Story About Life and Love

.

.

.

Cast : HaeHyuk, YeWook, KyuMin, Siwon

Other : Kibum, ZhouRy, KangTeuk, HanChul, etc..

.

.

.

Romance, Hurt/Comfort

.

.

.

Enjoyed The Stories


*Hyuk Jae POV*

Eotteokhae?

Bagaimana ini?

Dia.. datang kemari menemuiku, untuk membawaku pulang? Hyung'ku. Hyung angkatku yang seharusnya tak tahu keberadaanku, kini berdiri tegap dihadapanku. Untuk kembali membawaku kesana? Andwae! Aku tak mau!

" Hyukie.. " panggilnya lembut, namun terdengar sangat mengerikan ditelingaku.

Aku melihatnya yang sedang tersenyum menakutkan padaku. Aku menggeleng pertanda menolaknya. " S-shireo h-hyung. A-aku tak mau pulang. " tolakku.

" Hm? Wae, eoh? Kau tak merinduhkan rumah lama'mu Hyukie? " tanyanya seraya bergerak mendekat padaku.

Aku melangkah mundur untuk menjauhinya.

Rumah? Bagiku itu bukan rumah setelah kedua orang tuanya meninggal. Itu lebih tepat disebut neraka.

" A-aku tak mau. Aku tak merindukannya. " ucapku.

Kudengar dia terkekeh pelan dan kembali menatapku. " Hyukie, jangan begitu. Ayo pulang bersama hyung. " ajaknya sambil mengulurkan tangannya padaku.

Lagi, aku menggeleng kuat. " Shireo! " tolakku dengan sedikit berteriak.

Penglihatanku sudah sedikit samar karena air mata yang menggenang dipelupuk mataku. Aku tak ingin kembali kesana!

" Pulang bersamaku Hyukie. Jangan sampai aku menggunakan cara kasar untuk membawamu kembali kesana. " ancamnya dengan tatapan tajam padaku.

" Shireo! Aku bilang aku tak mau! Hiks.. " satu isakkan keluar dari mulutku. Aku ingin lari dari sini. Tapi tak mungkin. Melihat enam orang bodyguard'nya kini telah bersiap siaga disekitarku.

" Baik. Kau yang memaksaku untuk kembali berlaku kasar padamu Hyukie! Kalian semua, seret dia kedalam mobil! Kita pulang sekarang juga! "

Kedua mataku membulat. Dua dari enam orang itu kini mulai memegang kedua lenganku dan menyeretku. Aku tak mau!

" Lepaskan aku! Andwae! Shireo! Hyung jebal, aku tak mau pulang.. hiks.. Hyung.. hiks.. Siwon hyung! " panggilku sambil terus meronta. Namun dia sama sekali tak mau mendengarkanku yang berteriak memanggilnya.

Bugh

" Akh! " aku memekik saat salah satu diantara kedua orang yang memegangku memukul tengkukku. Dan tak lama, yang kulihat hanyalah kegelapan.

*Author POV*

PRAANG!

" Akh! "

Leeteuk memekik sakit saat piring yang akan dicucinya tak sengaja jatuh. Menyebabkan pecahan piring tersebut mengenai mata kakinya dan mengeluarkan darah yang tak terlalu banyak.

" Eomma/Yeobo! " panggil Sungmin dan Kangin bersamaan saat mereka mendengar Leeteuk berteriak dari arah dapur.

" Eomma gwaenchana? Kenapa eomma tidak berhati-hati? " tanya Sungmin cemas sambil memegang kaki sang eomma.

" Yeobo, kakimu tak apa-apa? " kali ini Kangin yang bertanya dengan raut wajah yang sama seperti Sungmin. Dipapahnya Leeteuk untuk duduk dimeja makan mereka.

Leeteuk mengangguk pelan. Tapi entah kenapa perasaannya menjadi tak tenang.

" Yeobo, wae geurae, eoh? " tanya Kangin. Sementara Sungmin kini tengah membereskan pecahan beling tersebut dan berjalan ke halaman belakang rumah untuk membuangnya.

Leeteuk menoleh pada Kangin yang berdiri tepat disampingnya. " Kangin-ah.. perasaanku.. tak enak. " ucap Leeteuk sambil memegang dada sebelah kirinya.

