Love And War [Part 2]
Author: IndriChoi
Cast:
Choi Siwon
Shin Hyohyun (OC)
Choi Minho
Cho Kyuhyun
Choi Sena (Minho's Mother)
Genre: Romance, Family, Hurt
Rating: PG-13
Length: Series
Recommended Songs:
Baek Jiyoung-Acacia
LEDApple- I'll be there for you
Lee Sang Gon – My Love is Hurt
Blog: .com
This story out from my mind! IndriChoisw, Just for fun^^
.
Happy Reading^^
.
Apapun yang dunia ingin lakukan aku tak peduli, ini bukan kehidupan yang aku inginkan. Apa arti semua yang aku dapatkan, jika itu tak akan bisa membuatku hidup bahagia. Apa harus dengan sebuah obsesi agar aku dapat bertahan disini ataukah aku harus mempertaruhkan segalanya yang aku miliki hanya untuk mendapatkan sesuatu yang sejak awal memang aku tak pernah menginginkannya.
Sejak tadi Minho tak pernah mengalihkan pandangannya menatap air sungai yang begitu tenang dihadapannya kini. Ia sibuk mengamati air yang begitu tenang itu, seakan ingin sekali ia seperti air itu, tenang tanpa harus terbebani oleh peliknya kehidupan. Minho menghela nafasnya, sejenak ia tertunduk. Diusianya yang beranjak menuju usia dewasa, berbagai tekanan ia terima terutama dari ibunya. Sebagai salah satu putra dari orang terpandang di korea, tentu Minho tak bisa seenaknya berperilaku. Sedikit saja cela yang ia torehkan pada keluarga ini, akan sangat berpengaruh terhadap reputasi keluarga Choi sendiri. Yang dipertanyakan Minho adalah kenapa ia tidak bisa sebebas Siwon.
Siwon anak pertama keluarga Choi, tentu dalam setiap keluarga sang kakak akan menjadi panutan bagi adiknya. Namun bagi Minho Siwon tak lebih hanya memberinya beban karena semua hal yang seharusnya Siwon lakukan untuk keluarga Choi malah ia sendiri yang melakukannya. Ibunya sendiri yang justru malah menuntutnya untuk melakukan hal itu. Minho juga harus mengorbankan apa yang ia dapat demi obsesi sang ibu. Beberapa kali ibunya berhasil membuatnya berpisah dengan gadis yang selama ini Minho cintai.
Minho mengalihkan pandangannya menatap ponselnya yang sejak tadi terus saja berdering. Penelepon yang sama, namun Minho sama sekali enggan untuk menjawabnya. Hatinya sedang kesal sekarang, ia butuh sedikit ketenangan sekarang.
Bandar Udara Internasional London Heathrow, 16.00 Waktu setempat
Siwon dan Kyuhyun baru saja sampai di London, Siwon nampak sedikit kelelahan raut wajahnya menunjukkan keadaannya yang sedang kurang baik. Kyuhyun menuntun Siwon menuju kursi tunggu bandara.
"Hyung, sebaiknya kita langsung ke rumah sakit saja" namun Siwon menggelengkan kepalanya, ia malah meminta Kyuhyun untuk membiarkannya beristirahat sejenak. Perjalanan Seoul-London memang memakan perjalanan yang cukup lama apalagi mengingat kondisi Siwon yang memang sedang menurun, tentu ini menjadi resiko jika tiba-tiba Siwon kembali merasakan sakitnya. Siwon tengah menarik nafasnya lalu menghembuskannya kembali secara perlahan-lahan. Kyuhyun duduk di sebelahnya, ia memberi Siwon air minum agar ia sedikit lebih rileks.
"Bagaimana apa sudah lebih baik?" Siwon hanya memberikan seulas senyumannya untuk Kyuhyun pertanda bahwa ia sudah sedikit lebih baik sekarang. Namun Kyuhyun menanggapinya dengan wajah kesal, ia sudah bosan dengan ekspresi yang selalu Siwon tunjukkan padanya. "Hyung, berhentilah memberikanku senyuman seperti itu, katakan sesuatu jangan membuatku khawatir" bagaimana pun Kyuhyun sayang terhadap Siwon, baginya Siwon adalah kakak sekaligus sahabatnya.
