Wrong Identiy
Nurama Nurmala©2011
Ready to Reserved
Suasana ramai menggerayangi bidak jantung kota Seoul, bagai pelancong yang mengimani paham liberalisme, ia beriak dan menulari beragam aktivitas dalam atrium kehidupan. Rentetan transformasi bagai diulang tajuk ingar; mendemonstrasikannya dengan bangga di khalayak umum.
Tak jauh dari aktivitas metropolitan itu berjalan beriringan dua orang namja dengan santainya. Salah seorang dari mereka menapaki ceruk trotoar dengan sikap badan seorang atlet, sedangkan namja yang bersisian dengannya menggandeng beragam project uji coba tanpa singgung sapa dengan teman seperjalanan.
Angin siang mulai berhembus binal, menyiur tatanan poni dan uraian rambut seorang anak perempuan yang berlari riang di sepanjang petak jalan.
"Aku lapar." Ucap Hankyung dengan raut muka kusut.
"Gampang, ya tinggal makan."
"Tapi aku tidak punya uang."
Ryeowook yang mendengarkan keluhan Hankyung mengerlingkan bola matanya. "Kerja!" Setelah bergumam dengan nada ketus, Ryeowook berpelesir pada sosok Hankyung dengan mata telanjangnya. "Tubuhmu bagus,"
"Kau mau apa?" Hankyung yang terkejut segera menutupi dadanya yang setengah terbuka karena kancing bajunya secara sengaja tak ditautkan dengan sang belahan jiwa.
"Kau fiktor…" Imbuh Ryeowook kemudian. "Maksudku, tubuhmu bagus, kuat, dan kau masih muda. Setidaknya kau 'kan bisa menjadi kuli…"
"ENAK SAJA!" Manik mata Hankyung langsung menyalang menyongsong Ryewook.
"Hahahaha, aku cuma bercanda Hankyung-ah… Kau ini tempramen sekali." Ryeowook yang geli akan sikap Hankyung meretas senyum di bibirnya.
Ya, mereka adalah dua orang sahabat sedari kecil. Hankyung dan Ryeowook, itulah label nama dunianya. Dilahirkan di Seoul 17 tahun yang lalu. Walau mereka adalah teman sepermainan sedari kecil, namun tak jarang mereka selalu berselisih paham. Hankyung yang gagah dan atletik, selalu menjadi pioneer klub olah raga sedari sekolah dasar. Bersebrangan dengan Ryeowook yang seorang remaja polos dan terkesan lemah lembut, Ryeowook mungkin selalu dicap sebagai anak yang tak berguna. Menghabiskan sepanjang waktunya di laboratorium sekolah atau malah di laboratorium pribadinya sendiri hanya untuk uji coba bahan peledak. Ia sangat lemah di banyak mata pelajaran, namun jikalau berurusan dengan fisika dan kimia, maka ialah jagonya.
Tak ada yang dapat memisahkan persahabatan Hankyung dan Ryeowook selama ini, tidak masalah uang, tidak masalah cinta, bahkan perbedaan mereka yang signifikan pun tidak menyembul dan meradiasikan adanya suatu perubahan iklim persahabatan. Persahabatan yang mereka bangun, murni karena saling membutuhkan, itulah sejatinya kodrat manusia sebagai makhluk sosial.
"KKKYYYAAAA…"
Tak jauh dari tempat mereka berdiri, tiba-tiba terdengar jerit bingar seorang perempuan. "PENCOPET!" Suara itu kembali terdengar.
Hankyung dan Ryeowook yang mendengar teriakan itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Seorang wanita tengah berteriak-teriak histeris dengan telunjuk yang dilayangkan ke arah pemuda urakan yang berlari sekuat tenaga menjauhinya. Hankyung yang merasa jiwa pahlawannya terpanggil langsung menahan nafas, bersiap mencekal tatkala si pencopet itu lewat di dekat dirinya.
Ya, itu adalah jalan satu arah, tak ada tikungan lain yang dapat dijamahi untuk melarikan diri. Jika pencopet itu berpikiran pendek dan mengharapkan kematian, maka ia dapat mengusung jalan pintas di sebelah kirinya, yakni : JALAN RAYA YANG RAMAI KENDARAAN.
Hankyung sudah siap dengan ancang-ancangnya, ia membetulkan kerah kemejanya, lalu menyingsingkan lengan bajunya ke atas. Ia tonjolkan bisep lengannya yang berbentuk, bersiap menggodam sang penjahat kelas teri yang masih kalang kabut pada faktor melarikan diri.
