- sedang mendengarkan If You Don't Know Me By Now, sebuah lagu yang dinyanyikan Clay Aiken -
lagu ini entah kenapa sangat cocok untuk mengiringi hubungan LenGumi sekarang
[cerita ini-antara aku, kamu, dan secangkir cappuccino-awalnya merupakan sebuah kado ulang tahun, representasi dari semua pemendaman perasaan kagum kepada seorang senior yang amat saya kagumi, orang yang saya beri julukan kakak unyuu. nyatanya, mungkin kado ini bukan menjadi sebuah hadiah yang mampu membuatnya tersenyum melainkan menambah beban hati. karena itulah, saya sudah memutuskan, cerita ini dibuat karena saya memang ingin membuatnya, tanpa adanya rasa kekaguman itu. jadi, kak, maaf ya seandainya kalau kakak merasa nggak enak. aku udah ngerti kok. aku nggak akan nyebutin apapun tentang kakak lagi.]
#13
Ujian sudah dimulai. Aku harus memberikan beberapa tugas untuk murid-muridku, terutama untuk tingkat empat yang sudah mempersiapkan tugas akhirnya dan tingkat tiga yang sedang dalam masa pembimbingan tugas akhir.
Beberapa diantaranya merupakan tugas simpel seperti mengarang lagu melodi dan mengaransemen beberapa lagu yang terkenal. Mereka boleh memilih lagu yang masing-masing mereka sukai. Menurutku, memberikan kebebasan akan memberikan imajenasi yang lebih besar daripada mereka karena imajenasi sama sekali tidak boleh dipaksakan apalagi dikekang.
Karena itulah, aku cukup fleksibel.
Sir Oliver bilang aku teralu lembek, tapi menurutku cara mengajar yang seperti inilah yang efektif. Semua orang boleh memainkan lagu kesukaan mereka masing-masing kan? Baik itu dari komposer favorit mereka hingga alat musik kesukaan mereka.
Karena itulah, setelah menerima secangkir kopi dengan tulisan biru pada kotaknya yang berbunyi:
Musik adalah sesuatu yang harus dinikmati, bukan dipaksakan. Sir Len setuju bukan?
Aku tersenyum karena Sang Pengantar Kopi memiliki pendapat yang sama sepertiku. Aku senang karena dia mengerti aku walaupun aku sama sekali tidak pernah mengenalnya. Sempat terbersit di pikiranku sebelumnya jika Sang Pengantar Kopi adalah salah satu mahasiswi musik klasik, namun bantahan Sir Oliver membuat segalanya menjadi kabur lagi.
Kenyataan bahwa aku sama sekali tidak mengenalnya semakin menyiksaku, menambah penderitaanku setiap aku meminum secangkir kopinya. Aku memang bisa memasang kamera tersembunyi, tapi bukankah itu berarti aku tidak menghormati keputusannya yang tidak ingin aku mengetahui segalanya tentang dirinya?
Aku tahu ini konyol, aku tahu ini bodoh, tapi itu semua kulakukan agar dia tetap ada disisiku, mengantarkan secangkir kopi hangat dengan takaran pas di atas meja. Aku tidak ingin kehilangannya karena aku merusak kepercayaannya. Jika dia memang tidak ingin—maksudku belum ingin—memberitahuku tentang identitas dirinya, biarlah itu menjadi rahasia miliknya yang tidak dapat diganggu gugat.
"Jadi, Anda akan menerapkan sistem yang berbeda, Sir Len?"
Aku menatap Ketua Program Studi Musik Klasik, seorang laki-laki paruh baya dengan kumis dan jenggot yang berwarna keputihan. Matanya yang hitam menatapku tajam. Beliau memang bukanlah orang yang menyukai keberbedaan karena menganggap itu akan tidak adil bagi para mahasiswa-mahasiswi yang diajari oleh Sir Oliver, aku, dan Miss Haku.
"Ya." Aku mengangguk dengan keyakinan penuh. Beliau masih menatapku tajam.
"Kalau begitu, aku ingin kau menghadap ke kantorku setelah jam kuliah selesai nanti." Dan atasanku itu langsung berbalik untuk meninggalkanku.
Aku tahu, menentang atasan bukanlah salah satu hal yang seharusnya dilakukan. Aku tahu hal ini dari dulu, atasanmu memegang hidupmu, tahan prinsipmu. Aku tahu akan ada kemungkinan sekitar 35% mungkin aku akan dipecat. Pilihan sulit. Seharusnya aku tidak perlu mendengarkan isi hatiku dan melakukan segalanya sesuai keinginan Kaprodi.
Aku menyesap kopi dari Sang Pengantar Kopi dan berjalan menuju lantai tiga, tepat di kelas pertama yang kuajar. Langkahku terhenti ketika aku mendengar alunan melodi dari balik pintu ruang piano 2.
Aku mengintip lewat kaca dan melihat sosok salah satu mahasiswiku sedang memainkan grand piano di dalamnya. Aku tersenyum dan mendorong pintunya untuk masuk ke dalamnya.
Dia tampak sangat terkejut hingga melodinya terputus begitu saja. Dia menatapku dengan panik. "Sir... Sir Len..."
"Hai, Gumi-san," aku menyapanya sambil tersenyum. Aku mendekati grand piano putih itu dan meletakkan kopiku di atas sana. Dia menatap gelasku lekat-lekat seolah itu adalah hal yang aneh.
"Aku tidak menyangka aku akan bertemu denganmu hari ini. Bukankah tidak ada kuliah hari ini?"
Dia menundukkan kepalanya, kelihatan bingung untuk menjawab pertanyaanku barusan. Kurasa dia cuma ingin berlatih disini daripada menghabiskan waktunya di rumah dan tidak melakukan apapun.
"Gumi-san," panggilku, "apakah kau akan merasa sangat senang jika harus memainkan lagu yang kau sukai?"
Wajahnya kelihatan memerah, tapi dia mengangguk perlahan. "Apa... Sir Len bertanya seperti itu... karena... tulisan di cangkir kopi itu?" Gadis berambut hijau itu menunjuk tulisan di cangkir kopiku.
Aku tersenyum. "Tidak, tapi aku merasa jawabanmu akan memberikanku kekuatan."
Dia menatapku dengan ekspresi bingung, tapi aku merasa aku tidak perlu menjelaskannya lebih jauh lagi. Sekali lagi, aku mengangguk sambil tersenyum. "Semangat dalam ujian nanti ya."
"Aah..." Mata hijaunya berputar dengan panik. "Tentu... maksudku..."
Mungkin dia bukan tipe yang teralu senang bicara denganku, aku menduga. Ucapannya tersendat-sendat sementara pandangannya tidak fokus. Mungkin juga karena aku telah menganggu acara main pianonya barusan. Merasa asumsiku mungkin benar, aku meraih cangkir kopiku, mengucapkan salam, dan keluar dari kelas.
.
.
p.s: kalau seseorang bilang apa yang Gumi lakukan itu menyedihkan, bagi saya sebagai pembuat cerita ini, orang yang mengatakan hal itu adalah orang yang teralu mengalami fase dewasa teralu cepat. rasa malu serta takut saat menyukai seseorang itu wajar. terutama orang yang bahkan belum dikenal teralu dalam.
p.s.s: cerita ini kemungkinan akan memiliki alur dengan tempo yang amat lambat. mereka akan berputar-putar dulu sebelum masuk ke inti utama cerita. diharapkan bersabar yah! hehe :)
p.s.s.s: bolehlah kalau review di bawah ini diisi ;)
