#10
Aku mengambil selembar tisu dari tempatnya dan segera mendekatkannya ke hidungku. Rasa pusing menjalar ke seluruh sarafku, membuat tubuhku lemah dalam sekejap. Belum lagi hidung mampet yang diakibatkan oleh virus-virus influenza itu, aku bahkan tidak bisa beranjak dari tempat tidurku sama sekali.
Aku menarik napas panjang dan meraih ponselku. Kalau seperti ini caranya, aku tidak mungkin bisa ke kampus. Setidaknya, aku masih bisa berpikir normal. Memaksakan diri hanya akan memberikan efek yang lebih buruk.
Tanganku meraih ponsel dan layarnya menunjukkan pukul enam tepat.
Sayangnya tugasku sebagai kurir pengantar kopi untuk Sir Len tidak mendapatkan bonus waktu liburan.
Sir Len pasti akan merasa aneh kalau tidak ada cangir kopi hangat itu di atas meja kerjanya. Apapun yang terjadi, aku harus memberikan cangkir itu disana.
Dengan mata berkunang-kunang, aku mencoba mencari data nomor telepon dan menghubungi orang itu. Ketika tersambung, aku segera memberitahunya maksud tujuanku tanpa embel-embel pendahuluan sama sekali.
"Belikan aku secangkir kopi di Sudoh-Bucks cabang stasiun!"
Tidak ada sahutan sebelumnya. Baru setelah dua puluh detik berlalu, aku bisa mendengar teriakkan nyaringnya. "UNTUK APA?!"
"Aku demam."
"Istirahatlah!"
"Kopi untuk Sir Len—"
"Di saat begini kau masih memikirkan hal itu?! Yang benar saja, Gumi!"
"Aku serius—" Aku terbatuk pelan. "Sir Len bisa saja mencurigai aku ketika kopi itu tidak lagi disana dan keberadaanku di kelas juga tidak ada." Aku menarik napas panjang. "Bisa saja identitasku sebagai kurir kopi ketahuan."
"Hah?!"
"Kenapa?"
"Barusan itu terdengar super konyol, Gumi. Ayolah, kupikir dosen pembimbingmu itu teralu idiot untuk bisa sampai pada kesimpulan seperti itu."
"Sir Len sama sekali tidak bodoh, Miku! Berhenti—" Aku mengusap hidungku dengan tisu, "—menganggapnya selayaknya orang idiot."
"Baik-baik!" Aku bisa membayangkan Miku memutar bola matanya. "Jadi kau mau aku ngapain? Membeli secangkir kopi dan meletakkannya di atas meja kerja Sir Kagamine Len-mu yang jenius itu?"
"Ya..." Tanganku kembali mengusap hidungku yang mampet. "Jangan lupa, tuliskan pesan di cangkir kopinya."
"Pesan apa?"
"Umm..." Aku mencoba berpikir. "Aah... bilang saja 'semangat'. Kau harus menuliskannya dengan spidol biru!"
"Aku tidak punya spidol biru!"
"Oh ayolah, Miku!" Aku kembali terbatuk. "Tidak bisakah kau menolongku sekali ini saja?"
Akhirnya, sahabatku yang terkenal keras kepala itu mengiyakan permintaanku dan aku bisa kembali ke balik selimutku untuk memulihkan kondisiku.
Tapi, setengah jam kemudian, ponselku berbunyi.
"AKU TIDAK TAHU DIMANA MEJANYA!"
Teriakan nyaring Miku segera membangunkanku. Aku mencoba mengarahkan dimana posisi meja Sir Len, tapi mataku menangkap bayangan jam di meja belajarku.
Jam tujuh.
Miku sudah terlambat.
Sir Len pasti sudah datang.
"MEJANYA DI UJUNG DAN DEMI TUHAN, CEPATLAH MIKU!" Aku juga berteriak padanya.
"JANGAN BERTERIAK PADAKU!"
"TAPI KAU TERLAMBAT!" Aku kembali terbatuk. "Oh, cepatlah letakkan di meja sebelum ada yang—"
"Apa yang kau lakukan di depan ruangan dosen?"
Aku bisa mendengar suara asing di ponselku. Miku ketahuan!
"Oh damn shit!" Aku bisa mendengar makian Miku.
"Mik—"
"Akan kuhubungi nanti." Dan sambungan telepon terputus.
Jantungku berdebar-debar membayangkan bagaimana nasib Miku. Lagipula suara tadi... kalau aku tidak salah dengar, itu adalah suara Sir Oliver yang terkenal akan detensinya.
Kumohon Tuhan, jangan biarkan Miku mendapatkan detensi!
Dan kumohon Tuhan, jangan biarkan Sir Len tahu mengenai identitas kurir pengantar kopinya!
Setelah tiga jam aku bergulung di balik selimut dengan pikiran kacau—demamku, kekhawatiranku akan Miku, perasaan panikku terhadap Sir Len—ponselku kembali berbunyi. Itu Miku yang meneleponku setelah dia selesai kuliah di jam pertama dan keduanya.
Dia mendesah dan mencaci maki keberadaan Sir Oliver dan noda kopi yang tidak bisa hilang dari blus favoritnya.
"Aku minta biaya laundry, Gumi!"
"Apakah kau ketahuan, Miku? Apakah Sir Len atau Sir Oliver menangkapmu?"
"Dia tidak akan bisa menangkapku, gadis konyol!"
"Eh?! Kau berhasil kabur?"
"Tentu saja!" Terdengar nada puas dari suaranya. "Dosenmu itu teralu lamban dan bodoh untuk menangkap gadis cantik dan jenius seperti aku!"
Aku tersenyum dan mendesah lega. "Syukurlah."
"Lalu, bagaimana kabarmu, sobat?"
"Aku sudah baikkan. Demamku sudah turun, Miku, tapi tenggorokanku masih sakit dan hidungku masih mampet."
"Kau baik-baik saja?" Nada Miku berubah khawatir. Aku tahu, walaupun dia selalu mengatakan segalanya dengan ketus, dia selalu menghawatirkanku.
"Ya..." Aku kembali berguling di tempat tidur. "Terima kasih karena sudah membantuku."
"Hemm... ingatkan saja untuk membayar tagihannya! Aah... dan biaya laundry! Ingat itu!"
"Ya, Miku. Ya..." Aku tersenyum dan memejamkan mataku. Sekarang, aku bisa beristirahat dengan tenang karena setidaknya Sir Len sudah mendapatkan kopinya.
Dalam tidurku, aku bermimpi bahwa Sir Len memberikanku kue tart besar rasa vanilla dengan butiran permen di bagian atasnya. Keesokan harinya, mimpiku menjadi nyata karena aku menemukan sekotak susu vanilla bersama kue tart kecil dengan tulisan 'terima kasih' di bagian atasnya.
.
.
p.s: baru beres ujian asesmen teknologi, lari ke perpustakaan pusat, update, dan nggak tahu apakah tanggal ffn masih 30 atau 31.. -_-
p.p.s: dan dalam mode berharap sabtu ini bisa ketemu kakak unyuu
p.p.p.s: bolehlah kalau kotak review di bawah ini diisi :)
