku tersenyum. Yah.. aku-benar-benar menyu- ah! Ani! Mencintainya.
*Donghae POV*
Kedua kakiku terus melangkah melewati lorong kelas yang sudah sepi untuk menuju kelas Hyukie. Yah, jam istirahat baru saja dimulai. Hari ini, aku akan mengajak Hyukie untuk makan siang bersama di atap sekolah.
Saat sudah sampai diambang pintu kelasnya, kedua mataku mulai mencari Hyukie diruangan tersebut. Tapi nihil, dia tak ada disini.
" Ah, mian, kau temannya Hyukie kan? " tanyaku pada salah satu namja dengan tubuh mungil yang baru saja akan keluar kelas.
Ia mengangguk dan menatapku bingung. " Hyung mencari Hyukie hyung? " tanyanya.
" Ne, apa kau tahu ada dimana dia sekarang? Karena.. aku ada urusan dengannya. " jawabku.
" Hm.. seingatku tadi dia bilang ingin pergi ke halaman belakang sekolah. Katanya ingin mencari udara segar. " jawabnya.
" Oh.. kalau begitu aku pergi menyusulnya saja. Gomawo ne. " ucapku dan kemudian melangkah menuju halaman belakang.
.
.
.
" Hyu- " niatku untuk memanggilnya urung seketika saat melihat pemandangan didepanku.
Kukepalkan kedua tanganku erat sambil menatap dua orang yang tengah berciuman di depanku dengan tajam. Amarahku pun muncul seketika.
" HYUKIE! " teriakku.
Kulihat dia mendorong namja bertubuh lebih tegap darinya kasar dan menatapku dengan kedua matanya yang membulat.
" H-Hae.. " panggilnya.
" Neo.. " geramku.
Ia berjalan mendekatiku dengan tergesa. " Hae, ini tak seperti yang kau pikirkan. Dia- "
PLAK
" Kau.. DASAR NAMJA MURAHAN! " makiku.
Dia menatapku tak percaya sambil memegangi pipi kirinya yang memerah akibat tamparanku.
" H-Hae.. Aku berani bersumpah ini tak seperti yang kau pikirkan. Hiks.. Hae.. " ucapnya lalu terisak.
Aku tersenyum remeh. " Tak seperti yang kupikirkan katamu?! Lalu apa namanya tadi?! Aku melihatmu berciuman dengan namja lain sementara kau sudah punya kekasih! Apa namanya, hah?! " teriakku.
" Hiks.. hiks.. H-Hae.. d-dia yang memaksa untuk menciumku.. hiks.. B-bukan aku.. Hiks. Kumohon percaya padaku.. "
" Mwo? Memaksa katamu? Seharusnya kau menolaknya dan bukan malah membiarkannya! " bentakku.
" H-Hae.. hiks.. hiks.. a-aku sudah b-berusaha memberontak.. hiks.. t-tapi tenaganya terlalu kuat.. d-dan dia terus memaksa..hiks.. hiks.. Hae.. kumohon percayalah. " pintanya.
" Cih! Aku tak akan mudah percaya begitu saja padamu. Aku menyayangimu, melindungimu dan bahkan mencintaimu dengan tulus. Tapi apa yang kudapat, hah?! Kau berciuman dengan namja lain! Aku sakit melihatnya Hyukie! Kau mengkhianatiku! "
" Hiks.. Hae.. a-aku bersumpah demi apapun.. hiks.. aku tidak mengkhianatimu.. hiks.. "
" Kau.. mulai sekarang, menjauhlah dariku. Aku tak ingin melihatmu. Jangan pernah temui aku lagi. Kau mengerti?! " ucapku dan mulai berbalik meninggalkannya.
Menghiraukan dirinya yang berteriak memanggilku dengan disertai isak tangis.
Aku tak perduli! Dia.. sudah mengkhianatiku.
*Sungmin POV*
Aku dan Wookie menatap iba pada Hyukie yang saat ini masih menangis dengan kencangnya disampingku. Bahkan, pipi kirinya masih terlihat merah. Bekas tamparan Donghae sunbaenim tadi.
" Hyung.. sudahlah.. uljima, ne? " ucap Wookie sambil mengelus punggung Hyukie untuk sekedar menenangkannya.
Ya, Hyukie sudah menceritakan semuanya padaku dan juga Wookie. Dan aku juga tak habis pikir kenapa Donghae sunbaenim bisa melakukan hal ini padanya.
Hei! Dengan mendengar penjelasan dari Hyukie saja aku sudah tahu siapa yang salah disini. Kenapa dia yang berstatus sebagai kekasihnya malah tidak percaya padanya?
