Wrong Identity
Crime, Suspense, with All Super Junior Member
Disclaimer : They was not my mine, they are belong to themeselves
Nurama Nurmala©2011
Ready to Reserved
.
.
.
Onggokkan benda-benda yang tidak semestinya berada di tempat itu menjelma menjadi kanvas yang termateraikan dengan uraian debu yang menutupinya. Bagai diperintah oleh rasa kebas hati, koloni debu itu seolah enggan beranjak dari tempat nyamannya di sudut-sudut ruangan dan tempat yang tidak dirambahi sapuan jemari tangan.
Tiga siluet tubuh bagai tersaput kelambu malam, berdiri dalam desauan angin sore dalam diam. Salah seorang dari mereka nampak memamerkan gigi putihnya, tampangnya sedikit licik, dengan tatanan rambut hitam yang rapi dan bau minyak rambut yang menguar ke seisi ruangan.
"Apa yang kalian bawa hari ini?" Ia kembali mengulang pertanyaannya.
"Ini." Zhoumi mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung celananya. Terlihat sebuah benda yang tak lebih besar dari optical mouse bertelut di telapak tangannya. Benda itu masih ditutupi kain perca beludru berwarna hitam.
"Apa itu?" Donghae tampak menautkan alisnya.
SRREEEKKK!
Menimpali pertanyaan Donghae sebelumnya, Zhoumi pun melepas kain penutup benda itu. Mata Donghae langsung membulat sempurna tatkala ekor matanya menangkap wujud benda yang berada di balik kudung hitam yang baru disibakkan Zhoumi.
"Da-darimana kau dapat benda itu?" Zhoumi mengukir lengkung di bibirnya setelah puas melihat reaksi Donghae.
"Kenapa usaha kalian tidak pernah tercium polisi ya?" Mirin mendengus sesaat, matanya masih sibuk menjarah barang yang ditimbuni gelimpang debu yang tidak sedikit.
Ruangan tempat kerja Donghae tak jauh lebih besar dari kamar Mirin, perhiasan ala kadarnya dapat dihitung dengan mudah, bahkan menggunakan jari. "JEWEL of JOULE", papan nama yang berada di pelataran serambi mengumandangkan nama toko tua itu dalam tulisan yang sudah tergerus usia.
Toko Jewel of Joule sudah berdiri sejak 56 tahun yang lalu, sudah berkali-kali tergusur oleh jenis usaha yang lebih modern seharusnya. Namun karena bertalang toko warisan, toko itu nyatanya masih bisa bertahan di kancah persaingan yang semakin ketat ini.
Toko warisan? Jika ditilik secara mendalam, alasan itu sedikit naif sebenarnya. Di jaman yang sudah seperti hutan rimba ini sudah tak berlaku lagi sistem persaudaraan. Yang ada hanyalah sinisme tak pandang bulu. Walau itu keluarga sekalipun, jika ada manfaatnya pasti secuil harta peninggalan leluhur sudah langsir ke meja lelang, begitupun dengan toko yang tersaruk pialang takdir di pojok jalan ini.
Lalu, apa yang melatarbelakangi bertahannya usaha yang suram masa depan seperti ini? Apa yang menyebabkan toko perhiasan itu tetap berada di jalurnya?
JUAL BELI PERHIASAN SECARA ILEGAL!
Itulah penyebab usaha ini masih bisa bertahan. Dengan menipu petugas yang berwenang dengan tameng perusahaann kolot, pemilik yang sebenarnya menjalankan usaha ilegal dengan tenang dan rapi, seperti transaksi yang sedang dilakukan saat ini.
"Aku senang bekerja dengan profesional seperti kalian." Imbuh Donghae kemudian. Entah apa yang hendak ia biaskan dengan makna polaroidnya. Apakah ia ingin mengambil hati Zhoumi dan Mirin agar penawaran kali ini menguntungkan dirinya, ataukah ada penyebab lain ia bersikap manis seperti itu?
"Begitu juga kami." Mirin menimpali. "Jangan berniat mencari untung dengan mengambil hati kami, kami tak sepolos itu, arra?" Donghae tersenyum kecut mendengarnya.
Andai saja yeoja jadi-jadian di depannya adalah benar-benar yeoja secara biologis, maka ia mungkin akan sedikit bersikap lunak dan membiarkan yeoja itu menandak-nandak kebahagiaan lewat barang yang ia jual.
