- sedang mendengarkan If You Don't Know Me By Now, sebuah lagu yang dinyanyikan Clay Aiken -
lagu ini entah kenapa sangat cocok untuk mengiringi hubungan LenGumi sekarang
[cerita ini-antara aku, kamu, dan secangkir cappuccino-awalnya merupakan sebuah kado ulang tahun, representasi dari semua pemendaman perasaan kagum kepada seorang senior yang amat saya kagumi, orang yang saya beri julukan kakak unyuu. nyatanya, mungkin kado ini bukan menjadi sebuah hadiah yang mampu membuatnya tersenyum melainkan menambah beban hati. karena itulah, saya sudah memutuskan, cerita ini dibuat karena saya memang ingin membuatnya, tanpa adanya rasa kekaguman itu. jadi, kak, maaf ya seandainya kalau kakak merasa nggak enak. aku udah ngerti kok. aku nggak akan nyebutin apapun tentang kakak lagi.]
#14
Aku menatap paket makan siangku dengan tidak berselera. Rasanya aku mendadak menjadi tidak begitu lapar. Rasanya aku merasa aku begitu penuh dan tidak membutuhkan apapun lagi.
Piko yang duduk tepat di hadapanku menatapku dengan pandangan khawatir. "Kamu nggak apa-apa kan, Gumi-chan?"
"Dia sedang jatuh cinta, Piko. Cewek yang jatuh cinta itu bisa kenyang makan cinta!" sahutan Miku terdengar. Dia menyuapkan salad pesanannya dan kelihatan sangat menikmati makan siang rendah kalorinya itu. Aku tidak begitu mengerti kenapa dia bisa makan begitu sedikit sementara bersikap begitu energik dan ceria—keajaiban Tuhan.
"Aku cuma..."
"Cuma?" Alis Piko terangkat.
Aku menghela napas dan menopang kepalaku dengan telapak tanganku. "Cuma... merasa tidak bersemangat."
Miku mengangkat garpunya dan mengeluarkan hipotesisnya. Itu yang selama ini dia lakukan ketika sedang berasumsi. "Ini tentang dosen idiotmu itu?"
"Dia nggak idiot, Miku, setidaknya walaupun kamu nggak mengenalnya, hormati dia karena faktor usianya!" tegur Piko cepat.
"Terserahlah! Nggak peduli!" Miku menatap Piko tajam sambil mengunyah daun selada. "Dengar ya, Gumi-chan, aku nggak akan mengomentari seberapa jauh usia kalian terpaut—"
"Please, mereka cuma terpaut enam tahun, Miku!"
"Diam, Piko, atau aku akan menyumpal mulutmu dengan gelas diet cokeku!"
Aku tersenyum dan melerai mereka berdua dengan mengulurkan tanganku untuk mengenggam tangan mereka. "Sudahlah, jangan ribut terus dong!"
"Piko yang mulai duluan!"
Aku memutar bola mataku. Mereka berdua memang hampir selalu berbeda pendapat, aku akui itu, dan aku sudah terbiasa akan hal itu.
"Jadi, ini tentang dosenmu?" Piko kembali memulai.
"Kau tahu, Piko, ada dua sistem ujian di jurusan musik klasik karena ada dua tipe dominan dosen disana."
"Maksudmu tipe yang menuntut segalanya dan tipe yang membebaskan segalanya?" Miku menyela, "kurasa semua dosen di setiap jurusan juga begitu."
"Biarkan. Gumi. Menyelesaikan. Ceritanya." Aku tersenyum geli mendengar Piko berkata dengan sangat lambat dan memberi penekanan di setiap katanya.
"Jadi, Sir Len adalah tipe yang membebaskan segalanya sementara Sir Oliver adalah tipe yang menuntut segalanya sempurna. Buat Sir Len, semua orang bebas memilih lagu untuk ujiannya sementara Sir Oliver menjunjung teknik di atas semuanya."
"Oke," Piko mengangguk, "jadi apa masalahnya? Bukankah kau mendapat Sir Len untuk mengujimu? Bukankah kau seharusnya merasa senang?"
"Aku merasa senang, tapi..."
"Tapi kau takut kalau dosenmu itu akan mendapat masalah karena sikapnya itu, bukan?"
Aku menatap Miku yang masih asyik mengunyah saladnya.
"Kau selalu begitu, Gumi, teralu memikirkan orang lain!" Dia mengayunkan garpunya. "Itulah yang kusuka dan kubenci darimu! Tapi dengar, selama ini dosenmu sama sekali tidak mendapat masalah karena itu kan? Jadi, bersikaplah santai, honey!"
"Begitukah menurutmu, Miku?"
"Yap! Sekarang, habiskan makan siangmu karena habis ini kau akan bertemu dosen tercintamu itu kan?" Miku mengedipkan sebelah matanya dan kurasakan wajahku memanas. Piko hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kurasa mereka benar. Kurasa aku cuma teralu berpikir berlebihan selama ini.
Semua akan baik-baik saja. Aku tahu itu. Sir Len akan baik-baik saja.
Namun, ketika aku mendapati Sir Oliver alih-alih Sir Len di dalam kelas, seketika aku tahu bahwa semuanya tidak akan baik-baik saja.
"Sir Len tidak bisa masuk untuk mengajar kalian beberapa hari ini." Hanya itu ucapan dosen blasteran Inggris-Perancis itu.
Dan ketika aku tidak menemukan kotak susu vanilla di sore harinya, aku merasa panik dan cemas. Sir Len mungkin berada dalam masalah.
.
.
p.s: kalau seseorang bilang apa yang Gumi lakukan itu menyedihkan, bagi saya sebagai pembuat cerita ini, orang yang mengatakan hal itu adalah orang yang teralu mengalami fase dewasa teralu cepat. rasa malu serta takut saat menyukai seseorang itu wajar. terutama orang yang bahkan belum dikenal teralu dalam.
p.s.s: cerita ini kemungkinan akan memiliki alur dengan tempo yang amat lambat. mereka akan berputar-putar dulu sebelum masuk ke inti utama cerita. diharapkan bersabar yah! hehe :)
p.s.s.s: bolehlah kalau review di bawah ini diisi ;)