"Kenapa kau mudah sekali marah, lihat wajahmu jadi terlihat lebih tua dariku" Siwon malah memberikannya candaan yang menurut Kyuhyun sangat tidak lucu.
"Wajahku memang dari dulu seperti ini, bukan karena aku sering marah. Kau semakin menyebalkan saja Hyung!" Siwon tertawa melihat adik kesayangannya itu kesal karena ulahnya.
"Kau selalu membuatku senang, Kyuhyun-ah" Siwon mengelus-ngelus kepala Kyuhyun, lalu bangkit dari duduknya dan berjalan mendahului Kyuhyun. Sementara Kyuhyun tetap terdiam di tempatnya menatap punggung Siwon yang perlahan-lahan mulai menjauhi tempatnya duduk sekarang. Kyuhyun bangkit dari duduknya, ia berjalan menyusul Siwon yang sudah berjalan agak jauh dari posisinya sekarang.
"Hyung... Kau harus kuat!" Kyuhyun mulai berlari menyusul Siwon yang sudah berjalan keluar bandara.
...
"Ini kamarmu hyung!" Kyuhyun mengantar Siwon menuju kamarnya. Mereka baru saja sampai di apartemen yang sudah disediakan oleh kakak perempuan Kyuhyun. Siwon berjalan memasuki kamarnya yang cukup luas, Kyuhyun menaruh koper Siwon di sisi ranjang.
"Hyung, istirahatlah dulu... perjalanan hari ini cukup melelahkan untukmu. Nanti aku akan kembali lagi untuk mengajakmu makan malam." Kyuhyun meninggalkan Siwon sendirian di kamarnya. Siwon nampak berkeliling menyusuri tiap sudut kamarnya. Dia membuka koper miliknya dan mengeluarkan kalung milik ibunya. Siwon hanya mengelus-ngelusnya sebentar kemudian meletakkan kembali kalung berharga itu ke dalam tempatnya. Siwon membaringkan tubuhnya di atas ranjang, perlahan ia memejamkan matanya. Sejenak ia menghela nafasnya berulang kali. Tangannya terangkat menyentuh dadanya, sedikit merasakan detik demi detik detakan jantungnya. Hingga akhirnya Siwon pun terlelap tidur.
Sementara itu Kyuhyun tengah berkutat dengan handphone kesayangannya. Ia tengah menghubungi kakaknya untuk memberinya kabar bahwa ia sudah sampai di London. Kyuhyun sengaja tak meminta kakaknya untuk menjemput dirinya dan Siwon di bandara. Kyuhyun tahu kakaknya sedang sibuk mengurusi bisnisnya di sini.
"Yobeoseyo, Noona aku sudah sampai di apartemen yang kau sediakan. Maaf baru menghubungimu sekarang, perjalanan Seoul-London cukup melelahkan. Noona apa bisa mengirimi kami makan malam? Perutku sudah lapar, sementara aku tidak bisa memasak."
"..."
"Ayolah noona, adikmu ini sudah sangat lapar" Kyuhyun merayu Ahra, tampaknya Ahra akan mengabulkan keinginan Kyuhyun untuk mengirimi mereka makan malam. Kyuhyun nampak senang dan ia mengeluarkan banyak pujian untuk noonanya itu. Sementara Ahra membalasnya dengan decakan yang cukup terdengar oleh Kyuhyun. Namun Kyuhyun sama sekali tak memperdulikannya, Kyuhyun pun menutup sambungan teleponnya dan kembali duduk untuk menikmati waktu senggangnya sebelum noonanya datang membawa makanan untuknya dan Siwon.
Beberapa menit kemudian terdengar suara bel apartemen berbunyi Kyuhyun segera bangkit dari duduknya dan membuka pintu. Ahra menyodorkan beberapa kantung plastik tepat di hadapan wajah Kyuhyun. Kyuhyun segera mengambilnya dan mempersilahkan noonanya masuk. Kyuhyun menaruh kantung-kantung plastik itu di meja makan.
"Noona tepat waktu sekali, perutku sudah minta diisi"Ahra mengedarkan pandangannya pada setiap sudut rumah.
"Bukankah kau datang kemari bersama Siwon-ssi? Lalu kemana dia?" Kyuhyun mengangguk sembari mempersiapkan makanan yang dibawa kakaknya itu.