Kangin mengernyit bingung. " Mwo? Wae? "

" H-Hyuk Jae. Ani! Eunhyuk! Aku.. merasa.. sesuatu terjadi padanya. Kangin-ah, eotteokhae? " tanya Leeteuk dengan cemasnya.

Kedua matanya telah memerah menahan tangis.

Kangin mengusap punggung Leeteuk. Berusaha menenangkannya.

" Tenanglah.. ne? Aku yakin, eunhyuk tak apa-apa. Sekarang kita obati dulu kakimu, ara? " ucapnya lalu segera mengambil kotak obat yang letaknya tak jauh dari sana dan mulai mengobati kaki Leeteuk.

Sungmin yang sedikit menguping pembicaraan mereka, menatap appa dan eomma'nya bergantian. Hyuk Jae? Eunhyuk? Apakah orang yang dimaksud oleh kedua orang tua angkatnya itu adalah Hyuk Jae teman sekolahnya?

" Appa, eomma.. " panggilnya seraya mendekati Kangin dan Leeteuk.

Sepasang suami isteri itu mendongak bersamaan untuk menatap Sungmin. Sungmin menghentikan langkahnya. Berdiri tepat didepan kedua orang tua angkatnya tersebut.

" Apa.. Hyuk Jae yang kalian maksud adalah.. Hyuk Jae yang menjadi siswa di Seuta High School? " tanya Sungmin ragu.

Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Sungmin tadi, membuat mereka saling bertatapan sejenak. Dan tak lama, Kangin mengangguk pelan.

Leeteuk kembali menoleh pada Sungmin sambil tersenyum. " Minie-ah.. kita bicarakan ini di ruang keluarga saja. Eomma dan appa akan memberitahumu satu hal. " ucap Leeteuk tanpa menjawab pertanyaan anak angkat yang disayanginya tersebut.

.

.

.

Sungmin menatap tak percaya pada Leeteuk dan Kangin.

" J-jadi.. Hyu-Hyukie.. anak kandung.. eomma dan.. appa? Dan.. nama asli yang diberikan oleh.. eomma dan appa adalah.. Lee Eunhyuk? " tanya Sungmin ragu.

Sepasang suami isteri itu mengangguk bersamaan.

Jadi selama ini, anak yang berusaha Sungmin cari dengan usahanya sendiri, berada didekatnya? Sangat dekat malah.

Leeteuk menggenggam tangan Sungmin erat. " Minie-ah, eomma dan appa minta maaf jika selama ini, sudah merahasiakannya darimu. Jangan marah pada kami, ne? " pintanya.

Sungmin menatap eomma'nya sendu. Lalu tak lama, ia tersenyum dan mengusap tangan Leeteuk yang menggegamnya.

" Aku tak marah eomma. Karena aku tak berhak untuk melakukan hal itu. Eomma dan appa telah menemukannya, aku juga ikut bahagia. " ucapnya.

" Gomawo Minie-ah. Gomawo.. eomma dan appa menyayangimu. Sangat! " ujar Leeteuk seraya memeluk Sungmin.

Sungmin mengangguk pelan. " Ne eomma. Nado.. " balasnya. Kangin yang melihatnya hanya tersenyum lembut.

*Donghae POV*

" Aarrgh! " aku menggeram kesal sambil mengacak kasar rambutku.

Ada apa denganku? Kenapa dari tadi susah sekali untuk tidur? Dan kenapa perasaanku jadi tidak tenang begini? Seakan sulit untuk bernafas. Lalu, kenapa bayang wajah Hyukie terus berputar dikepalaku? Apa terjadi sesuatu padanya?

Ah! Ani! Dia pasti baik-baik saja. Ini mungkin karena rasa bersalahku padanya hingga aku terus teringat padanya.

" Hhh~ " kuhela nafas pelan.

Jika boleh jujur, aku merindukannya. Sangat merindukannya. Ingin sekali aku bertemu dan memeluknya. Mengucapkan kata maaf dan memohonnya untuk kembali padaku. Tapi, setiap aku ingin melakukan hal itu, kejadian beberapa hari yang lalu dimana aku mendapatinya sedang berciuman dengan namja lain, amarahku langsung memuncak.

Apa yang harus kulakukan sekarang?

.

.

.

