Love And War [Part 3]

Author: IndriChoi

Cast:

Choi Siwon

Shin Hyohyun (OC)

Choi Minho

Cho Kyuhyun

Genre: Romance, Family, Hurt

Rating: PG-13

Length: Series

Recommended Songs:

Baek Jiyoung-Acacia

Lee Hi-Rose

Lee Sang Gon- My Love is hurt

This story out of my mind! IndriChoisw, Just for fun^^

Happy Reading^^

.

Pertemuan ini bukanlah pertemuan biasa, pertemuan ini bukanlah pertemuan tanpa alasan. Pertemuan ini membawaku kembali menemuimu orang asing, orang yang tak pernah terbayang dibenakku jika kita akan bertemu lagi. Apakah ini takdir? Takdir apakah yang sedang Tuhan gariskan untuk kita. Kenapa kita harus bertemu kembali dan kenapa pertemuan kita kali ini tak jauh berbeda dengan pertemuan kita sebelumnya? Apa kau tak mengingat sesuatu? Pertemuan kita?.

...

Hyohyun baru saja kembali ke kantor, Ahra sepertinya sudah terlihat lebih baik. Ia menghampiri Ahra yang sedang mengerjakan desain yang tadi sempat ia kerjakan.

"Eonni, sudah baikan?" Ahra mengangguk dan memberi Hyohyun sebuah amplop putih. Hyohyun memandangi amplop itu kemudian ia mengambilnya.

"Ini apa eonni?" Ahra beranjak dari duduknya, kemudian ia berdiri di samping Hyohyun.

"Ini tiket untuk datang ke acara pameran foto, sebenarnya aku yang diundang. Tapi karena pada hari itu aku tidak bisa, aku ingin kau yang datang ke sana menggantikanku menghadiri acara tersebut. Apa kau mau Hyun-ah?"

"Tentu eonni, aku mau. Ini kehormatan bagiku bisa hadir di acara resmi seperti ini"

"Acaranya akan diadakan 10 hari lagi, kau harus membeli gaun yang cantik untuk acara tersebut"

"Eonni, apa tidak bisa memakai baju casual saja? Aku tidak terbiasa memakai gaun eonni" Ahra terkekeh mendengar pengakuan Hyohyun. Ya memang benar Ahra bahkan belum pernah melihat gadis ini memakai dress misalnya, apalagi gaun.

Hyohyun memang sedikit tomboy dan tak peduli dengan masalah penampilan yang penting baginya, ia nyaman menggunakan pakaian itu dan yang pasti tidak membatasi ruang geraknya. Hyohyun mengerucutkan bibirnya, merespon kekehan Ahra terhadapnya.

"Apa kau yakin akan memakai pakaian seperti ini?" Ahra menunjuk pakaian Hyohyun dari atas sampai bawah.

"Lagipula kebanyakan yang hadir di acara tersebut adalah orang kaya, sekali-kali menggunakan pakaian yang berbeda seperti dress atau gaun tidak apa-apakan? Aku hanya ingin kau terlihat cantik di acara tersebut." Hyohyun mengangguk pasrah.

"Baiklah akhir minggu ini bagaimana kalau kita berbelanja, kau perlu mempersiapakan penampilanmu untuk acara tersebut." Hyohyun hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Ahra.

Sementara Ahra menganggap Hyohyun sudah menyetujuinya dan kembali duduk di kursi kebesarannya untuk melakukan kegiatannya. Hyohyun pamit keluar dari ruangan Ahra untuk kembali ke ruangannya yang tak jauh dari ruangan Ahra. Hyohyun menggenggam amplop putih itu kemudian meletakannya di atas meja kerjanya.

Hyohyun juga mengeluarkan dompet milik Siwon yang sama sekali tidak ia ungkit ketika dirinya tadi bertemu dengan Siwon. Hyohyun membuka dompet tersebut dan mengeluarkan kartu identitas milik Siwon.