"Siwon hyung sedang istirahat, noona bantu aku mempersiapkan semua ini di meja makan, aku akan melihat Siwon hyung dulu." Ahra mengambil alih pekerjaan Kyuhyun, Ahra menuangkan beberapa makanan itu ke atas piring dan mulai menatanya di meja makan.
Kyuhyun berjalan menuju kamar Siwon, terlebih dahulu Kyuhyun mengetuk pintu. Namun beberapa kali Kyuhyun mengetuk pintu tidak ada jawaban dari dalam. Kyuhyun mulai cemas dan segera membuka pintu kamar Siwon yang memang tidak terkunci. Kyuhyun mendekati ranjang Siwon yang sedikit berantakan namun Siwon tak ada di sana, Kyuhyun mendengar suara kran dari dalam kamar mandi, kemudian ia mengetuk pintu kamar mandi itu.
"Hyung, kau di dalam?" Kyuhyun mendengar suara lain yang terdengar berbarengan dengan suara kran yang menyala. Kyuhyun mencoba membuka pintu kamar mandi namun terkunci.
"Hyung! Gwaenchanayo?" Kyuhyun masih berusaha membuka pintu itu, Kyuhyun mulai mencoba mendobraknya, beberapa kali ia mendorong tubuhnya ke arah pintu agar pintu kamar mandi itu terbuka. Kyuhyun mulai dihantui kecemasan. Ia nampak bingung sekaligus takut sesuatu yang buruk terjadi pada Siwon. Kyuhyun membuka laci di sisi ranjang milik Siwon berharap ia bisa menemukan kunci cadangan disana. Kyuhyun mengobrak-abrik isi laci hingga terdengar suara kegaduhan sampai ke luar kamar. Ahra yang mendengar suara gaduh itu segera mencari tahu asal suara tersebut. Ahra mendekati asal suara itu dan memasuki kamar yang pintunya terbuka itu. Ahra melihat Kyuhyun-adiknya- terlihat panik. Ahra mendekati Kyuhyun "Kyuhyun-ah kau sedang mencari apa?"
"Noona! Dimana kunci cadangan untuk pintu kamar mandi itu?"
"Kunci cadangan? Untuk apa?"
"Siwon hyung terkurung di dalam!, aku tidak bisa membuka pintunya karena terkunci dari dalam. Cepat noona beritahu aku dimana kunci cadangannya!" Ahra berlari ke arah dapur mencari laci di mana biasanya perkakas tersimpan. Ahra mengobrak-abrik isi laci dan ia mulai terlihat panik. Ahra membuka satu persatu isi laci tersebut hingga akhirnya ia menemukan sekumpulan kunci dan segera membawanya untuk ia berikan pada Kyuhyun.
"Hyung, bertahanlah! Aku mohon! kau baik-baik sajakan di dalam?" Kyuhyun melihat Ahra berlari kearahnya dan menyerahkan kunci-kunci itu. Kyuhyun menerima kunci tersebut dan mencobanya satu persatu. Tangan Kyuhyun gemetaran saat mencoba memasukkan kunci-kunci tersebut, tak jauh berbeda dengan Ahra yang sekarang dalam keadaan panik, bingung dan tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Siwon hingga membuat Kyuhyun bisa sepanik ini. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Kyuhyun sepanik ini. Kyuhyun berhasil menemukan kunci yang cocok kemudian ia membuka pintu itu dengan kasar. Pandangannya langsung menangkap keadaan Siwon yang tengah terbatuk-batuk sambil memegang dadanya erat. Kyuhyun segera mematikan kran itu dan menghampiri Siwon yang sudah terlihat pucat. Kyuhyun mengangkat kepala Siwon ke pangkuannya.
"Hyung! Bertahanlah, aku mohon bertahanlah!" sementara Ahra nampak shock melihat keadaan Siwon sekarang wajahnya pucat sekali seperti menahan sakit.
"HYUNG! BERTAHANLAH!" Kyuhyun menepuk pelan wajah Siwon yang perlahan-lahan memejamkan matanya.
"HYUNG! KUMOHON BANGUN HYUNG!" teriak Kyuhyun panik.
"ANDWAE! HYUNG BERTAHANLAH"
"Kita harus segera membawanya ke rumah sakit Kyu" Kyuhyun segera mengangkat tubuh Siwon dengan sekuat tenaga, Ahra membantu Kyuhyun membopong Siwon ke mobil. Ahra segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Sepanjang perjalanan Kyuhyun terus bergumam sambil memegang erat tangan Siwon yang lemah.