" Hiks.. a-aku.. hiks.. aku.. harus bagaimana? H-Hae hyung.. hiks.. t-tidak percaya lagi padaku.. hiks.. hiks.. " ucapnya disela isak tangis.
Aku menghela nafas pelan. " Ne, kami tahu perasaanmu bagaimana saat ini Hyukie. Tapi, untuk sementara waktu, biarkan dia sendiri dulu, ne? Dia pasti membutuhkan waktu untuk hal ini. Nanti, jika waktunya sudah sedikit tenang, kau bisa menemuinya dan menjelaskan masalah ini dari awal. Ara? "
" Ani hyung.. hiks.. d-dia bahkan.. m-menyuruhku untuk tidak menemuinya.. hiks.. hiks.. bagaimana.. a-aku mau menjelaskan padanya? Hiks.. "
" Hyung.. semua butuh waktu. Aku percaya, dia pasti mau mendengarkannya. Tapi tidak untuk saat ini. Dia terlalu termakan rasa cemburunya yang besar. " ujar Wookie.
" Ne, yang dikatakan Wookie benar. Sudahlah, uljima.. " bujukku.
Haahh~ .. entah kenapa, aku jadi merasa ikut sakit dan sedih melihatnya seperti ini.
*Author POV*
Satu minggu terlewati sudah. Dan selama satu minggu itu juga, Donghae menjadi pribadi yang lebih dingin dari sifat aslinya. Yesung, Kyuhyun, Zhou Mi dan juga Henry, sudah tahu akar masalah dari perubahan sikap Donghae itu. Menurut mereka, Donghae juga salah mengambil tindakan. Setiap harinya mereka selalu berusaha san membujuk Donghae untuk mau menemui Hyukie dan mendengar penjelasan dari namja manis itu. Tapi yang ada, Donghae malah akan memarahi dan mengancam balik mereka semua.
Sementara Hyuk Jae, dia selalu mencoba untuk menemui Donghae, meneleponnya, mengiriminya pesan. Tapi hasilnya.. nihil! Donghae sama sekali menolak untuk kembali berhubungan dengannya. Dan itu membuat Hyuk Jae menjadi sering menangis. Jika sudah seperti itu, Sungmin dan Ryeowook lah yang akan turun tangan untuk menenangkan dan menyemangatinya.
Seperti sekarang ini, Hyuk Jae hanya menatap kosong kearah lantai tempat kerjanya. Memikirkan tentang masalah hubungannya dengan Donghae.
" Hyukie hyung. " panggil Kibum yang membuyarkan lamunan Hyuk Jae.
Hyuk Jae menoleh dan mendapati Kibum yang sudah berdiri disampingnya, menatapnya khawatir. " Hyung, neo gwaenchana? " tanyanya.
Hyuk Jae tersenyum dan mengangguk pelan. " Nan gwaenchana. " jawabnya kemudian kembali menatap lantai.
" Hyung, lebih baik hyung pulang saja. Aku lihat, kondisimu sedang tidak baik. Pulanglah, ne? " titah Kibum.
Hyuk Jae kembali menoleh padanya. " Gwaenchana Bumie-ah. Aku hanya sedikit lelah. Sebentar lagi juga lelahnya hilang "
" Ani! Pokoknya hyung harus pulang dan istirahat! Atau aku akan marah. " ancam Kibum.
Hyuk Jae menghela nafas pelan. Lebih baik dia mengalah daripada masalahnya bertambah.
.
.
.
Hyuk Jae melangkah dengan kepala tertunduk melewati gang yang cukup sempit untuk menuju rumahnya. Sesekali terdengar helaan nafas berat darinya. Entah apa yang harus dilakukannya lagi agar Donghae mau bertemu dan mendengarkan penjelasannya. Bisa dibilang, ia sudah merasa putus asa.
Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat kedua matanya menatap sepasang kaki seseorang yang berhenti tepat didepannya. Ia mendongak. Dan seketika itu pula kedua matanya membulat.
" Annyeong.. Hyukie.. " sapa namja bertubuh tegap dengan setelan jas hitam didepannya.
Keringat dingin langsung mengucur deras dipelipisnya. Badannya sedikit gemetar karena merasa takut. " H-hyung.. " gumamnya lirih.
Namja itu mengeluarkan smirk'nya yang mengerikan. " Ne, ini aku Hyukie. Lama tak berjumpa. Tapi, sudah saatnya, kau kembali ke rumah. " ucap namja itu yang semakin membuat Hyuk Jae ketakutan.
TBC..
Jangan lupa untuk RnR ya ^^
Gamsahamnida untuk yang sudah mereview di chapter kemarin ^^
See you ^^
