untuk ayahku tercinta yang berulang tahun tanggal 24 agustus kemarin : love you so much dad! ;*

semoga ayah sehat selalu dan makin cinta kepada putri kecilnya ini.


#6

Aku menyelesaikan lagu karanganku dengan beberapa tulisan tangan di bawahnya serta tanda tanganku. Tugasku untuk minggu ini sudah selesai. Aku menghela napas panjang mengingat kejadian tadi siang ketika Sir Len memainkan lagu romance Beethoven dengan piano—seperti yang kutuliskan di cangkir kopinya pagi ini.

Lagunya mengalun indah, tidak seperti yang selalu kumainkan dengan upstraight piano di rumahku. Perbedaan kemampuan kami jelas terlihat disini dan aku sangat mengetahui bahwa dia jelas lebih unggul daripadaku di kemampuannya bermain musiknya.

Aku selalu mengaguminya, menurutku, semua mahasiswa maupun mahasiswi yang pernah diajarnya pasti mengagumi bakatnya yang begitu luar biasa. Dalam usia semuda itu, Sir Len sudah mampu mendapat jabatan di sekolah semodel Utaunoda yang bertaraf internasional. Kudengar, itu semua karena bakat yang dia peroleh dari Ibunya yang keturunan Inggris—Sir Len bahkan besar di negara asing itu.

Aku memasukkan semua perlatan alat tulisku dari atas grand piano hitam—tempatku menuliskan dan mencari pola melodi menarik untuk tugasku. Setelah itu, aku menarik tasku dan berjalan keluar. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore ketika aku keluar dari kelas. Murid seni musik klasik yang lain sudah pulang dari tadi karena memang tidak ada lagi yang perlu mereka lakukan di kampus.

Berbeda denganku yang memiliki misi lain.

Psst! Sudah kubilang ini rahasia! Tidak boleh ada yang tahu bahwa aku selalu menyusup ke ruangan dosen untuk mengambil susu vanilla yang diberikan Sir Len padaku. Terkadang, kalau aku tidak sempat, aku mengambilnya di pagi hari sambil meletakkan secangkir kopi hangat itu di atas mejanya. Tapi, jika aku memiliki waktu luang—persis seperti sekarang—aku akan langsung mengambilnya, memasukkannya dalam tas, dan menikmatinya di malam hari sambil memainkan lagu dengan grand pianoku ataupun mengerjakan tugas yang diberikan para dosen.

Aku tersenyum saat melangkahkan kakiku keluar dari kelas—sempat melirik cermin di dekat tangga untuk memastikan penampilanku. Aku bukan anak perempuan yang bisa dikatagorikan mempesona untuk semua orang. Aku tidak seperti Megurine Luka dari jurusan seni ukir yang terkenal akan kesempurnaan penampilan yang dimilikinya. Aku juga tidak seperti Iroha Nekomura dari jurusan seni peran yang masih berada di tingkat satu yang sangat menggemaskan. Aku hanya Gumi—Nakajima Gumi—gadis dengan kecintaannya yang begitu besar pada musik.

Awal pertemuanku dengan Sir Len terjadi begitu saja di salah satu ruangan kelas. Tidak ada nuansa romantis yang mampu melelehkan hati setiap orang—maksudku, aku memang tidak memiliki perasaan seperti itu pada Sir Len (sebelumnya. Ya, aku tahu dan aku sadar bahwa mungkin aku menyukainya sekarang).

Tapi bukan disitu masalahnya.

Memangnya salah dengan memberikan secangkir kopi hangat untuk salah satu dosenku setiap paginya?

Oke, Miku memang bilang kalau hal itu cukup aneh di matanya, tapi bukankah semua orang memiliki masing-masing cara untuk mendeskripsikan perasaan kagum, suka, sayang, atau apapun itu bukan?

Aku menarik napas panjang begitu melihat pintu dosen di depan sana. Tidak akan ada orang di dalamnya, seperti biasa. Disana mungkin cuma ada burung-burung peliharaan Sir Oliver.

Aku menyentuh kenop pintu dengan hati berdegup dan masuk ke dalamnya. Ruangan itu memang kosong seperti biasanya. Keadaannya tidak lebih baik saat tadi pagi aku masuk ke dalam sini. Kertas-kertas Miss Haku masih tercecer di seluruh mejanya, kelihatannya wanita itu tidak sempat membereskannya.

Mataku berputar menuju meja Sir Len. Mejanya adalah yang paling rapi, kedua setelah Sir Oliver. Di atasnya terdapat beberapa kertas partitur yang tadi dia bawa ke kelas. Tapi bukan di situ tujuan arah pandangnya, melainkan sebuah kotak susu berwarna putih pucat.

Kakiku melangkah kesana dan menemukan tulisan dari spidol di kotak susunya. Aku meraihnya dan membacanya.

Keberatan kalau aku bertanya, siapakah dirimu wahai peri pengirim kopi?

Jantungku berdegup secara tidak beraturan. Tanpa sadar aku tersenyum dan segera memasukkan kotak susu itu dalam tasku. Aku akan memikirkan apa balasanya nanti malam—teralu lama disini bisa mengundang bahaya, mungkin saja ada seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan dan—

Napasku tercekat begitu mendengar suara pintu yang dibuka. Aku segera menoleh dengan panik dan menemukan guru pembimbingku berdiri disana dengan ekspresi terkejut.

"Gumi-san?"

Bahkan dari semua skenario, inilah skenario terburuk.

"Sir... aah... kupikir Sir Len sudah pulang tadi."

Orang itu tersenyum ramah sambil melangkah masuk ke dalam ruangan dosen. "Sir Oliver memintaku untuk memeriksa berkas hasil ujian tingkat dua."

Aku mengangguk cepat sambil berdoa bahwa dia tidak menyadari keanehan tentang keberadaanku disana.

"Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan disini, Gumi-san?"

Tuhan, kenapa kau melakukan hal ini padaku?

"Umm..." Aku mengangkat tanganku, menunjukkan map hijau-wortelku padanya. "Aku sudah menyelesaikan tugasku dan aku ingin Sir memeriksanya."

"Waah... hebat sekali! Besok deadlinenya kan?"

"Umm... aku ingin..." Mataku segera berputar ketika bertemu dengan mata biru langitnya. "...Sir Len memeriksanya terlebih dahulu..."

"Baiklah." Dia mengangguk pelan tanpa mencurigai keanehan sikapku. Oh, aku benar-benar memohon dari hatiku yang terdalam bahwa dia tidak menyadari sedikit pun keanehanku.

Ketika dia sudah berada di dekatku, alisnya terangkat sebelah. Matanya tertuju pada meja kerjanya dimana sebelumnya terdapat kotak susu untukku disana. "Gumi-san, apakah kau melihat seseorang baru saja masuk ke ruangan ini?"

Aku menggeleng cepat—kuharap aku tidak mengundang kecurigaannya—aku tidak pernah pintar berbohong sebelumnya. Dengan cepat, aku segera meletakkan mapku di tangannya, menunduk cepat, dan bicara cepat hingga aku hampir mengigit lidahku sendiri.

"Maaf, Sir, tapi aku harus pulang sekarang. Umm, Sir Len tidak perlu memeriksanya, maksudku... umm... itu adalah tugasku yang bisa langsung dinilai." Setelah itu, tanpa melihat wajahnya, aku segera berjalan keluar—berlari menjauh dari tempat itu sejauh-jauhnya.

Kumohon, jangan biarkan Sir Len menduga-duga kenyataannya!

.

.


p.s: sampaikan apapun pendapatmu tentang cerita ini yaa~ :)