"Aku mohon bertahanlah hyung."
Ahra melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, tak butuh waktu lama mereka sampai di rumah sakit internasional di London. Ahra segera turun meminta bantuan tim medis untuk membawa Siwon, beberapa orang perawat dengan sigap membawa ranjang dorong dan memindahkan Siwon yang sudah tak sadarkan diri itu ke atasnya. Siwon langsung dibawa ke ruang gawat darurat. Kyuhyun nampak masih shock begitupun Ahra, Kyuhyun menatap kosong ruangan dimana kini Siwon berada. Ahra mendekati Kyuhyun.
"Kyu..." Kyuhyun bersandar pada dinding yang dingin itu, tubuhnya merosot seketika. "Kyu.." panggil Ahra.
"Siwon hyung, akan baik-baik sajakan?" Ahra prihatin melihat adiknya Kyuhyun secemas ini. Ahra berusaha menenangkan Kyuhyun.
"Dia akan baik-baik saja Kyu, percayalah"
...
Sudah 2 jam berlalu, Kyuhyun sama sekali tak mengubah posisinya ia tetap duduk di lantai, sementara Ahra duduk di kursi dengan tatapan bingung. Kyuhyun sedikit menceritakan keadaan Siwon padanya. Ahra tidak menyangka Siwon ternyata sakit. Pantas saja Kyuhyun secemas itu. Ia kini memahami Kyuhyun memang sangat dekat dengan Siwon.
Pintu ruangan itu terbuka, Kyuhyun segera bangkit dari posisinya. Dokter yang menangani Siwon pun keluar. Dokter Park menyapa Kyuhyun dan Ahra.
"Bagaimana keadaannya dokter?"
"Keadaannya masih lemah, tapi kau tak perlu terlalu khawatir"
"Apa akhir-akhir ini penyakitnya sering kambuh?"lanjut dokter Park
"Siwon hyung memang tidak secara langsung mengatakan jika ia merasa sakit, tapi sepertinya memang begitu dok" dokter Park mengangguk kemudian menepuk bahu Kyuhyun.
"Untuk sementara Siwon harus dirawat beberapa hari disini. Apa kalian baru sampai di London?" Kyuhyun mengangguk.
"Sepertinya ia memang kelelahan. Untung saja kau cepat membawanya kemari, jadi aku bisa cepat menanganinya"
"Siwon harus istirahat total beberapa hari disini. Aku sudah mempelajari berkas riwayat pemeriksaan Siwon sebelumnya yang sudah kau kirim padaku Kyuhyun-ssi. Aku akan memberi penanganan lebih lanjut, untuk sementara Siwon butuh banyak istirahat aku sudah memberinya obat penghilang rasa sakit."
"Apa boleh aku melihatnya?"
"Tentu, tapi setelah ia dipindahkan ke ruang rawat, kalau begitu aku permisi" dokter Park pun meninggalkan Kyuhyun dan Ahra. Kyuhyun sedikit bernafas lega, Siwon terselamatkan.
"Kyu...sambil menunggu Siwon-ssi dipindahkan bagaimana kalau kita ke kantin dulu? Sejak tadi kau belum makankan?" Kyuhyun menatap Ahra kemudian mengangguk.
Kyuhyun dan Ahra sampai di kantin, mereka memesan beberapa menu makanan dan minuman hangat.
"Kyu..apa tidak sebaiknya kita memberitahu paman Kiho tentang keadaan Siwon-ssi?"
"Tidak Noona! Siwon hyung sendiri yang memintaku merahasiakannya. Jadi aku mohon noona ,jangan sampai noona memberitahu paman Kiho soal masalah ini."
"Tapi Kyu..."
"Siwon hyung punya alasan kenapa ia memintaku melakukan ini noona. Jadi tolong bantu aku untuk merahasiakannya."
"Baiklah... jika itu permintaan Siwon-ssi sendiri. Jadi ini alasanmu datang kemari untuk meminta bantuan dokter Park untuk menangani penyakit Siwon?" Kyuhyun mengangguk, kemudian kembali melanjutkan acara makannya.
