[selamat natal buat yang merayakannya karena saya tidak merayakannya. hehe. ini episode spesial natal]

#11

"Apa yang membuat seseorang kreatif?"

Adalah pertanyaan yang dilontarkan oleh Miss Yowane Haku setelah beberapa hari kasus peneguran oleh dekan. Dia hampir selalu menanyakan hal yang sama kepada setiap orang yang bisa ditemuinya.

Terlebih lagi padaku. Aku merasa dia sudah menanyakan pertanyaan tersebut sebanyak lima kali—atau sekitar tujuh kali mungkin. Entahlah.

Yang pertama adalah ketika dekan selesai menegurnya, ketika kami berpapasan di pintu keluar ruang seminar. Yang kedua adalah keesokkan harinya ketika aku sedang meminum cangkir kopi hangat itu. Yang ketiga adalah siang harinya ketika kami berpapasan di kafetaria. Yang keempat adalah sore harinya ketika aku sedang membereskan lembaran partiturku di kelas. Yang kelima adalah lewat email yang masuk ke folder spam milikku. Yang keenam adalah ketika kami berpapasan di gerbang Universitas. Yang ketujuh adalah lima belas detik yang lalu.

Aku menatap wanita berusia dua puluh delapan tahun itu. Usianya hampir sama dengan kakak perempuanku—Rin, Kagamine Rin (sengaja menambahkan nama keluarganya untuk membuat dia kesal). Bayangkan, setiap kali aku berkomunikasi dengannya dalam media apapun, dia pasti mengeluh masalah nama keluarganya—teman-temannya kebanyakkan telah berganti dengan nama keluarga suaminya.

Kembali lagi kepada Miss Haku. Wanita itu selalu terlihat berantakkan. Aku tidak akan mengomentari rambutnya yang berwarna keperakkan itu—sungguh, itu warna rambut aslinya dan bukan karena dia sudah menua—tapi dia memang dikarunai keperibadian yang cukup kompleks, tidak mau menurut, tidak bisa rapi, teralu malas untuk membereskan tempatnya, hingga akhirnya aku bisa mengerti alasan kenapa dia masih mengenakan nama keluarga di depan nama kecilnya.

Di suatu hari, aku bahkan pernah menemukan cangkir dengan susu yang mengeras bagaikan batu di bagian dalamnya. Aku sama sekali tidak ingin membayangkan bagaimana proses pengerasan itu bisa terjadi.

Anyway, intinya adalah dia memang selalu berantakkan—kertas tersebar dimana-mana, bekas goresan tinta pulpen di permukaan mejanya, hingga masalah susu yang mengeras tadi. Aku tidak ingin melihatnya dengan sebelah mata, tapi sungguh, seorang wanita tidak boleh bersikap seperti itu.

Aah... kembali ke pertanyaan yang tadi. Dia sudah menanyakan pertanyaan itu tiga puluh detik yang lalu dan masih menunggu jawaban yang sama. Lagi-lagi aku menjawab (dengan jawaban yang sama padanya), "dari kebebasannya menyalurkan imajenasi."

"Omong kosong!" sela Sir Oliver cepat.

Aku melirik dosen pirang yang duduk di balik mejanya. Dia bicara tanpa melihat ke arahku maupun arah Miss Haku. "Kreatif muncul dari kebenaran. Kebebasan tidak selalu berarti benar."

"Lantas kenapa aku diharuskan untuk merapikan mejaku?!"

Aku merasa obrolan kami bertiga tidak mengarah pada sesuatu. Apapun yang kukatakan, Miss Haku memang tidak akan peduli dan Sir Oliver teralu malas untuk ikut serta, tapi teralu rajin untuk sedikit menimpali.

"Aku bebas berekspresi dan ekspresiku ada di setiap kertas yang tertimbun di atas mejaku!"

"Ya, Miss Haku, hingga Anda menghilangkan kertas transkip nilai seluruh mahasiswa tingkat satu kemarin."

Itu merupakan kesalahan yang fatal. Aku terpaksa harus ke kampus untuk membantu mengawasi ujian kedua untuk seluruh tingkat satu.

"Tapi bukankah meja Sir Len juga berantakkan?! Kenapa cuma aku?!"

Aku menarik napas panjang. "Baiklah. Aku akan ikut membereskan meja kerjaku, Miss Haku." Aku mengangguk pelan, sempat melirik Sir Oliver yang tersenyum geli.

Dan disanalah aku berada, siang hari pukul satu, sendirian di ruangan dosen, sibuk membereskan benda-benda yang ada di atas meja. Keadaannya sebenarnya tidak separah Miss Haku, tapi memang bisa dibilang agak kacau. Aku tidak sempat membereskannya karena harus memeriksa tugas dari mahasiswa musik klasik tingkat tiga.

Aku sedang merapikan partiturku, menyusunnya dalam satu pola yang sama, membuka laci meja kerjaku, dan kemudian menemukan kotak merah dengan pita hijau di bagian atasnya. Aku tersenyum dan mengeluarkan benda itu, membuka tutupnya, mengeluarkan isinya, sebuah gantungan kunci kaos kaki santa.

Ada tulisan kecil di bagian tutupnya dengan bunyi:

Minta apa saja dan Santa akan mengabulkannya!

Aku tersenyum. Aku ingat kotak itu muncul di sebelah cangkir kopi dengan tulisan spidol biru di bagian luarnya: Can't wait for a Christmast! Apa yang Sir Len lakukan saat natal tiba?

Aku yang saat itu baru menjadi dosen masih menjalani hari-hari dengan rasa suntuk dan hanya fokus pada pekerjaanku. Sang Pengantar Kopilah yang memberikanku semangat, yang seolah mengerti segala permasalahanku, yang selalu memberikanku senyuman (walau hanya lewat ikon titik dua tutup kurung), yang selalu mendampingiku.

Aku mengangkat gantungan kunci itu. Kaos kakinya berwarna hijau dengan corak salju dan pita merah. Sangat identik dengan natal. Sejak dulu, keluarga Kagamine tidak pernah merayakan hari natal jadi aku tidak terbiasa menerima kado seperti ini. Sang Pengantar Kopilah yang pertama kali memberikannya dan sejujurnya itu membuat segalanya terlihat sedikit lebih spesial.

Aku merobek ujung kertas partiturku dan menuliskan sesuatu disana. Setelah itu, aku memasukkannya ke dalam gantungan kaos kaki itu. Sambil tetap tersenyum, aku berjalan keluar ruangan dosen untuk membeli sekotak susu vanilla dan benda lain sebagai representasi rasa terima kasihku.

.

.


p.s: maaf atas keterlambatan update seperti jadwal yang seharusnya, sesungguhnya jadwal penampilan, ujian, tugas besar, sungguh padat.

p.p.s: #11 dan #12 merupakan episode khusus natal sehingga diupdate tanggal 25 desember. tidak ada perubahan jadwal khusus.

p.p.p.s: bolehlah kolom di bawah ini diisi :)