#9

Hari itu ada yang aneh. Ketika aku datang di jam tujuh kurang sepuluh, ada sesuatu yang tidak beres. Bukan... itu bukan karena burung-burung peliharaan Sir Oliver yang beberapa hari yang lalu dibawanya ke rumah sakit karena menelan beberapa permen—oh, aku bahkan masih ingat teriakkannya ketika burung-burung itu terkulai lemas di dalam sangkarnya.

Bukan juga karena meja Miss Haku yang sekarang benar-benar kelihatan super rapi—aku ingat saat rapat fakultas seni berlangsung dan Dekan menegurnya karena kondisi mejanya yang selalu berantakan.

Ya, ini semua tidak ada hubungannya dengan rekan kerjaku, tapi ini berhubungan dengan keadaanku sendiri. Di meja kerjaku, semua masih tampak sama seperti biasanya. Hanya satu hal mencolok yang tidak ada di tempatnya.

Cangkir kopi dari sang pengantar kopi tidak ada disana.

Alisku terangkat sebelah. Ini aneh. Sebelumnya, hal ini tidak pernah terjadi. Sang pengantar kopi tidak pernah absen satu kali pun, lantas mengapa tidak ada cangkir kopi itu disana?

Aku bergerak menyusuri meja—setelah sebelumnya meletakkan map berisi partitur disana. Tidak ada bekas kehangatan atau sisa tumpah. Semuanya masih sama. Lantas, apakah sang pengantar kopi itu berniat berhenti dari pekerjaannya?

Itu mungkin saja mengingat harga satu cangkir kopi berbeda drastis dengan satu kotak susu vanilla. Sang kurir pasti berpikir bahwa semua ini tindakannya sia-sia belaka—tidak ada untungnya.

Seharusnya aku tahu itu. Seharusnya aku memberikannya lebih dari sekedar satu kotak susu vanilla!

Entah kenapa, kurasakan rasa frustasi yang membuncah di dada. Aku menghempaskan tubuhku ke kursi dan menatap mejaku dengan perasaan hampa. Secangkir kopi itu sudah begitu biasa menghiasi hari-hariku. Aku tidak bisa membayangkan ketidak-adaannya maupun pesan-pesan manis yang selalu tertulis disana.

Aku bahkan belum mengenalnya sama sekali...

"Kalau tahu akan begini jadinya, aku seharusnya benar-benar memasang kamera supaya aku bisa tahu siapa dirimu!"

"Pagi, Sir Len." Suara Sir Oliver menyadarkanku. Aku menengadahkan kepalaku untuk melihat rekan kerjaku yang cukup tampan itu. Beberapa muridku pernah tertangkap sedang membicarakan betapa imut wajahnya itu, tapi aku tahu sejak dulu banyak juga yang patah hati ketika tahu bahwa sifatnya tidak pernah sebagus wajahnya.

Sir Oliver adalah dosen musik klasik yang mementingkan teknik dan selalu mengatakan apapun dengan terbuka. Jika mahasiswa didikan tugas akhirnya dianggap belum mampu lulus dari Utaunoda, dia akan langsung mengatakannya dan menyuruh murid didiknya itu untuk mengulang tugas akhirnya kembali.

"Pagi, Sir Oliver." Aku tersenyum. Tidak biasanya dia datang sepagi ini.

"Aku harus bertemu Dekan untuk membicarakan mengenai kelulusan Lily."

Aku ingat nama mahasiswi itu. Dia sangat jenius dalam memainkan biola, tapi Sir Oliver menganggap kalau muridnya itu buta dalam biola. "Dia hanya memainkan semuanya sesuka hatinya! Itu tidak boleh dilakukan!" adalah ucapan Sir Oliver saat sidang kemarin. Dia tetap bersikeras bahwa Lily harus mengulang tugas akhirnya.

"Kalau kau merasa pusing, Sir Oliver, lebih baik kau lepaskan saja mahasiswi itu supaya dia cepat mendapatkan gelar sarjana seni itu." Aku mencoba memberinya saran yang hampir sama seperti yang selalu diberikan orang-orang pada dosen berambut pirang itu.

Mata Oliver yang berwarna kekuningan menatapku tajam seolah aku baru saja mengatakan hal paling bodoh di dunia. "Jangan coba-coba mengguruiku, Sir Len."

Dan jelas, dia tidak disukai karena sifatnya yang arogan.