"Choi Siwon lahir di Gangnam, Seoul 7 April 1986" gumam Hyohyun membaca deretan kata yang tertulis di kartu identitas milik Siwon tersebut.

"ckckc Dia lebih tua dariku 7 tahun" lanjut Hyohyun terkekeh. Kemudian pandangan Hyohyun teralihkan pada sebuah foto tua yang menarik perhatiannya. Di dalam foto tersebut ada seorang wanita tengah menggendong bayi kecil di dalam pangkuannya. Wanita tersebut sangat cantik menurutnya. Memang foto itu terlihat sudah usang, tapi sepertinya gambaran potret kebahagiaan terpampang jelas dari raut wajah wanita itu. Senyumannya mirip pria pemilik dompet ini.

"Apa ini ibunya? Neomu Yeppeo" Hyohyun masih enggan mengalihkan pendangannya dari objek foto itu. Tiba-tiba Hyohyun teringat pada ibunya. Ibu yang tak pernah ia lihat sama sekali selama hidupnya kecuali melalui selembar foto yang tak jauh beda usangnya seperti foto ini.

Hyohyun memasukkan kembali foto itu ke dalam dompet , ia memasukkan kembali dompet itu ke dalam tasnya.

"Aku akan mengembalikan ini jika pria itu sudah ingat" Hyohyun meregangkan otot-ototnya dan beranjak untuk membuat teh hangat yang mungkin akan membuatnya lebih enak.

...

"Hyung! Apa yang sedang kau pikirkan hmm?" tanya Kyuhyun sambil memberikan Siwon buah apel yang sudah ia kupaskan untuk Hyungnya itu.

"Gadis itu, bagaimana kau bisa mengenalnya?" tanya Siwon yang sama sekali tak mengalihkan pandangannya untuk menatap Kyuhyun.

"Gadis? Apa Hyohyun yang kau maksud?" Siwon mengangguk.

"Ahra Noona yang mengenalkannya padaku, ia tinggal sendiri di sini. Noona mempekerjakannya dan menganggapnya seperti adiknya sendiri. Hyung sendiri tahukan, kalau noona ingin punya adik perempuan. Dan sepertinya Ahra noona dan Hyohyun memiliki kecocokkan. Kenapa hyung bertanya seperti itu?"

"Tidak, hanya merasa pernah melihat gadis itu. Tapi entahlah mungkin hanya perasaanku saja."

"Oh iya Hyung, tiket yang kau minta untuk acara pameran foto itu sudah aku dapatkan. Untung saja temanku mau memberikannya padaku." Kyuhyun menyerahkan sebuah amplop pada Siwon.

Siwon mengeluarkan tiket dalam amplop itu. "Kau memang bisa diandalkan Kyuhyun-ah, Gomawo" Siwon menepuk-nepuk pundak dongsaeng kesayangannya itu.

"Hyung harus membalasnya dengan membelikanku kaset game terbaru, ok?" Siwon yang tadinya menunjukkan wajah sumringahnya berubah menunjukkan wajah muramnya pada Kyuhyun. Ditatap seperti itu Kyuhyun jadi tak berani.

"Baiklah..baiklah aku hanya bercanda hyung, kau sudah membelikanku kaset game terbaru minggu lalu. Hehe" Kyuhyun menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal kemudian ia memandangi Siwon dengan wajah serius.

"Hyung dokter Park bilang besok kau harus menjalani beberapa pemeriksaan, mengingat kondisimu saat ini sudah cukup baik. Jadi dokter Park ingin mengetahui lebih detail kondisi jantungmu itu hyung" Siwon menghentikan suapan buah apel pada mulutnya. Siwon membalas tatapan Kyuhyun dengan wajah yang terlihat cukup cemas.

"Hyung, kau harus yakin kalau penyakitmu akan bisa disembuhkan. Aku percaya kau bisa melewati ini semua. Kau harus kuat hyung!." Kyuhyun memberi Siwon semangat.