Um... Sepertinya tidak begitu juga. Donghae lebih mencintai uang dari pada seorang gadis. Gadis yang pernah ia cintai telah mati diterjang biduk prasangka terali besi. Mulai kala itu, ia menyimpan dendam pada aparat yang menyandang gelar polisi.
Dilirik lagi yeoja yang sedang berdiri memandangi berbagai perhiasan di sana, sangat sulit dipercaya! Siapa yang dapat menyangka bahwa yeoja dengan tampang aegyo di depannya adalah seorang namja? Andai Donghae tidak mengenalnya sedari kecil, tentulah ia tidak akan tahu kebenaran itu.
Lee Sungmin, itulah nama sejatinya. Awal mula Donghae bertemu dengan Lee Sungmin ketika mereka berumur 7 tahun. Kala itu ibu Sungmin masih hidup, ia pun masih sama seperti anak kecil lainnya yang normal dan senang bermain. Kenyataan mulai memperlihatkan taringnya beberapa hari kemudian setelah pertemuan pertama Donghae dengan Sungmin di toko ini. Sungmin tiba-tiba bertransformasi menjadi seorang yang apatis. Ia jadi lebih suka diam dan menerawang menatap langit. Masih belum jelas apa yang sedang ia perhatikan dengan menatapnya lama.
Entah Sungmin yang sudah mulai menjadi sinting atau ia memang berbakat memainkan peran ganda. Setelah kepergian ibunya ke surga, Sungmin mulai disesaki rasa kehilangan yang sangat. Namun, tiba-tiba ia membuat semua orang di sekitarnya tercengang hebat ketika ia dengan sempurna meniru kebiasaan ibunya, bahkan suara yang berujar dari bibirnya teramat sangat mirip dengan ibunya. Tak bisa dibedakan! Kejadian aneh itu, berawal 10 tahun yang lalu.
Keanehan pita suara Sungmin tak serta merta membawanya pada frasa autisme atau terkucilnya ia dari lingkungan sekitar. Kenapa? Karena ia sama sekali tidak mempublikasikannya!
Lain lagi dengan Zhoumi, Donghae tahu jelas apa pekerjaan Zhoumi di samping aktivitasnya yang seorang mahasiswa jurusan kriminologi. Licik memang orang yang bernama Zhoumi ini, ia mahasiswa jurusan kriminologi, namun ia sendirilah yang memberikan sumbangsih terbesar kepada aparat kepolisian atas kasus yang tak pernah terpecahkan selama ini. Ya, Zhoumi adalah seorang pencuri veteran.
Zhoumi pertama kali dibawa ke toko itu sekitar 3 tahun yang lalu, ketika ia masih duduk di bangku kelas 2 SMU. Pria tua bernama Dong Woo yang membawanya kemari. Tak usah bingung siapa itu Dong Woo, dia tak lain adalah Lee Sungmin yang tengah menyamar menjadi seorang pria dengan tongkat kayu berukir jegala sore dan uban yang mengatapi kepalanya rimbun. Mulai hari itu, Zhoumi dan—siapapun yang sedang diperankan Sungmin jadi sering bertandang untuk sekedar menukar barang.
"Hhaaahhh..." Donghae menghembuskan nafasnya berat mengingat masa lalunya dengan dua orang namja yang masih berdiri di depannya. Terakhir kali ia melihat wujud asli Sungmin adalah 10 tahun yang lalu. Sampai sekarang Sungmin selalu menemuinya dalam wujud yang seringkali berubah. "Apakah si Sungmin ini pernah jatuh cinta ya?" Donghae kadang penasaran juga dengan kehidupan pribadi Sungmin, namun rasa penasaran itu segera ditepisnya tatkala etika profesionalisme melenggang menyeruak; mengingatkannya.
"Ini adalah kotak perhiasan yang aku curi dari istri seorang aristokrat di London sana." Zhoumi mulai bercerita. "Kau tidak perlu tahu siapa dia." Ia kembali memberi penekanan pada kata-katanya. "Berapa harga yang pantas untuk barang ini?"