Aku mencoba tersenyum sambil mengangkat bahuku. "Baiklah kalau itu keputusanmu, Sir Oliver."

Dosen pirang itu menatapku dengan alis terangkat sebelum kemudian tersenyum lebar. "Sifatmu seperti itulah yang membuatmu memiliki banyak pengangum. Benarkah itu, Sir Len?"

Aku tidak menangkap maksud ucapannya, apakah dia memang berniat memuji ataukah sedang bersikap penuh sarkastik?

"Apa maksudmu?"

Sir Oliver kemudian meletakkan cangkir kopi hangat di atas mejaku. Cangkir kopi persis seperti yang biasanya kudapatkan. Ada dua hal yang berbeda disana. Pertama: tidak ada pesan apapun disana. Kedua: ada bekas tumpahan yang berarti sang kurir pengantar kopi terburu-buru dan sempat menumpahkannya.

"Dimana kau mendapatkannya?"

"Seorang mahasiswi yang sibuk marah-marah dengan ponselnya." Sir Oliver menunjuk pintu ruang dosen. "Tadi dia berdiri di depan sana dan begitu aku akan memberikannya detensi, dia langsung meninggalkan cangkir kopi itu di depan ruangan kita memberikanku itu. Kurasa itu buatmu mengingat kau selalu meminum kopi hangat setiap paginya."

Mataku melebar tak percaya. Sang kurir pengantar kopi terlambat dan bahkan sempat menunjukkan sosoknya yang misterius pada Sir Oliver?

Aku meletakkan cangkir kopiku dan segera berlari ke depan pintu ruangan dosen. Akan tetapi, aku hanya menemukan koridor kosong yang dihiasi oleh udara tak bermassa. Tidak ada siapapun disana.

Kepalaku menoleh ke dalam untuk melihat apakah Sir Oliver sedang mencoba mempermainkanku atau tidak, tapi rekan kerjaku itu masih berdiri di tempatnya dengan wajah polos tak berdosa.

Dia tidak sedang mempermainkanku. Dia memang melihat sang kurir pengantar kopi, tapi gadis itu—entahlah, apa mungkin aku perlu menyebutnya sebagai wanita itu—telah bergerak secepat angin dan menghilang dalam sekejap kedipan mata.

Seolah berusaha mengajakku bermain kejar-kejaran.

"Apakah kau melihat seperti apa rupanya?" tanyaku penasaran.

Sir Oliver menatapku dengan tatapan ganjil. "Apakah Anda sedang mencoba memberitahuku bahwa Anda menaruh minat pada salah satu murid Anda?"

"Aku hanya ingin tahu, Sir Oliver. Tidak lebih." Sedikit berbohong jelas tidak akan teralu merugikanku disini.

"Hemm, kurasa kau hanya ingin mengucapkan terima kasih. Ya kan, Sir Len?"

Aku mengangguk pelan.

Dia tersenyum singkat. "Aku tidak lihat wajahnya, tapi rambutnya berwarna hijau panjang. Aku hanya melihatnya dari jauh karena dia langsung berlari ketika aku mendekatinya."

Rambut berwarna hijau? Aku mencoba memikirkan berapa muridku yang memiliki rambut berwarna hijau, lantas kemudian ucapan Sir Oliver selanjutnya menghentikanku.

"Ah ya, kurasa dia bukan mahasiswi musik klasik. Aku tidak pernah melihatnya selama ini di kelas."

Aku menatapnya dalam-dalam. Sir Oliver terkenal jenius dalam segala hal yang berhubungan dengan musik, tapi terkenal idiot ketika berhubungan dengan semua hal selain musik. Terutama hubungan sosialnya. Dia bahkan membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk menyadari bahwa aku adalah rekan kerja barunya.

Tapi, bagaimana mungkin mahasiswi jurusan lain bisa mengenaliku bahkan sengaja memberikan secangkir kopi hangat setiap paginya—terutama pada dosen yang bahkan tidak mengajarinya di kelas manapun?

Aku mengerutkan dahiku.

Itu baru hal teraneh yang pernah kudengar.

.

.


p.s: baru beres ujian asesmen teknologi, lari ke perpustakaan pusat, update, dan nggak tahu apakah tanggal ffn masih 30 atau 31.. -_-

p.p.s: bolehlah kalau kotak review di bawah ini diisi :)