Bagaimanapun Siwon tidak boleh menyerah begitu saja. Kyuhyun ingin Siwon kuat dan mampu melewati masalah ini dengan baik dan bisa menyelesaikan masalah-masalah lainnya yang perlu hyungnya itu selesaikan.

"Sejak kemarin paman Kiho beberapa kali menghubungiku hyung. Tapi karena hpku yang tertinggal, aku tidak sempat mengangkatnya. Mungkin paman Kiho khawatir karena kita belum menghubunginya sama sekali setelah hari kedua kita di London." Siwon masih terdiam.

"Apa perlu aku menghubungi paman Kiho kembali untuk memberitahu kalau kita sudah sampai dengan selamat di London?" tanya Kyuhyun pada Siwon.

Siwon bergeming, ia malah mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Tadi ayah juga menghubungiku" Kyuhyun tetap memandang Siwon.

"Lalu?"

"Aku tak mengangkatnya, biar nanti aku yang menghubunginya kembali. Saat ini aku tidak ingin diganggu oleh siapapun." Kyuhyun mengerti kemudian ia beranjak dari duduknya.

"Aku keluar dulu, kau istirahatlah hyung." Kyuhyun meninggalkan Siwon sendirian di kamarnya. Siwon memandang langit-langit kamarnya, ia menghela nafasnya berat. Siwon mengalihkan pandangannya kemudian ia terpejam sejenak, sekelebat potongan kejadian masa lalunya berkeliaran dipikirannya.

Dimana ia harus menerima kenyataan, ibunya meninggal tepat ketika mereka tengah menikmati liburan. Saat itu Siwon berusia 5 tahun. Siwon yang tak tahu apa-apa itu hanya memandang kosong jasad sang ibu yang kabarnya tenggelam jatuh dari kapal. Bagaimana bisa? Bahkan sebelum kejadian itu Siwon sempat meminta ibunya untuk membacakan dongeng untuknya. sebelum sang ibu keluar dari kamarnya yang memang tersedia di kapal mewah itu. Pikiran itu berkelebat memenuhi pikiran Siwon.

Wajah Siwon dipenuhi keringat, kedua tangannya mencengkeram sprei putih itu dengan erat. Siwon tampak gelisah, nafasnya memburu. Igauan demi igauan keluar dari bibirnya. Tubuhnya sedikit bergetar. Potongan demi potongan kejadian pahit itu memenuhi mimpinya. Siwon semakin gelisah, selimut yang ia kenakan juga hampir terjatuh ke lantai akibat pergerakan Siwon yang masih di bawah alam mimpinya.

Kyuhyun baru saja kembali dengan menenteng beberapa plastik berisi makanan ringan. Kyuhyun tiba-tiba menjatuhkan plastik-plastik dari tangannya, kemudian menghampiri Siwon yang bergerak gelisah dalam tidurnya.

"Hyung! Bangun hyung" Kyuhyun menepuk-nepuk pipi Siwon. Siwon belum juga membuka matanya.

"Hyung bangunlah! Aku ada disini hyung" Kyuhyun mencoba mengguncang-guncangkan tubuh Siwon. Perlahan Siwon membuka matanya, nafasnya masih memburu keringat dingin mengucur deras dari wajahnya. Kyuhyun mengambilkan Siwon segelas air. Siwon meminum air itu dan mengusap kasar wajahnya.

"Kau kenapa hyung?" tanya Kyuhyun khawatir.

"Mimpi itu, ,mimpi itu datang lagi Kyu.." Siwon menelungkupkan wajahnya di atas kedua telapak tangannya, tubuhnya bergetar.

"Hyung..." Kyuhyun nampak sedih melihat Hyung kesayangannya akhir-akhir ini sering mengalami mimpi buruk seperti yang baru saja terjadi padanya.