"Hm..." Donghae mengelus dagunya halus. Ia seolah berpikir keras menimang harga pantas untuk sebuah kotak perhiasan yang ditaburi batu zamrud. Padahal sebenarnya ia sudah tahu harga pasti dari barang mahal di depannya, namun ia tak mau terlihat sebagai orang yang 'tahu' agar Mirin dan Zhoumi tak beranggapan licik tentangnya. "1 juta won." Mirin mendelik cepat.
"Kau jangan main-main dengan kami."
Donghae tersenyum sesaat. "Baiklah, baiklah... Kalian memang tidak bisa diajak bercanda." Donghae terkekeh pelan seolah baru saja melontarkan lelucon lucu. "Aku hanya sanggup membelinya dengan harga 1,4 juta won."
"2 juta won!" Donghae menggantung alisnya ketika mendengar tawaran Mirin.
"Pantas kau datang ke sini sebagai wanita, wanita adalah makhluk yang pandai menawar." Manik mata Sungmin kembali menyalang mendengar gumaman tak jelas dari mulut Donghae karena menyinggung kata 'sebagai' di depannya, namun ucapan Donghae cukup jelas didengar di ruangan yang sepi suara seperti di toko ini. "Baiklah, terakhir... 1,5 juta won."
"1,8 atau kami pergi!" Donghae kembali mengerutkan alisnya.
"Haaahh... Baiklah, baiklah... Kau ini penawar sekali." Donghae langsung meraih laptop yang berada tak jauh dari sisinya, lalu menggerakkan jarinya menyusuri keyboard laptopnya. "1,8 juta won sudah aku transfer ke rekeningmu, kau bisa mengeceknya sendiri." Mirin tersenyum penuh kemenangan.
Mirin dan Zhoumi kembali terpedaya dengan mata terbuka! Mereka memang tahu bahwa Donghae berorientasi pada uang dan uang saja. Mereka juga tahu jika sudah sampai di pasar gelap, harga benda itu bisa mencapai 3 kali lipat dari harga deal mereka bersama Donghae. Tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa, yang sudah malang melintang dan tahu pasti dunia hitam karena intensitas berinteraksi yang tak jarang adalah Donghae. Ya, lamanya waktu ia berkelana di dunia hitam mau tak mau sudah membubuhi Donghae dengan beragam pengalaman berharga.
"Tumben kau baik sekali hari ini, kau tak mungkin menipu kami dengan lambungan harga yang signifikan 'kan?" Mirin menatap Donghae dengan muka aegyo-nya.
"Hahahaha..." Donghae tertawa lahak. "Tentu tidak, siapa pula yang berniat menipu kalian?"
Dalam sekejap, barang yang dipegang Zhoumi segera berpindah tangan. Donghae mengelus-elus butiran perhiasanan yang menghiasinya selaras dengan lekukan indah ornamen itu.
KKRREEEKKKK!
Tiba-tiba pintu toko terdengar berderit, dibuka oleh seseorang yang diindikasikan tak pernah memasuki toko itu sebelumnya. Donghae dengan sigap menyembunyikan benda berharga yang ia dapatkan dari Zhoumi di bawah laci yang merupakan tempat persembunyian darurat barang-barangnya. Ya, tak heran 'kan orang seperti Donghae sangat berhati-hati sekali dan selalu mengkalkulasikan beragam kemungkinan?
"Bienvenue..." Sapa Donghae dengan logat Franch-nya. "Silahkan melihat-lihat barang di sini tuan..."
Tampak dua orang laki-laki menjejakkan kaki di petak lantai yang terlihat usang dengan santainya. Mata mereka menerawang dan menjelajah setiap lekuk ruangan yang disebut toko itu. Salah seorang dari mereka mengangguk menimpali sambutan Donghae.
Zhoumi dan Mirin memandangi ke dua orang yang bertandang dengan teliti, ke dua orang yang merasa diperhatikan itu pun menawarkan senyum pasti dan mengangguk sopan ke arah mereka berdua. "Mungkin mereka seperti kita." Itulah anggapan Mirin dan Zhoumi pada awalnya. Mirin dan Zhoumi saling bertukar pandang, lalu memberikan kontak berupa anggukkan untuk segera keluar dari toko itu.
"Haaahh... Tak ada barang yang menarik di sini." Sungmin mengerlingkan bola matanya lalu mengibaskan tangannya pelan. "Ayo kita pergi dari sini, chagi!" Zhoumi yang menangkap isyarat dari Mirin langsung memandang yeoja di sampingnya dengan lembut.