Siwon sudah dipindahkan ke ruang rawat, dokter Park tengah memeriksa kondisi Siwon saat ini. dokter Park tengah menghitung kekuatan detakan jantung Siwon tiap detiknya. Ia mencatat beberapa data untuk ia pelajari agar ia bisa segera menindaki penyakit Siwon lebih lanjut. Kyuhyun dan Ahra baru saja kembali dari kantin. Dokter Park baru saja selesai memeriksa Siwon, ia pun pamit meninggalkan ruangan. Kyuhyun berjalan mendekati ranjang Siwon. Siwon terlihat lemah, Kyuhyun mengambil kursi di sebelah ranjang Siwon.
"Hyung, kau sudah membuatku cemas hari ini. Tolong jangan seperti ini lagi" Siwon sama sekali tak menjawab perkataan Kyuhyun, matanya masih terpejam sementara wajahnya nampak pucat. Ahra menghampiri Kyuhyun.
"Istirahatlah Kyu... "
"Noona sebaiknya pulang, noona juga harus istirahat."
"Bagaimana denganmu Kyu?"
"Aku akan tetap di sini menjaga Siwon Hyung, noona sebaiknya pulang."
"Baiklah kalau begitu aku pulang Kyu.. istirahatlah" Kyuhyun mengangguk.
"Gomawo Noona" Ahra pun meninggalkan rumah sakit dan bergegas pulang ke apartemennya.
Seoul, 10.00 PM KST
Minho baru saja pulang ke rumah dengan wajah yang cukup berantakkan. Dari mulutnya tercium bau alkohol yang cukup menyengat. Choi Sena sengaja menunggu anaknya pulang, ia cukup terkejut mendapati Minho habis minum. Bau alkohol menyeruak tercium oleh indera penciumannya. Dituntunnya Minho menuju kamarnya. Kemudian ia membaringkan putranya itu di atas ranjangnya.
"Minho-ya kenapa kau malah mabuk-mabukkan seperti ini eoh?" Sena mulai melepas sepatu yang dikenakan Minho, ia juga mengambil sedikit air dingin dan sehelai handuk. Sena mulai membersihkan tubuh putranya itu. Minho mulai meracau tak jelas. Sena tak memperdulikan racauan Minho, ia melanjutkan kegiatannya setelah selesai ia pun menyelimuti tubuh putranya itu.
"Dengar Minho-ya. Eomma harap kau mau menuruti keinginan eomma, ini demi masa depan kita" Sena mengecup kening putranya. Lalu meninggalkan kamar Minho.
...
"Minho mana sayang?" Kiho bertanya pada istrinya. Sena sedikit gelagapan pasalnya semalam Minho mabuk, Kiho sangat tidak suka dengan orang yang pemabuk. Ini akan gawat jika ia tahu putranya mabuk semalam.
"Minho sepertinya kurang enak badan. Jadi sepertinya dia tidak akan ikut ke kantor hari ini, yeobo" Kiho menghentikan aktivitasnya membaca koran.
"Baiklah, kau sudah memberinya obat?"
"Su..."
"Pagi semua" Sapa Minho yang tengah berjalan menuju meja makan. Sena melihat penampilan putranya itu kaget. Minho mengenakan jas yang sangat cocok untuknya. Tubuhnya yang tinggi menampakkan sosoknya yang sempurna tentunya tak kalah dengan kakak tirinya Siwon.
"Minho-ya, eommamu bilang kau tidak enak badan." Sena sedikit menegang. Kemudian ia menatap wajah putranya.
"Semalam aku memang sedikit kurang enak badan, tapi sekarang sudah agak baikan. Eomma terlalu berlebihan menanggapinya." Minho tersenyum kecil pada ayahnya. Kemudian ia menoleh menatap ibunya sedikit tajam. Ia memberi isyarat 'bukankah ini yang eomma mau' Minho kemudian duduk di samping tempat duduk ibunya.
"Ayah mengerti eommamu terlalu khawatir padamu, Minho-ya" Sena tersenyum tipis menanggapi pernyataan Kiho-suaminya-. Sementara Minho menyeringai lalu menatap wajah ibunya.
"Apa eomma puas!."