"Aku akan memanggil dokter Park" Kyuhyun beranjak dari duduknya untuk memanggil dokter Park.

Tak lama dokter Park sudah berada di ruang rawat Siwon. Saat ini dokter Park tengah memeriksa kondisi Siwon.

"Kau hanya terlalu lelah, jangan terlalu dipikirkan. Kau harus istirahat yang cukup. Kondisi jantungmu juga sudah cukup membaik. Sugestikan pikiran positif, hilangkanlah pemikiran negatif yang justru akan membuatmu merasa cepat lelah, terlebih akhir-akhir ini sakit jantungmu sering kambuh. Kau perlu banyak istirahat dan jangan memikirkan hal-hal yang berat." Siwon mengangguk lemah di tempatnya.

"Besok aku akan melakukan beberapa pemeriksaan lebih lanjut. Jika keadaanmu semakin hari semakin membaik maka kau akan cepat diberi ijin untuk pulang."

"Istirahatlah.." Kyuhyun mengikuti dokter Park keluar dari kamar Siwon.

"Kau tenang saja Kyuhyun-ssi, aku sudah memberinya obat tidur. Dia perlu banyak istirahat" Dokter Park menepuk pundak Kyuhyun. Kyuhyun kembali ke kamar Siwon, dilihatnya Siown sudah terlelap. Kyuhyun menghampiri Siwon dan merapikan selimut milik Siwon.

Kyuhyun kemudian duduk di sofa yang tak jauh dari ranjang Siwon. Kyuhyun membaringkan tubuhnya setelah sebelumnya ia merapikan plastik-plastik yang sempat ia jatuhkan tadi. Kyuhyun mulai terpejam mengikuti Siwon yang sudah terlelap memasuki alam mimpinya.

...

Kiho menghampiri Minho yang baru saja selesai berkeliling mengelilingi perusahaan. Kiho mengajak Minho untuk makan malam bersama relasinya Tn. Jung dan putrinya Jung Shilla. Mereka sudah sampai di restoran yang sudah dipesan Kiho sebelumnya. Minho nampak tak berminat mengikuti acara makan malam ini.

Sejak tadi Minho hanya terdiam menanggapi perkataan ayahnya yang membanggakan dirinya dan juga Siwon. Minho tersenyum kecut ketika relasi ayahnya bahkan termakan bualan sang ayah yang memuji dirinya dan juga Siwon kakak tirinya. Selalu saja dia dibanding-bandingkan dengan Siwon yang tak ada apa-apanya menurut Minho.

Pandangan mereka teralihkan pada seorang gadis muda yang baru saja datang, dia Jung Shilla. Kiho menyambut hangat putri Tn. Jung itu. Berbeda dengan Minho yang sama sekali tak peduli dengan kedatangan gadis yang kini duduk dihadapannya. Minho sibuk membuka lembar demi lembar buku menu ditangannya.

"Minho-ya, ini putri Tn. Jung, Jung Shilla." Minho menurunkan menu dari tangannya. Kemudian ia tersenyum kaku pada Shilla. sementara Shilla mengulurkkan tangannya ke arah Minho.

"Shilla imnida.." Minho membalas uluran tangan Shilla dengan ekspresi yang sama, ia hanya memberi senyumannya sekilas "Minho imnida" jawabnya singkat kemudian Minho mengalihkan perhatiannya pada menu yang sedang ia baca tadi.

"Dasar anak muda, mungkin karena baru pertama kali bertemu jadi masih merasa canggung, iyakan Minho-ssi?" ucapan Tn. Jung membuat Minho mengerutkan keningnya. Tapi Minho tak ambil pusing ia justru mengiyakan perkataan Tn. Jung.

"Aku rasa semakin sering mereka bertemu, mereka akan cepat akrab, benarkan Tn. Choi?"