Pagi ini, baru saja aku hendak masuk ke kelas, Yesung hyung sudah menahanku terlebih dulu dan menyuruhku masuk ke dalam ruangan tempat biasa kami berkumpul.

Dan jadilah aku disini. Duduk berseberangan dengan tiga orang sahabatku yang kini sedang menatapku tajam. Aku sudah bisa menebak apa yang akan mereka bicarakan padaku.

" Kurasa cukup sampai disini saja Hae. Kau sudah keterlaluan pada Hyukie. " ucap Yesung hyung mulai serius.

Bingo! Kenapa selalu ini saja yang mereka bicarakan padaku. Hei! Ini masalah pribadiku.

" Keterlaluan bagaimana? Aku memang sudah seharusnya bersikap seperti ini padanya. " jawabku.

Kyuhyun berdecak kesal. " Tapi kau menyakitinya hyung. Kau tak sadar? "

Aku menatapnya tajam. " Menyakitinya kau bilang? Hei bocah evil! Seharusnya kau juga memikirkan perasaanku. Aku juga sakit disini. Bahkan lebih! Aku sudah jelas melihatnya berciuman dengan namja lain. " jelasku.

" Tapi tidak dengan cara seperti ini Hae. Kau membuat semuanya semakin menjadi rumit. Setidaknya berikan dia kesempatan untuk menjelaskannya. Bukannya malah bertindak sengan gegabah. " kali ini Zhou Min yang berucap.

" Ck! Semakin rumit apanya? Dan siapa yang bertindak gegabah? Kalian tahu kan, jika aku sangat menyayangi dan mencitainya? Tapi apa yang dilakukannya padaku? Berkhianat! Kurasa aku tak perlu mendengarkan penjelasannya lagi, karen kedua mataku sudah cukup untuk menjadi bukti bahwa dia berselingkuh. " jelasku dan mulai bangkit berdiri.

" Duduklah dulu Hae, kami belum selesai bicara. " ucap Yesung hyung.

" Shireo! Kalian dengar, ini masalah ku. Masalah pribadiku! Kalian tak berhak untuk ikut mencampurinya! " kesalku dan mulai beranjak keluar.

" Hyung! " panggil Kyuhyun seraya berdiri untuk mengejar Donghae. Namun Zhou Mi menahannya lebih dulu.

" Biarkan saja dia. " ucapnya.

Kyuhyun berdecak sebal dan menjatuhkan tubuhnya disofa.

" Dia memang keras kepala dan egois. " kata Kyuhyun kesal.

.

.

.

Kedua mata yang tadinya terpejam itu terbuka dan mengerjap pelan saat bias cahaya matahari masuk kedalam kamarnya. Ia menatap kesekeliling kamar dan seketika itu juga mulai mendudukkan dirinya diatas kasur.

Namja manis itu –Hyuk Jae- memeluk kedua kakinya yang ditekuk dan menenggelamkan wajahnya disana. Kedua bahunya bergetar menandakan ia telah menangis sekarang.

" Hyung.. hiks.. Hae hyung.. hiks.. hiks.. " racaunya disela isak tangis.

Cklek.

Pintu bercat putih itu terbuka. Memperlihatkan seorang namja tampan dengan dimple smile'nya masuk sambil membawa sepiring makanan dan segelas susu untuk namja manis tersebut.

" Rupanya kau sudah bangun Hyukie. " ucap namja tampan itu seraya menaruh piring dan segelas susu itu diatas meja kecil.

Hyuk Jae mendongak. Menatap namja itu dengan sendu dan mata yang memerah.

" Wae Hyukie? Kenapa menangis, eoh? " tanya namja tersebut sambil mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Hyuk Jae. Namun namja manis itu menghindar.

" A-aku.. m-mau pulang hyung. Hiks.. " jawabnya.

Namja itu mengernyitkan dahinya. " Bukankah rumahmu disini, heum? Kau sudah pulang sekarang. "

" Ani! " Hyuk Jae menggeleng. " I-ini bukan rumahku.. hiks.. Ini rumahmu. Hanya rumahmu! Rumahku di Seoul. Hiks.. hiks.. B-biarkan aku pulang. " ucapnya.

" Cih! Sejak kapan rumahmu berada disana, huh?! Mulai sekarang dan seterusnya, ini adalah rumahmu! Arasseo?! " bentak namja itu seraya berdiri dari posisinya.

