REVIEW VS REVIEW

.

.

A . cajungsoo : Gyahahaha, salah satu faktor pendukung juga tuh chingu~ . #ditampolShinpa

B . Neemarishima : Bukan, eonni bukan anak sastra kok ^^ rahasianya banyakin baca aja hingga kita sudah terbiasa dengan bahasa macam ini :D nanti tinggal direalisasikan ;) jah, si zhoumi mah enggak usah jadi hacker aja pan langsung ketahuan kalo kita cari di history rekening kita ntu uang ditransfer kemana :D

C . Pipit-SungminniELFishy : iya, emang beda ^^ kalo PMM pan itu tergolong ff perdana, kalo yang ini baru2 ini bikinnya juga :D

D . han gyn : hahaha, bagus kalau sudah bisa dimengerti bahasanya ^^ kekeke, oh, eonni mau hiatus, jadi ni ff sebagai salam perpisahan sementara dari eonni :D

E . diictatorlove : iya, itu emang Yesungie oppa ^^ bukan ngerampok… (_ _") tapi mencuri :)

F . aokikumiko : hahaha, gak apa2 kali… ^^ santai aja :D ha? Makan apa? (_ _") sama kok sama kamu… makan nasi aja, hahaha ada2 aja deh kamu ini :D kekeke~ sering2 aja atuh nonton film suspense sama crime. Eon mah lebih suka suspense+crime dari pada genre apapun, jadi dengan sukarela memperdalam genre itu ^^

G . shin young rin : hahah iya~ yang ngomong sama Kibum oppa itu Yesung oppa, yang bareng sama Donghae dan Kyuhyun oppa adalah Siwon oppa ^^

H . KagamiYuuki : Hahaha, kagak tahu~ entahlah nih WI bakal tamat di chapter berapa. Sebenarnya udah tamat sie, dalam 100 halaman. Tapi karena kependekan, kayaknya mau saya rombak lagi dan dperpanjang sekalian XD hyahahaha

I . Mentari Lacamara : Hyyyyaaaa / makasih… kekeke, ah~iya, eon suka ma HxH, terutama ma Kurapika! Aaaiihhhh / lumer deh kalo liat Kurapika! gkgkgkgk

J . Hyukkie Akira : Gaya penulisannya jangan dirubah? Oke… I will try :DHahaha, aduh,,, kedatanganmu itu sama dengan gejala gempa 7 skala ritcher loh~ .

K . ika-chiharu : ihihihi, sabar ya~ :D

L . Dadon9 : Whhuuauaaaa…. Makasih… makasih chingu~ ^^

M . Imah Hyun Ae : hihihihi, iya mungkin… ketemuan semua ^^

N . chachaku felice : wakakak, iya… TAPI SAYA SUKA ORANG YANG SULIT DITEBAK MACAM LEETEUK! . kyyaaa…. Heechul? Um… mungkin pendukung aja kali ya?

O . NoName : Hhaaaa, gak pa2 kok kalo hantunya kayak kamu mah… ihihihi Iya, emang! Sebenarnya jalan cerita WI sama PMM itu ribetan PMM, mungkin kalo WI rada tersamarkan karena bahasanya aja… na do saranghae! ^^

P . lee hye rin : annyeong… gwenchana~ ^^ hahaha, next chap? Um… Eunhyuk kali ya~ ^^

Q . revisca : hyyyaaa… gomawo udah luv2 ^^ yang ngomong ma Kibum itu Yespa :D

R . Kim Ryesha : Udah tamat kok sebenarnya, cuman karena kependekan, jadinya mau dirombak lagi nih ^^ iya, rencana Teuki bakal diceritain kok ^^

S . Lone-Rain Death Angel : hehehe gwenchana~ ^^ hum... panjangin lagi kah? Saya juga pendatang baru di fandom dan ffn loh~ ihihihi baru 2 bulan kenal ma ffn lol~ kekeke

T . DyloveKyra : Hahaha, makasih... gak apa2 ^^ emang dari awal chapter mungkin pada bosen n gak tertarik baca... tapi setelah baca jadinya malah ketagihan! UYE! Kekeke~ makasih kontribusinya~ ^^

U . jongwoonieswife-sj : Hehehehe, makasih unnie ^^ kayak novel? Hehehe semoga~ semakin dekat ke sana ^^ kekeke

V . uwaykimhara : hehehe, gak pa2 kok mau review di sini juga ^^ kalo di sana malah menuhi2in notif~ kekeke ^^

W . Risha Ichigo : Hihihi boleh kok~ ^^ masa enggak boleh review :D boleh, fave aja ^^ makasih chingu~ ^^

X . Mitsukielffhisy : pada nanyain hal yang sama ^^ belajar nulis? Ummm... otodidak aja sie. Banyakin baca aja, buat diri kita semakin terbiasa dengan bahasa berdiksi tinggi, dah gitu realisasikan ^^

Y . KyuhyuNia : Hah? Kagak salah? Saya enggak jenius... T_T

Z . kim vhi han : wa'alaikumsalam jin tercantik~ ihihihi ^^ wakakaka, coba ah bayangin aja Donge opaa rambutnya minyakan~ ^^ Hehehe na do SARANGHAE! .

