Title : Wrong Identity

Author : Nurama Nurmala (NN)

Casts : All Super Junior Members (13+2)

Genre : Crime, mystery, Suspense

Rating : PG +13

Length : Chaptered


Jam menunjukkan pukul 16.37, namun aktivitas di sekitar kampus itu masih belum surut layaknya sekolah SMU lainnya. Morat-marit kegiatan terusung ramai sore itu, belum lagi mahasiswa lain yang masih berjibaku dengan aktivitasnya di dalam gedung kampus.

Tak jauh dari pintu gerbang kampus nampak dua orang namja dengan seragam SMU yang berbeda berjalan beriringan. Sontak keberadaan mereka menarik perhatian orang-orang sekitar, namun mereka bersikap acuh tak acuh dan meneruskan perjalanan kembali. Setelah menemukan kantin resmi kampus itu, mereka pun menempati meja di sudut ruangan, berhimpitan dengan jendela yang membiaskan jenggala senja.

"Kau yakin kita harus bertanya kepada orang ini?" Heechul bertanya khawatir, tak yakin dengan apa yang akan dilakukan Leeteuk.

"Tentu, orang ini bisa membantu kita. Dia adalah teman Kyuhyun semasa di LA."

"Entahlah, aku tak yakin... Mana ada orang dewasa yang mau ikut rencana gilamu!" Heechul bersungut-sungut kesal.

"Kyuhyun bilang orang ini pasti mau membantu, jika kita menghadapinya dengan cara yang tepat pula..." Heechul kembali menggeleng-gelengkan kepalanya karena mendengarkan rencana gila dari dua orang yang tidak waras seperti Kyuhyun dan Leeteuk.

"Ok, siapa orang yang tak kalah gilanya seperti kalian itu?" Ia menopangkan dagu, lalu mendelik tajam ke arah Leeteuk.

"Namanya Kim Kibum, dia mahasiswa semester 5 di fakultas Kedokteran dan Hukum." Jawab Leeteuk dengan bangga.

"MWO? TAK MUNGKIN!"

"Ne, dia ambil double degree. Dia mengambil 2 jurusan di kampus ini. Dan jurusan yang ia ambil sama sekali bukan jurusan yang mudah."

"IMPOSSIBLE!"

"Apa kalian yang bernama Leeteuk hyung dan Heechul hyung?" Tiba-tiba terdengar suara anak yang lebih muda dari mereka. Sontak, mereka langsung melihat ke sumber suara; ke arah anak laki-laki yang tengah berdiri di samping Heechul.

"Nu..Nuguya?" Heechul bertanya tak percaya menatap bocah di depannya.

"Jonen Kim Kibum imnida. Kyuhyunie berkata bahwa hari ini akan ada orang yang mencariku. Leeteuk hyung dan Heechul hyung." Kibum menatap mereka tanpa ekspresi.

"Ta..Tak... Mungkin! Tak mungkin... Ka.. Kau... Child Prodigy?" Tanya Heechul dengan tatapan yang terus melekat ke sosok pemuda di hadapannya. Ia tak lebih tinggi dari Kyuhyun, dan juga tidak tampak lebih tua dari Kyuhyun. Dia... terlihat masih SMP!

Suasana kantin mulai lengang dari lalu lalang pembeli, matahari meredupkan simponinya dan dengan ikhlas memberikan tempatnya kepada sang rembulan. Intuisi angin malam menelisik padang gemuruh dalam jiwa anak muda malam itu, membinasakan kelembutan prasangka dan menyeretnya ke panggung pengadilan barikade diri. Kibum mendengarkan dengan sisi rasionalitasnya ketika Leeteuk menjelaskan maksudnya dengan terperinci.

"Otokhe?" Leeteuk mencondongkan badannya ke depan, sementara Kibum mengaduk-aduk minuman di depannya.

"Sepertinya aku tidak ikut denganmu, hyung..." Nada penolakkan dilontarkannya dengan halus.

"Akhirnya! Ada juga orang waras di sini!" Leeteuk mendelik dengan cepat ketika mulut Heechul berceloteh dengan leganya. Heechul langsung memasang tampang tak berdosa, kemudian kembali menjatuhkan tatapannya pada sosok lelaki kecil di hadapannya.