Minho pun berangkat bersama Kiho sang ayah menuju kantor, ini adalah hari pertama dimana ia akan terjun ke dunia bisnis sebagai penerus keluarga Choi. Kiho memberi sedikit pengarahan pada Minho, mereka banyak membahas mengenai perusahaan selama di perjalanan. Minho termasuk anak yang cepat menanggapi sesuatu jadi tidak sulit baginya mempelajari hal baru terutama soal perusahaan.
Kiho menunjukkan ruangan yang nanti akan menjadi ruangan dimana Minho akan bekerja. Minho mulai berkeliling melihat tiap sudut ruangannya. Sang ayah memberitahunya secara detail tiap sudut ruangan itu. Minho diberitahu juga kalau ia akan memiliki seorang asisten yang akan membantu pekerjaannya nanti. Kiho membiarkan Minho menyesuaikan diri dengan keadaan kantor, ia juga menyuruh bawahannya untuk memberi tahu Minho seluk-beluk perusahaan. Minho ditemani salah satu pegawai ayahnya untuk berkeliling melihat bagaimana situasi perusahaan setiap harinya. Sementara Kiho memasuki ruangannya. Kiho mengeluarkan handphonenya. Ia berniat menghubungi Siwon putra sulungnya. Semenjak kepergiannya kemarin Siwon belum menghubunginya sama sekali sekedar untuk memberinya kabar. Kiho tahu putranya itu tak jauh berbeda dengannya sama-sama memiliki sifat keras kepala.
Kiho menunggu sambungan teleponnya, beberapa kali handphone Siwon tak bisa dihubungi. Kemudian ia mencoba menghubungi Kyuhyun. Masih menunggu dan untuk kesekian kalinya sambungan handphone mereka berdua sama-sama tidak aktif. Kiho sedikit kesal namun perasaannya berubah menjadi sedikit cemas. Menurut perkiraan Kiho seharusnya Siwon dan Kyuhyun sudah sampai di London, tapi kenapa handphone mereka tak bisa dihubungi?. Kegiatan Kiho terbuyarkan oleh ketukan pintu yang rupanya relasinya dari taiwan datang ke perusahaannya bersama seorang gadis cantik di sampingnya. Kiho menghentikan kegiatannya dan menyambut relasi kerjanya itu.
"Selamat Siang Kiho sajangnim" sapa Tn. Jung
"Selamat siang Tn. Jung senang bertemu dengan anda" Kiho menjabat tangan relasinya itu. pandangannya teralihkan pada sesosok gadis muda yang berdiri tak jauh darinya.
"Ini putriku yang pernah aku ceritakan dulu" Kiho mengangguk kemudian menyapa gadis yang usianya tak jauh berbeda dengan Minho putra keduanya.
"Annyeong sajangnim, jeoneun Jung Shilla imnida" Shilla memberi hormat pada relasi ayahnya itu. Kiho mempersilahkan mereka duduk dan mereka mulai sedikit berbincang-bincang.
...
"Eonni gwaenchanayo?" Hyohyun baru saja sampai di kantor Ahra dan melihat kondisi Ahra yang sedikit kelelahan.
"Gwaenchana... aku hanya sedikit lelah saja"
"Kalau begitu Eonni istirahat saja, biar ini aku yang mengerjakannya" Hyohyun menyuruh Ahra untuk beristirahat sebentar, sementara ia melanjutkan pekerjaan Ahra. Hyohyun mulai mengerjakan desain yang memang sudah di pesan oleh pelanggan. Dengan telaten Hyohyun membuat detail demi detail desain sesuai keinginan sang pemesan. Tiba-tiba telepon yang tak jauh darinya berbunyi. Hyohyun mengangkat telepon, rupanya Kyuhyun yang menghubunginya.
"Yobeoseyo"
"Hyohyun-ah Ahra noona dimana?"
"Eonni sedang istirahat oppa. Memangnya ada apa?"
"Bisakah kau membantuku mencarikan handphoneku? sepertinya tertinggal di mobil noona"
"oh baiklah akan aku carikan" Hyohyun menemui Ahra menanyakan apa yang dicari Kyuhyun. Kemudian Ahra memberikan kunci mobilnya, Hyohyun bergegas mencari handphone Kyuhyun di mobil Ahra. Ia menemukan handphone dan sebuah dompet hitam tergeletak di kursi belakang mobil. Hyohyun membuka dompet tersebut dan melihat tanda pengenal disana.