1 . Justcallme Ika : yang ngobrol sama Kibum itu Yespa ^^ nanti akan dijelasin sama Leeteuk kok soal benda yang dicurinya ^^

2 . Richan : Hahaha gak mao~ kalo tukeran otaknya sama Kibum ato Kyuhyun mau deh #plak ihihihi iya, ni udah update lagi ^^

3 . MyTeuKey : Hah? Terlalu keren untuk dikomen? Ada2 aja kamu ini =.=

4 . Dadon9LadyELF : Haaaa, jangan nangis donk... ini udah lanjut kok... ya? Ya? Ya? ^^


.

.

.

Wrong Identity

Crime, Suspense, Sci-fi with All Super Junior Member

Disclaimer : They was not my mine, they are belong to themeselves

Nurama Nurmala©2011

Ready to Reserved

.

.

.


[Part sebelumnya]

[Hyondae—Korea, 18.35]

Seorang pria bertubuh gempal tampak masih berkutat di sebuah ruangan dengan 6 layar komputer di hadapannya. Sesekali ia merogoh snack keju yang tergeletak di dekat Keyboardnya, meraih cokelat yang tersampir di atas kertas kerjanya, atau menenggak minuman bersoda yang senantiasa menemaninya bersama cemilan lain di sisinya.

Bias cahaya monitor terpantul lewat kaca matanya, poninya tersiur berjatuhan menutupi dahinya yang lebar. Ia masih saja berkutat di depan komputernya, entah apa yang sedang ia kerjakan.

Tak lama, ia segera mengais gagang telepon yang tergantung di dinding sebelah kirinya, ia menekan beberapa keypad dan mulai mendengarkan dengingan nada telepon di telinga kanannya.

"Yeoboseyo?" terdengar sahutan di seberang sana. "Ada apa Shin-Hyung?"

"Aku sudah mentransfer semua uang orang yang bernama Sungmin dan Zhoumi ke rekening orang yang bernama Leeteuk."

"Ah, maaf merepotkanmu..."

"Tidak masalah, tapi sepertinya Sungmin dan Zhoumi ini bukan orang biasa karena sampai berurusan denganmu. Lagipula uang di rekening mereka banyak sekali..."

"Iya..."

"Ada lagi yang kau perlukan?"

"Untuk saat ini tidak. Tapi Shin hyung, bisakah kau datang ke alamat ini sekarang?"

"Kemana? Untuk apa?"

"Ada bisnis yang menggiurkan dan menantang untukmu."

"Dari orang yang bernama Leeteuk ya?" terka Shindong.

"Kau juga akan segera tahu nanti."

"..." Shindong tampak berpikir. "Baiklah, alamatnya?"

"Distrik Bucheon nomor 6."

"Baik, aku akan segera ke sana."

"Gamsahamnida..."


[Wrong Identity]

Part 8 : Secret Forum


[Guang Nam—Korea, 18.40]

"Eunhyuk..." suara seorang wanita dengan halus terdengar jelas di rumah yang tampak sepi itu.

"Ne?" seorang namja muda berambut landak pirang menyembulkan kepalanya di samping daun pintu ruang tengah yang terbuka lebar. Di punggungnya bertengger tas ransel berwarna hitam, sedangkan tangan kanannya sedang sibuk menjinjing sepatu kets berwarna putih.

"Ada telepon untukmu tadi siang."

"Dari siapa, eomma?"

"Katanya dari temanmu."

"Nugu?"

"Seseorang bernama Leeteuk." Dahi Eunhyuk berkerenyit, berusaha mengingat pemilik nama itu. Namun seingat dia, dia tak pernah punya teman yang bernama Leeteuk, ia kemudian berusaha menepis secuil sua dari dimensi yang berbeda. "Ah, mungkin bukan untukku, eomma."

"Pesannya sudah eomma tulis di meja pesan dekat telepon, coba kau cek dulu!" Eunhyuk yang memang penasaran dengan pesan itu beringsut ke ruang tengah—ke tempat pesan itu berada. Disambarnya secuil kertas itu, lalu dibacanya perlahan.

"Distrik Bucheon no 6." Ia membalikan kertas itu dan menelitinya sekali lagi. "Ini hanya alamat saja, eomma!"

"Ya, orang yang bernama Leeteuk itu memintamu datang ke sana jam 8 malam. Memangnya kau ada urusan apa?"

