untuk kakak unyuu (wish you were here) : selamat ulang tahun ya kak! semoga semua yang kakak inginkan bisa terkabul! amiiin! [walaupun tentu saja, kakak nggak mungkin baca cerita ini]


#3

Kopi itu kali ini diletakkan di sudut meja. Sepertinya kali ini sang pengirim kopi sedikit terburu-buru. Bahkan aku bisa melihat noda di pinggiran tutupnya. Bisa jadi, sang pengirim hampir terjatuh dan kupikir itu semua wajar karena salah satu rekan dosenku, Miss Haku, meninggalkan buku-buku partitur yang berserakan di sekitar mejanya, tepat di sebelahku.

Tampaknya kurir pengirim itu hampir jatuh disana.

Aku tersenyum dan meraih cangkir karton itu. Tertulis pesan di pinggir bawahnya.

Ujian sudah dimulai. Sir Len harus lebih semangat!

Ada coretan kasar di bagian bawahnya. Kelihatannya dia terburu-buru dalam menuliskannya.

Miss Haku seharusnya membereskan semua partitur itu, tapi kulihat partitur lagu romance karya Beethoven. Aku menyukai versi pianonya. :)

Aku tidak bisa menahan senyuman dan segera membawa cangkir kopi itu bersama tas kerjaku. Ketika aku ingin keluar, aku mendengar ocehan Oliver, salah satu dosen musik klasik, sedang berbicara dengan burung-burung peliharaannya.

Dia sebenarnya melanggar salah satu aturan universitas dengan memelihara mereka di dalam ruangan, tapi itu urusannya dan aku tidak berminat untuk menegur dosen senior seperti dirinya.

"Apa yang terjadi, Oliver?"

Keturunan Perancis-Inggris itu menatapku sekilas sebelum akhirnya mendesah berat. "Pasti ada yang masuk ke ruangan dan mengacaukan mood mereka. Aku benar-benar tidak suka jika ada mahasiswa ataupun mahasiswi yang masuk kantor kita."

Aku mengangguk pelan. Bisa jadi pemberi kopi ini adalah salah satu muridku ataupun murid Oliver. Tentu saja. Kenapa hal ini tidak pernah terpikir olehku?

"Mau kemana, Sir Len?" tanyanya ketika melihat aku membawa map-map dan cangkir kopi itu. "Kelas belum dimulai kan?"

"Ruang musik 3," sahutku pelan, "mendadak aku ingin memainkan Romance milik Beethoven dengan grand piano disana." Aku tersenyum sekilas sebelum akhirnya meninggalkan ruangan dosen musik klasik itu. Hanya ada aku, Oliver, dan Haku disana dan yang boleh memasukinya hanyalah mahasiswa mahasiswi di bawah bimbingan kami bertiga.

Pengirim kopi ini mungkin salah satu dari mereka.

Aku tersenyum ramah saat melihat sekelompok mahasiswa-mahasiswi musik klasik tingkat tiga. Beberapa diantaranya berada di bawah bimbinganku.

"Pagi, sensei," sapa mereka dengan senyuman lebar. Aku mengangguk pelan saat membalas mereka.

"Kelas pagi seperti biasanya?"

"Ya, sensei." Aku mengenali suara riang Shion Kaito, ketua angkatan musik klasik di tingkat tiga.

"Oh, cepatlah jalan, bodoh!" Sakine Meiko, yang kutahu pacaran dengannya segera mendorong pemuda biru itu cepat. Masa muda memang menyenangkan.

"Sampai ketemu nanti, sensei! Hei, Kaito, cepat jalan! Aku tidak mau Haku-sensei mengomeli kita nanti!"

Aku masih tertawa saat kulihat kilasan warna hijau terang yang menarik mata. Salah satu mahasiswi berbakatku sedang menatapku dengan penuh penasaran.

"Ada yang bisa kubantu, Gumi-san?"

Iris hijau terangnya bertemu dengan iris biru langitku. Dia tersenyum sekilas sebelum menggeleng cepat dan berlari mengejar Meiko dan Kaito di depan sana.

Aku hanya mengangkat bahuku dan melanjutkan perjalananku ke ruang musik 3.

.

.


p.s: kalau berkenan, silahkan sampaikan pendapat kalian! ;)