" A-aniya Siwon hyung. Aku mau pulang.. hiks.. kumohon.. hiks.. hiks.. " pinta Hyuk Jae.

Siwon –namja bertubuh tegap itu- menyeringai. " Aku tak mau. Kau harus tetap berada disini. Bersamaku. Meskipun kau tak mau, tapi kau harus tetap berada disisiku. Dan jangan sekali-sekali kau mencoba untuk kembali kabur dari rumah ini, jika kau tak ingin aku berbuat kasar padamu. Kau mengerti? "

Hyuk Jae mendongak. Menatap Siwon dengan penuh kebencian. " Bukankah kau selalu berbuat kasar semenjak Choi abeoji dan Choi eommoni meninggal, huh? Jadi tak usah bersikap lembut dihadapanku untuk kau jadikan topeng. " ucapnya.

Siwon mengepalkan kedua tangannya erat. " Kau tahu? Aku mencintaimu Hyukie. Karena itulah aku bersusah payah membawamu kembali kemari. Jangan membuat semuanya menjadi runyam hanya karena tingkahmu ini. " ujar Siwon tajam.

" Mwo? Mencintaiku kau bilang? Hyung, ini obsesi namanya! Bukan cinta! Dan kau tahu? Secara tak kau sadari kau menyakitiku! "

PLAK

Hyuk Jae meringis pelan saat Siwon menampar pipinya. " DIAM DAN TURUTI SAJA PERINTAHKU! KAU HARUS TETAP DISINI! SUKA ATAU TIDAK! KAU MENGERTI! " teriak Siwon dan segera melangkah keluar dari kamar itu lalu mengunci pintunya.

Hyuk Jae kembali terisak sambil memegangi pipi kanannya yang memerah akibat tamparan keras Siwon.

" Tapi aku.. tidak mencintaimu hyung.. hiks.. hiks.. aku.. mencintai Donghae hyung.. hiks.. hiks.. aku mau pulang.. hiks.. " gumamnya.

*Kyuhyun POV*

Aku menatap Minie hyung yang duduk disebelahku dengan gelisah. Sedari tadi, ia terus saja meremas kedua telapak tangannya. Hei, bahkan tangannya sudah memerah. Sebenarnya dia ini kenapa?

" Hyung. " panggilku lembut sambil menggenggam tangannya. Guna untuk menghentikan remasannya. " Wae geurae, eoh? Kau tampak gelisah. Apa terjadi sesuatu? " tanyaku.

Ia menatapku sambil menggigit bibir bawahnya. " Hei, jangan digigit. Nanti bibirmu terluka. Tanganmu saja sudah memerah karena terus kau remas tadi. " ucapku sambil mengelus pipinya.

" Ng~ .. Hyukie. " katanya.

" Ne? "

" Hyukie.. aku khawatir dengannya. Tidak biasanya ia membolos sekolah. " jawabnya dengan raut wajah yang sangat cemas.

Aku mengernyit bingung. " Tidak masuk? " tanyaku. Ia mengangguk pelan.

" Hm.. mungkin ia sedang sakit atau mungkin sedang ada urusan mendadak. Sudahlah, jangan cemas. Ne? " kataku seraya mengelus punggungnya lembut.

Kulihat dia menggeleng. " Aniya Kyu. Biasanya dia akan mengirimkan pesan padaku jika dia sedang berhalangan. Tapi ini tidak. Entah kenapa, perasaanku juga tak enak. " jelasnya.

Oke! Ucapannya tadi juga sanggup untuk membuat perasaanku jadi tak tenang sekarang. Bagaimanapun juga, aku ini sudah mengenal Hyuk Jae. Yah, walaupun tidak terlalu dekat.

Aku tersenyum. Mencoba untuk kembali menenangkan hatinya. " Gwaenchana. Aku yakin dia pasti baik-baik saja. Mungkin itu hanya perasaanmu saja hyung. " ucapku.

*Ryeowook POV*

Aku menatap bangku tempat Hyukie hyung bingung. Tidak biasanya ia tidak masuk sekolah. Sekalipun tidak masuk, pastinya dia akan memberitahu aku atau Minie hyung. Tapi kenapa sekarang tak ada kabar apapun darinya? Aku jadi khawatir.