"Wae? Kenapa kamu tidak mau ikut bergabung?" Leeteuk menghirup nafas dalam, lalu menghembuskannya dengan cepat, menggambarkan betapa tidak sabarnya ia... "Maksudku, aku jelas tahu betapa bahayanya pekerjaan ini, tapi tak ada seorangpun yang akan menawarkan pengalaman semacam ini lagi padamu."

"Mianhe, hyung..." Setelah berucap dalam keletihan, Kibum berdiri dari duduknya dan berarak menjauh dari mereka berdua. Tergambar dengan jelas bagaimana raut muka Leeteuk kala itu.

Gemuruh kebisingan malam semakin menghentaskan rasa percaya diri Leeteuk, membubuhi material kekecewaan dalam langsirannya menuju rumah. Namun tidak begitu dengan semangatnya, walau pada awalnya Kibum menolak ajakkannya, namun ia tetap berkeras bahwa Kibum akan menjadi bagian dari tim-nya. "Dia pasti orang ke-4 kita, aku yakin mengatakannya!" Ia berbisik kepada Heechul yang duduk di sampingnya, matanya tetap tertuju ke rerumputan yang terhampar di depannya, hatinya kebas dalam menghadapi penolakkan.

"Haaahhh... Sudahlah Leeteuk-ssi, kenapa kau bisa keras kepala seperti ini?"

"Dia adalah orang ke-4! Itu pasti!" Di malam berikutnya, kalimat yang dilontarkan Leeteuk malam itu kembali terngiang-ngiang bahkan dalam mimpi Heechul. Heechul curiga bahwa ia sudah mulai terkontaminasi akal pikiran Leeteuk yang aneh dan membahayakan. Tapi, jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, entah mengapa Heechul juga yakin bahwa Kibum adalah orang ke-4 mereka...

"Heh, bodoh! Kita sedang apa di sini?" Bisik Heecul sambil menarik-narik lengan baju Leeteuk. Ia menengok ke kiri dan kanan, persis seperti yang dilakukan Leeteuk kala ini.

"Sssstttt!" Leeteuk membekapkan tangannya ke mulut Heechul yang berisik sedari tadi. "Malam ini kita mau menyusup, arra?"

SSEEETT!

Heechul menepis tangan Leeteuk dari mulutnya. Matanya tiba-tiba menyalang, seperti hendak menerkam Leeteuk yang membelakangi dirinya. "Kita di rumah orang tahu! Mau mencuri apa kita malam-malam begini?"

"Sssstttt! Aku tak bisa berkompromi sekarang. Kita di sini bukan untuk mencuri..." Bisik Leeteuk sambil menarik keras lengan Heechul. "Kita di sini untuk menculik seseorang."

"APA?" Heechul memekik ingar, kedua bola matanya seperti hendak keluar dari tempatnya, mulutnya menganga lebar, terkejut dengan ucapan Leeteuk barusan. Namun sejurus kemudian, ia mulai merendahkan nada suaranya. "Kau sudah gila? Mau menculik seseorang? Aku kira kita hanya mencuri barang..."

"Sssttt! Kau ini! Jangan bicara keras-keras... Sudah, bantu saja aku!" Dengan isyarat tangannya, ia mengajak Heechul masuk ke beranda lantai dua rumah itu.

Dengan sangat terpaksa, Heechul menuruti permintaan Leeteuk. Ia mendesah pelan dalam keterpurukannya, batinnya memberontak pada kelakuan Leeteuk yang sudah di luar batas nalar, tapi solidaritas persahabatannya mengatakan lain, ia harus berada di samping Leeteuk sampai kapanpun, setidaknya sampai kondisi Leeteuk akan dendam masa lalunya mereda.

Mereka mengendap-endap menginjak genting yang berderak, berbeda dengan Heechul yang mengalami kesulitan dalam melangkahkan kakinya di atas atap rumah, Leeteuk melangkah tanpa suara! Bahkan ketika ia menginjak genting dan kayu yang sudah lapuk, tak ada irama ritmik dalam langkah kakinya, ia sudah seperti hantu.