Sekali lagi, Eunhyuk menggantungkan alisnya, menyambangi frasa aneh yang dikuarkan oleh orang bernama Leeteuk. "Dia bilang apa lagi?"

Ibunya tampak mengendikan bahu. "Tidak ada, dia hanya bilang dia tahu rahasiamu." Tampak seorang wanita berambut cokelat bergelombang keluar dari dapur sambil mengelapkan kedua tangannya pada celemek yang tersampir pada tubuhnya. "Memangnya kau punya rahasia apa, Eunhyukie?"

Eunhyuk tampak tercekat; kaku tak bergerak. Terseling diantara dusta yang dirajut kelamnya kelambu, tak pernah terbersit secuilpun untuk berunjuk di hadapan eomma yang teramat dicintai tentang keanehan yang selama ini ia miliki. "Tidak ada," Eunhyuk berusaha bertindak sewajarnya. "Entah apa yang dia maksud, aku tidak tahu."

DRAP!

DRAP!

DRAP!

Terdengar suara langkah kakinya ketika langkahnya menyambangi ceruk tangga menuju kamarnya satu persatu. Terseling di antara jejak langkahnya, beku dan gemetar karena kabar barusan menjalari tungkai kakinya.

"Rahasia?" bisik Eunhyuk pelan setelah mengunci pintu kamarnya dari dalam. "Rahasia yang mana?" ia terlihat bertelut di atas tempat tidurnya dengan alis yang saling bertaut dan jemari tangan yang saling merapat satu sama lain. Sudah berkali-kali ia berusaha menghalau kelebat pemikiran yang meningkapinya sedari tadi. Namun taluan detak jantung tak urung hengkang dari gumulannya di dalam sana, tersaruk pada rindangnya kegugupan, dan semakin menancap menghempas kanopi ketenangan diri.

"Distrik Bucheon no 6..." ia kembali memandangi kertas yang berada di gelungan telapak tangannya, setelah itu ia mulai berdiri dan mengambil jaket yang tersampir di sisi tempat tidur.

DRAP!

DRAP!

DRAP!

"Kau mau kemana, Eunhyukie?"

"Keluar sebentar eomma!"

.

.

.

[Cheonan—Korea, 18.43]

CKLAK

Tampak Kibum memasukan handphone ke dalam saku jaketnya. "Urusan yang satu, selesai."

"Hmh..." lelaki di samping Kibum tampak mengusap mukanya dengan beragam bayangan imaji yang sudah diprediksikan sebelumnya. "Baiklah." Kibum tampak mengukir senyum setelah mendengar jawaban pria itu.

"Mari kita pergi!" Kibum tiba-tiba bangkit dari duduknya, seulas senyum percaya diri tak urung menyemukan di setiap detil wajahnya.

"Kemana?"

"Kita harus menjemput seorang teman lagi, hyung..." Yesung hanya memandang Kibum dengan tatapan tak mengerti.

Kemilau lampu jalan membalut berbagai atrium dalam olahan lampu ritmik yang berpendar menyembulkan perasaan ramai. Sorot lampu mobil yang berilalang di tengah jejalan kota menciptakan suasana tersendiri di kota besar seperti Seoul. Tautan angin menyiur perlahan kanopi yang bergegas dalam kebas, kemudian berhembus dan melambai pada kulit yang tak terlindungi.

Seorang laki-laki muda tampak berjalan menyusuri ceruk trotoar malam ini. Tangannya dimasukan ke dalam saku guna menghalau udara malam yang mulai mendingin, terlihat topi rajut menutupi kepala dan telinganya untuk mengumpulkan kehangatan yang tak seberapa.

Setelah ia menemukan sebuah toko yang berada di pojok perempatan jalan, tanpa ragu ia langsung memasuki tempat itu.

Bel berdenting ketika ia memasuki toko itu. Kepingan kaset DVD tampak berjajar rapi di sepanjang toko itu. Banyak pelanggan terlihat sedang memilah barang yang akan mereka beli setelahnya.

"Yo, Kangin!" salah seorang pegawai toko memberi sapaan kepada seseorang yang baru datang itu. Lelaki yang dimaksud hanya mengangkat tangan sambil mengokang senyum ramah. "Ada beberapa DVD game baru yang datang hari ini." Lelaki yang dipanggil dengan nama Kangin itu mulai mendekat ke pegawai toko yang masih menyeringai menatapnya.

"Apa yang kau punya?"

"Ini!" pegawai toko itu pun mengambil sebuah DVD yang berada di rak yang tak jauh dari tempatnya berdiri. "Ini adalah game battle terbaru, Eager Slayer."

"Hm," Kangin tampak berpikir sejenak. "Benar yang ini bagus, Jun Ma?"