Puk!

Aku menoleh saat seseorang menepuk bahuku. Kulihat Yesung hyung yang sedang berdiri disampingku sambil tersenyum. Dan tentu saja dengan tangan yang masih setia berada diatas bahuku.

" Hyung? Tumben ke kelasku. Ada apa? " tanyaku sambil sesekali melirik kearah siswa lain yang berada dikelasku. Lihatlah, mereka semua menatap ke arah kami.

" Hanya ingin bertemu denganmu saja. " jawab Yesung hyung yang langsung membuatku menoleh padanya.

Aku mengerjap pelan. " Bertemu denganku? " tanyaku sambil mengarahkan telunjujkku tepat didepan wajah.

Ia mengangguk sebagai jawaban.

" Hm.. boleh hyung duduk disebelahmu? " tanyanya.

" Boleh saja. Tapi.. " aku menghentikan ucapanku dan kembali menatap para yeoja maupun namja dikelas ini. Kini mereka semua tengah berbisik-bisik sambil memandang kearahku.

" Hm? Tak usah hiraukan mereka. Hyung duduk disini ya. " celetuknya dan segera duduk dibangku kosong milik teman sebangku'ku.

Aku hanya menatapnya saja. Sepertinya dia ini benar-benar orang yang cuek.

" Hyukie kemana? Dari tadi aku tak melihatnya. "

Aku mengangkat kedua bahuku. " Mollayo. Dia tidak masuk hari ini. Aku sendiri juga bingung. Biasanya dia akan mengirimkan pesan padaku atau pada Minie hyung. Tapi kali ini tidak. Jujur, aku sendiri juga jadi khawatir. Aku takut dia sakit. Dia kan tinggal sendiri di Seoul. " jawabku panjang lebar.

Ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara aku mulai kembali membuka buku novel'ku dan membacanya.

" Wookie-ah.. " panggilnya.

" Ne? " sahutku tanpa menoleh.

" Hm.. nanti malam apa kau ada acara? " tanyanya.

Aku menghentikan aktivitas membacaku dan mulai berpikir. " Seingatku tak ada. Wae hyung? " jawabku dan bertanya balik sambil menatapnya.

" Aniya~ .. hanya ingin mengajakmu jalan dan makan diluar. Kau mau? "

Aku terdiam. Yesung hyung mengajakku jalan dan makan bersama? Hei! Tentu saja aku mau. Aku sudah menanti-nantikan moment ini.

" Wookie? " panggil Yesung hyung lagi yang membuyarkan lamunanku.

" N-ne hyung. Aku mau. " jawabku.

Dia tersenyum lega. " Arasseo. Nanti hyung akan menjemputmu jam tujuh malam. Tolong kirimkan alamat rumahmu pada hyung ya. " ucapnya.

Aku mengangguk cepat sambil tersenyum. Akhirnya aku bisa jalan berdua dengan Yesung hyung.

*Hyuk Jae POV*

Aku meringkuk diatas kasur yang sudah lama tak kutempati. Yah, setelah aku kabur dari tempat ini beberapa waktu lalu. Tapi nuansa kamar ini tetap saja sama. Tak ada yang berbeda. Bahkan, hawa'nya pun tak ada bedanya. Masih tetap membuatku merasa takut dan seakan ingin berlari kabur untuk yang kedua kalinya.

Yah! Ini adalah rumah keluarga Choi. Keluarga yang dulu mengangkatku untuk menjadi anaknya dan keluarga yang sangat mencintaiku layaknya anak kandung mereka sendiri. Tapi, saat mereka telah meninggal, rumah ini terasa seperti neraka dan mengerikan bagiku.

Choi Siwon, anak mereka, seakan berubah menjadi monster yang menakutkan. Ia sering berlaku kasar padaku jika dia sedang dalam keadaan kacau. Dia juga sering memukulku jika aku berdekatan dengan namja lain atau hendak pergi keluar. Dan berakhir dengan mengurungku dikamar ini.

Dia bilang, jika dia mencintaiku. Tapi aku sama sekali tak menganggap perlakuannya itu sebagai bentuk rasa cintanya padaku. Dia terlihat seperti seorang pshyco. Dan sudah kupastikan dia tidak mencintaiku. Dia hanya terobsesi padaku.