Sebuah lengkungan menghias indah ketika sang penjahat berlari semakin mendekat ke arahnya. 'Ya, sedikit lagi…' Ucapnya dalam hati.
BBBRRRUUUGGGHHH!
Namun tak sempat Hankyung melancarkan aksinya, si penjahat sudah roboh duluan oleh pukulan seorang namja tinggi yang terlihat angkuh.
KKRRAAAKKK!
Terdengar suara retakan harga diri Hankyung.
"Ah, jeongmal gamsahamnida…" Wanita yang telah telah terjahati itu menunduk-nunduk menyampaikan terimakasih kepada namja yang tengah melumpuhkan penjahat itu, namun layaknya seorang tokoh protagonis yang introvert, ia hanya diam mematung memandangi wanita yang tengah sibuk mengusung terimakasih padanya.
"Cheonmaneyo onnie…" Seorang yeoja muda yang berdiri di samping namja angkuh itu menunduk membalas rasa terimakasih sang korban kejahatan. Setelah pihak kepolisian datang dan mengamankan pelaku kriminal itu, kedua namja dan yeoja itu pun pergi meninggalkan TKP dengan langkah yang terburu-buru.
"Sudahlah Hankyung-ah, kau tidak perlu merasa kecewa seperti itu…" Ryeowook yang tahu sebesar apa harga diri Hankyung menepuk bahunya pelan. Membangun kembali yuridis keyakinan bahwa dirinya tetaplah yang nomor satu.
"Zhoumi…."
"Apa?" Ryeowook yang takut salah dengar gumaman Hankyung berusaha memasang telinganya pada bisikkan yang tersampir dari bibir Hankyung.
"Namja itu adalah Zhoumi, seniorku di klub Taekwondo semasa di SMP."
"Kau kenal dia?"
"Tidak terlalu, karena dia satu-satunya anggota yang jarang sekali hadir di sesi latihan. Dia hanya tampil ketika kejuaraan di gelar. Posisinya hampir sama denganku, dibutuhkan klub tanpa ingin terikat di dalamnya."
"Begitu…" Ryeowook hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Hankyung.
Tak jauh dari tempat mereka berdiri, Zhoumi dan teman wanitanya berjalan bersebelahan menuju sebuah toko perhiasan yang jarang dilirik orang.
"Walau kau mati-matian menyangkal bahwa kau orang baik, tapi kau tetap saja membantu orang lain." Timpal yeoja di sampingnya.
"Kau salah menafsirkan tindakanku barusan." Zhoumi berusaha membantah.
"Terserah apa katamu, aku tidak terlalu peduli." Zhoumi mendelik ke arah yeoja itu, maklum dengan sikapnya yang kadang acuh tak acuh. Memang itulah karakter yang sedang ia mainkan saat ini, yaitu seorang yeoja bernama Mirin yang tidak terlalu peduli dengan pandangan orang lain akan di sekitarnya.
KRREEETTTT...
Daun pintu toko perhiasan berderit terbuka ketika Zhoumi mengais kenop pintu dengan pergelangan tangannya. Butiran demu menyeruak; menyerang cuping hidungnya, hendak menyambut kedatangan tamu yang bisa dihitung dalam dekade terakhir.
Model ruangannya sudah sangat kuno, sudah hampir termakan usia dan dilupakan orang. Sarang laba-laba mengatapi ruangan itu rimbun, tampik gundah memancang saru di wajah tirus Mirin, ia seolah merefleksikan tatapan jijik dan tidak suka akan gradasi alami dari tampilan toko perhiasan yang sudah usang dan lapuk itu.
Berjerumat dengan cerca dan rasa tak suka, Mirin melangsir menuju tempat si penguasa toko. "Bienvenue (1)" Sambut si pelayan toko yang masih tampak muda itu. "Vous venez encore une fois(2)"
"Ne, kau keberatan?" Tanya Mirin bertolak pinggang.
"Ahahaha, tentu tidak... Aku malah senang kalian ke mari, dengan begitu aku akan mendapatkan barang baru untuk kubeli 'kan Sungmin-ssi?"
"JANGAN PANGGIL AKU DENGAN NAMA ITU!" Teriak Mirin murka. Zhoumi langsung menyentuh pundak Mirin lembut.
"Dia adalah Shin Mirin saat ini, kau jangan melupakan itu Lee Donghae." Donghae yang mendengar penjelasang dari Zhoumi mengangguk pelan dan sunggingan senyum meremehkan.
"Baik, apa yang akan kalian jual padaku saat ini?"
To be Continued...
