#7
Tanganku berhenti di salah satu tuts piano. Alisku terangkat dan meraih lembar partitur itu. Tidak ada yang salah disana. Not yang tertulis memang B minor, tapi di telingaku, nadanya terdengar tidak pas.
Aku mencoba memainkannya dari awal—kali ini dengan tempo yang lebih cepat daripada sebelumnya—tapi tetap saja, permainanku akan terhenti di bagian tadi karena merasakan ada kejanggalan disana.
Aku mencoba menggerakkan jemariku pada tuts yang lain dan mengeluarkan nada yang berbeda.
"Akan lebih tepat jika menggunakan A mayor." Aku mengangguk-anggukkan kepalaku dan mencoret lambang B minor dengan A mayor.
Setelah itu aku menarik napas panjang dan menyandarkan tubuhku ke kursi sofa tepat dimana aku duduk sekarang, di depan keyboard listrik yang baru saja kumainkan. Pikiranku melayang ke kejadian tadi sore dimana aku berpapasan dengan Gumi, salah satu mahasiswiku di ruangan kantor.
Tidak ada kotak susu itu disana padahal dia hanya meninggalkan ruangan itu selama lima menit untuk ke kamar mandi. Gumi tidak bilang apapun mengenai keberadaan orang lain di ruangan itu. Artinya, dia tidak melihat si kurir kopi itu.
Lantas, bagaimana caranya sang kurir masuk, mengambil susu vanillanya, keluar tanpa dilihat olehku dan Gumi?
Atau... apakah mahasiswiku itu berbohong?
Aku mengetuk-ketukan jemariku di atas keyboard. Tidak... setahuku, Nakajima Gumi bukan tipe gadis yang berbohong. Dia selalu berkata jujur. Dia adalah salah satu mahasiswi dengan perilaku baik yang sangat berbakat.
"Lantas, kenapa dia tidak mengatakan padaku yang sebenarnya?"
Mencoba memikirkan itu adalah hal yang teralu berat, aku beranjak dari tempatku dan berjalan menuju beranda depan rumah. Bisa kurasakan udara malam yang dingin—ini adalah pertengahan musim gugur—dan langitnya sama sekali tidak berbintang.
Apakah sang pengantar kopi itu akan memberitahukan identitasnya padaku?
Jawabannya kutemukan di atas meja kerjaku keesokan paginya. Cangkir karton kopi itu tergeletak disana dengan uap yang mengepul hangat dari balik tutupnya. Aku berjalan cepat ke mejaku dan meraih benda itu. Membaca baik-baik kalimatnya yang tertulis dengan tinta biru.
Sir Len, seperti layaknya peri sepatu, mereka tidak akan memberitahukan identitasnya. ;)
"Jadi, aku tidak akan bisa mengetahuinya sebelum aku menangkap basah orangnya ya?" Bibirku membentuk senyuman dan aku segera mencecap rasa kopi itu. Tidak ada yang berbeda. Pencampuran antara gula dan creamernya pas seperti biasanya. Tidak banyak orang yang mampu memberikan rasa yang pas bagiku. Bisa kubayangkan sosok pengantar kopi ini yang mencampurkan kadar gula dan creamernya dengan ekspresi bingung—normalnya saat membeli kopi, petugasnya akan memberikan masing-masing satu sachet gula beserta creamernya. Aku lebih suka kadar perbandingan 1:2 dan sang kurir mendapatkannya dengan pas di pengiriman pertamanya dulu.
Aku menghela napas panjang. Siapapun pengantar kopi itu, dia jelas mampu memprediksi keinginanku.
Aku sudah akan meletakkan cangkirnya kembali ke atas meja sebelum sesuatu pada dasar cangkir menarik perhatianku. Aku mengangkat cangirnya dan menuliskan tulisan lain dengan spidol biru pada bagian bulatan bawahan cangkirnya.
The secret makes a woman woman. Tehee~
Jadi, kalau tiba-tiba rasa penasaran itu berubah jadi rasa kagum yang membuncah di dada dan berakhir di persimpangan rasa suka dan cinta, apa yang harus kulakukan semenjak aku tidak tahu siapa orangnya?
"Mungkin, ada baiknya aku memasang kamera tersembunyi," sahutku sambil tersenyum dan mulai merapikan map partiturku, membawanya ke pelajaran pertamaku bersama murid musik klasik di tingkat pertama.
.
.
p.s: bolehlah kotak review di bawah ini diisi :)