" Aku mau pulang… " racauku entah untuk yang keberapa kalinya.

Seketika bayangan Donghae hyung muncul dipikiranku. Aku merindukannya. Aku butuh pelukkannya untuk menenangkanku saat ini.

" Hiks.. Hae hyung.. hiks.. selamatkan aku.. hiks.. hiks.. " ucapku dan mulai menangis.

Aku melirik kearah luar jendela. Menatap langit malam yang malam ini entah kenapa tidak menunjukkan satu bintang'pun. Kuusap air mata dikedua pipiku kasar dan berjalan mendekati jendela itu.

Kuhela nafas pelan sambil mendongak. Pikiranku masih tertuju pada Donghae hyung. Bagaimana dia sekarang. Apa dia masih marah padaku?

" Hyung.. bogoshipeo.. " ujarku lirih.

Aku mengernyit saat tangan kananku tak sengaja menyenggol saku jaket yang kugunakan. Seperti ada benda yang keras didalamnya. Segera kurogoh saku jaket'ku dan mengeluarkan beda tersebut yang ternyata adalah ponselku.

Aigo! Jinjja paboya Lee Hyuk Jae! Bagaimana bisa aku melupakan barang yang sepenting ini?

Dengan cepat, aku menekan angka 1 di ponsel layar sentuhku. Cukup lama memang. Tapi, akhirnya orang yang kuhubungi menerima panggilanku juga.

*Donghae POV*

" Hae hyung..! "

Panggil Hyukie dari line telepon. Bahkan aku sampai sedikit menjauhkan ponselku dari telingaku. Suaranya kencang sekali.

" Ne. " sahutku malas setelah kudekatkan kembali ponselku ketelinga.

" H-hyung a- "

" Kalau tak ada yang penting, tak usah meneleponku. Kau mengganggu saja! " ketusku.

Tak ada sahutan lagi darinya. Mungkin terkejut dengan ucapanku barusan. Sebenarnya, aku juga tak ingin berbicara dengan nada seperti itu padanya. Tapi.. yah entah kenapa meluncur begitu saja dari mulutku.

" Hyung aku- "

' BRAK! '

" LEE HYUK JAE ! '

Aku terkejut saat mendengar seseorang berteriak setelah sebelumnya seperti mendobrak pintu. Aku tak pernah mendengar suara namja itu sebelumnya. Dan hei! Perasaanku benar-benar tak enak sekarang.

" Yeoboseyo? Hyukie? Kau masih disana? Ya! Jawab aku! Kau masih disana?! " tanyaku sedikit berteriak saat beberapa menit tak mendengar suaranya.

" H-hyung.. hiks.. Hae hyung tolong aku.. hiks.. AKH! "

Kedua mataku membulat. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia meminta tolong dan memekik seperti itu? Ada apa dengannya?

" Hyukie?! Hyukie gwaenchana?! Hyukie! "

" Hiks.. Akh! Andwae! Siwon hyung.. a-appo! Geumanhi! Akh! Hiks.. H-hae hyung..! '

" DIAM! JANGAN KAU PANGGIL LAGI NAMA NAMJA BRENGSEK ITU! "

Ya! Siapa yang beraninya membuat Hyukie menangis begitu? Dan siapa namja yang membentaknya tadi?

" Hyu- "

' Tuuuuuttttt… '

" YA! HYUKIE! KENAPA DIMATIKAN? HYUKIE?! " teriakku saat sambungan terputus.

Aissh!

Perasaanku bercampur menjadi satu sekarang. Gelisah, takut, marah. Ingin sekali aku menghajar namja itu tadi. Dan siapa namanya? Siwon? Bahkan aku saja baru mendengar namanya.

" Hyukie.. gwanchanayo? " tanyaku pada diri sendiri.

Kuremas rambutku erat. Aku harus mencari tahunya. Ya! Aku harus cepat mencari tahu keberadaan Hyukie sekarang.

TBC

Hayo Hayo..

Tentang Hyukie yang teriak-teriak begitu jangan berpikiran macam-macam dl ya readers..

haha..

Oh ya, selamat menunaikan ibadah puasa ya bagi yg menjalankan^^

RnR jangan lupa ya^^

See you in next chapter..

Gomawo bagi yg udah mau review kemarin^^

SARANGHAE MY READERS^^