Dengan gesitnya Leeteuk menyebrangi atap rumah sederhana itu, sementara Heechul tertinggal beberapa meter di belakangnya. Dalam satu hentakkan kaki, Leeteuk melompati tembok serambi ruangan itu, membuat Heechul bergumul bersama kegelisahannya. "Ya! Leeteuk-ssi, chakkaman..."

"Palli..." Leeteuk mengulurkan tangannya di tengah keheningan malam.

"HUP!"

Heechul berhasil tiba di serambi lantai dua dengan selamat. "Ingatkan aku, kalau anggota tim kita sudah berkumpul semua, aku akan menjadikanmu orang di belakang layar bersama Kyuhyun."

"Dengan senang hati." Jawab Heechul masam. "Rumah siapa ini?" Tanya Heechul kemudian.

"Kau akan tahu sebentar lagi." Leeteuk melangkah dengan santainya, sedangkan gunung kegugupan merungkupi seluruh tubuh Heechul. Semakin hari, Heechul jadi semakin yakin kalau Leeteuk sudah kehilangan logikanya, hingga tanpa berpikir panjang lagi dia berani menculik anak orang!

"Chakkaman, Leeteuk-ssi!" Leeteuk langsung menoleh ke arah Heechul, lalu menempelkan jari telunjuknya di depan mulut, mengisyaratkan agar Heechul diam dan mendekat ke arahnya. Dengan canggung, Heechul menuruti permintaan Leeteuk.

"Dialah, yang akan kita culik malam ini..." Mata Heechul kembali membulat tatkala melihat seorang namja yang sedang tergolek dengan tenangnya di atas tempat.

Awan malam beringsut menuju simposiumnya, membuat jenggala memerah dalam untaian tabir pagi. Cakrawala menggigiti pusara fajar yang berceloteh riang dalam cerahnya hari ini, menggeser keajaiban malam dalam pelukan sang dewa rembulan. Burung-burung saling bersiul bersahutan, membawa nada dalam ritmik yang dapat menyegarkan hati dan pikiran. Kondisi pagi itu sangat indah tak terlukiskan dengan kalimat yang ala kadarnya, namun kondisi itu jelas kontras sekali dengan pemandangan di ruangan sumpek gudang tua yang disinggahi Leeteuk dan Heechul.

"Mau kita apakan anak ini? Masa mau kita ancam habis-habisan?" Tanya Heechul sambil menekuri kondisi namja yang masih terlelap dalam tidurnya. Namja itu terikat dengan kuat di atas kursi dalam ruangan berdebu, membuat ia tak bisa bergerak walau sedikit dalam berontaknya. Leeteuk sudah merencanakan ini semua dengan matang, ia benar-benar sudah merencanakannya.

"Hmh.." Ia tersenyum. Jam sudah menunjukkan pukul 06.17 pagi, ia berdiri demi meregangkan otot-ototnya yang pegal karena semalaman suntuk membopong anak itu sampai kemari. Ekor matanya tiba-tiba menangkap gerak dari anak yang terduduk di kursi ruangan itu, pualam berwarna jingga berkibar-kibar perlahan mengalunkan lagu syahdu pagi ini.

"Mmm..." Ia bergumam, matanya mengerjap-ngerjap sebentar; berusaha membiasakan diri dengan cahaya yang menerobos jendela ruangan itu. Sebelum kelopak matanya terbuka, ia berguman, "ini di mana?"

Heecul dan Leeteuk saling bertukar pandang, alis Heechul tertaut mendengar pertanyaan anak itu. "Kau sudah tahu ini bukan di kamarmu sebelum membuka mata?" Heechul bertanya dalam kebingungannya.

"Ketika terbangun, aku mencium bau debu di mana-mana. Yang kutahu, di kamarku sama sekali tidak ada debu. Lalu, tubuhku yang tidak bisa bergerak bebas ini, pastilah aku sedang terikat. Benarkan, Leeteuk hyung?" Tanya Kibum sambil membuka matanya, pandangannya kini tertuju kepada Leeteuk. "Apa maksud hyung berdua sampai berbuat sejauh ini?"

Heechul melayangkan pandangannya ke arah Leeteuk. Sementara itu, Leeteuk tersenyum tenang menghadapi Kibum. Kendati pun suasana pagi hening seperti ini, langkah kaki Leeteuk yang menuju Kibum tetap tak terdengar layaknya langkah kaki orang biasa. Dan Kibum langsung mengetahuinya dalam kondisi mengancam seperti ini.