"Choi Siwon" gumam Hyohyun. Sepertinya nama itu tidak asing untuknya. Hyohyun menghubungi no tadi, untuk memberitahu Kyuhyun handphone miliknya sudah ditemukan.
"Oppa aku sudah menemukannya apa perlu sekalian aku mengantarkannya?"
"Apa tidak merepotkanmu?
"Tidak! Oppa sekarang ada dimana?"
"Di rumah sakit"
"Rumah sakit? Oppa sakit? Kenapa eonni tidak bilang kalau oppa sakit"
"Bukan aku tapi temanku sedang dirawat disini"
"Baiklah akan aku antarkan di waktu jam makan siang saja ya oppa, aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu"
"Baiklah... tidak apa-apa maaf merepotkanmu" Hyohyun mengakhiri sambungan teleponnya. Ia kembali ke ruangannya. Hyohyun membuka kembali dompet yang ia temukan tadi. Hyohyun merasa seperti deja vu. Sepertinya ia pernah mengalami hal yang sama seperti yang terjadi padanya hari ini. dompet ini seperti tak asing untuknya. Hyohyun sedikit mengingat-ngingat apakah ia pernah melihat dompet ini sebelumnya atau tidak.
Ingatannya kembali kemasa SMA, dimana Hyohyun pernah menemukan sebuah dompet yang terjatuh saat ia bertabrakan dengan seorang pria di sebuah acara pameran foto.
Hyohyun ingat ketika ia akan keluar dari acara tersebut, ia tak sengaja menabrak seorang pria bertubuh tinggi dengan sebuah kamera tergantung di lehernya. Hyohyun ingat betul saat itu ia sampai mengejar pria itu hanya untuk mengembalikan dompet milik pria tersebut.
Karena terburu-buru rupanya pria tersebut tidak mendengar panggilan Hyohyun pada saat itu. Pria tersebut langsung memasuki mobil mewah yang terparkir cukup jauh dari tempat pameran tadi. Hyohyun berlari dengan susah payah hingga akhirnya ia bisa menyusul dan menghentikan mobil pria itu.
Pria itu keluar dari mobilnya dengan raut wajah kesal.
"Hei nona apa yang sedang kau lakukan hah?! Kau mau mati ya!" teriak pria itu.
Hyohyun masih berusaha mengatur nafasnya agar ia bisa berbicara pada pria di hadapannya ini. Hyohyun menyodorkan sebuah dompet hitam pada pria tersebut.
"Kau menjatuhkan ini tadi, hhhh... apa kau tidak mendengar panggilanku tadi? hhh..." Hyohyun masih mengatur nafasnya yang terkuras cukup banyak akibat ia harus berlari demi mengembalikan dompet ini. Pria itu mengambil dompet miliknya dan melihat isinya.
"Tenang saja aku tidak mengambil sepeserpun uangmu. Aku hanya melihat identitasmu saja" Pria itu mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya pada Hyohyun. Sementara gadis itu cukup kaget pria dihadapannya ini memberinya uang.
"Terima ini, aku rasa ini cukup untukmu. Terima kasih sudah menemukan dompetku" Hyohyun berdecak kesal.
"Aku tidak memerlukan uangmu itu. Kau ambil saja kembali." Hyohyun sedikit kesal kemudian ia meninggalkan pria bertubuh tinggi itu begitu saja. Sementara pria itu mengangkat sedikit sudut bibirnya.
"Ada gadis seperti itu. ckckc"
"Tuan muda... sebaiknya kita cepat pulang sebelum tuan besar tahu" Pria itu kembali memasuki mobilnya.
Hyohyun sepanjang perjalanan menggerutu tak jelas, ia masih kesal dengan pria tadi.
"Pria menyebalkan! Dia pikir mentang-mentang dia kaya bisa seenaknya memberikan uang." Hyohyun menendang-nendang pelan kerikil kecil dihadapannya. Sebuah mobil melewatinya, dan seseorang dari dalam mobil berteriak kepadanya " Hei! Nona siapa namamu? Aku Choi Siwon! terima kasih sudah menemukan dompetku!" Hyohyun tetap berjalan tak mengindahkan teriakan pria itu.
"Aku harap kita bisa bertemu kembali" Pria itu melambai-lambaikan tangannya pada Hyohyun.
