untuk ayahku tercinta yang berulang tahun tanggal 24 agustus kemarin : love you so much dad! ;*
semoga ayah sehat selalu dan makin cinta kepada putri kecilnya ini.
#5
Aku mengajar sampai jam tiga hari itu. Murid-muridku dari tingkat tiga musik klasik memang benar-benar berbakat. Mereka menyerap semua pelajaran dengan cepat dan menguasai beberapa teknik secara hampir sempurna. Aku mengagumi mereka semua dan berharap mereka semua bisa menjadi pemusik ataupun composer yang terkenal.
Seperti yang kulakukan setiap hari, aku akan berjalan menuju vending machine dan membeli sekotak susu vannila dingin yang akan kuletakkan di meja dan ditujukan kepada pengantar kopi. Aku tidak tahu apakah dia menyukainya atau tidak, tapi dia pernah menuliskan sesuatu di cangkir kopi yang berbunyi.
Vanilla itu memiliki rasa yang lucu. Terima kasih atas susunya. :)
Aku merasa dia mungkin menyukai pemberianku dan aku selalu melakukan hal itu setiap hari tepat di setiap sore setelah paginya aku memperoleh secangkir kopi hangat itu.
Kadang kala, ketika aku sempat, aku akan memberikan beberapa potong kue yang kubeli di kantin. Aku tidak tahu apakah dia menyukainya atau tidak, tapi aku selalu melakukannya dengan harapan dapat membuatnya merasa senang.
Sadar atau tidak, sesungguhnya aku ingin tahu seperti apa sang pengirim kopi itu. Apakah dia perempuan atau laki-laki? Berapa usianya? Apakah dia dosen? Mahasiswi atau mahasiswaku? Pegawai administrasi?
Apakah kalau aku menanyakan identitasnya, dia akan berhenti mengirimi secangkir kopi hangat itu? Maksudku, yah, keberadaan secangkir kopi itu memang sangat dibutuhkan olehku, tapi entah sejak kapan keberadaan sang pengirim kopi menjadi lebih besar bagiku.
Seolah-olah, aku ini lebih bersifat candu pada sang pengirim daripada kopi kirimannya sendiri.
Tidak, aku tidak bisa menggolongkan perasaan ini ke daftar jenis suka. Aku bukan tipe orang yang gampang menyukai seseorang—sejauh ini aku pernah pacaran dengan dua gadis, masing-masing berjalan selama setahun-dua tahun dan kami berdua putus dengan alasan prioritas tempat dimana kami bekerja. Aku bukan tipe yang bisa berpacaran jarak jauh, begitu juga dengan dua pacarku sebelumnya.
Bukan berarti karena aku sedang tidak punya pacar, aku bisa menyukai sang pengirim kopi, pengagum rahasiaku. Maksudku, bukankah agak aneh kalau menyukai seseorang yang bahkan tidak kau kenal?
Satu hal yang membekas di kepalaku adalah: kalau memang secara tanpa sadar aku mulai memperhatikan sosok sang pengirim, apakah dia perempuan? Tolong, selama 25 tahun aku hidup di dunia ini, aku selalu menjalani peranku sebagai laki-laki normal.
Karena itulah, begitu inginnya aku mengetahuinya, aku menuliskan sesuatu di kotak susu vanilla itu.
Keberatan kalau aku bertanya, siapakah dirimu wahai peri pengirim kopi?
Dan dengan santai, aku meletakkan kotak susu itu di atas meja kerjaku dan berjalan keluar.
.
.
p.s: sampaikan pendapatmu tentang cerita ini ya~ :)