"Benar sekali Tn. Jung, aku rasa Minho dan Shilla terlihat cocok" Minho menatap ayahnya. Apa maksudnya ini? sementara ketika ia melihat gadis dihadapannya, Shilla bersikap biasa saja tidak seperti dirinya yang merasa ada sesuatu yang sedang ayahnya rencanakan.

"Apa gadis ini sudah tahu maksud dari perkataan kedua orang tua ini?" batin Minho. Minho menyeringai ketika ia mulai menerka-nerka maksud sang ayah berbicara seperti itu.

"Baik Minho dan Shilla masih sama-sama sendirikan? Jadi tidak masalah kalau kita percepat acara perjodohan ini" Ucapan Tn. Jung menohok hati Minho. Seketika itu juga Minho menatap ayahnya meminta penjelasan darinya.

Namun sang ayah hanya memberinya anggukan agar Minho mau menyetujui acara perjodohan ini. Minho ingin bangkit dari duduknya namun tangan sang ayah menahannya. Kiho tahu ini membuat Minho shock karena sama sekali dirinya tidak membicarakan hal ini pada Minho sebelumnya.

Tapi Kiho sendiri sudah membicarakan ini dengan istrinya yang tak lain ibu Minho sendiri. Sena sangat menyetujui acara perjodohan ini, baginya Minho pantas disandingkan dengan putri Tn. Jung. Minho kembali duduk dan ia sama sekali tidak berbicara apapun.

Shilla menatap Minho intens.

"Minho-ssi, kau sangat dingin dari yang aku bayangkan. Tapi aku tetap menyukaimu. Aku ingin kau menyetujui perjodohan ini" Batin Shilla. Shilla memang sudah tahu sebelumnya mengenai masalah ini, sang ayah memberinya foto Minho padanya, Shilla langsung tertarik pada Minho ketika ia melihat fotonya. Penilaiannya masih sama ketika ia bisa bertemu dengan Minho secara langsung seperti saat ini. Menurut Shilla Minho adalah orang yang dingin. Sepertinya Shilla harus berusaha keras untuk bisa membuat pria dihadapannya ini luluh kepadanya.

...

Setelah acara makan malam itu, Minho meminta penjelasan sang ayah. Sena baru saja turun dari kamarnya segera menghampiri Minho dan Kiho yang baru saja sampai. Sena melihat Minho tengah berbicara serius dengan ayahnya itu.

"Abeoji, kenapa abeoji melakukan ini tanpa persetujuanku lebih dulu?"

"Maafkan ayah Minho, seharusnya ayah membicarakan ini denganmu—"

"Eomma yang menyuruh ayahmu untuk tidak memberitahukan hal ini padamu." Sela Sena yang sejak tadi sudah berdiri di belakang Minho.

"Eomma tidak mau kau menolak acara ini Minho. Baik ayah dan eomma sudah menyetujui masalah ini. eomma hanya ingin yang terbaik untukmu Minho."

"Kenapa harus dengan perjodohan? Aku bukan anak kecil lagi. Aku masih bisa mencari gadis yang pantas untukku."

"Minho, dengarkan eomma jangan katakan kalau kau masih menyukai gadis miskin itu? Minho apa kurangnya putri Tn. Jung itu? ia kuliah diluar negeri, berasal dari keluarga terpandang, dia juga cantik."

"Tapi aku tidak menyukainya!" sela Minho.

"Minho, kami memberi waktu kalian berdua untuk saling mengenal terlebih dahulu, apa kau tidak bisa melakukan itu?" Minho beranjak dari sana dengan wajah amarahnya dan pergi meninggalkan kedua orangtuanya tanpa mengatakan apapun. Minho dengan cepat menaiki tangga, menutup pintu kamarnya dengan kasar Minho membanting tas dan juga jasnya di atas kasur.

Minho melonggarkan dasi yang melilit di lehernya. Minho memegang sisi dinding, dan tertunduk sejenak. Nafasnya memburu menahan amarah seketika itu juga ia memukul dinding dihadapannya cukup keras.

