[selamat natal buat yang merayakannya karena saya tidak merayakannya. hehe. ini episode spesial natal]
#12
"Apa yang dapat membuat seseorang menyukai seseorang lainnya?"
Itu adalah pertanyaan yang sama yang sudah kudengar sejak aku pertama kali menjadi sahabat baiknya. Betapa seorang Hatsune Miku suka sekali menanyakan hal yang sama berkali-kali.
"Karena wajah tampannya."
"Tidak! Tentu saja bukan itu, Gumi!"
Aku bisa melihat Piko terkekeh. "Dengar, Miku, kali ini kamu mau bilang kamu menyukai seseorang lagi kan?"
"Yap, Piko, kau benar."
"Tidak bisakah kau menyukai satu orang saja dan setia selamanya kepadanya?" sahutku pelan.
Miku menatapku dengan pandangan aneh. "Dan aku akan mengantarkan cangkir kopi hangat padanya setiap pagi tanpa pernah bicara dengannya?" Dia tersenyum mengejekku. "Itu sangat romantis!"
"Terserah aku mau melakukan apapun!" tukasku cepat.
"Dan kau merasa bahagia cuma karena dia memberikan susu vanilla dan jajanan kantin?"
"Waktu itu dia pernah memberikanku kue tart, Miku!"
"Yah, terserahlah. Siapa peduli. Dia itu pria dewasa, Gumi. Rayu dia dengan cara dewasa!"
Piko lagi-lagi terkekeh. "Jangan racuni Gumi dengan pikiran kotormu, Miku. Dia punya cara romantis tersendiri untuk mengungkapkan perasaannya."
"Aku hanya memberinya saran supaya dia bisa mendapatkan kebahagiaannya!"
Aku memutar bola mataku. "Kenapa kita jadi membicarakan soal aku? Ceritakan soal orang itu, Miku!"
Gadis berkuncir dua itu tersenyum dan mengangguk dengan riang. "Aku kenalan dengan seseorang kemarin di grup chatting Utaunoda..."
Biar kujelaskan. Universitas Utaunoda merupakan kampus seni terbaik di Jepang. Kami memiliki lebih dari sepuluh fakultas dan lebih dari dua puluh jurusan seni. Untuk memfasilitasi hubungan seluruh mahasiswanya, pihak Utaunoda membuat semacam website untuk saling berbagi email, informasi musik, dan ada fasilitas chatting juga.
Dan Miku sepertinya menemukan seseorang yang terasa sebagai belahan jiwanya. Sungguh, berada di gerombolan mahasiswi tingkat tiga akan membawamu ke masa labil romantis mengenai belahan jiwa yang ditakdirkan Tuhan hanya untukmu. Sejujurnya, aku sendiri sempat membayangkan momen itu. Momen ketika ada seseorang yang memberikan cincin dengan cara amat romantis dan membawaku ke depan altar.
"Jadi, dia bisa menebak semua jalan pikiranku! Seolah... seolah dia sudah lama mengenalku padahal itu pertama kali kami bertemu! Sungguh sangat nyaman sekali ngobrol dengannya! Aneh nggak kalau aku menyukai seseorang yang bahkan tidak pernah kuajak mengobrol sebelumnya?"
Aku mengerjap pelan dan memaksakan diri tersenyum. Betapa Miku memang teralu gampang menyukai orang lain. Aku tidak mengatakan itu adalah hal yang salah, namun kenyataan bahwa sesungguhnya dia memiliki hubungan yang janggal dengan Shion Kaito membuat aku dan Piko merasa sebal.
"Terus, akhirnya kamu bisa melupakannya?"
Tanpa perlu disebut namanya, kata –nya selalu mengarah pada Ketua Angkatan musik klasik tingkat tiga.
"Tentu saja!" sahut Miku yakin.
Aku tersenyum sambil mengaduk susu vanilla dinginku. "Memangnya apa id yang digunakannya saat chatting denganmu, Miku?"
"ef Glace," gadis berkuncir dua itu tersenyum lebar. "Id-nya asing jadi kurasa dia orang yang sama sekali tidak kukenal."
Aku merasakan firasat buruk. "Kamu yakin kamu nggak mengenalnya, Miku?"
"Kamu cek profilnya?" tanya Piko cepat.
"Nggak. Habis aku nggak kenal id-nya. Kenapa harus dicek profilnya?"
Aku merasakan firasat yang teramat buruk. Beberapa hari yang lalu, aku ingat seseorang dengan bangga mempamerkan id barunya dan orang itu adalah Kaito.
Lantas, Tuhan seolah sengaja membuktikan firasatku ketika aku melihat pemuda berambut biru datang ke meja kami bertiga. Senyumannya yang ramah serta suaranya yang riang hampir membuat Miku terlonjak terkejut.
Dia menyerahkan brosur lomba musik klasik dan bertanya apakah aku berminat untuk mengikutinya. Aku hanya menjawab dengan senyuman tipis serta janji bahwa aku mungkin akan mengikuti lomba tersebut jika moodku sedang baik.
Dan ketika dia sudah ingin beranjak pergi, dia berkata pada Miku dengan suara riangnya, "Miku, aku sangat senang bisa ngobrol lagi denganmu setelah sekian lama."
Aku merasa Tuhan sedang mempermainkan Miku.