"Kajja." Setelah menanggapi ajakkan Mirin, mereka berdua kembali memandang pengunjung yang baru datang, lalu mengangguk pelan; meminta izin untuk undur diri.
KKRREEEKKK!
Daun pintu kembali berderit ketika mereka melenggang keluar dari toko itu.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" Donghae kembali menawarkan jasanya.
Salah seorang dari mereka tersenyum. "Kami ingin menawarkan pekerjaan padamu." Alis namja itu saling beradu.
"Pekerjaan?"
"Ya."
"Aneh, tak pernah ada yang menawarkanku pekerjaan kecuali menjadi penilai barang antik di dunia ilegal. Apakah ini yang mereka maksudkan?" Batin Donghae bertanya was-was, khawatir sekaligus curiga tentang identitas orang yang mendatanginya saat ini. Bisa jadi mereka berdua adalah polisi yang datang untuk menyelidiki!
"Untuk membangun kepercayaan, mari kita berkenalan secara jujur." Laki-laki itu kembali mengusung senyum penuh maksud. "Namaku Leeteuk." Donghae diam tak berkedip. "Orang di sampingku adalah Heechul." Mata Donghae menelusur sosok Heechul yang tengah sibuk dengan debu yang menghinggapi dirinya, ia terlihat dengan jijik menepuk-nepuk benda uzur serupa guci di depannya.
"Saya Lee Donghae." Leeteuk mengangguk mendengarnya. "Pekerjaan yang Anda maksud itu... Pekerjaan yang seperti apa?"
Leeteuk kembali tersenyum. "Pekerjaan yang akan mendatangkan uang besar." Donghae langsung menyipitkan matanya.
"Uang besar berarti resiko juga besar."
"Benar." Leeteuk terkekeh mendengarnya.
"Pekerjaan seperti apa?"
Leeteuk terlihat memainkan bangau mainan yang menghiasi meja Donghae. "Mencuri." Alis mata Donghae langsung beradu, nafasnya tercekat.
"Maksud Anda?"
"Aku membutuhkan pengaruhmu di dunia hitam. Aku ingin kau bergabung dengan timku, aku ingin kau menjadi mataku. Aku ingin kita bekerja sama."
Dengan hati-hati Donghae mencerna maksud Leeteuk. Pasalnya, Leeteuk adalah orang yang pertama kali ia temui, mungkin saja ia bermaksud mencelakainya. Siapa yang tahu? Sekali lagi, ia menanyakan maksud dari perkataan si namja berambut cokelat. "Aku tidak mengerti maksud Anda tuan. Tuan jangan main-main dengan saya."
"Ini." Leeteuk menyerahkan kartu nama yang berisi nomor telepon padanya. "Aku tak menjanjikan bisnis yang aman, namun keuntungan yang dihasilkan dapat kupastikan 10 kali lipat besarnya dibanding pendapatan yang kau cari dengan susah payah." Leeteuk lalu mengalihkan pandangannya ke arah Heechul. "Chulie-ya, kajja!" Setelah melemparkan senyum penuh percaya diri, Leeteuk dan Heechul pun meninggalkan Donghae dengan sikap pongah hati.
"Ada-ada saja..." Donghae menggeleng-gelengkan kepalanya menghadapi tingkah Leeteuk. Siluet tubuh mereka sudah meninggalkan toko itu lama. Setelah yakin situasi aman, diraihnya secarik kertas putih atas nama Leeteuk, diremasnya dan dibuangnya ke tempat sampah.
BBRRAAAKKK!
"JANGAN BERGERAK!"
Donghae terperangah dengan kejadian yang menimpanya kini. Ia terkesiap, tak mampu mengucapkan sambutan dalam bahasa Perancisnya kepada aparat berbalut seragam ini.
"Kami polisi dari kesatuan anti narkoba. Kami telah mendapatkan laporan bahwa kau sering mengadakan transaksi narkoba di sini."
"Tu-tunggu dulu. Aku tak melakukan pekerjaan laknat macam itu opsir..."
"Ini surat perintahnya!" Salah satu orang yang dikenal dengan komandan mereka memperlihatkan secarik kertas secara sekilas ke hadapan Donghae. Lalu tak lama ia memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk langsung memulai sessi penggeledahan.