"Tentu!" pegawai toko yang rupanya bernama Jun Ma itu mengangguk dengan pasti. "Aku sudah memainkannya kemarin, dan memang gila! Seru sekali! Aku akan mengerjakan PR-mu selama satu minggu kalau kau bisa menyelesaikan level 3 dalam satu malam!"

Tatapan Kangin seketika teralihkan dari DVD ke wajah Jun Ma. "Jeongmal?" Jun Ma kembali mengangguk semangat. "Baiklah, kau siap-siap saja mengerjakan PR-ku!" Jun Ma hanya menyeringai saja setelah mendengar peringatan dari Kangin. Setelah kesepakatan mereka terbentuk, Kangin membawa DVD itu ke arah kasir untuk melakukan transaksi pembelian.

"8.000 won." Kangin mengeluarkan dompet ketika kasir wanita itu menyebutkan sejumlah angka yang harus dibayar Kangin.

"Kangin?" tiba-tiba dari arah belakang Kangin terdengar panggilan. Kangin segera menoleh.

"Ne?" dahi Kangin berkerenyit ketika melihat dua orang namja tengah memandanginya intens. Yang satu terlihat lebih muda dengan senyum ramah yang menghiasi wajahnya, sedangkan yang satu lagi tampak lebih tua darinya, ia terlihat cuek dan lebih senang memperhatikan keadaan sekitar dengan pakaian serba hitam yang memberikan kesan cool tak dibuat-buat.

Bunyi sepatu beradu dengan lantai menyemarakan simponi lagu malam ini. Angin mulai berhembus binal tatkala malam sudah merengkuh siang dan menenggelamkannya di bagian dunia lain. Desauan daun-daun bergemerisik menyanyi merdu menghantarakan penikmat seni pada sensasi alamiah, mulai menyemukan semburat merah pada tingkap langit yang tampak rumpang, menggenangi raut muka manusia dengan kelebatan berwarna jingga.

Lampu kota kembali berujar param dan dengan kemilaunya mengajak semua yang melihat kembali terbius pada rutinitas malam hari yang penat akan dunia hiburan.

Dari segelintir orang yang berjalan tentu arah dan tujuan kaki melangkah, tiga orang pria yang tampak berjalan beriringan itu malah tidak mementingkan tujuan jejak kaki menyeruak dalam diam, mereka hanya bertujuan menuntaskan pembicaraan malam itu; sebagai langkah awal memulai sesuatu yang baru, yang entah apa itu.

"Jadi, siapa kalian?" tanya Kangin dengan nada interogasi.

"Aku Kibum, dan ini Yesung hyung."

"Lalu, maksud kalian menemuiku?"

"Aku tahu kemampuanmu." Alis Kangin menggantung menanggapi pernyataan ambigu Kibum.

"Maksudmu?"

"Tenagamu." Kangin kembali aneh dengan perkataan Kibum, begitu pun dengan Yesung yang berjalan di antara mereka.

"Kau punya tenaga yang besar. Kau kuat lebih tepatnya."

"Lalu, apa itu jadi masalahmu?" Kangin menanggapi pernyataan Kibum dengan malas, menganggap bahwa kemampuannya itu biasa dan dengan sengaja menggantung rahasia kecil itu dalam kerdilnya fakta dunia yang tak tersentuh pucuk berita dan tirani penasaran orang lain.

Kibum tampak menggelengkan kepalanya. "Tidak, tapi ada orang yang ingin meminjam tenagamu."

"Apa?" sementara Kangin dikagetkan oleh ucapan Kibum yang tersirat kebutuhan mereka pada Kangin, Kibum terlihat meretas senyum sarat maksud.

.

.

.

[Bucheon —Korea, 18.43]

Sebuah hotel di pojokan jalan Bucheon terlihat dijejali pengunjung yang ingin menghabiskan malam berdua dengan sang kekasih. Namun bell boy yang memang sedari tadi bertugas mengantar para tamu ke kamar yang dipesan malah merasa aneh dengan beberapa lelaki yang memasuki hotel tempatnya bekerja secara berpasangan, atau berupa kelompok kecil. Entah ia memikirkan akan adanya pertemuan rahasia antar polisi, atau malah serikat mafia yang sedang merumbukkan rencana berbahaya di hotel tempatnya menggantungkan hidup.

"Kenapa banyak orang di sini?" tanya seorang lelaki dengan rambut pirang seperti landak tidak mengerti, pandangannya menjarah kamar hotel yang gelap dan terkesan hangat. Ruangannya didominasi oleh warna cokelat-hitam-putih, sehingga memberikan kesan akrab dan nyaman.