"Aku tak bisa mengikuti kemauanmu, hyung..."

"Wae?"

"Itu, merepotkanku saja..."

"Haaahhh... Dasar, kau ini manusia yang tidak memiliki gairah ya..." Ucap Leeteuk sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Kibum. "Apa yang sebenarnya bisa menggerakkan hatimu?" Bisiknya lembut di telinga Kibum.

"Haahh... Hyung, kata Kyuhyun kau adalah orang paling keras kepala yang pernah dia kenal." Leeteuk tersenyum mendengar perkataan Kibum. "Hyung sampai membawaku kemari, mencerminkan seberapa serius perkataan hyung kemarin sore."

"Ya? Lalu?" Leeteuk sebenarnya sudah tahu jawaban Kibum, tapi ia dengan semangat mengorek perkataan itu dari mulut Kibum sendiri.

"Haaahh..." Kibum kembali menghembuskan nafasnya. "Dan Kyuhyun tahu pasti, bahwa aku tidak bisa melawan orang sepertimu, hyung..."

"Hahahaha.." Leeteuk lepas dari senyumnya. Lengkungan indah tadi berubah menjadi tawa puas di ruangan itu, membuat Heechul tersentak kaget karena tawanya yang menggelegar.

ZZZZRRRAAASSSHHHH!

Suara rintik hujan membuyarkan lamunan seorang namja sore itu. Lengan kaos olahraganya yang digulung ke atas memperlihatkan ototnya yang berbentuk, membuat para yeoja berteriak histeris setiap kali bagian tubuh itu ditonjolkan. Namun tidak seperti biasanya, kali ini namja itu hanya memandangi aktivitas klub atletik dari jendela laboratorium.

"Walau hujan, mereka tetap saja berlatih..." Gumamnya perlahan. "Hhuuaahhh... Tapi aku sedang malas berlatih hari ini." Ia menguap lebar, lalu meregangkan otot-ototnya. Ia berbalik menuju seorang namja yang dengan antusiasme-nya yang besar mengutak-atik bahan kimia dengan teliti. "Kamu sedang bikin apa lagi sih? Apa gunanya coba?" Namja yang dimaksud hanya merengutkan dahinya, tetap fokus pada apa yang sedang dilakukannya. "Terus? Mau kamu apakan benda itu? Kalau seonsaengnim tahu kau bisa-bisa kena D.O. Wookie-ya..."

"Hehehehe..." Namja yang bernama lengkap Kim Ryeowook itu terkekeh pelan, lalu ia kembali meneruskan pekerjaannya. "Aku akan mengujinya di tempat biasa..."

"Untungnya untukmu apa?"

"Rasa penasaranku terbayarkan. Tidak ada yang lebih berharga dari itu."

"Aku tidak bisa menebak jalan pikiranmu Wookie-ya, kau orang teraneh yang pernah aku temui. Kau membuat berbagai jenis bahan peledak dari berbagai senyawa kimia, lalu melakukan uji coba di suatu tempat. Jika ledakannya tidak sesuai dengan harapanmu, maka kau akan mengurung diri di lab rumahmu dah mengutak-atik senyawa lain sampai menciptakan campuran yang tepat. Ck, kau satu-satunya anak sekolah yang sangat terobsesi dengan ledakan..."

"Hehehe..." Ryeowook kembali terkekeh mendengar ocehan namja itu atas dirinya. "Kau sendiri bagaimana Hankyung-ah? Kau ikut klub atletik padahal belum pernah ikut latihan sekalipun. Kau malah lebih mencintai memanah padahal kau adalah orang tercepat yang pernah aku temui..." Hankyung mengangkat kedua alisnya, lalu menggoyang-goyangkan botol berisi cairan hijau di tangannya.

"Ada satu hal lagi yang kau lupakan..." Ryeowook mengalihkan pandangannya ke arah Hankyung. "Aku bukan hanya ahli memanah, tapi aku juga jagonya membidik..." Hankyung tersenyum lebar ketika Ryeowook mendesah pelan menghadapi rasa percaya diri Hankyung yang besar.