"Aku harap tidak! Aku tidak mau bertemu lagi dengan pria menyebalkan sepertimu!" mobil itu pun semakin menjauh dari pandangan Hyohyun.
Kembali ke Masa sekarang Hyohyun sedikit tersentak akan ingatannya. "Benarkah dompet ini milik pria itu?." Hyohyun sedikit penasaran apakah pemilik dompet ini adalah orang yang sama? entahlah. Hyohyun menghela nafasnya berat, kemudian mengalihkan pandangannya pada beberapa kertas desain yang harus ia selesaikan sebelum jam makan siang.
...
Hyohyun baru saja sampai di rumah sakit, tadi Kyuhyun menyuruhnya untuk menunggunya di ruangan A4 dimana Siwon dirawat. Hyohyun sampai di depan ruangan itu, ia melihat tidak ada siapa-siapa disana. Hyohyun berjalan menuju sofa yang tak jauh dari ranjang pasien. "Kyuhyun oppa bilang temannya dirawat disini, tapi kemana dia?" Hyohyun mengeluarkan handphone milik Kyuhyun dari dalam tasnya. Kemudian terdengar suara pintu terbuka. Tampak sesosok pria berpakaian pasien baru saja keluar dari kamar mandi. Hyohyun dan Siwon bertemu pandang, tubuh Hyohyun sedikit tersentak. Ia mengenali pria ini, pria ini pemilik dompet itu. Hyohyun menatap lekat wajah Siwon, membuat Siwon sedikit risih.
"Kau siapa?" Hyohyun mengalihkan pandangannya.
"Aku...aku..aku..Teman Kyuhyun oppa" Hyohyun melihat reaksi pria dihadapannya ini. Tidak berubah sama sekali apa ia tidak mengenalinya?. 'Pria sombong sepertinya mana mungkin mengenali dirinya, apa lagi ia tidak tahu namanya sama sekali. Bertemu juga hanya sekali saat ia mengembalikan dompet miliknya. Mana bisa ia ingat. Bodoh kau Shin Hyohyun!.' Hyohyun menggerutu dalam hati.
"Oh kau kemari untuk mengantarkan handphone milik Kyuhyunkan?." Hyohyun mengangguk.
"Kalau begitu tunggu saja disini, Kyuhyun sedang ke kantin membeli makanan" Hyohyun tersenyum kaku.
"Aku Choi Siwon, namamu siapa?"
"Aku Shin Hyohyun."
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Tatapanmu mengisyaratkan seperti itu"
"Benarkah? Aku rasa kau salah menilai. Apa kau merasa kita pernah bertemu?" Hyohyun berbalik bertanya.
"Entahlah aku juga tidak tahu." Hyohyun dan Siown sama-sama tersenyum kaku.
Siwon berjalan menuju ranjangnya dan berbaring kembali. Tak lama pintu ruangan itu terbuka tampak Kyuhyun membawa beberapa kantung plastik. Ia melihat Hyohyun yang sudah datang.
"Oppa ini handphonemu"
"Apa kau sudah lama menunggu?" Hyohyun hanya tersenyum.
"Aku harus kembali lagi ke kantor, kalau begitu aku permisi"
"Tidak mau makan siang bersamaku dulu?" Kyuhyun menahan Hyohyun.
"Tidak usah oppa, aku harus segera kembali."
"Baiklah.. terima kasih sudah mengantar ini Hyohyun-ah" Kyuhyun menunjuk handphonenya.
"Tidak masalah, aku permisi" Hyohyun membungkuk pada Kyuhyun dan Siwon.
"Dia temanmu?" Tanya Siwon pada Kyuhyun
"Dia asisten Ahra noona, memangnya kenapa?"
"Tidak... sepertinya aku pernah melihatnya."
"Benarkah?"
"Entahlah" Siwon mengangkat kedua bahunya. Kyuhyun hanya menggelengkan kepalanya.
Hyohyun termenung sejenak dibangku taman rumah sakit. Ia belum pergi dari sana.
"Pria itu ckckc, kenapa harus bertemu kembali hah!" Hyohyun menghela nafasnya kasar.
'Selangkah demi selangkah aku
Ingin pergi dengan langkah ringan
Kata demi kata mengapa begitu
Sulit bagiku'
.
To be continue...
Ini part 2 nya gimana tanggapan kalian? Komment ya^_^ #ppopoSiwon :*