Beberapa orang yang berada di sana tampak duduk di sofa dan tempat tidur sambil berongkang-ongkang kaki, sedangkan sisanya menenggak beberapa gelas wine yang tersedia sambil mendengarkan alunan lagu yang dimainkan DVD player.

Semua yang berada di sana tampak diam saling tak mengenal. Sebagian tampak paham namun malas berimpulsi, sedangkan sebagian lainnya memang tidak tahu sebab mereka dikumpulkan di sini.

KRRIIIEEETTT...

Terdengar pintu dibuka tak lama, berselang waktu mereka menunggu di sana selama 30 menit.

"KAU!" seorang pria dengan rambut kelimis menuding orang yang baru masuk ke ruangan dengan tatapan menantang. "Kau yang menjebakku 'kan?"

"Tenang..." Leeteuk menawarkan senyum perdamaian pada Donghae yang sudah dirundung emosi yang bergelut sedari tadi sore, sedangkan orang lain yang berada di sana hanya bisa memandang tingkah Donghae dengan pandangan tak mengerti namun malas untuk memikirkannya lebih lanjut.

"Kenapa kau melakukannya?" ia kembali berteriak menuntut, dan selangkah lagi akan segera menerkam Leeteuk jika saja Siwon tidak menahannya dengan kedua lengannya yang kekar.

"LEPASKAN AKU!" teriak Donghae menghunus Siwon. Namun Siwon tak mendengarkan perintah Donghae, ia tak ingin terjadi kegaduhan terutama perkelahian di depannya.

"Jika aku tidak melakukan hal barusan, mana mau kau kembali datang menemuiku 'kan?" tanya Leeteuk dengan ketenangan yang semakin menjadi, berimplikasi pada raut muka Donghae yang sudah mulai mengganas, menikung eksposisi yang kuat pada bagian lain dirinya.

"Aku memang tidak akan mau menemuimu!"

Leeteuk tersenyum kecut, namun ia hanya diam.

"Apa kau yang bernama Leeteuk?" tanya seorang lagi dengan rambut landaknya.

"Ah, ya?" kali ini pandangan Leeteuk dilabuhkan pada seorang namja berambut pirang landak yang tak lain bernama Eunhyuk.

"Aku baru saja menerima pesanmu. Maksudmu, dengan kemampuanku itu..." sepertinya Eunhyuk terlalu takut membicarakannya di tengah orang banyak seperti ini, atau mungkin ia masih merasa ragu, apakah Leeteuk memang benar mengetahuinya atau tidak.

"Aku ingin meminjam kekuatanmu." Kangin tersentak mendengar kata-kata itu. Pasalnya, kata-kata itu sudah ia dengar sebelumnya dari mulut seorang bocah bernama Kibum.

"Meminjam kekuatan?"

"Ya, kau bisa mengetahui posisi sebuah benda, 'kan? Hanya dengan melukisnya..." semua orang yang berada di sana tiba-tiba menghentikan aktivitas mereka dan mulai mendengarkan pembicaraan dengan lebih serius.

"Da-dari mana kau tahu?"

"Tidak penting dari mana aku tahu, tapi yang harus kau putuskan sekarang adalah apakah kau mau bergabung denganku atau tidak?"

"Bergabung? Bergabung dalam hal apa? Aku tak mengerti..." Leeteuk tampak melihat arlojinya.

"Belum saatnya, ada beberapa orang yang masih belum datang."

"Siapa?" tanya Heechul yang berada di sebelahnya.

"Sungmin dan Zhoumi."

Donghae kembali tersentak mendengar kedua nama itu disebut. "Kau juga menawari mereka?" Leeteuk kembali mengusung senyum ketika semburan pertanyaan Donghae merefleksikan dirinya yang sudah mulai melunak menghadapi Leeteuk.

"Ya, kau keberatan?"

"Mereka tidak akan mungkin menerima, mereka lebih suka bekerja sendiri dari pada berada dalam tim."

"Kita lihat saja nanti."

Drrrtttt...

Drrrtttt...

Drrrtttt...

Getaran handphone Leeteuk terdengar karena getarannya yang memang kuat. Leeteuk segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah handphone dari sana.

"Yeah? Hm? Siapa ini? Sungmin?" Donghae dan Heechul terkejut mendengar identitas sang penelepon. "Kembalikan uangmu? Hehehe... baiklah." Leeteuk bukannya tampak terkejut, ia malah tampak senang luar biasa. "Asal kalian datang ke Distrik Bucheon, setelah itu masuklah ke kamar nomor 6." Sungmin di seberang sana sepertinya tampak berpikir. Namun setelah itu terlihat Leeteuk yang langsung menutup teleponnya.

"Apa mereka akan ke sini?" tanya Heechul penasaran.

"Ya. Sungmin dan Zhoumi."

KRIET...