Bintang di langit seperti memberikan harapan pada jiwa yang kesepian. Tetesan hujan yang membasuh bumi sore tadi ternyata telah mencuci langit hingga bisa memperlihatkan kemilaunya yang bagai batu azul terusung dalam takaran.

Seorang namja berdiri tak jauh dari meja di kamarnya, sesekali ia melirik koran internasional yang tergeletak di atas meja itu. "THE Q-QUALIZER IS COME BACK! EMERALD SAINT PAULA IS MISSING!" Judul yang terpampang tercetak dalam huruf besar-besar dan garis yang tebal-tebal. Q-Qualizer adalah sebuah komplotan pencuri yang sudah menjarah harta dunia dalam 25 tahun terakhir, dan mereka masih tetap dalam keahlian dan kelihaiannya sampai saat ini.

Namja itu mengambil surat kabar yang tergeletak di depannya, lalu mengamati isi berita itu lamat-lamat. Beberapa detik kemudian, ia melemparkan surat kabar itu ke lantai yang dingin, tatapannya mencerminkan seseorang yang tengah memendam kemurkaan yang sangat. Sumpah serapah nyaris tak terdengar karena diucapkannya dalam bisikan.

Ia berusaha mengatur nafasnya yang kian menderu. Setelah dirasa bahwa emosinya telah surut, ia menyeret kedua kakinya ke atas tempat tidur, menuju laptop yang masih menyala dalam diamnya.

Diteliti informasi yang terbias dalam LCD laptopnya secara detil, lalu digulirkannya kursor menuju daftar orang yang ia dapatkan dari Kibum.

"Jika hyung benar-benar ingin menjalankan rencana hyung, maka hyung tidak boleh dengan setengah-setengah melakukannya. Ini bukan pekerjaan gampang, dan kita tidak boleh meremehkannya." Ia kembali teringat perkataan Kibum siang tadi. "Ini adalah daftar orang berkompeten yang aku kumpulkan sejauh ini. Sebenarnya sudah menjadi salah satu hobiku meneliti orang-orang dengan segudang keahlian di Korea, tapi yang menurutku akan cocok dengan tujuan kita, hanya mereka ini sajalah..."

Leeteuk kembali meneliti daftar itu satu persatu.

.

.

.

" Kim Ryeowook, ahli dalam bahan peledak.

Hankyung adalah seorang atlet lari jarak pendek tercepat di Korea, dia juga dijuluki sebagai orang yang tak pernah meleset dalam melesatkan bidikan, apapun objek yang dia gunakan.

Lalu ada Choi Siwon, seorang ahli beladiri. Dia adalah tulang punggung dan kapten cemerlang tim Karate di SMU Guang Ju, SMU yang paling terkenal akan olahragawannya di Korea.

Setelah itu ada Kangin, merupakan pria terkuat yang kemampuannya masih disembunyikan dari khayalak umum.

Shindong, seorang peretas kenalan Kibum yang sudah kuliah tingkat 3, dia paling jago dalam memalsukan dokumen dan arsip lainnya, sanggup menduplikasi data hanya dalam beberapa menit saja.

Setelah itu ada Lee Sungmin, seorang ahli penyamaran. Bisa membuat tubuhnya sendiri tampak kurus dan gemuk, tampak tinggi dan pendek, menjadi anak kecil atau kakek-kakek, menjadi pria atau wanita, bahkan ia bisa merubah suaranya sendiri.

Setelah itu ada Lee Donghae, ahli barang-barang antik dan dialah satu-satunya yang punya koneksi dengan dunia hitam.

Lalu ada Yesung yang seorang maniak teknologi, dia pernah direkrut agen Amerika karena temuannya itu, dan sempat bersekolah di sekolah khusus anak-anak superior di Amerika, dia teman Kibum di sekolah itu.

Setelah itu ada Eunhyuk, seorang murid SMU yang disinyalir... bisa menemukan barang apapun hanya dengan pikirannya.

Lalu ada Zhoumi, seorang mantan pencuri yang sudah berpengalaman di bidang ini.