"Jadi, kamu yang chatting sama aku kemarin? Itu id barumu?"
Kaito tersenyum sambil mengangguk. "Yap. Senang mengetahui semua kabarmu. Ternyata kamu tetap sama seperti dulu."
Dan sepeninggalan Kaito, aku dan Piko tidak bisa berhenti untuk menertawakan Miku dengan mukanya yang memerah. Setelah itu, aku izin untuk pergi ke ruang dosen musik klasik untuk mengambil apa yang menjadi hakku selama ini, kotak susu vanilla di atas meja Sir Len.
Sepanjang perjalanan, aku memikirkan Miku dan Kaito. Mengenai tingkah laku Miku yang begitu wajar apabila tidak ada sangkut pautnya dengan Kaito dan menjadi begitu terlihat salah ketika ada sangkut pautnya dengan Kaito. Dan aku membayangkan posisiku dan Sir Len.
Apa yang akan terjadi jika seandainya Sir Len mengetahui bahwa aku adalah Kurir Pengantar Kopi yang selama ini mengirimkan cangkir kopi hangat itu setiap paginya?
Aku memang tidak berhubungan teralu sering dengan Sir Len, bahkan kalah dengan Kaito yang memang ketua kelas sehingga harus sering berkomunikasi dengan Sir Len. Aku tidak pernah mengobrol dengannya!
Tapi apa jadinya kalau nanti Sir Len mengetahui jati diriku? Apakah Sir Len akan kecewa? Apakah Sir Len akan marah padaku? Apakah Sir Len akan berubah membenciku?
Rasa takut menghinggapi hatiku. Aku merasa debaran jantungku bertambah kencang. Bagaimana jika ternyata selama ini Sir Len selalu merasa terbebani dengan cangkir kopi hangat itu? Bagaimana jika—
"Dan kau merasa bahagia cuma karena dia memberikan susu vanilla dan jajanan kantin?"
Sejujurnya tidak. Sejujurnya aku sama sekali tidak merasa bahagia. Ada yang kurang. Aku ingin lebih! Aku ingin lebih!
Tapi bolehkan aku menginginkan hal yang lebih?
Bahwa apa yang kurasakan selama ini hanyalah perasaan klasik yang sama sekali tidak terasa nyata dan bahkan tidak ada sesuatu yang dapat menopangnya.
Aku merasa cemas dan panik.
Pintu ruang dosen musik klasik entah kenapa terlihat dan terasa begitu mengerikan daripada sebelumnya. Aku sudah menyiapkan skenario seandainya aku ketahuan lagi berada di dalamnya, tapi entah kenapa ada sesuatu yang menghalangi dan membuatku merasa takut beratus-ratus kali lipat lagi.
Aku menarik napas panjang dan mendorong pintunya. Ruangan itu tampak kosong dan jauh lebih rapi daripada biasanya—aku menyadari meja Miss Haku kelihatan sangat rapi sekarang. Aku melihat lebih jauh lagi dan tidak menemukan tas Sir Len di mejanya. Itu berarti Sir Len sudah pulang dari Universitas.
Aku melangkah lebih cepat ke meja Sir Len dan menemukan susu kotak vanilla itu disana, kotak merah dengan pita di atasnya dan benda lain berbentuk kaos kaki yang tampak tidak asing lagi.
Aku menyadari itu adalah gantungan kunci kaos kaki yang kuberikan pada Sir Len di hari natal yang lalu. Aku bertanya-tanya kenapa benda itu bisa berada disana. Apa tujuan Sir Len meletakkannya disana?
Jemariku meraihnya dan menyusuri sulaman bordir motif salju dan menemukan suatu kejanggalan. Aku mencoba meraih sesuatu dari dalamnya dan kudapatkan secarik kertas hasil robekkan partitur—aku bisa melihat bekas lambang kunci G disana.
Kalimat pada kertasnya ditulis dengan pulpen hitam dan berbunyi:
Santa, tolong jaga Kurir Pengantar Kopi ini.
Tolong jaga dia, lindungi dia.
Beri dia kebahagiaan, senyuman hangat untuk menyambut setiap hari yang dijalaninya.
Hingga saat dimana aku dapat menggantikanmu, Santa.
Aku terhenyak.
Ada tulisan dengan huruf yang lebih kecil di sudut kanannya dan berbunyi:
p.s: kotak merah itu kado buatmu.
Terima kasih, Pengantar Kopi yang baik hati.
Aku tersenyum dan membuka kotak merahnya. Terdapat jepitan berwarna oranye di dalamnya. Indah dihiasi pola-pola lingkaran.
"Arigatou, Sir."
Dan secara random, aku kembali mengingat pertanyaan Miku: "Apa yang dapat membuat seseorang menyukai seseorang lainnya?"
Dan secara random, aku mendapat jawaban dari pertanyaan itu: "Semuanya, Miku. Semua yang ada di diri orang itu dapat membuat orang lain menyukainya."
.
.
p.s: maaf atas keterlambatan update seperti jadwal yang seharusnya, sesungguhnya jadwal penampilan, ujian, tugas besar, sungguh padat.
p.p.s: #11 dan #12 merupakan episode khusus natal sehingga diupdate tanggal 25 desember. tidak ada perubahan jadwal khusus.
p.p.p.s: bolehlah kolom di bawah ini diisi :)
