#15

Aku menyentuh senar biola berwarna kemerahan itu. Aku menarik salah satu senarnya hingga nada tinggi terdengar dari pantulan suaranya. Aku tersenyum. Aku suka biola, aku suka semua alat musik. Aku suka musik.

Entah sejak kapan, aku begitu mencintai musik. Aku memang terlahir di keluarga pemusik—Ayahku adalah salah satu pemain cello di klub musik klasik di Inggris sementara Ibuku adalah salah satu pemain gitar terhebat yang pernah kukenal. Entah sejak kapan musik begitu mendarah daging di diriku dan kakakku. Kami berdua begitu tergila-gila pada musik.

Musik memberiku segalanya. Aku tahu bahwa setiap alunan nada yang dimainkan seseorang dapat menorehkan kebahagiaan dan menciptakan tawa atau bisa juga menorehkan luka hingga muncul aliran air mata. Yang aku tahu pasti, semua orang pasti akan merasa bahagia ketika dapat memainkan melodi kesukaan mereka.

Itulah prinsipku, hal yang selama ini aku pegang. Teknik permainan, komposisi nada, semua memang penting, tapi itu bukan segalanya.

Perasaan sang pemain dan pendengarlah yang paling penting.

Tapi aku juga tahu bahwa aku tidak bisa terus-terusan mempertahankan prinsip ini. Ada beberapa hal yang dapat membuatku bimbang seperti contohnya kali ini ketika Kaprodi Musik Klasik menegurku dengan keras hingga memaksaku untuk cuti libur demi menenangkan pikiranku.

"Dalam dunia profesional, teknik adalah segalanya! Murid disini tidak membayar mahal hanya untuk memainkan apa yang mereka sukai!"

Itu memang benar. Aku tidak bisa untuk tidak setuju terhadap ucapannya. Namun, aku hanya tidak ingin memaksakan sesuatu yang bahkan tidak mereka sukai. Aku ingin mereka menikmati musik seperti aku menikmati musik.

Memang tidak bisa disamakan, aku tahu itu, tapi aku tetap saja bersikeras.

Karena aku tidak mengajar apapun, aku tidak punya alasan utama untuk ke kampus. Walaupun begitu, aku tetap ingin ke kampus karena satu hal: Sang Kurir Pengantar Kopi, cangkir kopinya dengan uap yang mengepul di atasnya, dan pesan berwarna biru di cangkir karton tersebut. Itu semua adalah hal yang sebenarnya menjadi alasan pertamaku untuk datang ke kampus.

Jadi, disanalah aku berada, dengan tangan yang membawa kotak susu vanilla. Aku masuk ke kantorku dan menemukan kekosongan disana. Sir Oliver dan Miss Haku belum datang—seperti biasa—aku selalu menjadi yang terpagi.

Aku berjalan menuju meja kerjaku dan menemukan secangkir kopi disana. Ada pesan dari spidol biru yang tertulis disana, berbunyi:

Apakah semua baik-baik saja, Sir Len?

Aku bahkan sudah membuatnya khawatir.

"Apakah semua baik-baik saja, Sir Len?"

Aku menoleh dan mendapati Sir Oliver sedang bermain—oh, aku mendefinisikan setiap kegiatan yang dia lakukan dengan burung-burung peliharaannya sebagai salah satu permainan untuknya—bersama salah satu burung kecil berwarna biru bernama Jamie (dia pernah memberitahu nama-nama burungnya padaku ketika aku baru pertama kali datang ke Utaunoda, entahlah, dia seolah sangat tergila-gila pada binatang peliharaannya).

"Ya, aku baik-baik saja." Aku meraih cangkir kopinya dan menyeruput isinya. Seketika aku merasakan sebuah ketenangan yang menghangatkan hati. Aku tersenyum.

"Bagaimana dengan cuti yang dipaksakan kepadamu oleh Kaprodi? Sudah dipikirkan secara tenang?" tanyanya sambil memasukkan burung biru itu ke dalam sangkarnya.

"Yaa..."

Sir Oliver menatapku begitu lama. "Pikiranmu berubah?"

"Sayangnya tidak."

"Dia akan memaksamu cuti atau mungkin, lebih buruk lagi, memecatmu mungkin."

"Aku tahu."

"Dan jangan marah, tapi aku merasa ajaranmu memang konyol. No offense, please, mahasiswa masuk ke Utaunoda karena mereka ingin menjadi pemusik profesional."

Apakah aku akan mengalami perdebatan yang sama lagi sekarang?

"Tapi musik adalah sebuah seni kreatif. Harus dilakukan dengan rasa suka dan cinta. Memangnya salah jika mereka memainkan lagu-lagu yang mereka sukai?"