Dan terakhir adalah... Henry. Adik Kyuhyun yang masih kelas 5 SD. Dia adalah pembaca situasi yang baik, bisa membaca gerak bibir, menguasai 10 macam bahasa dengan lancar dan 15 bahasa dengan kemampuan aktif, belum termasuk bahasa isyarat. Ia juga bisa dengan tepat, menggambarkan keadaan psikologi seseorang."

.

.

.

Leeteuk menyandarkan tubuh ringkihnya di bantal tempat tidur, lalu memijit-mijit keningnya perlahan. "Calon-calon yang sangat kuat, mereka benar-benar memiliki kemampuan." Ia menutup matanya. "Yang sekarang menjadi masalah adalah... Bagaimana caraku membujuk mereka semua?"

To Be Continue...


.

Tanggapan komentar :

Untuk pembaca yang sudah review namun tidak sign in, saya tidak bisa membalas review Anda secara langsung, karena itu saya membalasnya di sini

1 . Dadon9

Wah.. wahh ... wah .. baru awal ajja dah kereen chingu . lanjutannya jgn lama2 ea chingu . Pkoknya tiap hari wajib ngepost lho chingu , OK ! hhahha... penasaran bgt pkokx aq ^^

Jawaban : Gomawo sudah menyempatkan diri untuk Read and Review. Maaf saya tidak bisa memenuhi permintaannya. Saya tidak bisa update fic ini setiap hari ^^ namun tetap tunggu ya :D

2 . Kim Taena

Author udah kuliah ya? Orang sastra? Atau biasa bca bku atau novel sastra? Coz disini kyanya kliatan bnget dari bahasa tingkat tinggi yang digunain author dalam mmbngun cerita. Hhehe aq suka sci-fi, lanjutkan part selanjutnya, yaa ...

HWAITING!

Jawaban : Saya bukan orang sastra, saya malah orang IT ^^ saya baru kenal tulis menulis kira-kira setahun yang lalu, buku bacaan pun seadanya. Bahasanya biasa saja kok, malah terkesan amburadul jika menilik pada karya author fic yang lain :) ketimpa banget deh fic saya .

3 .Mentari Lacamara

Selama aq baca ff baru, kamu author terbaik, terapih, dengan bahasa tertinggi yang pernah aku temuin, sumpah aq ga lebay!

Aq hobby baca novel dri kecil dan gaya penulisan kmu mirip novelis2 jadulnya Indo, dmana mereka menulis dengan gaya sastra yang benar2 bgus, aq harap lanjutannya tetap bagus dan ga mengecewakan!

DAEBAK!

Hwaiting!

Jawaban : Tak ada yang pantas dipuji dari karya abal dan amatir seperti ini. Terkadang ketika melirik fic ini lagi dan lagi, selalu saja saya menemukan kesalahan di dalamnya. Mau itu kata yang tidak efektif, diksi yang pincang dan tertatih, atau maksud dari deskripsi yang kurang mengena ketika saya mengulang membacanya sebagai reader. Namun jujur, saya malas untuk merevisi fic ini lagi :p hehehehe gamsahamnida dah mampir ^^

4 . QB

Keerrreeeennnn...

Leeteuk 0ppa, B0leh ngelamar jadi staff engga? Aq ahLi penggembira * diLempar sendaL *

Masie beLum ngeh maksud dibaLik judul sama ceritanya,, * ditimpuk lagi *

Ay0kk,, apdet s0on auth0r,,

Jawaban : Korelasi judul dan isi cerita tidak mungkin langsung terungkap di chapter satu 'kan? ^^ Hehehe sengaja, kita lihat saja nanti. Yang jelas saya sudah menyiapkan plot yang berkesinambungan antar chapter. Semoga dengan tidak terjawabnya pertanyaan ini chingu jadi makin penasaran ya... :D

5 . Diidactorlove

Huaaa kEreN bru Part 1 za daH kereN

Qska bgt jNis crta jy gNi wLo bhsa'y hiGh leveL & Qg ngerti *ketaUan bgt babo'y Plak!* tpii bKin Qtertarik wt trs bca

daEbaK laH pokok'y

next paRt dtNggu y chiNgu!

Jawaban : Huhuhuhu... T_T nangis lagi. Chingu, asli deh, bahasanya sederhana kok... *jedotin pala*

Jal Jayo~ \\(^o^)/