Kembali, terdengar suara pintu yang terbuka dari luar. Seorang anak laki-laki kecil dengan pipi putih dan menyembul lucu memasuki ruangan diikuti ekor mata orang yang berada di dalam.

"Maaf, Kyuhyun hyung menyuruhku masuk ketika aku sudah sampai di sini." Leeteuk tersenyum maklum.

"Duduklah di manapun yang kau sukai, Henry-ya..." anak yang masih ingusan itu pun duduk di antara Kyuhyun dan Siwon, lalu menatap Leeteuk yang masih berdiri di depan mereka.

"Untuk apa ada anak kecil di sini?" tanya Donghae sengit.

"Aku juga membutuhkan bantuannya."

"Sebenarnya apa maksudmu mengumpulkan kami semua di sini?" tanya salah seorang berbadan cukup besar di samping Kibum dan Yesung.

Leeteuk tampak tersenyum sekilas. "Namamu, Kangin bukan? Aku akan membutuhkan tenagamu untuk menahan sesuatu yang sangat besar dan berat nanti." Kangin mengangkat alisnya.

"Sesuatu yang berat?"

"Lebih jelasnya nanti akan aku jelaskan dengan lebih detil setelah kedatangan dua orang yang terlambat."

Setelah 24 menit mereka menunggu, akhirnya orang yang ditunggu-tunggu datang juga. Terdengar suara pintu diketuk dari luar, Heechul yang berada paling dekat dengan pintu membukakan pintu dengan suasana hati yang berjerumat, dilihatnya dari atas hingga bawah sosok seorang lelaki gagah dengan seorang pria botak paruh baya yang berdiri angkuh di sampingnya.

"Siapa kalian?" tanya Heechul meyakinkan di depan pintu, sebelum seluruh pintu dibuka dan sebelum ruangan terkespos seluruhnya.

"Sungmin dan Zhoumi." Jawab pria botak di samping pria gagah itu. Alis Heechul terangkat seketika, meneliti penampilan mereka secara detil dan teliti. "Kami ingin bertemu dengan Leeteuk." Ungkap pria botak itu tanpa basa-basi.

"Baiklah, masuk ke dalam." Setelah yakin dengan kedatangan dua orang yang sudah ditunggu, Heechul mempersilahkan mereka masuk ke dalam kamar.

Mereka terlihat terkejut setelah mendapati ruangan yang penuh dengan lebih dari selusin orang di dalamnya tengah berkumpul dan tampak sedang memperbincangkan sesuatu. Mereka semua masih sangat muda, terlebih ketika pandangan mereka tersedot oleh penampilan seorang bocah yang masih berusia 11 tahun.

"Kalian yang bernama Sungmin dan Zhoumi?" tanya Leeteuk sambil memperhatikan penampilan Sungmin dan Zhoumi. "Sepertinya aku pernah bertemu denganmu." Tunjuk Leeteuk ke arah Zhoumi. "Tadi sore, di toko milik Donghae, iya 'kan?"

Manik hitam Zhoumi langsung beredar ke seluruh ruangan hingga akhirnya menemukan sosok Donghae di sana. Roman mukanya berubah ketika pandangan mereka bertemu, ia sedikit curiga, apakah peristiwa ini adalah perbuatan Donghae yang bekerja sama dengan Leeteuk untuk merampok mereka berdua secara tidak langsung?

"Jangan pandang aku dengan pandangan seperti itu! Aku tidak ada hubungannya dengan mereka, malah mereka sudah menjebloskanku ke penjara!" Donghae yang seolah sudah tahu isi hati Zhoumi langsung menyodorkan pembelaan diri sebenar-benarnya.

"Lalu," lanjut Leeteuk perlahan sambil masih memperhatikan pria di samping Zhoumi. "Ini ya yang bernama Sungmin? Sang Arsene Lupin abad ini?"

Semua mata langsung berlabuh pada sosok seorang pria dengan tinggi 180 cm, kulitnya sedikit menggelambir di sekitar dagu, dengan rambut putih yang bisa dihitung dengan jari, sudah bisa dipastikan bahwa ia hampir botak. Lalu raut muka yang ia perlihatkan seolah baru saja digerus kabar tidak mengenakan perihal keluarga atau istrinya yang telah meninggal. Penyamarannya, SUNGGUH SANGAT SEMPURNA!

"Ini pasti bukan wajah aslinya." Batin semuanya berusaha menebak setelah Leeteuk menyeret nama besar Arsene Lupin pada pembicaraan sebelumnya.

"Kami kemari untuk mengambil uang kami kembali." Tutur Sungmin langsung ke pokok pembahasan, suaranya tampak dalam dan serak, namun ketegasan serasa mengintimidasi siapapun yang mendengarnya.

"Uang kalian?"

