untuk kakak unyuu (wish you were here) : selamat ulang tahun ya kak! semoga semua yang kakak inginkan bisa terkabul! amiiin! [walaupun tentu saja, kakak nggak mungkin baca cerita ini]


#4

Psst! Ini rahasia!

Pukul satu siang, kelasku punya kelas di ruang klasik lantai empat. Sebelumnya, aku makan siang dengan Miku dan Piko—mereka adalah dua sahabat terhebat yang pernah kukenal—di kafetaria lantai dasar. Sayangnya, Miku berada di jurusan suara indah sementara Piko berada di desain visual komunikatif.

Kami jarang bertemu—tentu saja—karena perbedaan mata kuliah yang kami ambil, tapi tidak ada alasan untuk tidak bertemu saat jam makan siang. Karena itulah, disanalah aku berada, di depan kedua sahabatku yang saling berceloteh.

Miku yang rambutnya selalu dikuncir dua sedang bercerita tentang dosen pembimbingnya yang menyebalkan sementara Piko hanya mendengarkannya sambil menyuapkan spaghetti yang dia pesan sebagai menu makan siangnya.

Aku tertawa begitu mereka menyampaikan salah satu kebodohan dosen pembimbingnya dan segera setelah itu, aku menyedot susu vanilla itu.

"Jadi, kau masih suka pada susu vanilla itu? Itu pemberiannya?"

"Yap. Kenapa?"

"Tidaaaak..." sahut Miku sambil memutar mata. "Dari dulu, aku memang tidak pernah bisa memahami sikapmu tahu!"

"Sudahlah, Miku." Piko menyela. "Jadi, bagaimana kabarmu dengan dosen pembimbingmu itu?"

Aku tersenyum dan mengangguk pelan. "Tadi pagi aku bertemu dengannya sebelum kelas pagi."

"Dia masih meminum kopi kirimanmu?" tanya Miku. Ekspresi heran muncul di wajahnya. "Aku sama sekali tidak mengerti kenapa dia mau saja minum kopi kiriman orang yang tidak dikenalnya!"

Piko mengangguk sambil tertawa. "Katanya kan orang itu adiktif terhadap kafein kan? Wajar saja!"

"Hei, dia bahkan nggak mencari siapa pemiliknya! Berhentilah mengejarnya tahu!" perintah Miku. "Dan aku ragu, apakah kau benar-benar menyukainya?"

Aku tertawa. "Aku hanya mengaguminya, Miku. Tidak ada kata suka di setiap tindakanku."

"Hemph... terserahlah! Yang pasti, kau tidak bisa pacaran dengannya selama kau belum memberitahu siapa dirimu! Ingat itu baik-baik!"

"Lagipula, siapa sih yang mau pacaran dengannya?" Aku segera berdiri dari tempatku dan melambaikan tangan pada mereka. "Kelas akan dimulai sebentar lagi. Aku duluan ya."

"Sampaikan salamku untuk Kaito!" seru Miku dengan diikuti cengiran lebarnya.

Aku memutar bola mataku dan mengabaikan pesannya. Miku selalu saja bersikap seperti itu. Tidak pernah jelas apakah dia menyukai seseorang atau tidak. Begitu juga dengan Kaito. Semua orang di kedua jurusan mereka bahkan sudah mengetahui bahwa mereka sama-sama suka, tapi tidak ada yang berminat untuk menempuh jalan yang lebih serius.

Menurutku, mereka cuma sama-sama merasa kagum satu dengan yang lainnya. Sama seperti aku yang mengagumi Sir Len. Karena itulah, wajar saja kalau aku tidak mau memberitahu perasaanku. Pasti akan ada suasana aneh dan canggung di kelas.

Tidak... tidak... Aku berperan sebagai kurir kopi itu hanya untuk menuntaskan rasa kagum yang membuncah di dada. Aku hanya ingin membantu Sir Len. Hanya itu. Aku tidak mau berpacaran dengannya karena, hei, akan terasa aneh sekali ketika dia membimbingku mengerjakan tugas akhir.

Aku menarik napas panjang dan berjalan menuju tangga. Aku selalu menyesali kenapa aku harus kuliah disana, tapi ada hal yang kusyukuri juga. Sir Len-lah yang mengajari mata kuliah itu, jadi aku selalu semangat menapaki tangga, meskipun napasku harus dibuat terengah-engah.

Aku sudah sampai di tangga lantai tiga ketika kemudian aku melihat sosok pirang dengan rambut dikuncir itu. Mata biru langit itu segera bertemu denganku dan bibirnya ditarik ke atas untuk membentuk senyuman lembut.

"Sir..." sapaku dengan suara tercekat. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa aku akan bertemu dengannya sebelum masuk kelas.

"Hallo, Gumi-san." Dia tersenyum hangat. Dia memang tidak pernah menggunakan bahasa formal dengan murid yang diajarnya. Salah satu hal yang kusukai—aah, maksudku kukagumi—dari dirinya.

"Ya, Sir." Aku mengangguk penuh kesopanan dan kulihat buku partitur di tangannya. Iris mataku menangkap partitur lagu disana. Romance karya Beethoven di kunci F.

Dia membaca pesan di cangkir kopiku!

Aku tidak bisa menahan senyuman di bibirku.

"Kau suka lagunya?" Dia menyadari kemana mataku melihat. "Aku juga menyukainya." Dan dia berjalan di sebelahku sampai ke kelas.

Psst! Ini rahasia! Jangan bilang Miku atau Piko ya!

Mungkin rasa kagumku sudah berkembang ke rasa suka!

.

.


p.s: kalau berkenan, yah, bolehlah kotak review di bawah ini diisi. ;)