Minho menepuk-nepuk dadanya, rasanya sesak-sesak sekali. Sampai kapan ia harus seperti ini. Minho tak ubahnya sebuah boneka yang tengah dipermainkan. Bisa saja ia berontak, namun apa daya berontakkannya itu dianggap angin lalu. Sang ibu selalu saja bisa membuat dirinya menuruti apa yang diinginkan sang ibu, walaupun dirinya sama sekali tak menginginkan hal itu.

Sementara itu Kiho terduduk di sofa, sena meyakinkan Kiho kalau Minho pasti akan menyetujui hal ini. Ia hanya butuh waktu karena ini terlalu mendadak untuk Minho.

"Apa perlu kita batalkan perjodohan ini?" Kiho terlihat terpukul karena Minho sepertinya tidak menyukai hal ini.

"Tenang saja yeobo, Minho mungkin masih shock. Biar aku yang bicara dengannya"

"sebaiknya kau istrirahat, sudah malam." Sena menuntun Kiho menuju kamar mereka.

Minho sama sekali tak bisa tertidur, ia cukup gelisah sehingga sulit untuknya memejamkan mata. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka menampakkan ibunya yang pasti Minho sudah tahu maksud kedatangan ibunya kemari. Minho bergeming, Sena menghampiri putra semata wayangnya itu, ia duduk di samping Minho.

"Minho, dulu untuk mendapatkan apa yang eomma mau, eomma bahkan harus rela dihina oleh orang. Eomma pernah merasakan sakitnya kehidupan dan eomma tidak ingin hal itu terjadi padamu Minho. Sekarang kita adalah keluarga Choi.

Kau dipandang terhormat oleh orang lain, sebagai putra dari pemilik perusahaan yang cukup banyak di korea maupun di luar negeri seharusnyan kau bersyukur Minho-ya. Eomma bahkan dulu tak pernah merasakan hal ini. Apa begitu sulit untukmu melakukan apa yang eomma mau? Tujuan eomma hanya satu kau dan eomma, kita bisa sama-sama bahagia."

"Apa seperti ini cara eomma menginginkan kebahagiaan. Apa harus dengan mengorbankan kebahagiaanku? Apa eomma puas selalu mencampuri semua urusanku termasuk mengatur masalah percintaanku. Sampai kapan eomma akan terus seperti ini? apa salah jika aku masih mencintainya. Dia yang bisa membuat aku bahagia. Aku merasa nyaman dengannya, tapi karena eomma aku harus rela melepasnya dan juga menyakitinya. Apa itu kebahagiaanku yang eomma maksud?"

"Sebenarnya kau sudah lelah hidup seperti ini, aku merasa iri dengan Siwon hyung yang bisa terbebas dari kekangan keluarga ini, bahkan ia bisa pergi ke negara yang ia mau. Ayah selalu menuruti keinginannya. Sementara aku? Aku harus melakukan ini, melakukan itu demi pencitraan keluarga dan juga obsesi eomma!"

"Minho!"

"Kenapa harus aku yang melakukan semuanya? Kenapa hanya aku yang terkekang oleh keluarga ini?"

"Minho, kau punya hak atas kekayaan ayahmu. Kau punya bagian yang harus kau lakukan untuk keluarga ini. Eomma ingin kau terlihat unggul dimata semua orang termasuk ayahmu. Eomma ingin kau selalu menjadi andalan keluarga Choi.

Eomma selalu merasa sakit ketika ayahmu selalu saja membanggakan putranya sementara kau seperti tidak dianggap olehnya. Eomma merasa sakit melihat hal itu, eomma tidak ingin Siwon merebut posisimu. Eomma ingin hanya kau yang selalu dibanggakan oleh ayahmu. Eomma melakukan hal ini bukan tanpa alasan. Eomma tidak ingin kau merasakan apa yang eomma rasakan dulu. Eomma mengatur semuanya karena eomma tahu apa yang terbaik untukmu Minho. Jika kau merasa ini adalah sebuah kekangan. Jangan pernah menganggap aku ibumu lagi. Sekejam itukah aku dimatamu Minho?. Aku yang telah melahirkanmu." Sena menatap Minho dengan tatapan sedihnya, ia tidak habis pikir kalau Minho akan memberontaknya.