"Kau jangan berlagak bodoh, kau 'kan yang memindahkan uang kami di bank ke dalam rekeningmu?"

"Um... ya, lalu?"

"Kami minta kembalikan semua uang kami!"

"Baiklah..." ucap Leeteuk tenang. "Asal kalian mau bermain denganku, maka aku akan mengembalikan semua uang kalian."

"Bermain?" Zhoumi berucap perlahan sekali, seolah berusaha menegaskan perkataan Leeteuk sebelumnya.

"Ya." Leeteuk tersenyum ke arah Zhoumi. "Kita akan merampok sebuah museum permata."

DEG!

Semua orang yang mendengar perkataan Leeteuk terbelalak seketika.

"APA?" beberapa dari mereka berteriak tak percaya. Mereka adalah Hankyung, Kangin dan Siwon.

"Seperti yang kalian dengar sebelumnya. Kita akan mencoba untuk mencuri sebuah permata paling mahal di dunia!" Leeteuk tampak menikmati reaksi orang-orang di depannya yang memandang Leeteuk dengan raut muka terkejut seolah jantung mereka hendak melompat keluar dari tempatnya.

"Jika kalian semua bergabung denganku, maka benda jarahan kita akan kita bagi rata bersama." Leeteuk merentangkan tangannya. "Kalian berdua, duduklah."

Sungmin dan Zhoumi saling berpandangan, namun akhirnya mereka memutuskan untuk menurut. Mereka duduk di antara sisi kasur yang masih kosong.

"Semuanya belum saling berkenalan, 'kan? Akan aku perkenalkan satu persatu. Namaku sendiri adalah Leeteuk. Lalu orang yang selalu ada di sebelahku adalah Heechul. Pria besar yang sangat kuat di sana adalah Kangin." Mata mereka semua mengarah kepada Kangin yang mengangguk memberikan salam kepada semuanya. "Seseorang yang memiliki kejelian dan tidak pernah meleset dalam bidikan, adalah Hankyung. " Tunjuk Leeteuk ke arah Hankyung. "Ahli membuat dan menjinakkan bom atau peledak, Ryeowook. Setelah itu ada bank informasi kita—Kyuhyun, ahli bahasa komunikasi—Henry." Kali ini mereka serempak membentuk huruf 'o' setelah melihat bocah kecil yang tersenyum manis itu. "Lalu ada Yesung yang ahli teknologi, Shindong peretas andalan, Kibum analisis dan perencana, ahli beladiri kita, Siwon. Lalu ada sang ahli penyamaran, Sungmin. Penilai barang-barang berharga—Donghae. Pencuri yang sudah malang melintangkan namanya—Zhoumi. Dan, satu lagi..." ekor mata Leeteuk menangkap seseorang dengan gelagat gugup memandang lantai di bawahnya. "Orang yang dapat mengetahui lokasi barang apapun yang kita cari, yaitu... Eunhyuk."

Semua saling bertukar pandang, imajinasi mereka bergerak bebas merangkai praduga dan memelihara curiga. Sebagian malah menyimpan rasa kagum yang sangat pada orang yang dapat mengumpulkan orang-orang hebat dalam satu tempat.

"Lalu, apa yang akan kita curi?" Yesung mulai angkat bicara, berusaha mencairkan suasana membingungkan yang melanda mereka semua dan demi mengembalikan topik pembicaraan pada tujuan semula.

Leeteuk berdehem pelan, lalu mulai menjawab pertanyaan Yesung. "Kita akan mencuri... Diamond bikini. " Semuanya tampak mengerutkan kening, namun Zhoumi yang sudah tahu benda apa itu langsung terhenyak di tempat duduknya.

"Tak mungkin!" Zhoumi bangkit berdiri, kini semua mata mengarah kepadanya. "Tak mungkin bisa mencuri benda itu! Benda itu dijaga sangat ketat dengan kemanan yang berlapis-lapis. Tak ada pencuri manapun yang dapat menembus sistem pertahannya!"

Leeteuk hanya tersenyum kecil mendengar protes pesimisme Zhoumi.

"Diamond bikini? Apa itu?" Henry yang tak mengerti akhirnya berbisik dan bertanya kepada kakaknya yang masih tampak diam dan tenang-tenang saja.

"Diamond bikini itu berlian yang dibentuk seperti bikini. Benda itu bisa dipakai layaknya bikini pada dasarnya, namun harganya teramat sangat mahal, tak mampu kita beli."

"Benarkah? Memang berapa harganya, hyung?"

Kyuhyun tampak berpikir. "kabar terakhir yang kudengar... harganya mencapai 300 milyar dollar."

DEG!

Semua yang mendengar bisikkan Kyuhyun tentang harga benda yang rencananya akan mereka curi kembali dikejutkan.