"Tapi mereka tidak akan berkembang. Menuruti kata hati bukan selalu langkah terbaik, Sir Len." Sir Oliver menatapku lama. "Bukan selalu langkah terbaik."

Aku menganggukkan kepalaku sekilas. Berdebat dengan Sir Oliver juga bukan langkah terbaik yang bisa kulakukan sekarang. Dosen itu kepala batu. Selalu bersikeras dengan jawaban serta pendapatnya, tanpa peduli pada perasaan dan etika yang seharusnya ditunjukkan kepada orang lain.

"Kau sudah menyerah dan setuju pendapatku atau kau hanya mengangguk agar aku berhenti bicara?"

Aku mengangkat bahuku, mengambil cangkir kopiku, dan berjalan keluar meninggalkan Sir Oliver. Aku menyesap kopiku di perjalanan menuju kantor Dekan dan di perjalanan, aku menemukan lalu lalang para mahasiswa Utaunoda dari berbagai jurusan. Aku melihat beberapa membawa kotak biola di punggung mereka, tabung untuk membawa hasil karya seni gambar, dan beberapa diantaranya hanya membawa tas yang kelihatannya bagai tidak ada isinya.

Itulah seni. Itulah kreatifitas. Sesuatu berbentuk abstrak yang tidak dapat didefinisikan dan dikekang. Mereka, kreatifitas, datang tanpa disambut, dilepas tanpa perpisahan. Itulah yang selama ini kupikirkan sejak dulu, sejak aku mulai menyentuh seni dan bermain-main bersama kreatifitas.

Menciptakan simfoni nada dan memainkannya adalah sebuah kesenangan tersendiri, terdapat perasaan khusus yang tidak bisa dijelaskan.

Karena itulah, aku tidak bisa mengesampingkan kebebasan bermain begitu saja. Teknik permainan memang penting, tapi jika semua itu dilakukan tanpa perasaan bahagia, semuanya seolah terasa biasa saja.

Aku tersenyum simpul dan melanjutkan perjalanan. Saat melewati koridor menuju aula barat, aku mendengar beberapa mahasiswa suara indah sedang bernyanyi. Aku menoleh dan menemukan mahasiswi dengan rambut kuncir dua—sebuah gaya yang agak nyentrik untuk gadis-gadis di usia belasan mendekati kepala dua, terkadang aku sama sekali tidak mengerti tren fashion sekarang, yang muda ingin terlihat dewasa sementara yang dewasa ingin terlihat kekanakan—sedang memegang kertas berisi tulisan dengan dahi berkerut.

Saat aku melewatinya, aku mendengar dia sedang melatih nada vokalnya sambil menyanyikan satu bait lagu klasik.

"Especially for you... I wanna let you know what I was going through..."

Itu lagu klasik yang biasa dimainkan di nada C. Salah satu lagu favorit yang aku suka. Entah kenapa, aku merasa akhir-akhir ini pemusik suka sekali menciptakan lagu yang aneh-aneh, tidak sebagus yang diciptakan di masa lalu. Entah kenapa pertanyaan seperti: apakah gaya hidup anak sekarang berbeda atau bagaimana ya? Apakah mungkin hal seperti kebebasan bermain dengan teknik permainan mempengaruhi kreatifitas?

Aku sudah akan melanjutkan perjalanan ketika aku mendengar suara riang khas salah satu mahasiswi bimbinganku. Aku menoleh kembali dan menemukan gadis berambut hijau pendek sedang mengoceh dengan penuh ekspresi—satu hal yang jarang kulihat selama di kelas—kepada mahasiswi bergaya kekanakan, si kuncir dua tadi.

Aku mempertimbangkan diri untuk menegurnya atau tidak, mengingat sudah beberapa hari ini aku tidak pernah masuk ke kelasnya untuk mengajar. Namun, ketika secara tidak sengaja dia menoleh ke arahku hingga mata kami berdua bertemu, aku tidak punya pilihan lain selain tersenyum padanya sambil melambaikan tanganku dengan ramah.

Mahasiswiku, Nakajima Gumi, entah kenapa langsung menunduk secepat mungkin, seolah dia sedang berpura-pura tidak melihatku. Mendadak, aku merasa dia seolah membenciku.

Memangnya aku salah apa?

Dan kemudian, ketika dia menarik tangan mahasisiwi suara indah tadi, berjalan cepat seolah ada sesuatu yang dikerjakannya, aku tambah merasa bingung.

Dengan dahi berkerut, aku mengangkat cangkir kopi dari si pengantar kopi, menyesap sedikit cairan di dalamnya, kemudian mengangkat bahu. Yah, aku bisa tanyakan itu nanti di kelas—kalau aku tidak dipecat saat ini juga sebenarnya.

.

.

p.s: silahkan bagi yang ingin berkomentar tentang cerita ini sampai sejauh ini ;)