Minho menghela nafasnya berat. "Lupakan pembicaraan kita malam ini, eomma. Aku lelah biarkan aku istirahat."

"Eomma menggantungkan semuanya padamu Minho.." Sena meninggalkan putranya, sementara Minho termenung. Haruskah ia jahat terhadap dirinya sendiri? Minho sekarang bukanlah Minho yang polos seperti dulu. Kalau eomma bisa mendapatkan apa yang ia inginkan kenapa aku tidak?.

"Aku akan ikuti permainanmu eomma."

...

"Setelah aku melakukan beberapa pemeriksaan, penyakit lemah jantungmu harus segera di tangani. Kau harus melakukan terapi untuk memperkuat jantungmu."

"Tapi tidak harus sampai dirawatkan dokter?"

"Tidak, cukup rawat jalan saja. Kau juga harus segera melakukan terapi. Aku akan membuatkan jadwalnya untukmu. Apa saja yang harus kau konsumsi selama masa terapi harus kau jalani demi kesembuhan penyakitmu. Selain dengan bantuan obat-obatan. Dengan olahraga ringan dan juga aktivitas yang menyenangkan bisa merelakskan pikiranmu dan melatih otot-otot jantungmu. Hanya saja kau tidak boleh terlalu lelah."

"Apa setelah aku pulang dari rumah sakit aku sudah boleh melakukan aktivitas seperti biasa?"

"Tentu, tapi ingat jangan melakukan aktivitas yang terlalu berat. Aku akan memberimu obat sambil menunggu waktu terapi."

"Besok kau sudah boleh pulang, kalau begitu aku permisi" tiba-tiba ponsel milik Kyuhyun berbunyi.

"Hyung, paman Kiho.. apa perlu aku angkat?" Siwon mengulurkan tangannya pada Kyuhyun.

"Biar aku yang bicara dengannya.." Kyuhyun menyerahkan ponselnya pada Siwon.

"Yobeoseyo"'

"..."

"Aku baik-baik saja abeoji, maaf baru bisa menerima teleponmu. Handphoneku mati , sementara handphone Kyuhyun beberapa hari yang lalu tertinggal di bandara." Bohong Siwon.

"Kalian sampai dengan selamatkan? Abeoji sangat mengkhawatirkanmu disini."

"Ne, abeoji..."

"Syukurlah kalau begitu, kalau kau perlu sesuatu bilang saja pada abeoji. Kartu kredit unlimited yang abeoji berikan padamu, gunakanlah sesukamu. Jaga dirimu disana baik-baik."

"Ne abeoji. Gomawoyo" sambungan telepon itu terputus. Siwon hanya tersenyum tipis pada Kyuhyun.

...-

"Karena hari ini kabarnya Siwon-ssi akan pulang dari rumah sakit bagaimana kalau kita membuat pesta kecil-kecilan disana?" Ahra tengah menelepon adiknya Kyuhyun. Ia berencana membuat acara makan malam menyambut kepulangan Siwon yang beberapa hari dirawat di rumah sakit. Hyohyun menemui Ahra yang tadi memanggilnya.

"Eonni, memanggilku?" Ahra mengangguk kemudian ia mengakhiri sambungan teleponnya.

"Hyohyun-ah, kau bantu aku berbelanja, hari ini Siwon-ssi akan pulang dari rumah sakit. Aku dan Kyuhyun akan membuat pesta kecil untuk menyambut kepulangan Siown. Kau bantu aku menyiapkan semuanya ya.." Hyohyun mengangguk, sebenarnya ia ingin menolak. Tapi rasanya tidak sopan lagipula ia juga tidak punya alasan yang jelas kenapa harus menolak ajakan Ahra. Hanya satu alasannya, ia tidak mau bertemu pria itu lagi. Ahra membuyarkan lamunan Hyohyun dan menarik tangan Hyohyun begitu saja keluar dari kantornya.