"Silahkan kalian menggeledah sesuka hati, di sini tak mungkin ada barang seperti itu." Dalih Donghae acuh tak acuh. Ia sudah muak dengan orang-orang bertameng keadilan ini. Ia tak lagi memandang mereka dengan gentar, ia tak lagi berdiri dengan tubuh diserang gemetar, ia malah dengan secara sengaja menyulut tantangan dan mengibarkan bendera perang di muka mereka yang terlihat sangar.
"Terserah jika kalian menemukan barang-barang berhargaku dalam proses pencarian ini. Aku akan berkelit dan bilang bahwa itu adalah perhiasan untuk pelanggan pentingku. Tak aneh bukan jika toko perhiasan memiliki perhiasan di dalamnya?" Ia mulai menyusun rencana dan konklusi untuk pembelaan diri.
"Ketemu!" Salah seorang pria dengan tubuh jangkung mengeluarkan segumpal barang mirip tepung dengan berat sekitar setengah kilogram dari dalam guci yangditimbuni debu. Seragamnya berbeda dengan atasan dan beberapa rekan lainnya, di papan namanya tersemat nama "CHOI SIWON"dengan ukiran kaku. Disinyalir, bahwa ia adalah masyarakat partisipan yang membantu tugas-tugas aparat kepolisian.
Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulit Donghae. "Bagaimana benda itu bisa berada di sana?" Suaranya melengking tajam, merefleksikan ketidakpercayaan pada kenyataan yang akan menjelma menjadi mimpi buruknya bertahun-tahun kemudian.
"Lee Donghae, sebaiknya kau jelaskan tentang kejadian ini di kantor polisi!" Sang komandan segera memberikan isyarat kepada bawahannya untuk mengawal Donghae ke luar ruangan—menuju markas mereka di pusat kota.
"..." Donghae diam tak bergeming, kepalanya bekerja secara konstan, matanya menajam dan nafasnya menderu. "Mereka..." Dipalingkannya pandangan mata berwarna cokelat itu ke arah tong sampah yang terduduk diam di pojok ruangan. "Leeteuk dan Heechul, mereka..."
"Ayo pergi!"
Tak jauh dari toko perhiasan itu, hanya beberapa blok dari sana berjalan Leeteuk dan Heechul dengan muka cerah.
"Dia pasti terkejut dengan hadiah perkenalan yang aku kirimkan padanya." Leeteuk mengokang senyum kemenangan atas rencana yang sudah rapi ia susun.
"Untung aku tidak mengacaukannya. Aku sungguh gugup tadi!" Heechul mengetatkan bibir dan berbisik saru, ia bergidik menatap Leeteuk yang bagai penatu berkelas itu. "Kau benar-benar nekat, Leeteuk-ssi..."
"Tapi kita berhasil 'kan?" Leeteuk mengedipkan sebelah matanya. "Kau melakukan tugasmu dengan baik. Kau berhasil memasukkan narkoba itu tanpa sepengetahuannya."
"Itu karena dia terkesima dengan sosokmu." Cibir Heechul tak terima dirinya yang yeoppo dikesampingkan. "Untung para polisi itu percaya bahwa Donghae memang bankirnya narkoba."
"Tidak sesederhana itu kok. Sebelumnya aku menginformasikan keterangan palsu dengan beragam saksi mata kuat tentang transaksi mencurigakan di sana. Lagipula, orang seperti Donghae tidak akan dengan mudah menandatangani kesepakatan kerja sama, ia akan menganggap remeh kita. Dengan begini, ia akan langsung mencari kita dan meminta ganti rugi. Hahahaha..."
"Ya, kau memang hebat!" Leeteuk tertawa lepas mendengar pujian Heechul yang seperti dipaksakan itu.
"KKYYYAAAA!"
"UWWAAAA!"
"MENJAUH! CEPAT MENJAUH!"
"CEPAT SELAMATKAN DIRIMU! JANGAN DEKATI GEDUNG ITU!"
Leeteuk dan Heeechul saling bertukar pandang melihat keadaan tak terkontrol yang disajikan di depan mata mereka. Orang-orang mulai berlari tak tentu arah, terlihat polisi yang memasang barikade dan memblokir semua jalan menuju sebuah gedung perusahaan komunikasi.
