#8
Pelan-pelan, tanpa terlihat.
Penuh waspada, tanpa suara.
Aku mengedarkan pandanganku ke segala arah untuk mencari tanda-tanda keberadaan manusia lain di sekitarku. Hasil analisisnya: persentase keberadaan manusia 0%.
Aku menghembuskan napas lega.
Sekarang, seperti biasa, aku datang perlahan-lahan menuju ruangan dosen musik klasik untuk mengambil susu vanilla jatahku. Kalau kalian bertanya apakah aku kapok karena hampir ketahuan kemarin, jawabannya adalah tidak.
Maksudku, kali ini aku sudah menyiapkan rencana yang benar-benar matang. Jika ada salah satu dosen yang bertemu denganku saat aku berada disana, aku akan mengucapkan alasan-alasannya sehingga tidak ada yang akan curiga. Kali ini, rencananya benar-benar matang! Aku bersumpah atas nama seluruh leluhur Nakajima, kalau aku tidak akan pernah dicurigai sebagi peri pengantar kopi itu!
Aku menarik napas panjang dan melanjutkan kembali langkahku. Pintu ruangan dosen sudah di depan mata. Aku tinggal menyentuh pegangan pintunya dan melangkah masuk ke dalam.
Ruangan itu masih sama seperti sebelumnya. Burung-burung peliharaan Sir Oliver segera berkicau dengan nyaring ketika melihatku—salah satu orang asing yang seharusnya tidak berada disana—masuk ke dalam. Aku meletakkan jari telunjukku di bibir.
"Sst! Jangan berisik!" sahutku pada mereka. Burung-burung beraneka warna itu hanya menatapku dalam diam dengan saling pandang kepada sesamanya. Aku melangkah masuk mendekati sangkarnya dan mengeluarkan butiran permen manis dari kantongku.
Bukankah semua orang suka makanan manis? Karena itulah, kuletakkan beberapa butir disana supaya burung-burung itu dapat menikmatinya.
Setelah burung-burung itu mulai menikmati makanan manis itu, aku berjalan menuju meja Sir Oliver dan melihat kotak susu vanilla itu disana.
Tanpa pikir panjang, aku segera meraihnya untuk melihat tulisannya disana.
Setidaknya, bolehkah aku bernapas lega karena kau adalah perempuan?
Aku tersenyum dan mengangguk pelan. Setelah itu aku segera bergegas keluar dari ruangan dosen seni musik klasik.
Beberapa hari kemudian, saat Sir Oliver mengajar di kelas, dosen pirang blasteran Perancis-Inggris itu mengatakan pada kami semua bahwa permen bukanlah makanan burung.
.
.
p.s: bolehlah kalau kotak review di bawah ini diisi :)