Kedua gadis ini sibuk berbelanja bahan makanan. Setelah beberapa menit berlalu Ahra dan Hyohyun keluar dari supermarket dengan menenteng beberapa kantung plastik berukuran sedang. Mereka memasukkan semua kantung-kantung itu ke dalam mobil.

Tak butuh waktu lama kedua gadis ini sampai di apartemen Kyuhyun. Ahra menaruh semua belanjaannya di meja dapur.

Hyohyun mengedarkan pandangannya kesekeliling apartemen. Kemudian mengikuti Ahra yang mulai mengumpulkan bahan-bahan makanan untuk acara makan malam nanti. Kyuhyun memberitahunya kalau ia dan Siwon akan pulang pukul 06.00 sore. Hyohyun membantu Ahra memasak makanan yang akan disajikan untuk makan malam nanti.

Tak terasa, beberapa masakan sudah jadi dan siap di sajikan. Ahra mulai menata meja makan. Hyohyun tengah membersihkan peralatan masak yang sudah digunakan. Terdengar suara bel apartemen berbunyi.

Kyuhyun dan Siwon baru saja sampai di apartemen. Mereka sudah bisa mencium wangi aroma masakan yang sepertinya sanat lezat itu. Ahra menyambut mereka diikuti oleh Hyohyun yang baru saja mneyelesaikan pekerjaannya. Siwon dan Hyohyun bertemu pandang, Siwon memberikan senyumannya yang menawan pada Hyohyun. Sementara gadis itu membalasnya dengan senyuman kaku. #Author klepek-klepek dah kalau dikasih senyuman maut punya Siwon...

"Senang melihatmu sudah lebih baik..."

"Gomawoyo Ahra.." Ahra mengangguk kemudian membawa mereka semua ke ruang makan. Semua makanan sudah tersaji disana. Kyuhyun bergegas duduk, perutnya sudah minta diisi rupanya. Siwon duduk disebelah Kyuhyun tepat berhadapan dengan Hyohyun.

Siwon dan Hyohyun sama-sama mengambil menu yang sama, tak sengaja tangan Siwon menyentuh tangan Hyohyun. Gadis itu segera melepasnya. Hyohyun merasa malu sementara Siwon terkekeh melihat ekspresi Hyohyun. Kyuhyun dan Ahra saling bertukar pandang tak mengerti.

"Kalian seperti sepasang kekasih yang sudah lama tak bertemu." Celetuk Ahra melihat ekspresi Siwon yang puas membuat Hyohyun malu.

"Mwo?" teriak Hyohyun. Sementara Kyuhyun dan Siwon terkekeh.

"Mana mau Hyohyun dengan Siwon hyung, denganku saja dia tidak mau." Celetuk Kyuhyun.

Hyohyun semakin menundukkan kepalanya. Orang-orang ini mulai menggodanya.

"Apa kau bilang, aku jauh lebih tampan darimu." Bela Siwon tak mau kalah. Ahra melihat Hyohyun yang mulai merasa risih digoda oleh mereka.

"Sudah-sudah, kasihan Hyohyun, ia malu dengan gurauan kalian"

"Aku tidak bergurau, bagaimana kalau aku menyukai gadis yang duduk dihadapanku ini?" ucapan Siwon membuat Hyohyun mengangkat kepalanya menatap kaget pria dihadapannya ini.

"Mwo?" baik Ahra dan Kyuhyun menatap tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Siwon. Begitu juga dengan Hyohyun yang hanya terdiam di tempatnya.

.

.

To be Continue...

Berkomentarlah untuk Part ini ^_^