"Maaf, ada apa ini?" Leeteuk menepuk pundak seorang namja di sampingnya, namja itu segera menoleh ke arah Leeteuk.
"Ada bom di dalam sana! Bom digital! Beberapa menit lagi akan segera meledak!" Semua yang melihat terlihat panik.
"Pak, tim penjinak bom diprediksi akan sampai kemari setengah jam lagi." Terdengar laporan dengan nada tegas dari seorang anak buah kepada atasannya.
"APA? BOM ITU AKAN SEGERA MELEDAK! KENAPA MEREKA LAMA SEKALI?"
Suasana ricuh dan tak terkendali menguar merealisasikan susana distraksi yang tersemat semi sarkastik. Semua kalang kabut menghadapi masalah ini, bukan hanya sebuah gedung yang akan hancur, tapi beberapa nyawa yang terperangkap dalam gedung itu terancam ikut terenggut dengan meledaknya bom militan tersebut.
"Bagaimana ini? Pak Jong Nam masih berada di sana..." Tangis bertalang sembilu pecah bagai berkonspirasi dengan degradasi ketakutan. Semua yang melihat saling merengkuh dengan degupan jantung bertalu yang hendak keluar.
"Wookie-ya, bom itu..." Terdengar sebuah suara yang menyita perhatian Leeteuk.
"Wookie-ya? Kim Ryeowook?" Leeteuk berusaha mengingat daftar nama yang diberikan Kibum. Lalu setelah bayangan samar itu tak lagi merambang dan memecah kejelasan, ia segera melabuhkan pandangannya ke sumber suara. Matanya menyipit ketika melihat dua orang namja yang sedang berdiri berbisik-bisik tak jelas.
"Entahlah Hankyung-ah, aku tak yakin..." Terdengar bisikkan secara samar.
Leeteuk kembali berfikir. "Kim Ryeowook, adalah ahli bahan peledak. Hankyung adalah ahli membidik sasaran." Ia memutar kepalanya, melihat sekeliling dan mengangguk pasti ketika dinyana rencana lain meretas jelas.
DRAP!
Ia melangkahkan kakinya menjauh dari tempat Heechul berdiri. "Kau mau kemana?" Tanya Heechul skeptis, ia takut Leeteuk akan melakukan sesuatu yang berada di luar batas nalar, LAGI!
"Aku akan pergi sebentar, kau lihat saja di sini." Dengan semburat kepercayaan dan tatapan yang meradiasikan harapan, ia melenggang maju mendekati tim ahli dalam kondisi seperti ini. "Pak," panggilnya dengan nada tenang. Sang opsir polisi segera menoleh. "Saya punya pengetahuan di bidang peledak, ijinkanlah saya menjinakkannya."
Mata opsir senior itu terbelalak kaget. "Kau jangan bercanda, nak! Nyawamu bisa-bisa melayang!"
"Tapi jika kita hanya menunggu saja, banyak nyawa yang tetap akan menjadi korban." Leeteuk meyakinkan opsir senior itu dengan tatapan matanya yang lugas.
"Aku tetap tak bisa mengizinkannya! Kau adalah warga sipil, tindakanmu tak akan dibenarkan."
"Maka catatlah saya sebagai korban yang kehilangan nyawa karena tidak bisa keluar gedung tepat pada waktunya." Heechul, Ryeowook, Hankyung dan sebagian yang mendengarkan pembicaraan itu terkesiap mendengarnya.
Ryeowook menelan ludahnya, setelah menimang berbagai kemungkinan, Ryeowook mulai melangkah menyongsong Leeteuk. "Maaf, pak. Tapi, biarkan saya ikut juga..." Sebuah sunggingan terlukis indah di wajah Leeteuk ketika Ryeowook mengutarakan maksudnya.
"Dasar bodoh! Tahu dari mana dia masalah bom! Menarik perhatian orang bernama Ryeowook pun ada batasnya, babo-ya! Tidak perlu mengorbankan diri seperti ini!" Heechul bersungut-sungut kesal dalam hati. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa lagi, yang bisa dilakukannya kini adalah mendoakan keselamatan Leeteuk, Ryeowook, dan orang-orang yang terjebak di gedung itu.
To be Continued...