"300 MILYAR DOLLAR? Itu berapa triliyun won..." ruangan itu jadi penuh akan bisikan yang mempertanyakan soal harga.

"Ya, memang daya jual berlian itu mencapai 300 milyar dollar. Karena itu sangat sayang jika dilewatkan, 'kan?" Leeteuk memberikan penekanan pada kata-kata terakhirnya. "Lagipula..." ia mulai berjalan mendekati mereka perlahan. "Kita yang berada di sini bukan orang biasa. Jika kalian bersedia bekerja sama denganku, maka aku akan menjelaskan rencana detil pencurian kita. "

Leeteuk memandang mereka satu persatu.

"Donghae, kau ikut?"

Donghae tampak berpikir keras. Mengingat bagaimana cara Leeteuk membawa dia sampai kemari, dan juga orang-orang tak biasa ini, jujur, ini membuat Donghae tertarik. 'Dia bukan orang biasa'Itulah yang berada di pikiran Donghae saat ini. "Baiklah," akhirnya Donghae memutuskan untuk menggantungkan nasibnya di tangan Leeteuk. "Aku akan bergabung dengamu, tapi pembagian hasil curiannya dibagi rata 'kan?" Leeteuk tersenyum mendengar jawaban Donghae.

"Tentu. Kibum?" kali ini dia mengalihkan pandangannya ke arah Kibum yang hanya diam memperhatikan sedari tadi.

"Aku ikut."

Leeteuk kembali tersenyum. "Lalu Yesung hyung?"

Yesung tampak mengangkat bahunya. "Aku sudah datang kemari, tentu saja aku akan ikut."

"Terimakasih." Kali ini pandangannya mengarah kepada Kyuhyun. "Kau, Kyuhyun?"

"Aku sudah jelas ikut 'kan hyung..."

"Dan kau Henry?"

"Ikut." Jawab Henry sambil tersenyum malu ke arah Leeteuk, sesekali ia mengedarkan pandangannya ke arah hyungnya; Kyuhyun.

"Shindong hyung?"

"Ya... sepertinya ini akan sangat menantang. Kesempatan ini sangat langka dan tak boleh disia-siakan, aku ikut." Leeteuk kembali meretas senyum.

"Sungmin?"

"Aku ikut, tapi uang kami harus dikembalikan dan untung dari berlian itu dibagi rata. Iya 'kan?" tanya Sungmin dengan suara serak dan beratnya.

"Tentu."

"Ok..."

"Lalu, Zhoumi?"

"Baiklah, aku ikut. Aku ingin merasakan bagaimana bekerja sebagai tim. Aku ingin tahu bagaimana caramu mencuri berlian paling mahal dan berbahaya di dunia itu." Leeteuk kembali tersenyum.

"Lalu, kau Hankyung?"

"Aku ikut!" mendengar Zhoumi ikut dalam operasi, Hankyung pun menyetujui tawaran itu. Ryeowook yang khawatir dengan keselamatan sahabatnya akhirnya memutuskan untuk ikut juga.

"Aku juga." Leeteuk tampak mengangguk mendengar gumaman Ryeowook.

"Lalu, bagaimana denganmu, Eunhyuk-ah?"

"Baiklah, sepertinya akan menarik. Untung yang ditawarkan juga banyak..." Eunhyuk tersenyum penuh arti dlam kegugupannya.

"Kau Siwon?"

"Entahlah..." semua mata tiba-tiba tertuju kepada Siwon. "Kau tahu sendiri kalau aku adalah warga yang membantu kerja polisi, jadi, mana mungkin aku..."

"Kami tak memaksa... tapi, uang yang akan kau dapatkan nantinya bisa kau pakai untuk apapun yang kau inginkan."

Memang pada dasarnya hati manusia sangat lemah, apalagi ketika seseorang menawarkan sejumlah keuntungan padanya, maka tak jarang hati manusia itu tertutupi hingga menyetujui perjanjian yang sebenarnya menyesatkan itu.

"Aku ikut."

Leeteuk kembali tersenyum. "Lalu kau, Kangin?"

"Kenapa kau tanya lagi? Tentu saja aku ikut!"

Leeteuk kembali tersenyum, senyumnya hari itu sangat membahagiakan. Pasalnya, semua orang yang diinginkan untuk terlibat dan ikut andil rupanya setuju untuk menorehkan tinta kerja sama. Siapa pula yang bisa menghentikan mereka saat ini?

Leeteuk kemudian mengangkat kedua tangannya dan menopangkannya ke belakang kepalanya dengan sunggingan senyum puas.

"OKE, PEKERJAAN KITA AKAN DIMULAI ANAK-ANAK..."

.

.

To be Continued...


Kekekeke, nah ayo donk di review chingu-deul... ^^

R-E-V-I-E-W PLEASE... :D